Artikel

Berteman dengan Mantan, yes or no?

Berteman dengan Mantan, yes or no? menurutmu?

berteman dengan mantan

Banyak orang yang terlalu dalam menyikapi patah hati akibat ditinggalkan mantan ataupun orang yang dicintai. Ada yang sampai memutuskan untuk memblokir semua kontak atau akun media sosial si mantan, bahkan ada yang terang-terangan mencaci sampai memutuskan silaturrahmi.
Hal-hal semacam itu dilakukan tak lain sebagai upaya untuk melupakan berbagai kenangan yang sempat dilalui bersama.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mantan diartikan dengan bekas pemangku jabatan atau kedudukan. Kita sering mendengar istilah mantan direktur, mantan presiden, mantan bupati, dan sebagainya. Sedangkan dalam pengistilahan anak muda sekarang, mantan diartikan sebagai bekas pacar atau orang yang sempat singgah di hati dan menjadi teman setia tapi kemudian pergi tiba-tiba.

Membicarakan mantan berarti membicarakan kegagalan dalam menjalin sebuah hubungan antara dua insan. Banyak faktor yang menyebabkan sebuah hubungan usai di tengah jalan.
Ada yang sudah merasa tidak cocok satu sama lain, ada yang tak mendapat restu dari orangtua, ada juga yang usai akibat kemunculan orang ketiga.

Momen putus apalagi dengan cara yang tak diduga memang sangat menyakitkan. Terlebih ketika rasa cinta sedang ada pada fase sayang-sayangnya. Fase dunia seakan milik berdua dan merasa bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menemani kita dalam berbagi suka dan duka.

 

Bahkan tak bisa dimungkiri, putus menjadi momok yang amat menakutkan bagi sebagian orang sehingga ada yang sampai overprotective dan mencintai terlalu dalam pada pasangannya. Tanpa disadari justru sikap semacam itulah yang bisa menjadi pemicu gagalnya sebuah hubungan karena merasa bosan bahkan terkekang.

berteman dengan mantan


Mantan adalah bagian dari tokoh utama dalam kisah percintaan kita. Seburuk-buruknya tindakan yang sempat ia lakukan selama itu tidak berkaitan dengan hal-hal yang fatal adalah bagian dari pembelajaran. Belajar untuk memaafkan, mengikhlaskan dan melupakan kesalahan sebagai bentuk kedewasaan.

Lalu bagaimana dengan keputusan untuk menjalin pertemanan dengan mantan? Membangun kembali sebuah hubungan atas dasar saling membutuhkan, tapi tak ingin ada status apa pun yang berujung pada perpisahan. Pertanyaan ini pun sering kali menjadi alternatif bagi sebagian orang yang masih menyimpan secercah harapan.

Menurut Rebecca Griffith, seorang psikolog dari Universitas Kansas di Amerika Serikat, dilaporkan bahwa dalam penelitian yang ia lakukan ada 60 persen pasangan yang sudah putus tapi tetap menjalin hubungan pertemanan. Hubungan tersebut dilakukan dengan berbagai alasan tentunya. (tempo.co, 2017/08/14)


Baca Juga: 3 Doa Agar Mendapatkan Jodoh


Menjalin kembali hubungan dengan mantan memang susah-susah gampang. Dikatakan susah karena peluang untuk membuat kita baper kembali saaat berinteraksi dengannya tentu menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Kemungkinan untuk mengharapkan kembalinya sebuah hubungan yang sempat retak dan angan-angan lain yang bisa muncul kapan saja. Namun, bukan berarti kita harus menghindar dan seakan menjadi orang asing yang tak mengenal satu sama lain.

 

Dikatakan gampang karena berteman dengan mantan menjadi salah satu pilihan ketika kita membutuhkan teman berbagi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dialami. Karena mungkin saja tak ada lagi orang yang mengenal dan memahami kita sebaik dia. Ini baru kemungkinan yang bisa sesuai kenyataan bisa juga tidak. Semuanya tentu bergantung pada setiap orang yang menjalaninya.


berteman dengan mantan

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah menjalin pertemanan yang baik dengan mantan menjadi salah satu bukti kedewasaan seseorang. Karena sekarang sudah bukan saatnya untuk kita menjalani hubungan semacam cinta monyet layaknya anak kecil yang kenal-pacaran-putus-musuhan.
Hanya orang-orang yang belum dewasa lah yang menjalani kisah percintaan semacam itu. Terburu-buru dalam menanggapi sebuah perasaan dan lalai menata hati ketika ditinggalkan.

Dalam melakukan pendekatan pada orang yang disukai kita akan berusaha mati-matian mengejar. Kemudian ketika sudah merasa bosan dan tak cocok, mati-matian pula mencari alasan untuk mengakhiri hubungan. Sampai pada akhirnya menjadi musuh satu sama lain yang enggan bertemu kembali. Sepertinya memang benar bahwa dalam urusan hati dan perasaan, seseorang terkadang menjadi irrasional.

Dalam ilmu Psikologi perasaan didefinisikan sebagai gejala jiwa yang dimiliki oleh setiap orang dengan corak dan tingkatan yang berbeda-beda. Kemudian, dengan corak dan tingkatan inilah yang akan mempengaruhi tingkat emosional seseorang dalam kesehariannya.

Sehingga tak heran dalam persoalan mantan tentunya hati dan perasaan akan menempati posisi yang amat dominan. Karena keduanya akan terlibat secara langsung dalam mempertimbangkan bagaimana kelanjutan sebuah hubungan dengan seseorang.

Memang butuh waktu untuk membuat semuanya normal kembali seperti saat kita belum menjalin hubungan apa pun dengan seseorang. Kesabaran dan keyakinan bahwa yang terbaiklah yang akan datang, amat sangat diperlukan untuk membuat hal itu terwujud seperti yang diharapkan. Tak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha.

Menjadi peduli ketika membutuhkan satu sama lain dan menjadi pemberi solusi ketika salah satu dari keduanya dirundung masalah adalah tindakan bijak dalam membina sebuah pertemanan. Peduli kepada mantan bukan berarti selalu ada harapan untuk balikan dan merangkai cerita kembali seperti dulu. Namun, hal ini menjadi iktikad baik dalam memberi warna kehidupan agar tidak melulu galau memikirkan patah hati.

Anggaplah berteman dengan mantan sebagai ajang untuk kembali berteman dengan sahabat lama. Terlebih mantan adalah orang yang cukup tahu dan pernah memahami kita dari berbagai sisi yang mungkin tidak diketahui orang lain. Namun, ada baiknya untuk tidak mengungkit kesalahan ataupun kisah memilukan di masa lalu yang sempat dilalui bersama sang mantan.

Batasi perilaku dan tutur kata ketika kita memutuskan untuk berteman dengannya. Jangan sampai ada topik-topik yang biasa diperbincangkan oleh sepasang kekasih kemudian tak sengaja terlontar diantara kita dan sang mantan. Hal ini tak lain untuk membuat pertemanan dengannya bisa terjalin dengan baik tanpa ada rasa canggung bahkan asing.

Namun, berteman dengan dalih masih memiliki rasa cinta dan berharap bisa kembali merajut cerita adalah keputusan yang kurang tepat dan harus dipertimbangkan. Karena akan berbeda rasanya menikmati minuman menggunakan gelas yang masih utuh dengan yang yang sudah retak meskipun ditambal serapi mungkin.

berteman dengan mantan


Begitupun dengan urusan asmara, berdamai dengan masa lalu kemudian menjalin pertemanan dengan mantan akan sangat sulit dilakukan ketika masih memendam harapan dan perasaan. Mulai singkirkan perasaan itu perlahan, hingga ketenangan pun akan mampu dirasakan.

Kita pun harus menerapkan batasan dalam berinteraksi atau berteman dengan sang mantan. Karena dalam keakraban yang berlebihan kemungkinan bisa menyebabkan perasaan yang tak seharusnya ada muncul kembali dengan berbagai pembenaran. 

Mantan adalah bagian dari sekelumit kisah dalam perjalanan cinta kita. Lupakan kisah pahitnya dan cukup jadikan sebagai pelajaran. Karena kita tak pernah tahu siapa yang akan menemani dan menjadi jodoh kita di masa depan nanti. Bisa jadi dengan dia ataupun orang lain yang sama sekali tak pernah kita duga sebelumnya.

Selamat berdamai dengan masa lalu. Selamat menjalani hari-hari baru dengan cerita yang berbeda dengan alur yang kita rencanakan sebelumnya. Percayalah, Sang Mahacinta tahu apa yang terbaik bagi kita. Karena bersama orang terkasih, tak mesti saat itu juga. Adakalanya kita butuh jeda untuk kembali merenung dalam menjalani hiruk pikuk problematika asmara.


[Ana Dwi Itsna Pebriana]


Baca Juga: Doa Agar Mendapatkan Jodoh


Author


Avatar