fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

Ahed Tamimi, seorang aktivis perempuan asal Palestina menjadi sorotan masyarakat dunia karena aksi beraninya. Perempuan 17 tahun ini menampar tentara Israel yang mendatangi rumah keluarganya di desa Nabi Saleh. Aksi yang terjadi pada 17 Desember 2017 ini direkam oleh sepupunya, Nur Tamimi dan menjadi viral setelah tersebar di dunia maya.

 

Ahed dan keluarganya tinggal di Desa Nabi Saleh, Palestina. Desa ini telah bertahun-tahun mengalami pendudukan oleh militer Israel, yang membuat para penduduknya kesulitan mendapat akses ke sumber mata air, rumah sakit, dan pantai karena terhambat oleh pos-pos pemeriksaan. Bertahun-tahun pula para penduduk Nabi Saleh berjuang melawan pendudukan dengan berbagai aksi damai, salah satunya demonstrasi.

  1. Aksi penamparan

    Buku Ahed Tamimi

    Kronologis aksi penamparan Ahed Tamimi kepada tentara Israel bermula dari demonstrasi yang dilakukan di desa Nabi Saleh mengenai perebutan wilayah di daerah tersebut. Aksi protes berlangsung ricuh setelah kurang lebih 200 demonstran melempar batu ke arah tentara Israel. Tentara Israel berusaha untuk meredakan demonstrasi yang ricuh dan masuk ke rumah keluarga Tamimi untuk menenangkan demonstran.

     

    Terdapat dua informasi yang berbeda, berdasarkan tentara Israel, demonstran tetap melempar batu dari dalam rumah. Sedangkan menurut pihak keluarga Tamimi, ketika demonstrasi berlangsung, sepupu Ahed, Mohammed Tamimi ditembak kepalanya dari jarak dekat dengan senjata berpeluru karet.

     

    Ketika tentara Israel memasuki rumahnya, Ahed, dengan ibu dan sepupunya, Nur, menghampiri kedua tentara Israel untuk mengusir mereka. Ketika mereka berkeras tidak mau pergi, Ahed menampar salah satu tentara. Menyadari bahwa seluruh peristiwa ini direkam, tentara Israel tersebut tidak membalas sedikit pun.

     

    Video tindakan berani Ahed tersebar luas di dunia maya setelah ibunya mengunggah video tersebut ke halaman Facebook-nya. Lantas video itu pun menjadi viral. Pada 19 Desember, Ahed ditangkap oleh pihak militer Israel saat tengah malam. Ibunya juga ditahan ketika menjenguk Ahed sehari setelah penangkapan.

     

    Pada 1 Januari 2018, Ahed dijatuhi dakwaan atas tindakannya. Penyerangan terhadap tentara Israel, ikut campur dalam tugas tentara, mengancam tentara, berpartisipasi dalam kerusuhan, menghasut orang lain untuk mengikuti kerusuhan, dan pelemparan baru kepada tentara.

     

    Tak hanya itu, berdasarkan info dari Al-jazeera, ibu Ahed mendapatkan tuduhan penghasutan atas tindakan mengunggah video Ahed di media sosial dan tuduhan penyerangan.  Dan sepupunya, dituduh dengan penyerangan terhadap tentara dan juga ikut campur dalam tugas tentara.

  2. Ikon perlawanan Internasional


    Buku-Ahed-Tamimi-Palestina


    Sosok Ahed Tamimi menjadi sorotan masyarakat dunia.  Ahed dikenal sebagai ikon perlawanan oleh warga Palestina. Ahed juga disandingkan dengan tokoh perlawanan lainnya seperti Malala Yousafzai, Che Guevara, dan Joan of Arc. Keberanian aksinya itu membuat dirinya harus mendekam di penjara selama 8 bulan.

     

    Ternyata aksi Ahed pada tahun 2017 bukanlah yang pertama kali. Tahun 2012, gadis ini sempat mencuri perhatian masyarakat dunia dengan foto dirinya mengancam dan mengepalkan tinju ke arah tentara Israel yang berusaha menahan adiknya pada aksi protes. Saat itu dirinya masih berusia 12 tahun. Tindakan beraninya itu membuat Ahed mendapatkan penghargaan dari Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan.

     

    Pada tahun 2015, video kontroversial Ahed tersebar luas. Video tersebut menunjukkan dirinya yang menggigit tangan tentara Israel yang sedang berusaha menangkap adiknya, Mohammed yang berusia 12 tahun atas tuduhan pelemparan batu. Di video itu juga terlihat beberapa wanita Palestina yang diantaranya adalah Nariman, ibu dari Ahed dan Mohammed, mengelilingi, menampar, dan menarik baju sang tentara.

  3. Incaran Israel


    Fakta Ahed Tamimi

    Aksi perlawanan yang dilakukan Ahed tentunya berdampak besar untuk dirinya dan keluarganya. Sejak videonya tahun 2015, Ahed diincar Israel. Dalam sebuah wawancara Al-Jazeera, Ahed merasa bahwa tentara Israel akan mendatanginya untuk menembak dan membunuhnya. Saat bermain, Ahed dan teman-temannya merasa tidak nyaman ketika ada tentara Israel yang datang. Akibat video yang jadi pemberitaan di seluruh dunia, Ahed sangat dikenali oleh para tentara Israel.

     

    Pada suatu hari, Ahed dan ibunya hendak mengunjungi kakak Ahed, Waed, yang ditahan di penjara Israel. Ketika mereka berdua masuk pos pemeriksaan, tentara Israel langsung mengenali Ahed dan memintanya untuk keluar. Ahed tidak mendapatkan izin untuk melintas dan masuk ke Israel. Ahed juga kerap diteriaki oleh para tentara Israel yang melihatnya.

     

    Demi alasan keamanan, ayah Ahed mengirim Ahed ke rumah sepupunya di Ramallah untuk sekolah. Hal ini dilakukan untuk menghindari incaran tentara Israel setiap kali Ahed melintasi pos pemeriksaan.

     

    Keluarga Ahed bukanlah keluarga sembarangan. Ayah Ahed, Bassem, beberapa kali keluar-masuk penjara Israel hingga 2012. Amnesty International melabelinya sebagai tahanan politik. Sedangkan ibunya, Nariman, sudah lima kali di penjara. Dan kakaknya, Waed, sudah dua kali masuk penjara. Sedangkan Ahed baru pertama kali ini dijebloskan ke penjara. Pasalnya, keluarga Ahed selalu berada di garda terdepan ketika ada aksi protes mengenai pendudukan wilayah yang dilakukan Israel.

  4. Ingin menjadi pengacara


    Buku-Ahed-Tamimi

    Setelah 8 bulan menjalani masa hukumannya, Ahed tak lantas putus asa. Dirinya bercita-cita untuk menjadi pengacara sehingga bisa membela orang-orang Palestina yang dihukum secara tidak adil.

     

    Ahed bercerita bahwa dia menjalani kehidupan yang sulit selama di penjara. Ahed menggunakan waktunya di penjara untuk mempelajari tentang hak asasi manusia, mengedukasi dirinya, dan melatih kesabarannya.


    Penangkapan Ahed menjadi sebuah isu sorotan tentang anak-anak yang dipenjara oleh Israel. Berdasarkan B’Tselem, organisasi hak asasi manusia Israel, dari 6000 orang Palestina yang dipenjara oleh Israel, 300 diantaranya adalah anak-anak.

     

    Ahed sangat senang bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Namun Ahed berharap bahwa semua saudaranya yang dipenjara juga dapat bebas seperti dirinya. Ahed menyebut dirinya seorang pejuang kebebasan, bukan seorang korban.  Ahed memperjuangkan apa yang benar. Dibalik reputasinya sebagai aktivis pejuang kemerdekaan Palestina, Ahed juga seorang anak remaja biasa. Hal pertama yang Ahed inginkan setelah keluar dari penjara adalah makan eskrim.

     

     


                          [Oleh: Fifi Feby Yanti]

                         
                          Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi

0

X