fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Blogger Review, Review


Tertampar Buku Yuk Jadi Orangtua Shalih | Featured
[Oleh: Dyah Prameswarie]


Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitrah. Fa abawaahu …

Setiap anak lahir dengan fitrah, bergantung

orangtuanya bagaimana ia dibentuk.

Buku ini datang tepat sehari ketika saya menulis status di Facebook. Saya lupa tepatnya, yang saya ingat adalah bahwa hari itu bungsu saya yang berusia  4 tahun, Altaz, sedang berulah. Berkali-kali ia membuat rumah berantakan, mogok tidur siang, dan (ketika akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dapur membuat kue) ia dengan senang hati menghancurkan kue tersebut.

What a day! Seperti judul di atas, membaca judulnya saja membuat saya tertampar. Yang ada di pikiran saya ketika menerima buku ini adalah, “Errrr, ayolah, buku parenting?” *dengan wajah datar* Bukannya saya alergi buku parenting. Saya sangat-sangat memilih buku parenting yang akan saya baca.

Kapok dengan buku parenting yang isinya menggurui, bukan memberi contoh. Bosan dengan buku parenting yang bahasanya resmi dan berat seolah-olah buku tersebut suci dan berasal dari abad sekian sebelum Masehi. Tapi saya teguhkan hati untuk membaca buku ini. Apalagi ketika membaca kalimat berikut,
Menjadi orangtua shalih memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil.  Ayah-Bunda memiliki lima karunia dari Allah: karunia belajar, karunia konsistensi, karunia kiblat, karunia mendengarkan dan karunia al-shaaffaat. (Halaman 31)
Saya jadi punya semangat lagi untuk segera memperbaiki diri. Eh, bukan hanya memperbaiki diri, tapi intropeksi terlebih dahulu. Pun menggunakan lima karunia dari Allah tadi dengan baik, karena buku ini mengulasnya dalam bab-bab yang mudah dicerna oleh orangtua.

Yuk Jadi Orangtua Shalih | Cover
Penulis buku yang dikenal sebagai Abah Ihsan, menuliskan tujuh langkah untuk memulai perubahan agar kelima karunia tadi berfungsi dengan baik.

1. Intropeksi. Untuk membantu orangtua melakukan intropeksi, penulis membuat tabel yang memuat daftar sikap yang biasa dan sering dilakukan orangtua, pesan yang disampaikan tanpa disadari dan akibatnya terhadap kejiwaan anak.

Percaya deh, dari 27 contoh yang ditulis, banyak yang membuat saya membatin, “Argh, ini gue, nih.” atau “Duuh, ternyata akibatnya begitu ya. Pantas Al jadi bla bla bla.”

2. Menggalang Kesatuan Orangtua. Ini juga tak kalah pentingnya buat kami (saya dan suami). Sering kali kami tidak kompak. Daaan akibatnya fatal. Jadi, Ayah-Bunda harus jadi tim, sebuah kesatuan. Baiklah!

3. Belajar Bersama. Betul, sejak Al hadir, kami bukan lagi trial and error tapi sengaja belajar. Kembali lagi jadi orangtua baru.

4. Buatlah Jurnal. Siapa sangka bahwa menjadi orangtua juga membutuhkan jurnal.

5. Lakukan Curah Gagasan. Abah Ihsan juga mencontohkan sebuah tabel untuk mengetahui  perilaku anak dan peran Ayah-Bunda.

6. Lakukan Evaluasi Berkala. Ini juga sering kali missed ya? Ternyata menjadi orangtua juga perlu mengevaluasi jurnal dan tabel-tabel yang memuat perilaku kita tadi.


Anak Sujud | Image
Rayakan Keberhasilan Sekecil Apa pun. Itu sajakah yang didapat dari buku ini? Hmm, nggak dong. Semakin dibaca, saya justru semakin tertampar sekaligus belajar hal baru. Ditulis dengan gaya bahasa ringan dan tak menggurui, beberapa halaman buku ini kami baca berdua.

Lalu kami saling intropeksi diri sendiri. Suami saya berkali-kali mengguman, “Naah, itu aku sering kayak gitu. Ternyata nggak boleh ya?” Iya, kalimat-kalimat sejenis keluar dari mulut kami tatkala membaca berbagai contoh kasus yang bertebaram di buku ini. Setiap kasus ditandai dengan mana perilaku orangtua biasa dan mana yang menjadi kebiasaan orangtua shalih.

Seperti contoh kasus di halaman 71. Di mana seorang anak berusaha memakai sepatu sendiri. Setelah sekian lama mencoba, anak tersebut berhasil memakai sepatu di kaki kanan dan sandal di kaki kiri.

Mau tahu bagaimana reaksi orangtua bisa? Seperti ini, “Wah, kamu salah pakai. Satu sepatu, satu sandal. Ayo dilepas, ganti dengan sepatu sebelahnya, sini Bunda pakaikan. (Dalam sekali bicara, orangtua mencela, menunjukkan kesalahan, memerintah, memutuskan untuk anak dan mengambil alih). 

Hayoo, siapa yang sering seperti ini? Sayaaa! *bukan bangga, tapi malu* Lalu, bagaimana reaksi orangtua yang shalih? Ups, saya nggak mau terlalu banyak spoiler di sini. Mending segera beli bukunya, baca lalu praktekkan.



Judul buku: YUK, JADI ORANGTUA SHALIH! Sebelum Meminta Anak Shalih

Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Penyunting: Yadi Saeful Hidayat & Budhyastuti R.H.

Penerbit: Mizania

Tahun terbit: 2014

Tebal buku: 175 halaman

ISBN: 978-602-1337-52-3


Tulisan ini disalin dari blog pribadi Dyah Prameswarie, cek blog Dyah melalui tautan di bawah ini:

Tertampar Buku YUK, JADI ORANGTUA SHALIH! (#BookReview)

0

Artikel, Blogger Review, Review


Dilan Blogger Review | Featured
[Oleh: Sintamilia Rachmawati]


Sudah lama sekali saya tidak membaca karya Pidi Baiq. Dulu saya suka baca Drunken Mama, Drunken Molen, dan lain-lain yang membuat saya mengenal Pidi Baiq sebagai penulis yang unik. Belum pernah saya nemu buku yang gaya bahasanya seperti beliau. Dari segi cerita juga buat saya lumayan bikin mikir, ini kisah nyata apa ngarang ya? Ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari tapi kok ngaco gini? Hwkwkwkw..

Pertama kali saya tahu Pidi Baiq mengeluarkan novel Dia adalah Dilanku Tahun 1990, saya surprised. Jenis novelnya fiksi. Ceritanya akan panjang. Ga mungkin jalan ceritanya ngaco kan? heuheu.. Saya tahu novelnya best-seller. Saya jadi penasaran tapi belum rezeki saya untuk membacanya. Eh tapi ternyata Allah ngasih saya kesempatan untuk baca buku ketiga serial Dilan ini yang berjudul Milea; Suara Dari Dilan.


Dilan Blogger Review | Image
Saya baru tahu kalau adik saya sudah membaca buku ini dan 2 buku sebelumnya. Saya tanya padanya, “Buku ini nyambung ga sama buku-buku sebelumnya?” “Nyambung sih..” jawabnya.

“Kalau aku baca Milea tanpa baca dulu buku sebelumnya, bakal ngerti ga?” “Cobaiiin..” Well. dipikir-pikir ga ada salahnya juga. Kalau saya ga ngerti, bakal saya jadikan bahan kritikan. Wahahahaha.. Eh tapi setelah selesai membacanya, saya cukup mengerti ceritanya.


Tentang Mantan Menurut saya, novel ini isinya tentang kenangan dengan mantan. Hahaha.. Yang belum move on dari mantan kayaknya bakal baper baca novel ini. Dengan sudut pandang seorang remaja laki-laki bernama Dilan, novel ini mengisahkan tentang lika liku hubungan asmaranya dengan Milea Adnan Hussain  Panggilannya Lia. *Ih mirip saya nih namanya.

Kalau saya (Sinta)Milia binti Husin. #abaikan Alurnya mulai dari pertama kali kenal, pedekate, pacaran, konflik, putus, sampai move on. Klise? Ya kalau lihat alurnya saja. Tapi ada beberapa hal yang membuat novel ini istimewa dari novel-novel percintaan remaja yang biasa. Hal-hal istimewa itu antara lain: Lucu Ini novel serius sebenarnya. Tapi celetukan-celetukan Dilan yang khas Pidi Baiq itu bikin saya ketawa ketiwi saat membaca.

Di dalam novel disebutkan kalau Pidi Baiq dan Dilan itu orang yang berbeda. Tapi karena saya pernah baca gaya bahasa Pidi Baiq, saya selalu bayangin kalau Dilan itu ya Pidi Baiq. Entahlah apakah ini kekurangan ataukah nilai plus.


Sudut pandang orang pertama, laki-laki. Entah apakah ini fakta atau saya nya aja kurang banyak referensi buku, tapi saya jaraaaaaaang sekali menemukan ada novel fiksi yang mengambil sudut pandang pertama cowok. Kalaupun ada, tidak 100% sepanjang novel, melainkan gonta ganti sudut pandang dengan tokoh perempuan. Mungkin malah ini yang pertama bagi saya.

Saya jadi tahu bagaimana perasaan dan pikiran cowok saat jatuh cinta, kecewa, sedih dan patah hati. Bandung Banget! Anak muda Bandung jaman dulu atau jaman sekarang pasti akan merasa relate banget sama setting lokasi di novel ini. Begitu pula bahasa sunda gaul yang banyak saya temukan.

Pesan Moral Buat saya sih, pesan moral novel ini cukup kuat dan tersurat. Bahwa sebaiknya kita tidak berprasangka (buruk). Bahwa menghindar bisa jadi sesuatu yang akan kita sesali. Bahwa bila kita cukup cerdas dan bijak untuk membangun komunikasi, bisa jadi segalanya akan lebih baik.



This is really a must-have book! ^^ Buku ini bisa dibeli secara online di www.mizanstore.com. Kalau mau versi ebook, bisa didownload dari Google playstore. Eh ada satu lagi yang lupa saya sebutkan bahwa saya juga suka novel ini karena Dilan suka membuat puisi dan puisinya banyak ditampilkan di sini. Ini salah satu favorit saya:


MENEMBUSMU

Setiap hal ketika aku menunggumu
waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku:
Malam berjalan lebih lambat
siang berjalan lebih melambat,
Jam dinding bergerak lebih lambat,
usia bertambah lebih lambat
Di saat mana jantungku berdetak lebih cepat
melebihi kecepatan cahaya
oleh keinginan bertemu denganmu
(Dilan, 1991)



Data buku

Judul : Milea; Suara Dari Dilan

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit: Pastel Books

Jumlah halaman: 360 hal

Didistribusikan oleh Mizan Media Utama

 
Tulisan ini disalin dari blog pribadi Sintamilia Rachmawati, cek blog Sinta melalui tautan di bawah ini:

0

Artikel, Blogger Review, Review


Dilan Blogger Review | Featured

[Oleh: Ina Inong]


Sinopsis :

Dilan, kelas dua SMA, jatuh cinta pada Milea, murid baru pindahan dari Jakarta. Beruntung Milea (Lia) menerima cinta Dilan, dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Asmara antara Dilan dan Lia berjalan lancar, bahkan keluarga mereka mendukung hubungan mereka.

Lia digambarkan sangat dekat dengan Si Bunda (ibu Dilan), begitu juga Dilan dengan keluarga Lia. Walau demikian, hubungan mereka bukannya tak melalui lika-liku.

Bermula dari rasa tidak suka Lia pada teman-teman main Dilan yang notabene anggota geng motor terkenal di kota Bandung (ssst… XTC apa Moonraker? ^_^).

Apalagi setelah Dilan diangkat menjadi panglima tempur geng motor itu. Puncaknya adalah ketika sahabat Dilan, Akew, tewas dikeroyok orang.

Lia menyikapi peristiwa tersebut sebagai dampak dari pergaulan geng motor mereka, dan marah pada Dilan. Apalagi kemudian Dilan dan teman-temannya harus menginap di kantor polisi berkaitan dengan masalah itu.

Bukan hanya Lia yang kecewa, orang tua Dilan pun merasa sangat kecewa dan meminta Dilan untuk sementara jangan pulang ke rumah dulu, sebagai hukuman. Nggak cukup sampai di situ, Lia juga minta putus dari Dilan.

Lengkap lah sudah keruwetan Dilan. Belakangan, masalah Akew itu diketahui bukan berkaitan dengan geng motor mereka, melainkan salah sasaran akibat perselisihan dua wilayah.

Nasi sudah menjadi bubur, hubungan Dilan dan Lia sudah telanjur renggang. Akankah mereka bisa memperbaiki hubungan mereka kembali?

Kalau yang udah baca buku “Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1991” sih udah tahu jawabannya ya kan. Tapi penjelasan akar permasalahan, penyelesaian dan seterusnya ada di buku ini.

Beda dengan dua novel sebelumnya, novel ini mengambil point of view-nya  Dilan. Jadi, ada beberapa bagian dari buku ini yang sengaja diarahkan ke novel-novel sebelumnya lewat bridge sentence: seperti yang ditulis Lia di bukunya.

Otomatis buat yang ujug-ujug baca novel ini, pasti nggak ngerti dan akhirnya penasaran, akibatnya mau nggak mau harus baca novel pertama dan keduanya. Cerdas!   Kenangan Percaya nggak kalau Dilan itu seumuran dan SMA-nya seangkatan sama saya.


Mau bukti? Mari buka halaman 21, di situ disebutkan: Pada tahun 1977, kira-kira waktu masih umur 5 tahun, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin kata nenekku. nenek tersenyum, sedangkan aku kecewa. Atuh sama dong tahun kelahirannya sama saya ^ _ ^  Bedanya tahun 1990 saya udah lulus, kenapa Dilan masih kelas dua SMA, ya? *ah sudahlah gak perlu dibahas yang penting dia cakep*

Kemudian, ceritanya lagi Dilan suka nonton bioskop sama ayahnya di bioskop Panti Karya. Wihihi… saya juga suka diajak Papih nonton di situ. Jangan-jangan kita pernah nontong bareng.

Mang Oyo bubur aja, jualannya masih di Gardujati ya. Ini bubur enak dan legendaris lho di Bandung *kenapa jadi bahas bubur sih* Membaca novel ini membuat saya terlempar ke masa lalu, masa kecil dan masa remaja berseragam putih abu-abu.


Cara bertutur penulis yang jujur, membuat saya seringkali harus tersenyum karena terkenang pada kelakuan sendiri di masa-masa itu. Nggak jauh beda sama Dilan.

Deskripsi keseharian dan pergaulan, nama-nama seperti Akew, Apud, Kang Ewok… terasa familiar. Setiap tempat yang disebutkan di novel ini saya tahu, dialog dan gaya bercanda Dilan dan gengnya, ya begitulah gaya anak nongkrong di Bandung pada jamannya.

Benar-benar ngena dan berhasil menghidupkan kenangan pada masa ketika saya menghabiskan masa remaja di Bandung. De javu. Bedanya, saya bukan anggota geng motor walau suka momotoran juga. Bahkan sejarah pahit kota Bandung pun diceritakan dalam novel ini, yaitu ketika jamannya preman diberantas dengan tidak manusiawi.

Petrus alias penembak misterius, sebutan untuk jagal yang menghabisi nyawa si preman. Jenazahnya dimasukkan ke dalam karung kemudian dibuang begitu saja di pinggir jalan atau di sungai. Dulu, kalau denger ada penembakan rasanya mencekam gitu.



Dilan Blogger Review 3 | Featured

Tetapi, sempat terbersit juga rasa khawatir. Apakah anak-anak muda masa kini bisa menerima humor-humor retro yang bertaburan dalam novel ini.

Misalnya di halaman 41: Berarti kamu juga harus tahu Kang Jeje. Dia itu orang kaya. Selain pejabat, dia juga pengusaha. Rumahnya mewah, lokasinya tidak jauh dari warung Kang Ewok. Sedangkan, tanahnya dan airnya, simpanan kekayaan.

 Sepertinya Penulis mencuplik syair lagu Ibu Pertiwi: hutan, gunung, sawah, lautan… simpanan kekayaan… *masih ada yang hapal lagu Ibu Petiwi gitu, di jaman sekarang?* :))))) Belum  lagi joke-nya Dilan kalau lagi ngegodain Lia suka jayus.

Contohnya ada di halaman 105. Tapi bodor garing macam begitu, kalau di antara pasangan kekasih mah tetep aja jatohnya menyenangkan. Saya sebagai pembaca jadi ikut nyengir juga.

Karena penasaran saya sounding sama putri-putri remaja saya. Me: “Kalau anak-anak seumuran kamu baca novel ini pada ngerti nggak ya. Ini mah jaman mama sekolah”
Jawabannya: “Temen-temen Kiki pada baca kok, novel Dilan. Katanya sih seru.” Iya juga sih, pacarnya anak sulung pun sampai pinjem novel kedua (dan belum balik lagi padahal mereka udah putus) *kok curhat* Salut lah sama penulisnya.

Ternyata kisah kasih remaja jadul ini bisa tembus lintas generasi. Saingan sama generasi Rangga-Cinta, yakin bentar lagi ada tawaran untuk melayarlebarkan novel ini. Eish, Galih dan Ratna mau diremake juga lho. Tapi saya tahu trik penulis, bagaimana menjembatani antara tahun 90-an dengan masa sekarang, sehingga pembaca usia muda di masa kini nggak culture shock.

Dengan sabar penulis akan memberi penjelasan, setiap kali pembahasan menyentuh ranah jadul. Misal, George Michael penyanyi yang digandrungi Disa. Siapa sih George Michael itu ada penjelasannya (halaman 237).

Bisa dicontoh, nih.   Pelajaran Tidak cukup hanya kenangan. Di balik gaya bertutur yang cenderung slengean, novel ini juga memberi sesuatu. Ada hikmah di balik cerita. Ada pelajaran yang bisa kita petik.

Tentang menjadi orang tua. Dilan mendeskripsikan ayahnya sebagai sosok yang lucu. Walau beliau seorang tentara, tetapi tidak lantas menjadi “komandan” bagi anak-anaknya. Cara Dilan bercerita tentang ayahnya membuat saya tersenyum kecil, teringat pada Papih yang galak tapi sangat sayang pada saya, Si Bungsu. Saya jatuh suka pada sosok ayah ini. Mata pun ikut menghangat pada bagian cerita ketika Ayah meninggal dunia.

Sebagai seorang ibu, saya menghayati sikap Si Bunda yang memiliki anak yang unik seperti Dilan. Nggak mau dikekang pun karena dia merasa nggak ada masalah dengan apa yang dilakukannya. Persis! anak sulung saya. Seorang anak, melalui pov Dilan pun mengakui bahwa sikap Si Bunda adalah yang paling nyaman bagi seorang anak (halaman 51). Tokoh Bunda ini menginspirasi saya, bagaimana pendekatan kepada anak dengan cara-cara yang membuat si anak nyaman.

Tentang menjadi anak. Dilan merasa nggak ada yang salah dengan pergaulannya. Orang-orang baik itu saja yang mencapnya sebagai anak nakal. Katanya orang baik tapi kok mikirnya negatif *hahaha… cerdas emang Dilan ini*. Tetapi akan ada waktunya si anak akhirnya menyadari bahwa dirinya telah mengecewakan orang tuanya (halaman 210) dan hal itu mendatangkan rasa sesal.

Novel ini semoga menjadi pencerah untuk anak-anak yang masih belum menyadari kekecewaan yang dipendam orang tua mereka. Sikap yang mereka tahan itu justru supaya si anak nggak terlukai.

Nah, kalau kamu merasa termasuk kategori ini, segeralah meminta maaf pada orang tua dan berjalan kembali di jalan harapan orang tua masing-masing, ya, Dek!



Dilan Blogger Review 2 | Featured


Dan ketika peristiwa tragis kematian Akew diikuti dengan permasalahan demi permasalahan, yang berdampak juga pada urusan asmaranya dengan Milea, Dilan menerimanya dengan sikap dewasa dan positif (halaman 226-227).

Wahai, pemuda-pemudi yang galau di luar sana, contoh sikap Dilan ini ya, nggak pake mabu-mabuan, nggak pake swing-swingan, ngopi aja di warung Kang Ewok dan ngobrol sama Remi Moore, pikiran galau pun jadi ringan kembali.

Walau saya sempat kebawa sebal sama sikap Lia yang posesif, tapi salut karena penulis membuat Dilan tetap berpikiran positif. Sehingga nggak ada adegan dalam novel yang menggambarkan pertengkaran hebat antara dua insan itu. Kalau ada, aroma sinetron bakal merusak feel novel ini.

Tapi, adegan Lia menampar Dilan, saya kurang suka, kok gak sopan sih cewek main gampar aja gitu. Ah, bukan cewek idaman saya *emang situ Dilan*. Pikiran positif  Dilan terus bergulir sampai menjelang akhir novel.

Pada bagian itu, Dilan menganggap masa lalu adalah guru. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa dirinya tidak harus lebih baik dari orang lain, tapi berusaha lebih baik dari dirinya yang kemarin (halaman 352).

Selain dua hal penting di atas, yang bikin saya betah baca novel ini, karena udah terbiasa dengan cara bertutur penulis. Di balik gaya bertutur yang santai sesekali saya menangkap kalimat-kalimat puitis.  Kupejamkan mataku, tapi tak kunjung tidur. Sesekali kudengar suara mobil yang lewat di jalan depan rumah Burhan, selanjutnya adalah aku mendengar suara sunyi di suatu tempat di kejauhan seperti bermain lagu sedih di dalam ruangan (halaman 213).

Mendengar suara sunyi… *like* Belum lagi puisi-puisi konyolnya, tapi asyiknya puisi-puisi itu nggak kehilangan rasa romantisnya. Contoh, puisi untuk Cika di halaman 341. Membaca baris-barisnya bikin senyum-senyum geli, tapi dua baris terakhir… duh… :))) Saya sudah khatam membaca Drunken series-nya Pidi Baiq, jadi nyaris jatuh sangka kalau novel ini adalah personal literature-nya Pidi Baiq yang lain.

Gaya bertutur dan sense of humor yang senada dari tokoh Dilan ini dengan Pidi Baiq di Drunken series, bikin saya jadi pengen nuduh kalau Dilan itu sebenarnya bukan tokoh rekaan melainkan jelmaan si penulisnya sendiri *bener gaaaak* Pokoknya saya harus berterima kasih sama Pidi Baiq, selaku penulis novel ini, atas kenangan-kenangan itu. Mengenang masa remaja putih abu-abu itu paling indah lah, apalagi Taman Centrum dan SMA 5 pun kepilem di novel ini. Hatur nuhun, Kang, almamater saya numpang beken :)))


Jadi, ya… begitulah kesan-kesan terhadap novel “Milea suara dari Dilan” ini. Ketika saya merasa sedih karena novel-novel romance masa kini kadang membuat saya terbengong-bengong nggak ngerti, terbitnya trilogi ini menjadi pelipur kerinduan saya pada romantisme masa lalu. Saya nggak bilang novel ini bagus, nggak bagus juga nggak, yang penting saya sukaaaaaaaaaaaaa.



Judul Buku : Milea Suara dari Dilan

Pengarang : Pidi Baiq

Penerbit : Pastel Books

Cetakan : II, 2016

Halaman : 360 halaman

ISBN : 978-602-0851-56-3


Tulisan ini disalin dari blog pribadi Ina Inong, cek blog Ina melalui tautan di bawah ini:
http://www.inainongina.com/2016/09/review-milea-suara-dari-dilan-sebuah.html
0

Artikel, Blogger Review, Review

Dilan Blogger Review | Featured
[Oleh: Shanty Dewi Arifin]


Jangan pernah baca novel berseri dari seri ketiga! Tidak akan mengerti. Milea Suara dari Dilan (Pastel Books Mizan, 2016) adalah novel ketiga serial Dilan dari Pidi Baiq. Asli tidak akan mengerti kalau langsung baca buku ketiga. Ini novel apaan sih?Cerita seorang anak SMA bernama Dilan. Yang mengaku didatangi Pidi Baiq pada 15 Agustus 2015 karena tertarik menulis novel Suara Dilan. Novel yang akhirnya terbit satu tahun kemudian.


Serial Dilan

Dalam novel 357 halaman ini, Dilan bercerita mengenai banyak kejadian yang diceritakan oleh Milea dalam buku pertama Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1990 (Pastel Books Mizan, 2014) dan buku kedua Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1991 (Pastel Books Mizan, 2015). Kebayangkan betapa tidak kreatifnya penulisnya.

Buku pertama dan kedua judulnya hanya berbeda angka 1. Buku ketiga hanya mengubah sudut pandang. Dari sudut pandang Milea pada buku 1 dan 2, menjadi sudut pandang Dilan di buku ketiga. Jadi ini novel tentang apa? Tentang kenangan pacaran Dilan dan Milea semasa SMA. Dangkal. Sederhana. Kalau kata emak-emak, nggak mutu dan nggak penting – Semoga anakku jangan baca buku ini. Kalau kata anak muda, inspiratif dan keren – Semoga aku bisa dapat pasangan seperti Dilan/Milea.

Kenapa bisa beda pendapat? Makanya harus baca dulu buku 1 dan 2. Nambah kerjaan banget ya. Maunya sih tidak perlu baca 2 buku pertama, tapi dalam novel ketiga ini banyak sekali adegan yang mengacu pada cerita Milea sebelumnya. Jadi agak bingung untuk menangkap ni anak mau ngomong apa sih? Siapa Dilan? Kenapa Milea begitu mencintainya? Kenapa mereka putus? Semua ada di buku satu dan dua.

Banyak bagian diberi penjelasan: … seperti sudah Lia (*nama panggilang Milea) jelaskan dalam buku… atau Lia sudah banyak cerita soal dia di buku itu… Alhamdulillah saya punya tetangga sholehah yang bersedia diembat koleksi kedua novel pertama Dilannya. Thanks bu Sri Mega.

Setelah maraton baca ketiga novel karangan lulusan Seni Kriya FSRD ITB kelahiran 8 Agustus 1972 ini, baru lah kita agak mengerti tentang Dilan dan Milea. Buku pertama tentang Milea bercerita bagaimana Dilan mendekatinya dan akhirnya mereka resmi pacaran yang ditandai dengan deklarasi bermaterai (Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990, hal 327).


Proklamasi

Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran.

Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.

Sedangkan buku kedua tentang cerita Milea mengenai hubungan mereka yang berakhir putus karena Milea tidak mau pacarnya bergabung dengan geng motor. Padahal Dilan sudah meyakinkan bahwa senakal-nakalnya anak geng motor, mereka sholat pada waktu praktek ujian agama. Hadeuh!!! Anak muda…


Dilan Blogger Review 2 | Featured

Celoteh Dilan

Dilan memulai cerita di seri ketiga dengan latar belakang keluarganya. Ada cerita tentang bundanya yang ia biasa panggil Bundahara jika ia sedang minta uang atau Sari Bunda ketika ia lapar. Ada cerita tentang Ayahnya yang tentara hingga masa kecilnya. Dan hal-hal lain yang luput dari catatan Milea dalam buku sebelumnya. Ia lah, mana mungkin Milea tahu kalau Dilan perlu minta air doa Al Fatihah dari bundanya sebelum mendekati Milea. Dilan itu sebenarnya pintar dan juara kelas.

Tapi ia sempat meragukan arti bahwa G 30 S PKI itu merupakan singkatan dari Gerakan 30 September. Ia kira G-nya ada 30, seperti dalam P3K yang merupakan singkatan dari Pertolongan Pertama Padahal Kedua. Boleh senyum kalau kamu jaim. Ada juga komentar Dilan saat Milea menyampaikan pendapat Yugo, temannya yang orang Eropa tentang orang Indonesia.


“Iya. Katanya, orang Eropa itu disiplin. Mau sabar buat antri.”

“Iya keren, buang sampah gak sembarangan. Tapi, menjajah.”

(hal 151)

Dilan terkadang memang cukup wise. Seperti yang ia tunjukkan dengan tidak ingin mengekang Milea.

Lia memang sudah cerita soal Kang Adi yang kadang-kadang masih suka nelepon, dan itu sama sekali tidak masalah bagiku. Aku pacarnya Lia, tetapi aku tidak ingin punya hak untuk mengontrol dengan siapa dia bicara atau dengan siapa dia berteman. Aku tidak ingin punya perasaan berkuasa atas dirinya. (hal 153)

Aku pergi mencari tempat duduk sendiri di halaman Yoghurt Cisangkuy karena merasa tidak ingin mengganggu Beni yang ingin bicara dengan Lia. Aku pacarnya Lia, dan Beni hanya mantannya. Apa yang harus aku risaukan jika aku yakin Lia akan lebih suka kepadaku yang tidak pernah mengekangnya, yang tidak pernah berkata kasar kepadanya. (hal 163)

Walau setting novel ini adalah kondisi SMA di Bandung tahun 1990, yang mungkin berbeda dengan masa sekarang, tapi karakter Dilan memang unik untuk anak-anak masa sekarang. Sangat kreatif cara berpikirnya. Bisa jadi agak kontradiktif ya.

Penulisnya saya nilai tidak kreatif (alasannya sudah saya sampaikan diatas), tapi ia menuliskan tokoh yang kreatif, imajinatif, sableng, polos, aneh, dan mudah untuk dicintai. Mungkin kalau dulu – atau bisa dibilang jamannya Dilan SMA, idola remaja itu karakter Lupus-nya Hilman Hariwijaya, karakter Mas Boy-nya Marwan Alkatiri, atau karakter Roy-nya Gola Gong.

Nah dalam 2 tahun terakhir ini, sepertinya idola remaja adalah Dilan. Dilan yang pintar, Dilan yang anak geng motor, Dilan yang mencintai dengan cara yang unik. Sosok Dilan dibuat begitu hidup oleh Pidi Baiq dalam novel yang tata bahasa dan plotnya tidak jelas.


Kritik tentang Dilan

Beberapa kepingan cerita sering saya tidak mengerti kenapa harus diselipkan disitu. Seperti cerita tentang laki-laki yang mendatangi Disa adiknya Dilan. Namanya Saka. Tapi Dilan menuduhnya memiliki nama panjang Sang Saka Merah Putih yang harus selalu dihormati.

Andaikata bagian tentang Saka dihilangkan, tidak akan berpengaruh apa-apa pada alur cerita. Bisa jadi novel ini tidak nyaman buat dibaca pecinta novel-novel apik rapi seperti karya Dewi Lestari, Andrea Hirata atau Ahmad Fuadi.

Tapi daripada mengomeli penulis atau editornya yang payah banget, saya maklumi saja dengan  menganggap inilah curahan hati anak SMA yang berusaha ditampilkan sejujurnya. Walau sebenarnya agak terganggu juga dengan cara menerjemahkan bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia hanya yang menggunakan kata = atau sekedar diberi tanda kurung.  Misalnya:

“Geus titah tiheula,” kata Apud ke aku. “Sugan weh leungit,” Artinya: “Udah, suruh duluan aja, kali aja dia hilang.”

“Gancang pisan leumpangna,” jawab Apud. (Cepat sekali jalannya.”)

“Teu boga bujal sigana mah,” jawab Apud. “(kayanya dia itu gak punya pusar.”)

“Kenapa?”

“Kuda pan teu boga bujal, jadi teru capean,” jawab Apud. (“Kuda, kan gak punya pusar, makanya kuda gak pernah capek.”)

(Milea Suara dari Dilan, hal 251)


Atau bagian:

“Yang pacaran meuni mesra!” kata Bi Eem tiba-tiba (meni mesra = nampak mesra banget).

( Dilan dia adalah Dilanku tahun 1991, hal 327).


Cara penerjemahan yang rasanya tidak akan kita temui dalam novel-novel karya penulis-penulis terkenal lain. Coba saja kita bandingkan dengan cara Ahmad Fuadi menuliskan bahasa daerahnya dalam novel Negeri 5 Menara (Gramedia, 2009).

Pak Etek Muncak dan kenek bersamaan berseru, “Alah kanai lo baliak. Kita kena lagi!” (Negeri 5 Menara, hal 21) “Ndak ba’a do, sebentar lagi kita sampai!” seru ayah mencoba menenangkan sambil menggamit bahuku.

Dalam Negeri 5 Menara – hal 22, yang dilengkapi dengan footnote menunjukkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Saya harus mengakui, saya lebih suka gaya pengungkapan Milea yang apik di buku satu dan dua. Mungkin karena perempuan memang lebih jago mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata.

Saya sampai lupa ada yang namanya Pidi Baiq dibalik buku ini. Acung dua jempol buat Pidi Baiq yang bisaan membuat sudut pandang perempuan dalam tulisannya. Dengan sempurna! Tokoh-tokoh ini terasa begitu hidup. Bisa jadi karena sepertinya Dilan adalah Pidi Baiq di masa remajanya.

Dilan Blogger Review 3 | Featured


Merekam Sejarah Bandung 90-an dalam Dilan

Dengan setting setiap pojok Bandung yang benar-benar ada pada masa itu. Orang Bandung pasti mengenal tempat-tempat tersebut. Seperti Bioskop Regent, Toko Yu, BonBin – Kebon Binatang Taman Sari, Taman Centrum, Galael Dago, Yoghurt Cisangkuy, Aquarius Dago, dan banyak lagi.

Banyak tempat memang sudah tidak ada sekarang. Tapi ini seperti menjadi catatan sejarah bagi mereka yang memang pernah ada di awal tahun 1990-an dan akan selalu menjadi memori masa muda dulu. Jadi teringat quotesnya Pidi Baiq yang dipajang di bawah jembatan Alun-alun Bandung dan menjadi objek selfie para turis:

“Dan Bandung bagiku bukan masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq

Jadi saya pikir niat Pidi Baiq tercapai. Yaitu menjadikan buku Dilan sebagai buku pelajaran eh tepatnya buku yang bisa menjadi pelajaran buat mereka yang membacanya. Pelajaran? Serius? Dilan sendiri sempat tidak mengerti maksud Pidi Baiq ini (baca hal 18). Penjelasan Pidi Baiq begini. Dalam novel Dilan orang bisa belajar taktik menguasai wanita. Seperti ketika Dilan mengomentari Kang Adi yang berusaha mendekati Milea.

Harusnya, Kang Adi tahu jika benar-benar mencintai dia tidak perlu menjadi seperti orang yang memiliki kekuatan di atas yang lain. Dia cenderung memuji dirinya sendiri daripada memuji Lia. Itu sangat menyebalkan. Dan juga harusnya dia tidak perlu menjadi orang yang ingin dianggap hebat dengan banyak memberi nasihat.

Menurutku, Lia itu seorang yang harus dilindungi dari orang yang memperlakukan dia seperti orang bloon yang tidak tahu apa-apa. Lia itu semacam orang yang ingin dibiarkan menjalani hidup dengan suasana yang luwes, lancar, dan orisinal. Dikasih sedikit campuran Rock’nRoll tetapi yang Lillahita’ala. (hal 146)

Bisa juga belajar pelajaran ekonomi tentang bagaimana cara memberi kado yang murah meriah misalnya dengan memberikan TTS yang sudah diisi. Bukan karena apa-apa, sekedar karena ia tidak ingin Milea pusing mengisinya. Juga ada pelajaran olahraganya dibagian berantem sebagai geng motor. Kan sama-sama melakukan gerakan badan hingga berkeringat.

Nih saya tambahkan satu pelajaran lagi Ayah Pidi, pelajaran sejarah dengan mengenang tempat-tempat legendaris Bandung tahun 1990-an yang mungkin semakin lama semakin banyak menghilang dari kota yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum ini.


Dilan lucu sih….tapi….

Saya sejujurnya susah ketawa baca novel ini. Humor-humor khas anak FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) yang ya… gitu deh… Tapi akhirnya menyerah menahan jaim setelah baca puisi cinta yang ditulis Dilan untuk pacar barunya Cika.

Cika

Cika, Cikawao. Cika, Cikalong Wetan. Cika, Cikadut Atas. Cika, Cikarang Selatan. Cika, Cikaso Banjarsari. Cika, Cikahuripan. Cika, Cikajang Garut. Cika, Cikakak Sukabumi, Cika, Cikao Purwakarta. Cika, Cikamuning. Cika, Cikampek Pantura. Cika, Cikander Serang. Cika, Cikapundung Electronic Center. Cika, Cikapayang Dago. Cika, Cikawung Pandeglang. Cika, Cikawao Motor. Cika ada di mana-mana. Cika juga  di dalam kepalaku. Cika juga di dalam semua perasaan riangku. (hal 341)

Nggak ada yang bisa bilang bahwa lucunya Dilan sama dengan lucunya Lupus ciptaan Hilman Hariwijaya, atau Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, atau Jomlo-nya Aditya Mulya. Berbeda! Saya tidak bisa bilang lebih baik atau lebih buruk. Hanya berbeda.


Siapa Pidi Baiq?

Bisa jadi keunikan novel ini karena latar belakang penulisnya yang memang berbeda. Kesablengan Pidi Baiq mungkin bisa dilihat dalam buku-bukunya sebelumnya seperti Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan; Drunken Molen: Kumpulan Kisah Tidak Teladan; Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan; Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan; Al-Asbun Manfaatul Ngawur; at-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya; dan S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun.

Dari judulnya kebayang lah ya… Masih belum kebayang? Coba intip blognya di http://ayahpidibaiq.blogspot.co.id/. Disana ada banyak cuplikan-cuplikan novel seri Dilan yang dibagikan dengan murah hati oleh Ayah Pidi. Tinggal kalau penasaran boleh baca lanjutannya dengan meminjam buku tetangga seperti saya. Tapi kalau punya sedikit uang, belilah di toko buku diskon terdekat atau di mizanstore.com

Kalau banyak uang, boleh beli di toko buku besar. Bahkan kalau kaya raya banget, boleh beli beberapa biji untuk disumbangkan ke tetangga. Versi e-book bisa kamu dapatkan di app mizanstore dari playstore di HP Androidmu. Selamat membaca!




Data Buku

Judul     : Milea Suara dari Dilan

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit: Pastel Books Mizan, Cetakan II September 2016
(Cetakan I Agustus 2016)

Halaman: 357 hlm, 20,5x14cm

Harga    : Rp 79.000,-


Tulisan ini disalin dari blog pribadi Shanty Dewi Arifin, cek blog Shanty melalui tautan di bawah ini:

http://shantystory.com/2016/09/28/ulasan-novel-milea-suara-dari-dilan-karya-pidi-baiq/
0

X