fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Kolom Editor

Siapapun dirimu

Apa pun keyakinanmu

Semuanya akan berubah


Dan Brown, sang penulis novel-novel bestseller, kembali dengan kisah mencengangkan tentang Profesor Robert Langdon. Bertajuk Origin, novel ini menjadi novel kelima dalam serial Robert Langdon yang sebelumnya telah dikenal oleh jutaan pembaca di sepenjuru dunia lewat Angels and Demons, The Da Vinci Code, The Lost Symbol, dan Inferno.

Origin pertama kali dirilis pada Oktober 2017 dalam Bahasa Inggris. Di tahun yang sama, novel ini mendapat nominasi Goodreads Choice Award untuk kategori Mystery & ThrillerOrigin bertengger di daftar New York Times bestsellers selama lebih dari 20 minggu. Kini, Origin telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia.

Origin Dan Brown


Butuh waktu 4 tahun bagi Dan Brown untuk melakukan riset dan menulis novel Origin. Dia menghabiskan banyak waktu di Spanyol, yang menjadi latar tempat utama dalam novel ini.

Seperti novel-novel Dan Brown lainnya, Origin juga memiliki ciri khas berupa deskripsi mendetail tentang berbagai lokasi bersejarah yang didatangi oleh Langdon, wanita cantik nan cerdas yang mendampingi Langdon dalam menjalankan misinya, serta tema cerita yang kontroversial.


Penasaran lebih lanjut tentang Origin? Simak sinopsisnya berikut ini


Robert Langdon, profesor simbologi dan ikonologi agama Universitas Harvard, tiba di Museum Guggenheim yang supermodern di Bilbao, Spanyol, untuk menghadiri pengumuman besar tentang penemuan yang “akan mengubah dunia sains.” Tuan rumah acara malam hari itu adalah Edmond Kirsch, seorang miliuner dan futuris berusia empat puluh tahun.

Kirsch adalah sosok yang terkenal di seluruh dunia, berkat penemuan-penemuan teknologi tingkat tingginya yang mengagumkan, serta prediksi-prediksinya yang berani. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa Langdon dua puluh tahun yang lalu, dan sekarang dia akan mengungkap suatu terobosan yang mencengangkan… yang akan menjawab dua pertanyaan fundamental terkait eksistensi manusia.

Begitu acara dimulai, Langdon dan beberapa ratus hadirin lainnya terpukau oleh pemaparan yang begitu orisinil, dan Langdon menyadari bahwa ini akan jauh lebih kontroversial daripada dugaannya. Namun acara yang telah diatur dengan amat cermat itu tiba-tiba kacau balau, dan penemuan berharga Kirsch nyaris hilang selamanya.

Terguncang dan menghadapi bahaya besar, Langdon terpaksa melarikan diri dari Bilbao. Dia didampingi oleh Ambra Vidal, sang direktur museum yang bekerja sama dengan Kirsch untuk menyelenggarakan acara. Keduanya bertolak ke Barcelona untuk mencari password teka-teki yang akan mengungkap rahasia Kirsch.

Menyusuri koridor-koridor gelap sejarah rahasia dan agama ekstrim, Langdon dan Vidal harus menghindari lawan yang sepertinya tahu segalanya, yang kemungkinan didukung oleh pihak Istana Kerajaan Spanyol … yang akan melakukan apa pun untuk membungkam Edmond Kirsch.

Mengikuti jejak-jejak tersembunyi dalam karya seni modern dan beragam simbol misterius, Langdon dan Vidal menemukan petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membawa mereka berhadapan dengan penemuan Kirsch… dan kenyataan mencengangkan yang selama ini tidak kita ketahui.

Dan Brown dan Columbia Pictures kini sedang bekerjasama untuk mengadaptasi Origin ke film layar lebar. Ini akan menjadi film keempat yang diangkat dari novel karya Dan Brown setelah The Da Vinci Code pada 2006, Angels and Demons pada 2009, dan Inferno pada 2016.

 

 

0

Kolom Editor


Sinopsis :

Dilan, kelas dua SMA, jatuh cinta pada Milea, murid baru pindahan dari Jakarta. Beruntung Milea (Lia) menerima cinta Dilan, dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Asmara antara Dilan dan Lia berjalan lancar, bahkan keluarga mereka mendukung hubungan mereka.

Lia digambarkan sangat dekat dengan Si Bunda (ibu Dilan), begitu juga Dilan dengan keluarga Lia. Walau demikian, hubungan mereka bukannya tak melalui lika-liku. Bermula dari rasa tidak suka Lia pada teman-teman main Dilan yang notabene anggota geng motor terkenal di kota Bandung (ssst… XTC apa Moonraker? ^_^).

Apalagi setelah Dilan diangkat menjadi panglima tempur geng motor itu. Puncaknya adalah ketika sahabat Dilan, Akew, tewas dikeroyok orang. Lia menyikapi peristiwa tersebut sebagai dampak dari pergaulan geng motor mereka, dan marah pada Dilan.

Apalagi kemudian Dilan dan teman-temannya harus menginap di kantor polisi berkaitan dengan masalah itu. Bukan hanya Lia yang kecewa, orang tua Dilan pun merasa sangat kecewa dan meminta Dilan untuk sementara jangan pulang ke rumah dulu, sebagai hukuman. Nggak cukup sampai di situ, Lia juga minta putus dari Dilan. Lengkap lah sudah keruwetan Dilan.

Belakangan, masalah Akew itu diketahui bukan berkaitan dengan geng motor mereka, melainkan salah sasaran akibat perselisihan dua wilayah. Nasi sudah menjadi bubur, hubungan Dilan dan Lia sudah telanjur renggang. Akankah mereka bisa memperbaiki hubungan mereka kembali?

Kalau yang udah baca buku “Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1991” sih udah tahu jawabannya ya kan. Tapi penjelasan akar permasalahan, penyelesaian dan seterusnya ada di buku ini.

Beda dengan dua novel sebelumnya, novel ini mengambil point of view-nya  Dilan. Jadi, ada beberapa bagian dari buku ini yang sengaja diarahkan ke novel-novel sebelumnya lewat bridge sentence: seperti yang ditulis Lia di bukunya. Otomatis buat yang ujug-ujug baca novel ini, pasti nggak ngerti dan akhirnya penasaran, akibatnya mau nggak mau harus baca novel pertama dan keduanya. Cerdas!


Kenangan

Percaya nggak kalau Dilan itu seumuran dan SMA-nya seangkatan sama saya. Mau bukti? Mari buka halaman 21, di situ disebutkan: Pada tahun 1977, kira-kira waktu masih umur 5 tahun, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin kata nenekku.

nenek tersenyum, sedangkan aku kecewa. 
Atuh sama dong tahun kelahirannya sama saya ^ _ ^  Bedanya tahun 1990 saya udah lulus, kenapa Dilan masih kelas dua SMA, ya? *ah sudahlah gak perlu dibahas yang penting dia cakep*

Kemudian, ceritanya lagi Dilan suka nonton bioskop sama ayahnya di bioskop Panti Karya. Wihihi… saya juga suka diajak Papih nonton di situ. Jangan-jangan kita pernah nontong bareng. Mang Oyo bubur aja, jualannya masih di Gardujati ya. Ini bubur enak dan legendaris lho di Bandung *kenapa jadi bahas bubur sih*

Membaca novel ini membuat saya terlempar ke masa lalu, masa kecil dan masa remaja berseragam putih abu-abu. Cara bertutur penulis yang jujur, membuat saya seringkali harus tersenyum karena terkenang pada kelakuan sendiri di masa-masa itu. Nggak jauh beda sama Dilan. Deskripsi keseharian dan pergaulan, nama-nama seperti Akew, Apud, Kang Ewok… terasa familiar.

Setiap tempat yang disebutkan di novel ini saya tahu, dialog dan gaya bercanda Dilan dan gengnya, ya begitulah gaya anak nongkrong di Bandung pada jamannya. Benar-benar ngena dan berhasil menghidupkan kenangan pada masa ketika saya menghabiskan masa remaja di Bandung. De javu. Bedanya, saya bukan anggota geng motor walau suka momotoran juga.

Bahkan sejarah pahit kota Bandung pun diceritakan dalam novel ini, yaitu ketika jamannya preman diberantas dengan tidak manusiawi. Petrus alias penembak misterius, sebutan untuk jagal yang menghabisi nyawa si preman. Jenazahnya dimasukkan ke dalam karung kemudian dibuang begitu saja di pinggir jalan atau di sungai. Dulu, kalau denger ada penembakan rasanya mencekam gitu.

http://www.mizanpublishing.com/blogger-review-milea-suara-dilan-kenangan-dan-pelajaran/mileasuaradaridilan/
Tetapi, sempat terbersit juga rasa khawatir. Apakah anak-anak muda masa kini bisa menerima humor-humor retro yang bertaburan dalam novel ini. Misalnya di halaman 41: Berarti kamu juga harus tahu Kang Jeje. Dia itu orang kaya. Selain pejabat, dia juga pengusaha.

Rumahnya mewah, lokasinya tidak jauh dari warung Kang Ewok. Sedangkan, tanahnya dan airnya, simpanan kekayaan.
 Sepertinya Penulis mencuplik syair lagu Ibu Pertiwi: hutan, gunung, sawah, lautan… simpanan kekayaan… *masih ada yang hapal lagu Ibu Petiwi gitu, di jaman sekarang?* :)))))

Belum lagi joke-nya Dilan kalau lagi ngegodain Lia suka jayus. Contohnya ada di halaman 105. Tapi bodor garing macam begitu, kalau di antara pasangan kekasih mah tetep aja jatohnya menyenangkan. Saya sebagai pembaca jadi ikut nyengir juga.

Karena penasaran saya sounding sama putri-putri remaja saya.
Me: “Kalau anak-anak seumuran kamu baca novel ini pada ngerti nggak ya. Ini mah jaman mama sekolah”
Jawabannya: “Temen-temen Kiki pada baca kok, novel Dilan. Katanya sih seru.”

Iya juga sih, pacarnya anak sulung pun sampai pinjem novel kedua (dan belum balik lagi padahal mereka udah putus) *kok curhat*

Salut lah sama penulisnya. Ternyata kisah kasih remaja jadul ini bisa tembus lintas generasi. Saingan sama generasi Rangga-Cinta, yakin bentar lagi ada tawaran untuk melayarlebarkan novel ini. Eish, Galih dan Ratna mau diremake juga lho.

Tapi saya tahu trik penulis, bagaimana menjembatani antara tahun 90-an dengan masa sekarang, sehingga pembaca usia muda di masa kini nggak culture shock. Dengan sabar penulis akan memberi penjelasan, setiap kali pembahasan menyentuh ranah jadul. Misal, George Michael penyanyi yang digandrungi Disa. Siapa sih George Michael itu ada penjelasannya (halaman 237). Bisa dicontoh, nih.

Pelajaran

Tidak cukup hanya kenangan. Di balik gaya bertutur yang cenderung slengean, novel ini juga memberi sesuatu. Ada hikmah di balik cerita. Ada pelajaran yang bisa kita petik.


Tentang menjadi orang tua.

Dilan mendeskripsikan ayahnya sebagai sosok yang lucu. Walau beliau seorang tentara, tetapi tidak lantas menjadi “komandan” bagi anak-anaknya. Cara Dilan bercerita tentang ayahnya membuat saya tersenyum kecil, teringat pada Papih yang galak tapi sangat sayang pada saya, Si Bungsu. Saya jatuh suka pada sosok ayah ini. Mata pun ikut menghangat pada bagian cerita ketika Ayah meninggal dunia.

Sebagai seorang ibu, saya menghayati sikap Si Bunda yang memiliki anak yang unik seperti Dilan. Nggak mau dikekang pun karena dia merasa nggak ada masalah dengan apa yang dilakukannya. Persis! anak sulung saya. Seorang anak, melalui pov Dilan pun mengakui bahwa sikap Si Bunda adalah yang paling nyaman bagi seorang anak (halaman 51). Tokoh Bunda ini menginspirasi saya, bagaimana pendekatan kepada anak dengan cara-cara yang membuat si anak nyaman.


Tentang menjadi anak.

Dilan merasa nggak ada yang salah dengan pergaulannya. Orang-orang baik itu saja yang mencapnya sebagai anak nakal. Katanya orang baik tapi kok mikirnya negatif *hahaha… cerdas emang Dilan ini*. Tetapi akan ada waktunya si anak akhirnya menyadari bahwa dirinya telah mengecewakan orang tuanya (halaman 210) dan hal itu mendatangkan rasa sesal.

Novel ini semoga menjadi pencerah untuk anak-anak yang masih belum menyadari kekecewaan yang dipendam orang tua mereka. Sikap yang mereka tahan itu justru supaya si anak nggak terlukai. Nah, kalau kamu merasa termasuk kategori ini, segeralah meminta maaf pada orang tua dan berjalan kembali di jalan harapan orang tua masing-masing, ya, Dek!

http://www.mizanpublishing.com/blogger-review-milea-suara-dilan-kenangan-dan-pelajaran/mileasuaradaridilan-1/
Dan ketika peristiwa tragis kematian Akew diikuti dengan permasalahan demi permasalahan, yang berdampak juga pada urusan asmaranya dengan Milea, Dilan menerimanya dengan sikap dewasa dan positif (halaman 226-227). Wahai, pemuda-pemudi yang galau di luar sana, contoh sikap Dilan ini ya, nggak pake mabu-mabuan, nggak pake swing-swingan, ngopi aja di warung Kang Ewok dan ngobrol sama Remi Moore, pikiran galau pun jadi ringan kembali.

Walau saya sempat kebawa sebal sama sikap Lia yang posesif, tapi salut karena penulis membuat Dilan tetap berpikiran positif. Sehingga nggak ada adegan dalam novel yang menggambarkan pertengkaran hebat antara dua insan itu. Kalau ada, aroma sinetron bakal merusak feel novel ini. Tapi, adegan Lia menampar Dilan, saya kurang suka, kok gak sopan sih cewek main gampar aja gitu. Ah, bukan cewek idaman saya *emang situ Dilan*.

Pikiran positif  Dilan terus bergulir sampai menjelang akhir novel. Pada bagian itu, Dilan menganggap masa lalu adalah guru. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa dirinya tidak harus lebih baik dari orang lain, tapi berusaha lebih baik dari dirinya yang kemarin (halaman 352).

Selain dua hal penting di atas, yang bikin saya betah baca novel ini, karena udah terbiasa dengan cara bertutur penulis. Di balik gaya bertutur yang santai sesekali saya menangkap kalimat-kalimat puitis.  Kupejamkan mataku, tapi tak kunjung tidur. Sesekali kudengar suara mobil yang lewat di jalan depan rumah Burhan, selanjutnya adalah aku mendengar suara sunyi di suatu tempat di kejauhan seperti bermain lagu sedih di dalam ruangan (halaman 213). Mendengar suara sunyi… *like*

Belum lagi puisi-puisi konyolnya, tapi asyiknya puisi-puisi itu nggak kehilangan rasa romantisnya. Contoh, puisi untuk Cika di halaman 341. Membaca baris-barisnya bikin senyum-senyum geli, tapi dua baris terakhir… duh… :)))

Saya sudah khatam membaca Drunken series-nya Pidi Baiq, jadi nyaris jatuh sangka kalau novel ini adalah personal literature-nya Pidi Baiq yang lain. Gaya bertutur dan sense of humor yang senada dari tokoh Dilan ini dengan Pidi Baiq di Drunken series, bikin saya jadi pengen nuduh kalau Dilan itu sebenarnya bukan tokoh rekaan melainkan jelmaan si penulisnya sendiri *bener gaaaak*

Pokoknya saya harus berterima kasih sama Pidi Baiq, selaku penulis novel ini, atas kenangan-kenangan itu. Mengenang masa remaja putih abu-abu itu paling indah lah, apalagi Taman Centrum dan SMA 5 pun kepilem di novel ini. Hatur nuhun, Kang, almamater saya numpang beken :)))

Jadi, ya… begitulah kesan-kesan terhadap novel “Milea suara dari Dilan” ini. Ketika saya merasa sedih karena novel-novel romance masa kini kadang membuat saya terbengong-bengong nggak ngerti, terbitnya trilogi ini menjadi pelipur kerinduan saya pada romantisme masa lalu. Saya nggak bilang novel ini bagus, nggak bagus juga nggak, yang penting saya sukaaaaaaaaaaaaa.


Judul Buku : Milea Suara dari Dilan

Pengarang : Pidi Baiq

Penerbit : Pastel Books

Cetakan : II, 2016

Halaman : 360 halaman

ISBN : 978-602-0851-56-3

Tulisan ini disalin dari blog pribadi Ina Inong, cek blog Ina melalui tautan di bawah ini:

http://www.inainongina.com/2016/09/review-milea-suara-dari-dilan-sebuah.html

0

Kolom Editor

Suka baca novel-novel fantasi? Pasti teman-teman sudah familier dong dengan makhluk-makhluk magis yang sering wara-wiri di berbagai novel fantasi. Yang paling populer, sebut saja naga, vampir, dan manusia serigala. Sekilas mereka tampak menyeramkan dan berbahaya ya? Jangankan bisa bersahabat, baru bertemu saja mungkin teman-teman sudah ambil langkah seribu.

Tapi jangan keliru… makhluk-makhluk magis lainnya ada banyak sekali lo. Beberapa di antaranya malah baik, jinak, dan bisa dijadikan sahabat. Mau tahu? Yuk, kita kenalan. Kata orang, tak kenal maka tak sayang.


1. IMPUNDULU


Berasal dari Afrika (tepatnya wilayah Pondo, Xhosa, dan Zulu), Impundulu adalah peliharaan gaib para penyihir. Wujudnya berupa burung berbulu hitam dan putih, dengan ukuran sebesar manusia. Ia mampu menciptakan petir dan halilintar, karena itulah ia sering juga disebut lightning bird.

Impundulu memiliki banyak manfaat. Lemak tubuhnya bisa digunakan sebagai ramuan penyembuh, dan dagingnya bisa dipakai sebagai bahan ramuan untuk melacak pencuri dan mengendalikan pikiran manusia… itu kalau kau tega membunuhnya. Impundulu adalah makhluk yang setia dan patuh, serta bisa diwariskan setelah majikannya tewas.


2. BARONG


Barong adalah roh baik pelindung anak-anak. Wujudnya mirip singa, dengan bulu tebal berwarna putih, berwajah merah, dan bermahkota. Hati-hati, jangan sampai tertukar dengan Rangda, si penyihir jahat!

Sepintas penampakan mereka memang mirip, tapi mereka berada di dua kubu yang berlawanan. Biasanya Barong ditemani oleh dua ekor monyet. Jika kau ingin berkenalan dengannya, tidak perlu jauh-jauh, bertandanglah ke Pulau Bali.


3. ELF


Kalau kau pencinta alam, pasti akan cocok bersahabat dengan kaum Elf atau kaum Fae. Mereka pandai menggunakan ilusi dan meracik obat-obatan herbal. Ilusi tersebut dipakai untuk menyembunyikan tempat tinggal mereka, yang ada di berbagai wilayah di Eropa, di antaranya Inggris, Irlandia, Skotlandia, Skandinavia, dan Denmark.

Jika kau beruntung dan berhasil menemukan serta bersahabat dengan kaum fae, manfaatkan untuk belajar lebih banyak tentang alam. Nantinya kau akan bisa buka bisnis obat-obatan herbal deh.


4. BROWNIE


Brownie adalah peri rumah yang berasal dari Skotlandia. Mereka amat jarang menampakkan diri kecuali pada anak-anak yang masih polos. Brownie bekerja pada malam hari untuk membantu membajak ladang, memanen gandum, memeras susu sapi, serta membersihkan rumah dan kandang hewan.

Balasan atas jerih payah mereka ini bisa berupa makanan kesukaan mereka, yaitu susu, roti, bubur, dan madu. Meskipun brownie amat berguna, jangan sampai menyinggung perasaan mereka, karena mereka dapat berubah menjadi boggart yang gemar mengacaukan rumah dan mengerjai penghuninya.


5. NOKKEN


Kalau kau senang musik, bersahabatlah dengan Nokken. Berasal dari Jerman, Nokken adalah roh air melankolis yang bisa muncul sebagai kuda putih atau pria muda rupawan. Ia pandai bermain musik dan nyanyiannya amat indah.

Jika diberi beberapa persembahan, Nokken bersedia mengajarimu bermain musik. Tapi hati-hati, jangan sampai kau merusak tanaman kesukaannya, yakni water lily, karena Nokken bisa murka dan menghabisimu.



Bagaimana, dari kelima makhluk magis di atas, adakah yang ingin teman-teman jadikan sahabat?

Kisah-kisah lebih lengkap tentang asal muasal mereka kini bisa teman-teman baca dalam buku-buku Mythical Creatures: AsiaEurope, dan Africa. Siapa tahu, mungkin teman-teman malah akan menemukan makhluk lain yang lebih menarik.

 


Klik gambar, untuk menuju gerbang dunia makhluk-makhluk magis
0

Kolom Editor

Membaca menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat digital. Di mana pun, dan kapan pun, kebutuhan itu datang menagih janji suatu rentetan rencana baca yang sudah menumpuk sejak lama. Karena membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu dan mood tertentu, maka ada baiknya membaca merupakan kegiatan yang harus direncanakan.

Waktu dan mood juga ditentukan oleh tempat baca yang nyaman dan bacaan seperti apa yang akan kalian baca. Karena tidak mungkin kalian membaca buku romance di mal yang sedang diskon besar-besaran di akhir tahun, karena kamu akan terganggu dengan Ibu-Ibu pemburu diskon, atau malah ikut bersaing dengan si Ibu pemburu diskon untuk dapet tas cantik produk ‘Matahari’.

Cek artikel satu ini, pilih eBook atau Snackbook

Dan, jelas tidak pas jika kamu baca Snackbook horor di saat acara ulang tahun sweet seventeen gebetan kamu. Karena kamu bakal kehabisan momen siapa yang dapat suapan pertama kue ulang tahun karena keasyikan baca.

Dari sekian banyak bacaan baik itu horor, romancetraveling, wacana, dan buku lainnya. Kamu pasti punya satu cerita favorit, kan? Cerita yang pasti butuh banget suasana pas untuk membangun mood kamu untuk membacanya.


Nah, saya mau bagi tips membaca Snackbook horor anti mainstreamlet’s check this out, ya!


1. Bacalah Snackbook Horor di Malam Minggu (Level 1)


Kenapa harus malam minggu? Karena kalau jalan bareng gebetan udah mainstream. Selain bisa menjaga kamu dari maksiat, membaca SnackBook horor di malam minggu bisa meredam ketakutan dan bikin kamu berani buat baca, kenapa? Karena setan-setan lagi tugas mendampingi pasangan-pasangan yang lagi berduaan.

Ini dapat peringkat level 1 karena kemungkinan ketakutannya sangat rendah.


2. Bacalah Snackbook Horor di Alun-Alun Kota Pada Jam 23.32 Saat Tanggal 31 Desember (Level 2)


Pic: Ngenet Yuk!

Nah, ini hanya bisa kalian lakukan setahun satu kali, lo. Jadi jangan sampai kalian melewatkannya. Ini seru karena ini adalah waktu yang langka. Kalian membaca di alun-alun kota kalian masing-masing.

Sensasinya ialah kalian baca ditemani orang-orang yang bahkan kalian tidak kenal, perkirakan waktu ending ceritanya, usahakan tepat pada pukul 00.00, agar ketika kalian ketakutan, ketakutan akan berkurang karena suara petasan tahun baru. Tapi pastikan yang ada di alun-alun, semua menginjak tanah, alih-alih ditemani, kalian malah masuk ke dunia lain.

Ini dapat level 2 karena kemungkinan ketakutannya rendah, tapi bisa menjadi level 5 ketika kamu lupa memastikan semua manusia di tempat kamu baca ternyata tidak menapakan kakinya ke tanah. hiiii …

Baca juga, Creepy Pastel Sajian Ringan Yang Akan Membuat Bulu Kudukmu Merinding


3. Bacalah Snackbook Horor di Bioskop Sepi (Level 3)


Meski membutuhkan biaya berkisar Rp20,000 (weekday) s.d. Rp40,000 (weekend), tapi kamu bisa dapetin sensasinya. Pertama, pilihlah mal atau tempat nonton yang sudah memiliki track record cerita mistis. Kedua, pilihlah film yang sudah lewat jauh tanggal premier-nya alias film yang sudah sedikit peminatnya, kalau bisa film horor.

Jangan horor Indonesia, biasanya ada konten dewasa yang bisa bikin kalian terpalingkan. Ketiga, pilih bangku paling atas-paling ujung, yang jauh dari penonton lainnya. Nah, di sini kamu dapat bonus ilustrasi musik dan sound effect dari film yang kamu dengerin (bukan tonton).

Ini dapat level 3 karena kemungkinan ketakutannya sedang.


4. Bacalah Snackbook Horor di Kuburan Jam 17.45. (Level 4)


Carilah kuburan dekat rumahmu, jangan kuburan yang jauh, nanti kudu keluar ongkos. Usahakan kalian berangkat dan pulangnya jalan kaki biar makin kerasa pas pulangnya ada yang mendampingimu, mungkin dengan mesra memegang tanganmu atau merangkul bahumu.

Mulai membaca pas jam 17.45 di saat langit sedang biru tua menuju gelap. Usahakan membaca dengan serius, jangan hiraukan suara-suara yang muncul, fokus dengan bacaan Snackbook horor kalian.

Ini dapat level 4 karena kemungkinan ketakutannya tinggi.


Tips: tidak perlu bawa kemenyan dan bunga-bungaan apalagi dengan meminta wangsit ke kuburan.

No Way! DOSA TAHU!


5. Bacalah Snackbook Horor di Rumah Yang Kosong Minimal 10 Tahun (Level 5)


Ini juaranya. Carilah rumah kosong yang tidak dihuni selama lebih dari 10 tahun. Usahakan buat izin ke RT-RW setempat biar kamu aman dari sergapan hansip. Pergunakan waktu sekitar pukul 10 malam ke atas. Dan tentunya di kamis malam.

Bawa serta kamera, mikrofon, pasang di sekelilingmu. Hubungi Trans7 biar diliput dan membawa serta ‘si Gondrong’ Harry Pantja. Siapa tahu acara itu tayang lagi. Ya kan ….

Ini dapat level 5 karena kemungkinan ketakutannya sangat tinggi.



Sekian tips anti mainstream dari saya, tunggu tips-tips anti mainstream lainnya. Bye Bye!



Iwan Suta merupakan editor keren bersuara merdu berwajah sendu, yang anti mainstream. Buku-buku Fantasi, Qanita, dan Kronik adalah santapannya sehari -hari. Snackbook adalah kudapannya di kala senggang.

Kamu bisa follow akun IG nya di @sutadharmawanarsa dan SKSD dengannya di Facebook via tautan ini.


0

Kolom Editor

Kota Suci untuk Memetakan Kehidupan Batin

Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Jerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa, tetapi kesan ini sangat menyentakkan saya ketika pertama kali datang ke sana pada 1983.

Aneh rasanya menemukan diri berada di tempat yang selalu muncul dalam khayalan kita sejak masih kecil. Dulu saya sering diceritakan tentang kisah Nabi Daud dan Isa, dan, ketika menjadi seorang biarawati, saya dilatih untuk memulai meditasi pagi hari dengan mengkhayalkan adegan biblikal yang akan saya renungkan. Maka saya pun mereka-reka sendiri pemandangan di Taman Getsemani, Bukit Moriah, atau Via Dolorosa.

Kini, ketika saya harus menjalankan tugas di sana, saya mendapati ternyata kota itu lebih merupakan sebuah tempat yang penuh gejolak dan membingungkan. Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa Jerusalem jelas-jelas sangat penting baik bagi orang Yahudi maupun Muslim. Ketika melihat tentara Israel yang garang menangis saat mencium Tembok Barat atau keluarga Muslim berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat di Haram al-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar akan tantangan pluralisme agama. Betapa orang dapat melihat simbol yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.


Pada pagi pertama saya di Jerusalem, teman Israel saya segera menunjukkan cara mengetahui mana batu-batu yang digunakan oleh Raja Herod untuk membangun tembok Kota Lama. Batu-batu itu seakan menjadi bukti komitmen bangsa Yahudi pada Jerusalem berabad-abad sebelum Islam hadir. Pun ketika kami melewati bangunan-bangunan di Kota Lama, saya diceritakan betapa Jerusalem telah ditelantarkan oleh Utsmaniyyah ketika dinasti itu berkuasa di sana, dan kota itu baru kembali hidup berkat investasi Yahudi — lihatlah kincir angin yang dibangun oleh Sir Moses Montefiore dan rumah sakit-rumah sakit yang dibiayai oleh keluarga Rothschild. Berkat Yahudilah Jerusalem menjadi maju seperti sekarang, katanya.

Teman Palestina saya menunjukkan wajah Jerusalem yang lain sama sekali. Mereka memperlihatkan keagungan Haram al-Syarif dan keindahan madrasah-madrasah yang dibangun di sekitar pinggirannya oleh dinasti Mamluk, sebagai bukti komitmen Muslim pada Jerusalem. Mereka membawa saya ke tempat suci Nabi dekat Jericho, yang dibangun untuk mempertahankan Jerusalem dari serangan Kristen, serta istana-istana Umayyah di dekat situ. Ketika berjalan-jalan di Bethlehem suatu sore, dia menghentikan mobil di pemakaman Rachel untuk menunjukkan betapa orang Palestina telah memelihara tempat-tempat suci Yahudi selama berabad-abad — suatu kebaikan yang tak pernah dihargai secara layak oleh Yahudi.




Namun bagi kedua pihak yang berseteru itu, ada satu kata yang sama bagi Jerusalem: “suci”. Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci. Tapi, apakah arti kata “suci” di sini? Bagaimana mungkin sebuah kota, yang penuh dengan manusia yang tak sempurna dan sibuk dengan aktivitas yang jauh dari suci, bisa disebut suci? Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku ateis militan pun peduli pada sebuah kota suci dan merasa begitu posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa orang Arab yang mengaku tak beriman juga bisa meneteskan air mata ketika untuk pertama kali berdiri di dalam Masjid al-Aqsa?


Saya bisa mengerti mengapa kota itu dianggap suci oleh orang Kristen. Jerusalem adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Tetapi peristiwa-peristiwa formatif bagi Yahudi dan Islam terjadi di tempat-tempat yang jauh dari Jerusalem, di Tanjung Sinai dan Jazirah Arab. Mengapa, misalnya, Bukit Zion di Jerusalem yang menjadi suci bagi Yahudi, bukannya Bukit Sinai, tempat Tuhan memberikan Sepuluh Perintah pada Musa?

Ternyata saya keliru telah mengasumsikan kesucian sebuah kota tergantung pada keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa penyelamatan sejarah, kisah mitos tentang campur tangan Tuhan dalam urusan manusia. Ternyata kata “suci” telah dilekatkan secara bebas dalam hubungannya dengan Jerusalem, seakan maknanya telah jelas dengan sendirinya — sementara nyatanya sangatlah kompleks.

Kota suci atau tempat suci merupakan fenomena yang nyaris universal. Untuk menemukan makna dalam beragama, manusia ternyata membutuhkan geografi sakral, yang tak ada hubungannya dengan peta dunia, tetapi untuk memetakan kehidupan batin mereka. Dan Jerusalem — untuk alasan-alasan yang berbeda — telah menjadi pusat geografi sakral bagi kaum Yahudi, Kristen dan Islam. Inilah yang menyulitkan ketiga agama itu untuk melihat kota suci ini secara objektif. Dan inilah yang telah membuatnya bergolak, tak henti-hentinya sepanjang abad.


Bagian Pertama Nukilan Buku Jerusalem: One City, Three Faiths Paperback

by Karen Armstrong


Paperback: 512 pages

Publisher: Ballantine Books; Reprint edition (April 29, 1997)

Language: English

ISBN-10: 0345391683

ISBN-13: 978-0345391681


Yuliani Liputo telah berkecimpung di bidang penerbitan buku sejak tahun 1994, awal mula karirnya sebagai editor di Penerbit Mizan. Beliau juga banyak menerjemahkan buku-buku wacana populer seperti buku-buku karya penulis terkemuka dunia, Karen Armstrong. Saat ini Yuliani Liputo menangani urusan hak cipta buku-buku Mizan di dunia internasional.

Link Blog: http://yulianiliputo.blogspot.co.id/2013/01/jerusalem-one-city-three-faiths-nukilan.html

0

Kolom Editor


Pada kesempatan kali ini saya akan sharing mengenai hal-hal yang saya pelajari dalam konferensi Digital Bussiness di Menkominfo, pada 23 Mei 2017 kemarin. Acara ini diselenggarakan Asosiasi Pebisnis Online Indonesia yang di-support oleh Menkominfo, menghadirkan beberapa speaker handal di bidangnya, dan diikuti oleh banyak pengusaha online, pegiat UMKM, para digital marketer, dan umum).

E-commerce di Indonesia tumbuh begitu pesat seiring lumrahnya penggunaan gadget di setiap generasi. [Electronic commerce atau e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya.]

Berdasarkan data Perbankan, total transaksi online di Indonesia ditaksir sudah mencapai Rp. 359 triliun di tahun 2016. Satu-satunya cara agar bisnis kita dapat bertahan di era digital adalah dengan masuk ke bisnis online., dan bagaimana dunia penerbitan memainkan peran dalam pasar e-commerce ini?




Menurut situs Perpustakaan Nasional Indonesia, dunia penerbitan merupakan industri informasi paling tua di dunia, bahkan seumur dengan peradaban manusia. Perubahan zaman membuat industri penerbitan semakin variatif dalam menerbitkan terbitan dalam berbagai macam bentuk, seperti pada saat ini perkembangan teknologi informasi melahirkan varian baru dalam dunia terbitan yaitu digital publishing atau elektronik publishing. Mungkin, banyak orang bertanya-tanya apakah pasar buku fisik akan redup dan menghilang seiring peningkatan tren apps dan transformasi digital, dimana semua kebutuhan kita bisa diakses melalui ujung jari saja? Jawabannya tidak.

Faktanya, dunia penerbitan justru meraih tempat nomor lima terbesar peraih pendapatan omset tertinggi dari seluruh sektor e-commerce (dari total 16 sub-sektor). Bahkan mengalahkan sektor industri iklan dan perfilman. Pasar tidak menghilang, pasar tetap ada hanya sudah bertransformasi dari cara offline ke online. Dunia penerbitan dituntut untuk terus memproduksi dan menawarkan produk intelektualnya secara kreatif.

Dalam dunia penerbitan, dengan memanfaatkan layanan digital (terutama dalam inovasi produk dan strategi digital marketing), kita dapat berinteraksi langsung dengan para pembaca, kita bisa mendapat masukan dan mengerti apa yang target market atau pasar inginkan. Beberapa benefit jika kita berhasil mengefektifkan penggunaan toolsdigital ini, yakni marketing menjadi efektif dan efisien, sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan (dan juga meningkatkan omset kita tentunya.)







Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa proses menuju transformasi digital di Indonesia masih cenderung lambat. Lima hambatan transformasi digital terbesar menurut para pelaku bisnis adalah: (berurutan dari hambatan terbesar hingga terkecil)

  1. Masalah keamanan dan serangan siber
  2. Kurangnya tenaga kerja yang memiliki keahlian digital yang mumpuni
  3. Tidak adanya mitra teknologi yang tepat
  4. Tidak pastinya lingkungan ekonomi, selera pasar yang dinamis
  5. Kurangnya kebijakan pemerintah dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang mendukung


Pasar digital sangat menuntut adanya proses kreatif dalam perumusan produk. Hal ini berlaku bagi semua sektor bisnis. Dalam halaman berita di liputan6.com yang saya baca, Hermawan Kertajaya (Founder MarkPlus, Inc) mengatakan bahwa kunci memenangkan persaingan adalah dengan terus-menerus memunculkan atau menciptakan perbedaan (diferensiasi). Menurut beliau, kejenuhan akan produk tertentu menggambarkan terjadinya kelebihan pasokan (over supply). Perbedaan inilah yang dinilai menjadi kunci persaingan di era digital.







Berdasarkan demografi, Indonesia memiliki kelas menengah yang cukup besar, artinya masyarakat jenis tersebut memiliki kekuatan daya beli. Tapi, itu saja tak cukup. Menurut pak Hermawan, para pebisnis pun perlu memperhatikan psikografi atau kepribadian konsumen.

Kesimpulannya yang saya dapat adalah adalah, bagaimana strategi para pebisnis untuk masuk dan memanfaatkan tools digital secara optimal sangat memengaruhi kesuksesan dan keberlangsungan bisnisnya di masa mendatang. Jadi, apakah kita sudah siap untuk Go Digital?

0

Kolom Editor


Dimanapun saya terperangkap atau menyeburkan diri dalam sebuah lingkungan, saya tetaplah seorang seniman yang tidak menyukai alat ukur. Mengapa tiba-tiba saya menyebut “alat ukur”, ya memang minggu-minggu ini kami di Pelangi Mizan sebagai proyek percontohan, sedang sosialisasi sistem QPI (Quality and Productivity Improvement).

Kelanjutan dari program besar perusahaan Mizan untuk membuat sebuah sistem kinerja karyawan yang terukur dan akurat. Sistem ini nantinya akan menjadi panduan penilaian setiap karyawan dari level bawah sampai atas.

Saat ini pula posisi pekerjaan saya ada dalam ranah yang sulit diukur karena pekerjaan kreatif sangat bersifat kualitatif. Sementara industri mau tidak mau menuntut kuantitatif. Tapi hari kemarin saya beruntung menemukan buku luar biasa, tergeletak di meja kerja teman saya yang baik hati, Pak Barhen.

Kalimat pertama buku itu membuat saya tersengat dan mohon ijin untuk meminjam buku itu ke rumah. Ini buku yang membuat saya terhipnotis, tak sempat ganti baju dulu, hanya diselingi makan. Pertandingan timnas U-18 dibiarkan begitu saja walaupun sesekali saya melirik skor, dan sampai menit akhir indonesia menang telak 9-0 atas Filipina.

Buku yang berjudul Big Magic ditulis oleh Elizabeth Gilbert, terbitan Kaifa. Buku ini berkisah tentang bagaimana masa lalu Gilbert yang dipenuhi rasa takut sepanjang hidupnya. Rasa takut untuk melakukan sesuatu. Masa lalunya menjadi sangat membosankan menjadi anak yang serba takut.

Namun dia beruntung karena orangtuanya bersifat terbalik dari anaknya. Kedua orangtuanya terutama ibunya selalu meyakinkan Gilbert adalah anak yang berani. Sampai pada satu titik menjelang remaja, ia bisa menaklukan rasa takutnya menjadi sosok penting dalam perburuan kehidupan kreatifnya hingga menjadi seorang penulis terkenal.




Big Magic Cover Terbitan Kaifa, Penerbit Mizan


Gilbert sangat piawai mengemas pengalaman kreatifnya, baik pengalaman sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang inspiratif. Saya bisa mengecap tiga rasa dalam penyajian buku ini, imajinatif, kreatif, dan spiritual. Misalnya saat ia tidak mempercayai para ahli bahwa kreativitas hanyalah proses berpikir semata.

Ia mempercayai bahwa gagasan itu ada diluar diri kita dan memenuhi alam semesta. Ada tapi tidak berwujud. Ini sangat spiritual. Gagasan akan mendekat pada seseorang yang mau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan juga bisa meninggalkan kita ketika kita mengabaikannya. Ini menurut saya perumpamaan yang imajinatif dan kreatif.

Gilbert menguatkan konsep itu dengan menceritakan kisah penulisan novelnya yang terinspirasi dari proyek ambisius pembangunan jalan yang melintasi hutan amazon di Brazil. Tapi proyek novel itu tidak tuntas, segala usaha risetnya tentang Brazil tertunda begitu saja karena masalah pribadinya hingga dua tahun.


Pada episode berikutnya Gilbert kemudian bertemu dengan seseorang, sama-sama sebagai penulis dan kemudian saling mengagumi. Mereka lantas menjadi teman akrab dan sering saling berkirim surat. Di salah satu obrolannya Gilbert bertanya, proyek apa yang sedang dibuat temannya itu.

Temannya bilang bahwa dia sedang menulis novel yang berlatar belakang Brazil. Gilbert penasaran karena dia juga punya proyek novel berlatar belakang sama. Ternyata ceritanya persis sama, tokoh utamanya sama, konflik ceritanya sama dan latar belakangnya sudah pasti sama.

Inilah yang disebut BIG MAGIC, keajaiban besar. Gilbert makin percaya bahwa gagasan itu harus dipelihara. Gilbert menceritakan betapa sulitnya dia bangkit untuk meneruskan proyek yang sudah tertunda dua tahun lamanya. Gagasan itu pergi meninggalkannya, mencari manusia lain yang mau merealisasikannya dengan sungguh-sungguh. Dan gagasan itu lebih mempercayai temannya yang baru ia kenal. Padahal Gilbert tidak pernah menceritakan proyek novel itu.

Pesan Gilbert adalah kesungguhan memegang perjanjian kontrak dengan gagasan. Itulah kehidupan kreatif, tidak ada alat ukur, sebab kreativitas tidak perlu izin apapun kecuali komitmen kita terhadap gagasan itu. Ini bukan mengenai gagasan berkarya seni, tapi sikap mental kita dalam mewujudkan gagasan baru yang menjadi kodrat manusia, yang menjadikan kita pemenang dari seleksi teori evolusi. Tapi menemukan kehidupan kreatif selalu dihantui rasa takut untuk mewujudkannya.



Bagi seniman, salah satu rasa takut itu adalah alat ukur, sebab seniman selalu merencanakan hidupnya seperti perjudian. Gilbert mengingatkan, jadikan rasa takut itu sebagai teman agar kita hati-hati. Biarkan dia mengikuti kemanapun kita pergi untuk mewujudkan gagasan, tapi jangan suruh dia membuat keputusan.


Wallahua’lam

0

Artikel, Kolom Editor, Ruang Redaksi

Ruang Redaksi Big Mac

[Oleh: Iwan Yuswandi]


Dimanapun saya terperangkap atau menyeburkan diri dalam sebuah lingkungan, saya tetaplah seorang seniman yang tidak menyukai alat ukur. Mengapa tiba-tiba saya menyebut “alat ukur”, ya memang minggu-minggu ini kami di Pelangi Mizan sebagai proyek percontohan, sedang sosialisasi sistem QPI (Quality and Productivity Improvement).

Kelanjutan dari program besar perusahaan Mizan untuk membuat sebuah sistem kinerja karyawan yang terukur dan akurat. Sistem ini nantinya akan menjadi panduan penilaian setiap karyawan dari level bawah sampai atas. Saat ini pula posisi pekerjaan saya ada dalam ranah yang sulit diukur karena pekerjaan kreatif sangat bersifat kualitatif.

Sementara industri mau tidak mau menuntut kuantitatif. Tapi hari kemarin saya beruntung menemukan buku luar biasa, tergeletak di meja kerja teman saya yang baik hati, Pak Barhen. Kalimat pertama buku itu membuat saya tersengat dan mohon ijin untuk meminjam buku itu ke rumah.

Ini buku yang membuat saya terhipnotis, tak sempat ganti baju dulu, hanya diselingi makan. Pertandingan timnas U-18 dibiarkan begitu saja walaupun sesekali saya melirik skor, dan sampai menit akhir indonesia menang telak 9-0 atas Filipina. Buku yang berjudul Big Magic ditulis oleh Elizabeth Gilbert, terbitan Kaifa.

Buku ini berkisah tentang bagaimana masa lalu Gilbert yang dipenuhi rasa takut sepanjang hidupnya. Rasa takut untuk melakukan sesuatu. Masa lalunya menjadi sangat membosankan menjadi anak yang serba takut. Namun dia beruntung karena orangtuanya bersifat terbalik dari anaknya.

Kedua orangtuanya terutama ibunya selalu meyakinkan Gilbert adalah anak yang berani. Sampai pada satu titik menjelang remaja, ia bisa menaklukan rasa takutnya menjadi sosok penting dalam perburuan kehidupan kreatifnya hingga menjadi seorang penulis terkenal.




Gilbert sangat piawai mengemas pengalaman kreatifnya, baik pengalaman sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang inspiratif. Saya bisa mengecap tiga rasa dalam penyajian buku ini, imajinatif, kreatif, dan spiritual. Misalnya saat ia tidak mempercayai para ahli bahwa kreativitas hanyalah proses berpikir semata. Ia mempercayai bahwa gagasan itu ada diluar diri kita dan memenuhi alam semesta. Ada tapi tidak berwujud. Ini sangat spiritual.

Gagasan akan mendekat pada seseorang yang mau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan juga bisa meninggalkan kita ketika kita mengabaikannya. Ini menurut saya perumpamaan yang imajinatif dan kreatif. Gilbert menguatkan konsep itu dengan menceritakan kisah penulisan novelnya yang terinspirasi dari proyek ambisius pembangunan jalan yang melintasi hutan amazon di Brazil. Tapi proyek novel itu tidak tuntas, segala usaha risetnya tentang Brazil tertunda begitu saja karena masalah pribadinya hingga dua tahun.

Pada episode berikutnya Gilbert kemudian bertemu dengan seseorang, sama-sama sebagai penulis dan kemudian saling mengagumi. Mereka lantas menjadi teman akrab dan sering saling berkirim surat. Di salah satu obrolannya Gilbert bertanya, proyek apa yang sedang dibuat temannya itu. Temannya bilang bahwa dia sedang menulis novel yang berlatar belakang Brazil.

Gilbert penasaran karena dia juga punya proyek novel berlatar belakang sama. Ternyata ceritanya persis sama, tokoh utamanya sama, konflik ceritanya sama dan latar belakangnya sudah pasti sama. Inilah yang disebut BIG MAGIC, keajaiban besar. Gilbert makin percaya bahwa gagasan itu harus dipelihara. Gilbert menceritakan betapa sulitnya dia bangkit untuk meneruskan proyek yang sudah tertunda dua tahun lamanya.

Gagasan itu pergi meninggalkannya, mencari manusia lain yang mau merealisasikannya dengan sungguh-sungguh. Dan gagasan itu lebih mempercayai temannya yang baru ia kenal. Padahal Gilbert tidak pernah menceritakan proyek novel itu. Pesan Gilbert adalah kesungguhan memegang perjanjian kontrak dengan gagasan.

Itulah kehidupan kreatif, tidak ada alat ukur, sebab kreativitas tidak perlu izin apapun kecuali komitmen kita terhadap gagasan itu. Ini bukan mengenai gagasan berkarya seni, tapi sikap mental kita dalam mewujudkan gagasan baru yang menjadi kodrat manusia, yang menjadikan kita pemenang dari seleksi teori evolusi. Tapi menemukan kehidupan kreatif selalu dihantui rasa takut untuk mewujudkannya.

Bagi seniman, salah satu rasa takut itu adalah alat ukur, sebab seniman selalu merencanakan hidupnya seperti perjudian. Gilbert mengingatkan, jadikan rasa takut itu sebagai teman agar kita hati-hati. Biarkan dia mengikuti kemanapun kita pergi untuk mewujudkan gagasan, tapi jangan suruh dia membuat keputusan. Wallahua’lam



Iwan Yuswandi

(Desainer / Konseptor Produk Direct Selling Pelangi Mizan)
0

Artikel, Kolom Editor

[Oleh: Zahra Haifa]

Pada kesempatan kali ini saya akan sharing mengenai hal-hal yang saya pelajari dalam konferensi Digital Bussiness di Menkominfo, pada 23 Mei 2017 kemarin. Acara ini diselenggarakan Asosiasi Pebisnis Online Indonesia yang di-support oleh Menkominfo, menghadirkan beberapa speaker handal di bidangnya, dan diikuti oleh banyak pengusaha online, pegiat UMKM, para digital marketer, dan umum).

E-commerce di Indonesia tumbuh begitu pesat seiring lumrahnya penggunaan gadget di setiap generasi [Electronic commerce atau e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya.] Berdasarkan data Perbankan, total transaksi online di Indonesia ditaksir sudah mencapai Rp. 359 triliun di tahun 2016.

Satu-satunya cara agar bisnis kita dapat bertahan di era digital adalah dengan masuk ke bisnis online., dan bagaimana dunia penerbitan memainkan peran dalam pasar e-commerce ini? Menurut situs Perpustakaan Nasional Indonesia, dunia penerbitan merupakan industri informasi paling tua di dunia, bahkan seumur dengan peradaban manusia.

Perubahan zaman membuat industri penerbitan semakin variatif dalam menerbitkan terbitan dalam berbagai macam bentuk, seperti pada saat ini perkembangan teknologi informasi melahirkan varian baru dalam dunia terbitan yaitu digital publishing atau elektronik publishing. Mungkin, banyak orang bertanya-tanya apakah pasar buku fisik akan redup dan menghilang seiring peningkatan tren apps dan transformasi digital, dimana semua kebutuhan kita bisa diakses melalui ujung jari saja? Jawabannya tidak.

Faktanya, dunia penerbitan justru meraih tempat nomor lima terbesar peraih pendapatan omset tertinggi dari seluruh sektor e-commerce (dari total 16 sub-sektor). Bahkan mengalahkan sektor industri iklan dan perfilman. Pasar tidak menghilang, pasar tetap ada hanya sudah bertransformasi dari cara offline ke online. Dunia penerbitan dituntut untuk terus memproduksi dan menawarkan produk intelektualnya secara kreatif.

Dalam dunia penerbitan, dengan memanfaatkan layanan digital (terutama dalam inovasi produk dan strategi digital marketing), kita dapat berinteraksi langsung dengan para pembaca, kita bisa mendapat masukan dan mengerti apa yang target market atau pasar inginkan. Beberapa benefit jika kita berhasil mengefektifkan penggunaan tools digital ini, yakni marketing menjadi efektif dan efisien, sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan (dan juga meningkatkan omset kita tentunya.)

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa proses menuju transformasi digital di Indonesia masih cenderung lambat. Lima hambatan transformasi digital terbesar menurut para pelaku bisnis adalah: (berurutan dari hambatan terbesar hingga terkecil)

  1. Masalah keamanan dan serangan siber
  2. Kurangnya tenaga kerja yang memiliki keahlian digital yang mumpuni
  3. Tidak adanya mitra teknologi yang tepat
  4. Tidak pastinya lingkungan ekonomi, selera pasar yang dinamis
  5. Kurangnya kebijakan pemerintah dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang mendukung

Pasar digital sangat menuntut adanya proses kreatif dalam perumusan produk. Hal ini berlaku bagi semua sektor bisnis. Dalam halaman berita di liputan6.com yang saya baca, Hermawan Kertajaya (Founder MarkPlus, Inc) mengatakan bahwa kunci memenangkan persaingan adalah dengan terus-menerus memunculkan atau menciptakan perbedaan (diferensiasi).

Menurut beliau, kejenuhan akan produk tertentu menggambarkan terjadinya kelebihan pasokan (over supply). Perbedaan inilah yang dinilai menjadi kunci persaingan di era digital.

Berdasarkan demografi, Indonesia memiliki kelas menengah yang cukup besar, artinya masyarakat jenis tersebut memiliki kekuatan daya beli. Tapi, itu saja tak cukup. Menurut pak Hermawan, para pebisnis pun perlu memperhatikan psikografi atau kepribadian konsumen.

Kesimpulannya yang saya dapat adalah adalah, bagaimana strategi para pebisnis untuk masuk dan memanfaatkan tools digital secara optimal sangat memengaruhi kesuksesan dan keberlangsungan bisnisnya di masa mendatang. Jadi, apakah kita sudah siap untuk Go Digital?




Zahra Haifa
Editor

Redaksi Dewasa
[Qanita | Kaifa | Pastel Books]

Facebook: fb.com/zahrabiogen

Twitter : @zahrabiogen
0

Artikel, Kolom Editor

Jerusalem JPG | Featured

[Oleh: Yuliani Liputo]

Kota Suci untuk Memetakan Kehidupan Batin Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Jerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa, tetapi kesan ini sangat menyentakkan saya ketika pertama kali datang ke sana pada 1983.

Aneh rasanya menemukan diri berada di tempat yang selalu muncul dalam khayalan kita sejak masih kecil. Dulu saya sering diceritakan tentang kisah Nabi Daud dan Isa, dan, ketika menjadi seorang biarawati, saya dilatih untuk memulai meditasi pagi hari dengan mengkhayalkan adegan biblikal yang akan saya renungkan. Maka saya pun mereka-reka sendiri pemandangan di Taman Getsemani, Bukit Moriah, atau Via Dolorosa.

Kini, ketika saya harus menjalankan tugas di sana, saya mendapati ternyata kota itu lebih merupakan sebuah tempat yang penuh gejolak dan membingungkan. Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa Jerusalem jelas-jelas sangat penting baik bagi orang Yahudi maupun Muslim.

Ketika melihat tentara Israel yang garang menangis saat mencium Tembok Barat atau keluarga Muslim berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat di Haram al-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar akan tantangan pluralisme agama. Betapa orang dapat melihat simbol yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.


Pada pagi pertama saya di Jerusalem, teman Israel saya segera menunjukkan cara mengetahui mana batu-batu yang digunakan oleh Raja Herod untuk membangun tembok Kota Lama.

Batu-batu itu seakan menjadi bukti komitmen bangsa Yahudi pada Jerusalem berabad-abad sebelum Islam hadir. Pun ketika kami melewati bangunan-bangunan di Kota Lama, saya diceritakan betapa Jerusalem telah ditelantarkan oleh Utsmaniyyah ketika dinasti itu berkuasa di sana, dan kota itu baru kembali hidup berkat investasi Yahudi — lihatlah kincir angin yang dibangun oleh Sir Moses Montefiore dan rumah sakit-rumah sakit yang dibiayai oleh keluarga Rothschild. Berkat Yahudilah Jerusalem menjadi maju seperti sekarang, katanya.


Teman Palestina saya menunjukkan wajah Jerusalem yang lain sama sekali. Mereka memperlihatkan keagungan Haram al-Syarif dan keindahan madrasah-madrasah yang dibangun di sekitar pinggirannya oleh dinasti Mamluk, sebagai bukti komitmen Muslim pada Jerusalem. Mereka membawa saya ke tempat suci Nabi dekat Jericho, yang dibangun untuk mempertahankan Jerusalem dari serangan Kristen, serta istana-istana Umayyah di dekat situ.

Ketika berjalan-jalan di Bethlehem suatu sore, dia menghentikan mobil di pemakaman Rachel untuk menunjukkan betapa orang Palestina telah memelihara tempat-tempat suci Yahudi selama berabad-abad — suatu kebaikan yang tak pernah dihargai secara layak oleh Yahudi.



Jerusalem | Cover
Namun bagi kedua pihak yang berseteru itu, ada satu kata yang sama bagi Jerusalem: “suci”. Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci. Tapi, apakah arti kata “suci” di sini? Bagaimana mungkin sebuah kota, yang penuh dengan manusia yang tak sempurna dan sibuk dengan aktivitas yang jauh dari suci, bisa disebut suci?

Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku ateis militan pun peduli pada sebuah kota suci dan merasa begitu posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa orang Arab yang mengaku tak beriman juga bisa meneteskan air mata ketika untuk pertama kali berdiri di dalam Masjid al-Aqsa? Saya bisa mengerti mengapa kota itu dianggap suci oleh orang Kristen.

Jerusalem adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Tetapi peristiwa-peristiwa formatif bagi Yahudi dan Islam terjadi di tempat-tempat yang jauh dari Jerusalem, di Tanjung Sinai dan Jazirah Arab.

Mengapa, misalnya, Bukit Zion di Jerusalem yang menjadi suci bagi Yahudi, bukannya Bukit Sinai, tempat Tuhan memberikan Sepuluh Perintah pada Musa? Ternyata saya keliru telah mengasumsikan kesucian sebuah kota tergantung pada keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa penyelamatan sejarah, kisah mitos tentang campur tangan Tuhan dalam urusan manusia.

Ternyata kata “suci” telah dilekatkan secara bebas dalam hubungannya dengan Jerusalem, seakan maknanya telah jelas dengan sendirinya — sementara nyatanya sangatlah kompleks. Kota suci atau tempat suci merupakan fenomena yang nyaris universal. Untuk menemukan makna dalam beragama, manusia ternyata membutuhkan geografi sakral, yang tak ada hubungannya dengan peta dunia, tetapi untuk memetakan kehidupan batin mereka.

Dan Jerusalem — untuk alasan-alasan yang berbeda — telah menjadi pusat geografi sakral bagi kaum Yahudi, Kristen dan Islam. Inilah yang menyulitkan ketiga agama itu untuk melihat kota suci ini secara objektif. Dan inilah yang telah membuatnya bergolak, tak henti-hentinya sepanjang abad.



Bagian Pertama Nukilan Buku

Jerusalem: One City, Three Faiths Paperback
by Karen Armstrong

Paperback: 512 pages

Publisher: Ballantine Books;

Reprint edition (April 29, 1997)

Language: English

ISBN-10: 0345391683

ISBN-13: 978-0345391681

Yuliani Liputo telah berkecimpung di bidang penerbitan buku sejak tahun 1994, awal mula karirnya sebagai editor di Penerbit Mizan. Beliau juga banyak menerjemahkan buku-buku wacana populer seperti buku-buku karya penulis terkemuka dunia, Karen Armstrong. Saat ini Yuliani Liputo menangani urusan hak cipta buku-buku Mizan di dunia internasional.


Link Blog: http://yulianiliputo.blogspot.co.id/2013/01/jerusalem-one-city-three-faiths-nukilan.html
0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS
X