Artikel

5 Fakta Anak Broken Home yang Wajib Kita Ketahui


Turtles All The Way Down - pixabay
Setiap orang tentu mendambakan keluarga yang harmonis. Namun terkadang, muncul masalah besar yang membuat satu keluarga hancur begitu saja, penyebab nya pun beragam, bisa karena sang orang tua memutuskan untuk bercerai, dipenjara, sakit berkepanjangan hingga meninggal dunia. Kondisi inilah yang disebut broken home.

Kenyataan broken home seperti ini dialami pula oleh pemeran utama dalam novel ‘Turtles All The Way Down’ karya John Green. Sang pemeran utama yang bernama Aza Holmes merupakan anak broken home setelah ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak. Aza juga harus melewati hidup yang cukup berat karena mengidap gangguan psikologis Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Kondisi broken home seperti itu ternyata bisa berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Anak-anak bisa merasakan kondisi yang berbeda bila kondisi keluarganya semakin memburuk, bahkan psikis anak pun jadi taruhannya.

Dilansir dari theasianparent.com, anak-anak broken home bisa memiliki beberapa masalah yang akan berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan pasangan, serta hubungan sosial. Berikut beberapa fakta tentang anak broken home :


1. SulitPercaya Orang Lain

Turtles All The Way Down - pixabay
Penelitian dari Brown University menunjukkan bahwa sering dibohongi oleh keluarga sendiri membuat anak sulit percaya kepada orang lain.


2. Bisa Membenci Orang tua

Turtles All The Way Down - wp
Perselisihan dan perceraian yang dilihat anak-anak bisa membuat dirinya benci dengan orang tua. Ekspektasi keluarga harmonis seketika hilang karena hubungan orang tua renggang.


3. Takut Dibohongi


Anak broken home mempunyai ketakutan berlebih setelah melihat sang orang tua bercerai. Salah satunya takut dibohongi oleh orang lain karena trauma dengan masa lalunya.


4. Takut Menjalin Hubungan dengan Pasangan


Berkaca pada hubungan sang orang tua, anak-anak broken home terkesan sulit menjalin hubungan karena ketidakpercayaan terhadap cinta.


5. Sulit Mengekspresikan Perasaan


Kehilangan sosok orang tua atau menyaksikan sendiri pertikaian orang tua membuat kondisi psikis anak jadi tak stabil. Akibatnya, anak-anak jadi sulit mengekspresikan perasaan kepada orang lain. Kendati demikian, tak semua anak-anak broken home mengalami kenyataan pahit dalam keluarganya.

Banyak juga anak broken home yang justru semakin kuat, sabar, dan tegar menghadapi masalah yang ada. Anak broken home juga bisa menjadi pribadi yang setia, tanggung jawab, dan disiplin karena tak ingin mengikuti jejak sang orang tua.


Oleh karena itu, tumbuh dalam keluarga broken home bukan berarti tak bisa menikmati hidup. Anak broken home juga sama seperti anak-anak lain yang bisa menjalani kehidupan dengan penuh rasa sayang.  



[Oleh : Amal]

Author


Avatar