Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Stephen Hawking—Hanya sesaat setelah memulai penerjemahan buku Stephen Hawking: A Mind Without Limits, saya sudah menyesal. Ini adalah salah satu buku tersulit yang pernah saya kerjakan, bukan karena pengalihbahasaan yang rumit, melainkan otak saya yang cukup ngos-ngosan mencernanya. Mohon dimaklumi, saya lulusan Sastra Inggris, dan terakhir kali mendapatkan pelajaran Fisika adalah saat SMA, puluhan tahun silam. Ketika itu, meskipun saya mengambil jurusan IPA, nilai Fisika saya pas-pasan saja. Maka, bekal saya dalam menerjemahkan buku ini bisa dibilang hanyalah bertahun-tahun mengikuti serial komedi The Big Bang Theory.



Baca juga:
– Apa Itu Lubang Hitam?
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta


Reputasi taruhannya. Proyek yang sudah dimulai, mau tidak mau harus dituntaskan. Hanya riset pilihannya. Saya pun mulai membaca beragam jurnal tentang teori segalanya, teori kuantum, teori dawai, singularitas, supersimetri, dan sebagainya. Iya, saya belajar seakan-akan hendak menempuh Ujian Nasional.


Lantas, kenapa saya tidak menyerah saja? Karena menyerah adalah ironi, terlebih ketika buku yang saya terjemahkan ini membahas tentang Stephen Hawking. Selain menguraikan kiprah Hawking di dunia Fisika (bagian yang membuat saya kelimpungan), buku ini juga mengulas tentang kehidupannya.



Vonis penyakit ALS diterima Hawking pada usia sangat muda, 21 tahun. Di titik itu, dia bisa saja langsung pasrah, apalagi dokter telah memperkirakan bahwa sisa umurnya hanya dua tahun lagi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Vonis mati malah menjadi cambuk bagi Hawking (yang semula mengaku pemalas) untuk memusatkan pikiran dan menyelesaikan penelitiannya. Ajaibnya, seiring kariernya yang semakin moncer, laju penyakitnya pun melambat. Dua tahun terlewati, dan Hawking terus berkarya dan menjalani kehidupan penuh warna hingga puluhan tahun kemudian.


Buku ini membuat saya mengerti mengapa Hawking begitu dikagumi. Sebagai ilmuwan, dia bersinar. Tidak hanya di dunia sains yang digelutinya, tetapi juga di ranah sosial, kemanusiaan, dan hiburan. Dengan segala keterbatasannya, Hawking mendobrak berbagai batasan. Meskipun tubuhnya terkekang di kursi roda, pikirannya bebas berkelana menjelajahi alam semesta.


Baca juga:
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia


Pada akhirnya, saya menyelesaikan penerjemahan buku ini dengan penuh kepuasan. Tidak hanya karena pencerahan tentang berbagai teori fisika yang sebelumnya tidak pernah saya pahami maksudnya, tetapi juga inspirasi akan kehidupan yang begitu mengena. Hawking adalah ilmuwan terbesar di dunia, dan membaca buku ini adalah salah satu cara untuk turut merayakan kiprahnya.[]

0

Artikel, baru

Small Fry—Artikel ini diterjemahkan dari wawancara Lisa Brennan-Jobs oleh Emma Brockes di laman theguardian.com.



Lisa mengaku bahwa menulis memoar tentang dirinya yang tumbuh di balik bayang-bayang ayahnya, Steve Jobs, ketika dirinya tidak berada di usia 20-an adalah hal yang sangat bagus. Wanita yang kini berusia 41 tahun dan tinggal bersama suami beserta anaknya di Brooklyn itu, khawatir jika dirinya tidak memiliki perspektif yang seimbang dalam melihat masa lalunya.


“Aku tidak tahu apakah aku bisa mengatasi rasa kasihan pada diri sendiri,” ujar Lisa. Dia juga lega karena tidak menulis memoar tersebut ketika berusia 40-an, saat dirinya telah menjadi ibu dari Thomas, anaknya–karena pengalaman menjadi seorang ibu membuatnya menjadi pribadi yang lebih lembut dan pemaaf. Dalam kenyataannya, Lisa menghabiskan bagian terbaik dari usia 30-annya untuk menulis memoar bertajuk Small Fry, sebuah kisah yang tidak menye-menye ataupun terkesan lembek.


Small Fry merupakan potret masa kecil Lisa dengan cerita utama bahwa ayahnya bukanlah seorang pria yang mengubah dunia, tetapi ia merupakan seorang pria biasa, yang dengan gigih terus mencoba meskipun berulang kali mengalami kegagalan.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Dia Bukan Anakku”


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Steve Jobs, yang meninggal di tahun 2011 karena kanker pankreas, memiliki seorang anak di usia 20 tahun-an dari hasil hubungannya dengan kekasih semasa SMA. Beberapa tahun setelah kelahiran Lisa, Jobs yang kala itu tecatat memiliki kekayaan ratusan juta dolar, dituntut dengan tuduhan melalaikan kewajiban memberikan tunjangan anak–sebuah kasus yang menambah aroma skandal Jobs dan mantan kekasihnya tersebut.


Kemiripan Lisa Brenann-Jobs dengan ayahnya tidak bisa dimungkiri lagi, terutama ketika bertemu secara langsung. Lisa mewarisi warna kulit ayahnya dan juga, seperti yang Jobs katakan sendiri, bentuk alis yang begitu mirip. Tidak hanya secara fisik, mereka berdua juga memiliki kemiripan sifat yaitu bersemangat dan percaya diri–sampai kadang terlihat terlalu berani dan menantang. Tidak dapat dihindari pula fakta bahwa banyak orang yang tertarik pada Lisa semata hanya karena kesohoran Jobs, atau karena rasa penasaran ketika melihat Lisa masuk ke apartemen di Brooklyn yang memiliki tiga lantai tapi berukuran kecil sehingga membuat orang bertanya-tanya ke mana warisan ayahnya? (ternyata, tempat itu hanyalah salah satu properti miliknya yang digunakan sebagai kantor dan bukan sebagai tempat tinggal).


Sejak kecil, Lisa sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang mencoba mendekatinya karena dia anak seorang Steve Jobs. Meskipun Lisa adalah tipe gadis yang ceria, terkadang dirinya lelah menghadapi orang-orang seperti itu. Lisa juga lelah dengan ‘drama masa kecilnya’ yang berkutat pada kenyataan bahwa Steve Jobs, pria yang dipuji dunia sebagai seorang visioner, ternyata membutuhkan waktu lama untuk mencintainya atau bahkan sekadar mengakui dirinya sebagai anak.


Lisa sekarang bisa menceritakan kisahnya sambil tersenyum–namun dulu tidak demikian. “Ketika pertama kali menulis buku tersebut, aku ingin mengumpulkan dan memunculkan rasa kasihan, karena aku memiliki perasaan sangat buruk tentang diri sendiri,” ujarnya. Thomas duduk rileks di pangkuannya dan Lisa terlihat agak mabuk bahagia.


“Ya ampun, itu semua telah berlalu. Perasaan malu perlahan hilang, entah karena usia yang semakin dewasa atau karena menulis memoar tersebut–atau karena keduanya. Tapi aku juga ingin menghadirkan adegan yang membuat pembaca merasa sangat kasihan padaku. Aku malu sekali pada kenyataan bahwa dia adalah ayahku–karena jelas-jelas aku tidak cukup memikat dan memesona untuk benar-benar memiliki pria luar biasa itu. Aku sering berpikir, apakah aku ini terlalu jelek? Aku pernah menanyakan padanya sekali tentang hal ini. Memang terasa seperti lelucon murahan untuk ditanyakan atau terdengar manipulatif. Tapi aku perlu menanyakan tentang hal tersebut lantaran perasaan itu terus muncul karena dia tidak mau melihat album foto masa bayiku. Aku pernah sengaja menaruh album itu supaya terlihat olehnya, pernah sekali dia berkata “Siapa itu?”, dan aku hanya bisa menjawab “Aku!”


View this post on Instagram

Sahabat Qanita, Mita mau nanya dong. Kalian udah pernah dengar buku berjudul Small Fry belum? Kalo belum, Mita mau kasih informasi sedikit tentang buku Small Fry ah hehehe. Small Fry merupakan memoar putri sulung Steve Jobs, yaitu Lisa Brennan-Jobs, mengisahkan dilema kehidupan Lisa yang harus memilih tinggal bersama ibunya yang nyentrik dan miskin, atau bersama ayahnya yang super kaya tapi acuh tak acuh. Small Fry diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat pada September 2018, dan masuk ke dalam daftar 10 buku terbaik 2018 versi New York Times. Keren, ya! Berita baiknya, Small Fry akan segera terbit dalam Bahasa Indonesia! #SmallFry #MemoarSmallFry #MemoarLisaBrennanJobs #LisaBrennanJobs #SteveJobs #PenerbitQanita #BukuQanita

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on


Lisa Brennan-Jobs berbicara dengan relatif cepat dan kadang berhenti untuk memotong pembicaraannya sendiri–sepertinya bukan karena dia tidak yakin tentang yang dia katakan, tapi lebih karena dia terus menerus memikirkan makna kata-kata yang diucapkannya: ada makna yang sesuai dengan kondisi saat ini, dan ada pula makna yang nantinya akan digunakan untuk mendefinisikan Steve Jobs. Hal ini membuatnya seperti berada dalam suasana menegangkan yang dirasakan oleh seseorang calon politikus.


Lisa juga dihadapkan dengan kisah yang telah diceritakan berulangkali oleh banyak orang sehingga dia harus berjuang mati-matian untuk mendefinisikan cerita tersebut bagi dirinya sendiri. Garis besarnya adalah: Steve Jobs dan Chrisann Brennan mulai berpacaran ketika masih menjadi murid SMP di Cupertino, California, dan hubungan tersebut sempat putus-nyambung sampai akhirnya Chrisann mengandung tepat di saat mereka berdua telah memutuskan untuk benar-benar berpisah.


Jobs baru saja mendirikan Apple bersama rekannya, Steve Wozniak, dan sedang mengerjakan proyek yang nantinya menjadi Macintosh. Singkatnya, menjadi seorang ayah tidak ada dalam rencana Steve Jobs. Namun, setelah kelahiran Lisa, Steve Jobs menamai versi awal komputer hasil produksinya (yang gagal) sebagai Lisa –dan menghabiskan 20 tahun berikutnya berpura-pura bahwa nama itu hanya kebetulan.



Mengapa ini terjadi? Penjelasan terbaik yang dapat Lisa berikan adalah, “Dia begitu cinta padaku sehingga membuatnya bersikap tidak rasional. Kalau kamu adalah orang yang terbiasa mengatur segala hal dan mendapatkan kesuksesan di setiap hal yang kau lakukan tapi ternyata tidak berhasil pada satu area ini, rasa sakit secara emosional akan membuatmu ingin menghindar.”


Memang Jobs bukan satu-satunya orang yang mengabaikan anaknya demi mencapai kesuksesan pribadi, tetapi yang menarik dalam kasus ini adalah Steve Jobs tidak bisa benar-benar mengabaikan Lisa. Selama 7 tahun pertama, Jobs memang sama sekali absen dalam kehidupan Lisa, namun beberapa tahun setelahnya Jobs mulai sering mampir ke tempat tinggal Lisa dan ibunya–atau terkadang ia berjanji untuk datang, tapi gagal menepati. Hubungan keduanya semakin membaik ketika Lisa mulai berselisih dengan ibunya, sehingga Lisa memutuskan untuk tinggal di kediaman Steve Jobs. Meskipun hal tersebut sebenarnya tidak melulu bisa Lisa andalkan.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Aku Punya Rahasia, Ayahku Steve Jobs”
Hubungan Rumit Lisa Brennan Jobs dengan Steve Jobs


Banyak adegan mengejutkan dalam memoar ini merupakan perilaku-perilaku kasar Jobs yang mungkin berasal dari rasa keterkejutannya karena memiliki seorang anak perempuan di usia muda. “Kau tidak akan dapat apa-apa,” bentak Jobs pada anak yang kala itu berusia 9 tahun setelah dengan lugu bertanya apakah boleh memiliki mobil Porsche ayahnya, kalau-kalau mobil tersebut sudah tidak digunakan lagi. “Mengerti, kan? Kamu tidak akan dapat apa-apa.”


Tatkala Lisa yang saat itu beranjak remaja tinggal dengan Jobs, Jobs dengan sengaja tidak memperbaiki pemanas ruangan yang rusak di kamar Lisa atau memperbaiki mesin pencuci piring. Jobs juga ogah-ogahan membayar uang kuliah Lisa dan akhirnya berhenti membayar setelah tahun pertama Lisa di Harvard. Untunglah seorang tetangga berkecukupan yang bersimpati pada Lisa mau membantu membayar uang kuliah Lisa–meskipun pada akhirnya Jobs mengembalikan semua biaya yang telah dikeluarkan oleh tetangga tersebut.


Steve Jobs punya aturan ketat untuk Lisa jika dirinya ingin diterima menjadi bagian dari keluarga Jobs: harus pulang ke rumah tepat waktu, tidak menghabiskan banyak waktu dengan ibunya (Jobs, meskipun memiliki harta yang berlimpah, sangat kesal karena menganggap ibu Lisa selalu meminta uang), dan Lisa harus sangat menghormati otoritas ayahnya.


Ada peristiwa sepele yang menyebalkan terjadi di restoran ketika Lisa yang beranjak remaja sedang makan bersama kedua orangtuanya dan seorang sepupu bernama Sarah. Tiba-tiba Jobs marah saat Sarah memesan roti burger (Steve Jobs tidak menyukai daging) dan ia membentak gadis itu sambil berkata “Pernah terpikir kalau suaramu itu sangat mengerikan? Berhenti berbicara menggunakan suara mengerikan itu.”


Ketika ditanya perihal kejadian tersebut Lisa tampak malu dan bergumam menjelaskan bahwa suara sepupunya memang agak mengganggu. “Saat kupikirkan kembali tentang kejadian di hari itu, apa jangan-jangan Jobs baru mendapat kabar bahwa perusahaannya akan bangkrut? Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi aku ingat kalau suasana hatinya sedang buruk.”


Sangat sulit bagi Lisa untuk menerima dan memahami perlakuan-perlakuan buruk Steve Jobs. “Memoar ini bukan tentang penderitaan,” katanya dengan tegas. “Ada orang-orang yang mengalami kejadian lebih buruk. Pengalamanku masih memiliki sisi yang sangat menyenangkan.”[]




Kisah rumit hubungan antara Lisa Brennan-Jobs dengan Steve Jobs dapat disimak oleh pembaca lewat buku memoar Small Fry yang akan segera terbit dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Qanita.

0

Artikel, baru

Steve Jobs dan Putrinya


Steve Jobs dan Putrinya – Di balik kepopuleran dan kesuksesan Steve Jobs, pendiri Apple, terdapat kisah menarik mengenai putrinya, Lisa Brennan-Jobs. Mungkin sebagian kita berpikir alangkah bahagianya menjadi putri dari seorang milyarder, tapi ternyata tak demikian.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
Dia Memanggilku “Small Fry”


Kisah Sebelum Lisa


Kisah Steve Jobs dan putrinya memang sangat menarik. Orang tua Lisa, keduanya sama-sama bersekolah di Homestead High School di Cupertino, California, Amerika Serikat. Steve Jobs waktu itu adalah murid SMA, sedangkan Chrisann Brennan masih satu tingkat di bawahnya, SMP.


Seiring perjalanan waktu, benih cinta tumbuh di antara Steve dan Chrisann muda. Mereka pun memutuskan untuk hidup bersama di sebuah kabin kecil di ujung Jalan Stevens Canyon. Steve dengan tegas menyatakan bahwa janin yang dikandung Brennan bukanlah anaknya. Saat itu, Chrisann merasa malu. Dia memilih keluar, tak hanya dari bagian pengepakan di Apple, tapi juga dari rumah tempat mereka tinggal bersama.


Dia memilih tinggal bersama kawannya, berpisah dengan Steve yang fokus membesarkan Apple. Beberapa kali Chrisann berpikir untuk menggugurkan kandungannya, tapi mengurungkan niatnya. Meski tak mau mengakuinya, ketika akhirnya bayi itu lahir pada 17 Mei 1978, Steve ikut memberikan usul dan menyepakati bayi itu diberi nama Lisa.



Steve berkeras mengenai pernyataannya, bahkan membantah secara terbuka posisinya sebagai seorang ayah. Hal ini membawa ke proses hukum ketika jaksa setempat mengajukan tes DNA sebagai bukti. Hasil tes menunjukkan bahwa 94,1%, Lisa merupakan putrinya.


Dalam artikel “Machine of the Year” yang terbit dalam Majalah Time pada Januari 1983, Steve menyatakan bahwa di antara “28% populasi laki-laki di Amerika Serikat bisa saja ayah Lisa”. Chrisann mengatakan bahwa komentar tersebut sangat kejam dan menyakiti perasaannya.


Steve Jobs dan Putrinya Berbaikan


Steve Jobs dan Putrinya


Ketika Lisa menginjak usia anak-anak, Steve baru mulai mengakui Lisa sebagai putrinya. Mengatakan bahwa Lisa memiliki banyak kemiripan dengannya. Dia sangat senang ketika akhirnya Lisa bersedia menggunakan nama Jobs di belakang namanya. Menginjak usia SMA, Lisa pindah bersama ayahnya di Palo Alto.


Tujuh tahun setelah kematian sang ayah, Lisa menerbitkan sebuah memoar yang mengisahkan masa kecilnya hingga dewasa berjudul Small Fry. Di memoar itu pula ia mengungkap bagaimana terkadang ayahnya begitu menunjukkan kasih sayang terhadapnya, namun lebih sering menganggapnya tak ada.


Dia ada di sana, menatap dari majalah-majalah dan koran-koran dan layar-layar di kota mana pun aku berada. Itu ayahku dan tidak ada yang tahu, tapi itulah kenyataannya.

Lisa Brennan-Jobs dalam Small Fry

Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Dia Bukan Anakku”
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Aku Punya Rahasia, Ayahku Steve Jobs”




Kisah rumit hubungan antara Lisa Brennan-Jobs dengan Steve Jobs dapat disimak oleh pembaca lewat buku memoar Small Fry yang akan segera terbit dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Qanita.

0

Artikel, baru

Kamu tahu novel bestseller yang sangat digemari semua orang khususnya kaum emak emak? Yap, kamu benar, yaitu eugene rewrite yang bisa membuat kamu klepek klepek jika membacanya. Virus virus eugene rewrite sequel dari elena yang telah terjual 16 ribu eksemplar bisa menyihir para pembacanya. Buku novel Eugene rewrite ini hadirpun karena memang bentuk nyata dari Ellya Ningsih ingin meneruskan kisah Elena yang menggantung di akhir kisah novel cinta sejati ini. Buku yang awalnya hanya sebuah cerita yang ditulis pengarang di Facebook secara bersambung seperti punya unsur magis yang bisa menghipnotis dan membawa pembacanya tersihir masuk ke dalam cerita yang dia buat.

Jika kamu tidak mengetahui tentang novel bestseller yang satu ini, kami akan membahasnya secara singkat sebagai prologue atau pengingat jika kamu telah membacanya. Novel Elena yang menceritakan tentang Elena seorang muslimah yang akhirnya mengalami jatuh cinta kepada seorang pria yang memiliki tanah air Kanada bernama Eugene. Walaupun semua terlihat sempurna dan baik baik saja seperti sudah selayaknya, ternyata kedua orang tua dari Elena tidak setuju akan hubungannya itu dengan pria bule ini. Sampai sampai orang tuanya menjodohkan dengan Ibnu seorang duda.

Dengan terpaksa Elena pun harus menyudahi hubungannya dengan Eugene dan memutuskan menikah dengan duda tersebut agar tidak mau mengecewakan orang tua ditambah kondisi ibunya yang sedang sakit. Disini novel bestseller ini menggambarkan secara detail bagaimana perubahan dari Elena yang awalnya tidak dekat dengan agama sampai akhirnya memutuskan untuk mendekatkan diri ke maha pencipta serta menutup auratnya. Walaupun mengalami pro dan kontra dalam hati dalam menjalaninya, Elena merasa terpaksa mengikuti jalan ini walaupun menikah dengan orang yang tidak disenanginya.

Nah, di buku Eugene rewrite yang merupakan lanjutan dari novel Elena ini menceritakan bagaimana kelanjutan dari bagaimana hubungan Elena yang akhirnya memasrahkan diri menikah dan bagaimana keadaan Eugene setelah ditinggal oleh kekasih yang dicintainya. Kisah cinta sejati ini bercerita tentang bagaimana perasaan dan sikap Eugene setelah ditinggal Elena beserta bagaimana mereka pertama kali bertemu.

Pun demikian tentang bagaimana perjuangan Eugene dalam mendalami agamanya yang baru yaitu agama Islam. Cara yang unik pun dilakukan Eugene demi mendekatkan diri ke tuhannya yang baru yaitu mencari pasangan hidup. Harapannya adalah agar bisa meraih surga bersama sama serta bisa belajar agar menjadi muslim yang taat. Di tengah jalan memang Eugene tidak serta merta menjalani kehidupannya tanpa halangan di kala proses pencarian jati diri yang bisa mengubah pola hidupnya secara total. Untuk mengetahui lebih mendalam kamu bisa membacanya sampai habis agar mengetahui cerita lebih lanjutnya.

Jangankan membahas tentang buku kedua dari pengarang yang memiliki profesi sebagai ibu rumah tangga ini, membahas buku yang pertama saja bisa membuat baper orang orang yang membacanya. Hal yang disukai dari buku pertama dan yang kedua adalah karena kisah cinta sejati dan beberapa pelajaran agama Islam yang bisa dipetik pada saat membacanya. Beberapa pembaca bahkan baru mengetahui tentang esensi dari sebuah rumah tangga dilihat dari segi Islam dan menerapkan dalam kehidupan sehari harinya. Nampaknya memang buku ini bisa dijadikan referensi oleh para emak emak yang ingin mendalami sambil belajar mengenai bagaimana membangun rumah tangga yang baik. Tak heran baru beberapa hari peluncurannya, sebanyak 4 ribuan buku telah laku terjual. Sungguh buku yang sangat ditunggu tunggu oleh penggemarnya.

0

Artikel, baru

Nukilan memoar Small Fry karya Lisa Brennan-Jobs ini diterjemahkan dari vanityfair.com.


Memoar Small Fry


Saat usiaku tujuh tahun, ibu dan aku sudah pindah tiga belas kali. Kami menyewa bermacam tempat secara tidak resmi, suatu kali ting­gal di kamar berperabot milik seorang teman, kali lain menempati rumah yang disewakan sementara oleh penyewanya.


Ayahku mulai mampir ke rumah kami satu atau dua kali sebulan. Ketika dia datang, kami semua bermain sepatu roda di sekeliling peruma­han. Dia mengendarai Porsche kabriolet hitam. Saat dia berhenti, bunyi mesin berubah menjadi gumam lalu menghilang, membuat keheningan semakin hening, hanya suara lirih burung-burung.


Aku menunggu-nunggu kedatangannya, bertanya-tanya kapan itu akan terjadi, dan memikirkan dirinya sesudahnya—tetapi ketika dia hadir, selama kurang lebih satu jam kami bersama-sama, ada kekosongan yang aneh, seperti udara setelah mesin mobilnya dimatikan. Dia tidak banyak bicara kepadaku. Ada jeda-jeda panjang, bunyi debuk dan desing sepatu roda di jalan.


Kami meluncur di jalan-jalan sekitar perumahan. Pohon-pohon di atas kepala menciptakan pola-pola cahaya. Bunga fuchsia menjuntai dari semak-semak di halaman, kumpulan benang sari di bawah naungan kelopak-kelopak, seperti perempuan bergaun pesta dengan sepatu ungu.


Ayahku punya sepatu roda yang sama seperti ibuku, terbuat dari bahan nubuck warna beige dengan tali-tali merah yang bersilangan di atas dua baris pengait logam.


Saat kami melewati semak di halaman-halaman orang lain, dia menarik gumpalan-gumpalan daun dari batangnya, lalu menjatuhkan sedikit-sedikit selagi kami meluncur, meninggalkan barisan daun-daun koyak di belakang kami seperti Hansel dan Gretel.


Beberapa kali, aku merasakan tatapan matanya padaku; saat aku mengangkat kepala, dia berpaling.


View this post on Instagram

Sahabat Qanita, Mita mau nanya dong. Kalian udah pernah dengar buku berjudul Small Fry belum? Kalo belum, Mita mau kasih informasi sedikit tentang buku Small Fry ah hehehe. Small Fry merupakan memoar putri sulung Steve Jobs, yaitu Lisa Brennan-Jobs, mengisahkan dilema kehidupan Lisa yang harus memilih tinggal bersama ibunya yang nyentrik dan miskin, atau bersama ayahnya yang super kaya tapi acuh tak acuh. Small Fry diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat pada September 2018, dan masuk ke dalam daftar 10 buku terbaik 2018 versi New York Times. Keren, ya! Berita baiknya, Small Fry akan segera terbit dalam Bahasa Indonesia! #SmallFry #MemoarSmallFry #MemoarLisaBrennanJobs #LisaBrennanJobs #SteveJobs #PenerbitQanita #BukuQanita

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on


Setelah dia pergi, kami membicarakannya.


“Mengapa celananya berlubang di mana-mana?” tanyaku. Dia bisa saja menjahit lubang-lubang itu. Aku tahu dia seharusnya memiliki jutaan dolar. Kami bukan hanya mengatakan “jutawan”, tetapi “multijutawan” saat mem­bicarakan ayahku, sebab itu memang benar, dan mengetahui detail-detail kecil tentang ayahku menjadikan kami bagian darinya.


Ibuku bilang Steve bicaranya pelat. “Ada masalah dengan giginya,” kata ibuku. Dia bilang kebanyakan orang menderita gigi cakil atau gigi tonggos. “Tapi gigi ayahmu benar-benar saling bertubrukan, dan akibatnya setelah bertahun-tahun giginya retak dan sompal di tempatnya bertubrukan, menjadi bagian atas dan bagian bawah gigi bertemu, tanpa jarak. Kelihatannya seperti bentuk zig-zag, atau ritsleting.”


“Dan dia punya telapak tangan yang tidak wajar datarnya,” kata ibuku.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
Hubungan Rumit Lisa Brennan Jobs dengan Steve Jobs


Aku mengaitkan sifat-sifat mistis dengan cara jalannya yang bungkuk, gigi ritsletingnya, jeans robek-robeknya, telapak tangan datarnya, seakan-akan itu semua bukan hanya berbeda dengan ayah lainnya, melainkan lebih baik, dan karena sekarang dia sudah hadir dalam hidupku, walaupun hanya sekali sebulan, penantianku tidak sia-sia. Nasibku akan lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang sejak awal sudah punya ayah.


“Kudengar kalau ada goresan, dia membeli yang baru,” aku tak sengaja mendengar ibuku berkata kepada Ron.


“Apa yang baru?” tanyaku.


“Porsche.”


“Tak bisakah dia mengecatnya saja?”


“Bukan begitu cara kerja cat mobil,” sahut Ron. “Kita tidak bisa sekadar mengecat warna hitam di atas hitam; tidak akan berbaur. Ada ribuan warna hitam yang berbeda. Mereka harus mengecat ulang seluruh mobil.”


Ketika dia datang lagi, aku bertanya-tanya dalam hati apakah ini mobil yang sama dengan yang dia bawa kali terakhir, atau ini mobil baru, tapi sama persis dengan yang lama.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Dia Bukan Anakku”
Dia Memanggilku “Small Fry”


“Aku punya rahasia,” kataku kepada teman-teman baruku di sekolah. Aku berbisik-bisik supaya mereka mengira aku enggan mengutarakannya. Kun­cinya, menurutku, adalah bersikap seakan-akan itu tidak penting. “Ayahku Steve Jobs.”


“Siapa itu?” salah seorang anak bertanya.


“Dia terkenal,” kataku. “Dia menciptakan komputer pribadi. Dia tinggal di rumah besar dan mengendarai Porsche convertible. Dia membeli yang baru setiap kali mobilnya tergores.”


Kisah itu terdengar agak dibuat-buat saat aku menyampaikannya, bahkan bagi telingaku sendiri. Aku tidak sesering itu bertemu dengan ayahku, hanya beberapa kunjungan. Aku tidak punya pakaian atau sepeda yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak dengan ayah seperti Steve Jobs.


“Dia bahkan menamai sebuah komputer dengan namaku,” aku memberi tahu.


“Komputer apa?” tanya anak perempuan bernama Elizabeth.


“Lisa,” jawabku.


“Komputer bernama Lisa?” cetusnya. “Aku belum pernah dengar.”


“Komputer itu mendahului masanya.” Aku menggunakan istilah ibuku, walaupun aku tidak yakin mengapa bisa mendahului. “Dia menciptakan komputer pribadi sesudahnya. Tapi kalian tidak boleh bilang siapa-siapa, karena kalau ada yang tahu, aku bisa diculik.”[]


0

Artikel, baru

Nukilan memoar Small Fry karya Lisa Brennan-Jobs ini diterjemahkan dari vanityfair.com.



Pada musim semi 1978, ketika orangtuaku berusia 24 tahun, ibuku melahirkanku di peternakan teman mereka, Robert, di Oregon, dengan bantuan dua bidan. Proses persalinannya memakan waktu tiga jam, dari awal sampai akhir. Ayahku tiba beberapa hari kemudian. “Itu bukan anakku,” dia terus memberi tahu semua orang di peternakan, tapi tetap saja dia terbang ke sana untuk menemuiku. Rambutku hitam dan hidungku besar, dan Robert berkata, “Dia jelas mirip denganmu.”


Orangtuaku membawaku ke ladang, membaringkanku di selimut, dan mencermati halaman-halaman buku nama bayi. Ayah ingin menamaiku Claire. Mereka mempertimbangkan beberapa nama, tetapi tidak juga sepakat. Mereka tidak ingin sesuatu yang derivatif, versi pendek dari nama yang lebih panjang.


“Bagaimana kalau Lisa?” ibuku akhirnya berkata.


“Ya. Itu dia,” sahut ayahku girang.


Dia pergi keesokan harinya.


“Bukankah Lisa kependekan dari Elizabeth?” aku bertanya pada ibuku. “Bukan. Kami sudah periksa. Itu nama yang berbeda.” “Dan mengapa kau membiarkannya membantu menamaiku padahal dia berpura-pura dia bukan ayahku?” “Karena dia ayahmu,” jawab ibuku.



Saat ibuku tengah hamil, ayahku mulai mengerjakan sebuah komputer yang belakangan akan dinamai Lisa. Lisa merupakan pelopor Macintosh, komputer dengan tetikus eksternal pertama yang dipasarkan secara mas­sal—tetikusnya sebesar bongkahan keju. Namun Lisa terlalu mahal untuk pasar, sebuah kegagalan komersial; ayahku mengawali sebagai tim yang mengerjakannya, tapi kemudian mulai bekerja menentangnya, berkompetisi melawannya, dalam tim Mac. Proyek komputer Lisa dihentikan, tiga ribu kom­puter yang tak terjual belakangan dikubur dalam lahan uruk di Logan, Utah.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
Hubungan Rumit Lisa Brennan Jobs dengan Steve Jobs


Sampai usiaku dua tahun, ibuku menambah pemasukan dari tunjangan sosial dengan membersikan rumah orang dan menjadi pramusaji. Ayahku tidak membantu. Dia menemukan tempat penitipan anak yang bisa menjagaku di dalam sebuah gereja, yang dikelola istri sang pendeta. Selama beberapa bulan, kami menempati kamar dalam sebuah rumah yang ditemukan ibuku di papan pengumuman. Kamar itu sebenarnya ditujukan bagi para perempuan yang mempertimbangkan menyerahkan anak mereka untuk diadopsi.


Tahun 1980, jaksa wilayah San Mateo County, California, menuntut ayahku untuk membayar tunjangan anak. Ayahku merespons dengan menyangkal paternity, bersumpah dalam deposisi bahwa dia steril dan menyebut nama lelaki lain yang menurutnya adalah ayahku.


Aku diminta melakukan tes DNA. Tes-tes ini masih baru, dan hasilnya keluar: kemungkinan bahwa kami berkerabat mencapai nilai tertinggi yang dapat diukur instrumen tersebut pada saat itu, 94,4 persen. Pengadilan mengharus­kan ayahku mengganti uang tunjangan sosial sebesar kurang lebih $6.000, membayar tunjangan anak sebesar $385 per bulan, yang dia naikkan menjadi $500, dan asuransi kesehatan sampai aku berumur delapan belas tahun.


Namun sebelum itu, tak lama sesudah kasus pengadilan ditutup, ayahku mengunjungiku satu kali di rumah kami di Oak Grove Avenue di Menlo Park, tempat kami menyewa ruangan studio yang tersambung dengan rumah utama. Aku tidak ingat kunjungan tersebut, tapi itu kali pertama aku bertemu dengannya sejak aku baru lahir di Oregon.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Aku Punya Rahasia, Ayahku Steve Jobs”
Dia Memanggilku “Small Fry”


“Kau tahu siapa aku?” tanyanya. Dia menyibakkan rambut dari matanya.


Umurku tiga tahun; aku tidak tahu siapa dia.


“Aku ayahmu.” “Seakan-akan dia Darth Vader,” ibuku belakangan berkata, ketika dia menceritakan kisah itu.


“Aku salah satu orang paling penting yang akan pernah kau kenal,” ujar ayahku.[]


0

Artikel, baru

Catwoman bukanlah satu-satunya tokoh fiksi yang berafiliasi dengan kucing, tapi jelas merupakan salah satu tokoh fiksi yang sangat populer dan dikenal banyak orang di sepenjuru dunia. Apa saja fakta yang membuat sosok Catwoman menjadi istimewa di mata para penggemar DC Comics? Mari simak daftar berikut ini.


Tergabung dalam Justice League of America



Justice League of America didirikan oleh Steve Trevor (anggota Angkatan Utara pada Perang Dunia kedua yang terdampar di Themyscira, kampung halaman Wonder Woman) dan Amanda Waller (agen yang juga mendirikan Suicide Squad). Para anggota Justice League of America dilatih untuk menjadi tandingan Justice League (yang digawangi Superman, Batman, Wonder Woman, Aquaman, dan The Flash).


Selain Catwoman, dalam kelompok ini juga ada Martian Manhunter, Hawkman, Stargirl, Green Arrow, Katana, dan Green Lantern.


Baca juga:
4 Novel Keren dengan Tokoh Kucing Hitam
7 Karakter Superhero DC yang Paling Populer


Pernah pura-pura amnesia



Dalam salah satu kisah asal-usul Catwoman, disebutkan bahwa Selina Kyle adalah seorang pramugari yang selamat pasca kecelakaan pesawat terbang. Selina berpura-pura amnesia atau hilang ingatan untuk melepaskan diri dari kehidupan kriminalnya. Selama beberapa tahun, Selina menjadi sekutu Batman, sebelum akhirnya dia kembali ke dunia gelapnya sebagai seorang kriminalis.


Punya adik perempuan bernama Magie



Setelah orangtua mereka meninggal, Selina berusaha bertahan hidup di jalanan, sementara adiknya, Magie, diadopsi. Magie merasa hidupnya sial dan berantakan sejak Selina menjadi Catwoman, karena dirinya ikut diincar musuh-musuh Catwoman. Magie yang kesehatan mentalnya terganggu kemudian menjadi Sister Zero dan bertekad untuk membunuh Selina; dia menganggap itu satu-satunya cara untuk membebaskan jiwa Selina dari Catwoman.


Menguasai berbagai jenis beladiri



Catwoman tidak memiliki kekuatan super, tapi seperti Batman, dia menguasai berbagai jenis ilmu beladiri. Beberapa di antaranya adalah tinju, capoeira, hapkido, jujitsu, kung fu, dan karate. Wildcat, sesama anggota Justice League of America, adalah orang yang mengajari Catwoman tinju dan tarung jalanan.


Selain mengandalkan beladiri dalam bertarung, Catwoman juga mahir akrobatik , menyelundup, dan menyamar. Keahlian-keahlian ini sangat berguna dalam profesinya sebagai pencuri.


Baca juga:
9 Film Batman Paling Populer, Mana Favoritmu
5 Musuh Terburuk Batman, Siapa yang Paling Menakutkan?


Beraliansi dengan Poison Ivy dan Harley Quinn



Dalam novel Catwoman: Soulstealer yang ditulis oleh Sarah J. Maas, Catwoman disebutkan berkomplot dengan Poison Ivy dan Harley Quinn, dua penjahat wanita tersohor di Kota Gotham. Mereka bertiga melakukan serangkaian aksi pencurian yang meresahkan para penduduk kota.


Sebelum muncul di Catwoman: Soulstealer, aliansi ketiga wanita cantik nan berbahaya ini pernah muncul dalam serial komik yang berjudul Gotham City Sirens.[]

0

Artikel, baru

Mental illness atau penyakit mental akhir-akhir ini menjadi perhatian warga internet. Apalagi sejak kematian beberapa pesohor dunia yang mengakhiri hidupnya setelah bertahan sangat lama dengan mental illness. Banyak orang yang akhirnya sadar dengan bahaya mental illness.

Mental illness sendiri tidak seperti penyakit lain yang bisa dideteksi layaknya flu atau demam. Dikutip dari hellosehat.com, mental illness meliputi keadaan emosional, psikologis, dan kesejahteraan sosial seseorang.

Lanjutnya, hal tersebut berpengaruh pada kesehatan mental yang menyebabkan beberapa gangguan dari yang ringan hingga yang berat. Gangguan-gangguannya yang paling umum ditemukan bisa berupa depresi klinis, gangguan bipolar, kecemasan, PTSD (Stress Pasca-Trauma) dan OCD (Obsesif Kompulsif).

Baca juga:
Daniel Keyes, Penulis yang Mengeksplor Pikiran Manusia
Ini Bukan Dongeng 


Meskipun berbeda dengan penyakit biasa, bukan berarti tidak ada pengobatan untuk mental illness. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari mental illness. Apa saja? Yuk simak ulasannya di bawah.

1. Pergi ke Dokter

mental illness


Tak banyak penderita yang meminta bantuan profesional untuk mengobati penyakitnya. Namun, agar pengobatan yang diberikan lebih tepat, penderita bisa menemui dokter untuk diagnosa dan mencari akar permasalahannya. Dengan begitu, dokter bisa memberi pengobatan dan obat-obatan yang tepat.

2. Psikoterapi

mental illness

Metode yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud ini dilakukan dengan cara berbicara. Psikoterapis akan membimbing penderita untuk mengendalikan perasaannya. Meskipun terdengar mudah, bukan berarti psikoterapi ini bisa dilakukan sembarangan.

Psikoterapi bisa diterapkan untuk beragam mental illness. Contoh psikoterapi di antaranya exposure therapy, cognitive behavioral therapy, dan dialectical behavioral therapy.

3. Obat Pelengkap

mental illness


Biasanya obat-obatan dipakai selama masa pengobatan saja. Pastinya sesuai dengan resep dokter. Kalau beli dan minum sembarangan akibatnya bisa fatal.

Obat-obatan yang dipakai juga bukan sembarang. Melainkan yang mengandung bahan pengubah dan penyeimbang senyawa kimia dalam otak. Perlu dicatat, tak ada obat yang dapat menyembuhkan semua sekaligus.

 

4. Eye Movement Desensitization and Reprocessing


mental illness


Biasa disingkat menjadi EMDR adalah sebuah bentuk terapi yang digunakan untuk mengurangi tekanan yang diakibatkan oleh trauma yang sulit hilang. Praktik yang paling sederhana adalah penderita diinstruksikan untuk mengikuti gerakan jari terapis dengan matanya. Dengan begitu, dia bisa memusatkan perhatiannya pada hal apa saja yang mengganggu emosinya.

5. Problem Solving Therapy


mental illness


Terapi yang juga meningkatkan kemampuan penderita untuk menghadapi masalahnya dengan problem solving. Caranya, penderita akan diminta untuk mengidentifikasi masalah dan solusi yang paling mungkin dilakukan.

 

6. Ikut Support Group

mental illness


Bertemu dan sharing dengan survivor mental illness mengenai apa yang sedang dialami bisa membantu untuk mengobatinya. Dengan begitu, penderita bisa saling membimbing untuk pemulihan.

 

7. Meditasi

mental illness

 

Menenangkan pikiran dengan meditasi, selain bisa dilakukan oleh semua orang, juga sangat mudah. Sembari menghindari hal-hal negatif yang dapat memicu mental illness. Meditasi akan membuat kita rileks saat memikirkan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.

Masih banyak lagi jenis pengobatan. Setiap orang memiliki preferensinya sendiri mengenai pengobatan. Tak ada pengobatan yang langsung menyembuhkan penderita. Semuanya butuh waktu.

Baca juga:
5 Novel Terjemahan yang Akan Mengguncang 2019
5 Mitos Kesehatan, Inikah yang Kamu Yakini?

Selain itu mental illness perlu menjadi sebuah perhatian karena penderitanya kebanyakan tidak akan memberitahukan apa yang dia rasakan.[]

0

Artikel, baru, Kolom Editor, Tak Berkategori

Istilah Industri 4.0 pertama kali dikenalkan Pemerintah Jerman dalam event Hannover Fair pada 4-8 April 2011. Istilah tersebut digunakan untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi. Sekarang orang saling terkoneksi, menjadi hal yang biasa ketika internet menjadi suatu kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jual beli, mengoprasikan mesin, belajar, memesan makanan, menonton, bermain, rapat, bahkan memberi makan binatang peliharaan pun hanya dengan device dan jaringan internet. Proses otomatisasi, AI (Artificial Intelligence), dan Internet of Things!

Berpijak pada perkembangan teknologi dan pemerataan internet yang sudah menjangkau sebagian besar penduduk dunia, serta Revolusi Industri 4.0 yang sudah mulai terjadi, maka dari kelompok terkecil sampai korporasi bersama-sama menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengaruh ini. Secara tidak langsung kita dituntut untuk bertransformasi dan ikut dalam proses digitalisasi. Jika tidak berinovasi, mencari peluang, dan memecahkan masalah, maka kita akan mati pelan-pelan.

Sebelum semua sektor terpapar industri 4.0, hal yang mungkin harus dilakukan sekarang adalah memulai proses digitalisasi di semua sektor. Perusahaan (dari UMKM sampai Korporasi besar) sebagai entitas bisnis harus dituntut untuk selalu tumbuh, berkembang serta bersaing dalam industri yang sudah menjadi digital, maka diperlukan problem solved dan ide kreatif, untuk menjaring publik yang sudah terkoneksi. Idealnya setiap perusahaan ke depan memiliki visi dan misi tentang digitalisasi. Untuk mewujudkan itu diperlukan strategi digital yang memang menjadi tanggung jawab bersama dalam satu perusahaan.

Dalam menyusun strategi digital, ada dua hal penting yang harus dilakukan. Pertama, dengan melakukan transformasi digitalisasi internal perusahaan, seperti memulai budaya digital, mengerti perkembangan teknologi, berpikir out of the box, dinamis dan mempunyai sense of future (visioner). Kedua, membangun peluang bisnis dalam dunia digital melalui peningkatkan nilai tambah bisnis inti dengan mengeluarkan produk (digital dan non digital) yang menarik bagi masyarakat serta memasarkan produk dengan strategi marketing pada digital marketing, lalu melakukan kerja sama dan investasi dalam ekosistem bisnis digital.

Perusahaan melakukan strategi digital sebagai bagian dalam setiap kebijakan yang ditetapkan dari level korporat, bisnis dan fungsional. Pada level atas, strategi digitalisasi menjadi salah satu bagian dari strategi korporat yang tercantum dalam visi dan misi, perusahaan menjabarkan secara detail strategi digital, target pencapaian dan unit pelaksananya.

Kemudian di level bisnis, kebijakan tersebut dijabarkan dalam bentuk master plan unit yang menjabarkan program digitalisasi yang akan dijalankan pada periode waktu tertentu. Kemudian di level pelaksana termasuk SDM dan keuangan, dijabarkan kebijakan pendukung untuk mewujudkan target tersebut. Dengan cara ini maka strategi digitalisasi menjadi acuan di semua lini perusahaan baik di level korporasi, unit bisnis, unit fungsional maupun di bagian terkecil. Ada 7 aspek yang bisa menjadi acuan dalam membangun budaya digital:

People, mentransformasi SDM dan membangun pemimpin dan karyawan yang memiliki kompetensi digital.

Bisnis, melalui peningkatan porsi kontribusi revenue dari bisnis yang didigitalisasi terhadap bisnis secara keseluruhan dan memulai pola bisnis baru.

Budaya, melakukan aktivasi budaya digital untuk mencapai peningkatan kebiasaan dan ekosistem digital dalam perusahaan.

Struktur/Organisasi, melakukan transformasi organisasi melalui strukturisasi unit khusus digital dan mendigitalisasi unit lain. Kebijakan yang bisa mendukung proses digitalisasi.

Sistem/Proses Bisnis, melalui digitalisasi, termasuk bagian finansial menjadi problem solved untuk membuat model finansial baru dalam dunia digital.

Market, menganalisis target pasar yang sudah terkoneksi dengan mengeluarkan produk yang sesuai dengan sasaran pasar (problem solved).

Infrastruktur, internet of things menjadi sebuah kunci bagi proses digital, kecepatan data menjadi hal yang sangat penting.

Namun, tidak menutup kemungkinan untuk memperluas cakupan bukan hanya sebatas bisnis yang berhubungan dengan bisnis inti. Maka, model strategi digital menitikberatkan pada strategi digital yang dapat menjadi model bisnis baru dan memperkuat bisnis inti. Misalnya pemakaian teknologi digital untuk engagement dengan users, otomatisasi proses bisnis, dan inovatif dalam produk terbaru. Khusus dalam proses digitalisasi, harus dipahami bahwa dalam membangun proses digitalisasi harus ada komplemen digital strategis yang terdiri atas engineer (programmer), designer, dan business man. Komplemen ini menjadi think tank bagi setiap unit dalam perusahaan untuk menuju digitalisasi.

Seluruh masyarakat yang terkoneksi maupun belum terkoneksi adalah target market dari perusahaan dengan membangun budaya digital dan ekosistem digital. Sehingga bisa tercapai engagement, trust, brand awareness dan like dengan tujuan revenue baru bagi perusahaan.

Kendala yang muncul:

• Tantangannya dalam hal transformasi SDM: Kapasitas dan kapabilitas karyawan yang perlu memiliki daya saing global dan karyawan yang memiliki kemampuan di bidang digital.

• Tantangan dalam transformasi kultur: Mindset dan isu kultural karyawan terhadap perubahan paradigma yang biasanya masih terbawa pada masa transisi yang membutuhkan waktu penyesuaian dalam mengadaptasi perubahan.

• Tantangan dalam transformasi organisasi: Resistensi karena kekurangpahaman karyawan terhadap perubahan transformasi organisasi, budaya dan kesisteman SDM. Ketidaktahuan karyawan tentang pencapaian strategi bisnis perusahaan.

• Tantangan dalam transformasi bisnis: Belum adanya regulasi yang menjadi standar dalam mengatur produk digital, payment gateway yang masih rumit, divisi dalam perusahaan yang sulit diajak berpikir digital untuk bisnis, serta penggiringan paradigma users (konsumen).

• Tantangan dalam transformasi infrastruktur: Kecepatan dalam membangun infrastruktur, device pendukung, software pendukung dan jaringan internet untuk mendukung program utama digitalisasi.

• Tantangan dalam transformasi pasar: Mengubah paradigma masyarakat untuk ikut proses industri digitalisasi baik mengenai produk maupun ekosistem bisnis digital.

• Tantangan dalam kompetitor: Pergerakan bisnis dalam dunia digital tidak hanya persaingan antara perusahaan dalam bidang yang sama, tetapi dengan para pelaku bidang teknologi.

Melihat perkembangan saat ini, budaya digital mulai mengubah ekosistem manusia dan prilaku users sangat bisa dikondisikan sesuai kebutuhan industri. Berdasarkan laporan digital tahunan yang dikeluarkan oleh We Are Social dan Hootsuite untuk Indonesia hingga Januari 2019, jumlah orang terkoneksi dengan internet di Indonesia mencapai 150 juta pengguna, serta 150 juta akun sosial media. Dari yang tekoneksi internet itu ada 65% pengguna smartphone, 25% pengguna desktop (PC, laptop), 10% lain-lain (Smart TV, Tablet, iPad dan Smart Watch). Melihat data tersebut, ada peluang besar dalam bisnis perusahaan dalam dunia digital di Indonesia.

Media pendukung menjadi hal yang wajib untuk masuk ke dunia digital (desktop dengan web-nya, mobile dengan apps-nya). Perusahaan menyelaraskan sesuai dengan kebutuhan proses digitalisasi dalam industrinya. Ketika bisnis dalam dunia digital ini semakin maju, maka persaingan semakin terasa. Oleh karena itu, selain bertranformasi ke arah digitalisasi, perusahaan harus bisa menjadi problem solved bagi orang-orang yang sudah terkoneksi di dunia digital.

Semua itu tentunya tidak akan berjalan jika 7 aspek di atas tidak kita lakukan dari sekarang. Go! Digital Nation are we? 4.0 are you kidding me? Meh!

Tabik!

industi 4.0 digital nation

Ditulis oleh: Fuzie Septika

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 35NO NEW POSTS
X