Artikel

4 Buku Paling Banyak Dibaca Orang Tahun 2018

4-buku

Setiap tahunnya, situs Goodreads yang merupakan media sosial paling populer di antara para pencinta buku di seluruh dunia, mengadakan Reading Challenge (tantangan membaca). Setiap orang bisa menentukan sendiri target buku yang akan dibaca dalam satu tahun, dan Goodreads akan mencatatnya. Para pembaca bisa dengan mudah mengecek berapa buku yang telah dibaca dan apakah kecepatan membaca sudah sesuai target.

 

Pada 2018, ada lebih dari 4 juta orang yang mengikuti Goodreads Reading Challenge, dengan rata-rata target 60 buku per orang. Menjelang akhir tahun, Goodreads membuat rekapitulasi, dan didapatlah empat buku yang paling banyak dibaca orang pada tahun 2018 ini. Buku apa sajakah? Simak daftar berikut ini.


Harry Potter and the Sorcerer’s Stone karya J.K. Rowling

ilustrasi-harry-potter

Harry Potter dan Batu Bertuah adalah buku pertama dalam serial Harry Potter yang keseluruhannya terdiri dari 7 buku. Dalam buku ini, Harry yang yatim piatu mendapati bahwa dirinya ternyata berdarah penyihir, dan dia harus bersekolah di Hogwarts, sekolah sihir di Inggris.

 

Harry kemudian bersahabat dengan Ron Weasley dan Hermione Granger. Bertiga mereka mengalami berbagai pengalaman menarik di sekolah, termasuk melanggar beberapa peraturan. Dan pada puncaknya, mereka harus berhadapan dengan penyihir gelap yang berniat menguasai dunia.

 

Petualangan Harry Potter sang bocah penyihir benar-benar telah menyihir jutaan pembaca di seluruh penjuru dunia. Tidak sedikit potterhead (sebutan bagi fans Harry Potter) yang setiap tahunnya membaca ulang buku-buku Harry Potter pada tanggal 1 September, bersamaan dengan tahun ajaran baru di sekolah sihir Hogwarts. Ketujuh buku Harry Potter telah diangkat ke layar lebar, dan semuanya menuai kesuksesan.

 

 

The Hunger Games karya Suzanne Collins

Katniss Everdeen dalam film The Hunger Games



The Hunger Games adalah kisah distopia yang mengambil latar tempat di Amerika Utara pada masa depan. Pada saat itu, Amerika Utara dibagi menjadi dua belas distrik dan satu ibukota. Setiap tahunnya, setiap distrik harus mengirimkan satu perempuan dan satu lelaki berusia antara 12 hingga 18 tahun untuk berpartisipasi dalam turnamen Hunger Games. Dalam turnamen ini, para partisipannya harus bertarung sampai mati, hingga hanya tersisa satu orang.

 

Tokoh utama buku ini adalah gadis remaja bernama Katniss yang menjadi salah satu partisipan Hunger Games. Katniss seorang pemburu, tapi dia bukan pembunuh. Konflik batin yang dia alami selama menjalani Hunger Games menjadi salah satu daya tarik The Hunger Games. Dan layaknya kisah-kisah young adult lainnya, tentu ada bumbu-bumbu roman yang menarik diikuti.

 

The Hunger Games yang pertama kali terbit pada 2008 ini termasuk salah satu novel young adult yang mendapat berbagai penghargaan, di antaranya Georgia Peach Book Award pada 2009, Pennsylvania Young Readers’ Choice Award kategori Young Adult pada 2010, West Australian Young Readers’ Book Award kategori Older Readers pada 2010, dan Missouri Truman Readers Award pada 2011. Buku ini telah diangkat ke layar lebar, dengan aktris Jennifer Lawrence berperan sebagai Katniss, diikuti dengan sekuelnya, Catching Fire dan Mockingjay.

 

 

To Kill A Mockingbird karya Harper Lee



Novel yang memenangi Pulitzer Prize pada 1961 ini telah menjadi karya klasik modern dalam sejarah sastra Amerika. Mengangkat tema rasisme, To Kill A Mockingbird mengisahkan tentang perjuangan Atticus Finch, seorang pengacara, dalam membela seorang terdakwa kulit hitam. Uniknya, kisah ini disampaikan dari sudut pandang Scout, anak perempuan Atticus, sehingga ceritanya lebih mudah dicerna dan sarat humor khas anak-anak.

 

Frasa to kill a mockingbird sendiri bermakna hilangnya kepolosan. Mockingbird diasosiasikan dengan kepolosan atau kemurnian karena burung ini tidak pernah menyakiti makhluk hidup lain. Alih-alih, ia menghibur dengan lantunan suaranya yang indah. Di dalam bukunya, Atticus berkata “Kalian boleh menembak burung bluejay kalau bisa, tapi ingat, kalian berdosa apabila membunuh burung mockingbird.”  

 

Kesuksesan To Kill A Mockingbird yang luar biasa tidak membuat Harper Lee besar kepala. Dia malah menarik diri dari ketenaran dan menolak segala macam bentuk wawancara. Penulis yang berteman karib dengan Truman Capote ini juga menolak menuliskan kata pengantar bagi To Kill A Mockingbird. Menurutnya, kata pengantar itu “membunuh antisipasi dan rasa penasaran.”

 

Pada 2007, Presiden Amerika George W. Bush menganugerahi Harper Lee penghargaan Presidential Medal of Freedom. Dia menyatakan bahwa To Kill A Mockingbird telah mempengaruhi karakter Amerika ke arah yang lebih baik, dan buku ini akan selamanya dibaca dan dipelajari. Karakter Atticus Finch memang menjadi suri tauladan bagi para pengacara.

 

Terlepas dari berbagai kontroversi, draft awal To Kill A Mockingbird, yang diberi judul Go Set A Watchman, terbit pada tahun 2015. Go Set A Watchman mengambil setting waktu 20 tahun setelah peristiwa yang terjadi dalam To Kill A Mockingbird. Dalam Go Set A Watchman, Scout telah menjadi wanita dewasa dan kembali ke kampung halamannya, Maycomb, Alabama. Dengan perspektif baru yang lebih dewasa, Scout menilai ulang banyak hal dari masa kanak-kanaknya.

 

 

The Fault in Our Stars karya John Green

Hazel dan Augustus dalam film The Fault in Our Stars



The Fault in Our Stars merupakan novel keenam John Green, namun merupakan novel pertamanya yang meraih kesuksesan besar hingga diangkat ke layar lebar dengan judul sama.

 

Novel ini mengisahkan tentang gadis remaja bernama Hazel Grace Lancaster yang mengidap kanker tiroid. Penyakit ini telah menjalar ke paru-parunya, sehingga Hazel harus selalu menggunakan alat bantu pernapasan dan ke mana pun dia pergi, Hazel harus selalu membawa tangki oksigen. Hazel kemudian bertemu dengan Augustus Waters, yang juga penyintas kanker. Cinta pun bersemi di antara mereka.

 

Sekilas, premis The Fault in Our Stars memang biasa saja, namun gaya penceritaan dan kuatnya karakter Hazel dan Augustus membuat para pembaca meletakkan buku ini di jajaran buku-buku favorit mereka. Selain itu, chemistry antara Hazel dan Augustus juga sangat menggemaskan, dalam artian positif.

 

Pasca kesuksesan The Fault in Our Stars, John Green sempat terpuruk dan tidak yakin akan dapat menulis novel lagi. Tapi lima tahun kemudian dia bangkit dan menerbitkan buku terbarunya, Turtles All The Way Down, mengisahkan gadis remaja bernama Aza Holmes yang mengidap obsessive-compulsive dan anxiety disorder, penyakit serupa yang diidap John Green. Ternyata novel ini juga sukses, bahkan dipuji-puji oleh Bill Gates, pendiri perusahaan Microsoft.

 

 

Apakah kamu sudah membaca keempat buku di atas? Jika belum, ini saatnya untuk menambahkan buku-buku tersebut ke dalam daftar bacaanmu dan temukan sendiri alasan di balik kecintaan para pembaca terhadap buku-buku ini.

 

[Oleh: Dyah Agustine]


Baca juga: 10 Tips Menulis Buku Laris Ala Dan Brown 


Baca juga: Jangan Putus Asa, Ini 9 Cara Untuk Bangkit Lagi 


Baca juga: Inspirasi Pojok Baca: Setiap Rumah Harus Punya 

 

 

Author


Avatar