Artikel

5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Konflik panjang antara Palestina dan Israel mempengaruhi kehidupan setiap orang yang tinggal di wilayah tersebut. Tidak heran jika banyak sekali orang-orang hebat yang lahir di Palestina. Mereka tidak hanya berpengaruh di wilayahnya, namun seisi dunia juga merasakannya. Berikut adalah 5 orang Palestina yang terkenal.

  1. Amin al-Husseini

    tokoh-Palestina-Amin-al-Husseini

    Dia merupakan seorang mufti atau pemimpin muslim di Mandat Inggris Atas Palestina tahun 1921– 1974. Dia merupakan keturunan tokoh penting di Yerusalem, yang mempunyai hubungan dengan cucu Nabi Muhammad SAW.


    Di masa Perang Dunia 1, Amin al-Husseini mengabdi di militer Otoman. Di akhir peperangan, dia ditempatkan di Damascus untuk mendukung Kerajaan Arab Suriah. Kepindahannya ke Yerusalem mengubah ideologinya dari pan-Arabisme menjadi nasionalisme untuk Palestina.


    Amin al-Husseini sempat dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun karena terlibat dalam Kerusuhan Nebi Musa di Yerusalem pada tahun 1920 sebagai pemimpin aksi tersebut. Namun dia dibebaskan oleh pihak Inggris.


    Setahun setelahnya, tahun 1921, Komisaris Tinggi Inggris, Sir Herbert Louis Samuel, menunjuknya sebagai Grand Mufti of Jerusalem. Posisi tersebut dia gunakan sebagai cara untuk mempromosikan islam.


    Pihak Inggris menganggap Amin al-Husseini sebagai seorang sekutu penting. Namun, hubungan tersebut meruncing ketika Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939. Dia meninggalkan Palestina dan mengungsi ke Lebanon dan Kerajaan Iraq pada tahun 1937 sampai akhirnya membangun hubungan dengan Fasist Italia dan Nazi Jerman. Selama bekerja sama dengan Itali dan Jerman, Amin al-Husseini membuat sebuah broadcast radio propaganda anti Inggris dan anti zionisme.

    Dia meninggal di Beirut, Lebanon pada Bulan Juli tahun 1974.


  2. Sheikh Ahmed Yassin


    tokoh-palestina-Sheikh-Ahmed-Yassin

    Dia adalah seorang imam di Palestina dan pendiri Hamas. Lahir di al-Jura pada tanggal 1 Januari 1937, Ahmed Yassin ketika masih kecil terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan mengungsi ke Gaza setelah tempat tinggalnya dikuasai oleh tentara Israel. Ketika mengungsi, dia mengalami cedera setelah bergulat dengan temannya, membuat dia menderita quadriplegia dan harus memakai kursi roda sepanjang hidupnya.

    Meskipun tidak dapat melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir, Ahmed Yassin belajar melalui membaca buku. Buku-buku yang dibacanya antara lain filosofi, agama, politik, ekonomi, dan sosiologi. Semua pengetahuan tersebut membuatnya menjadi salah satu pembicara terbaik di Gaza. Selain itu dia juga mendapatkan pekerjaan sebagai guru Bahasa Arab di sebuah sekolah. Karena mempunyai pekerjaan tetap dan stabil secara ekonomi, Ahmed Yassin akhirnya menikah dengan Halima Yassin dan mempunyai 11 anak.


    Tahun 1979 saat Intifada Pertama, Ahmed Yassin bersama dengan Abdel Aziz al-Rantissi mendirikan Hamas yang pada awalnya mereka sebut sayap paramiliter dari Brotherhood Muslim Palestina dan menjadi pemimpin spiritualnya.


    Syeikh Ahmed Yassin meninggal pada 22 Maret 2004 akibat serang rudal dari helikopter tentara Israel saat dirinya sedang diantar menuju masjid untuk shalat subuh.


  3. Edward Said



    Dia adalah seorang warga Amerika keturunan Palestina dan merupakan professor sastra di Universitas Columbia. Edward Said lahir di Yerusalem tanggal 1 November 1935 dan mendapatkan kewarganegaraan Amerika dari ayahnya yang merupakan seorang veteran. Ayahnya, Wadie Said, adalah seorang pengusaha di Yerusalem dan sempat menjadi tentara Amerika dibawah komando Jendral John. J Pershing. Lalu ibunya, Hilda Said, adalah seorang Arab Kristen yang lahir dan dibesarkan di Nazareth, Kekaisaran Otoman.


    Edward Said adalah penemu bidang akademik post kolonialisme. Dia mulai terkenal lewat bukunya Orientalism. Sebuah kritik terhadap representasi budaya berdasarkan orientalisme, bagaimana dunia barat melihat dunia timur.

  4. George Habash

    tokoh-palestina-George-habash

    George Habash adalah orang yang membentuk kelompok nasionalis sekuler sayap kiri Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina atau Popular Front for The Liberation of Palestine (PFLP). PFLP merupakan organisasi yang cukup aktif dan memiliki banyak anggota yang terkenal, salah satunya yaitu Leila Khaled. George Habash sendiri menjabat sampai sebagai Sekretaris Jendral sampai tahun 2000 dia dipaksa turun karena kesehatannya memburuk.


    George Habash lahir di Lydda (sekarang Lod) di Keluarga ortodok timur Palestina. Saat berkuliah di Universitas Amerika Beirut, George kembali ke Lydda untuk mengunjungi keluarganya di tengah-tengah peperangan. Lydda akhirnya diambil alih oleh tentara Israel dan semua orang Arab dipaksa untuk keluar dari daerah tersebut. Saudari perempuan George meninggal saat itu terjadi.


    Setelah lulus kuliah kedokteran, George dan Wadie Hadad bekerja di kamp pengungsi. Mereka membangun sebuah klinik di Amman. Saat itu dia percaya  bahwa negara Israel harus segera dihentikan. Karena itu dia membentuk Gerakan Nasionalis Arab atau Arab Nasionalist Movement (ANM) tahun 1951 dan bersekutu dengan Gamal Abdul Nasser. Gerakan inilah yang nantinya akan menjadi PFLP.


  5. Yasser Arafat

    tokoh-palestina-yasser-arafat

    Yasser Arafat lahir di Kairo, Mesir, dari orang tua Palestina pada 24 Agustus 1929. Ketika kecil, dia harus tinggal bersama pamannya di Yerusalem karena ibunya meninggal saat dia berumur 5 tahun. Saat berkuliah di Universitas King Fuad di Kairo, dia mendalami ilmu Judaisme dan Zionisme. Hal tersebut malah membuatnya menjadi seorang nasionalis Arab. Hal tersebut dia tunjukkan ketika dia sementara waktu berhenti kuliah dan ikut bertempur di Palestina. Sekembalinya ke kampus, dia membentuk organisasi mahasiswa Union of Palestinian Student.


    Gerakan People Liberation Organization (PLO) milik Arafat juga mendapat banyak dukungan. Bersama rekannya dari Kuwait, dia membentuk Al-Fatah yang memiliki kekuatan militer. Namun sayang PLO harus hijrah ke Tunisia karena gempuran dari Israel yang terus menerus.


    Tahun 1994 Arafar mendapatkan hadiah Nobel untuk negosiasi di Oslo. Selama masa itu, Arafat lebih memilih untuk berjuang di jalan perdamaian. Pada tahun itu juga dia kembali ke Palestina dan dua tahun selanjutnya menjabat sebagai Presiden.

Palestina, dengan segala pergolakan yang ada di sana masih bisa menghasilkan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang berpengaruh di dunia, begitu pula dengan Indonesia. Kondisi Indonesia yang bebas merdeka pasti bisa melahirkan tokoh-tokoh tak kalah luar biasa dengan semangat juang yang harus dijaga. 




[Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Asal Palestina yang Dikenal Dunia


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

Author


Avatar