fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Beberapa waktu yang lalu aku mulai membaca buku tentang Stephen Hawking yang dikemas dalam format majalah, Stephen Hawking: A Mind Without Limits. Karena tinggal beberapa halaman lagi, buku ini aku bawa untuk segera menyelesaikannya dalam perjalanan liburan kali ini.

 

Aku juga secara acak mengambil 1 buku lagi dari tumpukan bacaan yang belum sempat dibaca, tanpa secara khusus memedulikan judulnya. Yang jelas harus tipis supaya nggak berat.

 

Terambilah novel House of Tales dari Jostein Gaarder.




Dari ketinggian 35rb kaki, di dalam tubuh pesawat, aku selesaikan buku Stephen Hawking dan lanjut, terserap dalam novel House of Tales. Pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula kehidupan, keabadian, mati, atom, supernova, big bang, bahkan soal lingkungan mengisi novel tipis ini. Sedikit mengingatkan pada Dunia Sophie, karya bestseller penulis yang sama.

 

 

Yang tidak disangka, tokoh utama dalam House of Tales yang mengalami cinta dan kegalauan hidup ini adalah seorang pengajar sastra pecinta buku-buku Stephen Hawking, dan yang kemudian juga mendapat diagnosis yang sama dengan Stephen Hawking, yaitu penyakit ALS.

 

Bagian ini benar-benar membuatku terperanjat. Bagaimana aku bisa membawa dua buku yang seperti saling terkait? Bagaimana kebetulan semacam ini bisa terjadi? Rasanya seperti mengalami kebingungan yang dialami Sophie dalam Dunia Sophie yang mencari jawab tentang kebetulan dan kehidupan di dunia ini.[]

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan di facebook.

 

0

Artikel, baru

Stasiun TV Amerika, NBC (National Broadcasting Company), berencana meluncurkan serial TV terbaru berjudul Langdon. Serial TV ini terinspirasi dari novel best-seller Dan Brown bertajuk The Lost Symbol. Judul serial ini diambil dari nama tokoh utama dalam seri buku Robert Langdon, yang sebelumnya diperankan oleh Tom Hanks dalam film-film yang disutradarai Ron Howard, The Da Vinci Code, Angels & Demons serta Inferno.


The Lost Symbol karya Dan Brown

Baca juga:
Penasaran dengan Novel Origin, Ini Dia Sinopsisnya!
Fakta Robert Langdon Ini Tidak Ada Dalam Film

Dirilis pada situs deadline.com, serial Langdon akan berfokus pada petualangan awal Robert Langdon. Simbolog muda Harvard ini terjebak dalam serangkaian teka-teki mematikan setelah mentornya diculik dan penemuan benda misterius di gedung Capitol. CIA kemudian memaksa Langdon untuk menyelesaikan tugas yang akhirnya mengungkap sebuah konspirasi mengerikan.



NBC telah bekerja sama dengan Brian Grazer’s Imagine Entertainment, studio TV CBS, dan Universal TV untuk proyek tersebut. Seperti yang dilansir pada situs screenrant.com, serial ini juga akan ditangani oleh Daniel Cerone sebagai executive produser dan dibantu oleh Ron Howard. Rincian produksi serial TV Langdon akan segera dirilis, termasuk pilihan pemeran untuk peran utama Robert Langdon.

 

Mulanya, The Lost Symbol dijadwalkan menjadi film blockbuster berikutnya dalam seri petualangan Robert Langdon, namun produksi film tersebut dihentikan pada tahun 2013. Serial TV ini nampaknya akan menjadi jalan bagi novel The Lost Symbol untuk lebih bersinar.


Baca juga:
Wanita-Wanita Cerdas nan Elegan ala Novel Dan Brown
Nostalgia Review Film Inferno: Twist Sempurna yang Terbaca


Hmm,
sepertinya novel thriller The Lost Symbol akan lebih seru dijadikan sebagai serial TV dibandingkan film. Seperti yang ditulis di situs geektyrant.com, akan begitu banyak detail cerita dan karakter yang hilang ketika novel-novel Dan Brown dipadatkan menjadi film berdurasi 2 jam saja. Bagaimana menurutmu?[]
0

Artikel, baru, Ruang Redaksi

Hanya sesaat setelah memulai penerjemahan buku Stephen Hawking: A Mind Without Limits, saya sudah menyesal. Ini adalah salah satu buku tersulit yang pernah saya kerjakan, bukan karena pengalihbahasaan yang rumit, melainkan otak saya yang cukup ngos-ngosan mencernanya. Mohon dimaklumi, saya lulusan Sastra Inggris, dan terakhir kali mendapatkan pelajaran Fisika adalah saat SMA, puluhan tahun silam. Ketika itu, meskipun saya mengambil jurusan IPA, nilai Fisika saya pas-pasan saja. Maka, bekal saya dalam menerjemahkan buku ini bisa dibilang hanyalah bertahun-tahun mengikuti serial komedi The Big Bang Theory.

 



Baca juga:
– Apa Itu Lubang Hitam?
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta

Reputasi taruhannya. Proyek yang sudah dimulai, mau tidak mau harus dituntaskan. Hanya riset pilihannya. Saya pun mulai membaca beragam jurnal tentang teori segalanya, teori kuantum, teori dawai, singularitas, supersimetri, dan sebagainya. Iya, saya belajar seakan-akan hendak menempuh Ujian Nasional.

 

Lantas, kenapa saya tidak menyerah saja? Karena menyerah adalah ironi, terlebih ketika buku yang saya terjemahkan ini membahas tentang Stephen Hawking. Selain menguraikan kiprah Hawking di dunia Fisika (bagian yang membuat saya kelimpungan), buku ini juga mengulas tentang kehidupannya.

 

 

Vonis penyakit ALS diterima Hawking pada usia sangat muda, 21 tahun. Di titik itu, dia bisa saja langsung pasrah, apalagi dokter telah memperkirakan bahwa sisa umurnya hanya dua tahun lagi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Vonis mati malah menjadi cambuk bagi Hawking (yang semula mengaku pemalas) untuk memusatkan pikiran dan menyelesaikan penelitiannya. Ajaibnya, seiring kariernya yang semakin moncer, laju penyakitnya pun melambat. Dua tahun terlewati, dan Hawking terus berkarya dan menjalani kehidupan penuh warna hingga puluhan tahun kemudian.

 

Buku ini membuat saya mengerti mengapa Hawking begitu dikagumi. Sebagai ilmuwan, dia bersinar. Tidak hanya di dunia sains yang digelutinya, tetapi juga di ranah sosial, kemanusiaan, dan hiburan. Dengan segala keterbatasannya, Hawking mendobrak berbagai batasan. Meskipun tubuhnya terkekang di kursi roda, pikirannya bebas berkelana menjelajahi alam semesta.


Baca juga:
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia

Pada akhirnya, saya menyelesaikan penerjemahan buku ini dengan penuh kepuasan. Tidak hanya karena pencerahan tentang berbagai teori fisika yang sebelumnya tidak pernah saya pahami maksudnya, tetapi juga inspirasi akan kehidupan yang begitu mengena. Hawking adalah ilmuwan terbesar di dunia, dan membaca buku ini adalah salah satu cara untuk turut merayakan kiprahnya.[]
0

Artikel, baru
Dunia astronomi di zaman modern ini bisa dibilang berkembang cukup pesat jika dibandingkan kondisinya pada 100 tahun terakhir. Kini, kita sudah mengetahui ketampakan lubang hitam dan planet katai Pluto, yang bahkan dalam 10 tahun terakhir belum kita ketahui.

Namun, patut diingat bahwa apa yang kita ketahui sekarang tak lepas dari kontribusi sekian banyak astronom dan ilmuwan. Pengetahuan mereka saling melengkapi, bahkan sejak ratusan tahun Sebelum Masehi.

Berikut ini adalah beberapa ilmuwan yang punya peran besar dalam perkembangan astronomi di dunia, tanpa mengecilkan peranan ilmuwan lain.

1. Stephen Hawking (1942-2018)



Pemikiran Hawking tentang pembentukan Alam Semesta, lubang hitam, dan banyak hal lain memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia astronomi sejak tahun 1970-an. Keterbatasan fisik tak cukup untuk menghalanginya memperoleh beberapa penghargaan di bidang sains. Selain itu ia juga bisa membuat segala kerumitan dalam bidang yang dipelajarinya menjadi mudah dipahami oleh masyarakat luas. Salah satunya ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul A Brief History of Time, yang sudah terjual lebih dari 10 juta kopi sejak pertama kali penerbitannya di tahun 1988. Buku tentang Stephen Hawking terbaru berjudul A Mind Without Limits sudah beredar di toko buku terdekat atau di toko buku online mizanstore.com

Baca juga:
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia

2. Ptolemius (90–168 M)



Dari Yunani ada Ptolemius, yang membuat model Alam Semesta (tata surya) dengan Bumi sebagai pusatnya (geosentrisme). Walaupun rumit dan belakangan diketahui salah, tapi modelnya digunakan sebagai acuan dalam bidang astronomi selama lebih dari 1200 tahun.

3. Abd al-Rahman al-Sufi (903-986 M)



Al Sufi (Azophi) dari Persia merupakan astronom pertama yang melakukan dokumentasi pengamatan terhadap objek di luar galaksi Bima Sakti, yaitu Andromeda. Galaksi tetangga kita itu disebutnya sebagai “awan kecil”. Selain itu, ada juga Awan Magellan Besar yang tak tampak dari Eropa dan baru dikenal setelah ekspedisi Magellan di abad ke-16.

4. Copernicus (1473–1543)



Model geosentris milik Ptolemius akhirnya mendapatkan sanggahan dari Copernicus yang mempopulerkan kembali model Alam Semesta heliosentris (Matahari di pusat sistem). Meskipun masih mengandung kesalahan, modelnya membuat pandangan ilmuwan terhadap Tata Surya dan Alam Semesta mulai berubah.

5. Johannes Kepler (1571–1630)



Sebagai seorang matematikawan, Kepler mungkin akan tampak tidak berperan dalam astronomi. Namun, justru perannya sangat besar sebagai pendukung model Copernicus dan sekaligus pemegang kunci penting dalam model tersebut. Asumsi orbit planet berbentuk lingkaran sempurna menjadi mentah karena menurut Kepler, bentuknya justru elips. Dengan memanfaatkan data pengamatan berakurasi tinggi milik Tycho Brahe, seorang bangsawan Denmark, Kepler akhirnya dikenal dengan Hukum Kepler tentang orbit planet.

6. Galileo Galilei (1564–1642)



Jika sebelumnya model heliosentris masih belum diterima di kalangan luas, maka peran Galileo adalah membuat model tersebut makin kuat. Sering disebut sebagai penemu teleskop padahal bukan, Galileo mengubah teleskop yang sudah ada menjadi lebih baik lalu menggunakannya untuk mengamati objek langit. Satelit Jupiter, cincin Saturnus, bintik Matahari, dan fase Venus adalah sebagian dari banyak kontribusi penting Galileo dalam astronomi.

7. Sir Isaac Newton (1643–1727) 



Dikenal dengan hukum Newton tentang gerak benda dan juga gravitasi, Newton memberikan landasan hukum fisika atas model yang dibuat oleh Copernicus, hukum orbit benda oleh Kepler, dan bukti pengamatan dari Galileo. Bisa dikatakan bahwa perlu waktu sekitar 200 tahun bagi model heliosentris untuk dapat diterima secara luas sejak diangkat kembali oleh Copernicus.

8. Albert Einstein (1879–1955)



Einstein membawa kita untuk memandang Alam Semesta dengan cara yang berbeda. Gravitasi yang dikenal sebagai gaya tarik benda dipandang berbeda oleh Einstein menjadi kelengkungan ruang-waktu. Bukti pengamatannya, yang dilakukan oleh Sir Arthur Eddington dalam peristiwa gerhana Matahari total pada tahun 1919 juga tak kalah terkenal.

9. Carl Sagan (1934-1996)



Selain sebagai ilmuwan, Sagan juga dikenal sebagai komunikator yang ulung. Ia bisa menyampaikan informasi tentang sains dengan bahasa yang mudah dicerna masyarakat awam. Buku dan program televisinya hingga kini masih menjadi salah satu produk edukasi yang populer.

Baca juga:
– 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking
– Apa Itu Lubang Hitam?

10. Eratosthenes (276–195 SM)



Ketika kebanyakan orang berpikir bahwa Bumi datar, Eratosthenes sudah tahu bahwa Bumi bulat dan bahkan kemudian berhasil menghitung keliling Bumi dengan ketelitian yang cukup baik. Semuanya dari pengamatan dan perhitungan yang sederhana menggunakan bayangan tongkat di bawah sinar Matahari.***
0

Artikel, baru
Stephen Hawking adalah salah satu ilmuwan terbesar di zaman modern. Sudah lebih setahun Hawking Wafat (14 Maret 2018). Namun, kontribusinya terhadap dunia sains akan terus memberi inspirasi kepada para ilmuwan dunia dan calon ilmuwan masa depan.

Berikut ini adalah 5 kontribusi Stephen Hawking terhadap dunia sains.



1. Radiasi Hawking


Menurut pemahaman awal kita terhadap lubang hitam, tak ada apapun yang dapat terlepas dari tarikan gravitasinya. Namun, Hawking punya kesimpulan yang berbeda pada tahun 1974. Ide yang diperolehnya dari diskusi bersama fisikawan Yakov Borisovich Zel’dovich dan Alexei Starobinsky ini menyebutkan bahwa di sekitar horison peristiwa dapat saja terjadi pancaran partikel. Partikel yang dimaksud adalah salah satu antara partikel dan anti-partikel pasangannya.  Ketika terbentuk dekat horison peristiwa, salah satunya tertarik masuk ke lubang hitam sedangkan satunya tidak.

Baca juga:
– 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking
– Apa Itu Lubang Hitam?


Akibatnya lubang hitam akan kehilangan massa. Jika hal ini terjadi secara konstan, pada akhirnya lubang hitam akan lenyap sambil memancarkan sinar gamma. Namun, kita belum bisa memperoleh bukti pengamatannya. Karena untuk lubang hitam bermassa 1 massa Matahari saja proses penguapannya perlu waktu 10^67 tahun. Sementara lubang hitam yang bermassa lebih kecil dari itu lebih sulit diamati.


2. Singularitas di Alam Semesta Dini


Sebelum tahun 1970an, pengetahuan kita mengenai awal Alam Semesta yang dikenal dengan Big Bang (Dentuman Besar) barulah dalam hal waktu, bahwa ada permulaan waktu. Selain itu, kita tak tahu apa-apa. Big Bang yang dipahami saat itu hanya menjelaskan apa yang terjadi setelah Big Bang, bukan menjelaskan kejadian Big Bang itu sendiri.

Hal ini tak lepas dari ketidakmampuan ilmuwan saat itu untuk menjelaskan kondisi singularitas, yaitu ketika volume Alam Semesta mendekati nol dan kerapatannya menuju tak terhingga. Bahkan, Einstein pun belum bisa menjelaskannya.

Titik terang untuk hal ini barulah muncul saat Roger Penrose, di tahun 1965 membuktikan bahwa singularitas dapat terjadi pada skala bintang yang memiliki massa cukup besar dan kemudian menjadi lubang hitam. Di tempat lain, Hawking kemudian menguji gagasan tersebut dalam skala Alam Semesta. Pada tahun 1970, Hawking dan Penrose pun berhasil menunjukkan bahwa singularitas tak hanya ada pada lubang hitam, tapi juga pada awal mula Alam Semesta.


3. Ketidakteraturan di Awal Pembentukan Alam Semesta


Pembentukan galaksi generasi pertama di Alam Semesta dikatakan dipicu oleh ketidakteraturan kuantum, tak lama setelah Big Bang. Dalam kondisi tersebut, terdapat area yang lebih rapat dibanding yang lain. Sehingga terbentuklah galaksi dan bintang-bintang di area tersebut. Salah satu petunjuk dari hal ini adalah keberadaan sinar mikro kosmis latar belakang (comis microwave background), yang memiliki ketidakteraturan di banyak titik.


4. Lubang Hitam Mini


Terkait dengan radiasi Hawking, keberadaan lubang hitam mini akan memberikan kesempatan bagi kita untuk mengamati dan membuktikan adanya radiasi Hawking. Namun, karena proses penguapan lubang hitam berbanding lurus dengan massanya, maka kita seharusnya mencari lubang hitam mini. Di masa sekarang hal ini mungkin sulit dilakukan, tapi tidak di masa lalu. Hawking menyebutkan bahwa lubang hitam mini bisa saja banyak terbentuk di masa awal pembentukan Alam Semesta.

 

Baca juga:
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta


5. Buku A Brief History of Time


Sebagai seorang saintis, Hawking juga memiliki reputasi sebagai seorang komunikator ulung. Segala kerumitan dalam bidang yang dipelajarinya dapat disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas. Salah satunya dapat dibaca di bukunya yang berjudul A Brief History of Time, yang sudah terjual lebih dari 10 juta kopi sejak pertama kali penerbitannya di tahun 1988.***

0

Artikel, baru

Mendengar kata The Message, ingatan saya langsung kembali ke masa silam, saat saya melihat film yang berdurasi 4 jam dengan judul yang sama (The Message), dimainkan oleh Anthony Queen dan Irene Papas. Film itu menceritakan tentang perjalanan awal penyebaran agama Islam, hijrah ke Madinah dan akhirnya perjalanan kembali ke Makkah yang melambangkan kejayaan Islam. Dan akhirnya, 40 tahun kemudian, saya menerima The Message dari tangan seorang sahabat saya.

 

Baca juga:
Testimoni The Message of the Quran dari Yadi Saeful Hidayat
– Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Kali ini The Message (The Message of the Quran, red.) adalah tafsir Al-Quran yang ditulis oleh Muhammad Asad (terlahir sebagai Leopold Weiss). Tentu saja tafsir ini bukan yang pertama kali saya baca, karena memang curiousity saya yang cukup besar untuk mengerti “the real meaning, history and background behind the words” dari ayat-ayat kitab suci kita. Di situlah biasanya curiousity saya cukup stubborn dengan tidak hanya mencerna kata demi kata, tetapi juga mencoba mengerti the context behind the content, sambil mencoba mencari balance antara “Aqli” dan “Naqli”.

Faktor lain yang saya juga akan perhatikan adalah, the story telling, how the story will be told to the audience. Saya mengerti bahwa kitab suci adalah “sungai kebenaran” yang tidak bisa dibantahkan oleh akal pikiran kita yang sangat sederhana ini. Tetapi tentu saja story telling akan memainkan peran yang sangat penting pada saat audience sedang melakukan pengembaraannya untuk mengerti makna dan latar belakang dari setiap ayat yang dibaca.

Dengan background itulah, saya mulai membaca lembar demi lembar dari The Message of the Quran. Dan surprisingly (in a positive way), saya membuka lembar demi lembar The Message of the Quran ini secara “automatic”, dan kadang-kadang tak mampu menahan diri untuk ingin membaca lembar berikutnya.

Saya harus mengakui bahwa Leopold Weiss (yang sekarang menjadi Muhammad Asad) mampu merangkai kata-kata yang menarik perhatian kita sedalam-dalamnya. Kemudian curiousity saya pun mulai muncul, dan seperti biasa saya menanyakan banyak pertanyaan dengan pertimbangan akal saya.

Muhammad Asad seperti memainkan peran guru yang sangat sabar (dan pintar) dan menerangkan (very patiently) kepada anak muridnya yang agak bandel (c’est moi, saya sendiri) untuk konsep-konsep itu. Penjelasannya begitu lugas, lengkap, dan sederhana serta mudah dimengerti. Misalnya pada saat Leopold menjelaskan tentang “life entity”, dan menerangkan tentang “nafs”, Leopold memberikan definisi dan batasan yang sangat jelas tentang jiwa, akal, pikiran, makhluk hidup, kepribadian dan personality.

Kemudian Leopold juga menafsirkan dengan menarik tentang bagaimana seorang manusia mempunyai kelebihan dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia mempunyai pilihan (untuk percaya dan mengabdi kepada Allah Swt. atau tidak, sementara makhluk yang lain tidak mempunyai pilihan. Sekilas kita seperti merasa bahwa kemampuan (dan kekuasaan) untuk memilih itu adalah kelebihan (atau rahmat).

Padahal akhirnya kita menyadari bahwa kemampuan untuk memilih itu ternyata adalah ujian yang mahaberat bagi kita, karena tentunya ada konsekuensi yang berat atas pilihan kita tersebut. Kita mengerti, bahwa in the end of the day, quality yang kita punya itu ternyata adalah ujian berat. Misalnya harta, banyak orang yang tidak punya harta berkata “Begitu enaknya mereka yang punya harta”.

Padahal ternyata harta yang banyak adalah ujian berat, apakah kita mampu memanfaatkannya dan membawa kebaikan bagi orang lain, atau justru membawa mudarat bagi orang-orang lain dan kita sendiri. Wajah yang cantik (atau tampan), begitu banyak yang menginginkan, bahkan sampai operasi plastik, ternyata bisa menjadi bumerang bagi kita kalau kita tidak mampu menahan godaan, dan ternyata itu membuat kita terjebak dalam kemaksiatan.

Otak yang cerdas, kalau dimanfaatkan dengan baik akan membawa manfaat bagi banyak masyarakat. Tetapi bisa juga dimanfaatkan untuk menjadi psycopath atau malah menjadi public enemy yang “monstrous”.

Konsep anugerah adalah ujian ini digunakan oleh Leopold Weiss untuk menerangkan konsep poligami. Pada saat banyak orang beranggapan bahwa poligami (izin untuk menikahi lebih dari seorang wanita) dianggap sebagai kelebihan atau anugerah, Leopold men-challenge kita dengan menuliskan bahwa poligami hanya diperbolehkan untuk kasus-kasus luar biasa, dan poligami itu akan menjadi ujian yang luar biasa bagi kita (apabila kita tidak bisa berlaku “adil” kepada istri-istri kita).

Maka Leopold menutup bab poligami itu dengan menyatakan bahwa apabila lelaki tidak mampu melalui ujian yang berat itu (untuk bersikap dan berperilaku adil kepada beberapa istri), maka sebaiknya lelaki itu mempunyai satu istri saja. Kesimpulan yang sangat “dalam”.

Intinya, banyak sekali masalah-masalah yang tadinya rumit dan sulit dimengerti menjadi sesuatu yang positif dan mudah diterima oleh akal sehat. Leopold mampu menjelaskan itu dengan jelas dan gamblang, baik itu masalah poligami, pengetahuan alam, hubungan antarmanusia maupun hubungan kita dengan Yang Maha Pencipta.

Terima kasih kepada Leopold yang sudah membukakan mata hati saya. Dan terima kasih kepada sahabat saya, Sari Meutia, yang memperkenalkan The Message of the Quran kepada saya yang masih ingin terus mengembara meneruskan learning journey saya yang panjang. Salam Hangat

— Pambudi Sunarsihanto (HR Director Perusahaan Multi-nasional, Career Coach & Mentalist, penulis Think Different, Act Differently)


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

Artikel, baru

Saya pernah terlibat diskusi panjang dengan Mas Ilham (tim editor The Message of the Quran) terkait makna satu kata di dalam Al-Quran. Waktu itu Mas Ilham lagi sibuk-sibuknya sunting The Message of the Quran. Saya sodorkan makna-makna kata tersebut dalam bahasa Arab (sayang, saya lupa apa kata yang ditanyakan itu).

Sampai akhirnya kami sepakat untuk menerjemahkan kata tersebut sesuai simpulan diskusi kami. The Message of the Quran berani mendobrak tradisi penafsiran-penafsiran Al-Quran. Saya sudah terbiasa membaca kitab-kitab tafsir klasik, dan menemukan keasyikan sendiri saat membaca The Message of the Quran.

 

Baca juga:
Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann
– Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Dalam deretan literatur kitab tafsir sendiri, ada metode-metode yang berbeda yang disajikan oleh masing-masing pengarahnya. Ada yang pendekatannya bir riwayah (tafsir tekstual), seperti Ibn Katsir, Al-Thabari, dan lain-lain. Ada juga yang pendekatan tazkiyah nafs (gagasan penjernihan hati).

The Message of the Quran ini menghadirkan tafsir bir ra’yi (tafsir rasional), yang boleh jadi bagi sebagian kita akan mengalami keguncangan. Padahal, tafsir rasional juga pernah sama-sama dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Zamakhsyari dengan Al-Kasyaf atau Al-Razi dengan Mafatihul Ghaib. Saya menikmati penafsiran kata demi kata yang dihadirkan oleh Asad.

Tampak lain dan ada gagasan baru yang ingin diupayakan untuk dikenalkan kepada masyarakat modern, yang tentunya akan bisa lebih memahami penafsiran teks-teks Al-Quran secara logis. Misalnya, seperti dicatat oleh Buya Syafii Ma’arif, Asad menerjemahkan ungkapan ummatan wasatha, ayat 143 Al-Baqarah sebagai a community of the middle way (komunitas jalan tengah), tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada pada posisi tengah dengan doktrin tauhid yang tegas dan tegak.

Umat Islam semestinya terus bergerak tanpa henti menuju posisi jalan tengah ini dengan kepala tegak sebagai tanda kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat beriman dan berilmu.

Barangkali, closing statement-nya Asad dalam pengantar The Message of the Quran, yang juga dikutip oleh Buya Syafii dalam artikelnya, ini cukup menarik, “… saya sadar sepenuhnya bahwa terjemahan saya tidak dan memang sesungguhnya tidak mungkin ‘berlaku adil’ terhadap Al-Quran dan lapisan di atas lapisan maknanya: karena jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalam Tuhanku, pasti lautan itu akan kering sebelum habis kalam Tuhanku.”

—Yadi Saeful Hidayat, CEO Mizania & Co.


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

Artikel, baru

Asad, dengan The Message of the Quran, seperti tak hendak membiarkan satu pun ayat Allah tak terpahamkan bagi akal manusia. Bagi yang tidak biasa, sebagian tafsirnya akan terasa seperti berupaya merasionalkan hal-hal yang tak rasional. Termasuk keajaiban-keajaiban para Nabi utusan Allah. Tapi, tak ada yang tak dia usahakan semuanya itu dengan dukungan entah kitab-kitab tafsir klasik, data-data historis, atau penjelasan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran lain.

Sehingga, kalau pun akhirnya kita tak setuju dengan tafsirnya, kita tak akan bisa menolaknya begitu saja sebagai tanpa dasar. Lagipula, sebagian dari apa yang tampak sebagai inovasi Asad, sebenarnya sudah banyak juga disinggung para ulama atau ahli tafsir sebelumnya. Tapi Asad-lah penerjemah dan penafsir Quran yang tak ragu-ragu memasukkannya ke dalam suatu karya yang akan dibaca jutaan orang. Asad tak takut kontroversi.

 

Baca juga:
Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann
– Testimoni The Message of the Quran dari Dr. Ir. H. Suharyadi, M.S.

Sebelumnya kita hanya mendengar bahwa hurr ‘iyn itu bermakna bukan cuma bidadari, melainkan juga bidadara dan bahwa (maaf) penerjemahan yang terasa sangat grafis akan kata kawa’ib sebagai “perawan-perawan berdada montok” adalah salah (karena literalistik), dan harus diartikan sebagai perawan-perawan (perempuan-perempuan suci yang sebaya) sebagai penafsiran yang hanya mungkin lahir dari kaum modernis, kalau bukan liberal.

Tapi, dalam Asad, pemahaman yang sebetulnya lebih masuk akal orang-orang yang berpikir itu, dia tampilkan sebagai pemahaman yang alami belaka. Dan memang sudah seharusnya demikian …. Jika mau kita ringkaskan, Asad mulai dengan berusaha memahami dan menangkap “pikiran” Al-Quran (the mind of the Qur’an).

Paradigma Al-Quran … sebelum masuk ke detail-detailnya. Dan ketika masuk ke detail, dia gunakan semua alat untuk membongkar berbagai medan semantik konsep-konsepnya. Baru setelah itu, dia menciptakan dialog (bolak-balik, hermeneutik) antara detail-detail Kitab Suci ini dengan “pikiran Quran” yang ditangkapnya.

Suatu cara yang masuk akal, bahkan harusnya satu-satunya cara yang masuk akal, untuk mendekati makna yang dimaui Sang Pemfirman. Saya bayangkan, bertahun-tahun Asad berusaha menjadikan dirinya seperti Al-Quran. Menceburkan diri ke kedalaman wahyu Yang Maha Tak Terbatas, persis sepertt firman-Nya: “Celupan Tuhan. Dan apa yang lebih baik dari Celupan Tuhan?!” Maka apa pun yang keluar dari Asad, mudah-mudahan adalah warna yang terbias dari Yang Memfirmankan-Nya.

Memang, pada akhirnya, semua tafsir, sesungguhnya semua pemahaman tentang apa saja, harus bersifat eksistensial, dan bukan objektif saja. Sebuah tafsir, yang di dalamnya jarak antara subjek dan objek sudah diminimumkan, dan orang menjadi seperti apa yang hendak dimaknai. Betapapun kita sadar, sebaik apa pun, manusia adalah manusia. Yang terbatas. Bahkan terlalu kecil, lebih kecil dari debu, dibanding berlipat-lipat samudra ilmu-Nya.

Akhirnya, sikap kita adalah, Asad orang besar, Asad mufasir hebat. Tapi Asad bisa saja salah. Sedikitnya, kita bisa saja tak setuju pada sebagian pandangannya. Tapi akankah kita buang tambang emas ilmu Allah hanya karena kecampuran sedikit tembaga? (dan belum tentu juga itu tembaga. Jangan-jangan emas juga, hanya tertutupi tanah, dalam pandangan sebagian kita).

Buya Hamka pun memuji. Juga Pak Miftah Farid. Dan saya tahu, bukan berarti para guru besar itu setuju dengan semua isinya (saya pun tidak). Tapi setidaknya mereka tak ragu, bahwa ini karya besar. Dan sejak saya mengenal The Message of the Quran, saya tak pernah mendaras Al-Quran pakai yang lain. Tafsir lain tentu tetap perlu untuk melengkapi. Tapi tafsir yang satu ini seperti bisa membaca makna apa yang saya harapkan dari ayat-ayat Allah Swt.

Mudah-mudahan Allah Swt. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita, agar kita bisa memahami makna-makna wahyu-Nya, betapapun sedikitnya. Lalu, memberi kita taufik-Nya agar kita bisa hidup sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Yaa’ Aalim, Yaa Kariim ….

—Haidar Bagir, Penulis Islam Tuhan, Islam ManusiaPenggagas Gerakan Islam Cinta


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

Artikel, baru

Alhamdulillah Pak Haidar (Haidar Bagir – Direktur Utama MIZAN, red.) dalam ulang tahun saya ke-65, tanggal 30 Juni kemarin, anak-anak dan mantu-mantu saya tanpa saya duga memberi hadiah istimewa berupa buku terjemahan The Message of the Quran: Tafsir Al-Quran Bagi Orang-Orang yang Berpikir, terbitan Mizan dengan pengantar Pak Haidar dan editor ahli Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A.

Saya baru baca pengantar dan Surah Al-Fatihah serta awal Surah Al-Baqarah. Sungguh saya menemukan tafsir yang lain cara penyampaiannya dibandingkan tafsir-tafsir Al-Quran yang selama ini kita baca. Sungguh segala sesuatunya menjadi lebih “hidup” dan lebih mudah meresapinya.


Baca juga:
– Testimoni The Message of the Quran dari Mochtar Pabottingi

 

Tentu saya sebagai orang awam, sangat jauh pemahaman saya tentang Al-Quran, karena baru akhir-akhir ini agak sedikit rajin baca Al-Quran dan Tafsir-nya. Mudah-mudahan dengan membaca buku Tafsir Al-Quran terbitan Mizan ini, semakin mendorong saya lebih mendalami Al-Quran yang penuh rahmat ini.

Terima kasih kepada Pak Haidar dan Prof. Afif Muhammad serta semua pihak yang telah bertahun-tahun menyiapkan buku yang sangat luar biasa ini. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal di surga-Nya nanti. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

—Dr. Ir. H. Suharyadi, M.S., Mantan Rektor Mercu Buana Periode 1997-2010


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 4NO NEW POSTS
X