Artikel, baru

5 Novel Terjemahan yang Akan Mengguncang 2019

Membaca novel, atau kisah fiksi, bukanlah guilty pleasure; para pembaca tidak selayaknya merasa bersalah karena menikmati kisah fiksi. Dilansir dari Psychology Today, membaca fiksi dapat meningkatkan kesadaran sosial seseorang dan meningkatkan kemampuan untuk berempati. Kedua hal ini sudah semakin langka ditemukan dalam zaman yang semakin dikuasai egosentrisme, padahal keduanya sangat penting dimiliki oleh setiap orang.

Di tahun baru ini, Mizan Publishing telah mempersiapkan beberapa naskah fiksi terjemahan yang dijamin akan memuaskan hasrat membacamu. Jangan lupa untuk menambahkan novel-novel berikut ini ke dalam daftar bacaanmu, ya.

 

Ghost Fleet karya P.W. Cole dan August Singer


Perang Dunia Ketiga? Mungkin datangnya akan lebih cepat daripada dugaan kita.

 

Dalam novel Ghost Fleet, dua pakar militer Amerika, yakni P.W. Cole dan August Singer, menjabarkan akan seperti apa Perang Dunia Ketiga. Penggunaan teknologi tinggi dan berbagai gawai canggih yang telah merasuk dalam kehidupan sehari-hari semua orang membuat sebuah negara menjadi lebih rentan terhadap serangan musuh.

Bukan sekadar imajinasi, kisah yang dituangkan dalam buku ini merupakan hasil riset berdasarkan tren dan teknologi terkini. Hasilnya? Sebuah narasi yang realistis dan sarat aksi serta ketegangan. Novel ini banyak diapresiasi oleh para pakar militer, hingga disebut-sebut sebagai bacaan wajib para tentara, namun masyarakat awam pun dijamin bisa menikmatinya.



Ghost Fleet menjadi perbincangan hangat orang-orang Indonesia karena dalam buku yang mengambil setting waktu di masa depan ini, Republik Indonesia dinyatakan sudah tidak ada lagi. Pulau-pulau Indonesia menjadi wilayah tak bertuan yang dihuni para pemberontak dan perompak. Sungguh prediksi yang membuat merinding.

Baca juga:
– 5 Buku Terpopuler tentang Perang
– 5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa


Akkurat Passe karya Jostein Gaarder

Akkurat Passe, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Just Right, adalah novel terbaru dari Jostein Gaarder, penulis Dunia Sophie (Sophie’s World) yang fenomenal. Saking fenomenalnya, Dunia Sophie menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa filsafat. Memang, novel-novel Jostein selalu bermuatan filsafat, tapi dengan cara penyampaian yang enak diikuti dan tidak membuat pusing para pembaca, yang awam akan ilmu filsafat sekalipun.


Akkurat Passe
mengisahkan seorang pria bernama Albert yang divonis menderita suatu penyakit mematikan. Sembari menenangkan diri di Rumah Dongeng, Albert mengenang masa-masa awal berpacaran dengan istrinya dan merenungkan makna kehidupan. Dia belum siap untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak bisa menerima ketidakmampuannya mengatur arah hidupnya sendiri. Pada akhirnya Albert harus mengambil keputusan yang tidak hanya akan mempengaruhi dirinya, namun juga istri dan anak-anaknya.

Baca juga:
– Ini Bukan Dongeng
– Jostein Gaarder, Pengarang Novel Best-Seller Dunia Sophie


Sing,
Unburied, Sing karya Jesmyn Ward


Sing, Unburied, Sing
adalah kisah drama keluarga yang telah membuat Jesmyn Ward mendapatkan National Book Award tahun 2017, serta sejumlah nominasi untuk penghargaan-penghargaan sastra lainnya, seperti Women’s Prize for Fiction, Andrew Carnegie Medal, dan Kirkus Prize.



Dalam Sing, Unburied, Sing, seorang bocah remaja bernama Jojo berjuang untuk tumbuh menjadi lelaki sejati, terlepas dari fakta bahwa kedua orangtuanya tidak bisa diandalkan. Ayahnya, Mike, mendekam di penjara, sedangkan ibunya, Leonie, seorang pecandu obat-obatan terlarang. Ditambah lagi, Jojo harus mengurus adik perempuannya yang masih balita.

Selain isu kemiskinan dan kekerasan, novel ini juga mengangkat isu rasisme, karena ayah Jojo berkulit putih, sedangkan ibunya berkulit hitam. Kakek Jojo dari pihak ayah terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka pada Jojo dan ibunya. Di zaman modern ini, rasisme dan intoleransi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan, karena tidak semua orang mampu menyikapi perbedaan dengan bijak.

Baca juga:
– Daniel Keyes, Penulis yang Mengeksplor Pikiran Manusia
– 4 Buku Paling Banyak Dibaca Orang Tahun 2018


Dear Martin karya Nic Stone


Novel-novel young adult dengan tokoh utama diverse atau bukan kulit putih semakin digandrungi pembaca. Salah satunya adalah Dear Martin, karya debut Nic Stone yang langsung bertengger di jajaran buku-buku fiksi laris versi The New York Times. Novel ini juga mendapat nominasi William C. Morris YA Debut Award dan Elizabeth Walden Award.

 

Seperti Sing, Unburied, Sing, novel Dear Martin mengangkat isu rasisme. Tokoh utamanya adalah seorang remaja kulit hitam bernama Justyce. Dia siswa berprestasi di sekolahnya dan berkelakuan baik, tapi tetap saja dia harus menerima perlakuan intoleran, hanya karena warna kulitnya.

 

Demi menahan emosi dan berusaha menyikapi dengan bijak ketidakadilan yang dia terima, Justyce mempelajari Martin Luther King, tokoh yang amat terkenal sebagai pembela kesetaraan hak dan penentang rasisme. Justyce menulis surat-surat untuk Martin, dan merenungkan sikap seperti apa yang akan diambil oleh Martin seandainya beliau menerima perlakuan seperti yang Justyce alami.

 

To Kill A Kingdom karya Alexandra Christo


Bagi para penggemar fiksi fantasi, ada satu karya debut fenomenal yang tak boleh dilewatkan, yakni To Kill A Kingdom. Di antara banyak seri fantasi yang terdiri lebih dari dua atau tiga buku (bahkan tidak sedikit yang terdiri lebih dari lima buku), To Kill A Kingdom yang kisahnya tuntas dalam satu buku saja menjadi angin segar bagi para pembaca.

 

Lira dan Elian dari To Kill A Kingdom, ilustrasi karya Loweana


To Kill A Kingdom
adalah kisah cinta antara seorang putri dan seorang pangeran, tapi dengan elemen-elemen yang tidak biasa. Pertama, Lira, sang putri adalah sesosok siren yang gemar mengoleksi jantung pangeran. Kedua, Elian, sang pangeran adalah kapten kapal yang pekerjaannya memburu dan menghabisi para siren. Tentu saja interaksi antara keduanya sarat kebohongan dan tipu daya, dan menarik sekali untuk diikuti.

Meskipun ada yang bilang To Kill A Kingdom terinspirasi dari dongeng The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen, tokoh utama novel ini bukanlah sesosok mermaid, melainkan siren. Kaum siren terkenal dengan musik dan lagu mereka yang dapat menghipnosis para pelaut. Setelahnya, para pelaut itu akan terjun ke laut dan tewas, sementara kapal mereka karam.




Dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang seorang pahlawan terkenal, Odysseus, yang ingin mendengar nyanyian para siren. Dia meminta para awak kapal untuk menyumbat telinga mereka, lalu mengikatnya di tiang kapal. Ketika mereka berlayar melewati para siren, hanya Odysseus yang dapat mendengar nyanyian mematikan itu. Odysseus memohon untuk dilepaskan agar dia bisa melompat ke laut, tapi para awak kapal malah mengikatnya semakin kuat, dan baru melepaskannya setelah mereka berada jauh dari para siren.


Baca juga:
– 5 Mitos Kesehatan, Inikah yang Kamu Yakini?
– Imunisasi adalah Hak Setiap Anak

Itulah kelima novel yang layak ditunggu kehadiran terjemahan Bahasa Indonesianya pada tahun 2019 ini. Kalau kamu tidak mau ketinggalan informasi buku-buku terbaru Mizan Publishing, jangan lupa ikuti akun-akun media sosialnya, ya.[]

Author


Dyah Agustine

Dyah Agustine

Editor penanggung jawab fiksi di salah satu unit penerbit Mizan Pustaka.