Artikel

5 Buku Terpopuler tentang Perang

Perang selalu menjadi peristiwa yang tidak diinginkan, tapi sudah banyak terjadi sepanjang sejarah dunia –bahkan hingga hari ini. Simak beberapa buku terpopuler tentang perang, mulai dari buku paling klasik tentang strategi perang sampai novel yang memprediksi perang dunia ketiga.


1. The Art of War karya Sun Tzu

the-art-of-war

The Art of War merupakan buku strategi militer Tiongkok kuno yang ditulis pada abad ke-5 SM oleh ahli strategi militer Cina bernama Sun Tzu. Buku ini secara umum berisi tentang strategi dan taktik untuk memenangkan perang. The Art of War terdiri dari 13 bab dan pada setiap bab dikhususkan untuk satu aspek perang.

 

Salah satu poin utama yang dijabarkan Sun Tzu dalam The Art of War adalah kemampuan untuk mengenali musuh dan mengenali diri sendiri. Jika menguasai hal tersebut, maka tidak perlu takut dengan hasil pertempuran. Jika hanya mengenal diri sendiri, tetapi tidak mengenal musuh, Sun Tzu beranggapan bahwa dalam setiap kemenangan yang diperoleh akan ada kekalahan yang harus ditanggung. Jika sama sekali tidak mengetahui musuh dan diri sendiri, maka bersiaplah untuk menghadapi kekalahan.

 

Menurut situs news24.com, The Art of War yang ditulis lebih 2.500 tahun lalu ini menjadi salah satu buku paling berpengaruh tentang pemikiran militer, taktik bisnis, serta hukum. Meskipun ditulis untuk strategi perang, buku ini ternyata dapat diaplikasikan untuk membantu menghadapi berbagai tantangan hidup. The Art of War juga merupakan salah satu buku yang cocok bagi para pebisnis. The Art of War secara umum memiliki potensi untuk menjadikan hidup manusia lebih berkualitas.


2. Once an Eagle karya Anton Myrer



Once an Eagle, merupakan novel perang yang terbit pada tahun 1968. Seperti ditulis pada situs northofseveycorners.com, Once an Eagle adalah novel klasik yang banyak dijadikan acuan oleh tentara Amerika. The Army War College di Carlisle, Amerika, kembali menerbitkan buku ini dengan tujuan menjadikannya sebagai bahan kursus untuk tema etika dan kepemimpinan di sekolah militer.

 

Novel dengan latar belakang perang Vietnam ini memiliki dua tokoh utama, Sam Damon dan Courtney Massengale. Sam merupakan sosok prajurit sejati, seorang komandan yang berjuang keras, serta dipenuhi kepedulian terhadap pasukannya. Sam Damon berhasil memimpin pasukan memenangi pertempuran demi pertempuran pada Perang Dunia I dan II. Meskipun pada akhirnya Sam Damon mati terbunuh. Sedangkan Courtney Massengale, lebih unggul secara karir dari Sam dengan cara memanipulasi sistem politik di Washington. Courtney sangat cerdik dalam mengambil langkah karir namun dia sama sekali tidak peduli terhadap pasukannya.

 

Seorang profesor sejarah, Kolonel Jerry Morelock, berpendapat bahwa Sam Damon merupakan seorang perwira yang diharapkan oleh para prajurit. Sedangkan Courtney Massengale, sebaliknya, adalah sosok perwira yang tidak inginkan sebagai atasan. Nama Sam Damon dan Courtney Massengale bahkan telah memasuki bahasa informal militer Amerika sebagai kata sandi bagi tentara-tentara yang memiliki kemiripan sifat dengan Sam dan Courtney. Misalnya, ketika seorang perwira ingin mengeliminasi seorang kandidat dari promosi kenaikan jabatan, yang harus dia lakukan hanyalah memberi tahu dewan peninjau dan memberi kode: “Dia adalah tipe Courtney Massengale.”

 

Anton Myrer, penulis Once an Eagle, meninggal pada 1996 di usia 73 tahun. Myrer merasa pengalamannya ketika mengikuti perang dunia kedua memiliki dampak besar pada kehidupannya. Seperti yang ditulis di situs northofseveycorners.com, Myrer mengatakan bahwa perasaannya tentang perang tecermin dalam novel Once an Eagle. Novel ini juga pernah diadaptasi sebagai serial televisi yang ditayangkan di Amerika pada tahun 1976.


3. Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole

buku-ghost-fleet

Ghost Fleet, telah terbit dalam bahasa Indonesia. Sengkapnya klik di sini.

 

Cerita tentang prediksi perang dunia ketiga, Ghost Fleet, adalah novel karya dua penulis asal Amerika, P.W. Singer dan August Cole. P.W. Singer, ahli strategis dan Senior Fellow di New America Foundation, masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di bidang pertahanan oleh Defense News. Sedangkan August Cole merupakan seorang analis dan konsultan dalam bidang kemanan nasional. Dia juga pernah aktif menjadi editor dan reporter untuk MarketWatch.com. Selain itu, August Cole pun serta pernah aktif di bagian pertahanan industri untuk Wall Street Journal.

 

Sebagai pakar serta ahli strategi dalam bidang pertahanan, Singer dan Cole mampu dengan baik menggabungkan tren dan teknologi terkini. Mereka mampu menggabungkan yang ada di dunia nyata ke dalam cerita fiksi pada novel Ghost Fleet. Novel Ghost Fleet mendokumentasikan hasil dari penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh Singer dan Cole sehingga cerita yang mereka tulis mampu mendekati fakta. Beberapa tema yang dibahas dalam novel tersebut antara lain: ketegangan politik, perubahan sosial, teknologi-teknologi yang muncul, dan sistem senjata yang sekarang dalam berbagai tahap pengembangan ke dalam sebuah narasi.

 

Dari mana judul Ghost Fleet berasal? Seperti yang dirilis pada situs thediplomat.com, ungkapan Ghost Fleet digunakan oleh angkatan laut Amerika untuk menyebut kapal-kapal yang dinonaktifkan. Dengan tujuan disimpan sebagai potensi yang akan digunakan ketika terjadi konflik di masa depan. Kapal-kapal ini lebih tua dan ketinggalan secara teknologi dibandingkan kapal-kapal modern. Namun sebenarnya kapal-kapal modern rentan terhadap ancaman. Menurut Singer dan Cole, kapal-kapal yang lebih tua cenderung aman dari ancaman yang berhubungan dengan teknologi masa kini.

 

Seperti yang ditulis di situs www.cia.gov, plot utama Ghost Fleet berkisar tentang pencurian kekayaan intelektual di dunia maya, ketegangan navigasi di Laut Cina Selatan, dan tentang etika penggunaan perangkat elektronik pribadi yang semakin berkurang. Selain penggambaran tentang masa depan peperangan, Ghost Fleet juga memberikan pandangan tentang masa depan intelijen. Novel ini sempat menjadi trending topic setelah ungkapan “2030 Indonesia Bubar” viral di media sosial Indonesia.


4. Brave New War karya John Robb



Buku yang diterbitkan tahun 2007 ini ditulis oleh John Robb, mantan perwira Angkatan Udara yang kemudian menjadi pengusaha di bidang teknologi. Karya-karya John Robb, baik dalam buku Brave New War dan blog pribadinya, merupakan hasil dari pengalaman militer serta bisnis selama bertahun-tahun.

 

Brave New War, seperti yang ditulis di situs automaticballpoint.com, tediri dari tiga bagian: The Future of War is Now, Global Guerrillas, dan How Globalization Will Put an End to Globalization. Bagian pertamanya sebagian besar membahas tentang situasi keamanan saat ini. John Robb juga membahas invasi Amerika ke Iraq serta sejumlah perang lain, seperti Perang Teluk dan Perang Chechnya. Bagian kedua, Global Guerrillas, merupakan bagian yang paling penting dalam buku ini. John Robb bahkan memiliki blog khusus dengan nama yang sama, Global Guerrillas. Sedangkan untuk bagian ketiga, John Robb berkonsentrasi pada kelemahan Amerika Serikat. Dia beranggapan Amerika sedang melemah dan warga negara benar-benar harus mempertimbangkan untuk mulai memikirkan tanggung jawab atas keamanan mereka sendiri.



5. What It Is Like to Go to War karya Karl Marlantes



What It Is Like to Go to War adalah buku nonfiksi tentang pengalaman perang yang banyak menyoroti kurangnya persiapan para tentara muda untuk menghadapi tekanan psikologis dan spiritual yang diakibatkan oleh perang. Seperti dirilis pada groveatlantic.com, sebelum menulis What It Is Like to Go to War, Karl Marlantes sukses dengan buku bertema perang, Matterhorn. Karya Karl Marlantes tersebut menjadi jajaran bestseller di New York Times dengan penjualan lebih dari 250.000 eksemplar.

 

Karl Marlantes pernah dikirim ke Vietnam ketika berusia 23 tahun sebagai komandan dari sekitar 40 orang prajurit. Marlantes sebenarnya merupakan seorang pemuda yang cerdas dan terlatih dengan baik untuk tugas tersebut, tetapi jauh dari persiapan mental untuk hal-hal yang nantinya akan dia alami di medan perang. Selama tiga belas bulan, dia mampu membunuh musuh namun dia juga menyaksikan teman-temannya tewas. Marlantes selamat, tetapi dia kemudian menghabiskan empat puluh tahun terakhir untuk menghadapi trauma dari perang tersebut.

 

Dalam buku What It Is Like to Go to War, Marlantes memberikan pandangan secara mendalam tentang pengalaman yang dia alami selama perang. Dia pun sangat menekankan persiapan mental bagi tentara-tentara muda untuk menghadapi perang. Dalam buku tersebut, Marlantes menceritakan perasaan dihantui oleh wajah seorang prajurit muda Vietnam yang dia bunuh dari jarak dekat. Kemudian dia membahas cara-cara yang digunakan untuk akhirnya berdamai dengan masa lalu tersebut. Marlantes juga menceritakan kontradiksi sehari-hari yang harus dihadapi para pejuang di tengah peperangan, membunuh atau dibunuh. What It Like to Go to War menjadi bacaan bagi para pembaca yang tertarik pada pengalaman penting yang dialami manusia selama perang berlangsung.

 

[Oleh: Fauziah Hafidha]


Baca juga: 4 Buku Paling Banyak dibaca Tahun 2018


Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia

Author


Avatar