fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Review

Apa makna Islam menurut Cak Nun?

Emha Ainun Nadjib, atau yang biasa disapa Cak Nun menyampaikan makna Islam dalam sebuah buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Buku ini bukanlah buku Cak Nun yang baru, melainkan sudah pernah diterbitkan pada 1990. Edisi ke-1 ini mencapai cetakan ke-9 pada 1997 sebelum akhirnya diterbitkan kembali edisi kedua pada Mei 2016.

Kembali pada pertanyaan di atas. Apa makna Islam menurut Cak Nun? Sebetulnya, jawaban yang lengkap hanya bisa didapatkan dengan membaca buku ini. Tetapi secara singkat, makna Islam menurut cendekiawan Muslim tersebut dapat kita intisarikan lewat kutipan berikut:

“Pak Kiai menuding santri ketujuh, “Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?”

“Benar, Kiai,” jawabnya, “Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah.”

“Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?”

“Dengan memedomani ayat-ayat-Nya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu, Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya.”

“Kenapa sangat banyak orang salah mengartikan makna pasrah?”

“Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Bahkan, manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah.

Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi Alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya.”


Kutipan di atas, yang diambil dari salah satu kisah yang ada dalam buku ini kurang lebih merangkum makna Islam menurut Cak Nun. Pun menceritakan mengenai perbincangan seorang Kiai dengan santri-santrinya dalam kisah berjudul Di Zawiyyah Sebuah Masjid.

Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa sebelum melepas santri-santrinya pulang kembali ke masyarakat, santri-santri tersebut diuji kedalaman pengetahuannya oleh sang Kiai. Tanya jawab yang terjadi antara sang Kiai dengan santri-santrinya sangatlah menarik untuk disimak dan diresapi dalam rangka memaknai apa itu Islam beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?” Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.”

“Membebaskan,” jawab santri itu.

“Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!”

“Menyelamatkan, Kiai.”

“Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?”

“Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas bimbingan para awliya’ dan anbiya’. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam–sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu–dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah.”

“Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?”

“Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah.”


Sebagaimana kutipan tersebut, Cak Nun kemudian mengeksplorasi kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam Islam untuk kemudian diangkat dan disampaikan dengan cara-cara yang puitis dan sastrawi. Kisah-kisah serupa dapat kita temukan dalam buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya ini.

Kisah-kisah yang dapat kita interpretasikan sebagai upaya seorang Cak Nun untuk mencari dan menggali nilai-nilai keselamatan yang terkandung di dalam Islam.

Pertanyaan lain kemudian muncul. Kenapa Cak Nun memilih kata-kata “Seribu Masjid Satu Jumlahnya” sebagai judul yang dipilihnya untuk buku ini?



Sebelum itu, mari kita simak dulu kutipan yang penulis ambil dari kisah lainnya di buku ini, Negeri Kaum Beribadah. Kisah ini memberikan pandangan mengenai masjid yang sangat menarik untuk diketahui.

“… Masjid ialah tempat bersujud. Dan yang namanya tempat itu tidak harus ruang, bangunan, bentuk, dinding, tiang, atau hiasan-hiasan. Ia bisa saja sebuah perbuatan, sekecil apa pun. Setiap perbuatan untuk Allah adalah masjid bagi nilai hidupmu ….”

Kita selama ini mengenal masjid sebagai suatu tempat. Hanya itu. Kita mungkin tidak tahu atau lupa bahwa sejatinya, arti masjid adalah tempat untuk bersujud. Dan sejatinya sifat dasar sujud yang bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun, ia meluas melewati batasan ruang dan bentuk itu sendiri.

Makna itulah yang kerap kali kita sadari, dan makna itu pulalah yang Cak Nun angkat dalam buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya ini.


Pamungkasnya, Cak Nun tuangkan dalam puisi berjudul sama. Berikut penulis kutip bagian kecil dari keseluruhan puisinya:

Masjid itu dua macamnya

Satu ruh, lainnya badan

Satu di atas tanah berdiri

lainnya bersemayam di hati


Tak boleh hilang salah satunya

Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu

Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu

Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu


Dari penggalan kutipan puisi tersebut, kita dapat melihat apa yang dimaksud oleh Cak Nun tentang Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Pun tentang mengapa Cak Nun memilih Seribu Masjid Satu Jumlahnya sebagai judul yang dipilih untuk bukunya.

Kita menganggap bahwa Cak Nun memilih Seribu Masjid Satu Jumlahnya sebagai judul bukunya sebagai bentuk renungan Cak Nun yang hendak dibagikan kepada para pembaca. Renungan tentang makna masjid, makna Islam, dan bagaimana kita seharusnya bertindak dan berperilaku. Masjid batu didirikan, jangan pula melupakan masjid badan. Itulah kiranya renungan Cak Nun, dan juga renungan tentang apa makna Islam bagi kita semua.



Reiza Harits

Publisis Penerbit Mizan

(Penyunting: Cecep Hasannudin)

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

MIZAN Kronik Zaman Baru

Kode Buku: UA-214

ISBN: 9789794339237

Tahun Terbit: Mei 2016

Halaman: 196 Halaman

Berat: 0,18 Kg

Format: Soft Cover

 

0

Review


Jangan pernah baca novel berseri dari seri ketiga! Tidak akan mengerti. Milea Suara dari Dilan (Pastel Books Mizan, 2016) adalah novel ketiga serial Dilan dari Pidi Baiq. Asli tidak akan mengerti kalau langsung baca buku ketiga. Ini novel apaan sih?Cerita seorang anak SMA bernama Dilan. Yang mengaku didatangi Pidi Baiq pada 15 Agustus 2015 karena tertarik menulis novel Suara Dilan. Novel yang akhirnya terbit satu tahun kemudian.

Serial Dilan


Dalam novel 357 halaman ini, Dilan bercerita mengenai banyak kejadian yang diceritakan oleh Milea dalam buku pertama Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1990(Pastel Books Mizan, 2014) dan buku kedua Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1991 (Pastel Books Mizan, 2015).

Kebayangkan betapa tidak kreatifnya penulisnya. Buku pertama dan kedua judulnya hanya berbeda angka 1. Buku ketiga hanya mengubah sudut pandang. Dari sudut pandang Milea pada buku 1 dan 2, menjadi sudut pandang Dilan di buku ketiga.

Jadi ini novel tentang apa? Tentang kenangan pacaran Dilan dan Milea semasa SMA. Dangkal. Sederhana. Kalau kata emak-emak, nggak mutu dan nggak penting – Semoga anakku jangan baca buku ini. Kalau kata anak muda, inspiratif dan keren – Semoga aku bisa dapat pasangan seperti Dilan/Milea. Kenapa bisa beda pendapat? Makanya harus baca dulu buku 1 dan 2.

Nambah kerjaan banget ya. Maunya sih tidak perlu baca 2 buku pertama, tapi dalam novel ketiga ini banyak sekali adegan yang mengacu pada cerita Milea sebelumnya. Jadi agak bingung untuk menangkap ni anak mau ngomong apa sih? Siapa Dilan? Kenapa Milea begitu mencintainya? Kenapa mereka putus? Semua ada di buku satu dan dua.

Banyak bagian diberi penjelasan: … seperti sudah Lia (*nama panggilang Milea) jelaskan dalam buku… atau Lia sudah banyak cerita soal dia di buku itu… Alhamdulillah saya punya tetangga sholehah yang bersedia diembat koleksi kedua novel pertama Dilannya. Thanks bu Sri Mega.


Setelah maraton baca ketiga novel karangan lulusan Seni Kriya FSRD ITB kelahiran 8 Agustus 1972 ini, baru lah kita agak mengerti tentang Dilan dan Milea. Buku pertama tentang Milea bercerita bagaimana Dilan mendekatinya dan akhirnya mereka resmi pacaran yang ditandai dengan deklarasi bermaterai (Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990, hal 327).

Proklamasi

Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran.

Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.

Sedangkan buku kedua tentang cerita Milea mengenai hubungan mereka yang berakhir putus karena Milea tidak mau pacarnya bergabung dengan geng motor. Padahal Dilan sudah meyakinkan bahwa senakal-nakalnya anak geng motor, mereka sholat pada waktu praktek ujian agama.


Hadeuh!!! Anak muda…


Celoteh Dilan


Dilan memulai cerita di seri ketiga dengan latar belakang keluarganya. Ada cerita tentang bundanya yang ia biasa panggil Bundahara jika ia sedang minta uang atau Sari Bunda ketika ia lapar. Ada cerita tentang Ayahnya yang tentara hingga masa kecilnya. Dan hal-hal lain yang luput dari catatan Milea dalam buku sebelumnya. Ia lah, mana mungkin Milea tahu kalau Dilan perlu minta air doa Al Fatihah dari bundanya sebelum mendekati Milea.

Dilan itu sebenarnya pintar dan juara kelas. Tapi ia sempat meragukan arti bahwa G 30 S PKI itu merupakan singkatan dari Gerakan 30 September. Ia kira G-nya ada 30, seperti dalam P3K yang merupakan singkatan dari Pertolongan Pertama Padahal Kedua. Boleh senyum kalau kamu jaim.

Ada juga komentar Dilan saat Milea menyampaikan pendapat Yugo, temannya yang orang Eropa tentang orang Indonesia.

“Iya. Katanya, orang Eropa itu disiplin. Mau sabar buat antri.”

“Iya keren, buang sampah gak sembarangan. Tapi, menjajah.” (hal 151)

Dilan terkadang memang cukup wise. Seperti yang ia tunjukkan dengan tidak ingin mengekang Milea.

Lia memang sudah cerita soal Kang Adi yang kadang-kadang masih suka nelepon, dan itu sama sekali tidak masalah bagiku. Aku pacarnya Lia, tetapi aku tidak ingin punya hak untuk mengontrol dengan siapa dia bicara atau dengan siapa dia berteman. Aku tidak ingin punya perasaan berkuasa atas dirinya. (hal 153)

Aku pergi mencari tempat duduk sendiri di halaman Yoghurt Cisangkuy karena merasa tidak ingin mengganggu Beni yang ingin bicara dengan Lia. Aku pacarnya Lia, dan Beni hanya mantannya. Apa yang harus aku risaukan jika aku yakin Lia akan lebih suka kepadaku yang tidak pernah mengekangnya, yang tidak pernah berkata kasar kepadanya. (hal 163)

Walau setting novel ini adalah kondisi SMA di Bandung tahun 1990, yang mungkin berbeda dengan masa sekarang, tapi karakter Dilan memang unik untuk anak-anak masa sekarang. Sangat kreatif cara berpikirnya.

Bisa jadi agak kontradiktif ya. Penulisnya saya nilai tidak kreatif (alasannya sudah saya sampaikan diatas), tapi ia menuliskan tokoh yang kreatif, imajinatif, sableng, polos, aneh, dan mudah untuk dicintai.

Mungkin kalau dulu – atau bisa dibilang jamannya Dilan SMA, idola remaja itu karakter Lupus-nya Hilman Hariwijaya, karakter Mas Boy-nya Marwan Alkatiri, atau karakter Roy-nya Gola Gong. Nah dalam 2 tahun terakhir ini, sepertinya idola remaja adalah Dilan. Dilan yang pintar, Dilan yang anak geng motor, Dilan yang mencintai dengan cara yang unik. Sosok Dilan dibuat begitu hidup oleh Pidi Baiq dalam novel yang tata bahasa dan plotnya tidak jelas.

Kritik tentang Dilan


Beberapa kepingan cerita sering saya tidak mengerti kenapa harus diselipkan disitu. Seperti cerita tentang laki-laki yang mendatangi Disa adiknya Dilan. Namanya Saka. Tapi Dilan menuduhnya memiliki nama panjang Sang Saka Merah Putih yang harus selalu dihormati. Andaikata bagian tentang Saka dihilangkan, tidak akan berpengaruh apa-apa pada alur cerita.

Bisa jadi novel ini tidak nyaman buat dibaca pecinta novel-novel apik rapi seperti karya Dewi Lestari, Andrea Hirata atau Ahmad Fuadi. Tapi daripada mengomeli penulis atau editornya yang payah banget, saya maklumi saja dengan  menganggap inilah curahan hati anak SMA yang berusaha ditampilkan sejujurnya.

Walau sebenarnya agak terganggu juga dengan cara menerjemahkan bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia hanya yang menggunakan kata = atau sekedar diberi tanda kurung.  Misalnya:

“Geus titah tiheula,” kata Apud ke aku. “Sugan weh leungit,” Artinya: “Udah, suruh duluan aja, kali aja dia hilang.”

“Gancang pisan leumpangna,” jawab Apud. (Cepat sekali jalannya.”)

“Teu boga bujal sigana mah,” jawab Apud. “(kayanya dia itu gak punya pusar.”)

“Kenapa?”

“Kuda pan teu boga bujal, jadi teru capean,” jawab Apud. (“Kuda, kan gak punya pusar, makanya kuda gak pernah capek.”)

(Milea Suara dari Dilan, hal 251)

Atau bagian:

“Yang pacaran meuni mesra!” kata Bi Eem tiba-tiba (meni mesra = nampak mesra banget).

( Dilan dia adalah Dilanku tahun 1991, hal 327).


Cara penerjemahan yang rasanya tidak akan kita temui dalam novel-novel karya penulis-penulis terkenal lain. Coba saja kita bandingkan dengan cara Ahmad Fuadi menuliskan bahasa daerahnya dalam novel Negeri 5 Menara (Gramedia, 2009).

Pak Etek Muncak dan kenek bersamaan berseru, “Alah kanai lo baliak. Kita kena lagi!” (Negeri 5 Menara, hal 21)

“Ndak ba’a do, sebentar lagi kita sampai!” seru ayah mencoba menenangkan sambil menggamit bahuku.Dalam Negeri 5 Menara – hal 22, yang dilengkapi dengan footnote menunjukkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Saya harus mengakui, saya lebih suka gaya pengungkapan Milea yang apik di buku satu dan dua. Mungkin karena perempuan memang lebih jago mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata. Saya sampai lupa ada yang namanya Pidi Baiq dibalik buku ini.

Acung dua jempol buat Pidi Baiq yang bisaan membuat sudut pandang perempuan dalam tulisannya. Dengan sempurna! Tokoh-tokoh ini terasa begitu hidup. Bisa jadi karena sepertinya Dilan adalah Pidi Baiq di masa remajanya.


Merekam Sejarah Bandung 90-an dalam Dilan


Dengan setting setiap pojok Bandung yang benar-benar ada pada masa itu. Orang Bandung pasti mengenal tempat-tempat tersebut. Seperti Bioskop Regent, Toko Yu, BonBin – Kebon Binatang Taman Sari, Taman Centrum, Galael Dago, Yoghurt Cisangkuy, Aquarius Dago, dan banyak lagi.

Banyak tempat memang sudah tidak ada sekarang. Tapi ini seperti menjadi catatan sejarah bagi mereka yang memang pernah ada di awal tahun 1990-an dan akan selalu menjadi memori masa muda dulu.

Jadi teringat quotesnya Pidi Baiq yang dipajang di bawah jembatan Alun-alun Bandung dan menjadi objek selfie para turis:

“Dan Bandung bagiku bukan masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq

Jadi saya pikir niat Pidi Baiq tercapai. Yaitu menjadikan buku Dilan sebagai buku pelajaran eh tepatnya buku yang bisa menjadi pelajaran buat mereka yang membacanya. Pelajaran? Serius? Dilan sendiri sempat tidak mengerti maksud Pidi Baiq ini (baca hal 18). Penjelasan Pidi Baiq begini. Dalam novel Dilan orang bisa belajar taktik menguasai wanita. Seperti ketika Dilan mengomentari Kang Adi yang berusaha mendekati Milea.

Harusnya, Kang Adi tahu jika benar-benar mencintai dia tidak perlu menjadi seperti orang yang memiliki kekuatan di atas yang lain. Dia cenderung memuji dirinya sendiri daripada memuji Lia. Itu sangat menyebalkan. Dan juga harusnya dia tidak perlu menjadi orang yang ingin dianggap hebat dengan banyak memberi nasihat.

Menurutku, Lia itu seorang yang harus dilindungi dari orang yang memperlakukan dia seperti orang bloon yang tidak tahu apa-apa. Lia itu semacam orang yang ingin dibiarkan menjalani hidup dengan suasana yang luwes, lancar, dan orisinal. Dikasih sedikit campuran Rock’nRoll tetapi yang Lillahita’ala. (hal 146)

Bisa juga belajar pelajaran ekonomi tentang bagaimana cara memberi kado yang murah meriah misalnya dengan memberikan TTS yang sudah diisi. Bukan karena apa-apa, sekedar karena ia tidak ingin Milea pusing mengisinya. Juga ada pelajaran olahraganya dibagian berantem sebagai geng motor. Kan sama-sama melakukan gerakan badan hingga berkeringat.

Nih saya tambahkan satu pelajaran lagi Ayah Pidi, pelajaran sejarah dengan mengenang tempat-tempat legendaris Bandung tahun 1990-an yang mungkin semakin lama semakin banyak menghilang dari kota yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum ini.

Dilan lucu sih….tapi….


Saya sejujurnya susah ketawa baca novel ini. Humor-humor khas anak FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) yang ya… gitu deh… Tapi akhirnya menyerah menahan jaim setelah baca puisi cinta yang ditulis Dilan untuk pacar barunya Cika.

Cika

Cika, Cikawao. Cika, Cikalong Wetan. Cika, Cikadut Atas. Cika, Cikarang Selatan. Cika, Cikaso Banjarsari. Cika, Cikahuripan. Cika, Cikajang Garut. Cika, Cikakak Sukabumi, Cika, Cikao Purwakarta. Cika, Cikamuning. Cika, Cikampek Pantura. Cika, Cikander Serang. Cika, Cikapundung Electronic Center. Cika, Cikapayang Dago. Cika, Cikawung Pandeglang. Cika, Cikawao Motor. Cika ada di mana-mana. Cika juga  di dalam kepalaku. Cika juga di dalam semua perasaan riangku. (hal 341)

Nggak ada yang bisa bilang bahwa lucunya Dilan sama dengan lucunya Lupus ciptaan Hilman Hariwijaya, atau Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, atau Jomlo-nya Aditya Mulya. Berbeda! Saya tidak bisa bilang lebih baik atau lebih buruk. Hanya berbeda.

Siapa Pidi Baiq?


Bisa jadi keunikan novel ini karena latar belakang penulisnya yang memang berbeda. Kesablengan Pidi Baiq mungkin bisa dilihat dalam buku-bukunya sebelumnya seperti Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan; Drunken Molen: Kumpulan Kisah Tidak Teladan; Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan; Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan; Al-Asbun Manfaatul Ngawur; at-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya; dan S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun. Dari judulnya kebayang lah ya…

Masih belum kebayang? Coba intip blognya di http://ayahpidibaiq.blogspot.co.id/. Disana ada banyak cuplikan-cuplikan novel seri Dilan yang dibagikan dengan murah hati oleh Ayah Pidi. Tinggal kalau penasaran boleh baca lanjutannya dengan meminjam buku tetangga seperti saya. Tapi kalau punya sedikit uang, belilah di toko buku diskon terdekat atau di mizanstore.com

Kalau banyak uang, boleh beli di toko buku besar. Bahkan kalau kaya raya banget, boleh beli beberapa biji untuk disumbangkan ke tetangga. Versi e-book bisa kamu dapatkan di app mizanstore dari playstore di HP Androidmu.

Selamat membaca!

Data Buku

Judul     : Milea Suara dari Dilan

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit: Pastel Books Mizan, Cetakan II September 2016 (Cetakan I Agustus 2016)

Halaman: 357 hlm, 20,5x14cm

Harga    : Rp 79.000,-



Tulisan ini disalin dari blog pribadi Shanty Dewi Arifin, cek blog Shanty melalui tautan di bawah ini:

Ulasan Novel Milea Suara dari Dilan karya Pidi Baiq

0

Kolom Editor


Sinopsis :

Dilan, kelas dua SMA, jatuh cinta pada Milea, murid baru pindahan dari Jakarta. Beruntung Milea (Lia) menerima cinta Dilan, dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Asmara antara Dilan dan Lia berjalan lancar, bahkan keluarga mereka mendukung hubungan mereka.

Lia digambarkan sangat dekat dengan Si Bunda (ibu Dilan), begitu juga Dilan dengan keluarga Lia. Walau demikian, hubungan mereka bukannya tak melalui lika-liku. Bermula dari rasa tidak suka Lia pada teman-teman main Dilan yang notabene anggota geng motor terkenal di kota Bandung (ssst… XTC apa Moonraker? ^_^).

Apalagi setelah Dilan diangkat menjadi panglima tempur geng motor itu. Puncaknya adalah ketika sahabat Dilan, Akew, tewas dikeroyok orang. Lia menyikapi peristiwa tersebut sebagai dampak dari pergaulan geng motor mereka, dan marah pada Dilan.

Apalagi kemudian Dilan dan teman-temannya harus menginap di kantor polisi berkaitan dengan masalah itu. Bukan hanya Lia yang kecewa, orang tua Dilan pun merasa sangat kecewa dan meminta Dilan untuk sementara jangan pulang ke rumah dulu, sebagai hukuman. Nggak cukup sampai di situ, Lia juga minta putus dari Dilan. Lengkap lah sudah keruwetan Dilan.

Belakangan, masalah Akew itu diketahui bukan berkaitan dengan geng motor mereka, melainkan salah sasaran akibat perselisihan dua wilayah. Nasi sudah menjadi bubur, hubungan Dilan dan Lia sudah telanjur renggang. Akankah mereka bisa memperbaiki hubungan mereka kembali?

Kalau yang udah baca buku “Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1991” sih udah tahu jawabannya ya kan. Tapi penjelasan akar permasalahan, penyelesaian dan seterusnya ada di buku ini.

Beda dengan dua novel sebelumnya, novel ini mengambil point of view-nya  Dilan. Jadi, ada beberapa bagian dari buku ini yang sengaja diarahkan ke novel-novel sebelumnya lewat bridge sentence: seperti yang ditulis Lia di bukunya. Otomatis buat yang ujug-ujug baca novel ini, pasti nggak ngerti dan akhirnya penasaran, akibatnya mau nggak mau harus baca novel pertama dan keduanya. Cerdas!


Kenangan

Percaya nggak kalau Dilan itu seumuran dan SMA-nya seangkatan sama saya. Mau bukti? Mari buka halaman 21, di situ disebutkan: Pada tahun 1977, kira-kira waktu masih umur 5 tahun, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin kata nenekku.

nenek tersenyum, sedangkan aku kecewa. 
Atuh sama dong tahun kelahirannya sama saya ^ _ ^  Bedanya tahun 1990 saya udah lulus, kenapa Dilan masih kelas dua SMA, ya? *ah sudahlah gak perlu dibahas yang penting dia cakep*

Kemudian, ceritanya lagi Dilan suka nonton bioskop sama ayahnya di bioskop Panti Karya. Wihihi… saya juga suka diajak Papih nonton di situ. Jangan-jangan kita pernah nontong bareng. Mang Oyo bubur aja, jualannya masih di Gardujati ya. Ini bubur enak dan legendaris lho di Bandung *kenapa jadi bahas bubur sih*

Membaca novel ini membuat saya terlempar ke masa lalu, masa kecil dan masa remaja berseragam putih abu-abu. Cara bertutur penulis yang jujur, membuat saya seringkali harus tersenyum karena terkenang pada kelakuan sendiri di masa-masa itu. Nggak jauh beda sama Dilan. Deskripsi keseharian dan pergaulan, nama-nama seperti Akew, Apud, Kang Ewok… terasa familiar.

Setiap tempat yang disebutkan di novel ini saya tahu, dialog dan gaya bercanda Dilan dan gengnya, ya begitulah gaya anak nongkrong di Bandung pada jamannya. Benar-benar ngena dan berhasil menghidupkan kenangan pada masa ketika saya menghabiskan masa remaja di Bandung. De javu. Bedanya, saya bukan anggota geng motor walau suka momotoran juga.

Bahkan sejarah pahit kota Bandung pun diceritakan dalam novel ini, yaitu ketika jamannya preman diberantas dengan tidak manusiawi. Petrus alias penembak misterius, sebutan untuk jagal yang menghabisi nyawa si preman. Jenazahnya dimasukkan ke dalam karung kemudian dibuang begitu saja di pinggir jalan atau di sungai. Dulu, kalau denger ada penembakan rasanya mencekam gitu.

http://www.mizanpublishing.com/blogger-review-milea-suara-dilan-kenangan-dan-pelajaran/mileasuaradaridilan/
Tetapi, sempat terbersit juga rasa khawatir. Apakah anak-anak muda masa kini bisa menerima humor-humor retro yang bertaburan dalam novel ini. Misalnya di halaman 41: Berarti kamu juga harus tahu Kang Jeje. Dia itu orang kaya. Selain pejabat, dia juga pengusaha.

Rumahnya mewah, lokasinya tidak jauh dari warung Kang Ewok. Sedangkan, tanahnya dan airnya, simpanan kekayaan.
 Sepertinya Penulis mencuplik syair lagu Ibu Pertiwi: hutan, gunung, sawah, lautan… simpanan kekayaan… *masih ada yang hapal lagu Ibu Petiwi gitu, di jaman sekarang?* :)))))

Belum lagi joke-nya Dilan kalau lagi ngegodain Lia suka jayus. Contohnya ada di halaman 105. Tapi bodor garing macam begitu, kalau di antara pasangan kekasih mah tetep aja jatohnya menyenangkan. Saya sebagai pembaca jadi ikut nyengir juga.

Karena penasaran saya sounding sama putri-putri remaja saya.
Me: “Kalau anak-anak seumuran kamu baca novel ini pada ngerti nggak ya. Ini mah jaman mama sekolah”
Jawabannya: “Temen-temen Kiki pada baca kok, novel Dilan. Katanya sih seru.”

Iya juga sih, pacarnya anak sulung pun sampai pinjem novel kedua (dan belum balik lagi padahal mereka udah putus) *kok curhat*

Salut lah sama penulisnya. Ternyata kisah kasih remaja jadul ini bisa tembus lintas generasi. Saingan sama generasi Rangga-Cinta, yakin bentar lagi ada tawaran untuk melayarlebarkan novel ini. Eish, Galih dan Ratna mau diremake juga lho.

Tapi saya tahu trik penulis, bagaimana menjembatani antara tahun 90-an dengan masa sekarang, sehingga pembaca usia muda di masa kini nggak culture shock. Dengan sabar penulis akan memberi penjelasan, setiap kali pembahasan menyentuh ranah jadul. Misal, George Michael penyanyi yang digandrungi Disa. Siapa sih George Michael itu ada penjelasannya (halaman 237). Bisa dicontoh, nih.

Pelajaran

Tidak cukup hanya kenangan. Di balik gaya bertutur yang cenderung slengean, novel ini juga memberi sesuatu. Ada hikmah di balik cerita. Ada pelajaran yang bisa kita petik.


Tentang menjadi orang tua.

Dilan mendeskripsikan ayahnya sebagai sosok yang lucu. Walau beliau seorang tentara, tetapi tidak lantas menjadi “komandan” bagi anak-anaknya. Cara Dilan bercerita tentang ayahnya membuat saya tersenyum kecil, teringat pada Papih yang galak tapi sangat sayang pada saya, Si Bungsu. Saya jatuh suka pada sosok ayah ini. Mata pun ikut menghangat pada bagian cerita ketika Ayah meninggal dunia.

Sebagai seorang ibu, saya menghayati sikap Si Bunda yang memiliki anak yang unik seperti Dilan. Nggak mau dikekang pun karena dia merasa nggak ada masalah dengan apa yang dilakukannya. Persis! anak sulung saya. Seorang anak, melalui pov Dilan pun mengakui bahwa sikap Si Bunda adalah yang paling nyaman bagi seorang anak (halaman 51). Tokoh Bunda ini menginspirasi saya, bagaimana pendekatan kepada anak dengan cara-cara yang membuat si anak nyaman.


Tentang menjadi anak.

Dilan merasa nggak ada yang salah dengan pergaulannya. Orang-orang baik itu saja yang mencapnya sebagai anak nakal. Katanya orang baik tapi kok mikirnya negatif *hahaha… cerdas emang Dilan ini*. Tetapi akan ada waktunya si anak akhirnya menyadari bahwa dirinya telah mengecewakan orang tuanya (halaman 210) dan hal itu mendatangkan rasa sesal.

Novel ini semoga menjadi pencerah untuk anak-anak yang masih belum menyadari kekecewaan yang dipendam orang tua mereka. Sikap yang mereka tahan itu justru supaya si anak nggak terlukai. Nah, kalau kamu merasa termasuk kategori ini, segeralah meminta maaf pada orang tua dan berjalan kembali di jalan harapan orang tua masing-masing, ya, Dek!

http://www.mizanpublishing.com/blogger-review-milea-suara-dilan-kenangan-dan-pelajaran/mileasuaradaridilan-1/
Dan ketika peristiwa tragis kematian Akew diikuti dengan permasalahan demi permasalahan, yang berdampak juga pada urusan asmaranya dengan Milea, Dilan menerimanya dengan sikap dewasa dan positif (halaman 226-227). Wahai, pemuda-pemudi yang galau di luar sana, contoh sikap Dilan ini ya, nggak pake mabu-mabuan, nggak pake swing-swingan, ngopi aja di warung Kang Ewok dan ngobrol sama Remi Moore, pikiran galau pun jadi ringan kembali.

Walau saya sempat kebawa sebal sama sikap Lia yang posesif, tapi salut karena penulis membuat Dilan tetap berpikiran positif. Sehingga nggak ada adegan dalam novel yang menggambarkan pertengkaran hebat antara dua insan itu. Kalau ada, aroma sinetron bakal merusak feel novel ini. Tapi, adegan Lia menampar Dilan, saya kurang suka, kok gak sopan sih cewek main gampar aja gitu. Ah, bukan cewek idaman saya *emang situ Dilan*.

Pikiran positif  Dilan terus bergulir sampai menjelang akhir novel. Pada bagian itu, Dilan menganggap masa lalu adalah guru. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa dirinya tidak harus lebih baik dari orang lain, tapi berusaha lebih baik dari dirinya yang kemarin (halaman 352).

Selain dua hal penting di atas, yang bikin saya betah baca novel ini, karena udah terbiasa dengan cara bertutur penulis. Di balik gaya bertutur yang santai sesekali saya menangkap kalimat-kalimat puitis.  Kupejamkan mataku, tapi tak kunjung tidur. Sesekali kudengar suara mobil yang lewat di jalan depan rumah Burhan, selanjutnya adalah aku mendengar suara sunyi di suatu tempat di kejauhan seperti bermain lagu sedih di dalam ruangan (halaman 213). Mendengar suara sunyi… *like*

Belum lagi puisi-puisi konyolnya, tapi asyiknya puisi-puisi itu nggak kehilangan rasa romantisnya. Contoh, puisi untuk Cika di halaman 341. Membaca baris-barisnya bikin senyum-senyum geli, tapi dua baris terakhir… duh… :)))

Saya sudah khatam membaca Drunken series-nya Pidi Baiq, jadi nyaris jatuh sangka kalau novel ini adalah personal literature-nya Pidi Baiq yang lain. Gaya bertutur dan sense of humor yang senada dari tokoh Dilan ini dengan Pidi Baiq di Drunken series, bikin saya jadi pengen nuduh kalau Dilan itu sebenarnya bukan tokoh rekaan melainkan jelmaan si penulisnya sendiri *bener gaaaak*

Pokoknya saya harus berterima kasih sama Pidi Baiq, selaku penulis novel ini, atas kenangan-kenangan itu. Mengenang masa remaja putih abu-abu itu paling indah lah, apalagi Taman Centrum dan SMA 5 pun kepilem di novel ini. Hatur nuhun, Kang, almamater saya numpang beken :)))

Jadi, ya… begitulah kesan-kesan terhadap novel “Milea suara dari Dilan” ini. Ketika saya merasa sedih karena novel-novel romance masa kini kadang membuat saya terbengong-bengong nggak ngerti, terbitnya trilogi ini menjadi pelipur kerinduan saya pada romantisme masa lalu. Saya nggak bilang novel ini bagus, nggak bagus juga nggak, yang penting saya sukaaaaaaaaaaaaa.


Judul Buku : Milea Suara dari Dilan

Pengarang : Pidi Baiq

Penerbit : Pastel Books

Cetakan : II, 2016

Halaman : 360 halaman

ISBN : 978-602-0851-56-3

Tulisan ini disalin dari blog pribadi Ina Inong, cek blog Ina melalui tautan di bawah ini:

http://www.inainongina.com/2016/09/review-milea-suara-dari-dilan-sebuah.html

0

Review

Sudah lama sekali saya tidak membaca karya Pidi Baiq. Dulu saya suka baca Drunken Mama, Drunken Molen, dan lain-lain yang membuat saya mengenal Pidi Baiq sebagai penulis yang unik. Belum pernah saya nemu buku yang gaya bahasanya seperti beliau. Dari segi cerita juga buat saya lumayan bikin mikir, ini kisah nyata apa ngarang ya? Ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari tapi kok ngaco gini? Hwkwkwkw..

Pertama kali saya tahu Pidi Baiq mengeluarkan novel Dia adalah Dilanku Tahun 1990, saya surprised. Jenis novelnya fiksi. Ceritanya akan panjang. Ga mungkin jalan ceritanya ngaco kan? heuheu..

Saya tahu novelnya best-seller. Saya jadi penasaran tapi belum rezeki saya untuk membacanya. Eh tapi ternyata Allah ngasih saya kesempatan untuk baca buku ketiga serial Dilan ini yang berjudul Milea; Suara Dari Dilan.


Saya baru tahu kalau adik saya sudah membaca buku ini dan 2 buku sebelumnya.

Saya tanya padanya, “Buku ini nyambung ga sama buku-buku sebelumnya?”
“Nyambung sih..” jawabnya.
“Kalau aku baca Milea tanpa baca dulu buku sebelumnya, bakal ngerti ga?”
“Cobaiiin..”

Well. dipikir-pikir ga ada salahnya juga. Kalau saya ga ngerti, bakal saya jadikan bahan kritikan. Wahahahaha..

Eh tapi setelah selesai membacanya, saya cukup mengerti ceritanya.

Tentang Mantan
Menurut saya, novel ini isinya tentang kenangan dengan mantan. Hahaha..
Yang belum move on dari mantan kayaknya bakal baper baca novel ini.

Dengan sudut pandang seorang remaja laki-laki bernama Dilan, novel ini mengisahkan tentang lika liku hubungan asmaranya dengan Milea Adnan Hussain  Panggilannya Lia.
*Ih mirip saya nih namanya. Kalau saya (Sinta)Milia binti Husin. #abaikan

Alurnya mulai dari pertama kali kenal, pedekate, pacaran, konflik, putus, sampai move on.
Klise? Ya kalau lihat alurnya saja. Tapi ada beberapa hal yang membuat novel ini istimewa dari novel-novel percintaan remaja yang biasa.

Hal-hal istimewa itu antara lain:

Lucu

Ini novel serius sebenarnya. Tapi celetukan-celetukan Dilan yang khas Pidi Baiq itu bikin saya ketawa ketiwi saat membaca. Di dalam novel disebutkan kalau Pidi Baiq dan Dilan itu orang yang berbeda. Tapi karena saya pernah baca gaya bahasa Pidi Baiq, saya selalu bayangin kalau Dilan itu ya Pidi Baiq. Entahlah apakah ini kekurangan ataukah nilai plus.


Sudut pandang orang pertama, laki-laki.

Entah apakah ini fakta atau saya nya aja kurang banyak referensi buku, tapi saya jaraaaaaaang sekali menemukan ada novel fiksi yang mengambil sudut pandang pertama cowok. Kalaupun ada, tidak 100% sepanjang novel, melainkan gonta ganti sudut pandang dengan tokoh perempuan.

Mungkin malah ini yang pertama bagi saya. Saya jadi tahu bagaimana perasaan dan pikiran cowok saat jatuh cinta, kecewa, sedih dan patah hati.


Bandung Banget!

Anak muda Bandung jaman dulu atau jaman sekarang pasti akan merasa relate banget sama setting lokasi di novel ini. Begitu pula bahasa sunda gaul yang banyak saya temukan.


Pesan Moral

Buat saya sih, pesan moral novel ini cukup kuat dan tersurat. Bahwa sebaiknya kita tidak berprasangka (buruk). Bahwa menghindar bisa jadi sesuatu yang akan kita sesali. Bahwa bila kita cukup cerdas dan bijak untuk membangun komunikasi, bisa jadi segalanya akan lebih baik.

This is really a must-have book! ^^

Buku ini bisa dibeli secara online di www.mizanstore.com. Kalau mau versi ebook, bisa didownload dari Google playstore.

Eh ada satu lagi yang lupa saya sebutkan bahwa saya juga suka novel ini karena Dilan suka membuat puisi dan puisinya banyak ditampilkan di sini. Ini salah satu favorit saya:

MENEMBUSMU

Setiap hal ketika aku menunggumu
waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku:
Malam berjalan lebih lambat
siang berjalan lebih melambat,
Jam dinding bergerak lebih lambat,

usia bertambah lebih lambat
Di saat mana jantungku berdetak lebih cepat
melebihi kecepatan cahaya
oleh keinginan bertemu denganmu
(Dilan, 1991)


Data buku

Judul : Milea; Suara Dari Dilan

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit: Pastel Books

Jumlah halaman: 360 hal

Didistribusikan oleh Mizan Media Utama



Tulisan ini disalin dari blog pribadi Sintamilia Rachmawati, cek blog Sinta melalui tautan di bawah ini:

0

Review

Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitrah. Fa abawaahu …Setiap anak lahir dengan fitrah, bergantung orangtuanya bagaimana ia dibentuk.


Buku ini datang tepat sehari ketika saya menulis status di Facebook. Saya lupa tepatnya, yang saya ingat adalah bahwa hari itu bungsu saya yang berusia  4 tahun, Altaz, sedang berulah. Berkali-kali ia membuat rumah berantakan, mogok tidur siang, dan (ketika akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dapur membuat kue) ia dengan senang hati menghancurkan kue tersebut. What a day!

Seperti judul di atas, membaca judulnya saja membuat saya tertampar. Yang ada di pikiran saya ketika menerima buku ini adalah, “Errrr, ayolah, buku parenting?” *dengan wajah datar*

Bukannya saya alergi buku parenting. Saya sangat-sangat memilih buku parenting yang akan saya baca. Kapok dengan buku parenting yang isinya menggurui, bukan memberi contoh. Bosan dengan buku parenting yang bahasanya resmi dan berat seolah-olah buku tersebut suci dan berasal dari abad sekian sebelum Masehi.

Tapi saya teguhkan hati untuk membaca buku ini. Apalagi ketika membaca kalimat berikut,


Menjadi orangtua shalih memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil.  Ayah-Bunda memiliki lima karunia dari Allah: karunia belajar, karunia konsistensi, karunia kiblat, karunia mendengarkan dan karunia al-shaaffaat. (Halaman 31)

Saya jadi punya semangat lagi untuk segera memperbaiki diri. Eh, bukan hanya memperbaiki diri, tapi intropeksi terlebih dahulu. Pun menggunakan lima karunia dari Allah tadi dengan baik, karena buku ini mengulasnya dalam bab-bab yang mudah dicerna oleh orangtua.


Penulis buku yang dikenal sebagai Abah Ihsan, menuliskan tujuh langkah untuk memulai perubahan agar kelima karunia tadi berfungsi dengan baik.

  1. Intropeksi. Untuk membantu orangtua melakukan intropeksi, penulis membuat tabel yang memuat daftar sikap yang biasa dan sering dilakukan orangtua, pesan yang disampaikan tanpa disadari dan akibatnya terhadap kejiwaan anak. Percaya deh, dari 27 contoh yang ditulis, banyak yang membuat saya membatin, “Argh, ini gue, nih.” atau “Duuh, ternyata akibatnya begitu ya. Pantas Al jadi bla bla bla.”
  2. Menggalang Kesatuan Orangtua. Ini juga tak kalah pentingnya buat kami (saya dan suami). Sering kali kami tidak kompak. Daaan akibatnya fatal. Jadi, Ayah-Bunda harus jadi tim, sebuah kesatuan. Baiklah!
  3. Belajar Bersama. Betul, sejak Al hadir, kami bukan lagi trial and error tapi sengaja belajar. Kembali lagi jadi orangtua baru.
  4. Buatlah Jurnal. Siapa sangka bahwa menjadi orangtua juga membutuhkan jurnal.
  5. Lakukan Curah Gagasan. Abah Ihsan juga mencontohkan sebuah tabel untuk mengetahui  perilaku anak dan peran Ayah-Bunda.
  6. Lakukan Evaluasi Berkala. Ini juga sering kali missed ya? Ternyata menjadi orangtua juga perlu mengevaluasi jurnal dan tabel-tabel yang memuat perilaku kita tadi.



Rayakan Keberhasilan Sekecil Apa pun.

Itu sajakah yang didapat dari buku ini? Hmm, nggak dong. Semakin dibaca, saya justru semakin tertampar sekaligus belajar hal baru. Ditulis dengan gaya bahasa ringan dan tak menggurui, beberapa halaman buku ini kami baca berdua. Lalu kami saling intropeksi diri sendiri. Suami saya berkali-kali mengguman, “Naah, itu aku sering kayak gitu. Ternyata nggak boleh ya?”

Iya, kalimat-kalimat sejenis keluar dari mulut kami tatkala membaca berbagai contoh kasus yang bertebaram di buku ini. Setiap kasus ditandai dengan mana perilaku orangtua biasa dan mana yang menjadi kebiasaan orangtua shalih.

Seperti contoh kasus di halaman 71. Di mana seorang anak berusaha memakai sepatu sendiri. Setelah sekian lama mencoba, anak tersebut berhasil memakai sepatu di kaki kanan dan sandal di kaki kiri.

Mau tahu bagaimana reaksi orangtua bisa? Seperti ini, “Wah, kamu salah pakai. Satu sepatu, satu sandal. Ayo dilepas, ganti dengan sepatu sebelahnya, sini Bunda pakaikan. (Dalam sekali bicara, orangtua mencela, menunjukkan kesalahan, memerintah, memutuskan untuk anak dan mengambil alih). → Hayoo, siapa yang sering seperti ini? Sayaaa! *bukan bangga, tapi malu*

Lalu, bagaimana reaksi orangtua yang shalih? Ups, saya nggak mau terlalu banyak spoiler di sini. Mending segera beli bukunya, baca lalu praktekkan.


Judul buku: YUK, JADI ORANGTUA SHALIH! Sebelum Meminta Anak Shalih

Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Penyunting: Yadi Saeful Hidayat & Budhyastuti R.H.

Penerbit: Mizania

Tahun terbit: 2014

Tebal buku: 175 halaman

ISBN: 978-602-1337-52-3


Tulisan ini disalin dari blog pribadi Dyah Prameswarie, cek blog Dyah melalui tautan di bawah ini:

Tertampar Buku YUK, JADI ORANGTUA SHALIH! (#BookReview)

0

Review

Dibanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi oleh orangtua sendiri itu nggak enak. Semisal, si X anaknya tetangga kita baik ya, beda sama kamu! DEG. Super nggak enak. Membuat nyali ciut dan nggak berharga. Lalu hubungannya dengan buku ini apa? Ada, jelas ada. Dikupas tuntas di sini.
 
Sebelum masuk ke intinya, aku curhat dulu boleh ya? Sa
at mendapatkan kiriman buku ini jujur aku sedikit shock. Secara bukan bacaan aku banget. Iya, aku doyannya fiksi sementara ini buku apa? Hayo menurut kamu buku apa? Dilihat dari covernya kayak buku politik, padahal bukan. Begitu dibalik, blurb-nya kok cocok sama aku yang ingin jadi kreatif … #nyengirkuda.
 
 
Blurb
 
Bagaimana suatu budaya dapat memiliki andil yang besar dalam proses pembentukan kreativitas seseorang? Benarkah bahwa secara umum orang Asia lebih sulit untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara kreatif dibandingkan orang Barat? Mengapa?
 
Ada banyak perbedaan antara masyarakat Asia dan Barat. Perbedaan mendasar antara dua budaya tersebut pada akhirnya membentuk ciri khas tersendiri antara sistem nilai, kepribadian, dan makna diri, bahkan merambah hingga perbedaan pola asuh dan sistem pendidikan yang berlaku di Asia dan Barat hingga saat ini.
 
Buku ini akan menjelaskan secara terperinci segala aspek yang berkaitan dengan faktor pemicu kreativitas yang tanpa disadari telah dibentuk sejak usia dini. Kwang akan memaparkan aspek-aspek tersebut dengan pembahasan yang apik dan menyeluruh.
 
Jika anda tertarik untuk meningkatkan kapasitas diri dan passion dalam hidup, membentuk kepribadian yang lebih kreatif, atau sekadar mempertanyakan hal-hal apa saja yang memengaruhi kreativitas, bersiaplah, Kwang akan menuntun Anda untuk menjawab pertanyaan tersebut.


***


“Pada setiap pekerjaan kreatif, ide yang abstrak dan belum teruji harus diterjemahkan ke dalam aksi konkret.” – Hal. 6


***


Terdiri atas 9 Bab : 1. Dunia Pardoks para Penemu, 2. Karakter Masyarakat Asia dan Barat, 3. Struktur Psikologis Orang Asia dan Barat, 4. Budaya, Kreativitas, dan Sikap Individual, 5. Budaya, Kreativitas, dan Sikap Termotivasi, 6. Bagaimana Pelajar Asia dan Barat Berusaha Meraih Sukses? 7. Bagaimana Orang Asia dan Orang Barat Menghadapi Konflik? 8. Dapatkah Dunia Timur Bertahan terhadap Dunia Barat? 9. Menuju Masyarakat Asia yang Lebih Kreatif.

Sejak awal sejarah manusia, kehidupan sudah mendapatkan kontribusi kreatif orang-orang yang hidup dalam budaya berbeda di seluruh dunia. Contohnya : kulkas dan komputer. Penemuan ini mempermudah kehidupan kita, sayangnya pada kesempatan yang sama mereka telah banyak membuka area potensial terjadinya konflik antar sesama manusia. Contohnya : Nuklir. Di satu sisi memenuhi kebutuhan energi, di sisi lainnya menimbulkan bencana.

Ada 4 pendekatan teoritis untuk mempelajari kreativitas : kognitif, kepribadian, psikologi dan sistem. Kreativitas kelas atas hanya dimiliki oleh sedikit orang sepanjang hidup kita, berbeda dengan kreativitas keseharian yang sebagian besar dari kita akan mengalaminya. Jika kita ingin berbakata di bidang tertentu, kamu tidak membutuhkan gen terbaik, tapi harus punya dukungan yang cukup dari orang terdekat selama masa pembentukan.

Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Isaac Newton merupakan jenius kreatif yang ketika dijabarkan membuat tercengang lebih ke arah agak mengerikan sih. Kalau barat punya Bill Gates, Asia juga punya, Sim Wong Hoo dan Jerry Yang.

“Para ahli memperoleh kinerja terbaik di beberapa bidang tertentu, bukan karena mereka terlahir dengan gen terbaik tapi karena mereka terlahir melakukan latihan yang terus-menerus.” Hal. 15


Orang Barat memang lebih kreatif, tapi tanpa adanya impor dari Cina … penemuan-penemuan itu tidak akan mungkin terjadi. Dan masyarakat Asia, terutama Cina sendiri pun tidak banyak yang mengetahui fakta ini. Belum lagi fakta-fakta tentang Jepang dan Singapura.

“Orang Asia lebih kreatif daripada orang Barat dalam hal keterampilan kuliner.” – Hal. 105


Budaya bisa memengaruhi kreativitas, dikupas secara lengkap di sini. Selain budaya, kepribadian pun turut memengaruhi, di mana Asia lebih tertutup dan Barat terbuka, di mana proses belajarnya penuh trial dan error. Kemudian dari sistem pendidikan pun berbeda.

Pelajar Asia ketika memilih jurusan, mereka memilih yang memiliki nilai pasar yang bagus dan dapat membantunya menemukan pekerjaan bagus saat lulus nanti. Dan keinginan berprestasi di sekolah muncul untuk memenuhi harapan orang lain, terutama keluarga yang sudah banyak berkorban untuk mereka.


Jadi benarkah Orang Barat lebih kreatif daripada Orang Asia? Kamu bisa menentukan jawabannya di buku ini. Dan kamu ingin menjadi lebih kreatif? 

Di buku ini ada panduan komprehensif untuk menjadi orang Asia yang kreatif lho? Yakin nggak mau baca sendiri? Aku bagi satu deh panduannya :

Menjaga sikap suka bermain-main di dalam kehidupan. Hayo, kamu pasti bingung kan? kok main-main sih … makanya, baca bukunya langsung biar nggak penasaran.


***

Ketika satu persatu halaman pada buku ini aku baca, rasanya seperti di tampar bolak-balik. Kesindir banget yes! Betapa selama ini ketika sekolah, aku berusaha mendapatkan nilai baik demi membahagiakan orangtua, agar mereka tidak kecewa. Milih jurusan saat kuliah kemarin pun bukan karena passion tapi karena … ah sudahlah.

Cara orangtua mendidik pun memengaruhi psikologis untuk menjadi orang kreatif lho. Di Barat, kalau menghukum anak itu dikunci di dalam rumah, sementara di Asia dikunci di luar rumah.

Logikanya, bener yang dikunci di dalam rumah dong, biar anaknya merenung. Belum lagi dibanding-bandingkan dengan orang lain, itu membuat anak merasa diremehkan. Orang Asia juga cenderung menghindari sesuatu yang memancing konflik dan mempermalukan dirinya ataupun kelompoknya (takut mencoba). Itu jelas menghalangi proses kreatif. Orang Barat kalau bikin karya nggak main-main lho, contoh di sini pembuatan film Titanic dan wirausahawan sukses Richard Branson.

Beberapa dari orang Asia juga mementingkan wajah. Seperti orang-orang yang saling memamerkan kekayaan, membuat pesta pernikahan yang mewah supaya tidak kehilangan muka di hari istimewa. Menginginkan lebih banyak uang padahal sudah punya cukup uang untuk berbahagia. Real banget kan? Tapi nggak bisa dipungkiri kalau orang Asia memang lebih kreatif dalam hal keterampilan kuliner. Banyak macemnya dan kaya rempah-rempah.

Dengan membaca buku ini, aku yakin kamu nggak akan nyesel. Justru pikiran kamu bakalan lebih terbuka untuk menjadi kreatif. Terjemahannya pun luwes, enak bacanya. Tapi kurang sreg sama font yang untuk keterangan. Terlalu kecil. Ada beberapa tulisan yang sedikit pudar juga di beberapa halaman, nggak bener-bener hitam.

***

Kutipan-kutipan Favorit :

“Motivasi intrinsik mengacu pada passion seseorang untuk melakukan tugas yang diminta. Tanpa passion dalam melakukan hal yang dilakukannya, dia akan merasa kesulitan untuk melangkah.”
– Hal. 9

“Menjadi penemu dalam keseharian tidak akan mendapatkan pengakuan dunia Internasional. Meski demikian, hal itu akan membuat kita berada dalam kehidupan yang bermakna, sehat dan seimbang.”
– Hal. 14

“Pepatah Jepang : yang menonjol sendiri akan di serang, bertolak belakang dengan pepatah Amerika : yang paling berbeda yang akan mendapatkan perhatian.”
– Hal. 48

“Jika ada orang lain yang mengalahkan kita dalam suatu hal, saya rasa kita harus bangkit dan melangkah lagi.”
– Hal. 91

“Dunia Barat memang berutang banyak kepada Timur. Tanpa Impor dari Cina, perkembangan dunia kelautan dan navigasi, seperti kemudi kapal, kompas dan tiang kapal ganda, perjalanan besar Eropa yang membawa pada penemuan-penemuan tidak akan mungkin terjadi.”
– Hal. 105

“Orang yang kreatif itu tidak “menyenangkan” karena mereka memaksa orang lain untuk harus melakukan apa yang mereka katakan, betapapun anehnya itu.”
– Hal. 206

“Jika ingin membesarkan anak kreatif di dalam keluarga, kita perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk mendorong dan memuji mereka saat melakukan hal-hal yang baik dan tidak sering-sering membentak dan memaksa mereka saat melakukan kesalahan.”
– Hal. 280



Judul : ASIA VS BARAT : Benarkah Orang Barat Lebih Kreatif Daripada Orang Asia?

Judul Asli : Why Asians Are Less Creative Than Westerners

Penulis : NG AIK KWANG

Penerjemah : Widiati Utami

Penyunting Naskah : Zahra Haifa

Proofreader : M. Eka Mustamar

Desainer Sampul : Wirastuti

Desainer Isi dan Layout  Jumee

Penerbit : Kaifa

Tahun Terbit : Cetakan pertama, Agustus 2016

Jumlah Halaman : xviii + 358 hlm

ISBN : 978-602-0851-54-9


Tulisan ini disalin dari blog pribadi Gilang Maulani, cek blog Gilang melalui tautan di bawah ini:
 
0

Review


And the blurb..

Bukankah kehilangan itu menyakitkan?

Pantaskah kita bersedih atas kehilangan sesuatu yang bukan milik kita?

Karena sejatinya, diri kita pun bukan milik kita. lantas apa artinya memiliki?

Alfanin merasa bimbang. Ayahnya baru saja menerima pinangan dari seorang pemuda untuk menikah dengannya- tanpa izin dan sepengetahuannya. Siapakah pria itu? Alfanin sendiri pun belum mengenalnya sama sekali.

Jika di awal dia dituntut menerima pilihan yang tidak dia inginkan, sekarang dia diminta memilih pilihan yang membuatnya bingung setengah mati. Menolongnya atau tidak sama dengan menikahinya atau tidak. Sekarang semua berada di tangannya.

Hati kecilnya tersentuh untuk menolongnya, tapi haruskah dia menikah dengan pria pilihan ayahnya, yang ternyata bukan orang yang baik? Yang tidak mencintai dan dia cintai? Haruskah Alfanin menghapus seluruh perasaannya kepada Arham, pria yang selama ini dia sukai? Ini bukan masalah cinta. Tapi Komitmen. 

Sanggupkah Alfanin menjalani semua ini?

Here we go..

The Dearest ini menceritakan kisah Alfanin dan Alfi Kamali Rafanda. Alfanin adalah seorang guru. Pendidikannya baik, agamanya pun baik serta kesehariannya pun baik. Berbeda dengan Alfi yang berparas rupawan, mapan namun memiliki tabiat yang teramat buruk, yaitu gemar bermain wanita serta mabuk-mabukkan. Alfi memiliki prinsip jika hidup harus dinikmati.

Sifat dan sikap keduanya pun amat berbeda jauh, dan sulit untuk dipersatukan. Bagaikan langit dan bumi kalau bahasa gaulnya. Hingga kemudian Alfanin mendengar kabar jika Ayahnya menerima pinangan dari seorang lelaki yang Alfanin tak mengetahui siapa lelaki tersebut, identitasnya siapa, dari mana, apa pekerjaannya, benar-benar buta informasi. Yang Alfanin bingungkan, kenapa Ayahnya menerima pinangan tersebut tanpa mendiskusikannya dengan Alfanin.

Alfanin berpikir jika lelaki yang melamarnya adalah lelaki yang disukainya karena mungkin memang ingin merahasiakan identitasnya. Namun, ternyata lelaki yang melamarnya adalah lelaki lain yang tak diketahuinya. Alfanin sungguh kecewa dengan keputusan Ayahnya. Kenapa Ayahnya tak mengajaknya bicara, tak bertanya dulu kepadanya. Berbagai pertanyaan timbul dalam benak Alfanin. Hingga kemudian setelah meminta petunjuk dari Allah, Alfanin mengambil segala resiko yang mungkin akan timbul di kemudian hari. Begitu juga dengan Alfi yang akhirnya menerima segala permintaan Ayahnya. Alfanin berusaha membantu Alfi untuk bisa mengubah Alfi menjadi lebih baik karena masa lalulah yang membuat Alfi seperti sekarang ini.

Lalu bagaimanakah kehidupan mereka berdua selanjutnya? Akankah ada kabar bahagia di dalam hubungan mereka berdua?

Membaca cerita ini benar-benar berhasil membuatku keingat akan satu peristiwa di masa lalu dimana aku dihadapkan akan satu pilihan oleh kedua orang tuaku, dan membuatku sadar jika itu adalah pilihan yang nyata. Dan di cerita novel ini benar-benar menceritakan bagaimana perjuangan dari seorang Alfanin dan Alfi dalam menerima kenyataan, dihadapkan pada suatu pilihan hidup hingga bagaimana kesabaran mereka diuji habis-habisan. Benar-benar sukses membuat aku baper

Ide ceritanya sebenarnya sudah banyak dijumpai di cerita-cerita lain, tapi eksekusinya serta alurnya yang bikin aku suka. Serta konsekuensi, keputusan, segala ujian yang dihadapi. Konfliknya pun seru banget. Kayak semacam kita diajak naik ke puncak gunung kemudian diajak langsung terjun ke jurang kemudian naik lagi ke daratan. Di dalam cerita ini, selain kisah cinta, ada juga kisah tentang persahabatan, keluarga dengan masalah masing-masing. Novel ini banyak menuturkan mengenai hal religi namun tidak menggurui pembacanya. Salut dan bangga. Cerita ini layak menjadi buku. Sukaaaaa.

Chemistry yang terjalin antara Alfanin dan Alfi benar-benar bagus banget. Aku suka dengan chemistry mereka, dibuat slow namun pasti. Dibikin pembacanya itu seperti terlibat langsung dengan hubungan mereka berdua.

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari novel ini. Banyak pesan moralnya juga. Sepertikesabaran, ikhlas, tak kenal menyerah, menerima, dan lain-lain. Kemudian tentang menerima dan memaafkan serta mengikhlaskan masa lalu itu lebih enak daripada memendamnya sampai membuat hati tak karuan.

Novel ini benar-benar komplit banget. Dijamin deh, saat kamu membaca novel ini, kamu akan langsung jatuh cinta. Jangan lupa, siapkan tissue, guling dan bantal yaa serta camilan. Karena kalau kamu gemes, bisa tu guling dan bantal digigit-gigit manja gitu. Ah iya, aku baca novel ini dirumah diiringi lagunya Surat Cinta Untuk Starla sama Sia – Helium.

Dan aku menunggu karya kamu selanjutnya yaa. Good luck for you, Tinny. Dan jangan lupa juga buat kamu yang ingin membaca novel ini, bisa didapatkan di toko buku terdekat yaa. Jangan sampai kamu kehabisan yaa.

Source: http://www.peekthebook.com/2017/07/the-dearest-tinny-najmi-blog-tour.html



Blog Tour ini merupakan kerjasama antara Penerbit Mizan dan komunitas blogger Peeky Book Tourian (@tourianpeekybook)



Judul :
 The Dearest

Penulis : Tinny Najmi

Imprint : Pastel Books

ISBN : 9786026127365

Mizanstore: http://www.mizanstore.com/product/detail/58235-the-dearest

Google Play Store: http://bit.ly/ebookthedearest

0

Kolom Editor

Suka baca novel-novel fantasi? Pasti teman-teman sudah familier dong dengan makhluk-makhluk magis yang sering wara-wiri di berbagai novel fantasi. Yang paling populer, sebut saja naga, vampir, dan manusia serigala. Sekilas mereka tampak menyeramkan dan berbahaya ya? Jangankan bisa bersahabat, baru bertemu saja mungkin teman-teman sudah ambil langkah seribu.

Tapi jangan keliru… makhluk-makhluk magis lainnya ada banyak sekali lo. Beberapa di antaranya malah baik, jinak, dan bisa dijadikan sahabat. Mau tahu? Yuk, kita kenalan. Kata orang, tak kenal maka tak sayang.


1. IMPUNDULU


Berasal dari Afrika (tepatnya wilayah Pondo, Xhosa, dan Zulu), Impundulu adalah peliharaan gaib para penyihir. Wujudnya berupa burung berbulu hitam dan putih, dengan ukuran sebesar manusia. Ia mampu menciptakan petir dan halilintar, karena itulah ia sering juga disebut lightning bird.

Impundulu memiliki banyak manfaat. Lemak tubuhnya bisa digunakan sebagai ramuan penyembuh, dan dagingnya bisa dipakai sebagai bahan ramuan untuk melacak pencuri dan mengendalikan pikiran manusia… itu kalau kau tega membunuhnya. Impundulu adalah makhluk yang setia dan patuh, serta bisa diwariskan setelah majikannya tewas.


2. BARONG


Barong adalah roh baik pelindung anak-anak. Wujudnya mirip singa, dengan bulu tebal berwarna putih, berwajah merah, dan bermahkota. Hati-hati, jangan sampai tertukar dengan Rangda, si penyihir jahat!

Sepintas penampakan mereka memang mirip, tapi mereka berada di dua kubu yang berlawanan. Biasanya Barong ditemani oleh dua ekor monyet. Jika kau ingin berkenalan dengannya, tidak perlu jauh-jauh, bertandanglah ke Pulau Bali.


3. ELF


Kalau kau pencinta alam, pasti akan cocok bersahabat dengan kaum Elf atau kaum Fae. Mereka pandai menggunakan ilusi dan meracik obat-obatan herbal. Ilusi tersebut dipakai untuk menyembunyikan tempat tinggal mereka, yang ada di berbagai wilayah di Eropa, di antaranya Inggris, Irlandia, Skotlandia, Skandinavia, dan Denmark.

Jika kau beruntung dan berhasil menemukan serta bersahabat dengan kaum fae, manfaatkan untuk belajar lebih banyak tentang alam. Nantinya kau akan bisa buka bisnis obat-obatan herbal deh.


4. BROWNIE


Brownie adalah peri rumah yang berasal dari Skotlandia. Mereka amat jarang menampakkan diri kecuali pada anak-anak yang masih polos. Brownie bekerja pada malam hari untuk membantu membajak ladang, memanen gandum, memeras susu sapi, serta membersihkan rumah dan kandang hewan.

Balasan atas jerih payah mereka ini bisa berupa makanan kesukaan mereka, yaitu susu, roti, bubur, dan madu. Meskipun brownie amat berguna, jangan sampai menyinggung perasaan mereka, karena mereka dapat berubah menjadi boggart yang gemar mengacaukan rumah dan mengerjai penghuninya.


5. NOKKEN


Kalau kau senang musik, bersahabatlah dengan Nokken. Berasal dari Jerman, Nokken adalah roh air melankolis yang bisa muncul sebagai kuda putih atau pria muda rupawan. Ia pandai bermain musik dan nyanyiannya amat indah.

Jika diberi beberapa persembahan, Nokken bersedia mengajarimu bermain musik. Tapi hati-hati, jangan sampai kau merusak tanaman kesukaannya, yakni water lily, karena Nokken bisa murka dan menghabisimu.



Bagaimana, dari kelima makhluk magis di atas, adakah yang ingin teman-teman jadikan sahabat?

Kisah-kisah lebih lengkap tentang asal muasal mereka kini bisa teman-teman baca dalam buku-buku Mythical Creatures: AsiaEurope, dan Africa. Siapa tahu, mungkin teman-teman malah akan menemukan makhluk lain yang lebih menarik.

 


Klik gambar, untuk menuju gerbang dunia makhluk-makhluk magis
0

Kolom Editor

Membaca menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat digital. Di mana pun, dan kapan pun, kebutuhan itu datang menagih janji suatu rentetan rencana baca yang sudah menumpuk sejak lama. Karena membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu dan mood tertentu, maka ada baiknya membaca merupakan kegiatan yang harus direncanakan.

Waktu dan mood juga ditentukan oleh tempat baca yang nyaman dan bacaan seperti apa yang akan kalian baca. Karena tidak mungkin kalian membaca buku romance di mal yang sedang diskon besar-besaran di akhir tahun, karena kamu akan terganggu dengan Ibu-Ibu pemburu diskon, atau malah ikut bersaing dengan si Ibu pemburu diskon untuk dapet tas cantik produk ‘Matahari’.

Cek artikel satu ini, pilih eBook atau Snackbook

Dan, jelas tidak pas jika kamu baca Snackbook horor di saat acara ulang tahun sweet seventeen gebetan kamu. Karena kamu bakal kehabisan momen siapa yang dapat suapan pertama kue ulang tahun karena keasyikan baca.

Dari sekian banyak bacaan baik itu horor, romancetraveling, wacana, dan buku lainnya. Kamu pasti punya satu cerita favorit, kan? Cerita yang pasti butuh banget suasana pas untuk membangun mood kamu untuk membacanya.


Nah, saya mau bagi tips membaca Snackbook horor anti mainstreamlet’s check this out, ya!


1. Bacalah Snackbook Horor di Malam Minggu (Level 1)


Kenapa harus malam minggu? Karena kalau jalan bareng gebetan udah mainstream. Selain bisa menjaga kamu dari maksiat, membaca SnackBook horor di malam minggu bisa meredam ketakutan dan bikin kamu berani buat baca, kenapa? Karena setan-setan lagi tugas mendampingi pasangan-pasangan yang lagi berduaan.

Ini dapat peringkat level 1 karena kemungkinan ketakutannya sangat rendah.


2. Bacalah Snackbook Horor di Alun-Alun Kota Pada Jam 23.32 Saat Tanggal 31 Desember (Level 2)


Pic: Ngenet Yuk!

Nah, ini hanya bisa kalian lakukan setahun satu kali, lo. Jadi jangan sampai kalian melewatkannya. Ini seru karena ini adalah waktu yang langka. Kalian membaca di alun-alun kota kalian masing-masing.

Sensasinya ialah kalian baca ditemani orang-orang yang bahkan kalian tidak kenal, perkirakan waktu ending ceritanya, usahakan tepat pada pukul 00.00, agar ketika kalian ketakutan, ketakutan akan berkurang karena suara petasan tahun baru. Tapi pastikan yang ada di alun-alun, semua menginjak tanah, alih-alih ditemani, kalian malah masuk ke dunia lain.

Ini dapat level 2 karena kemungkinan ketakutannya rendah, tapi bisa menjadi level 5 ketika kamu lupa memastikan semua manusia di tempat kamu baca ternyata tidak menapakan kakinya ke tanah. hiiii …

Baca juga, Creepy Pastel Sajian Ringan Yang Akan Membuat Bulu Kudukmu Merinding


3. Bacalah Snackbook Horor di Bioskop Sepi (Level 3)


Meski membutuhkan biaya berkisar Rp20,000 (weekday) s.d. Rp40,000 (weekend), tapi kamu bisa dapetin sensasinya. Pertama, pilihlah mal atau tempat nonton yang sudah memiliki track record cerita mistis. Kedua, pilihlah film yang sudah lewat jauh tanggal premier-nya alias film yang sudah sedikit peminatnya, kalau bisa film horor.

Jangan horor Indonesia, biasanya ada konten dewasa yang bisa bikin kalian terpalingkan. Ketiga, pilih bangku paling atas-paling ujung, yang jauh dari penonton lainnya. Nah, di sini kamu dapat bonus ilustrasi musik dan sound effect dari film yang kamu dengerin (bukan tonton).

Ini dapat level 3 karena kemungkinan ketakutannya sedang.


4. Bacalah Snackbook Horor di Kuburan Jam 17.45. (Level 4)


Carilah kuburan dekat rumahmu, jangan kuburan yang jauh, nanti kudu keluar ongkos. Usahakan kalian berangkat dan pulangnya jalan kaki biar makin kerasa pas pulangnya ada yang mendampingimu, mungkin dengan mesra memegang tanganmu atau merangkul bahumu.

Mulai membaca pas jam 17.45 di saat langit sedang biru tua menuju gelap. Usahakan membaca dengan serius, jangan hiraukan suara-suara yang muncul, fokus dengan bacaan Snackbook horor kalian.

Ini dapat level 4 karena kemungkinan ketakutannya tinggi.


Tips: tidak perlu bawa kemenyan dan bunga-bungaan apalagi dengan meminta wangsit ke kuburan.

No Way! DOSA TAHU!


5. Bacalah Snackbook Horor di Rumah Yang Kosong Minimal 10 Tahun (Level 5)


Ini juaranya. Carilah rumah kosong yang tidak dihuni selama lebih dari 10 tahun. Usahakan buat izin ke RT-RW setempat biar kamu aman dari sergapan hansip. Pergunakan waktu sekitar pukul 10 malam ke atas. Dan tentunya di kamis malam.

Bawa serta kamera, mikrofon, pasang di sekelilingmu. Hubungi Trans7 biar diliput dan membawa serta ‘si Gondrong’ Harry Pantja. Siapa tahu acara itu tayang lagi. Ya kan ….

Ini dapat level 5 karena kemungkinan ketakutannya sangat tinggi.



Sekian tips anti mainstream dari saya, tunggu tips-tips anti mainstream lainnya. Bye Bye!



Iwan Suta merupakan editor keren bersuara merdu berwajah sendu, yang anti mainstream. Buku-buku Fantasi, Qanita, dan Kronik adalah santapannya sehari -hari. Snackbook adalah kudapannya di kala senggang.

Kamu bisa follow akun IG nya di @sutadharmawanarsa dan SKSD dengannya di Facebook via tautan ini.


0

Kolom Editor

Kota Suci untuk Memetakan Kehidupan Batin

Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Jerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa, tetapi kesan ini sangat menyentakkan saya ketika pertama kali datang ke sana pada 1983.

Aneh rasanya menemukan diri berada di tempat yang selalu muncul dalam khayalan kita sejak masih kecil. Dulu saya sering diceritakan tentang kisah Nabi Daud dan Isa, dan, ketika menjadi seorang biarawati, saya dilatih untuk memulai meditasi pagi hari dengan mengkhayalkan adegan biblikal yang akan saya renungkan. Maka saya pun mereka-reka sendiri pemandangan di Taman Getsemani, Bukit Moriah, atau Via Dolorosa.

Kini, ketika saya harus menjalankan tugas di sana, saya mendapati ternyata kota itu lebih merupakan sebuah tempat yang penuh gejolak dan membingungkan. Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa Jerusalem jelas-jelas sangat penting baik bagi orang Yahudi maupun Muslim. Ketika melihat tentara Israel yang garang menangis saat mencium Tembok Barat atau keluarga Muslim berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat di Haram al-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar akan tantangan pluralisme agama. Betapa orang dapat melihat simbol yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.


Pada pagi pertama saya di Jerusalem, teman Israel saya segera menunjukkan cara mengetahui mana batu-batu yang digunakan oleh Raja Herod untuk membangun tembok Kota Lama. Batu-batu itu seakan menjadi bukti komitmen bangsa Yahudi pada Jerusalem berabad-abad sebelum Islam hadir. Pun ketika kami melewati bangunan-bangunan di Kota Lama, saya diceritakan betapa Jerusalem telah ditelantarkan oleh Utsmaniyyah ketika dinasti itu berkuasa di sana, dan kota itu baru kembali hidup berkat investasi Yahudi — lihatlah kincir angin yang dibangun oleh Sir Moses Montefiore dan rumah sakit-rumah sakit yang dibiayai oleh keluarga Rothschild. Berkat Yahudilah Jerusalem menjadi maju seperti sekarang, katanya.

Teman Palestina saya menunjukkan wajah Jerusalem yang lain sama sekali. Mereka memperlihatkan keagungan Haram al-Syarif dan keindahan madrasah-madrasah yang dibangun di sekitar pinggirannya oleh dinasti Mamluk, sebagai bukti komitmen Muslim pada Jerusalem. Mereka membawa saya ke tempat suci Nabi dekat Jericho, yang dibangun untuk mempertahankan Jerusalem dari serangan Kristen, serta istana-istana Umayyah di dekat situ. Ketika berjalan-jalan di Bethlehem suatu sore, dia menghentikan mobil di pemakaman Rachel untuk menunjukkan betapa orang Palestina telah memelihara tempat-tempat suci Yahudi selama berabad-abad — suatu kebaikan yang tak pernah dihargai secara layak oleh Yahudi.




Namun bagi kedua pihak yang berseteru itu, ada satu kata yang sama bagi Jerusalem: “suci”. Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci. Tapi, apakah arti kata “suci” di sini? Bagaimana mungkin sebuah kota, yang penuh dengan manusia yang tak sempurna dan sibuk dengan aktivitas yang jauh dari suci, bisa disebut suci? Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku ateis militan pun peduli pada sebuah kota suci dan merasa begitu posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa orang Arab yang mengaku tak beriman juga bisa meneteskan air mata ketika untuk pertama kali berdiri di dalam Masjid al-Aqsa?


Saya bisa mengerti mengapa kota itu dianggap suci oleh orang Kristen. Jerusalem adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Tetapi peristiwa-peristiwa formatif bagi Yahudi dan Islam terjadi di tempat-tempat yang jauh dari Jerusalem, di Tanjung Sinai dan Jazirah Arab. Mengapa, misalnya, Bukit Zion di Jerusalem yang menjadi suci bagi Yahudi, bukannya Bukit Sinai, tempat Tuhan memberikan Sepuluh Perintah pada Musa?

Ternyata saya keliru telah mengasumsikan kesucian sebuah kota tergantung pada keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa penyelamatan sejarah, kisah mitos tentang campur tangan Tuhan dalam urusan manusia. Ternyata kata “suci” telah dilekatkan secara bebas dalam hubungannya dengan Jerusalem, seakan maknanya telah jelas dengan sendirinya — sementara nyatanya sangatlah kompleks.

Kota suci atau tempat suci merupakan fenomena yang nyaris universal. Untuk menemukan makna dalam beragama, manusia ternyata membutuhkan geografi sakral, yang tak ada hubungannya dengan peta dunia, tetapi untuk memetakan kehidupan batin mereka. Dan Jerusalem — untuk alasan-alasan yang berbeda — telah menjadi pusat geografi sakral bagi kaum Yahudi, Kristen dan Islam. Inilah yang menyulitkan ketiga agama itu untuk melihat kota suci ini secara objektif. Dan inilah yang telah membuatnya bergolak, tak henti-hentinya sepanjang abad.


Bagian Pertama Nukilan Buku Jerusalem: One City, Three Faiths Paperback

by Karen Armstrong


Paperback: 512 pages

Publisher: Ballantine Books; Reprint edition (April 29, 1997)

Language: English

ISBN-10: 0345391683

ISBN-13: 978-0345391681


Yuliani Liputo telah berkecimpung di bidang penerbitan buku sejak tahun 1994, awal mula karirnya sebagai editor di Penerbit Mizan. Beliau juga banyak menerjemahkan buku-buku wacana populer seperti buku-buku karya penulis terkemuka dunia, Karen Armstrong. Saat ini Yuliani Liputo menangani urusan hak cipta buku-buku Mizan di dunia internasional.

Link Blog: http://yulianiliputo.blogspot.co.id/2013/01/jerusalem-one-city-three-faiths-nukilan.html

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS
X