fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

4-buku

Setiap tahunnya, situs Goodreads yang merupakan media sosial paling populer di antara para pencinta buku di seluruh dunia, mengadakan Reading Challenge (tantangan membaca). Setiap orang bisa menentukan sendiri target buku yang akan dibaca dalam satu tahun, dan Goodreads akan mencatatnya. Para pembaca bisa dengan mudah mengecek berapa buku yang telah dibaca dan apakah kecepatan membaca sudah sesuai target.

 

Pada 2018, ada lebih dari 4 juta orang yang mengikuti Goodreads Reading Challenge, dengan rata-rata target 60 buku per orang. Menjelang akhir tahun, Goodreads membuat rekapitulasi, dan didapatlah empat buku yang paling banyak dibaca orang pada tahun 2018 ini. Buku apa sajakah? Simak daftar berikut ini.


Harry Potter and the Sorcerer’s Stone karya J.K. Rowling

ilustrasi-harry-potter

Harry Potter dan Batu Bertuah adalah buku pertama dalam serial Harry Potter yang keseluruhannya terdiri dari 7 buku. Dalam buku ini, Harry yang yatim piatu mendapati bahwa dirinya ternyata berdarah penyihir, dan dia harus bersekolah di Hogwarts, sekolah sihir di Inggris.

 

Harry kemudian bersahabat dengan Ron Weasley dan Hermione Granger. Bertiga mereka mengalami berbagai pengalaman menarik di sekolah, termasuk melanggar beberapa peraturan. Dan pada puncaknya, mereka harus berhadapan dengan penyihir gelap yang berniat menguasai dunia.

 

Petualangan Harry Potter sang bocah penyihir benar-benar telah menyihir jutaan pembaca di seluruh penjuru dunia. Tidak sedikit potterhead (sebutan bagi fans Harry Potter) yang setiap tahunnya membaca ulang buku-buku Harry Potter pada tanggal 1 September, bersamaan dengan tahun ajaran baru di sekolah sihir Hogwarts. Ketujuh buku Harry Potter telah diangkat ke layar lebar, dan semuanya menuai kesuksesan.

 

 

The Hunger Games karya Suzanne Collins



The Hunger Games adalah kisah distopia yang mengambil latar tempat di Amerika Utara pada masa depan. Pada saat itu, Amerika Utara dibagi menjadi dua belas distrik dan satu ibukota. Setiap tahunnya, setiap distrik harus mengirimkan satu perempuan dan satu lelaki berusia antara 12 hingga 18 tahun untuk berpartisipasi dalam turnamen Hunger Games. Dalam turnamen ini, para partisipannya harus bertarung sampai mati, hingga hanya tersisa satu orang.

 

Tokoh utama buku ini adalah gadis remaja bernama Katniss yang menjadi salah satu partisipan Hunger Games. Katniss seorang pemburu, tapi dia bukan pembunuh. Konflik batin yang dia alami selama menjalani Hunger Games menjadi salah satu daya tarik The Hunger Games. Dan layaknya kisah-kisah young adult lainnya, tentu ada bumbu-bumbu roman yang menarik diikuti.

 

The Hunger Games yang pertama kali terbit pada 2008 ini termasuk salah satu novel young adult yang mendapat berbagai penghargaan, di antaranya Georgia Peach Book Award pada 2009, Pennsylvania Young Readers’ Choice Award kategori Young Adult pada 2010, West Australian Young Readers’ Book Award kategori Older Readers pada 2010, dan Missouri Truman Readers Award pada 2011. Buku ini telah diangkat ke layar lebar, dengan aktris Jennifer Lawrence berperan sebagai Katniss, diikuti dengan sekuelnya, Catching Fire dan Mockingjay.

 

 

To Kill A Mockingbird karya Harper Lee



Novel yang memenangi Pulitzer Prize pada 1961 ini telah menjadi karya klasik modern dalam sejarah sastra Amerika. Mengangkat tema rasisme, To Kill A Mockingbird mengisahkan tentang perjuangan Atticus Finch, seorang pengacara, dalam membela seorang terdakwa kulit hitam. Uniknya, kisah ini disampaikan dari sudut pandang Scout, anak perempuan Atticus, sehingga ceritanya lebih mudah dicerna dan sarat humor khas anak-anak.

 

Frasa to kill a mockingbird sendiri bermakna hilangnya kepolosan. Mockingbird diasosiasikan dengan kepolosan atau kemurnian karena burung ini tidak pernah menyakiti makhluk hidup lain. Alih-alih, ia menghibur dengan lantunan suaranya yang indah. Di dalam bukunya, Atticus berkata “Kalian boleh menembak burung bluejay kalau bisa, tapi ingat, kalian berdosa apabila membunuh burung mockingbird.”  

 

Kesuksesan To Kill A Mockingbird yang luar biasa tidak membuat Harper Lee besar kepala. Dia malah menarik diri dari ketenaran dan menolak segala macam bentuk wawancara. Penulis yang berteman karib dengan Truman Capote ini juga menolak menuliskan kata pengantar bagi To Kill A Mockingbird. Menurutnya, kata pengantar itu “membunuh antisipasi dan rasa penasaran.”

 

Pada 2007, Presiden Amerika George W. Bush menganugerahi Harper Lee penghargaan Presidential Medal of Freedom. Dia menyatakan bahwa To Kill A Mockingbird telah mempengaruhi karakter Amerika ke arah yang lebih baik, dan buku ini akan selamanya dibaca dan dipelajari. Karakter Atticus Finch memang menjadi suri tauladan bagi para pengacara.

 

Terlepas dari berbagai kontroversi, draft awal To Kill A Mockingbird, yang diberi judul Go Set A Watchman, terbit pada tahun 2015. Go Set A Watchman mengambil setting waktu 20 tahun setelah peristiwa yang terjadi dalam To Kill A Mockingbird. Dalam Go Set A Watchman, Scout telah menjadi wanita dewasa dan kembali ke kampung halamannya, Maycomb, Alabama. Dengan perspektif baru yang lebih dewasa, Scout menilai ulang banyak hal dari masa kanak-kanaknya.

 

 

The Fault in Our Stars karya John Green



The Fault in Our Stars merupakan novel keenam John Green, namun merupakan novel pertamanya yang meraih kesuksesan besar hingga diangkat ke layar lebar dengan judul sama.

 

Novel ini mengisahkan tentang gadis remaja bernama Hazel Grace Lancaster yang mengidap kanker tiroid. Penyakit ini telah menjalar ke paru-parunya, sehingga Hazel harus selalu menggunakan alat bantu pernapasan dan ke mana pun dia pergi, Hazel harus selalu membawa tangki oksigen. Hazel kemudian bertemu dengan Augustus Waters, yang juga penyintas kanker. Cinta pun bersemi di antara mereka.

 

Sekilas, premis The Fault in Our Stars memang biasa saja, namun gaya penceritaan dan kuatnya karakter Hazel dan Augustus membuat para pembaca meletakkan buku ini di jajaran buku-buku favorit mereka. Selain itu, chemistry antara Hazel dan Augustus juga sangat menggemaskan, dalam artian positif.

 

Pasca kesuksesan The Fault in Our Stars, John Green sempat terpuruk dan tidak yakin akan dapat menulis novel lagi. Tapi lima tahun kemudian dia bangkit dan menerbitkan buku terbarunya, Turtles All The Way Down, mengisahkan gadis remaja bernama Aza Holmes yang mengidap obsessive-compulsive dan anxiety disorder, penyakit serupa yang diidap John Green. Ternyata novel ini juga sukses, bahkan dipuji-puji oleh Bill Gates, pendiri perusahaan Microsoft.

 

 

Apakah kamu sudah membaca keempat buku di atas? Jika belum, ini saatnya untuk menambahkan buku-buku tersebut ke dalam daftar bacaanmu dan temukan sendiri alasan di balik kecintaan para pembaca terhadap buku-buku ini.

 

[Oleh: Dyah Agustine]


Baca juga: 10 Tips Menulis Buku Laris Ala Dan Brown 


Baca juga: Jangan Putus Asa, Ini 9 Cara Untuk Bangkit Lagi 


Baca juga: Inspirasi Pojok Baca: Setiap Rumah Harus Punya 

 

 

0

Artikel




Pernahkah Anda berkali-kali menatap jam di kantor, berharap jam kerja Anda secepatnya berakhir? Atau mengeluh ketika hari Minggu datang dan Anda harus kembali bekerja pada hari Senin pagi? Tenang saja, Anda bukan satu-satunya orang yang merasakan hal tersebut.

Bekerja merupakan kewajiban dan kebutuhan. Tanpa bekerja, sebagian besar orang tidak bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak sedikit orang rela bekerja dari pagi sampai malam, lembur nyaris setiap hari, demi terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Namun, meski kebutuhan mereka terpenuhi dengan hal tersebut, tak jarang orang justru merasa tertekan dengan masalah pekerjaan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Jakarta pada tahun 2015, menyebutkan bahwa salah satu penyebab stres terbesar bagi warga kota tersebut adalah masalah pekerjaan. Di dalamnya tercakup tekanan dari tenggat waktu pekerjaan hingga tekanan dari atasan kerja. Lebih dari sepertiga responden dalam survei tersebut menghabiskan waktu di kantor selama lebih dari 10 jam per hari, ketika jam ideal bekerja hanyalah 8 jam per hari.

Banyak orang bekerja semata-mata untuk mengejar uang, tanpa berpikir apakah mereka akan mencintai pekerjaan tersebut. Nyatanya, perasaan cinta terhadap pekerjaan adalah kunci utama dalam mengatasi stres dalam bekerja. Layaknya jatuh cinta, orang tidak akan merasa usahanya dalam pekerjaan merupakan hal yang sia-sia, sehingga dia tak mudah menyerah. Contohnya seperti presenter kondang Feni Rose, dia sangat mencintai pekerjaannya sebagai presenter televisi, dan kisahnya terangkum dalam buku The Secret of Nekat Presenter. Penasaran apa saja manfaat bekerja dengan penuh perasaan cinta? Ini dia 7 rahasianya:


Lebih fokus dalam bekerja



Bekerja dengan penuh rasa cinta membuat orang lebih fokus dalam bekerja. Tanpa adanya rasa cinta pada pekerjaan, terkadang membuat orang kerap mengeluh, sehingga fokusnya justru terpaku pada bagian tidak menyenangkan dalam pekerjaan itu. Bila orang menyukai pekerjaannya, dia akan lebih mudah fokus dan tidak cepat bosan. Bersamaan dengan rasa suka, fokus bekerja berarti orang bisa bekerja secara lebih efektif sambil tetap merasa senang. Sehingga, meskipun bekerja keras dan fokus, orang tidak akan mudah merasa lelah.


Meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam bekerja



Bila seseorang menyukai pekerjaannya, dia akan lebih mudah berkreativitas. Ide-ide kreatif akan lebih mudah muncul karena hal tersebut bukan sesuatu yang dipaksakan. Sebaliknya, ketika orang tidak menyukai pekerjaannya, hal tersebut dapat terlihat dari kurangnya ide kreatif dan inovatif, khususnya ketika dia berdiskusi dengan rekan kerja di rapat kantor. Rasa tidak suka akan cenderung membuat orang menjadi pasif dan juga merasa tidak perlu untuk terus menerus mencari ide bagus. Sedangkan rasa suka terhadap suatu pekerjaan akan membuat orang lebih giat mempelajari pengetahuan di bidang tersebut. Dengan banyaknya pengetahuan yang dimiliki, berbagai ide akan lebih mudah mengalir.


Lebih mudah menghadapi tantangan pekerjaan



Saat seseorang menyukai sebuah bidang pekerjaan, tantangan yang dia hadapi tidak akan dianggap sebagai sebuah masalah atau kesulitan. Tantangan tersebut justru akan dianggap sebagai sebuah pembelajaran, dan motivasi untuk menjadi lebih baik setiap saat. Dengan pola pikir demikian, resiko menjadi stres akan adanya sebuah masalah dalam pekerjaan dapat menurun drastis. Pekerja akan lebih fokus mencari jalan keluar dan juga mengembangkan dirinya ketika hal tersebut akan terjadi. Dengan demikian, kemampuannya akan semakin baik dan dia juga akan mendapat pengetahuan baru setiap kali menghadapi sebuah tantangan dalam pekerjaan.


Kualitas pekerjaan meningkat drastis



Ketika sebuah pekerjaan dilakukan dengan penuh cinta, maka kualitasnya akan meningkat drastis. Hal tersebut dikarenakan individu pekerjanya akan lebih terdorong untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban. Dia akan rela melakukan usaha lebih keras demi mencapai hasil terbaik dalam pekerjaan tanpa melakukan perhitungan. Sehingga, ketika dia merasa kurang mampu dalam mengerjakan sesuatu, dia tidak akan serta-merta berhenti, namun berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi ketidakmampuan tersebut. Hasilnya, pekerjaan akan bisa diselesaikan dengan hasil akhir yang memuaskan dan juga kemampuan bekerja akan semakin terasah setiap harinya.


Profesionalitas meningkat



Salah satu beban kehidupan seorang pekerja terkadang merupakan permasalahan dengan orang-orang di lingkungan kerja, baik rekan maupun klien. Bila seseorang kurang menyukai pekerjaannya, besar kemungkinan perasaan tidak suka terhadap orang-orang di lingkungan pekerjaan membuat kualitas pekerjaannya semakin buruk. Dia jadi lebih mudah terbawa perasaan dan membiarkan energi negatif dari hal tersebut mempengaruhi pekerjaannya. Sebaliknya, seseorang akan lebih menjaga profesionalisme ketika menyukai pekerjaannya. Dia lebih fokus tentang bagaimana menjaga kualitas pekerjaan tanpa memedulikan konflik pribadi.


Lebih termotivasi untuk bekerja keras



Ketika sedang jatuh cinta, orang akan rela bangun dini hari demi bisa berangkat kerja bersama pasangan. Demikian pula dengan pekerjaan. Bila orang mencintai pekerjaannya, dia akan rela bangun pagi setiap hari untuk berangkat bekerja. Rasa cinta tersebut membuat dia bisa mendapatkan banyak motivasi untuk terus bekerja keras. Sebagai seorang manusia, wajar saja bila merasa lelah, namun rasa cinta itulah yang membuat orang mau tetap bekerja. Ketika sedang merasa lelah, dia tidak akan serta merta ingin menyerah, melainkan akan belajar mencari cara untuk bisa beristirahat secara lebih efektif agar saat bekerja bisa lebih maksimal.


Orang yang mencintai pekerjaannya cenderung lebih sukses



Kesuksesan bukanlah hal yang mudah didapatkan begitu saja. Hal tersebut membutuhkan kerja keras, komitmen, dan juga waktu. Tanpa adanya rasa cinta terhadap sebuah pekerjaan, tentunya akan susah melakukan hal-hal penting tersebut. Bagaimana caranya seseorang bisa berkomitmen, kalau saat bekerja saja dia tidak bersemangat? Komitmen hadir saat seseorang mencintai pekerjaannya. Ini juga akan membuat dia tidak segan untuk bekerja keras. Coba saja kita lihat orang-orang sukses di sekitar kita, apakah ada dari mereka yang membenci pekerjaannya? Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan rasa cinta dan integritas, sudah selayaknya mereka menjadi orang-orang sukses.


Menumbuhkan Rasa Cinta terhadap Pekerjaan

 

Confucius, seorang filsuf terkenal dari Tiongkok, pernah berkata: “pilihlah pekerjaan yang kau cintai, maka kau tidak perlu bekerja seharipun dalam seumur hidup”. Kenyataannya, tidak semua orang cukup beruntung bisa bekerja di bidang yang mereka sukai. Tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar mencintai pekerjaan kita sendiri. Kita tentu saja bisa belajar mencintai pekerjaan kita, asalkan kita mau. Cara termudahnya adalah menumbuhkan rasa bersyukur atas pekerjaan tersebut.

Rasa tidak puas adalah sumber ketidakbahagiaan terbesar bagi manusia. Maka, marilah pertama-tama kita mensyukuri atas apa yang kita miliki. Bersyukur membuat kita lebih menghargai apa yang kita miliki. Dengan menghargai pekerjaan kita, maka kita akan terdorong untuk lebih sabar dan senang dalam menjalaninya. Bila kita bisa merasa senang dalam mengerjakan pekerjaan tersebut, maka ketujuh hal di atas pun bisa senantiasa kita dapatkan juga.

 

[Oleh: Azalea Annas Finesha]


Baca juga: Jangan Putus Asa, Ini 9 Cara Untuk Bangkit Lagi!


Baca juga: 8 Motivator Terkenal di Dunia yang Bisa Menginspirasimu

 

0

X