fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, e-Mizan

Membaca kisah romance dalam bentuk novel dari Penerbit Qanita dan larut dalam alur ceritanya yang mendayu, mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi kamu. Namun bagaimana apabila cerita super romantis tersebut dikemas ke dalam suguhan yang singkat, sekali ‘lahap’, namun tetap tak kalah manis dengan sajian buku tebal yang selama ini kamu baca?

Ya, kamu bisa dapatkan sensasi tersebut lewat Snackbook bertema romantis bertajuk Qandy Series.

Kalau kamu belum tahu tentang Snackbook, kamu bisa baca artikel satu ini!


Di bawah ini merupakan daftar judul Qandy Series yang bisa kamu nikmati di Google Play Books:



One Side Love

By: Honey Dew

Penerbit Qanita

Download



Hold Me

By: Vennela

Penerbit Qanita

Download



Aku Mau Kamu

By: Orina Fazrina

Penerbit Qanita

Download



Stalking Mr. Boss

By: Ally Jane

Penerbit Qanita

Download

0

Artikel, e-Mizan


Creepy Pastel Horor
Setelah merilis seri Creepy Pastel beberapa waktu lalu kini Snackbook Mizan punya koleksi baru yang sayang bila kamu lewatkan. Creepy Pastel seri baru ini masih mengusung tema yang sama yaitu kisah-kisah horor yang akan membuat bulu kudukmu berdiri.

Kamu masih bisa menikmati bacaan ringan ini dengan harga murah meriah yaitu Rp.5000. Segera dapatkan cemilan ringan ini ya Mizaners, hanya ada di Google Play Store. Di bawah ini adalah daftar judul Snackbook Creepy Pastel terbaru yang sudah bisa kamu unduh;



Creepy Pastel Horor Pengunjung Malam | Barcode


Pengunjung Malam
http://bit.ly/P3nJMLm




Creepy Pastel Horor Sareupna | Barcode


Sareupna
http://bit.ly/S4r3UPna




Creepy Pastel Horor Fajar | Barcode


Fajar
http://bit.ly/F4jaR




Creepy Pastel Horor

Rembulan Merah Darah | Barcode


Rembulan Merah Darah
http://bit.ly/m3R4hdRH

 


Creepy Pastel

0

Artikel, e-Mizan

Snackbook Motivania | Featured
Mizaners, hidup ibarat Rollercoaster kadang di atas kadang di bawah. Ada kalanya kita merasakan kebahagiaan, namun tak jarang juga kita ditimpa ujian dari Allah dalam bentuk masalah yang pelik.

Di saat ghirah atau ruhiyah kita menurun, tentu kita membutuhkan suntikan tausyiah yang membangun. Curhat dengan orang terdekat, mengikuti pengajian, atau membaca buku kajian-kajian motivasi merupakan ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk menenangkan jiwa kita.

Baca juga artikel menarik tentang Snackbook, di sini


Khusus buat kamu yang senang membaca buku digital, ada Snackbook baru yang bisa kamu jadikan teman di kala resah melanda. Motivania, merupakan cara baru menikmati rangkaian kata penyejuk jiwa.

Dalam Snackbook ini, kamu akan mendapatkan tema-tema menarik yang disajikan secara ringkas dan padat. Seri kali ini menghadirkan judul-judul motivasi yang dekat dengan keseharian, terutama bagi Mizaners yang sedang galau (hehe).

Ditulis dengan gaya bertutur yang ringan dan mudah dipahami. Kamu akan lebih nyaman menikmati setiap kata-kata motivasi yang disampaikan di dalamnya. Di bawah ini adalah daftar Snackbook Motivania, yang sudah bisa kamu unduh di Google Play Store.


 

 

 

 

 

 
 



Sudah baca artikel ini belum? Creepy Pastel, Snackbook horor yang akan membuat bulu kudukmu merinding


0

Artikel, e-Mizan, Kolom Editor

Snackbook Anti Mainstream | Featured
Membaca menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat digital. Di mana pun, dan kapan pun, kebutuhan itu datang menagih janji suatu rentetan rencana baca yang sudah menumpuk sejak lama. Karena membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu dan mood tertentu, maka ada baiknya membaca merupakan kegiatan yang harus direncanakan.

Waktu dan mood juga ditentukan oleh tempat baca yang nyaman dan bacaan seperti apa yang akan kalian baca. Karena tidak mungkin kalian membaca buku romance di mal yang sedang diskon besar-besaran di akhir tahun, karena kamu akan terganggu dengan Ibu-Ibu pemburu diskon, atau malah ikut bersaing dengan si Ibu pemburu diskon untuk dapet tas cantik produk ‘Matahari’.

Cek artikel satu ini, pilih eBook atau Snackbook


Dan, jelas tidak pas jika kamu baca Snackbook horor di saat acara ulang tahun sweet seventeen gebetan kamu. Karena kamu bakal kehabisan momen siapa yang dapat suapan pertama kue ulang tahun karena keasyikan baca. Dari sekian banyak bacaan baik itu horor, romance, traveling, wacana, dan buku lainnya.

Kamu pasti punya satu cerita favorit, kan? Cerita yang pasti butuh banget suasana pas untuk membangun mood kamu untuk membacanya. Nah, saya mau bagi tips membaca Snackbook horor anti mainstream, let’s check this out, ya!



1. Bacalah Snackbook Horor di Malam Minggu (Level 1)


Pacaran Malam Minggu | Image
Kenapa harus malam minggu? Karena kalau jalan bareng gebetan udah mainstream. Selain bisa menjaga kamu dari maksiat, membaca SnackBook horor di malam minggu bisa meredam ketakutan dan bikin kamu berani buat baca, kenapa?

Karena setan-setan lagi tugas mendampingi pasangan-pasangan yang lagi berduaan. Ini dapat peringkat level 1 karena kemungkinan ketakutannya sangat rendah.



2. Bacalah Snackbook Horor di Alun-Alun Kota Pada Jam 23.32 Saat Tanggal 31 Desember (Level 2)



Nah, ini hanya bisa kalian lakukan setahun satu kali, lo. Jadi jangan sampai kalian melewatkannya. Ini seru karena ini adalah waktu yang langka. Kalian membaca di alun-alun kota kalian masing-masing.

Sensasinya ialah kalian baca ditemani orang-orang yang bahkan kalian tidak kenal, perkirakan waktu ending ceritanya, usahakan tepat pada pukul 00.00, agar ketika kalian ketakutan, ketakutan akan berkurang karena suara petasan tahun baru.

Tapi pastikan yang ada di alun-alun, semua menginjak tanah, alih-alih ditemani, kalian malah masuk ke dunia lain. Ini dapat level 2 karena kemungkinan ketakutannya rendah, tapi bisa menjadi level 5 ketika kamu lupa memastikan semua manusia di tempat kamu baca ternyata tidak menapakan kakinya ke tanah. hiiii …

Baca juga, Creepy Pastel Sajian Ringan Yang Akan Membuat Bulu Kudukmu Merinding



3. Bacalah Snackbook Horor di Bioskop Sepi (Level 3)

Bioskop Sepi | Image
Meski membutuhkan biaya berkisar Rp20,000 (weekday) s.d. Rp40,000 (weekend), tapi kamu bisa dapetin sensasinya.

Pertama, pilihlah mal atau tempat nonton yang sudah memiliki track record cerita mistis. Kedua, pilihlah film yang sudah lewat jauh tanggal premier-nya alias film yang sudah sedikit peminatnya, kalau bisa film horor. Jangan horor Indonesia, biasanya ada konten dewasa yang bisa bikin kalian terpalingkan. Ketiga, pilih bangku paling atas-paling ujung, yang jauh dari penonton lainnya.

Nah, di sini kamu dapat bonus ilustrasi musik dan sound effect dari film yang kamu dengerin (bukan tonton). Ini dapat level 3 karena kemungkinan ketakutannya sedang.



4. Bacalah Snackbook Horor di Kuburan Jam 17.45. (Level 4)


Kuburan | Image
Carilah kuburan dekat rumahmu, jangan kuburan yang jauh, nanti kudu keluar ongkos. Usahakan kalian berangkat dan pulangnya jalan kaki biar makin kerasa pas pulangnya ada yang mendampingimu, mungkin dengan mesra memegang tanganmu atau merangkul bahumu. Mulai membaca pas jam 17.45 di saat langit sedang biru tua menuju gelap.

Usahakan membaca dengan serius, jangan hiraukan suara-suara yang muncul, fokus dengan bacaan Snackbook horor kalian. Ini dapat level 4 karena kemungkinan ketakutannya tinggi.

Tips: tidak perlu bawa kemenyan dan bunga-bungaan apalagi dengan meminta wangsit ke kuburan.

No Way! DOSA TAHU!



5. Bacalah Snackbook Horor di Rumah Yang Kosong Minimal 10 Tahun (Level 5)

Rumah Kosong 2 | Image
Ini juaranya. Carilah rumah kosong yang tidak dihuni selama lebih dari 10 tahun. Usahakan buat izin ke RT-RW setempat biar kamu aman dari sergapan hansip. Pergunakan waktu sekitar pukul 10 malam ke atas. Dan tentunya di kamis malam.

Bawa serta kamera, mikrofon, pasang di sekelilingmu. Hubungi Trans7 biar diliput dan membawa serta ‘si Gondrong’ Harry Pantja. Siapa tahu acara itu tayang lagi. Ya kan …. Ini dapat level 5 karena kemungkinan ketakutannya sangat tinggi.



Sekian tips anti mainstream dari saya, tunggu tips-tips anti mainstream lainnya. Bye Bye!  

Iwan Suta merupakan editor keren bersuara merdu berwajah sendu, yang anti mainstream. Buku-buku Fantasi, Qanita, dan Kronik adalah santapannya sehari -hari. Snackbook adalah kudapannya di kala senggang.

Kamu bisa follow akun IG nya di @sutadharmawanarsa dan SKSD dengannya di Facebook via tautan ini.




(Penyunting Nizar Tegar)
0

Artikel, e-Mizan

Sejarah Ebook Part 2 | Featured
 

[Oleh: Fuzie Septika Al-Islami]



Setelah Michael membuat salinan Deklarasi Kemerdekaan Amerika ke dalam bentuk digital pada 1971. Project Gutenberg diluncurkan untuk membuat salinan digital dari teks, terlebih pada buku cetak. Implementasi buku digital lainnya adalah pengusulan prototipe desktop pada komputer jinjing (laptop) Dynabook pada 1970.

Pada 1980 Departemen Pertahanan Amerika memulai pengembangan konsep perangkat pengiriman elektronik portabel untuk informasi pemeliharaan teknis yang disebut proyek PEAM (Portable Electronic Aid for Maintenance).

Proyek dan pengembangan prototipe dimulai di Texas dengan spesifikasi terperinci selesai pada 1982. Empat prototipe yang diproduksi dan diujikan pada 1986. Tes diselesaikan pada 1987. Ringkasan akhir mengenai prototipe ini ditulis oleh Robert Wisher dan J. Peter Kincaid dengan judul Behavioral and Social Sciences pada 1989.
 
 
 
 
Pada 1992 perusahaan elektronik Sony meluncurkan “Data Discman”, merupakan sebuah perangkat (reader) yang bisa membaca buku digital yang tersimpan di dalam CD. Salah satu fitur yang terdapat dalam Data Discman adalah The Library of the Future.

Pada awalnya pengimplementasian buku digital ini hanya untuk kalangan terbatas dan hanya buku-buku tentang pedoman-pedoman teknis, tentang data-data penting kedinasan. Pada sekitar 1990-an ketersediaan internet yang sudah merambah umum menjadikan buku digital banyak bertebaran dan jenisnya pun beragam.

 
 
 
 
FORMAT BUKU DIGITAL
 
Format buku digital berbeda-beda, tiap perusahaan mempunyai formatnya masing-masing, seperti Adobe dengan PDF-nya, penerbit-penerbit independen dengan membuat platform khusus. Dari e-reader-nya pun berbeda. Ini menjadikan produk buku digital yang banyak dipasaran menjadi terpecah dan tidak mempunyai standar.

Pada akhir 90-an sebuah konsorsium dibentuk untuk mengembangkan format baku buku digital yang terbuka. Format ini membutuhkan bahasa pemrograman yang seragam, maka dipilihlah bahasa XHTML dan CSS dan skema XML.

Pada 2007 format terbuka ini memunculkan standar buku digital yang diberi nama EPUB (Electronic Publishing) dan dipakai oleh hampir semua industri penerbitan buku digital di dunia.


 

 

 

Setelah ada format baku, pada 2010 pasar e-book semakin meningkat. Banyak penerbit dari penerbit besar sampai dengan indie publishing berlomba-lomba membuat dan memasarkan buku digitalnya.

Hampir dua-pertiga dari pasar buku digital di Amerika Serikat dikuasai oleh “Big Five” penerbit yaitu: Hachette, HarperCollins, Macmillan, Penguin Random House, dan Simon & Schuster. Format epub sekarang sudah masuk kepada epub generasi ke 3. Bisa diutak-atik lagi menjadi buku digital yang interaktif, bisa memasukkan audio dan video.

Membaca buku bukan sekadar tekstual, pembaca juga diajak untuk berinteraksi dengan objek yang dibacanya. Dengan format ini menjadikan banyak bermunculan toko buku digital, perpustakaan digital, baik yang dikelola oleh perorangan sampai dikelola oleh pemerintahan. Tidak jarang toko buku digital dan perpustakaan memberikan buku digital secara gratis.

 
 
 
PERANGKAT E-reader juga disebut e-book reader atau perangkat untuk membaca buku digital dirancang untuk membuka dan membaca buku atau majalah digital. Sebuah e-reader berbeda dengan tablet. Tablet bisa multifungsi, tetapi e-reader hanya untuk membaca saja. Sekarang ini di dalam tablet selalu disertai aplikasi e-reader.

Dibandingkan dengan tablet, e-reader bagi pembaca sangat nyaman karena memang diperuntukkan khusus untuk membaca, serta kekuatan batre yang tahan lama menjadikan e-reader lebih unggul dalam soal membaca daripada tablet. Ada beberapa generasi e-reader yang sudah ada di pasaran.

Di awali dengan The Rocket eBook diperkenalkan pada 1998, tetapi produk ini tidak populer di pasaran. Setelah itu muncul Sony Librie 2004 kemudian Sony merilis kembali e-reader Sony Reader pada 2006. Disusul Amazon yang mengeluarkan produk e-reader Amazon Kindle pada 2007 dan terjual habis dalam waktu 5 jam! Sony PRS-500 muncul pada 2009. Menjadikan Amazon Kindle dan Sony PRS-500 bersaing di Amerika Serikat.

Disusul kemunculan e-reader Nook masih di 2009, hasil produksi dari Barnes & Noble. Pada waktu 2010 banyak bermunculan e-reader dengan merk-merk baru di pasaran termasuk Kobo mulai muncul.


 
 
Kemunculan iPad pada Januari 2010 membuat gebrakan dengan menggandeng 5 penerbit besar di Amerika Serikat untuk mendistribusikan buku digitalnya di iPad melalui iBooks dan iBookstore. Selain laris manis di pasaran, aplikasi iBooks yang ada di iPad menguntungkan bagi penjualan ebook yang meningkat di Amerika Serikat.



Diikuti oleh kemunculan tablet-tablet berbasis Android pada tahun 2010 yang bisa menjadi e-reader juga. Hadirnya Google di Android dengan Google Play Book-nya pada 2010 menjadikan khazanah distribusi e-book semakin luas.

Kemunculan iPad dan tablet dengan layar sentuh yang sensitif serta tampilan yang mengesankan membuat Kindle dan Nook mengubah format layar e-reader-nya menjadi LCD, mengikuti iPad dan tablet.


(Bersambung)
0

Artikel, e-Mizan

Sejarah Ebook Part 1 | Featured
 
[Oleh: Fuzie Septika Al-Islami]


Buku elektronik (e-book, ePub, buku digital, atau e-edition) adalah buku-publikasi dalam bentuk digital, yang terdiri dari teks, gambar, atau keduanya, dapat dibaca di komputer atau perangkat elektronik lainnya.

Meskipun kadang-kadang didefinisikan sebagai “versi elektronik dari buku cetak”, banyak e-book yang ada tanpa setara cetak. E-book diproduksi dan dijual secara komersial. Biasanya dimaksudkan untuk dibaca di perangkat khusus (e-reader).

Namun sekarang, hampir semua perangkat elektronik yang canggih yang memiliki fitur layar tampilan terkendali, termasuk komputer, tablet dan smartphone juga dapat digunakan untuk membaca e-book. Sebelum ada perangkat elektronik serupa tablet, e-book juga bisa diaplikasikan kepada alat-alat mekanik untuk menyimpan karya-karya teks atau gambar.

Di Amerika Serikat; pada 2014 sebanyak 28% dari populasi orang dewasa telah membaca e-book, dibandingkan dengan 2013 yang hanya 23%. Peningkatan pembaca e-book pada 2014 meningkat karena sebanyak 50% dari orang dewasa di Amerika memiliki perangkat khusus membaca e-book, baik e-reader atau tablet, dibandingkan pada tahun 2013 yang hanya 30%. Hal ini memungkinan pembaca e-book secara global akan terus meningkat.  


SEJARAH

Ide tentang e-reader datang dari Bob Brown. Setelah Bob pertama kali menonton film The Talkies (film dengan suara pada waktu 1930-an). Waktu itu ia menulis sebuah buku tentang ide ini dan berjudul itu The Readies, berdasarkan dari gagasan film The Talkies.

Dalam bukunya, Brown mengatakan film telah dikalahkan buku dengan menciptakan The Talkies dan, sebagai hasilnya, membaca harus menemukan media baru: “sebuah mesin yang akan memungkinkan kita untuk bersaing dengan jumlah oplah cetak yang tersedia saat ini dan menjadi gambaran yang menyenangkan”.

Meskipun Brown telah menuangkan idenya pada 1930, e-reader pada awalnya tidak serta-merta mengikuti ide model dari Brown. Tapi Brown dengan bukunya bisa memprediksi bahwa media baru dalam membaca bukan hanya pada buku kertas.


  PENEMU E-BOOK PERTAMA

Para penemu e-book pertama sampai saat ini masih diperdebatkan. Beberapa kandidat terkenal adalah sebagai berikut:


Roberto Busa (1940-an)

Index Thomisticus adalah buku elektronik yang dibuat oleh Roberto Busa, perangkat ini berupa indeks elektronik yang terhubung dengan karya-karya Thomas Aquinas.

Buku elektronik ini disiapkan oleh Roberto Busa dimulai pada 1949 dan selesai pada 1970-an. Meskipun awalnya disimpan di satu komputer pada 1989 muncul versi CDnya, lalu pada 2005, Indeks diterbitkan secara online.

 

  Angela Luiz Robles (1949)

Pada 1949, Angela Ruiz Robles, seorang guru dari Galicia, Spanyol, mematenkan di negaranya buku elektronik pertama dengan judul la Enciclopedia Mecanica, atau Teknik Encyclopedia. Ide awal pembuatan perangkat ini adalah untuk mengurangi jumlah buku yang dibawa muridnya ke sekolah.

 

 Doug Engelbart and Andries van Dam (1960)

Beberapa sejarawan menganggap bahwa awal mula e-book sekitar 1960. Dengan proyek NLS (oN Line System) yang dipimpin oleh Doug Engelbart di Stanford Research Institute (SRI). Ada pula Andries van Dam yang mengepalai proyek Hypertext Editing System dan FRESS (File Retrieval and Editing SyStem) di Brown University.

Mereka berdua bekerja membangun perangkat (hardware) dan sistem bahasa komputer (software). NLS membangun perangkat dan bekerja sama dengan IBM. Sedangkan FRESS membangun struktur bahasa pemograman yang memungkinkan untuk membuat indeks, mengubah ukuran frame, serta bisa menyediakan hyperlink.

Setelah proyek ini, Brown University terus melanjutkan proyeknya untuk buku elektronik selama bertahun-tahun, termasuk bekerja sama dengan US NAVY sebagai pemberi dana dalam proyek.

Sistem yang dipakai oleh Brown University dipakai juga oleh sebuah perusahan yang bernama InterMedia adalah anak perusahaan dari DynaText sebuah perusahaan teknologi pembuat bahasa pemrograman SGML [Standard Generalized Markup Language] salah satu bahasa pemrograman yang digunakan dalam pembuatan e-book.


Michael S. Hart (1970)


Beberapa publikasi melaporkan Michael sebagai penemu e-book pada 1970. Seorang operator dari Xerox Sigma V di Universitas of Illinois memberi hak kepada Michael untuk menggunakan komputer di universitas.

Karena diberi keleluasaan dalam menggunakan komputer, Michael menciptakan dokumen elektroniknya yang pertama dengan mengetik Deklarasi Kemerdekaan Amerika ke dalam bentuk digital (teks). Michael bahkan membuat beberapa dokumen menggunakan teks biasa supaya bisa diunduh dan dibaca di perangkat elektronik.


Itulah orang-orang yang berjasa menyuguhkan inovasi bacaan elektronik, yang saat ini kita kenal dengan nama eBook. Meskipun apa yang dilakukan oleh para penemu di atas masih bersifat mendasar dan jauh dari format eBook yang kita ketahui sekarang.

Namun itu semua menjadi awal perkembangan digitalisasi buku yang saat ini telah mengubah kultur membaca kita, khususnya bagi generasi milennial yang super dinamis.


(Bersambung)
0

Artikel, e-Mizan

Jadi Snackbooker atau Vlogger | Featured

Tren menjadi seorang vlogger saat ini sedang digandrungi oleh berbagai elemen masyarakat, kalangan artis maupun masyarakat umum sudah mulai gencar memproduksi video dan mengunggahnya ke channel Youtube-nya masing-masing.

Ada yang mengangkat konten video untuk sekadar hiburan seperti vlog humor, ada juga yang mengangkat konten video lebih serius seperti vlog tutorial dan sebagainya. Keuntungan materil maupun non-materil dari dunia vlog memang sangat menggoda.

Bayangkan saja dengan konten video yang diangkatnya, beberapa vlogger dapat terkenal dan mendapatkan banyak kontrak kerja dari berbagai sponsor maupun program televisi. Mendapatkan penghasilan dari iklan ads Youtube dan mendapatkan endorse produk tertentu, juga membuat daya pikat menjadi seorang vlogger kian menjadi-jadi.



Apa itu snackbook? Kalau kamu belum tahu, cek di sini ya



Vlogging | Image


Apakah kamu tergolong orang yang ikut-ikutan tren? Atau ingin menciptakan tren sendiri? Kalau pilhan kedua yang kamu pilih, maka mari menjadi seorang snackbooker mulai dari sekarang. Mengapa harus dari sekarang? Selagi tren snackbook belum terlalu menggema, kesempatan dan peluang untuk dapat membentangkan karirmu menjadi seorang snackbooker masih terbuka lebar.

Tidak hanya sekadar menikmati snackbook karya orang lain, kita pun bisa ikut andil dalam memeriahkan tren membaca buku digital ini dengan membuat snackbook sendiri. Konten yang diangkat pun tidak harus selalu dari buku yang sudah terbit, mengangkat cerpen atau artikel yang pernah ditulis di blog atau media sosial juga dapat disajikan menjadi snackbook.

Selain dapat membantu publikasi karya literasi, snackbook juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi penulisnya. Ada royalti yang akan didapatkan oleh penulis dari setiap penjualan snackbook, jumlahnya memang tidak besar tetapi akan cukup untuk menambah uang saku.

Apalagi kalau tren membaca snackbook sudah digandrungi oleh mayoritas netizen di Indonesia, bukan tidak mungkin bila nanti akan ada orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari royalti penjualan snackbook.

Untuk mencapai titik tersebut, memang dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak dalam mempopulerkan snackbook, mulai dari pegiat literasi hingga masayarakat awam pengguna media sosial. Siapa tahu kelak akan muncul para Snackbooker yang terkenal karena karyanya dan berhasil menjadi jutawan, layaknya tren Vlogger yang saat ini sedang naik daun.


Lalu, apakah kamu siap untuk mempopulerkan tren snackbook dan menjadi seorang snackbooker?  



Sandra Nurdiansyah Publisis Penerbit Mizan

(Penyunting: Suta)
0

Artikel, e-Mizan

Ebook dan Snackbook Mizan | Featured
Digitalisasi sudah merambah pelbagai aspek kehidupan, salah satunya dunia buku. Kalau dulu kita masih terbiasa untuk membaca dengan cara membuka lembaran-lembaran buku, sekarang membaca buku cukup dengan mengusap layar smartphone saja.

E-Book atau buku elektronik, telah lama dikenal sebagai produk digitalisasi dalam bidang buku dan literasi. Dalam pengembangan produk digitalisasi di bidang buku dan literasi, kini telah hadir produk baru dengan nama yang cukup unik yaitu Snackbook. 

Snackbook adalah e-book berupa cerita pendek ataupun chapter buku yang terbagi-bagi. Jadi, Snackbook bisa dibilang sebagai e-book yang telah dibuat menjadi versi mini-nya. Sebenarnya tidak tergolong produk yang baru, karena snackbook merupakan produk re-branding dari e-single.

Ada beberapa perbedaan yang akan membuat para pembaca tergiur untuk mengonsumsi snackbook daripada e-book yang konvensional, terutama dari segi harga yang lebih ekonomis. Dengan harga snackbook yang lebih murah dari e-book dan umumnya berada di kisaran harga Rp. 5.000, pembaca akan lebih mudah dalam mengonsumsi kudapan bacaan yang renyah dan menyedapkan kapan pun dan di mana pun.


Dalam waktu dekat ini, Mizan akan segera merilis Snackbook secara resmi di Google Play Store. Tidak hanya buku-buku tertentu saja, tetapi semua jenis buku mulai dari buku anak hingga buku dewasa. Saat ini, sudah tersedia beberapa judul yang dapat kamu download di Google Play Store. Salah satunya adalah snackbook dari buku After Office Hour yang bisa kamu lihat di sini.

Contoh Snackbook Mizan | Image
Apabila dibandingkan dengan e-book konvensional, snackbook memang kalah dalam segi kelengkapan materi sajiannya. Jumlahnya yang lebih simple, membuat konten yang dapat disajikan pun menjadi lebih terbatas. Akan tetapi, jika pembaca membeli snackbook lengkap yang menyamai jumlah halaman pada edisi e-book konvensional, justru pembaca akan lebih diuntungkan karena harganya akan jauh lebih murah.

Jika ditinjau dari segmentasi pasarnya, snackbook lebih bagus ditargetkan untuk para pembaca pemula, yang tidak terbiasa membaca dan membutuhkan bahan bacaan yang lebih ringan.
Snackbook dapat menjadi media yang berperan aktif dalam membudayakan aktivitas membaca di era digital, tentu dengan bantuan dari berbagai pihak terkait dan masyarakat pada umumnya.

 

Sandra Nurdiansyah Publisis Penerbit Mizan

(Penyunting: Suta)
2

Artikel, e-Mizan, Info
Creepy Pastel | Featured
Cerita horor mungkin bukan sajian yang bisa dinikmati oleh semua orang. Tapi kengerian yang ditimbulkan dari membaca rangkaian narasi penuh misteri, selalu menarik untuk diikuti terutama bagi penyuka genre tersebut. Saat bulu kuduk merinding diluar kendali kita, berarti si penulis berhasil menyajikan nuansa horor ke benak pembaca.

Itu pula yang bisa kamu temukan saat membaca kumpulan cerita di Creepy Pastel. Terdiri dari lima judul yang berbeda, setiap kisah menghadirkan keseruan tersendiri sekaligus akan membuat kamu enggan pergi ke toilet sendirian (hehe).

Disajikan dengan konsep bacaan ringan (Snackbook), tentunya akan membuat kamu lebih nyaman menamatkan kisah Creepy Pastel dalam sekali baca. Kamu akan disuguhi cerita menegangkan yang straight to the point, tanpa narasi yang bertele-tele.

Cocok untuk kamu baca di sela-sela menunggu antrian teller bank, saat jam makan siang, atau pada waktu malam jumat menjelang waktu tidurmu.

Bahkan lebih menarik lagi, bila kamu menjadikan Creepy Pastel ini sebagai bahan cerita horor saat malam hari berkumpul dengan teman di momen kemping. Untuk seri kali ini, ada lima cerita, dari lima penulis keren yang kisah mistisnya bisa kamu ikuti. 


 4o Days Creepy Pastel | ImagePendakian Sakral Creepy Pastel | Image Tumbal Creepy Pastel | Image                 Horor Di Lantai Dua Creepy Pastel | Image Tangga Ketiga Lantai Lima Creepy Pastel | Image                








1. 40 Days
oleh Ninda

2. Pendakian Sakral Gede Pangrango oleh Aris Mulyana

3. Tumbal oleh Suta

4. Horor Di Lantai Dua oleh Remus Astra

5. Tangga Ketiga Lantai Lima oleh Shina

Selain lima judul di atas, Google Play Store sebagai satu-satunya platform penyedia Snackbook, juga telah merilis kisah horor lain dari Pastel Books. Judul yang saya maksud adalah After Office Hours. Ya versi Snackbook dari buku yang asalnya berupa buku cetak tersebut, hadir dengan harga yang ekonomis.

Kehadiran Snackbook ini bisa jadi solusi buat kamu yang tidak memiliki bujet lebih untuk membeli buku cetak atau eBook versi komplit. Snackbook akan menyajikan cerita singkat yang jumlahnya kurang dari 50 halaman, atau kisah satu buku yang dibagi secara per bab.

Bila kamu termasuk pembaca genre horor yang malas membaca buku tebal, snackbook menjadi sangat pas untuk kamu unduh di gadget kesayanganmu. Untuk saat ini, Creepy Pastel dan After Office Hours, baru bisa dinikmati oleh kamu pemilik gadget Android.

Kamu bisa mengunjungi laman Play Store lalu masuk ke menu Books, atau di kolom search, ketik Snackbook, dan pilih buku-buku yang sesuai dengan minatmu. Jadi, selamat membaca dan mencoba cara baru menikmati buku digital.
0

X