fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Info, Liputan


ASEAN Literary Festival 2017 atau disingkat ALF 2017,  sudah berlangsung sejak hari Kamis, 3 Agustus kemarin. Event ini menghadirkan penulis ternama dari kawasan Asia Tenggara, yang dinilai sangat berpengaruh serta kritis terhadap isu sosial. ALF 2017 diadakan di komplek Kota Tua Jakarta, dan berlangsung hingga hari Minggu, 6 Agustus besok.

Tema yang diangkat dalam ALF 2017 kali ini salah satunya adalah populisme dan radikalisme, isu yang saat ini sedang hangat-hangatnya mencuat di masyarakat. Selain itu ALF tahun ini juga akan mengangkat tema peran media sosial dalam kebebasan berekspresi.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung penuh berlangsungnya acara Asean Literary Festival 2017. Salah satu acara spesial dalam ALF 2017 adalah program baru yang dinamakan Jambore Nasional Sastra. Program ini ditujukan bagi anak-anak yang masih duduk di bangku SD-SMA. Ada satu lagi yang spesial di ALF 2017, Penerbit Mizan membuka booth khusus untuk memeriahkan momen tahunan ini.

Bagi pengunjung yang ingin berkonsultasi mengenai penulisan serta cara submit naskah ke penerbit, dapat berbincang langsung dengan editor dari tim redaksi Mizan Pustaka, Zahra Haifa. Di booth Mizan, penulis juga dapat drop/submit naskah secara langsung. Seru kan! Selain kehadiran booth Mizan.

Presiden Direktur Mizan Group, sekaligus penulis buku Islam Tuhan Islam Manusia, Haidar Bagir juga ikut mengisi acara di ALF 2017. Haidar Bagir bersama Donny Gahral Adian (Pengajar Filsafat), menjadi dua pembicara dalam peluncuran serta diskusi buku Islam Tuhan Islam Manusia, yang berlangsung tadi siang di Gedung Pos, Kota Tua, Jakarta .
Buat kamu yang hari ini belum sempat datang ke booth Mizan, masih ada besok, hari terakhir perayaan ALF 2017. Kamu juga masih bisa menghadiri berbagai sesi diskusi yang menjadi acara utama di ALF 2017 ini.

Jangan lupa juga untuk mampir di booth Mizan, kamu bisa berbelanja dengan harga spesial, sekaligus menggali ilmu tentang penerbitan, dari tim redaksi Mizan Pustaka.
0

Artikel, Liputan

[Oleh: Dyah Agustine – Editor Redaksi Dewasa]


Siapa yang tidak pernah mendengar judul The Da Vinci Code? Buku fenomenal karya Dan Brown yang pertama kali diterbitkan 2003 ini mengangkat isu kontroversial yang membuat banyak orang gempar. Pada tahun 2006, kisahnya diangkat ke layar lebar, dibintangi Tom Hanks sebagai pemeran utama.

Hari Minggu kemarin, teman-teman dari komunitas IndoDanBrown mengadakan acara nonton bareng film The Da Vinci Code Extended Version. Dalam versi yang diperpanjang ini, ada tambahan berbagai adegan yang totalnya berjumlah setengah jam. Tambahan adegan ini membuat alur ceritanya lebih mudah dipahami, dan beberapa tokoh di dalamnya menjadi lebih punya kedalaman karakter.

Meskipun filmnya berlangsung selama hampir tiga jam, para peserta nonbar tidak ada yang ketiduran, berkat asupan kopi yang memadai. Setelah selesai nonton, diadakan diskusi dan tanya jawab seputar film dan buku The Da Vinci Code, juga bagi-bagi hadiah.

The Da Vinci Code sendiri menceritakan sepak terjang seorang profesor pakar Simbologi bernama Robert Langdon yang terlibat dalam kasus pembunuhan seorang kurator senior Museum Louvre di Paris. Dibantu oleh Sophie Neveu, seorang ahli Kriptologi, Prof. Langdon berusaha mengungkap identitas pembunuh sang kurator.

Kasus yang ternyata melibatkan pencarian Cawan Suci dan konspirasi Gereja selama berabad-abad ini membuat Prof. Langdon dan Sophie dikejar-kejar hingga ke London, dan beberapa kali menyerempet maut. The Da Vinci Code adalah buku kedua Dan Brown dengan tokoh utama Prof. Robert Langdon.

Buku pertamanya adalah Angels and Demons, buku ketiga The Lost Symbol, dan buku keempat Inferno. Semuanya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan. Buku kelimanya, Origin, baru akan terbit versi Bahasa Inggrisnya pada Oktober 2017, dan versi Bahasa Indonesianya akan segera menyusul.

(Judul-judul Novel Dan Brown yang telah diterbitkan Mizan)


Bulan depan akan direncanakan acara nonton bareng Angels and Demons (juga Extended Version). Disarankan teman-teman yang berminat ikutan, membaca bukunya terlebih dahulu, agar nantinya kita bisa seru membahas perbedaan antara versi buku dan versi film (yang dengar-dengar cukup banyak perbedaannya).

Jangan lupa follow Instagram @indodanbrown untuk mendapat info-info terbaru dan fakta-fakta menarik seputar karya-karya Dan Brown, dan jangan sampai ketinggalan juga untuk ikutan kuis-kuis berhadiah menarik.



Untuk info seputar novel-novel Dan Brown, silakan follow,


Instagram: @indodanbrown

Twitter: @indodanbrown
0

Artikel, Liputan

KKPK MIZAN GOES TO KOREA | Featured
[Oleh: Hamzah Reevi]

Suhu udara 4° Celcius mencubit kulit ketika kami mendarat di Incheon Airport, Korea Selatan. Saya bisa melihat kelelahan di wajah Atha (8), Fayanna (11), dan Zahra (14) setelah menempuh perjalanan udara sekitar 7 jam dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Namun, tak berselang lama, suasana berbeda yang tidak kami dapatkan di Indonesia membuat kami begitu semangat memulai perjalanan ini. Saat kami tiba, musim gugur akan segera berakhir dan dalam beberapa hari ke depan Korea Selatan akan diselimuti musim dingin.

Tampak pepohonan sepanjang jalan memamerkan warna-warni menarik, beberapa dari mereka mulai meranggas saat angin utara datang dan menjatuhkan dedaunan di jalan. Pemandangan ini sempat membuat kami lama terdiam sambil tersenyum. Perjalanan dari bandara menuju lokasi pertama kami jadi terasa begitu singkat.  

Kantor Cabang Luar Negeri – BNI Cabang Seoul
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami sampai di Kantor BNI Cabang Seoul yang terletak di lantai 8 Wise Tower, Namdaemun-ro, Jung-gu, Seoul. BNI sendiri adalah satu-satunya bank dari Indonesia yang beroperasi di Korea Selatan dan memegang lisensi sebagai full branch.

Begitu sampai di lantai 8, kami langsung disambut Bapak Wan Andi Aryadi, General Manager BNI Seoul. Tak butuh waktu lama suasana kekeluargaan terasa di sini, tim BNI Seoul berbincang dan tertawa mendengar celotehan Atha.

Tak jarang mimik takjub terlihat dari wajah kakak-kakak BNI saat mengetahui prestasi Fayanna dan Zahra. Selama di sana kami mendapat penjelasan mengenai BNI Seoul yang belum lama dibuka.

Sebelum melanjutkan perjalanan, anak-anak mendapat sertifikat dan kenang-kenangan dari BNI Seoul. Sebuah pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi saya dan anak-anak bisa berkunjung ke Kantor BNI Cabang Seoul.  

Samsung Innovation Museum (S/I/M)

 

 

Saya amat berterima kasih kepada teman-teman Samsung Indonesia yang bersedia membantu rombongan Mizan agar dapat berkunjung ke Samsung Innovation Museum (S/I/M). Menurut beberapa sumber, selain undangan khusus, masyarakat umum tidak mudah mengunjungi tempat ini.

S/I/M terletak di Kota Suwon, sekitar 45 menit dari Kantor BNI yang kami kunjungi pertama. Di sini, anak-anak mendapat banyak pelajaran mengenai penemuan-penemuan inovatif dunia dan sejarah bagaimana barang-barang elektronik bermula dan Samsung mengambil peran di dalamnya.

Samsung merupakan salah satu pemain besar elektronik di dunia yang terus tumbuh. Kami melihat sebuah mimpi besar Samsung untuk menyandingkan teknologi dengan manusia di masa depan melalui terobosan-terobosannya.
 
Petit France, Teddy Bear Museum, English Village

 

Selama 6 hari 4 malam anak-anak pemenang program KKPK Goes to Korea banyak mendapat pelajaran dan pengalaman berharga. Budaya masyarakatnya yang sangat tertib dan ramah menjadi perhatian kami juga.

Banyak lokasi menarik dan sarat sejarah yang kami datangi, sebut saja Petit France yang berlokasi di Provinsi Gyeonggi-do, sebuah tempat replika dari Petit France di Strasbourg, Prancis. Di sini kami dimanjakan dengan 16 bangunan bergaya Prancis dengan warna-warni pastel. Butuh waktu 1 jam 40 menit untuk mencapai lokasi ini dari penginapan kami di Seoul.

Pada hari ketiga kami mengunjungi English Village. Ini merupakan Kampung Inggris, mungkin di Indonesia seperti Kampung Inggris di Pare, Kediri. Menurut tour guide kami, orang Korea atau luar Korea biasa belajar di sini saat musim panas, sehingga ketika kami ke sana tidak terlihat aktivitas belajar-mengajar.

English Village berada di kawasan Paju-si, Provinsi Gyeonggi. Terdapat banyak bangunan cantik yang didesain sesuai negara-negara berbahasa Inggris dan menjadi simulasi menarik agar siswanya merasakan berbagai budaya dari seluruh dunia.

 

Selama di Korea kami juga mencari tahu isi Teddy Bear Museum, sebuah museum yang berisi ratusan boneka Teddy Bear yang sudah amat dikenal oleh anak-anak di seluruh dunia. Selain koleksi boneka, di museum ini juga terdapat tempat-tempat interaktif, seperti rumah kaca, cermin ajaib, sejarah Teddy Bear, board panjang informasi cara membuat boneka Teddy Bear, dan tempat terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Di sela kunjungan ke lokasi-lokasi tersebut, kami lengkapi perjalanan ini dengan belajar cara membuat Kimchi, makanan khas Korea Selatan yang terdiri dari 200 jenis; mengetahui perjalanan hidup orang Korea dari lahir hingga meninggal di museum yang berada di dalam kawasan Gyeongbokgung Palace; mencari tahu sejarah Ginseng; melihat Kota Seoul dari atas bukit Namsan; dan merasakan kawasan Myeong-dong yang ramai dengan gerai-gerai branded dan penjual aneka suvenir serta makanan kaki lima.

 
Foto seru lainnya selama kami berada di Korea;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang KKPK Goes to Korea

KKPK Goes to Korea merupakan program nasional yang diselenggarakan oleh Divisi Anak dan Remaja (DAR!) Mizan bekerja sama dengan BNI 46 yang bertujuan untuk mengenalkan karakter-karakter dalam Seri Kecil-Kecil Punya Karya, yakni Karima, Karin, Putera, dan Kiki.

Melalui program ini, anak-anak didorong untuk lebih gemar membaca dan berkreasi dengan papercraft yang diselipkan di 12 judul KKPK yang terbit setiap bulan. Mereka juga diminta untuk menuliskan alasan kenapa ingin sekali diberangkatkan ke Korea Selatan oleh DAR! Mizan.

KKPK Goes to Korea diluncurkan di Islamic Book Fair 2016 di Jakarta pada 26 Maret 2016 dan mendapatkan respons sangat baik dari pencinta KKPK dan anak-anak yang berkunjung ke Kids Zone IBF.

Tujuan diadakannya program ini untuk mengenalkan karakter KKPK dengan media yang lebih segar dan masif, brand awareness dan memantapkan KKPK sebagai brand buku anak terbaik di Indonesia, serta membangun kreativitas pembaca KKPK melalui aktivitas crafting dan menulis.

Roadshow dan sosialisasi program ini diselenggarakan di banyak kota sejak Maret hingga Oktober 2016. Kota-kota yang menjadi lokasi roadshow, antara lain Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Salatiga, Surabaya, Malang, Pekanbaru, Banjarmasin, dan Makassar.

Selain sosialisasi cara mengikuti program, acara diisi juga dengan workshop menulis dari Redaksi DAR! Mizan dan mendatangkan Penulis Cilik KKPK. Lokasi acara biasanya diadakan di sekolah, perpustakaan daerah, atau taman baca dengan siswa SD/SMP berusia 7-15 tahun sebagai pesertanya.

Pekan pertama Oktober 2016 Tim Redaksi Anak DAR! Mizan melakukan penjurian dan terpilihlah 3 pemenang yang berhak diberangkatkan ke Korea Selatan pada 7-12 November 2016, yakni:

  1. Naura Athaya Sharif, 8 tahun, SDN Pogar II Bangil Jawa Timur
  2. Fayanna Ailisha Davianny, 11 tahun, Tunas Global Depok
  3. Zahra Roidah Amalia Hasna, 14 tahun, SMPN 2 Temanggung Jawa Tengah
 

(Penyunting: Yuni Moniasih)

0

50TahunGestapu
Bung Salim, menuliskan kesaksiannya tentang peristiwa sejarah yang super-misterius ini. Dengan gaya amat menarik dan memukau tentang 3 tokoh sentral di sekitar Peristiwa G-30-S. Kesan saya dari membaca buku ini: Lebih baik menyalahkan seorang Aidit daripada PKI sebagai keseluruhan Partai.

Asahan Alham Aidit (seorang eksil Indonesia yang menetap di Amsterdam) Komentar tersebut berhasil mengundang rasa penasaran dari mereka yang melihat buku karya Salim Said yang berjudul Gestapu 65 PKI. Aidit, Sukarno dan Soeharto.

Dalam kegiatan seminar sekaligus pembukaan resmi bukunya yang diadakan di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina pada Rabu (21/10) lalu dengan tema 50 Tahun Kegagalan Gestapu, peserta memperlihatkan ketertarikannya melalui bentuk diskusi yang hangat.

Menghadirkan pembicara sejarawan TNI Kolonel (Purn.) Saleh Asad Djamhari, mantan komandan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim Dr. Fahmi Idris, dan narasumber dari berbagai golongan dan latar belakang.

Acara ini berhasil membawa antusiasme peserta melalui banyaknya pertanyaan dan pernyataan. Dalam kata sambutannya, Salim Said mengatakan bahwa sulit untuk bersepakat mengenai siapa sebenarnya pelaku Peristiwa Gestapu karena keterbatasan data yang ada.

Dan bahwa peristiwa Gestapu merupakan suatu luka bagi bangsa Indonesia, bagi kita semua sebagai korban. Dari sisi narasumber yang dihadirkan. Beberapa narasumber senior seperti Taufik Ismail dan Harry Tjan Silalahi menyatakan keinginannya untuk berdamai dan menghilangkan rasa dendam.

Seorang narasumber lainnya menyatakan getirnya diskriminasi yang harus dihadapi oleh seorang yang dituduh komunis dan narasumber lain menyatakan untuk mewaspadai gerakan komunis.


Acara ini didukung oleh Institut Peradaban, Yayasan Wakaf Paramadina, Jamu Jago, dan Pusat Studi Kelirumologi.

0

Liputan
large_66_SIFILE_bukti_komitmen
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

large_64_SIFILE_ttd_jk_rowling
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
0

X