fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Fenomena dilangkahi menikah oleh adik memang bisa jadi beban bagi si kakak di keluarga dan orang-orang terdekat. Risiko jadi bahan gunjingan menghadang di depan mata. Namun, apa iya mau menghalangi adik, yang jelas-jelas sudah bertemu jodoh dan siap menikah, hanya demi ego si kakak yang tak ingin dilangkahi?

Kalau kamu ada di posisi si kakak bagaimana cara menenangkan hati saat dilangkahi adik?

Baca juga:
3 Hal Persiapan Nikah Ini Bakal Bikin Mentalmu Lemah
#MuslimGirl: Traveling ala Muslim?

dilangkahi nikah


Minta Dukungan Keluarga


Dalam budaya Sunda dikenal istilah ngarunghal. Budaya ini berupa pemberian barang atau perhiasan dari adik untuk kakaknya agar rela melepas si adik lebih dahulu menikah. Namun, dalam Islam tak ada syarat demikian. Yang lebih dibutuhkan oleh si kakak adalah dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Sedikit atau banyak akan ada rasa berat hati melihat adik kecil kita baik perempuan apalagi adik laki-laki, bertemu jodohnya lebih cepat dari bayangan. Bicarakan dengan keluarga jika memang merasa masih perlu waktu untuk menerima.

Namun, tentu jangan sampai berlarut hingga mengulur-ulur waktu pernikahan si adik. Wajar sekali kalau kamu meminta keluarga untuk menghargai perasaanmu saat mempersiapkan pernikahan adik. Keluarga pasti akan mengerti perasaan kamu sebagai kakak. Apalagi jika ada saudara atau orang lain yang memanas-manasi.

Jangan dipendam sendiri ya rasa sakitnya, lebih baik dikeluarkan agar cepat terobati.

 

Tetap Berprasangka Baik


Mungkin dilangkahi adik tak akan begitu berpengaruh jika memang si kakak belum begitu memikirkan pernikahan. Pasti semua akan berjalan lebih mudah. Tak perlu percaya pada mitos bahwa jodoh akan jadi sulit bagi si kakak.

Namun, jika si kakak dalam posisi yang sudah siap menikah, sedang menunggu waktu jodoh datang, atau baru saja ditinggalkan calon pasangan, semua akan terasa lebih berat untuk dihadapi.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Buat kamu yang lagi menunggu jodoh.. #JanganNikahDulu #Pranikah #Nikahsakinah #Pernikahan #BukuNikah #SunnahNikah #BukuQanita #PenerbitQanita #QanitaInspirasi

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on



Hal pertama yang harus kamu pikirkan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah Swt.. Menyadari bahwa jodoh adalah urusan-Nya. Waktu terbaik pasti akan dating. Jangan nikah dulu jika hanya mengejar target usia agar tak dilangkahi adik.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Pernikahan bukanlah soal status semata. Lebih baik fokus memperbaiki diri demi menjemput sang pangeran impian kelak.

Dilangkahi menikah
Terakhir, sebagai kakak, jangan lupa untuk mendukung pernikahan adik. Jangan sampai karena terlalu memikirkan jodoh yang belum dating, kita membiarkan adik merasa tak nyaman dengan pernikahannya. Apalagi pernikahan bukan untuk satu hari, melainkan untuk seumur hidup.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Traveling ala Muslim

Muslim travel, apa yang muncul di benakmu ketika mendengar istilah tersebut? Hmm, mungkin gambaran orang-orang yang mengenakan jubah berwarna putih dan abaya hitam sedang mengelilingi Kakbah? Menikmati makanan khas timur tengah seperti lamb shawarma (kebab domba khas Turki) dan ayam tandoori yang membuat ngiler? Atau, mungkin membayangkan influencer berhijab favorit kamu yang berfoto OOTD di tengah gurun dengan hashtag #VisitDubai?



Belakangan ini, istilah muslim travel sering dikaitkan dengan 2 hal yang ‘ekstrim’: perjalanan religius untuk melaksakan ibadah haji serta umrah atau perjalanan yang hanya sekadar mencari tempat kuliner halal dan berfoto menggunakan baju tertutup di tempat yang eksotis.

Spoiler alert: muslim travel lebih dari hal-hal itu lho!

Baca juga:
Daftar Selebriti Dunia yang Membantu Kampanye Kemanusiaan
7 Negara yang Menerima Arus Pengungsi

Yang Hilang dari Tulisan-tulisan Mainstream tentang Muslim Travel


Konten-konten pada kanal blogger yang membahas muslim travel biasanya membahas hal-hal di bawah ini.

1. Cara menabung dan mempersiapkan perjalanan ibadah haji atau umrah.
2. Rekomendasi hotel-hotel dan restoran berlabel halal.
3. Tips-tips mempersiapkan pakaian yang harus dibawa dan cara memakai hijab supaya nyaman menghadapi perbedaan cuaca.

 

Tema-tema yang umum dan mirip, ya?

Saat ini artikel tentang muslim travel sangat berpusat pada proses perencanaan untuk menunjukkan bagaimana cara mengurus kebutuhan fisik seperti makan, penginapan, pakaian, serta tempat berbelanja ketika berada di luar negeri. Tentu saja, hal-hal tersebut merupakan informasi yang sangat berguna karena membuat perjalanan lebih mudah dan nyaman bagi wisatawan muslim.



Namun, artikel-artikel mainstream ini juga kekurangan sesuatu yang sangat penting.


Muslim travel lebih dari sekadar ibadah haji, makanan halal, dan pakaian nyaman bagi hijabers—tetapi juga tentang traveling yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Ironisnya, hal yang hilang dari percakapan umum tentang muslim travel adalah muslim itu sendiri.


Menempatkan Kembali ‘Muslim’ dalam Muslim Travel


Sebagai seorang blogger muslim dan pecinta traveling, Annum Munir percaya bahwa memang ada cara yang Islami ketika melakukan perjalanan—yaitu lebih merasakan kehadiran Allah, mempelajari sejarah umat manusia, dan planet Bumi yang kita tinggali.

1. Mengingat Allah dengan Mengamati Ciptaan-Nya


Cara pertama untuk menempatkan kembali ‘muslim’ dalam muslim travel adalah dengan mengurangi frekuensi mengambil swafoto (selfie), foto yang malah membuat tempat wisata hanya menjadi latar belakang untuk postingan OOTD. Muslim travel lebih berfokus kepada sisi spiritualitas perjalanan.

Dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 20, Allah berfirman:

Katakanlah, “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (mahkluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir”.


Dalam ayat ini, manusia diminta untuk bepergian dan menemukan hal-hal menakjubkan yang telah Allah ciptakan di Bumi.  Ayat yang sederhana tapi kuat ini memiliki makna filosofis yaitu aku melihat, maka aku percaya. Ketika kamu meninggalkan ‘hutan kota’ buatan manusia dan mengunjungi tempat-tempat dengan keindahan alam yang mempesona (seperti pulau Maldives pada gambar di atas), kamu pasti akan merasa takjub.

Baca juga:
Jangan Putus Asa, Ini 9 Cara Untuk Bangkit Lagi!
5 Kata Nouman Ali Khan Tentang Al Quran

Ketika kamu memperhatikan keragaman yang ada dalam hidup ini dengan saksama dari mulai berbagai macam keunikan manusia, flora serta fauna, maka kamu akan menyadari betapa semuanya berada dalam harmoni yang begitu sempurna. Hal-hal tersebut akan menjadi pengingat bahwa dunia ini tidak muncul secara tiba-tiba; dunia ini diciptakan oleh Al-Khaliq, Maha Pencipta. Seorang hamba mampu menghargai Sang Pencipta ketika dirinya menyediakan waktu untuk mengagumi hasil ciptaan-Nya.

Marilah melakukan perjalanan untuk mengagumi kekuasaan Sang Pencipta, tidak hanya sekadar menjadi model di depan sebuah landmark.

2. Mempelajari Sejarah Keislaman

 


Cara kedua yang bisa diterapkan dalam traveling secara Islami adalah mempelajari tentang kebudayaan dan sejarah dari negara yang sedang dikunjungi. Hal ini dapat memunculkan rasa syukur atas seberapa jauh perjalanan yang telah dilalui dan menyadari bahwa perjalanan tersebut telah ikut andil dalam mengubah dunia.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, No. 2699)


Hadist ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju surga. Begitu juga dengan traveling, kesempatan terbaik untuk mempelajari tentang warisan-warisan Islam. Memahami pengaruh generasi muslim terdahulu yang datang dari berbagai belahan dunia dapat membuat kita lebih terhubung dengan sejarah serta masa lalu umat muslim.

Dengan mempelajari tantangan dan perjuangan yang dihadapi oleh generasi muslim terdahulu, kita akan merasa sangat bersyukur atas pengorbanan yang telah mereka lakukan. Kita juga akan menemukan inspirasi dan pelajaran berharga jika mempelajari kemenangan dan pencapaian para leluhur muslim tersebut.

Baca juga:
Real Madrid Beri Penghormatan Kepada Ahed Tamimi
Persamaan Ahed Tamimi Dengan Para Pejuang Wanita

Sebagai contohnya, tahukah kamu bahwa Grand Mosque of Paris (Masjid Agung Paris, gambar di atas) dibangun sebagai tanda terima kasih kepada para pejuang muslim yang berperang melawan Jerman dalam Perang Dunia I? Selama Perang Dunia II, masjid ini menyediakan tempat berlindung dan jalur aman bagi orang-orang Yahudi. Grand Mosque of Paris melindungi mereka dari penganiayaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman ketika menduduki kota Paris.

Bepergian-lah untuk mengisi pikiran—tidak sekadar mengisi perut dengan makanan halal.

3. Melindungi Planet Bumi

 


Cara ketiga untuk traveling ala muslim adalah dengan menerapkan sikap ramah lingkungan—turut andil dalam upaya melestarikan, bukan sekadar memotret tempat-tempat yang dikunjungi.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian” (H.R. Muslim: 2742).


Ada banyak ayat Al-Quran dan perkataan Nabi Muhammad SAW yang menekankan tanggung jawab umat manusia untuk menjaga Bumi ini. Allah telah menjadikan manusia sebagai penjaga Bumi—planet yang memberikan kita kehidupan. Oleh karena itu, kita harus melakukan perjalanan dengan penuh kehati-hatian, misalnya membatasi sampah dan konsumsi yang berlebih serta meminimalkan jejak ekologis yang kita timbulkan.

Salah satu contoh yaitu wilayah Algarve di Portugal (lihat gambar di atas) yang merupakan tempat bagi beberapa pantai paling indah di Eropa. Jika berkesempatan mengunjungi Algarve, kamu bisa turut mendukung gerakan inisiatif keberlanjutan dengan memilih untuk mengunjungi pantai-pantai yang terakreditasi dengan label ramah lingkungan Blue Flag—salah satu lembaga terkenal di dunia yang berkecimpung di bidang ekologi, khususnya pantai.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Tanggung jawab untuk menjaga alam juga berhubungan dengan menjaga kelestarian hidup satwa-satwa. Ketika traveling, sebisa mungkin jangan terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan kekerasan pada binatang, misalnya seperti yang terjadi pada Owl Cafe di Jepang.

Jadilah seorang traveler beretika–bukan traveler egois.***

Artikel ini diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari artikel berjudul There Is a Muslim Way to Travel and It’s Not What You Think.

0

X