fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Membaca novel, atau kisah fiksi, bukanlah guilty pleasure; para pembaca tidak selayaknya merasa bersalah karena menikmati kisah fiksi. Dilansir dari Psychology Today, membaca fiksi dapat meningkatkan kesadaran sosial seseorang dan meningkatkan kemampuan untuk berempati. Kedua hal ini sudah semakin langka ditemukan dalam zaman yang semakin dikuasai egosentrisme, padahal keduanya sangat penting dimiliki oleh setiap orang.

Di tahun baru ini, Mizan Publishing telah mempersiapkan beberapa naskah fiksi terjemahan yang dijamin akan memuaskan hasrat membacamu. Jangan lupa untuk menambahkan novel-novel berikut ini ke dalam daftar bacaanmu, ya.

 

Ghost Fleet karya P.W. Cole dan August Singer

Perang Dunia Ketiga? Mungkin datangnya akan lebih cepat daripada dugaan kita.

 

Dalam novel Ghost Fleet, dua pakar militer Amerika, yakni P.W. Cole dan August Singer, menjabarkan akan seperti apa Perang Dunia Ketiga. Penggunaan teknologi tinggi dan berbagai gawai canggih yang telah merasuk dalam kehidupan sehari-hari semua orang membuat sebuah negara menjadi lebih rentan terhadap serangan musuh.

 

Bukan sekadar imajinasi, kisah yang dituangkan dalam buku ini merupakan hasil riset berdasarkan tren dan teknologi terkini. Hasilnya? Sebuah narasi yang realistis dan sarat aksi serta ketegangan. Novel ini banyak diapresiasi oleh para pakar militer, hingga disebut-sebut sebagai bacaan wajib para tentara, namun masyarakat awam pun dijamin bisa menikmatinya.


Ghost Fleet menjadi perbincangan hangat orang-orang Indonesia karena dalam buku yang mengambil setting waktu di masa depan ini, Republik Indonesia dinyatakan sudah tidak ada lagi. Pulau-pulau Indonesia menjadi wilayah tak bertuan yang dihuni para pemberontak dan perompak. Sungguh prediksi yang membuat merinding.


Akkurat Passe karya Jostein Gaarder

Akkurat Passe, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Just Right, adalah novel terbaru dari Jostein Gaarder, penulis Dunia Sophie (Sophie’s World) yang fenomenal. Saking fenomenalnya, Dunia Sophie menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa filsafat. Memang, novel-novel Jostein selalu bermuatan filsafat, tapi dengan cara penyampaian yang enak diikuti dan tidak membuat pusing para pembaca, yang awam akan ilmu filsafat sekalipun.



Akkurat Passe
mengisahkan seorang pria bernama Albert yang divonis menderita suatu penyakit mematikan. Sembari menenangkan diri di Rumah Dongeng, Albert mengenang masa-masa awal berpacaran dengan istrinya dan merenungkan makna kehidupan. Dia belum siap untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak bisa menerima ketidakmampuannya mengatur arah hidupnya sendiri. Pada akhirnya Albert harus mengambil keputusan yang tidak hanya akan mempengaruhi dirinya, namun juga istri dan anak-anaknya.


Sing,
Unburied, Sing karya Jesmyn Ward

Sing, Unburied, Sing adalah kisah drama keluarga yang telah membuat Jesmyn Ward mendapatkan National Book Award tahun 2017, serta sejumlah nominasi untuk penghargaan-penghargaan sastra lainnya, seperti Women’s Prize for Fiction, Andrew Carnegie Medal, dan Kirkus Prize.



Dalam Sing, Unburied, Sing, seorang bocah remaja bernama Jojo berjuang untuk tumbuh menjadi lelaki sejati, terlepas dari fakta bahwa kedua orangtuanya tidak bisa diandalkan. Ayahnya, Mike, mendekam di penjara, sedangkan ibunya, Leonie, seorang pecandu obat-obatan terlarang. Ditambah lagi, Jojo harus mengurus adik perempuannya yang masih balita.

Selain isu kemiskinan dan kekerasan, novel ini juga mengangkat isu rasisme, karena ayah Jojo berkulit putih, sedangkan ibunya berkulit hitam. Kakek Jojo dari pihak ayah terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka pada Jojo dan ibunya. Di zaman modern ini, rasisme dan intoleransi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan, karena tidak semua orang mampu menyikapi perbedaan dengan bijak.  


Dear Martin karya Nic Stone

Novel-novel young adult dengan tokoh utama diverse atau bukan kulit putih semakin digandrungi pembaca. Salah satunya adalah Dear Martin, karya debut Nic Stone yang langsung bertengger di jajaran buku-buku fiksi laris versi The New York Times. Novel ini juga mendapat nominasi William C. Morris YA Debut Award dan Elizabeth Walden Award.

 

Seperti Sing, Unburied, Sing, novel Dear Martin mengangkat isu rasisme. Tokoh utamanya adalah seorang remaja kulit hitam bernama Justyce. Dia siswa berprestasi di sekolahnya dan berkelakuan baik, tapi tetap saja dia harus menerima perlakuan intoleran, hanya karena warna kulitnya.

 

Demi menahan emosi dan berusaha menyikapi dengan bijak ketidakadilan yang dia terima, Justyce mempelajari Martin Luther King, tokoh yang amat terkenal sebagai pembela kesetaraan hak dan penentang rasisme. Justyce menulis surat-surat untuk Martin, dan merenungkan sikap seperti apa yang akan diambil oleh Martin seandainya beliau menerima perlakuan seperti yang Justyce alami.

 

To Kill A Kingdom karya Alexandra Christo

Bagi para penggemar fiksi fantasi, ada satu karya debut fenomenal yang tak boleh dilewatkan, yakni To Kill A Kingdom. Di antara banyak seri fantasi yang terdiri lebih dari dua atau tiga buku (bahkan tidak sedikit yang terdiri lebih dari lima buku), To Kill A Kingdom yang kisahnya tuntas dalam satu buku saja menjadi angin segar bagi para pembaca.

 


To Kill A Kingdom
adalah kisah cinta antara seorang putri dan seorang pangeran, tapi dengan elemen-elemen yang tidak biasa. Pertama, Lira, sang putri adalah sesosok siren yang gemar mengoleksi jantung pangeran. Kedua, Elian, sang pangeran adalah kapten kapal yang pekerjaannya memburu dan menghabisi para siren. Tentu saja interaksi antara keduanya sarat kebohongan dan tipu daya, dan menarik sekali untuk diikuti.

Meskipun ada yang bilang To Kill A Kingdom terinspirasi dari dongeng The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen, tokoh utama novel ini bukanlah sesosok mermaid, melainkan siren. Kaum siren terkenal dengan musik dan lagu mereka yang dapat menghipnosis para pelaut. Setelahnya, para pelaut itu akan terjun ke laut dan tewas, sementara kapal mereka karam.




Dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang seorang pahlawan terkenal, Odysseus, yang ingin mendengar nyanyian para siren. Dia meminta para awak kapal untuk menyumbat telinga mereka, lalu mengikatnya di tiang kapal. Ketika mereka berlayar melewati para siren, hanya Odysseus yang dapat mendengar nyanyian mematikan itu. Odysseus memohon untuk dilepaskan agar dia bisa melompat ke laut, tapi para awak kapal malah mengikatnya semakin kuat, dan baru melepaskannya setelah mereka berada jauh dari para siren.

 

Itulah kelima novel yang layak ditunggu kehadiran terjemahan Bahasa Indonesianya pada tahun 2019 ini. Kalau kamu tidak mau ketinggalan informasi buku-buku terbaru Mizan Publishing, jangan lupa ikuti akun-akun media sosialnya, ya.



Baca juga: 4 Buku Paling Banyak Dibaca Orang Tahun 2018
Baca juga: 5 Buku Terpopuler Tentang Perang 

0

Artikel

Siapa sih yang tak kenal Dan Brown? Meskipun belum pernah baca bukunya, setidaknya orang pasti pernah mendengar atau membaca namanya. Ya, buku-buku Dan Brown memang selalu masuk dalam jajaran bestseller di seluruh penjuru dunia selama 15 tahun terakhir.

Tips Menulis dari Dan Brown


Tema-tema kontroversial yang diangkat Dan Brown dalam buku-bukunya selalu berhasil menarik minat para pembaca. Setelah menggebrak dengan tema pencarian Holy Grail dalam The Da Vinci Code pada 2003, dalam novel terbarunya yang berjudul Origin, Dan Brown mengangkat tema agama versus sains.

Tak diragukan lagi, Dan Brown sukses menyajikan kisah-kisah yang membuat para pembaca ketagihan.

Baru-baru ini, Dan Brown menjadi salah satu mentor Masterclass, sebuah kursus online, dan berbagi ilmu tentang kepenulisan. Penasaran apa saja yang dia ajarkan? Mari kita intip sedikit bocorannya di artikel ini.

Baca juga:
– Ingin Jadi Penulis? Simak Pesan Penting dari Dan Brown Yuk!
– Wanita-Wanita Cerdas nan Elegan ala Novel Dan Brown


1. Buat janji kepada pembaca


Dan tepati janji tersebut. “Dalam menulis novel, genre apa pun, penulis seolah-olah membuat janji kepada pembaca, dan itu tidak boleh dilanggar,” ujar Dan Brown. Memperkenalkan tokoh-tokoh misterius, teori-teori konspirasi, dan teka-teki di awal cerita akan menjerat para pembaca, dan mengarahkan mereka pada pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab. Tidak perlu dijawab semua sekaligus, yang pasti di akhir cerita, semua pertanyaan itu harus terjawab. “Kalau kau menulis ada sebuah senapan tergantung di dinding pada bab satu, maka pada akhir cerita harus ada seseorang yang menggunakan senapan tersebut.”




2. Waktu yang terbatas


 Beri batasan waktu, di mana sesuatu harus terjadi. Ini akan membuat alur cerita terus maju. Contohnya, keseluruhan kisah Angels and Demons terjadi dalam waktu 24 jam, di mana dalam batas waktu itu Profesor Robert Langdon harus menyelamatkan dunia dari senjata nuklir. Batas waktu meningkatkan urgensi suatu thriller dan membantu mempertahankan laju cerita.


3. Konflik itu penting


Bagi Dan Brown, konflik mengacu pada konsep membuat suatu tokoh menjalani ujian yang sulit. Harus hanya ada satu cara untuk mencapai resolusi, dan itu tidak boleh dibuat mudah. “Memberi keterbatasan pada tokoh itu penting,” ujarnya. “Dan ini adalah salah satu hal yang tidak semata-mata berdasarkan intuisi.”


4. Bereksperimen dengan cliffhanger

Dalam buku-buku Dan Brown, banyak bab diakhiri dengan cliffhanger yang membuat pembaca gemas. Menurut Dan Brown, cliffhanger itu tentang penundaan memberi informasi dan pengaturan waktu. “Kita tidak memberitahu sesuatu… dan menciptakan jeda sebelum resolusi,” ujarnya. Brown menyarankan untuk mengutak-atik struktur narasinya, dengan mengakhiri suatu bab lebih cepat atau menyimpan pancingan (misalnya petunjuk bahwa di bab berikutnya, sang protagonis akan berada di benua lain) agar tetap menarik minat pembaca.


5.Gunakan alur-alur cerita yang berkelindan

Satu alur cerita yang menarik itu bagus. Tapi beberapa alur cerita yang menarik adalah cara yang bagus untuk memikat pembaca. (Terutama jika kau memegang janji, memberi batasan waktu, dan tidak memberi jalan mudah bagi resolusi cerita.) Brown menyampaikan bahwa dia menulis alur-alur cerita secara terpisah terlebih dulu, baru kemudian menjalinnya. “Alur-alur cerita ini harus berkelindan. Kalau tidak, alur-alur itu tidak akan relevan satu sama lain,” kata Dan Brown.


6. Lakukan banyak riset, karena mungkin kau akan menemukan hal-hal tak terduga


Dan Brown membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menulis buku, salah satunya karena dia selalu melakukan banyak riset. Dia merekomendasikan untuk sebanyak mungkin membaca tentang topik yang sedang kau tulis, entah itu sejarah, filosofi, sains, perjalanan, atau teori konspirasi. Namun di antara banyaknya informasi yang tersedia, bagaimana caranya menemukan bahan-bahan yang tepat untuk sebuah cerita thriller?

 



“Caranya adalah dengan terus menerus menyaring informasi,” ujar Brown. Simpan informasi-informasi yang menarik bagimu, meskipun mungkin pada saat itu terkesan tidak cocok dengan alur cerita yang sedang kau tulis. “Simpan informasi-informasi itu di kepalamu selama tahun-tahun kau menulis buku,” katanya. Suatu hari mungkin kau menulis suatu kalimat dan teringat akan fakta atau latar belakang yang berguna. Dan Brown menyimpan semua hasil risetnya dalam bentuk daftar elektronik, meskipun hal-hal yang terpenting dia tulis tangan.


7. Jaga prosesnya


Penulis thriller yang sukses perlu memahami berapa lama waktu yang diperlukan untuk menulis sebuah buku, dan kebiasaan yang kuat menjadi faktor penting. Seperti penulis-penulis lainnya, Dan Brown memiliki rutinitas (dia bangun jam empat pagi untuk menulis di sebuah ruangan yang sama sekali tidak punya jaringan internet) dan menekankan pentingnya berpegang pada kebiasaan itu dan menyadari bahwa itu akan dilakukan untuk jangka waktu lama. “Jaga prosesnya,” dia bilang. “Hasilnya akan mengikuti.”


8. Tulis yang salah dulu


Ini adalah cara Dan Brown untuk keluar dari kebuntuan dalam menulis, sekaligus saran terbaik yang pernah dia terima. “Tulis yang salah dulu, dan biarkan itu jadi proses untuk menulis yang benar.” Alih-alih menulis satu paragraf kemudian menghapusnya karena tidak sesuai keinginan, menulis saja terus. Revisi-revisi bisa dilakukan belakangan.



9. Mulai dengan dunia yang spesifik


Seringkali, memulai menulis adalah langkah yang paling sulit, dan Dan Brown menyarankan untuk memulai dengan memilih dunia yang menarik bagimu. Bisa jadi dunia jurnalisme, atau dunia kuliner. Setidaknya ini akan memberikan batasan tempat dari cerita yang kau tulis. Brown memberi contoh sebagai berikut: “Kalau kau memiliki restoran, tokoh antagonisnya bisa saja seorang mafia. Kau meminjam uang dari orang salah untuk membuka restoran, dan jadilah sebuah cerita thriller—atau setidaknya fondasi dari cerita thriller.”


10. Ingatlah untuk berambisi


Tidak, ini bukan berarti memutuskan untuk mulai menulis cerita thriller (yang merupakan suatu keputusan besar). Meskipun memiliki teknik menulis yang luar biasa, kau butuh kreatifitas untuk menaikkan kualitas tulisanmu ke tingkat selanjutnya. Semua buku Dan Brown mengandung isu-isu penting yang sudah terkenal luas—seperti isu agama atau kelebihan populasi. Dan Brown memilih isu-isu ini karena menurutnya isu-isu ini berguna. Intinya, tema-tema ambisius membuat taruhannya lebih tinggi.


Baca juga:
– 10 Fakta Menarik Dibalik Sosok Dan Brown
– Memahami Artificial Intelligence Lebih Dalam

“Jika kau membuat cliffhanger tentang akhir dunia, isunya akan menjangkau lebih banyak orang, dibandingkan jika kau membuat cliffhanger tentang mengantarkan anak ke sekolah tepat waktu. Keduanya efektif dalam genrenya masing-masing, tapi aku memilih tema-tema besar karena lebih menarik bagi banyak orang.”

 

Jadi, mulailah berambisi, belajar dan mulai menulis. Siapa tahu, mungkin kau akan menjadi Dan Brown berikutnya.[]

*Diterjemahkan dan disadur dari artikel Quartzy karya Aisha Hassan Dan Brown’s Top 10 Tips on How to Write A Bestselling Thriller

0

Artikel, baru, Kolom Editor

Siapapun dirimu

Apa pun keyakinanmu

Semuanya akan berubah


Dan Brown, sang penulis novel-novel bestseller, kembali dengan kisah mencengangkan tentang Profesor Robert Langdon. Bertajuk Origin, novel ini menjadi novel kelima dalam serial Robert Langdon yang sebelumnya telah dikenal oleh jutaan pembaca di sepenjuru dunia lewat Angels and Demons, The Da Vinci Code, The Lost Symbol, dan Inferno.

Novel Origin karya Dan Brown


Origin
pertama kali dirilis pada Oktober 2017 dalam Bahasa Inggris. Di tahun yang sama, novel ini mendapat nominasi Goodreads Choice Award untuk kategori Mystery & ThrillerOrigin bertengger di daftar New York Times bestsellers selama lebih dari 20 minggu. Kini, Origin telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia.

Baca juga:
– Dan Brown’s Inferno: Instanbul, Destinasi Wisata yang Eksotis
– 3 Cara Mudah Menikmati Keindahan Sagrada Familia, Barcelona

Butuh waktu 4 tahun bagi Dan Brown untuk melakukan riset dan menulis novel Origin. Dia menghabiskan banyak waktu di Spanyol, yang menjadi latar tempat utama dalam novel ini.

Seperti novel-novel Dan Brown lainnya, Origin juga memiliki ciri khas berupa deskripsi mendetail tentang berbagai lokasi bersejarah yang didatangi oleh Langdon, wanita cantik nan cerdas yang mendampingi Langdon dalam menjalankan misinya, serta tema cerita yang kontroversial.


Penasaran lebih lanjut tentang Origin? Simak sinopsisnya berikut ini.

Robert Langdon, profesor simbologi dan ikonologi agama Universitas Harvard, tiba di Museum Guggenheim yang supermodern di Bilbao, Spanyol, untuk menghadiri pengumuman besar tentang penemuan yang “akan mengubah dunia sains.” Tuan rumah acara malam hari itu adalah Edmond Kirsch, seorang miliuner dan futuris berusia empat puluh tahun.

Kirsch adalah sosok yang terkenal di seluruh dunia, berkat penemuan-penemuan teknologi tingkat tingginya yang mengagumkan, serta prediksi-prediksinya yang berani. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa Langdon dua puluh tahun yang lalu, dan sekarang dia akan mengungkap suatu terobosan yang mencengangkan… yang akan menjawab dua pertanyaan fundamental terkait eksistensi manusia.

Begitu acara dimulai, Langdon dan beberapa ratus hadirin lainnya terpukau oleh pemaparan yang begitu orisinil, dan Langdon menyadari bahwa ini akan jauh lebih kontroversial daripada dugaannya. Namun acara yang telah diatur dengan amat cermat itu tiba-tiba kacau balau, dan penemuan berharga Kirsch nyaris hilang selamanya.

Terguncang dan menghadapi bahaya besar, Langdon terpaksa melarikan diri dari Bilbao. Dia didampingi oleh Ambra Vidal, sang direktur museum yang bekerja sama dengan Kirsch untuk menyelenggarakan acara. Keduanya bertolak ke Barcelona untuk mencari password teka-teki yang akan mengungkap rahasia Kirsch.

Menyusuri koridor-koridor gelap sejarah rahasia dan agama ekstrim, Langdon dan Vidal harus menghindari lawan yang sepertinya tahu segalanya, yang kemungkinan didukung oleh pihak Istana Kerajaan Spanyol … yang akan melakukan apa pun untuk membungkam Edmond Kirsch.

Baca juga:
– Ingin Jadi Penulis? Simak Pesan Penting dari Dan Brown Yuk!
– Wanita-Wanita Cerdas nan Elegan ala Novel Dan Brown

Mengikuti jejak-jejak tersembunyi dalam karya seni modern dan beragam simbol misterius, Langdon dan Vidal menemukan petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membawa mereka berhadapan dengan penemuan Kirsch… dan kenyataan mencengangkan yang selama ini tidak kita ketahui.

Dan Brown dan Columbia Pictures kini sedang bekerjasama untuk mengadaptasi Origin ke film layar lebar. Ini akan menjadi film keempat yang diangkat dari novel karya Dan Brown setelah The Da Vinci Code pada 2006, Angels and Demons pada 2009, dan Inferno pada 2016.***
0

X