fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Traveling ala Muslim

Muslim travel, apa yang muncul di benakmu ketika mendengar istilah tersebut? Hmm, mungkin gambaran orang-orang yang mengenakan jubah berwarna putih dan abaya hitam sedang mengelilingi Kakbah? Menikmati makanan khas timur tengah seperti lamb shawarma (kebab domba khas Turki) dan ayam tandoori yang membuat ngiler? Atau, mungkin membayangkan influencer berhijab favorit kamu yang berfoto OOTD di tengah gurun dengan hashtag #VisitDubai?



Belakangan ini, istilah muslim travel sering dikaitkan dengan 2 hal yang ‘ekstrim’: perjalanan religius untuk melaksakan ibadah haji serta umrah atau perjalanan yang hanya sekadar mencari tempat kuliner halal dan berfoto menggunakan baju tertutup di tempat yang eksotis.

Spoiler alert: muslim travel lebih dari hal-hal itu lho!

Baca juga:
Daftar Selebriti Dunia yang Membantu Kampanye Kemanusiaan
7 Negara yang Menerima Arus Pengungsi

Yang Hilang dari Tulisan-tulisan Mainstream tentang Muslim Travel


Konten-konten pada kanal blogger yang membahas muslim travel biasanya membahas hal-hal di bawah ini.

1. Cara menabung dan mempersiapkan perjalanan ibadah haji atau umrah.
2. Rekomendasi hotel-hotel dan restoran berlabel halal.
3. Tips-tips mempersiapkan pakaian yang harus dibawa dan cara memakai hijab supaya nyaman menghadapi perbedaan cuaca.

 

Tema-tema yang umum dan mirip, ya?

Saat ini artikel tentang muslim travel sangat berpusat pada proses perencanaan untuk menunjukkan bagaimana cara mengurus kebutuhan fisik seperti makan, penginapan, pakaian, serta tempat berbelanja ketika berada di luar negeri. Tentu saja, hal-hal tersebut merupakan informasi yang sangat berguna karena membuat perjalanan lebih mudah dan nyaman bagi wisatawan muslim.



Namun, artikel-artikel mainstream ini juga kekurangan sesuatu yang sangat penting.


Muslim travel lebih dari sekadar ibadah haji, makanan halal, dan pakaian nyaman bagi hijabers—tetapi juga tentang traveling yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Ironisnya, hal yang hilang dari percakapan umum tentang muslim travel adalah muslim itu sendiri.


Menempatkan Kembali ‘Muslim’ dalam Muslim Travel


Sebagai seorang blogger muslim dan pecinta traveling, Annum Munir percaya bahwa memang ada cara yang Islami ketika melakukan perjalanan—yaitu lebih merasakan kehadiran Allah, mempelajari sejarah umat manusia, dan planet Bumi yang kita tinggali.

1. Mengingat Allah dengan Mengamati Ciptaan-Nya


Cara pertama untuk menempatkan kembali ‘muslim’ dalam muslim travel adalah dengan mengurangi frekuensi mengambil swafoto (selfie), foto yang malah membuat tempat wisata hanya menjadi latar belakang untuk postingan OOTD. Muslim travel lebih berfokus kepada sisi spiritualitas perjalanan.

Dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 20, Allah berfirman:

Katakanlah, “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (mahkluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir”.


Dalam ayat ini, manusia diminta untuk bepergian dan menemukan hal-hal menakjubkan yang telah Allah ciptakan di Bumi.  Ayat yang sederhana tapi kuat ini memiliki makna filosofis yaitu aku melihat, maka aku percaya. Ketika kamu meninggalkan ‘hutan kota’ buatan manusia dan mengunjungi tempat-tempat dengan keindahan alam yang mempesona (seperti pulau Maldives pada gambar di atas), kamu pasti akan merasa takjub.

Baca juga:
Jangan Putus Asa, Ini 9 Cara Untuk Bangkit Lagi!
5 Kata Nouman Ali Khan Tentang Al Quran

Ketika kamu memperhatikan keragaman yang ada dalam hidup ini dengan saksama dari mulai berbagai macam keunikan manusia, flora serta fauna, maka kamu akan menyadari betapa semuanya berada dalam harmoni yang begitu sempurna. Hal-hal tersebut akan menjadi pengingat bahwa dunia ini tidak muncul secara tiba-tiba; dunia ini diciptakan oleh Al-Khaliq, Maha Pencipta. Seorang hamba mampu menghargai Sang Pencipta ketika dirinya menyediakan waktu untuk mengagumi hasil ciptaan-Nya.

Marilah melakukan perjalanan untuk mengagumi kekuasaan Sang Pencipta, tidak hanya sekadar menjadi model di depan sebuah landmark.

2. Mempelajari Sejarah Keislaman

 


Cara kedua yang bisa diterapkan dalam traveling secara Islami adalah mempelajari tentang kebudayaan dan sejarah dari negara yang sedang dikunjungi. Hal ini dapat memunculkan rasa syukur atas seberapa jauh perjalanan yang telah dilalui dan menyadari bahwa perjalanan tersebut telah ikut andil dalam mengubah dunia.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, No. 2699)


Hadist ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju surga. Begitu juga dengan traveling, kesempatan terbaik untuk mempelajari tentang warisan-warisan Islam. Memahami pengaruh generasi muslim terdahulu yang datang dari berbagai belahan dunia dapat membuat kita lebih terhubung dengan sejarah serta masa lalu umat muslim.

Dengan mempelajari tantangan dan perjuangan yang dihadapi oleh generasi muslim terdahulu, kita akan merasa sangat bersyukur atas pengorbanan yang telah mereka lakukan. Kita juga akan menemukan inspirasi dan pelajaran berharga jika mempelajari kemenangan dan pencapaian para leluhur muslim tersebut.

Baca juga:
Real Madrid Beri Penghormatan Kepada Ahed Tamimi
Persamaan Ahed Tamimi Dengan Para Pejuang Wanita

Sebagai contohnya, tahukah kamu bahwa Grand Mosque of Paris (Masjid Agung Paris, gambar di atas) dibangun sebagai tanda terima kasih kepada para pejuang muslim yang berperang melawan Jerman dalam Perang Dunia I? Selama Perang Dunia II, masjid ini menyediakan tempat berlindung dan jalur aman bagi orang-orang Yahudi. Grand Mosque of Paris melindungi mereka dari penganiayaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman ketika menduduki kota Paris.

Bepergian-lah untuk mengisi pikiran—tidak sekadar mengisi perut dengan makanan halal.

3. Melindungi Planet Bumi

 


Cara ketiga untuk traveling ala muslim adalah dengan menerapkan sikap ramah lingkungan—turut andil dalam upaya melestarikan, bukan sekadar memotret tempat-tempat yang dikunjungi.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian” (H.R. Muslim: 2742).


Ada banyak ayat Al-Quran dan perkataan Nabi Muhammad SAW yang menekankan tanggung jawab umat manusia untuk menjaga Bumi ini. Allah telah menjadikan manusia sebagai penjaga Bumi—planet yang memberikan kita kehidupan. Oleh karena itu, kita harus melakukan perjalanan dengan penuh kehati-hatian, misalnya membatasi sampah dan konsumsi yang berlebih serta meminimalkan jejak ekologis yang kita timbulkan.

Salah satu contoh yaitu wilayah Algarve di Portugal (lihat gambar di atas) yang merupakan tempat bagi beberapa pantai paling indah di Eropa. Jika berkesempatan mengunjungi Algarve, kamu bisa turut mendukung gerakan inisiatif keberlanjutan dengan memilih untuk mengunjungi pantai-pantai yang terakreditasi dengan label ramah lingkungan Blue Flag—salah satu lembaga terkenal di dunia yang berkecimpung di bidang ekologi, khususnya pantai.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Tanggung jawab untuk menjaga alam juga berhubungan dengan menjaga kelestarian hidup satwa-satwa. Ketika traveling, sebisa mungkin jangan terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan kekerasan pada binatang, misalnya seperti yang terjadi pada Owl Cafe di Jepang.

Jadilah seorang traveler beretika–bukan traveler egois.***

Artikel ini diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari artikel berjudul There Is a Muslim Way to Travel and It’s Not What You Think.

0

Artikel, baru

Daniel Keyes, seorang penulis fiksi ilmiah dan non-fiksi Amerika yang sering mengeksplor otak dan pikiran manusia dalam novelnya. Salah satu novel klasik karyanya yang berjudul Flowers for Algernon, mengawali karier Daniel Keyes sebagai penulis yang terkenal di seluruh dunia.


Flowers for Algernon pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 sebagai sebuah cerita pendek dan kemudian dirilis dalam bentuk novel pada tahun 1966. Novel yang menceritakan eksperimen seorang lelaki yang IQ-nya meningkat drastis secara artifisial ini sudah terjual jutaan kopi dan dialihbahasakan ke dalam beberapa bahasa, termasuk Bahasa Indonesia yang baru-baru ini kembali diterbitkan dengan judul Charlie.

Latar Belakang Keluarga

 

Daniel Keyes lahir di Brooklyn, New York City, pada 9 Agustus 1927. Ayah Daniel Keyes mengelola sebuah toko barang bekas yang menjual buku, besi tua, dan pakaian tua. Sedangkan Ibunya, Betty, merupakan ahli kecantikan yang belajar secara otodidak. Sejak usia dini Daniel Keyes memiliki rabun jauh dan dia sangat ketakutan bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi buta. Hal tersebut mendorongnya untuk terus membaca dengan penuh semangat.

 

Seperti yang ditulis dalam memoar tahun 1999 berjudul Algernon, Charlie, and I: A Writer’s Journey, Daniel Keyes menjelaskan bahwa orang tuanya berharap agar dirinya menjadi seorang dokter. Namun, Daniel Keyes kemudian memutuskan untuk bergabung dengan US Maritime Service di bagian pembuatan kapal. Setelah selesai bertugas di US Maritime Service, dia berhasil lulus dan mendapatkan gelar sarjana psikologi di Brooklyn College pada tahun 1950. Pada tahun 1961, Keyes menyelesaikan pendidikan magister di bidang sastra pada universitas yang sama.

 

Kekuatan Daniel Keyes


Daniel Keyes mendapatkan Hugo Award untuk versi cerita pendek Flowers for Algernon dan Nebula Award untuk versi novelnya sebagai pengakuan atas prestasi dalam fiksi ilmiah dan fantasi. Bagi banyak pembaca, Flowers for Algernon lebih dari sekadar karya fiksi ilmiah. Novel ini dipuji secara luas, termasuk oleh Isaac Asimov –seorang ahli biokimia dan penulis terkenal asal Rusia. Asimov menulis dalam Paratexts: Introductions to Science Fiction and Fantasy bahwa novel tersebut merupakan kisah yang sangat mengejutkan sehingga membuat dirinya benar-benar tersesat dalam kekaguman. Menurut Asimov, Keyes mampu memunculkan kelembutan perasaannya sekaligus keterampilan luar biasa dalam menceritakan kisahnya.

 

Kritikus Washington Post, Joseph McLellan, menyatakan bahwa Daniel Keyes mampu membawakan cerita dengan brilian—tidak hanya menceritakan secara jelas namun juga menghadirkan kehangatan tersendiri. Keyes juga berhasil memunculkan perasaan empati bagi tokoh yang memiliki gangguan mental dalam novel tersebut sehingga menjadikan Flowers for Algernon salah satu novel paling berkesan di tahun 60-an.


Bagaimana Daniel Keyes Menulis

Inspirasi untuk menulis kisah Charly Gordon datang ketika Daniel Keyes mengajar di Special Modified English, yaitu sebuah kursus bagi murid-murid yang kesulitan membaca. Dalam kelas tersebut Keyes bertemu dengan seorang murid lelaki yang tidak puas akan tempatnya di ‘kelas khusus orang bodoh’. Murid tersebut bersikeras minta diajari oleh Keyes supaya dia bisa menjadi ‘orang pintar’. Di kelas lain, Keyes menyaksikan seorang murid dengan kesulitan belajar yang mengalami kemajuan signifikan. Namun, kemudian murid tersebut mengalami kemunduran drastis ketika berhenti mengikuti pelajaran. “Ketika dia kembali ke sekolah, dia telah kehilangan semuanya,” ungkap Keyes. “Dia tidak bisa membaca. Dia kembali ke keadaan semula. Kejadian yang membuat patah hati.”

 

Pada tahun 1981, Daniel Keyes kembali menghasilkan karya best-seller dengan genre non-fiksi berjudul The Minds of Billy Milligan. Karya ini didasari oleh kisah nyata William Stanley Milligan, seorang pria yang dianggap sebagai kriminal atas kejahatan pencurian dan pemerkosaan. Namun, William Stanley menggunakan kondisi mentalnya sebagai pembelaan atas semua tindak kejahatan yang dituduhkan. Pengacaranya menjelaskan bahwa ada dua kepribadian lain William Stanley yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut. William Stanley kemudian dibebaskan dari segala tuntutan kriminal dan diharuskan menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama sepuluh tahun. Keyes mewawancarai William Stanley sejak tahun 1979 untuk penulisan buku The Minds of Billy Milligan.

 

Daniel Keyes merupakan Profesor Emeritus di Ohio University sejak tahun 2000. Dia menikahi Aurea Vazquez di tahun 1952 dan memiliki dua orang putri, bernama Hillary Keyes dan Leslie Keyes. Daniel Keyes meninggal pada 15 Juni tahun 2014.

 

Karya-karya Daniel Keyes

 

Flowers for Algernon (short story, 1959)

Flowers for Algernon (novel, 1966) adapted for cinema as Charly (1968)

The Touch (1968; re-edited and published as The Contaminated Man, 1977)

The Fifth Sally (1980)

The Minds of Billy Milligan (1981)

Unveiling Claudia (1986)

Daniel Keyes Collected Stories (Japan, 1993)

The Milligan Wars: A True-Story Sequel (Japan, 1994)

Until Death (1998)

Algernon, Charlie, and I: A Writer’s Journey (2000)

The Asylum Prophecies (2009)


Simak video berikut!

 



Penghargaan-penghargaan yang Diterima Daniel Keyes

 

1960: Hugo Award for the short story “Flowers for Algernon”

1966: Nebula Award for the novel Flowers for Algernon

1986: Kurd Lasswitz Award for The Minds of Billy Milligan

1993: Seiun Award (Non-Fiction of the Year) for The Minds of Billy Milligan

2000: Author Emeritus Award from Science Fiction and Fantasy Writers of America[]

Dapatkan novel BILLY 24 Kepribadian Billy Milligan dalam Satu Tubuh dan CHARLIE: THE ACCIDENTAL GENIUS di buku kesayanganmu atau di Mizanstore.com!

Simak tulisan Fauziah Hafidha menarik lainnya!
0

Artikel, baru

Jostein Gaarder lahir pada 8 Agustus 1952 di Oslo, Norwegia. Jostein Gaarder dikenal oleh dunia lewat novelnya Dunia Sophie. Selain menulis, dia giat mengampanyekan pelestarian lingkungan melalui Sofie Foundation yang dia dirikan bersama istrinya, Siri pada 1997. Saat ini, dia tinggal di Oslo, Norwegia. Sejak tahun 1996, Penerbit Mizan telah menerjemahkan dan menerbitkan berbagai novel Jostein Gaarder.

Fauziah Hafidha menuliskan biografi singkat serta bagaimana dan mengapa Jostein Gaarder menjadi pengarang dalam artikel berikut ini.

 

Jostein Gaarder, Pengarang Novel Best-Seller Dunia Sophie

 

Jostein Gaarder merupakan penulis best-seller dunia yang berfokus pada sejarah filsafat dan agama khususnya untuk pembaca muda. Seperti yang ditulis di wikipedia.org, karya-karya Jostein Gaarder mencakup novel, cerita pendek dan buku anak.

 

Gaya Tulisan Jostein Gaarder

 

Gaarder sering menulis dari sudut pandang anak-anak dan mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka tentang dunia. Menurut Gaarder, dikutip dari artikel kumparan.com, anak-anak dan filsuf memiliki persamaan yang mendasar yaitu kepekaan dan rasa penasaran terhadap hal-hal baru yang jarang dimiliki oleh orang dewasa pada umumnya. Bagi Jostein Gaarder, filsafat merupakan pertanyaan manusia yang berasal dari rasa terpukau akan dunia dan kehidupan–dan pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu berkembang.

 

Jostein memiliki ciri khas dalam menuturkan ceritanya, yaitu tokoh dalam buku yang menulis surat. Seperti yang ditulis dalam kumparan.com, Gaarder mengakui bahwa dirinya memang banyak menulis cerita berbingkai yaitu adanya cerita di dalam cerita. Hal tersebut itu akan lebih mudah dituturkan melalui metode surat. Gaarder beranggapan bahwa saat seseorang menulis surat, orang tersebut akan mampu mengungkapkan diri serta berbagai imajinasinya ke dalam bentuk tulisan.

Jostein berasal dari keluarga akademisi sehingga memiliki minat yang besar pada kegiatan membaca, menulis, dan mengajar. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah, sementara ibunya seorang guru dan penulis buku anak-anak. Gaarder bersekolah di Oslo Katerdralskole dan juga belajar linguistik serta teologi Skandinavia di Universitas Oslo.

 

Memutuskan untuk Menjadi Penulis

 

Seperti yang ditulis pada laman ft.com, penulis asal Norwegia ini memutuskan untuk menjadi penulis pada usia 19 tahun setelah bertemu dengan istrinya. Jostein  mengaku sudah memikirkan hal ini sebelumnya tetapi dia kemudian membuat keputusan untuk melakukannya ketika merasakan jatuh cinta. Lebih lanjut dalam laman ft.com Jostein Gaarder menyebutkan beberapa tokoh sastra yang menjadi inspirasinya sebagai penulis yaitu Jorge Luis Borges, Dostoevsky, Herman Hesse dan penulis asal Norwegia, Knut Hamsun. Jostein juga mengaku terinspirasi dari buku-buku yang ditulis oleh AA Milne, Antoine de Saint-Exupéry, Dickens, dan cerita-cerita rakyat Norwegia abad ke-19.

 

Dua Buku yang Mengubah Hidup Jostein Gaarder

 

Lebih lanjut dalam ft.com, Jostein mengatakan bahwa ada dua buku yang mampu mengubah hidupnya, yaitu Lillelord (1955) oleh seorang penulis Norwegia bernama Johan Borgen dan Crime and Punishment oleh Dostoevsky. Jostein membaca kedua buku tersebut saat dirinya berusia 18 tahun. Menurut Jostein, buku-buku tersebut dapat ‘mengubah’ seorang anak laki-laki menjadi seorang pria.





Bagaimana Jostein Gaarder Menulis

 

Jostein Gaarder mulai bekerja setelah jam 11 pagi. “Saya tahu bahwa banyak penulis sibuk menulis di meja mereka dari jam sembilan hingga jam lima, dan saya mengagumi disiplin diri yang mereka miliki,” kata Gaarder, tetapi menambahkan bahwa hal tersebut bukan untuk dirinya. Dalam wawancara yang dirilis oleh norway29.com, Jostein menceritakan bahwa di pagi hari dirinya sering meluangkan waktu untuk minum secangkir kopi sambil mendengarkan acara budaya di NRK, stasiun radio publik Norwegia. Meskipun begitu, dalam laman ft.com, Jostein Gaarder mengaku tidak ada hari yang benar-benar sama karena dirinya melakukan banyak hal lain dan sangat aktif dalam kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan.

Ketika menulis novel Sophie’s World, Jostein Gaarder membutuhkan waktu tiga bulan yang hanya diisi dengan mayoritas kegiatan untuk menulis dan tidur. Dia juga mengatakan dapat bekerja selama 14 jam sehari ketika sedang mengerjakan sebuah buku. Dalam artikel norway2019.com, Jostein menceritakan bahwa terkadang dia bekerja sambil ditemani video konser di YouTube milik musisi Grieg, Rachmaninoff atau Tschaikovsky.




Penghargaan yang Diterima Jostein Gaarder

 

Gaarder telah menerima beberapa pengakuan dan penghargaan atas kontribusinya di bidang sastra. Beberapa penghargaan tersebut, dikutip dari famousauthor.org, adalah Norwegian Critics Prize for Literature (1990), Norwegian Booksellers’ Prize (1993), Deutscher Jugendliteraturpreis (1994), Premio Bancarella (1995), Buxtehude Bull (1997), Willy-Brandt Award (2004), Commander, The Royal Norwegian Order of St. Olav (2005) serta gelar kehormatan dari Trinity College, Dublin.

Karya Jostein Gaarder yang paling terkenal adalah novel Sophie World: A Novel About the History of Philosophy (1991). Novel tersebut telah diterjemahkan ke dalam 60 bahasa, salah satunya dalam Bahasa Indonesia dengan judul Dunia Sophie. Novel ini juga disebut-sebut telah terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia.

 

Karya-karya Jostein Gaarder (sumber: wikipedia.org):

 

  1. Diagnosen og andre noveller (The Diagnosis and Other Stories) (1986)
  2. Froskeslottet (The Frog Castle) (1988)
  3. Kabalmysteriet (The Solitaire Mystery) (1990)
  4. Sofies verden (Sophie’s World) (1991)
  5. Julemysteriet (The Christmas Mystery) (1992) (1995 edition illustrated by Stella East)
  6. Bibbi Bokkens magiske bibliotek (Bibbi Bokken’s magic library) (together with Klaus Hagerup (1993)
  7. I et speil, i en gåte (Through a Glass, Darkly) (1993)
  8. Hallo? Er det noen her? (Hello? Is Anybody There?) (1996)
  9. Vita Brevis: A Letter to St Augustine (Also published in English as That Same Flower) (1998)
  10. Maya (1999)
  11. Sirkusdirektørens datter (The Ringmaster’s Daughter) (2001)
  12. Appelsinpiken (The Orange Girl) (2004)
  13. Sjakk Matt (Checkmate) (2006)
  14. De gule dvergene (The Yellow Dwarves) (2006)
  15. Slottet i Pyreneene (The Castle in the Pyrenees) (2008)
  16. Det spørs (2012)
  17. En fabel om klodens klima og miljø (Anna. A fable about the earth’s climate and environment) (2013)
  18. Anton og Jonatan (Anton and Jonatan) (2014)
  19. Dukkeføreren (2016)
  20. Akkurat Passe (Just Right) (2018)

 

Karya terbaru dari Jostein Gaarder berjudul Akkurat Passe: En liten fortelling om nesten alt atau dalam Bahasa Inggris disebut Just Right: A Brief Story of Almost Everything. Novel terbaru ini juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indoensia dengan judul The House of Tales.

0

Artikel, baru
Sagrada Familia dibangun secara ilegal selama 137 tahun, terang CNN.com.

 


Namun, pada 7 Juni 2019, gereja Katolik Roma akhirnya menerima izin pembangunan gereja peninggalan arsitek Antoni Gaudi tersebut. Pemerintah kota Barcelona bahkan memberikan dana sebesar 4,6 juta euro (atau sekitar 5,2 juta dolar) kepada komite yang bertugas menyelesaikan pembangunan gereja. Dana ini digunakan dalam proyek yang bertujuan mengurangi dampak lingkungan yang terjadi dari kedatangan jutaan pengunjung Sagrada Familia.


Baca juga:
Penasaran dengan Novel Origin, Ini Dia Sinopsisnya!
5 Fakta Menarik Tentang Novel Terbaru Dan Brown Origin


Antoni Gaudi, menurut blog.sagradafamilia.org, telah meminta izin mendirikan bangunan gereja katolik tersebut pada tahun 1885 dari dewan kota Sant Martí de Provençals, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban. Permintaan ini juga dilengkapi dengan blue print desain Sagrada Familia yang ditandatangani langsung oleh Antoni Gaudí. Meskipun pembangunan gereja neo-Gotik tersebut dimulai tahun 1882, pihak berwenang baru menyadari pada tahun 2016 bahwa pembangunan ini belum memiliki izin.

 

Sagrada Familia akan memiliki ketinggian maksimum 172 meter dan disokong dengan anggaran 374 juta euro.


Gaudi, sang arsitek, mengabdikan hidupnya untuk membangun mahakaryanya sampai akhirnya tewas akibat kecelakaan pada tahun 1926. Situs voaindonesia.com menyebutkan bahwa sejak kematian Antoni Gaudi, sepuluh arsitek telah melanjutkan pekerjaannya berdasarkan model dari gipsum buatan Gaudi dan foto-foto serta publikasi dari gambar aslinya. Pembangunan gereja ini diharapkan selesai pada tahun 2026, bertepatan dengan peringatan 100 tahun kematian Antoni Gaudí.

 

 

Sagrada Familia juga menjadi salah satu tempat yang menjadi latar belakang novel thriller terbaru Dan Brown, Origin. Dalam novel tersebut, Dan Brown menulis bahwa Antoni Gaudi merupakan seorang pelajar alam yang menimba inspirasi arsitekturnya dari bentuk-bentuk organik dan menggunakan “alam ciptaan Tuhan” untuk membantunya mendesain bangunan-bangunan dengan bentuk biomorfis yang luwes—sering kali terlihat seolah-olah tumbuh sendiri dari tanah.

 

Konon, Gaudi pernah berkata bahwa tidak ada garis lurus di alam. Karya-karya Antoni Gaudi antara lain berupa taman-taman, gedung-gedung umum, rumah-rumah megah milik pribadi, dan tentu saja mahakaryanya Sagrada Família. Dan Brown membagikan berita CNN tentang ijin pembangunan Sagrada Familia ini di laman facebook-nya dan mengatakan “Finally, they can officially break ground on Gaudí’s 137 year old masterpiece”.


Baca juga:
4 Kota Jejak Sejarah Islam Di Spanyol
6 Bangunan Bersejarah di Spanyol

Seperti dilansir voaindonesia.com, setiap tahunnya lebih dari 4,5 juta orang mengunjungi basilika yang dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO tersebut.

 

Hmm, terpikir untuk mengunjungi Sagrada Familia? Sebelum benar-benar travelling mengunjungi kota Barcelona, Anda bisa mencoba beberapa tips mudah dan murah untuk menikmati keindahan Sagrada Familia. Selamat mencoba :).[]

0

Artikel, baru

Stasiun TV Amerika, NBC (National Broadcasting Company), berencana meluncurkan serial TV terbaru berjudul Langdon. Serial TV ini terinspirasi dari novel best-seller Dan Brown bertajuk The Lost Symbol. Judul serial ini diambil dari nama tokoh utama dalam seri buku Robert Langdon, yang sebelumnya diperankan oleh Tom Hanks dalam film-film yang disutradarai Ron Howard, The Da Vinci Code, Angels & Demons serta Inferno.


The Lost Symbol karya Dan Brown

Baca juga:
Penasaran dengan Novel Origin, Ini Dia Sinopsisnya!
Fakta Robert Langdon Ini Tidak Ada Dalam Film

Dirilis pada situs deadline.com, serial Langdon akan berfokus pada petualangan awal Robert Langdon. Simbolog muda Harvard ini terjebak dalam serangkaian teka-teki mematikan setelah mentornya diculik dan penemuan benda misterius di gedung Capitol. CIA kemudian memaksa Langdon untuk menyelesaikan tugas yang akhirnya mengungkap sebuah konspirasi mengerikan.



NBC telah bekerja sama dengan Brian Grazer’s Imagine Entertainment, studio TV CBS, dan Universal TV untuk proyek tersebut. Seperti yang dilansir pada situs screenrant.com, serial ini juga akan ditangani oleh Daniel Cerone sebagai executive produser dan dibantu oleh Ron Howard. Rincian produksi serial TV Langdon akan segera dirilis, termasuk pilihan pemeran untuk peran utama Robert Langdon.

 

Mulanya, The Lost Symbol dijadwalkan menjadi film blockbuster berikutnya dalam seri petualangan Robert Langdon, namun produksi film tersebut dihentikan pada tahun 2013. Serial TV ini nampaknya akan menjadi jalan bagi novel The Lost Symbol untuk lebih bersinar.


Baca juga:
Wanita-Wanita Cerdas nan Elegan ala Novel Dan Brown
Nostalgia Review Film Inferno: Twist Sempurna yang Terbaca


Hmm,
sepertinya novel thriller The Lost Symbol akan lebih seru dijadikan sebagai serial TV dibandingkan film. Seperti yang ditulis di situs geektyrant.com, akan begitu banyak detail cerita dan karakter yang hilang ketika novel-novel Dan Brown dipadatkan menjadi film berdurasi 2 jam saja. Bagaimana menurutmu?[]
0

Artikel

Dan Brown terkenal sebagai penulis novel ber-genre thriller dengan jalan cerita yang menegangkan. Tokoh andalan novel Dan Brown, Robert Langdon, dikisahkan sebagai seorang profesor simbologi Harvard University yang sering terjebak dalam situasi penuh bahaya. Kebut-kebutan menggunakan mobil pinjaman, dikejar-kejar orang tak dikenal yang membawa senjata api, terpaksa turun dari helikopter di tengah malam  atau terbangun di rumah sakit asing dengan luka tembak di kepala.

 

Perjalanan luar biasa yang dialami Profesor Langdon dalam setiap cerita ternyata selalu didampingi oleh seorang wanita cerdas. Mereka turut membantu memecahkan teka-teki dan rintangan yang dihadapi oleh Langdon. Siapa saja karakter-karakter wanita yang pernah muncul dan menemani Robert Langdon?


Sophie Neveu, Ahli Kriptografi Cantik dari Paris



Wanita dari novel The Da Vinci Code yang berprofesi sebagai ahli kriptografi dari DCPJ (The Direction Centrale Police Judiciaire) ini merupakan cucu dari kurator museum Louvre, Jacques Saunière. Perkenalan Sophie Neveu dan Robert Langdon berawal ketika Langdon diundang untuk menemui Jacques Saunière, namun malah menemukan pria tersebut dibunuh secara mengenaskan dan menyebabkan Langdon dicurigai sebagai pelaku pembunuhan. Sophie yang ketika itu datang untuk penyelidikan akhirnya membantu Langdon kabur. Sophie berharap mereka mampu menemukan tersangka di balik pembunuhan kakeknya dan sekaligus menemukan jawaban tentang asal-usul keluarganya -sebuah pesan yang berusaha disampaikan Saunière sebelum kematiannya.

 

Seperti yang ditulis di situs charactour.com, Sophie Neveu merupakan wanita dengan kepribadian yang penuh perhatian dan cerdas. Dalam perjalanan memecahkan teka-teki dari Saunière, Sophie memperlihatkan karakter yang pantang menyerah. Dengan pengetahuannya, dia mampu membantu Langdon memecahkan kode-kode penting dalam kasus ini, termasuk menjelaskan tentang cryptex yang sama sekali tidak diketahui Langdon sebelumnya. Sophie juga digambarkan memiliki fisik yang cantik dan menarik. Seperti yang diungkapkan oleh atasannya, Fache, yang menyebut Sophie sebagai salah satu kesalahan terbesar DCJP karena dia adalah wanita muda yang menarik sehingga bisa mengalihkan perhatian anggota-anggota lain ketika bekerja.




Karakter Sophie Neveu dalam film diperankan oleh aktris Audrey Tautou. Aktris dari Perancis ini mulai dikenal luas setelah bermain di film Amélie pada tahun 2001. Dalam situr lefigaro.fr, Audrey mengatakan dirinya tidak menyangka akan mendapatkan peran sebagai Sophie Neveu karena merasa persiapannya sangat kurang ketika melakukan audisi. Namun ternyata sang sutradara, Ron Howard, memilih Audrey untuk memerankan peran tersebut dan mendampingi aktor senior Hollywood, Tom Hanks.

 

Sienna Brooks, Wanita Jenius dengan IQ 208




Wanita dari novel Inferno ini merupakan kekasih Bertrand Zobrist, ilmuwan yang mencoba menyebarkan virus berbahaya demi misi menyelamatkan keberlangsungan hidup manusia. Sienna Brooks awalnya menyamar sebagai seorang dokter muda yang menangani luka tembak di kepala Robert Langdon. Sienna kemudian membawa kabur Langdon dan menghilangkan jejak mereka berdua dari Konsorsium serta WHO. Dia ingin memanfaatkan Langdon agar dapat membantunya menemukan virus peninggalan kekasihnya yang telah bunuh diri.

 

Sienna Brooks digambarkan sebagai seorang wanita yang tinggi dan ramping. Meskipun begitu, dia memiliki kekuatan yang cukup untuk menopang badan Robert Langdon selama dibius. Kulit Sienna tampak halus meskipun tidak memakai make-up. Di dalam novel, Sienna digambarkan memiliki rambut pirang, sepanjang bahu yang selalu diikat ekor. Belakangan Sienna mengungkapkan bahwa itu hanyalah rambut palsu.




Karakter Sienna Brooks dalam film Inferno diperankan oleh aktris asal Inggris, Felicity Jones. Pada wawancara yang dirilis channel24.co.za, Felicity Jones menganggap pengalaman bekerja sama dengan Ron Howard dan Tom Hanks sangat berharga.  Dia memandang sosok mereka berdua merupakan sebagai pekerja film yang profesional, ambisius dan fokus pada pekerjaan namun tetap rendah hati. Dalam wawancara tersebut juga Felicity Jones menceritakan pengalaman syuting film Inferno yang membutuhkan stamina lumayan besar karena banyaknya adegan berlari yang harus dia lakukan menggunakan sepatu berhak tinggi!

 

Ambra Vidal, Direktur Museum dan Calon Ratu Spanyol




Wanita dari novel Origin ini merupakan direktur Museum Guggenheim Bilbao, Spanyol. Di dalam novel, Ambra diceritakan sebagai wanita cerdas, independen sekaligus cantik yang menjadi tunangan dari Pangeran Spanyol, Pangeran Julián, ahli waris takhta Spanyol. Ambra Vidal membantu Robert Langdon pergi ke Barcelona untuk memecahkan teka-teki Edmon Kirsch, seorang futuris yang mengklaim telah berhasil membongkar rahasia yang akan menjawab pertanyaan besar mengenai eksistensi kehidupan umat manusia.

Setelah berita pertunangannya dengan Pangeran Julián beredar, Ambra Vidal langsung menjadi selebriti terbaru Spanyol yang paling mencolok. Media langsung menjuluki Ambra Vidal sebagai “pasangan sempurna untuk seorang raja modern”. Ambra Vidal dianggap berbudaya, sukses, dan yang terpenting, bukan keturunan salah satu keluarga bangsawan Spanyol. Ambra Vidal hanya rakyat biasa.




Ambra Vidal tidak sekadar berwajah cantik namun juga independen. Meskipun menjadi calon ratu Spanyol, Ambra sama sekali tidak mengizinkan Guardia Real mengganggu jadwal hariannya dan hanya memperbolehkan agen Guardia Real mengawalnya saat acara publik besar. Jika Origin diadaptasi ke layar lebar, siapa aktris yang kira-kira cocok memerankan karakter Ambra Vidal? Mungkin yang mirip dengan Ratu Letizia, Catherine Duchess of Cambridge atau Princess Mary dari Denmark? 🙂

 

Vittoria Vetra, Fisikawan Anggun Penemu Antimateri




Wanita dari novel Angels and Demons ini merupakan seorang ilmuwan di CERN dan putri dari fisikawan sekaligus pastor, Leonardo Vetra. Dia pergi ke Kota Vatikan bersama Robert Langdon setelah mengetahui bahwa antimateri yang dia ciptakan bersama ayahnya akan digunakan untuk menghancurkan Kota Vatikan. Dia membantu Robert menemukan antimateri dan juga memecahkan teka-teki penculikan empat kardinal.

Meskipun seorang fisikawan, Vittoria Vetra tidak terlihat kutu-buku. Dia merupakan seorang wanita yang luwes dan anggun bertubuh tinggi dengan kulit cokelat kemerahan dan rambut hitam panjang.  Wajahnya jelas Italia—tidak terlalu cantik, tapi memiliki raut wajah sangat khas. Menurut atasannya, Maximilian Kohler, Vetra adalah perempuan dengan kekuatan fisik luar biasa. Dia mampu menghabiskan waktu berbulan-bulan setiap kali bekerja di dalam sistem ekologis yang berbahaya. Vetra juga merupakan seorang vegetarian dan guru-tetap CERN untuk Hatha Yoga.”




Dalam film Angel and Demons, Vittoria Vetra diperankan oleh aktris asal Israel bernama Ayelet Zurer. Seperti ditulis di situs imdb.com, Ayelet Zurer mulai dikenal luas setelah bermain dalam film Munich yang disutradai oleh Steven Spielberg. Dia juga merupakan seorang produser, penulis, dan ilustrator dua buku berjudul Shorts dan Badolina karya Gabi Nitazn.

 

***

 

Seorang pembaca bertanya, apakah Robert Langdon akan menikah? Dan Brown menjawab, ya mungkin.. mungkin dengan salah satu wanita-wanita yang pernah dia temui atau wanita baru yang akan muncul dalam novel selanjutnya. Siapa tokoh wanita dari Novel Dan Brown yang jadi favoritmu?

Baca juga: Dan Brown’s Inferno: Instanbul, Destinasi Wisata Yang Eksotis


Baca juga: 10 Tips Menulis Buku Laris Ala Dan Brown


0

Artikel

Perang selalu menjadi peristiwa yang tidak diinginkan, tapi sudah banyak terjadi sepanjang sejarah dunia –bahkan hingga hari ini. Simak beberapa buku terpopuler tentang perang, mulai dari buku paling klasik tentang strategi perang sampai novel yang memprediksi perang dunia ketiga.


1. The Art of War karya Sun Tzu

the-art-of-war

The Art of War merupakan buku strategi militer Tiongkok kuno yang ditulis pada abad ke-5 SM oleh ahli strategi militer Cina bernama Sun Tzu. Buku ini secara umum berisi tentang strategi dan taktik untuk memenangkan perang. The Art of War terdiri dari 13 bab dan pada setiap bab dikhususkan untuk satu aspek perang.

 

Salah satu poin utama yang dijabarkan Sun Tzu dalam The Art of War adalah kemampuan untuk mengenali musuh dan mengenali diri sendiri. Jika menguasai hal tersebut, maka tidak perlu takut dengan hasil pertempuran. Jika hanya mengenal diri sendiri, tetapi tidak mengenal musuh, Sun Tzu beranggapan bahwa dalam setiap kemenangan yang diperoleh akan ada kekalahan yang harus ditanggung. Jika sama sekali tidak mengetahui musuh dan diri sendiri, maka bersiaplah untuk menghadapi kekalahan.


Baca juga:
5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa

Menurut situs news24.com, The Art of War yang ditulis lebih 2.500 tahun lalu ini menjadi salah satu buku paling berpengaruh tentang pemikiran militer, taktik bisnis, serta hukum. Meskipun ditulis untuk strategi perang, buku ini ternyata dapat diaplikasikan untuk membantu menghadapi berbagai tantangan hidup. The Art of War juga merupakan salah satu buku yang cocok bagi para pebisnis. The Art of War secara umum memiliki potensi untuk menjadikan hidup manusia lebih berkualitas.


2. Once an Eagle karya Anton Myrer



Once an Eagle, merupakan novel perang yang terbit pada tahun 1968. Seperti ditulis pada situs northofseveycorners.com, Once an Eagle adalah novel klasik yang banyak dijadikan acuan oleh tentara Amerika. The Army War College di Carlisle, Amerika, kembali menerbitkan buku ini dengan tujuan menjadikannya sebagai bahan kursus untuk tema etika dan kepemimpinan di sekolah militer.

 

Novel dengan latar belakang perang Vietnam ini memiliki dua tokoh utama, Sam Damon dan Courtney Massengale. Sam merupakan sosok prajurit sejati, seorang komandan yang berjuang keras, serta dipenuhi kepedulian terhadap pasukannya. Sam Damon berhasil memimpin pasukan memenangi pertempuran demi pertempuran pada Perang Dunia I dan II. Meskipun pada akhirnya Sam Damon mati terbunuh. Sedangkan Courtney Massengale, lebih unggul secara karir dari Sam dengan cara memanipulasi sistem politik di Washington. Courtney sangat cerdik dalam mengambil langkah karir namun dia sama sekali tidak peduli terhadap pasukannya.

 

Seorang profesor sejarah, Kolonel Jerry Morelock, berpendapat bahwa Sam Damon merupakan seorang perwira yang diharapkan oleh para prajurit. Sedangkan Courtney Massengale, sebaliknya, adalah sosok perwira yang tidak inginkan sebagai atasan. Nama Sam Damon dan Courtney Massengale bahkan telah memasuki bahasa informal militer Amerika sebagai kata sandi bagi tentara-tentara yang memiliki kemiripan sifat dengan Sam dan Courtney. Misalnya, ketika seorang perwira ingin mengeliminasi seorang kandidat dari promosi kenaikan jabatan, yang harus dia lakukan hanyalah memberi tahu dewan peninjau dan memberi kode: “Dia adalah tipe Courtney Massengale.”

 

Anton Myrer, penulis Once an Eagle, meninggal pada 1996 di usia 73 tahun. Myrer merasa pengalamannya ketika mengikuti perang dunia kedua memiliki dampak besar pada kehidupannya. Seperti yang ditulis di situs northofseveycorners.com, Myrer mengatakan bahwa perasaannya tentang perang tecermin dalam novel Once an Eagle. Novel ini juga pernah diadaptasi sebagai serial televisi yang ditayangkan di Amerika pada tahun 1976.


3. Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole

 

Cerita tentang prediksi perang dunia ketiga, Ghost Fleet, adalah novel karya dua penulis asal Amerika, P.W. Singer dan August Cole. P.W. Singer, ahli strategis dan Senior Fellow di New America Foundation, masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di bidang pertahanan oleh Defense News. Sedangkan August Cole merupakan seorang analis dan konsultan dalam bidang kemanan nasional. Dia juga pernah aktif menjadi editor dan reporter untuk MarketWatch.com. Selain itu, August Cole pun serta pernah aktif di bagian pertahanan industri untuk Wall Street Journal.

 

Sebagai pakar serta ahli strategi dalam bidang pertahanan, Singer dan Cole mampu dengan baik menggabungkan tren dan teknologi terkini. Mereka mampu menggabungkan yang ada di dunia nyata ke dalam cerita fiksi pada novel Ghost Fleet. Novel Ghost Fleet mendokumentasikan hasil dari penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh Singer dan Cole sehingga cerita yang mereka tulis mampu mendekati fakta. Beberapa tema yang dibahas dalam novel tersebut antara lain: ketegangan politik, perubahan sosial, teknologi-teknologi yang muncul, dan sistem senjata yang sekarang dalam berbagai tahap pengembangan ke dalam sebuah narasi.

 

Dari mana judul Ghost Fleet berasal? Seperti yang dirilis pada situs thediplomat.com, ungkapan Ghost Fleet digunakan oleh angkatan laut Amerika untuk menyebut kapal-kapal yang dinonaktifkan. Dengan tujuan disimpan sebagai potensi yang akan digunakan ketika terjadi konflik di masa depan. Kapal-kapal ini lebih tua dan ketinggalan secara teknologi dibandingkan kapal-kapal modern. Namun sebenarnya kapal-kapal modern rentan terhadap ancaman. Menurut Singer dan Cole, kapal-kapal yang lebih tua cenderung aman dari ancaman yang berhubungan dengan teknologi masa kini.

 

Seperti yang ditulis di situs www.cia.gov, plot utama Ghost Fleet berkisar tentang pencurian kekayaan intelektual di dunia maya, ketegangan navigasi di Laut Cina Selatan, dan tentang etika penggunaan perangkat elektronik pribadi yang semakin berkurang. Selain penggambaran tentang masa depan peperangan, Ghost Fleet juga memberikan pandangan tentang masa depan intelijen. Novel ini sempat menjadi trending topic setelah ungkapan “2030 Indonesia Bubar” viral di media sosial Indonesia.


4. Brave New War karya John Robb



Buku yang diterbitkan tahun 2007 ini ditulis oleh John Robb, mantan perwira Angkatan Udara yang kemudian menjadi pengusaha di bidang teknologi. Karya-karya John Robb, baik dalam buku Brave New War dan blog pribadinya, merupakan hasil dari pengalaman militer serta bisnis selama bertahun-tahun.

 

Brave New War, seperti yang ditulis di situs automaticballpoint.com, tediri dari tiga bagian: The Future of War is Now, Global Guerrillas, dan How Globalization Will Put an End to Globalization. Bagian pertamanya sebagian besar membahas tentang situasi keamanan saat ini. John Robb juga membahas invasi Amerika ke Iraq serta sejumlah perang lain, seperti Perang Teluk dan Perang Chechnya. Bagian kedua, Global Guerrillas, merupakan bagian yang paling penting dalam buku ini. John Robb bahkan memiliki blog khusus dengan nama yang sama, Global Guerrillas. Sedangkan untuk bagian ketiga, John Robb berkonsentrasi pada kelemahan Amerika Serikat. Dia beranggapan Amerika sedang melemah dan warga negara benar-benar harus mempertimbangkan untuk mulai memikirkan tanggung jawab atas keamanan mereka sendiri.



5. What It Is Like to Go to War karya Karl Marlantes



What It Is Like to Go to War adalah buku nonfiksi tentang pengalaman perang yang banyak menyoroti kurangnya persiapan para tentara muda untuk menghadapi tekanan psikologis dan spiritual yang diakibatkan oleh perang. Seperti dirilis pada groveatlantic.com, sebelum menulis What It Is Like to Go to War, Karl Marlantes sukses dengan buku bertema perang, Matterhorn. Karya Karl Marlantes tersebut menjadi jajaran bestseller di New York Times dengan penjualan lebih dari 250.000 eksemplar.

 

Karl Marlantes pernah dikirim ke Vietnam ketika berusia 23 tahun sebagai komandan dari sekitar 40 orang prajurit. Marlantes sebenarnya merupakan seorang pemuda yang cerdas dan terlatih dengan baik untuk tugas tersebut, tetapi jauh dari persiapan mental untuk hal-hal yang nantinya akan dia alami di medan perang. Selama tiga belas bulan, dia mampu membunuh musuh namun dia juga menyaksikan teman-temannya tewas. Marlantes selamat, tetapi dia kemudian menghabiskan empat puluh tahun terakhir untuk menghadapi trauma dari perang tersebut.

 

Dalam buku What It Is Like to Go to War, Marlantes memberikan pandangan secara mendalam tentang pengalaman yang dia alami selama perang. Dia pun sangat menekankan persiapan mental bagi tentara-tentara muda untuk menghadapi perang. Dalam buku tersebut, Marlantes menceritakan perasaan dihantui oleh wajah seorang prajurit muda Vietnam yang dia bunuh dari jarak dekat. Kemudian dia membahas cara-cara yang digunakan untuk akhirnya berdamai dengan masa lalu tersebut. Marlantes juga menceritakan kontradiksi sehari-hari yang harus dihadapi para pejuang di tengah peperangan, membunuh atau dibunuh. What It Like to Go to War menjadi bacaan bagi para pembaca yang tertarik pada pengalaman penting yang dialami manusia selama perang berlangsung.

 



Baca juga: 4 Buku Paling Banyak dibaca Tahun 2018


Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia

0

Artikel

dan-brown-inferno

Pada artikel wawancara sebelumnya, Dan Brown mengaku bahwa tempat paling favorit dari semua tempat yang pernah dia kunjungi di seluruh dunia adalah Istanbul. Dan Brown menganggap Istanbul sebagai kota tempat “timur” dan “barat” bertemu secara geografis. Kota yang semula bernama Konstantinopel tersebut, merupakan ibu kota dari empat kekaisaran, yaitu Romawi, Byzantium, Latin dan Ottoman. Setiap kekaisaran memiliki ciri khas dan peninggalan yang berbeda satu sama lain. Sehingga membuat Istanbul menjadi kota yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.

Dalam artikel tourturki.co.id,  dikatakan bahwa meskipun Istanbul bukan ibu kota Negara Turki, tetapi Istanbul merupakan kota terluas dengan 13 juta penduduk. Istanbul juga merupakan kota lintas benua, Asia dan Eropa, yang dipisahkan oleh suatu selat bernama Selat Bosporus. Kedua benua tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan yang juga diberi nama Jembatan Bosporus. Di sisi lain Jembatan Bosporus (atau dikenal dengan nama Jembatan Fatih Sultan Mehmed), terdapat sebuah tanda selamat datang ke dua benua tersebut, Benua Asia atau Benua Eropa.

Baca juga: 
– Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia? Ini Kata Dan Brown
– 10 Tips Menulis Buku Laris Ala Dan Brown

Istanbul merupakan salah satu tempat yang menjadi latar belakang novel best-seller karya Dan Brown, Inferno. Karakter utama dalam novel, Robert Langdon, mengakhiri petualangan untuk memecahkan teka-teki puisi Dante di kota terbesar di Turki tersebut. Langdon sempat mengunjungi beberapa lokasi di Istanbul sampai akhirnya dia mampu menemukan jawaban dari teka-teki puisi Dante.

Kalau sudah membaca Inferno, Anda pasti familiar dengan tempat-tempat di bawah ini. Apa saja keunikan dari tempat-tempat tersebut?



Hagia Sophia, Museum Kebijakan Suci Bersepuh Emas



hagia-sophia


Bangunan yang dibangun pada tahun 360 M ini awalnya menjadi katedral Ortodoks Timur sampai tahun 1204. Setelah terjadinya Perang Salib Keempat, Enrico Dandolo mengubah Hagia Sophia menjadi gereja Katolik. Pada abad kelima belas, menyusul penaklukan Konstantinopel oleh Fatih Sultan Mehmed, bangunan itu diubah menjadi masjid. Selanjutnya pada tahun 1935, Hagia Sophia akhirnya difungsikan sebagai sebuah museum.

Dan Brown dalam novel Inferno menyebut bangunan bersejarah ini sebagai museum kebijakan suci bersepuh emas. Semua dinding Hagia Sophia, kecuali yang dilapisi marmer, dihiasi mosaik sangat indah yang terbuat dari emas, perak, kaca, terakota, dan batu berwarna-warni. Beberapa mosaik di Hagia Sophia merupakan seni Byzantium dan dianggap sebagai mahakarya. Motif yang digunakan untuk menciptakan mosaik sebagian besar adalah potret kekaisaran dan gambar religius dari ajaran Kristen.

 

Kubah Hagia Sophia merupakan elemen yang paling mencolok dalam bangunan tersebut. Seperti dilansir pada florenceinferno.com, perbedaan paling penting dalam desain arsitektur Hagia Sophia adalah ukuran yang jauh lebih besar dan kubah yang lebih tinggi daripada bangunan gereja pada umumnya. Kubah yang berada di atas ruang tengah memiliki tinggi 55,60 meter dari permukaan tanah, 31,87 meter dari bagian utara ke selatan dan 30,87 meter dari bagian timur ke barat.


Fakta menarik tentang Hagia Sophia: Sophia dalam bahasa Yunani berarti kebijaksanaan. Nama lengkap Hagia Sophia dalam bahasa Yunani berarti ‘Shrine of the Holy Wisdom of God’, Tempat Kebijaksanaan Suci dari Tuhan.


Istana Topkapi, Kota di dalam Kota Istanbul



istana-topkapi

Seperti yang digambarkan Dan Brown dalam novelnya, Istana Topkapi menjadi favorit di kalangan turis karena memiliki pemandangan strategis ke jalur air Bosporus. Turis kebanyakan datang mengunjungi istana tersebut untuk mengagumi keindahan pemandangan dan koleksi menawan harta karun Ottoman. Mencakup jubah dan pedang yang konon pernah digunakan oleh Nabi Muhammad.

 

Istana Topkapi merupakan pusat kekuasaan Ottoman dan menjadi pusat administrasi, pendidikan, serta artistik kekaisaran Ottoman selama hampir empat ratus tahun. Istana ini sering dianggap sebagai kota di dalam kota karena begitu luas. Istana Topkapi terdiri dari 4 bagian utama yang berisi taman-taman yang indah, dapur yang sangat besar, masjid, rumah sakit, paviliun-paviliun serta Harem. Harem merupakan tempat tinggal sultan Ottoman bersama keluarga, selir-selir, dan para pelayan serta para penjaga Harem. Seperti yang dilansir pada worldwanderista.com, bangunan kamar-kamar yang ada di Harem dipenuhi dengan mosaik mewah dan ubin yang berwarna cerah. Begitu juga dengan detail-detail emas yang ada di jendela Harem, semuanya cantik dan indah!

 

Setelah berdirinya Republik Turki, Istana Topkapi dialihfungsikan menjadi museum pada tanggal 3 April tahun 1924. Museum ini berisi koleksi porselen, jubah, senjata, perisai, baju besi, miniatur kekaisaran Ottoman, kaligrafi Islam, serta perhiasan-perhiasan khas Ottoman.

 

Fakta menarik tentang Istana Topkapi: Dalam bahasa Turki, ”Topkapi” berarti ”Gerbang Meriam”. Nama tersebut berasal dari meriam besar yang berdiri kokoh di luar gerbangnya.


Basilica Cistern, Waduk Bawah Tanah Istanbul


Basilica-cistern


Hanya beberapa menit dari Hagia Sophia, Robert Langdon keliru menganggap bahwa pintu masuk sederhana yang dia lihat mengarah ke klub dansa bawah tanah, namun kenyataannya pintu tersebut menuju ke sebuah konser di dalam waduk. Bertrand Zobrist, ilmuwan yang telah membuat teka-teki puisi Dante dalam novel Inferno, telah meninggalkan virus berbahaya di waduk yang kini dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

 

Waduk tersebut bernama Basilica Cistern, dibangun pada abad ke-6 di bawah kekaisaran Byzantium. Bangunan bawah tanah ini memiliki tinggi 70 meter dengan lebar 140 meter. Ruangan ini memiliki gaya khas romawi dengan tiang beton sebanyak 336 buah. Menurut informasi dari cheria-travel.com, Basilica Cistern mampu menyimpan air sampai 80.000 meter kubik. Sejak era kekaisaran Byzantium, Basilica Cistern berfungsi menyuplai air untuk kota Istanbul -bahkan hingga masa kekaisaran Ottoman memasuki era modern. Air dari tempat ini juga merupakan suplai utama ke Istana Topkapi.

 

Salah satu keunikan yang dimiliki Basilica Cistern adalah terdapat pahatan patung Medusa yang berbentuk persis sama dengan letak menghadap yang berbeda. Menurut mitologi Yunani, Medusa merupakan salah satu mahkluk Gorgon, tokoh perempuan yang hanya dengan pandangannya saja dapat mengubah makhluk hidup menjadi batu. Belum ada teori pasti yang menjelaskan mengapa kedua pahatan Medusa di Basilica Cistern tersebut menghadap ke arah yang berbeda.


Baca juga: 
– 10 Fakta Menarik Dibalik Sosok Dan Brown
– Nostalgia Review Film Inferno—Twist Sempurna Yang Terbaca


Basilica Cistern memiliki 336 kolom, terbuat dari marmer dan granit yang sebagian besar bergaya Corinthian. Salah satu keunikan lain yang ada di Basilica Cistern adalah kolom ‘Hen’s Eye’ yang memiliki motif setetes air mata di bagian atasnya. Bentuk air mata tersebut dikaitkan dengan 7.000 budak yang dipekerjakan untuk membangun Basilica Cistern dan ratusan dari mereka tewas selama pembangunan berlangsung.

 

Fakta menarik tentang Basilica Cistern: Tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi film James Bond, From Russia with Love pada tahun 1963.***

0

Artikel, baru

Buku Origin merupakan karya kedelapan dari penulis asal Amerika, Dan Brown. Penulis berusia 53 tahun ini membutuhkan waktu 4 tahun untuk proses penelitian serta penulisan buku tersebut. Dilansir dari artikel nytimes.com, Dan Brown merupakan penulis yang sangat disiplin. Dan bangun pada pukul 4 setiap pagi, menyiapkan minuman sehat dan kemudian menulis novel.

 

Pada artikel sebelumnya, Dan Brown sudah menceritakan bagaimana serunya proses menulis Origin yang melibatkan kisah tentang artificial intelligence. Pada artikel kali ini, kita akan mengetahui buku apa yang paling sulit ditulis menurut Dan Brown dan alasan kenapa dia tidak lelah ketika menghadapi antrean panjang di acara booksigning.

 

Temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seru lainnya pada artikel ini.


Q: Origin memiliki plot cerita yang berbeda dengan novel-novel Dan Brown sebelumnya. Origin terasa sangat modern dan mungkin terjadi pada masa sekarang. Apakah Dan Brown mengalami kesulitan memindahkan hasil riset untuk mengakomodasi aspek teknologi dari karakter Winston?

A: Oh, pertanyaan tersebut sangat bagus. Jawabannya adalah, ya. Sangat sulit. Saya lebih banyak tau tentang seni daripada tentang artificial intelligence. Saya melakukan banyak sekali penelitian, berdiskusi dengan orang-orang sangat pintar yang harus menjelaskan pada saya dalam bahasa yang sederhana sampai saya benar-benar mengerti.

Baca juga:
Penasaran dengan Novel Origin, Ini Dia Sinopsisnya!
5 Fakta Menarik Tentang Novel Terbaru Dan Brown Origin

Saya menyukai teknologi, menurut saya teknologi sangat menarik. Saya rasa teknologi akan memengaruhi budaya manusia pada tingkat yang jauh lebih besar daripada katalis lain, termasuk agama, filosofi atau perang. Saya rasa semakin lama manusia semakin bergantung kepada teknologi. Perkembangan teknologi sangat menakjubkan.

 

Saya ceritakan sesuatu, ambil contoh pada masa Yunani Kuno. Mereka harus melihat jauh sekali melewati beberapa generasi untuk melihat kehidupan manusia yang berbeda dengan mereka. Manusia dulu membutuhkan waktu yang sangat panjang dari mengetahui cara menggunakan api ke menemukan cara membuat roda, lalu menemukan teleskop; kemudian menemukan mesin uap, lalu komputer, semakin kesini jangka waktunya semakin pendek. Sehingga, pada masa kini, kita hanya cukup melihat satu generasi sebelum kita untuk melihat bagaimana kehidupan manusia yang tidak memakai teknologi seperti yang hari ini kita pakai. Mungkin di kemudian hari, anak-anak kita akan menertawakan kita karena tidak memiliki teknologi yang mereka pakai.


Q: Jika Dan Brown membandingkan dirinya dengan Robert Langdon, apa saja persamaan dan perbedaan yang mereka miliki? Apabila diberi pilihan, siapakah yang akan Dan Brown pilih, dirinya atau Robert Langdon?


A: Wow, pertanyaan yang sulit. Saya memilih jadi diri saya sendiri karena Langdon jauh lebih pintar, lebih pemberani dan bertalenta –dan dia juga adalah hasil imajinasi, gabungan dari beberapa karakter orang. Saya memiilih jadi diri saya sendiri karena saya lebih suka tinggal di rumah, menulis tentang Langdon, daripada harus jatuh dari helikopter dan berlari-lari menghindari orang-orang yang mencoba menembak saya. Langdon bisa pergi ke berbagai tempat karena saya yang pergi ke tempat-tempat tersebut. Saya bisa melakukan yang Langdon lakukan tanpa mengalami hal yang berbahaya 🙂


Q: Dalam menulis novel, apakah Dan Brown sudah merencanakan “ending”-nya sebelum mulai?

A: Saya merencanakan setiap novel dengan sangat hati-hati. Novel yang saya tulis adalah thriller, sehingga saya harus tahu bagaimana alur ceritanya akan berakhir. Kalau tidak begitu, akhirnya akan saling tumpang tindih dan tidak relevan. Outline yang saya buat untuk novel The Da Vinci Code saja lebih dari 400 halaman.

Kadang-kadang saya menulis plot akhir sebelum menulis plot awal. Kadang juga saya menulis prolog dan epilog-nya terlebih dulu, kemudian tugas saya sebagai seorang novelis adalah membawa pembaca dari titik A (prolog) ke titik B (epilog). Banyak orang berpikir bahwa mereka harus memiliki ide yang sangat brilian untuk dapat menulis novel. Novel bukan tentang “What” tapi tentang “How”.

Saya ambil contohnya Ian Fleming, penulis James Bond. Setiap tema dari buku-buku James Bond memiliki “What” yang pada dasarnya sama, yaitu “Apakah James Bond akan berhasil menyelamatkan dunia dan mendapatkan gadis yang dia inginkan?”, atau “Apakah James Bond akan berhasil menjinakkan bom?” Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan “What” tersebut, kita tidak membaca buku James Bond atau menonton filmnya dan bertanya-tanya “Oh, apakah James akan berhasil menjinakkan bom?” Tentu saja dia akan berhasil. Alasan kita membaca buku dan menonton film James Bond adalah untuk melihat “bagaimana” hal itu terjadi.

Jadi, begitulah tugas saya sebagai seorang penulis. Saya harus mampu menentukan bagaimana jalan yang dilalui si tokoh, Langdon misalnya, sehingga membuat pembaca saya tertarik, terkejut dan juga membawa mereka ke tempat yang ingin mereka lihat. Alur tersebut bisa memungkinkan untuk membagi ide, fakta, informasi tentang teknologi atau seni yang belum pernah mereka pikirkan. Itulah yang menyebabkan pekerjaan saya ini begitu menyenangkan.


Q: Buku apa yang menurut Dan Brown paling sulit untuk ditulis sejauh ini?

 

A: Jawabannya adalah The Lost Symbol. Saya membutuhkan waktu 6 tahun untuk menulis buku tersebut. Salah satu alasannya karena buku tersebut dibuat setelah The Da Vinci Code dan hidup saya berubah sangat drastis. Alasan lainnya adalah karena buku tersebut membahas tentang misteri kuno dan persaudaraan freemason sehingga membutuhkan banyak sekali penelitian. Saya membutuhkan banyak waktu untuk menyusun buku tersebut. Omong-omong, judul awal untuk novel The Lost Symbol adalah The Secret of Secret.

 


Q: Apa yang membuat Dan Brown tidak berhenti menulis setelah buku pertamanya tidak begitu mendapat banyak perhatian?

 

A: Saya tidak tahu. Keras kepala, atau mungkin juga karena kebodohan. Saya hanya ingin menulis dan merasa bahwa saya memiliki kisah yang ingin diceritakan. Saya harap para penulis muda atau siapa pun yang ingin jadi penulis memiliki perasaan yang sama. Anda menulis demi menceritakan suatu kisah. Jika Anda mengejar kesuksesan finansial, mungkin Anda akan merasa kecewa. Tapi jika Anda menulis karena ingin menceritakan suatu kisah, dengan sungguh-sungguh, dan berusaha memberikan tulisan terbaik Anda, sukses akan menemukan Anda.

 

There are a lot of luck to success, but there is also a lot of persistents
–Dan Brown

 

Saat menyelesaikan novel The Da Vinci Code, yaitu novel keempat saya (setelah novel-novel sebelumnya tidak begitu laku), saya duduk dan membaca manuskrip sembari berpikir “Jika buku ini kembali tidak sukses dan orang-orang tidak menyukai ceritanya, saya akan berhenti menulis. Saya merasa orang-orang tidak memiliki selera yang sama dengan saya. Kenapa? karena ketika membaca The Da Vinci Code, saya sangat menyukai ceritanya”.

 

Jadi jika Anda adalah orang yang kreatif, entah itu seorang novelis, koki, atau musisi, Anda harus menciptakan karya yang Anda suka. Selera Anda harus menjadi panduan. Anda menciptakan karya yang Anda suka, kemudian Anda membagikannya kepada orang lain –dengan harapan mereka juga akan menyukainya. Beberapa orang akan menyukainya –mereka adalah penggemar Anda. Beberapa orang tidak menyukainya –mereka adalah kritikus Anda. Tapi jika Anda beruntung dan memiliki cukup banyak penggemar, mungkin Anda bisa menjadikan hal tersebut sebagai mata pencaharian. Saya memang menjadi penulis sudah cukup lama, tetapi menulis bukan selalu mata pencaharian utama saya. Dulu saya tidak menghasilkan uang sama sekali sebagai penulis.

 

Bagi para penulis pemula atau para penulis yang sudah menerbitkan buku tapi belum begitu laku, saya ada satu cerita. Pada acara penandatanganan buku Digital Fortress, kalau tidak salah di depan sebuah toko buku di dalam mall di New Hampshire, para panitia dengan baiknya menyediakan sebuah meja dan menaruh beberapa eksemplar buku Digital Fortress. Saat itu saya berpakaian sangat rapi –memakai jas dan dasi. Saya terlihat konyol, tetapi saya sangat bersemangat karena akan menandatangani buku-buku saya. Saya bahkan menyediakan tiga pulpen untuk berjaga-jaga kalau tintanya habis. Saya duduk di sana selama tiga jam. Orang-orang berlalu lalang di depan saya, tapi tidak ada yang mau melakukan kontak mata dengan saya atau berbicara dengan saya.


Baca juga:
10 Tips Menulis Buku Laris Ala Dan Brown
The Lost Symbol Segera Tayang di TV

Pada akhirnya ada seseorang yang berjalan ke arah saya sambil melakukan kontak mata sehingga saya bersiap-siap mengambil pulpen. Saya terkejut karena ternyata dia menanyakan di mana letak kamar mandi! Saya tidak menandatangani satupun buku hari itu. Saya tidak pernah lupa hari itu. Sekarang, ketika saya menghadiri acara penandantanganan buku dengan antrian yang sangat panjang, orang akan berkata “Oh, Anda pasti sangat lelah”. Saya akan menjawab “Tidak, saya tidak lelah. Saya akan tetap berada di sini sampai selesai.


“Saya sangat bersyukur ada orang yang mau membaca buku saya –karena saya ingat hari-hari ketika tidak ada yang membaca buku saya.”[]

 

0

Artikel

(Artikel ini disadur oleh Fauziah Hafidha dari video live Facebook Dan Brown.)  


Apakah Artificial Intelligence bisa gantikan manusia?


Dan Brown merupakan penulis best-seller novel-novel thriller dengan karya terbarunya Origin. Seperti dirilis nytimes.com, novel tersebut membahas beberapa topik menarik seperti kekhasan serta keunikan gereja Sagrada Familia dan juga perkembangan pesat dari artificial intelligence (AI) yang diwakili oleh komputer bernama Winston.

Pada bulan Agustus 2018, Dan Brown melakukan live di Facebook-nya dan menjawab berbagai pertanyaan seru dari para pembaca di seluruh dunia. Penulis merangkum sebagian pertanyaan dan jawaban tersebut dalam artikel ini. Salah satu topik yang dibahas pada artikel ini adalah apakah Winston akan benar-benar hadir di tengah-tengah kehidupan manusia?

Baca juga:
– Nostalgia Review Film Inferno – Twist Sempurna Yang Terbaca
– Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia? Ini Kata Dan Brown

Question (Q): Apa saran Dan Brown untuk penulis-penulis baru?

 

Answer (A): Salah satu hal terpenting yang bisa dilakukan sebagai penulis baru adalah Anda harus sangat serius tentang proses yang sedang dijalani. Hal tersebut berarti Anda harus menyediakan waktu tersendiri, setiap hari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari setahun; untuk menulis. Saya tahu bahwa kita semua sibuk, namun bahkan jika waktu luang yang Anda miliki hanya 30 menit, luangkanlah.

Waktu menulis Digital Fortress, saya memiliki dua pekerjaan sekaligus. Saya bangun jam 4 pagi, menulis sampai jam 7, kemudian berangkat ke tempat kerja saya yang pertama. Sore hari saya pergi bekerja ke tempat pekerjaan saya yang lain. Keesokan harinya saya bangun pagi dan melakukan hal yang sama lagi.

Anda juga harus bisa menemukan tempat privasi khusus, di rumah atau apartemen Anda misalnya, atau bahkan jika Anda harus duduk di dalam mobil sendirian untuk menulis; lakukanlah. Saya menyarankan agar Anda menulis di pagi hari, tapi beberapa orang lebih suka menulis di malam hari; itu juga tidak apa-apa. Pastikan saja bahwa Anda menulis di waktu yang sama setiap harinya. Anda juga harus melindungi proses penulisan tersebut. Saya bahkan punya stiker yang saya tempelkan di komputer bertuliskan “protect the process and the result will take care of themselves”. Saya sangat percaya hal itu. Menulislah dan disiplin terhadap proses penulisan tersebut.

 

Meskipun disiplin, Anda tetap tidak perlu memaksakan hasilnya. Yang artinya, katakanlah pada diri Anda sendiri: meskipun saya hanya memiliki sedikit waktu untuk menulis –tidak apa-apa, yang penting sudah meluangkan waktu.

Writing is like hitting your head against the brick wall until the wall is weakened off and it breaks


Satu saran lagi tentang tempat khusus untuk menulis. Sebetulnya Anda tidak membutuhkan tempat menulis yang “sempurna”. Satu hal yang saya sarankan untuk tempat menulis adalah pastikan tempat tersebut tidak memiliki akses internet. Matikan internet dan fokuslah menulis 🙂


Q: Saya butuh Winston, apakah Dan Brown bisa memberikannya?

A: Saya harap saya memiliki kemampuan untuk membuat Winston, tapi saya tidak bisa. Winston akan datang sebentar lagi. Ketika melakukan riset untuk buku Origin, saya banyak meluangkan waktu dengan para ahli komputer di Barcelona Supercomputing Center –dan saya tahu bahwa artificial intelligence akan segera datang. Entah ini hal yang baik atau buruk, tapi kita akan segera memiliki Winston.

 

Let’s just hope that our morality keeps pace with our technology, and that we can figure out how to use this big technology

Q: Apa arti dari struktur lingkaran yang ada di cover buku Origin?



A: Saya terinspirasi setelah melihat sebuah tangga spiral di Sagrada Familia yang ketika dilihat dari atas terlihat mirip sekali dengan cangkang Nautilus. Bentuk tangga tersebut juga mengingatkan kepada bentuk helix DNA. Karena saya menulis tentang Barcelona, Sagrada Familia, dan DNA… saya merasa tangga spiral itu sesuai dengan bentuk yang saya dan tim ingin gunakan. Jadi Anda bisa melihat struktur lingkaran itu sebagai tangga spiral, melihatnya mirip seperti struktur DNA, atau Anda juga bisa melihatnya seperti cangkang Nautilus. Intinya, Anda bisa melihat struktur tersebut dan menginterpretasikannya sebagai bermacam-macam hal.

Q: Tempat paling menarik yang pernah dikunjungi Dan Brown? Mengapa?

A: Saya sangat beruntung karena bisa berkeliling dunia ketika proses penulisan buku. Saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang menarik, sejarawan, kurator, serta para sarjana. Saya rasa, dari semua perjalanan yang pernah saya lakukan, Istanbul adalah tempat yang paling berkesan karena keeksotisannya. Istanbul adalah tempat “timur” dan “barat” bertemu secara geografis. Istanbul juga satu-satunya tempat di bumi yang menjadi ibukota tiga kekaisaran.. hmm saya lupa apa nama ketiga kekaisaran tersebut. Roman, Byzantine, dan Ottoman..kalau tidak salah.

Q: Menurut Dan Brown, bagaimana proses pembuatan film yang diadaptasi dari novel-novelnya? Apakah Dan Brown menyukai prosesnya atau lebih memilih untuk menghindar?

A: Saya merupakan fans berat Tom Hanks dan Ron Howard. Saya mencintai film layar lebar. Saya pikir, novel-novel saya sulit untuk diadaptasi menjadi sebuah film karena terlalu banyak konten di dalamnya. Saya merasa berterima kasih kepada Ron Howard dan timnya, karena meskipun sulit sekali memasukkan semua konten yang ada di dalam buku ke dalam film, namun mereka berhasil mempertahankan pertanyaan mendasar dari novel-novel tersebut.

 

Ketika saya melihat script adegan pembuka untuk film Inferno, bunyinya seperti ini: “Akankah Anda membunuh setengah populasi manusia di bumi untuk menyelamatkan ras manusia?”. Saya tahu mereka tidak akan menutupi pertanyaan besar dari novel tersebut, meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut cenderung kontroversial. Harapan saya adalah pertanyaan tersebut membuka dialog, tapi kenyataannya terkadang malah menimbulkan kontroversial.

 

Begitu juga dengan film The Da Vinci Code. Novel tersebut mempertanyakan pertanyaan yang sangat sederhana: “Apa artinya bagi para pengikut agama Kristen, jika Jesus sebetulnya bukanlah anak Tuhan?” Saya besar di lingkungan keluarga yang memperbolehkan saya menanyakan ha-hal seperti itu. Orang tua saya selalu mendorong agar saya aktif bertanya mengenai agama. Setelah novel The Da Vinci Code dirilis, banyak orang yang tidak suka dengan pertanyaan yang saya lontarkan tersebut. Tapi harapan saya hanyalah agar pertanyaan tersebut membuka sebuah dialog.

 

Baca juga:
– 3 Cara Mudah Menikmati Keindahan Sagrada Familia, Barcelona
– 10 Tips Menulis Buku Laris Ala Dan Brown

Q: Apakah Robert Langdon akan menikah?

A: Ya, mungkin saja. Never say never. Salah satu elemen yang membuat novel saya ber-genre thriller adalah ceritanya bisa membuat Anda bertanya-tanya akankah Robert Langdon menikah dengan Victoria atau menikah dengan Ambra? Hal tersebut menciptakan keromantisan –berbeda jika Robert Langdon menikah, tidak akan ada keromantisan seperti itu. Mungkin saja di buku selanjutnya dia akan bertemu dan menjalin hubungan dengan salah satu wanita yang pernah dia temui, saya tidak yakin… tapi pertanyaan Anda membuat saya memikirkan tentang hal tersebut dan mungkin saja bisa menjadi perubahan yang baik bagi Langdon 🙂 Kita lihat nanti, ya.

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS
X