fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Fenomena dilangkahi menikah oleh adik memang bisa jadi beban bagi si kakak di keluarga dan orang-orang terdekat. Risiko jadi bahan gunjingan menghadang di depan mata. Namun, apa iya mau menghalangi adik, yang jelas-jelas sudah bertemu jodoh dan siap menikah, hanya demi ego si kakak yang tak ingin dilangkahi?

Kalau kamu ada di posisi si kakak bagaimana cara menenangkan hati saat dilangkahi adik?

Baca juga:
3 Hal Persiapan Nikah Ini Bakal Bikin Mentalmu Lemah
#MuslimGirl: Traveling ala Muslim?

dilangkahi nikah


Minta Dukungan Keluarga


Dalam budaya Sunda dikenal istilah ngarunghal. Budaya ini berupa pemberian barang atau perhiasan dari adik untuk kakaknya agar rela melepas si adik lebih dahulu menikah. Namun, dalam Islam tak ada syarat demikian. Yang lebih dibutuhkan oleh si kakak adalah dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Sedikit atau banyak akan ada rasa berat hati melihat adik kecil kita baik perempuan apalagi adik laki-laki, bertemu jodohnya lebih cepat dari bayangan. Bicarakan dengan keluarga jika memang merasa masih perlu waktu untuk menerima.

Namun, tentu jangan sampai berlarut hingga mengulur-ulur waktu pernikahan si adik. Wajar sekali kalau kamu meminta keluarga untuk menghargai perasaanmu saat mempersiapkan pernikahan adik. Keluarga pasti akan mengerti perasaan kamu sebagai kakak. Apalagi jika ada saudara atau orang lain yang memanas-manasi.

Jangan dipendam sendiri ya rasa sakitnya, lebih baik dikeluarkan agar cepat terobati.

 

Tetap Berprasangka Baik


Mungkin dilangkahi adik tak akan begitu berpengaruh jika memang si kakak belum begitu memikirkan pernikahan. Pasti semua akan berjalan lebih mudah. Tak perlu percaya pada mitos bahwa jodoh akan jadi sulit bagi si kakak.

Namun, jika si kakak dalam posisi yang sudah siap menikah, sedang menunggu waktu jodoh datang, atau baru saja ditinggalkan calon pasangan, semua akan terasa lebih berat untuk dihadapi.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Buat kamu yang lagi menunggu jodoh.. #JanganNikahDulu #Pranikah #Nikahsakinah #Pernikahan #BukuNikah #SunnahNikah #BukuQanita #PenerbitQanita #QanitaInspirasi

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on



Hal pertama yang harus kamu pikirkan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah Swt.. Menyadari bahwa jodoh adalah urusan-Nya. Waktu terbaik pasti akan dating. Jangan nikah dulu jika hanya mengejar target usia agar tak dilangkahi adik.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Pernikahan bukanlah soal status semata. Lebih baik fokus memperbaiki diri demi menjemput sang pangeran impian kelak.

Dilangkahi menikah
Terakhir, sebagai kakak, jangan lupa untuk mendukung pernikahan adik. Jangan sampai karena terlalu memikirkan jodoh yang belum dating, kita membiarkan adik merasa tak nyaman dengan pernikahannya. Apalagi pernikahan bukan untuk satu hari, melainkan untuk seumur hidup.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Sudah merasa cocok dengan pacar atau calon yang sekarang? Atau, sudah tak tahan ingin segera menikah? Sebaiknya luangkan waktu untuk membahas persiapan nikah. Tiga hal berikut wajib didiskusikan baik bersama-sama pasangan maupun masing-masing. Jangan nikah dulu, sebelum merenungkannya matang-matang.



1. Keluarga


Kalau masih berpikir menikah itu hanya tentang kamu dan aku, segera buang jauh-jauh. Kenyataannya, menikah juga melibatkan dua keluarga besar. Tak hanya keinginan suami dan istri yang perlu diwujudkan, tapi juga inginnya ibu, ayah, kakak, adik, tante, paman, belum lagi ayah mertua, ibu mertua, kakak ipar, nenek, kakek, dan seterusnya seterusnya. Wah banyak ya jamaahnya? Tapi itulah isi dari pernikahan.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan

Bicarakan dengan si calon, nanti saat persiapan nikah maupun saat mengarungi bahtera rumah tangga, keinginan siapa yang harus diprioritaskan. Kembalikan lagi pada tuntunan agama. Dalam Islam prioritas utama seorang wanita adalah suaminya, sementara laki-laki meskipun sudah beristri tetap prioritasnya adalah ibunya. Jangan sampai setelah menikah hal-hal mendasar seperti ini belum terpikirkan.



2. Kebebasan


Pernikahan memang tak mengekang kebebasan siapa pun. Baik suami maupun istri memiliki hak yang sama sebagai seorang pribadi dan juga seorang muslim. Tapi, kebebasan saat sudah menikah tak bisa disamakan dengan bebasnya kita saat masih single. Ada hal-hal yang harus dibatasi bukan karena tak boleh, melainkan untuk saling menjaga ikatan.

Seperti sudah tak bisa lagi travelling bersama teman-teman satu geng selama seminggu, sementara suami pulang ke rumah tak ada yang menemani. Atau, seorang suami menghabiskan semua uangnya untuk diri sendiri dan orangtuanya sementara istri hanya dapat sisa-sisa.

Hal-hal besar hingga sepele seperti liburan, keuangan, makan sehari-hari, semua perlu dibahas bersama. Kalau belum siap, jangan nikah dulu!

Baca juga:
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan


3. Impian


Manusia akan selalu penuh kejutan. Tak hanya mengejutkan orang lain, dirinya sendiri pun kadang menyadari betapa pilihannya berubah drastis. Impian saat masih sendiri mungkin akan berubah seiring berjalannya pernikahan.

Visi, misi, rumah tangga juga harus dibahas saat persiapan nikah. Apa yang akan kita lakukan sebagai pasangan untuk jangka pendek, jangka sedang, dan yang akan datang.

Perbedaan demi perbedaan akan muncul menjadi sebuah tantangan. Dulu masih mungkin bermimpi ingin kuliah lagi sambil bisnis. Tapi, setelah menikah dan punya anak? Bukan saja tak bisa, melainkan ada hal-hal lain yang perlu dikorbankan. Jika masih ragu, jangan nikah dulu.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Baru sebulan putus, sudah dengar kabar si teman menikah? Hah? Cepet banget move on-nya! Pasti langsung kepo cerita di balik pernikahannya. Jangan-jangan hamil? Astaghfirullah, jangan suudzon dulu, mungkin memang sudah bertemu dengan jodoh dunia akhiratnya. Eh, tapi kok masih suka update status galau ingat mantan, ya?

Ternyata setelah membuka diri baru ketahuan alasan si teman menikah adalah ingin manas-manasin mantan. Hati-hati ya, guys! Jangan nikah dulu kalau alasan kamu menikah hanya untuk memamerkan keindahan foto prewedding, kekhidmatan akad nikah, dan kemesraan masa-masa honeymoon. Sampai kapan sih semua itu akan bertahan?



Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan

Merasa puas karena dendam terbalaskan, si mantan pedih dan sakit hati. Lalu, setelah sebulan menikah kita pun akan mulai menghadapi kehidupan pernikahan yang sebenarnya. Yang nggak cuma berisi senyum manis dan pemandangan indah di Instagram. Pernikahan adalah tentang menghadapi masalah aku dan kamu bersama-sama. Karena belum pernah terbayangkan sebelumnya, akhirnya kenangan manis bersama mantan pun kembali menghantui pikiran.

Malam-malam bersama suami jadi semakin suram, karena masih ingat mantan. Rasa bersalah pun muncul karena sudah memilih alasan yang buruk saat menikah dengan suami. Sementara sang mantan sudah move on dan tak peduli lagi kisah masa lalunya bersamamu. Hal-hal lain pun menjadi semakin kacau.

 

Ya, anggap saja barusan kita sedang simulasi bagaimana kehidupan akan berjalan jika keputusan menikah dilandasi hati yang sedang patah dan pikiran gundah. So, jangan nikah dulu! Pernikahan adalah kehidupan yang harus kamu jalani bersama seseorang yang mau tumbuh dan belajar bersama sebagai pasangan. Kalau salah satunya masih ingat mantan dengan terus mengenang masa lalu, bagaimana pernikahan itu dapat berjalan? Pasti akan terasa berat karena pincang.

 

Untuk yang sedang sakit meredam emosi karena dikecewakan mantan, bersabarlah dengan tidak lari dari masalah dan membuat masalah baru. Jangan nikah dulu jika alasan kamu adalah hanya ingin move on dari mantan.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Berada dalam masa “menunggu” untuk dipinang, tapi calon belum tampak, wajar bila kita mulai resah bertanya ‘kapan saat untukku tiba’. Tidak apa-apa jika mulai gundah dengan kesendirian. Karena banyak hal yang tidak bisa dikontrol, termasuk dihinggapi perasaan-perasaan yang datang tanpa bisa kita usir untuk segera pergi.

Lalu, bagaimana mengembalikan ketenangan hati, saat pagi kembali menyapa? Tentu Allah satu-satunya penolong. Namun, kadang kita pun butuh disadarkan ada banyak hal yang dapat membuat kita bersyukur menunda pernikahan.


Menunda Nikah

Jangan Nikah Dulu, Kalau Menikah adalah Tujuan


Sama seperti kepolosan anak kecil yang ingin segera besar karena kagum melihat betapa orang dewasa bisa melakukan banyak hal. Begitu pun saat kita ingin menikah hanya karena melihat sebuah pernikahan seperti rumah yang ingin kita tinggali. Bisa bersantai setelah lelah dengan perjalanan yang terasa tak berujung ini.

Saat tumbuh besar si anak akan sadar bahwa ternyata menjadi dewasa adalah sebuah proses panjang. Dan menikah pun bukanlah rumah untuk kita terus berbaring. Menikah adalah pintu menuju banyak hal baru yang tidak bisa dilalui tanpa persiapan matang.

Baca juga:
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Jangan Nikah Dulu, Kalau Cuma Karena Sama-Sama Suka



Rasa suka yang kita miliki terhadap calon pasangan hidup bisa menjadi sumber masalah. Karena suka bisa jadi kita mengabaikan restu orang tua, tidak peduli tanggapan teman, semua pertanda diacuhkan demi bisa hidup bersama orang yang kita sayang. Hal yang perlu kita ingat, setelah menikah dunia kita tidak hanya tentang kau dan aku.

Restu orang tua dan pendapat sahabat, bisa jadi jalan untuk kita mengevaluasi hubungan dengan calon pasangan. Apa selama ini sudah berjalan sesuai ridha-Nya? Apa baru nafsu yang mendominasi? Karena kadang kita lupa, bahwa rasa suka tidak akan bertahan selamanya. Banyak hal yang harus mendasari sebuah perkawinan selain rasa suka.


Menunda pernikahn

Jangan Nikah Dulu, Kalau Hanya Kejar Target


Dalam pekerjaan ketika seorang karyawan mencapai target, tentu akan diselamati karena dianggap sukses. Tapi, saat target kita menikah di usia 25 tahun, lalu sampail usia 30 tahun belum juga bertemu jodoh apa kita dianggap gagal? Dalam lima tahun itu pasti banyak hal yang sudah dilewati, menunda pernikahan bukan berarti sebuah kegagalan. Karena pernikahan bukanlah tugas dari atasan, tapi jalan kita untuk lebih baik lagi dalam beribadah.

Jadi, jangan takut dianggap gagal saat memutuskan menunda pernikahan.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda pernikahan

0

Artikel, baru, Tips

Budget traveling kini sudah menjadi trend, bukan lagi sekadar mimpi.


Dulu, harga tiket pesawat untuk penerbangan ke luar negeri sangatlah mahal. Tony Fernandes—pendiri AirAsia sekaligus penulis Flying High—dalam wawancaranya di kanal Youtube Larry King, berkata bahwa sebelum dia memegang AirAsia hanya ada 6% orang Malaysia yang dapat terbang. Tapi semenjak AirAsia hadir, kini semua orang bisa terbang.

Kamu pasti senang kan dengan banyaknya pilihan maskapai penerbangan bertarif rendah seperti AirAsia. Sekarang, kita tidak perlu khawatir dengan biaya tiket pesawat yang meroket. Yuk, simak 3 tips travel budget dari AirAsia!

Baca juga:
5 Fakta Menarik Tony Fernandes, Sang Bos AirAsia
Bikin Takjub! Inilah 3 Peristiwa yang Mengubah Tony Fernandes


1. Hemat dengan BIG Loyalty

 

Sebagai program member dari AirAsia, AirAsia BIG Loyalty memberikan kemudahan buatmu untuk bisa menikmati penerbangan hemat di seluruh jaringan AirAsia. Loyalty program menjadikan semua kursi bisa di-redeem dengan mengunakan poin. Setiap pembelian tiket senilai Rp30.000 akan memperoleh 20 poin. Kamu bisa mendapatkan poin lebih banyak jika melakukan penerbangan jarak jauh.


Program AirAsia yang sudah berjalan lama ini memiliki banyak keuntungan. Semakin banyak kita terbang, semakin banyak poin yang kita kumpulkan. Selain itu, keuntungan eksklusif lainnya untuk anggota BIG adalah bisa mengakses 24 jam promo priority booking di seluruh sale AirAsia. Tidak hanya itu, anggota AirAsia BiG juga bisa memesan kursi promo (bahkan kursi gratis) dengan menukarkan minimal 500 poin BiG di airasiabig.com dan aplikasi AirAsia BiG.


2. Promo Kursi Gratis!

 

Tiket pesawat murah memang menggiurkan, tapi alangkah lebih bahagianya kalau bisa terbang gratis. Nah untuk yang satu itu, bukan lagi mimpi loh. Kita bisa terbang secara gratis bersama AirAsia. Kursi GRATIS adalah program promosi spesial yang diberikan AirAsia khusus untukmu.


Kamu hanya akan membayar pajak bandara untuk bisa terbang ke destinasi impian. Intinya, AirAsia akan menggratiskan yang dibebankan. AirAsia menyediakan 5 JUTA KURSI PROMO untuk destinasi domestik dan internasional. Walaupun tidak semua destinasi GRATIS, tapi harga yang ditawarkan dalam promo ini nggak bikin dompet tipis!


Dengan tiket pesawat promo, kita bisa berhemat untuk tiket pesawat selanjutnya untuk terbang kemana saja. Jadi kita bisa membeli dua tiket budget flight dengan harga satu tiket maskapai yang mahal.


3. Semua Dalam Genggaman


Sekarang semuanya sudah serba mobile, jadi kita bisa mengakses dan mendapatkan kesempatan kursi gratis hanya dengan satu sentuhan jari lewat aplikasi AirAsia. Praktis, kan?


Baca juga:
5 Rekomendasi Restoran Halal di Tokyo, Kamu Wajib Coba!
Destinasi Pelancong dalam Negeri dengan Pesawat

Now everyone can fly!


Dalam bukunya Flying High, Tony Fernandes mengingatkan kita untuk selalu percaya pada mimpi. Walaupun orang lain berkata hal itu gila, kita harus berani menghadapinya. Seperti dulu Tony Fernandes ingin mendirikan maskapai bertarif rendah, hingga AirAsia menjadi salah satu maskapai terbesar di Asia saat ini. Beranikah kamu bermimpi untuk pergi berlibur ke tempat impianmu tahun ini?[]

Penulis: Logika Anbiya
Penyunting: Zahra Haifa



0

Artikel, Promo

THR Mizan

Bagaimana rasanya dapat hadiah buku Mizan selama satu tahun penuh? Lewat program THR Mizan, kesempatan langka ini bisa terwujud.



Apa saja syarat dan ketentuannya? Yuk, kita simak!

Patsikan kamu follow akun-akun instagram dan twitter berikut: @mizanmediautama, @nourapublishing, @mizanpublishing (IG), @penerbitmizan (twitter), @bentangpustaka, @pastelbooks.id, dan @penerbitqanita.

 

Upload foto diri bersama display “15 Buku Pilihan Mizan” yang tersedia di jaringan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia di akun instagram atau twitter kamu. Sertakan juga caption menarik tentang alasan kamu ingin banget dapat THR Mizan dan gunakan hastag (#) #THRMizan. Jangan lupa, tag dan mention akun instagram @mizanmediautama dan minimal 5 orang temanmu.

 

Hanya ada 3 pemenang yang akan mendapatkan masing-masing 2 buku terbitan Mizan Group perbulan selama 1 tahun penuh. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 1 Juli 2019 di akun media sosial @mizanmediautama.

 




Catat juga, periode program ini berakhir pada 30 Juni 2019![]

Baca juga:
Penasaran dengan Novel Origin, Ini Dia Sinopsisnya!
Ini Bukan Dongeng
0

Artikel, baru

Mendengar kata The Message, ingatan saya langsung kembali ke masa silam, saat saya melihat film yang berdurasi 4 jam dengan judul yang sama (The Message), dimainkan oleh Anthony Queen dan Irene Papas. Film itu menceritakan tentang perjalanan awal penyebaran agama Islam, hijrah ke Madinah dan akhirnya perjalanan kembali ke Makkah yang melambangkan kejayaan Islam. Dan akhirnya, 40 tahun kemudian, saya menerima The Message dari tangan seorang sahabat saya.

 

Baca juga:
Testimoni The Message of the Quran dari Yadi Saeful Hidayat
– Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Kali ini The Message (The Message of the Quran, red.) adalah tafsir Al-Quran yang ditulis oleh Muhammad Asad (terlahir sebagai Leopold Weiss). Tentu saja tafsir ini bukan yang pertama kali saya baca, karena memang curiousity saya yang cukup besar untuk mengerti “the real meaning, history and background behind the words” dari ayat-ayat kitab suci kita. Di situlah biasanya curiousity saya cukup stubborn dengan tidak hanya mencerna kata demi kata, tetapi juga mencoba mengerti the context behind the content, sambil mencoba mencari balance antara “Aqli” dan “Naqli”.

Faktor lain yang saya juga akan perhatikan adalah, the story telling, how the story will be told to the audience. Saya mengerti bahwa kitab suci adalah “sungai kebenaran” yang tidak bisa dibantahkan oleh akal pikiran kita yang sangat sederhana ini. Tetapi tentu saja story telling akan memainkan peran yang sangat penting pada saat audience sedang melakukan pengembaraannya untuk mengerti makna dan latar belakang dari setiap ayat yang dibaca.

Dengan background itulah, saya mulai membaca lembar demi lembar dari The Message of the Quran. Dan surprisingly (in a positive way), saya membuka lembar demi lembar The Message of the Quran ini secara “automatic”, dan kadang-kadang tak mampu menahan diri untuk ingin membaca lembar berikutnya.

Saya harus mengakui bahwa Leopold Weiss (yang sekarang menjadi Muhammad Asad) mampu merangkai kata-kata yang menarik perhatian kita sedalam-dalamnya. Kemudian curiousity saya pun mulai muncul, dan seperti biasa saya menanyakan banyak pertanyaan dengan pertimbangan akal saya.

Muhammad Asad seperti memainkan peran guru yang sangat sabar (dan pintar) dan menerangkan (very patiently) kepada anak muridnya yang agak bandel (c’est moi, saya sendiri) untuk konsep-konsep itu. Penjelasannya begitu lugas, lengkap, dan sederhana serta mudah dimengerti. Misalnya pada saat Leopold menjelaskan tentang “life entity”, dan menerangkan tentang “nafs”, Leopold memberikan definisi dan batasan yang sangat jelas tentang jiwa, akal, pikiran, makhluk hidup, kepribadian dan personality.

Kemudian Leopold juga menafsirkan dengan menarik tentang bagaimana seorang manusia mempunyai kelebihan dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia mempunyai pilihan (untuk percaya dan mengabdi kepada Allah Swt. atau tidak, sementara makhluk yang lain tidak mempunyai pilihan. Sekilas kita seperti merasa bahwa kemampuan (dan kekuasaan) untuk memilih itu adalah kelebihan (atau rahmat).

Padahal akhirnya kita menyadari bahwa kemampuan untuk memilih itu ternyata adalah ujian yang mahaberat bagi kita, karena tentunya ada konsekuensi yang berat atas pilihan kita tersebut. Kita mengerti, bahwa in the end of the day, quality yang kita punya itu ternyata adalah ujian berat. Misalnya harta, banyak orang yang tidak punya harta berkata “Begitu enaknya mereka yang punya harta”.

Padahal ternyata harta yang banyak adalah ujian berat, apakah kita mampu memanfaatkannya dan membawa kebaikan bagi orang lain, atau justru membawa mudarat bagi orang-orang lain dan kita sendiri. Wajah yang cantik (atau tampan), begitu banyak yang menginginkan, bahkan sampai operasi plastik, ternyata bisa menjadi bumerang bagi kita kalau kita tidak mampu menahan godaan, dan ternyata itu membuat kita terjebak dalam kemaksiatan.

Otak yang cerdas, kalau dimanfaatkan dengan baik akan membawa manfaat bagi banyak masyarakat. Tetapi bisa juga dimanfaatkan untuk menjadi psycopath atau malah menjadi public enemy yang “monstrous”.

Konsep anugerah adalah ujian ini digunakan oleh Leopold Weiss untuk menerangkan konsep poligami. Pada saat banyak orang beranggapan bahwa poligami (izin untuk menikahi lebih dari seorang wanita) dianggap sebagai kelebihan atau anugerah, Leopold men-challenge kita dengan menuliskan bahwa poligami hanya diperbolehkan untuk kasus-kasus luar biasa, dan poligami itu akan menjadi ujian yang luar biasa bagi kita (apabila kita tidak bisa berlaku “adil” kepada istri-istri kita).

Maka Leopold menutup bab poligami itu dengan menyatakan bahwa apabila lelaki tidak mampu melalui ujian yang berat itu (untuk bersikap dan berperilaku adil kepada beberapa istri), maka sebaiknya lelaki itu mempunyai satu istri saja. Kesimpulan yang sangat “dalam”.

Intinya, banyak sekali masalah-masalah yang tadinya rumit dan sulit dimengerti menjadi sesuatu yang positif dan mudah diterima oleh akal sehat. Leopold mampu menjelaskan itu dengan jelas dan gamblang, baik itu masalah poligami, pengetahuan alam, hubungan antarmanusia maupun hubungan kita dengan Yang Maha Pencipta.

Terima kasih kepada Leopold yang sudah membukakan mata hati saya. Dan terima kasih kepada sahabat saya, Sari Meutia, yang memperkenalkan The Message of the Quran kepada saya yang masih ingin terus mengembara meneruskan learning journey saya yang panjang. Salam Hangat

— Pambudi Sunarsihanto (HR Director Perusahaan Multi-nasional, Career Coach & Mentalist, penulis Think Different, Act Differently)


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

Artikel, baru

Saya pernah terlibat diskusi panjang dengan Mas Ilham (tim editor The Message of the Quran) terkait makna satu kata di dalam Al-Quran. Waktu itu Mas Ilham lagi sibuk-sibuknya sunting The Message of the Quran. Saya sodorkan makna-makna kata tersebut dalam bahasa Arab (sayang, saya lupa apa kata yang ditanyakan itu).

Sampai akhirnya kami sepakat untuk menerjemahkan kata tersebut sesuai simpulan diskusi kami. The Message of the Quran berani mendobrak tradisi penafsiran-penafsiran Al-Quran. Saya sudah terbiasa membaca kitab-kitab tafsir klasik, dan menemukan keasyikan sendiri saat membaca The Message of the Quran.

 

Baca juga:
Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann
– Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Dalam deretan literatur kitab tafsir sendiri, ada metode-metode yang berbeda yang disajikan oleh masing-masing pengarahnya. Ada yang pendekatannya bir riwayah (tafsir tekstual), seperti Ibn Katsir, Al-Thabari, dan lain-lain. Ada juga yang pendekatan tazkiyah nafs (gagasan penjernihan hati).

The Message of the Quran ini menghadirkan tafsir bir ra’yi (tafsir rasional), yang boleh jadi bagi sebagian kita akan mengalami keguncangan. Padahal, tafsir rasional juga pernah sama-sama dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Zamakhsyari dengan Al-Kasyaf atau Al-Razi dengan Mafatihul Ghaib. Saya menikmati penafsiran kata demi kata yang dihadirkan oleh Asad.

Tampak lain dan ada gagasan baru yang ingin diupayakan untuk dikenalkan kepada masyarakat modern, yang tentunya akan bisa lebih memahami penafsiran teks-teks Al-Quran secara logis. Misalnya, seperti dicatat oleh Buya Syafii Ma’arif, Asad menerjemahkan ungkapan ummatan wasatha, ayat 143 Al-Baqarah sebagai a community of the middle way (komunitas jalan tengah), tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada pada posisi tengah dengan doktrin tauhid yang tegas dan tegak.

Umat Islam semestinya terus bergerak tanpa henti menuju posisi jalan tengah ini dengan kepala tegak sebagai tanda kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat beriman dan berilmu.

Barangkali, closing statement-nya Asad dalam pengantar The Message of the Quran, yang juga dikutip oleh Buya Syafii dalam artikelnya, ini cukup menarik, “… saya sadar sepenuhnya bahwa terjemahan saya tidak dan memang sesungguhnya tidak mungkin ‘berlaku adil’ terhadap Al-Quran dan lapisan di atas lapisan maknanya: karena jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalam Tuhanku, pasti lautan itu akan kering sebelum habis kalam Tuhanku.”

—Yadi Saeful Hidayat, CEO Mizania & Co.


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

Artikel, baru

Asad, dengan The Message of the Quran, seperti tak hendak membiarkan satu pun ayat Allah tak terpahamkan bagi akal manusia. Bagi yang tidak biasa, sebagian tafsirnya akan terasa seperti berupaya merasionalkan hal-hal yang tak rasional. Termasuk keajaiban-keajaiban para Nabi utusan Allah. Tapi, tak ada yang tak dia usahakan semuanya itu dengan dukungan entah kitab-kitab tafsir klasik, data-data historis, atau penjelasan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran lain.

Sehingga, kalau pun akhirnya kita tak setuju dengan tafsirnya, kita tak akan bisa menolaknya begitu saja sebagai tanpa dasar. Lagipula, sebagian dari apa yang tampak sebagai inovasi Asad, sebenarnya sudah banyak juga disinggung para ulama atau ahli tafsir sebelumnya. Tapi Asad-lah penerjemah dan penafsir Quran yang tak ragu-ragu memasukkannya ke dalam suatu karya yang akan dibaca jutaan orang. Asad tak takut kontroversi.

 

Baca juga:
Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann
– Testimoni The Message of the Quran dari Dr. Ir. H. Suharyadi, M.S.

Sebelumnya kita hanya mendengar bahwa hurr ‘iyn itu bermakna bukan cuma bidadari, melainkan juga bidadara dan bahwa (maaf) penerjemahan yang terasa sangat grafis akan kata kawa’ib sebagai “perawan-perawan berdada montok” adalah salah (karena literalistik), dan harus diartikan sebagai perawan-perawan (perempuan-perempuan suci yang sebaya) sebagai penafsiran yang hanya mungkin lahir dari kaum modernis, kalau bukan liberal.

Tapi, dalam Asad, pemahaman yang sebetulnya lebih masuk akal orang-orang yang berpikir itu, dia tampilkan sebagai pemahaman yang alami belaka. Dan memang sudah seharusnya demikian …. Jika mau kita ringkaskan, Asad mulai dengan berusaha memahami dan menangkap “pikiran” Al-Quran (the mind of the Qur’an).

Paradigma Al-Quran … sebelum masuk ke detail-detailnya. Dan ketika masuk ke detail, dia gunakan semua alat untuk membongkar berbagai medan semantik konsep-konsepnya. Baru setelah itu, dia menciptakan dialog (bolak-balik, hermeneutik) antara detail-detail Kitab Suci ini dengan “pikiran Quran” yang ditangkapnya.

Suatu cara yang masuk akal, bahkan harusnya satu-satunya cara yang masuk akal, untuk mendekati makna yang dimaui Sang Pemfirman. Saya bayangkan, bertahun-tahun Asad berusaha menjadikan dirinya seperti Al-Quran. Menceburkan diri ke kedalaman wahyu Yang Maha Tak Terbatas, persis sepertt firman-Nya: “Celupan Tuhan. Dan apa yang lebih baik dari Celupan Tuhan?!” Maka apa pun yang keluar dari Asad, mudah-mudahan adalah warna yang terbias dari Yang Memfirmankan-Nya.

Memang, pada akhirnya, semua tafsir, sesungguhnya semua pemahaman tentang apa saja, harus bersifat eksistensial, dan bukan objektif saja. Sebuah tafsir, yang di dalamnya jarak antara subjek dan objek sudah diminimumkan, dan orang menjadi seperti apa yang hendak dimaknai. Betapapun kita sadar, sebaik apa pun, manusia adalah manusia. Yang terbatas. Bahkan terlalu kecil, lebih kecil dari debu, dibanding berlipat-lipat samudra ilmu-Nya.

Akhirnya, sikap kita adalah, Asad orang besar, Asad mufasir hebat. Tapi Asad bisa saja salah. Sedikitnya, kita bisa saja tak setuju pada sebagian pandangannya. Tapi akankah kita buang tambang emas ilmu Allah hanya karena kecampuran sedikit tembaga? (dan belum tentu juga itu tembaga. Jangan-jangan emas juga, hanya tertutupi tanah, dalam pandangan sebagian kita).

Buya Hamka pun memuji. Juga Pak Miftah Farid. Dan saya tahu, bukan berarti para guru besar itu setuju dengan semua isinya (saya pun tidak). Tapi setidaknya mereka tak ragu, bahwa ini karya besar. Dan sejak saya mengenal The Message of the Quran, saya tak pernah mendaras Al-Quran pakai yang lain. Tafsir lain tentu tetap perlu untuk melengkapi. Tapi tafsir yang satu ini seperti bisa membaca makna apa yang saya harapkan dari ayat-ayat Allah Swt.

Mudah-mudahan Allah Swt. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita, agar kita bisa memahami makna-makna wahyu-Nya, betapapun sedikitnya. Lalu, memberi kita taufik-Nya agar kita bisa hidup sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Yaa’ Aalim, Yaa Kariim ….

—Haidar Bagir, Penulis Islam Tuhan, Islam ManusiaPenggagas Gerakan Islam Cinta


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

Artikel, baru

Alhamdulillah Pak Haidar (Haidar Bagir – Direktur Utama MIZAN, red.) dalam ulang tahun saya ke-65, tanggal 30 Juni kemarin, anak-anak dan mantu-mantu saya tanpa saya duga memberi hadiah istimewa berupa buku terjemahan The Message of the Quran: Tafsir Al-Quran Bagi Orang-Orang yang Berpikir, terbitan Mizan dengan pengantar Pak Haidar dan editor ahli Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A.

Saya baru baca pengantar dan Surah Al-Fatihah serta awal Surah Al-Baqarah. Sungguh saya menemukan tafsir yang lain cara penyampaiannya dibandingkan tafsir-tafsir Al-Quran yang selama ini kita baca. Sungguh segala sesuatunya menjadi lebih “hidup” dan lebih mudah meresapinya.


Baca juga:
– Testimoni The Message of the Quran dari Mochtar Pabottingi

 

Tentu saya sebagai orang awam, sangat jauh pemahaman saya tentang Al-Quran, karena baru akhir-akhir ini agak sedikit rajin baca Al-Quran dan Tafsir-nya. Mudah-mudahan dengan membaca buku Tafsir Al-Quran terbitan Mizan ini, semakin mendorong saya lebih mendalami Al-Quran yang penuh rahmat ini.

Terima kasih kepada Pak Haidar dan Prof. Afif Muhammad serta semua pihak yang telah bertahun-tahun menyiapkan buku yang sangat luar biasa ini. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal di surga-Nya nanti. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

—Dr. Ir. H. Suharyadi, M.S., Mantan Rektor Mercu Buana Periode 1997-2010


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 31NO NEW POSTS
X