Artikel

Apakah Indonesia Masih Ada Pada Tahun 2030?




Pernyataan Prabowo Tentang Indonesia Bubar Tahun 2030

Pernyataan Prabowo dalam pidatonya pada tanggal 18 September 2017 yang mengungkapkan bahwa Indonesia tidak akan ada lagi pada tahun 2030 menuai beragam reaksi dari masyarakat. Tepatnya Beliau mengatakan “Tetapi di Negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030”. Pernyataan tersebut beliau kutip dari sebuah novel fiksi-ilmiah berjudul Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole. Ada yang menganggap bahwa hal tersebut tidak benar. Tapi ada juga yang mempercayainya. Lalu apakah benar Indonesia akan bubar pada tahun tersebut?

Baca juga: 5 Negara Dunia Dengan Budget Militer Terbesar

Sekilas Tentang Novel Ghost Fleet

Novel Ghost Fleet sendiri menceritakan tentang kondisi tatanan dunia saat terjadi perang antara Amerika dan Tiongkok. Setelah negara Indonesia porak poranda karena perang kedua Timor, sebuah bom yang diledakan di Dhahran, Arab Saudi dan memicu kenaikan harga minyak. Tiongkok tetap aman karena menemukan sumber energi baru. Dengan kecanggihan teknologinya, Tiongkok berhasil meretas system computer intel Amerika yang mengakibatkan banyaknya kelumpuhan teknologi di sana. Nama Ghost Fleet sendiri merupakan nama dari sebuah pasukan angkatan laut Amerika yang memakai teknologi rendah.







Bagaimana Sebuah Negara Bisa Runtuh

Di kutip dari laman kompas.com, Prabowo mengatakan bahwa pernyataan tentang Indonesia yang tidak ada lagi pada tahun 2030 merupakan sebuah skenario dari ahli inteligen strategis Amerika. Menurutnya, skenario tersebut adalah sebuah peringatan bagi pemerintah Indonesia agar tidak menganggap remeh masalah seperti ekonomi, sumber daya, sampai lingkungan.

Lalu bagaimana sebuah Negara bisa runtuh? Dikutip dari dw.com, untuk mengukur potensi sebuah Negara runtuh, digunakan Indeks Negara Gagal yang setiap tahun dirilis oleh organisasi nirlaba Fund for Peace. Dua belas indikator, seperti ekonomi, keamanan, tekanan demografi, dan keretakan di kalangan elit, dipakai oleh para peneliti untuk mengukur keruntuhan sebuah negara.

Selebihnya, posisi Indonesia dalam indeks tersebut membaik selama sepuluh tahun terakhir. Posisi Indonesia meroket 23 peringkat selama masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono periode 2006-2007. Ditambah perbaikan sebanyak 13 peringkat lagi pada 2012 dan 2013. Namun selama sepuluh tahun, dari semua indikator, ada tiga yang tidak pernah membaik, yaitu keretakan elit, HAM dan Kepatuhan Hukum, serta Konflik Sosial.

Isu yang sedang hangat di perbincangkan saat itu yaitu melemahnya mata uang sejumlah negara terhadap dolar Amerika. Hal tersebut merupakan imbas dari perang dagang Amerika dengan Tiongkok. Mengutip dari bbc.com, penerapan bea masuk dari pemerintahan Donald Trump terhadap produk Tiongkok senilai US$ 200 Miliar atau setara dengan Rp 4.000 Triliun. Hal serupa juga dilakukan oleh pemerintah Tiongkok dengan menerapkan bea masuk untuk produk-produk Amerika senilai US$50 Miliar. Di kutip dari tempo.co, perang dagang ini mengakibatkan penguatan terhadap dolar Amerika karena para investor yang khawatir terkait sanksi Amerika terhadap Tiongkok cenderung mempertahankan dolar yang mereka miliki. Selain itu juga ada sentimen bank sentral Amerika yang akan menaikan suku bunga.

Indonesia sendiri ikut terkena imbas kenaikan dolar tersebut, namun berhasil bangkit dan kenaikan menjadi juara pertama di antara negara-negara Asia lainnya. Nilai terlemah Rupiah pada waktu itu adalah Rp 15.000,-sedang sekarang Rupiah menguat keangka Rp. 14.000,-. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia makin menguat.


Indonesia Emas 2045

Berbeda dengan pernyataan Prabowo, pemerintah saat ini sedang mencanangkan 2045 Indonesia Emas. Di kutip dari CNN, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia diperkirakan masuk lima besar ekonomi terkuat pada 2045. Dari Detik.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada empat syarat untuk menuju Indonesia Emas 2045. Hal tersebut yaitu kualitas manusianya, infrastruktur, kualitas kelembagaan, dan kebijakan pemerintah.

Dari sektor ekonomi, Indonesia sudah lebih baik. Namun kita juga tetap harus selalu waspada terhadap perubahan-perubahan yang tidak terduga di masa yang akan datang. Apakah Indonesia masih tetap ada tahun 2030? Semuanya kembali pada diri kita sendiri. Masih ada yang harus diperbaiki di rapor Indonesia yang ada di Indeks Negara Gagal. Jangan sampai skenario di novel Ghost Fleet menjadi kenyataan.

[Oleh: Logika Anbiya]

Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia 
Baca juga: 5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa

Author


Avatar