fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel



Foto-Alan-Kurdi

September 2015 lalu, masyarakat dunia dihebohkan dengan foto jenazah anak kecil di pinggir pantai Turki. Anak kecil itu bernama Alan Kurdi, bocah 3 tahun asal Suriah yang tewas tenggelam di Laut Tengah. Impian Alan dan keluarganya untuk hidup aman dan nyaman lenyap setelah ombak membalikan perahu yang ditumpanginya menyebrang ke Pulau Kos di Yunani. Foto mengenaskan itu diabadikan oleh Nilufer Demir dan menjadi viral.


Bukan Akhir Bahagia


Penemuah-Jenazah-Alan-Kurdi


Alan Kurdi berserta keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan kakaknya berencana untuk menyusul sanak keluarga, Teema Kurdi ke Kanada karena kondisi kampung halamannya, Kobani, sudah tidak aman akibat perang. Sang ayah, Abdullah Kurdi, pernah mengajukan visa untuk pergi ke Kanada, namun otoritas Turki tidak memberikan izin visa sehingga Abdullah mencoba jalan lain untuk mewujudkan kehidupan keluarganya yang aman dan nyaman di Kanada.

Abdullah memutuskan untuk melakukan penyebrangan ilegal menuju pulau Kos di Yunani seperti yang dilakukan pengungsi lainnya. Dengan membayar sebesar £2900, Abdullah dan keluarganya berangkat dini hari menuju pulau Kos pada 2 September 2015.



Selang beberapa menit setelah keberangkatan, perahu yang ditumpangi Alan dan keluarganya mengalami masalah. Pengemudi perahu tidak bisa mengendalikan perahu itu melompat ke laut dan meninggalkan perahu. Para pengungsi di perahu tidak dilengkapi dengan pelampung. Perahu pun terombang ambing dan akhirnya terbalik setelah dihadang ombak besar.



Seluruh penumpang jatuh ke laut. Abdullah, ayah Alan, satu-satunya yang bisa berenang berusaha memegang erat keluarganya. Namun ombak besar memisahkan Abdullah dengan kedua anak dan istrinya. Abdullah mencoba menggapai dan memegang kembali keluarganya, akan tetapi kedua anak dan istirnya tak terselamatkan. Impian untuk memulai hidup di Kanada pupus sudah.



Reaksi Dunia terhadap Kejadian Alan


Reaksi-Dunia-Terhadap-Kejadian-Alan-Kurdi

Foto tragis Alan menghiasi muka-muka media di Turki pada tengah hari di hari yang sama. Foto ini lantas menjadi suatu kecaman terhadap anggota Uni Eropa untuk menerima pengungsi sehingga tidak terjadi lagi kejadian mengenaskan seperti Alan. Nasib Alan beserta kakak dan ibunya menambah daftar kelam kematian pengungsi tahun 2015 di Laut Tengah sebanyak 3.600 orang.



Media sosial diramaikan dengan tanda pagar (tagar) #KiyiyaVuranInsalik yang berarti kemanusiaan telah terdampar.  Tagar tersebut menjadi pembahasan netizen dan menjadi trending topic pada saat itu. Netizen mengungkapkan kesedihan atas kejadian yang menimpa Alan dan pengungsi lainnya, dan ada pula yang mengkritik sikap dunia internasional terhadap nasib pengungsi.



Selain tagar #KiyiyaVuranInsalik , kejadian Alan Kurdin melahirkan sindiran halus kepada para penguasa melalui media gambar kartun. Muatan kartun-kartun tersebut beragam. Ada yang menggambarkan Alan dan anak-anak pengungsi lainnya yang turut menjadi korban sedang tidur dengan ombak laut yang menjadi selimut mereka. Ada pula yang mengandung kritis sosial terhadap sikap dunia internasional terhadap para pengungsi.



Harapan Abdullah


Harapan-Abdullah


Abdullah, ayah Alan merupakan orang satu-satunya yang berhasil selamat diantara keluarganya. Terdapat kisah pahit dibalik perjuangan Abdullah menyelamatkan keluarganya saat perahu terbalik. Dirinya berusaha berenang dari satu anaknya ke anaknya yang lain dan mencoba memegang erat keluarganya. Namun ombak memisahkan pegangan erat antara Abdullah dan keluarganya, sehingga sisa keluarganya yang tidak bisa berenang terbawa ombak dan tenggelam.


Sirna sudah harapan dan impian Abdullah. Keinginannya untuk hidup bersama-sama keluarganya hilang ditelan Laut Tengah. Abdullah mempunyai harapan untuk masyarakat dunia. Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, Abdullah berpesan kepada masyarakat dunia untuk terbuka dan menerima kedatangan pengungsi sehingga tidak ada lagi kejadian lain atau korban-korban lain seperti anak dan istrinya.

 

[Oleh: Fifi Feby Yanti]

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

Baca Juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi

0

baru, Resensi, Review

 

Berawal dari patah lahirlah sejarah. Barangkali kalimat itu adalah slogan yang tepat untuk kisah dr. Gia Pratama. Seorang dokter muda yang kini tengah menerbitkan sebuah novel yang ditunggu-tunggu para pembaca, #BerhentiDiKamu. Kabarnya, novel ini akan rilis pada 8 Desember mendatang. (ayobandung.com)

novel-berhentidikamu

Novel ini berisi kisah seputar perjalanan asmara yang dilalui dr. Gia. Mulai dari cerita patah hatinya oleh seorang wanita yang menawan dan sempurna, sampai akhirnya bertemu dengan jodoh lewat bisul yang tak terduga. Kisah yang amat unik dan menarik untuk dibaca.

Dokter lulusan Universitas Yarsi ini pernah mengalami patah hati yang teramat dalam. Ia diputuskan oleh sang kekasih ketika tengah berlibur bersama di Eropa. Tidak hanya mereka berdua,  namun masing-masing keluarga pun turut serta.

Perjalanan dua keluarga ini menjadi momen yang sangat dr. Gia nantikan sejak dulu sampai ia begitu mempersiapkan hal-hal terkecil sekalipun. Sesuai dengan apa yang ia tulis di akun twitter pribadi miliknya. (@GiaPratamaMD)

London dan Paris sebagai kota yang romantis di Eropa, menjadi saksi bisu perjalanan cinta dr. Gia. Setiap perjalanan yang dilalui terasa indah meski cuaca saat itu tak mendukung sekalipun. Ia benar-benar tak mau melewatkan saat-saat berharganya.

Dalam novel tersebut diceritakan bahwa sang kekasih tiba-tiba meminta dokter Gia untuk hanya menjadi temannya. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan dalam hidupnya, tanpa sebab yang jelas memilih untuk pergi. Hubungan yang telah dibina selama setahun lamanya, harus kandas begitu saja.

Suasana liburan yang harusnya menyenangkan, justru menjadi duka dan nestapa bagi dokter Gia. Bangunan harapan yang sekian lama dibangun pun runtuh seketika. Dokter Gia berada di jurang kesedihan dan kegalauan yang amat dalam.

 

novel-berhentidikamu-2

Namun di tengah kisah patah hati itu takdir langsung bekerja. Dokter Gia tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang tak lagi muda di sebuah lobi hotel tempat ia menginap bersama keluarga ketika berllibur di Eropa.

 Pria itu tengah duduk dan ada yang tidak beres dengan posisi duduknya, seperti sedang menahan sakit dan akan bertambah sakit ketika duduknya di posisi sempurna. Ternyata pria tersebut memiliki bisul di pantatnya.

Meski  saat itu dokter Gia sedang berada dalam suasana hati yang pilu, ia tak melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Gia pun mengobati pria yang ia sebut sebagai pasien dadakan. Hingga akhirnya pria itu berhasil sembuh dari sakit bisulnya.

Setelah tragedi bisul di lobi hotel, pria yang ditolong dr. Gia pun mengenalkannya dengan seorang gadis yang tak lain adalah keponakannya, Syafira Imaniar. Ia pun memberikan nomor ponsel Syafira pada dokter Gia. Hingga berlangsunglah sebuah pertemuan.

 

novel-berhentidikamu-
Dalam pertemuan pertamanya, dokter Gia langsung merasa ada kecocokan dengan Syafira. Begitupun sebaliknya. Hingga mereka pun dipertemukan kembali di pelaminan dan menjadi pasangan suami-istri yang bahagia.

Siapa sangka bisul bisa membawanya pada cinta sejati? Cinta yang bahkan tak pernah ia duga akan datang dengan cara demikian. Seperti apa yang ia tulis di akun twitternya yang sampai sekarang menjadi viral:

How I found my wife… Jodoh itu benar Allah yang menentukan, bukan murni hasil keegoisan keinginan kita. You can do anything as hard as you can do tapi pada akhirnya Allah tahu yang terbaik untuk kita.

Karena momen patah hati adalah ajang untuk semakin menguatkan diri. Jadikan ia sebagai bahan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesama. Seperti apa yang dilakukan dokter Gia.

Kisah dokter berkaca mata ini terbilang romantis dan inspiratif. Kisah ini selalu bisa menginspirasi 2,6 juta netizen Indonesia setiap minggunya. Bahkan sebagaimana dilansir dalam hot.detik.com novel #BerhentiDiKamu akan difilmkan.

0

X