fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Info

Rasa kantuk bisa menjadi “ujian” ketika berpuasa Ramadhan sambil menjalankan aktivitas. Dilansir dari health.detik.com [11/08/2010], mengantuk saat berpuasa Ramadhan disebabkan oleh perubahan metabolisme tubuh yang disebabkan oleh perubahan pola tidur.  

Membaca 5 novel berikut ini bisa membuat kalian melek dan tetap produktif sambil mengisi waktu ngabuburit.  


1. Seri Alcatraz vs The Evil Librarians


Novel Ramadhan

Seri Alcatraz vs The Evil Librarians karya Brandon Sanderson ini berkisah tentang petualangan ajaib tapi “ngeselin” Alcatraz Smedry bersama teman-temannya melawan sekumpulan pustakawan jahat.

Ada 4 sekuel buku ini; The Scrivener’s Bones, The Knights of Crystallia, The Shattered Lens, dan The Dark Talent; yang tentunya tak bisa dilewatkan dan bikin penasaran sampai akhir.    

2.Warcross


Novel Ramadhan

Buku Marie Lu ini cocok banget buat kalian yang memang gamer sejati. Warcross adalah sebuah permainan berbasis virtual reality yang sudah mendunia dan memiliki jutaan penggemar, hingga permainan ini diretas oleh Emika Chen dan mengalami malfungsi. Kalian pasti berharap Warcross ini ada di dunia nyata dan bisa dimainkan sambil ngabuburit.    


3.Wonder Woman: Warbringer


Novel Ramadhan

Siapa yang nggak kenal tokoh superhero DC Comics satu ini? Wonder Woman karya Leigh Bardugo ini merupakan versi lain dari komik dan filmnya. Dikisahkan, Diana, sang Wonder Woman dari Amazon, berjuang menyelamatkan dunia dari kehancuran bersama seorang manusia yang ternyata adalah keturunan Helen of Troy. Aksi Wonder Woman ini pasti bikin kalian terkagum-kagum sampai waktu maghrib tiba.    


4.Turtles All the Way Down


Novel Ramadhan

Kalau kalian lebih suka kisah ala detektif, buku terbaru John Green ini bisa masuk daftar bacaan ngabuburit kalian. Kisah seorang gadis penggemar Star Wars, Aza, yang tergelitik memecahkan misteri hilangnya seorang miliuner sambil bertarung melawan penyakit mentalnya. Puasa kalian pasti tamat saking asyiknya mengulik perjalanan “detektif” Aza ini.  


5.Love Letters to the Dead


Novel Ramadhan

Apa mungkin seseorang bisa menulis surat cinta untuk orang-orang yang telah tiada? Hanya di buku besutan Ava Dellaira ini kita bisa melihat sisi unik penceritaan tokoh Laurel melalui tumpukan surat-surat cintanya untuk orang-orang terkenal yang telah tiada. Bentuk narasi penceritaan berbentuk surat ini pastinya nggak akan bikin kalian bosan sambil menahan lapar dan dahaga.    



Well, 5 buku tadi bisa kalian pilih sesuai genre yang disukai, mulai dari fantasi sampai kisah ala detektif yang ceritanya benar-benar bisa menyedot rasa kantuk kalian sampai waktu berbuka tiba, ya!



[Oleh: Aninda Pradita]
0

Artikel, Resensi
  Turtles All The Way Down, buku terbaru dari John, penulis mega bestseller The Fault in Our Stars, mengisahkan tentang Aza Holmes, gadis remaja yang mengidap anxiety dan obsessive-compulsive disorder.  

Aza selalu dirongrong oleh pikiran-pikirannya sendiri yang tidak bisa dia kendalikan. Dia cemas bahwa entah bagaimana dia terkena bakteri pencernaan yang bisa berakibat maut. Dia cemas bahwa luka di jarinya entah bagaimana terinfeksi, sehingga dalam sehari dia bisa berkali-kali mengganti plester untuk memastikannya tetap steril.

  Penggambaran tokoh Aza terasa amat realistis dan membuat para pembaca bersimpati. Salah satu alasannya adalah karena John Green sendiri mengidap anxiety disorder. Usianya 6 tahun ketika dia menyadari ada yang aneh dengan pola pikirnya. Green seringkali khawatir makanannya terkontaminasi, dan dia hanya mau mengkonsumsi makanan-makanan tertentu pada jam-jam tertentu.

  Setelah dewasa, Green mengatasi kecemasannya dengan obat-obatan dan terapi perilaku kognitif. Namun tetap saja, terkadang pikiran-pikirannya yang tak terkendali membuatnya lumpuh. Pernah dia merasa begitu depresi hingga tak dapat makan, hanya meminum berbotol-botol soda.   Bagi Green, menulis novel adalah “cara untuk melepaskan diri, agar tidak terjebak dalam diri sendiri.”

Ketika The Fault in Our Stars meledak di pasaran, ketenaran yang begitu mendadak mengganggu ketenangan Green. Green yang cemas jika harus menyentuh orang lain, tiba-tiba harus menghadiri berbagai acara, menghadapi kerumunan fans yang ingin memeluknya dan berfoto bersama.   Kesuksesan The Fault in Our Stars begitu luar biasa, hingga rasanya tidak mungkin lagi menulis novel yang akan sesukses itu.

Green mulai menulis beberapa buku, namun mengabaikan semuanya. Dia cemas bahwa dia tidak akan pernah lagi menulis novel.   Kemudian dia berhenti mengkonsumsi obat, berharap dapat memicu kembali kreatifitasnya, dan dia pun terjun bebas. “Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiranku layaknya spiral yang berputar-putar dan tulisan corat-coret,” ujarnya. Begitu dia dapat mengendalikan diri, lahirlah draft novel Turtles All The Way Down.

Dalam buku terbarunya, John Green berterima kasih pada para dokternya, menuliskan betapa beruntungnya dia bisa mendapat akses terhadap layanan kesehatan jiwa, dan memiliki keluarga yang selalu mendukung. “Penyakit psikologis ini bukanlah gunung yang kau taklukkan atau rintangan yang kau lompati, melainkan sesuatu yang hidup bersamamu setiap hari,” ujar Green. [Dyah]  


Green berharap bahwa Turtles All The Way Down dapat membantu orang-orang yang menghadapi penyakit yang sama dengan Aza dan dirinya agar tidak merasa sendirian.   Disadur dari NYTimes; John Green Tells a Story of Emotional Pain and Crippling Anxiety. His Own (10/10/2017)


 
[Oleh: Dyah Agustine]
0

Artikel, Ruang Redaksi

Peserta Workshop Content Writing The Jakarta Post Writing Center bersama writing instructor, Jet Damazo. Foto: Dokumentasi The Jakarta Post Writing Center.


Memangnya bisa serangkaian tulisan memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri? Jawabannya ada di dalam the art of content writing.   Tulisan kini menjadi komoditas utama dalam dunia digital. Konten tulisan dituntut untuk bisa mencakup semua informasi yang dibutuhkan secara singkat, jelas, dan padat, apalagi jika dipublikasikan secara daring.  

Pada 16 April 2018, The Jakarta Post Writing Center mengadakan One-Day Workshop: Content Writing. Kegiatan yang telah diselenggarakan secara rutin oleh Jakarta Post ini berlangsung dari pukul 9 pagi sampai 5 sore dan meliputi 3 agenda: presentasi singkat dan mendalam tentang content writing oleh instruktur asal Filipina, Jet Damazo, diskusi grup, dan tugas individu yang semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris.  

Dibuka bagi umum, peserta yang hadir kebanyakan berasal dari berbagai latar belakang profesi yang tentunya mengharuskan mereka berkutat dengan dunia penulisan dan konten digital. Seperti staf media sosial dari agensi periklanan, web content developer dari perusahaan IT, staf public relation dari firma konsultan, redaksi penerbitan buku, hingga blogger, yang ingin mengembangkan kemampuan dan kepekaan dalam menulis.

Kirim Naskah Ruang Redaksi

twitter.com/jetdsantos

  Dalam materi yang disampaikan Jet Damazo, menulis adalah kegiatan mudah tapi kompleks. Mudah karena yang kita perlukan hanyalah menuliskan apa yang kita pikirkan atau rasakan.  

Kompleks karena dalam menulis banyak hal yang ternyata harus diperhatikan, terutama untuk konten digital, seperti jumlah kata, keywords untuk kebutuhan Search Engine Optimization (SEO), headline yang menarik, tone dan voice yang ditampilkan sesuai dengan audience dan klien yang diwakili, perlunya riset data, pemilihan style dan struktur tulisan yang akan dipakai, sampai keterampilan dalam berbahasa dan persuasi

Lewat content writing, kita dapat menunjukkan identitas diri atau kelompok yang kita wakili dalam tulisan, meningkatkan traffic kunjungan situs. Mendorong pendapatan bagi yang menggunakan Internet sebagai alat usaha, dan tentunya untuk menjaga agar situs selalu up-to-date dan muncul dalam peringkat teratas SEO Google.  

Adapun setiap peserta diminta membuat sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang, dan diberi contoh kasus yang berbeda. Seperti menjadi blogger yang pro Facebook, blogger yang kontra Facebook, agensi yang mendapatkan Facebook sebagai kliennya, dan agensi yang disewa oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memberikan pandangannya terhadap Facebook.

Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya untuk selanjutnya dituangkan dalam tulisan artikel. Sepanjang tiga ratus kata dengan headline yang menarik yang dibuat individu dan langsung diberikan feedback oleh instruktur.

  Dengan segala kebutuhan dan aktivitas yang semakin ingin cepat dan praktis. Menjadi tantangan tersendiri bagi penulis konten untuk mempertahankan engagement pembaca. Sehingga tulisannya bisa dikatakan berkualitas dan dapat memberikan kesan serta pesannya pun tersampaikan.  

Practice makes perfect, bukan sekadar jargon yang ditemui pada setiap bagian bawah buku tulis kosong saat sekolah dulu. Melainkan harus diaplikasikan dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika ingin menjadi penulis konten yang kompeten dan bernilai jual tinggi.  



[Oleh: Aninda Pradita]
0

X