fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Resensi
  Turtles All The Way Down, buku terbaru dari John, penulis mega bestseller The Fault in Our Stars, mengisahkan tentang Aza Holmes, gadis remaja yang mengidap anxiety dan obsessive-compulsive disorder.  

Aza selalu dirongrong oleh pikiran-pikirannya sendiri yang tidak bisa dia kendalikan. Dia cemas bahwa entah bagaimana dia terkena bakteri pencernaan yang bisa berakibat maut. Dia cemas bahwa luka di jarinya entah bagaimana terinfeksi, sehingga dalam sehari dia bisa berkali-kali mengganti plester untuk memastikannya tetap steril.

  Penggambaran tokoh Aza terasa amat realistis dan membuat para pembaca bersimpati. Salah satu alasannya adalah karena John Green sendiri mengidap anxiety disorder. Usianya 6 tahun ketika dia menyadari ada yang aneh dengan pola pikirnya. Green seringkali khawatir makanannya terkontaminasi, dan dia hanya mau mengkonsumsi makanan-makanan tertentu pada jam-jam tertentu.

  Setelah dewasa, Green mengatasi kecemasannya dengan obat-obatan dan terapi perilaku kognitif. Namun tetap saja, terkadang pikiran-pikirannya yang tak terkendali membuatnya lumpuh. Pernah dia merasa begitu depresi hingga tak dapat makan, hanya meminum berbotol-botol soda.   Bagi Green, menulis novel adalah “cara untuk melepaskan diri, agar tidak terjebak dalam diri sendiri.”

Ketika The Fault in Our Stars meledak di pasaran, ketenaran yang begitu mendadak mengganggu ketenangan Green. Green yang cemas jika harus menyentuh orang lain, tiba-tiba harus menghadiri berbagai acara, menghadapi kerumunan fans yang ingin memeluknya dan berfoto bersama.   Kesuksesan The Fault in Our Stars begitu luar biasa, hingga rasanya tidak mungkin lagi menulis novel yang akan sesukses itu.

Green mulai menulis beberapa buku, namun mengabaikan semuanya. Dia cemas bahwa dia tidak akan pernah lagi menulis novel.   Kemudian dia berhenti mengkonsumsi obat, berharap dapat memicu kembali kreatifitasnya, dan dia pun terjun bebas. “Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiranku layaknya spiral yang berputar-putar dan tulisan corat-coret,” ujarnya. Begitu dia dapat mengendalikan diri, lahirlah draft novel Turtles All The Way Down.

Dalam buku terbarunya, John Green berterima kasih pada para dokternya, menuliskan betapa beruntungnya dia bisa mendapat akses terhadap layanan kesehatan jiwa, dan memiliki keluarga yang selalu mendukung. “Penyakit psikologis ini bukanlah gunung yang kau taklukkan atau rintangan yang kau lompati, melainkan sesuatu yang hidup bersamamu setiap hari,” ujar Green. [Dyah]  


Green berharap bahwa Turtles All The Way Down dapat membantu orang-orang yang menghadapi penyakit yang sama dengan Aza dan dirinya agar tidak merasa sendirian.   Disadur dari NYTimes; John Green Tells a Story of Emotional Pain and Crippling Anxiety. His Own (10/10/2017)


 
[Oleh: Dyah Agustine]
0

Artikel, Resensi

[Oleh: Yuliani]

Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Jerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa. Tetapi kesan ini sangat menyentakkan saya ketika pertama kali datang ke sana pada 1983. Aneh rasanya menemukan diri berada di tempat yang selalu muncul dalam khayalan kita sejak masih kecil.

Dulu saya sering diceritakan tentang kisah Nabi Daud dan Isa, dan, ketika menjadi seorang biarawati. Saya dilatih untuk memulai meditasi pagi hari dengan mengkhayalkan adegan biblikal yang akan saya renungkan. Maka saya pun mereka-reka sendiri pemandangan di Taman Getsemani, Bukit Moriah, atau Via Dolorosa. Kini, ketika saya harus menjalankan tugas di sana. Saya mendapati ternyata kota itu lebih merupakan sebuah tempat yang penuh gejolak dan membingungkan.

Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa Jerusalem jelas-jelas sangat penting baik bagi orang Yahudi maupun Muslim. Ketika melihat tentara Israel yang garang menangis saat mencium Tembok Barat atau keluarga Muslim berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat di Haram al-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar akan tantangan pluralisme agama. Betapa orang dapat melihat simbol yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.


  Jangan Lewatkan: Yerusalem, Satu kota Tiga Agama  


Pada pagi pertama saya di Jerusalem, teman Israel saya segera menunjukkan cara mengetahui mana batu-batu yang digunakan oleh Raja Herod untuk membangun tembok Kota Lama. Batu-batu itu seakan menjadi bukti komitmen bangsa Yahudi pada Jerusalem berabad-abad sebelum Islam hadir.

Pun ketika kami melewati bangunan-bangunan di Kota Lama, saya diceritakan betapa Jerusalem telah ditelantarkan oleh Utsmaniyyah ketika dinasti itu berkuasa di sana, dan kota itu baru kembali hidup berkat investasi Yahudi.  lihatlah kincir angin yang dibangun oleh Sir Moses Montefiore dan rumah sakit-rumah sakit yang dibiayai oleh keluarga Rothschild. Berkat Yahudilah Jerusalem menjadi maju seperti sekarang, katanya.


Teman Palestina saya menunjukkan wajah Jerusalem yang lain sama sekali. Mereka memperlihatkan keagungan Haram al-Syarif dan keindahan madrasah-madrasah yang dibangun di sekitar pinggirannya oleh dinasti Mamluk, sebagai bukti komitmen Muslim pada Jerusalem. Mereka membawa saya ke tempat suci Nabi dekat Jericho, yang dibangun untuk mempertahankan Jerusalem dari serangan Kristen, serta istana-istana Umayyah di dekat situ.

Ketika berjalan-jalan di Bethlehem suatu sore, dia menghentikan mobil di pemakaman Rachel untuk menunjukkan betapa orang Palestina telah memelihara tempat-tempat suci Yahudi selama berabad-abad — suatu kebaikan yang tak pernah dihargai secara layak oleh Yahudi. Namun bagi kedua pihak yang berseteru itu, ada satu kata yang sama bagi Jerusalem: “suci”. Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci.

Tapi, apakah arti kata “suci” di sini? Bagaimana mungkin sebuah kota, yang penuh dengan manusia yang tak sempurna dan sibuk dengan aktivitas yang jauh dari suci, bisa disebut suci? Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku ateis militan pun peduli pada sebuah kota suci dan merasa begitu posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa orang Arab yang mengaku tak beriman juga bisa meneteskan air mata ketika untuk pertama kali berdiri di dalam Masjid al-Aqsa? Saya bisa mengerti mengapa kota itu dianggap suci oleh orang Kristen.


Jerusalem adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Tetapi peristiwa-peristiwa formatif bagi Yahudi dan Islam terjadi di tempat-tempat yang jauh dari Jerusalem, di Tanjung Sinai dan Jazirah Arab. Mengapa, misalnya, Bukit Zion di Jerusalem yang menjadi suci bagi Yahudi. Bukannya Bukit Sinai, tempat Tuhan memberikan Sepuluh Perintah pada Musa?  


Terkait: Yerusalem karya Karen Armstrong  


Ternyata saya keliru telah mengasumsikan kesucian sebuah kota tergantung pada keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa penyelamatan sejarah. kisah mitos tentang campur tangan Tuhan dalam urusan manusia. Ternyata kata “suci” telah dilekatkan secara bebas dalam hubungannya dengan Jerusalem. seakan maknanya telah jelas dengan sendirinya — sementara nyatanya sangatlah kompleks.

Kota suci atau tempat suci merupakan fenomena yang nyaris universal. Untuk menemukan makna dalam beragama, manusia ternyata membutuhkan geografi sakral, yang tak ada hubungannya dengan peta dunia, tetapi untuk memetakan kehidupan batin mereka. Dan Jerusalem — untuk alasan-alasan yang berbeda — telah menjadi pusat geografi sakral bagi kaum Yahudi, Kristen dan Islam.

Inilah yang menyulitkan ketiga agama itu untuk melihat kota suci ini secara objektif. Dan inilah yang telah membuatnya bergolak, tak henti-hentinya sepanjang abad  



Bagian Pertama Nukilan Buku Jerusalem: Satu Kota Tiga Agama



Tersedia di:


0

Artikel, Resensi



[Oleh: Suhairi Rachmad]

Melakukan travelling ke lima benua memang tidak mudah. Kegiatan ini membutuhkan banyak biaya dan kondisi fisik yang ekstra sehat. Hal ini akan menentukan nikmat-tidaknya seorang traveller selama dalam perjalanan. Apalagi, ada sesuatu yang perlu direkam dalam kegiatan ini, semisal mengabadikan tempat-tempat bersejarah selama dalam perjalanan.

Umumnya, para traveller mengadakan perjalanan ke tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Tempat-tempat tersebut dijadikan objek untuk diabadikan sebagai kekayaan budaya. Tetapi, Taufik malah menjadikan masjid sebagai destinasi perjalanan di lima benua. Ia mengabadikan rekaman tersebut dalam  buku 1001 Masjid di 5 Benua.

Taufik ‘berani’ mengabadikan objek wisata yang tidak dilirik traveller lainnya. Mungkin, muncul sebuah pertanyaan: Seberapa besarkah daya tarik masjid jika dijadikan objek wisata? Ternyata, kisah-kisah masjid di lima Benua hasil rekaman Taufik ini sangat beragam; mulai dari masjid yang menjadi markas teroris hingga masjid paling romantis. Betulkah ada masjid markas teroris? Atau betulkah ada masjid paling romantis? Taufik memang tidak menceritakan secara detail masjid markas teroris tersebut.

Pada Mampir ke “Markas Teroris” di Amsterdam ia lebih menekankan pada proses pencarian masjid di kota itu. Ia mengelilingi Amsterdam, ibu kota Belanda, untuk mencari Masjid Stichting El Tawheed atau Yayasan El Tawheed. Ia kaget ketika mendengar kabar tentang deklarasi pemerintah Belanda bahwa masjid tersebut sebagai “sarang teroris”.

Deklarasi itu dilakukan sebab pada 2004 terjadi pembunuhan Theo van Gogh, sutradara pembuat film anti-Islam, oleh pemuda bernama Mohammed Bouyeri, yang konon adalah salah seorang jamaah masjid ini. Peristiwa yang menggemparkan negeri Belanda dan disebut sebagai “Dutch September 11” ini membuat gerakan dan kegiatan yang diadakan di El Tawheed selalu dimata-matai pemerintah (hal. 20-21).

Masjid sebagai sarang teroris memunculkan stigma negatif di mata masyarakat. Ini bukan sekedar berakibat buruk pada pelakunya, agama Islam pun akan terkena imbas yang notabene agama penebar rahmat bagi seluruh alam. Secara realitas, gerakan teroris selalu mengakibatkan korban materi dan nyawa.

Ketika terdapat masjid menjadi sarang teroris, gambaran yang muncul di benak pembaca mungkin sebuah deskripsi terbalik dengan nilai agama samawi yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Pada saat yang lain, Taufik juga mendatangi sebuah masjid yang terdapat di ibu kota Republik Tatarstan, yang merupakan salah satu republik anggota Federasi Rusia. Masjid ini bernama Kol Syerif Mechete atau Masjid Kul Syarif.

Masjid termegah se-dunia ini berwarna biru dengan empat menara yang menjulang tinggi menembus langit kota. Dalam salah satu ruangan masjid in terdapat pameran souvenir, buku-buku Islam, video, dan busana muslim. Pada lantai di bawahnya terdapat Muzei Islamkoii Kultur atau Museum Budaya Islam yang memamerkan benda dan artefak tentang Islam yang umumnya berupa kaligrafi (hal. 120-121).

Deskripsi masjid ini lebih detail daripada deskripsi masjid markas teroris. Pembaca diajak menikmati bentuk fisik bangunan masjid di ibu kota Republik Tatarstan tersebut. Masjid ini bukan sekedar tempat melaksanakan salat dan membaca Al-Quran. Simbol-simbol keislaman lainnya juga diabadikan dalam sebuah ruangan agar pengunjung mampu menangkap perkembangan peradaban dari masa-ke masa.

Nah, yang paling membuat penasaran dengan isi buku ini adalah adanya masjid yang paling romantis. Masjid ini bernama Xiao Tao Yuan atau kebun kecil buah persik. Ini berbeda dengan nama masjid di Indonesia yang identik dengan nama Arab. Jamaah masjid ini berasal dari etnik Hui, Uighur, etnik Cina Muslim, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Masjid ini dibangun pada 1917 (hal. 197-199).


Ternyata, melakukan travelling ke sejumlah masjid yang tercatat dalam buku ini juga menarik. Apalagi, gaya bertutur dalam buku ini tidak mengalahkan deskripsi buku travelling ke destinasi wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Caranya bertutur seakan membawa pembaca memasuki setiap sudut ruang masjid yang ada di lima benua.



Judul Buku: 1001 Masjid di 5 Benua

Penulis: Taufik Uieks

Penerbit: Mizan, Bandung

Cetakan: I, Oktober 2016

Tebal: 256 halaman

ISBN: 978-979-433-971-8

Peresensi: Suhairi Rachmad
0

Artikel, Resensi

Bad Romance | Cover

[Oleh: Untung Wahyudi]

Cinta selalu menjadi topik menarik untuk diangkat menjadi cerita roman. Hampir semua pengarang selalu menyelipkan kisah cinta dalam karya-karyanya, sehingga karya mereka dikenang karena kisahnya yang unik, menarik, dan tak mudah dilupakan.

Sebut saja roman Sitti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, atau yang mendunia seperti Romeo dan Juliet dan Layla Majnun. Setiap kisah memiliki keunikan tersendiri sehingga sangat membekas di hati pembaca. Di zaman yang serbacanggih ini, tema cinta pun masih menjadi topik menarik. Salah satunya adalah Bad Romance, novel yang sebelumnya pernah tayang di situs Wattpad dan dibaca hampir enam juta kali.

Novel karya Equita Millianda ini menarik perhatian pembaca karena kisahnya yang unik dan, sebagaimana novel Teenlit pada umumnya, renyah dan dekat dengan kehidupan remaja. Gaya tuturnya yang mengalir dan cenderung “ceplas-ceplos” membuat pembaca remaja merasa betah membacanya sampai selesai. Adalah Nathaniel Adriano Wirasetya, biasa disapa Nathan, cowok yang hobi membuat rusuh seantero sekolah.

Mulai dari hal sepele seperti telat, membuat gaduh sehingga kerap dikeluarkan dari kelas, hingga tawuran. Semua pernah dilakoni oleh Nathan. Tapi, statusnya sebagai cucu pemilik yayasan seolah membuat semua peraturan menguap begitu saja kalau sudah menyangkut nama Nathan. Hal itu membuat Katya merasa jengah sekaligus kesal dengan kelakuan Nathan yang sok jagoan, sok kuasa, dan juga sok ganteng.

Walaupun sebenarnya, sebagaimana pengakuan Katya dan Eriska, teman akrabnya, cowok itu memang ganteng. Tapi, sifat arogannya membuat Katya kesal dan sama sekali tidak menaruh simpati. Katya pernah melabraknya, saat cowok dan dua begundalnya mem-bully seorang anak SMP dekat sekolah.

Katya dengan berani mengatakan kalau Nathan itu laki-laki pengecut yang beraninya sama anak SMP. Tentu, Nathan berang dan nyaris memukul Katya kalau saja dua teman di sampingnya tidak menahannya (hlm. 10).

Sebenarnya, kekesalan Katya pada Nathan bermula waktu MOS. Keduanya dalam satu gugus yang sama. Seperti pada umumnya acara MOS, senior sering menjadikannya ajang balas dendam. Waktu itu, para junior diminta membawa kacang hijau sejumlah 2013 butir.

Bisa dibayangkan bagaimana capek dan ribetnya Katya menghitung kacang hijau sebanyak itu, tapi Nathan justru hanya duduk ongkang-ongkang kaki di warung sambil minum es teh. Sejak itu, entah kenapa, apa pun yang diperbuat Nathan jadi salah di mata Katya (hlm. 11).

Sementara itu, kekesalan Nathan pada Katya karena sering ikut campur masalahnya, ternyata belum selesai. Entah mimpi apa, tiba-tiba pikiran konyol melintas dalam benaknya. Ia bermaksud mengajak Katya taruhan dengan cara mengajaknya pacaran. Siapa yang minta putus terlebih dahulu, maka ia harus jadi babu dan siap disuruh apa saja.

Katya kesal bukan main, kenapa tiba-tiba Nathan mengajaknya taruhan aneh semacam itu. Dia menolak, tetapi Nathan tetap memaksa. Setelah dipikir matang, Katya mau menerima tantangan itu. Hanya sebatas taruhan, tidak lebih. Nathan tersenyum penuh kemenangan, dan sejak saat itulah Nathan mulai “bertingkah”.

Nathan mulai berani dekat-dekat Katya, dari mengajak pulang bersama, memesankan taksi online, hingga membawakannya makanan kesukaan Katya. Namun, Katya bukan cewek gampangan yang mudah dirayu dan disogok dengan apa pun, meskipun kadang cewek itu tak bisa menolak ketika kepepet.

Katya pernah pulang dan berangkat ke sekolah bersama Nathan, karena tiba-tiba cowok aneh itu pagi-pagi sudah muncul di rumahnya. Padahal, ia sudah siap-siap berangkat diantar Aga, kakak semata wayangnya.

Yang membuat Katya semakin kesal, sesampainya di sekolah, semua siswa memandang aneh pada Katya karena tiba-tiba boncengan sama Nathan yang di mata teman-temannya adalah musuh bebuyutan Katya. Katya hanya cuek setiap kali ditanya, apakah dia punya hubungan spesial dengan cucu pemilik yayasan itu (hlm. 30).

Sementara Nathan masih tidak mengerti, kenapa Katya belum juga luluh. Padahal, dia sudah berusaha mencuri hatinya. Hingga sebuah insiden membuat situasi berubah. Jiwa pahlawan Nathan muncul saat Katya dikejar segerombolan siswa yang hendak tawuran. Nathan berusaha melindungi Katya dari serangan beberapa siswa, tapi justru dirinya yang kena balok kayu, sehingga membuat punggungnya memar.

Katya tentu khawatir dengan keberadaan Nathan, karena jika terjadi apa-apa dengan Nathan, Katya akan merasa punya utang nyawa karena cowok itu sudah berusaha menyelamatkannya. Sebagai balas budi, Katya merawat luka dan memar Nathan di ruang UKS (hlm. 56).

Kedekatan Katya dengan Nathan membuat Katya secara perlahan mengetahui sifat-sifat Nathan. Bahkan, ia pun tahu kenapa selama ini Nathan selalu bersikap angkuh. Sebuah rahasia tentang keluarga Nathan yang akhirnya terkuak membuat Katya menaruh simpati terhadap teman dekatnya itu.

Nathan ternyata butuh orang yang mau diajak bicara, terbuka dengan masalah yang ada, dan mau melupakan masa lalu yang selama ini menghantui dan mengungkung hati dan pikirannya.


Bad Romance adalah satu dari sekian banyak novel Wattpad yang belakangan ini cukup digandrungi. Selain mendapat tempat di hati pembaca online, saat diterbitkan dalam bentuk buku pun banyak yang mengapresiasi, sehingga novel 376 halaman ini termasuk laris manis.



Judul: Bad Romance

Penulis: Equita Millianda

Penerbit: Pastel Books, Bandung

Cetakan: Kedua, Januari 2017

Tebal: 376 Halaman

ISBN: 9786020851662

Peresensi: Untung Wahyudi,  lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya
0

Artikel, Resensi

Arabian Nights Kisah 1001 Malam | Cover

[Oleh: Ratnani Latifah]

Membicarakan asal mula munculnya buku ini sejatinya, cukup membingungkan. Karena tercatat banyak versi hingga akhirnya cerita ini tersebar dan kemudian menjadi karya klasik yang banyak disukai. Buku ini unik dan sangat memikat.

Gaya bahasa dalam bercerita lues dan sangat lihai dalam mengajak pembaca ikut terjebak dengan rasa penasaran, hingga ingin melanjutkan setiap kisah lagi dan lagi. Bisa dibilang kisah-kisah dalam buku ini seolah mengalihkan, mengobati dan menyelamatkan jiwa. Karya ini terdiri dari empat kategori cerita—kisah binatang, dongeng, roman dan komik serta hikayat-hikayat sejarah (hal 11).

Kisah dimulai dengan kisah Raja Syahrayar dan Syahrazad—putri wazirnya. Di mana dipaparkan bahwa Raja Syahrayar yang memimpin kerajaan di India dan Indocina, memiliki adik yang juga memimpin kerajaan di tanah Samarkand, bernama Syahzaman.

Pada suatu waktu Syahzaman memergoki istrinya berselingkuh dengan sang  juru masak. Hal itu sungguh memukul Syahzaman hingga lebih suka murung. Dalam kemurungannya itu, Syahzaman memutuskan mengunjungi kakaknya. Tapi tetap saja pertemuannya dengan sang kakak, tidak bisa menyembuhkan kesedihan akibat sebuah penghianatan. Dia terus bertanya-tanya, “Kenapa kesialan ini menimpa orang seperti aku! Tak seorang pun pernah melihat apa yang telah kulihat.” (hal 51).

Sampai sebuah kejadian yang dilakukan istri kakaknya, Syahrayar yang kemudian membuat Syahzaman kembali ceria. Dia berkata, “ternyata yang terjadi padaku sungguh lebih kecil jika dibandingkan dengan itu. Aku selama ini mengira bahwa akulah satu-satunya orang yang menderita, tetapi dari apa yang aku lihat, ternyata semua orang menderita. Demi Tuhan kemalanganku lebih ringan dibandingkan kemalangan kakakku.” (hal 53).

Syahrayar pun penasaran ada gerangan apa yang membuat adiknya kembali semringah setelah sekian lama terjebak pada kesedihan. Syahzaman sebenarnya tidak ingin memberitahu, dia tidak tega melihat dampak apa yang akan terjadi pada kakaknya. Hanya saja kakaknya terus memaksa hingga akhirnya perbutan tercela istri dan selir-selirnya dilihat dengan kepalanya sendiri.

Syahrayar marah, lalu sejak itu dia membuat keputusan akan menikah hanya untuk satu malam dan membunuh wanita itu keesokan harinya, agar terhindar dari kelicikan dan kejahatan wanita. Kenyataan ini tentu saja membuat semua ibu-ibu khawatir. Banyak wanita muda di India yang meninggal.

Keadaan itulah yang kemudian membuat Syahrazad ingin menikah dengan raja, agar bisa mengentikan perbuatan keji itu. Dia memiliki strategi yang menarik. Hanya saja berhasil atau tidaknya itu masih menjadi misteri.

Setalah kisah itu, perlahan pembaca akan digiring dengan kisah-kisah lain di setiap malam yang sangat menarik dan selalu mengundang rasa penasaran untuk terus membaca lagi dan lagi.  Seperti kisah Pedagang dan Jin,  lalu kisah Nelayan dan Jin Nabi Sulaiman, Kisah Raja Yunan dan Orang Bijak, Kisah Suami dan Burung Beo, Kisah Raja yang Tersihir dan masih banyak lagi.

Penulis  sangat pandai membangun rasa penasaran pembaca agar tidak berhenti membaca. Kelebihan lainnya adalah terjemahan buku ini juga sangat lugas, enak dibaca. Hanya saja dalam buku ini masih ditemukan beberapa kesalahan tulis. Namun tentu saja itu tidak mengurangi keseruan cerita.

Buku ini sunggah sarat makna. Banyak hal yang bisa dimbil untuk renungan dan muhasabah. Seperti anjuran untuk ikhlas ketika menerima segala cobaan dari Allah.  Selalu berhati-hati dengan segala tindakan yang kita lakukan. Karena karma itu masih berlaku. Selalu ada balasan dari perbuatan kita.

Ada juga nasihat tersirat agar tidak suka menggunjing. “Barang siapa membicarakan apa yang tidak bersangkutan dengan dirinya, akan mendengar apa yang tidak menyenangkan darinya.” (hal 156). Serta larangan agar tidak suka berbohong “Meskipun suatu kebohongan mungkin dapat menyelamatkan nyawa seseorang, kebenaran itu lebih baik dan lebih aman.” (hal282).  Selalu berkata jujur, “Jujurlah, meskipun kejujuran itu akan menyiksamu dengan api neraka.” (hal 290).



Judul: Arabian Nights

Penulis: Husain Haddawy

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Qanita

Tebal: 700 hlm

Cetakan: Pertama, Oktober 2016

ISBN: 978-602-402-046-0

Peresensi: Ratnani Latifah. Alumni Unisnu Jepara.
0

Artikel, Resensi



[Oleh: Khairul Amin]

Ibadah bagi setiap manusia sejatinya merupakan sebuah kebutuhan, bukan hanya sekedar melaksanakan ritual untuk menggugurkan kewajiban. Frasa “butuh” mengacu pada semua nikmat yang telah manusia peroleh dari-Nya.

Manusia tidak akan pernah lepas dari peran Allah. Untuk hidup—bernafas, minum, dan makan—manusia membutuhkan Allah. Tidak ada satu perbuatanpun di dunia ini diluar kekuasaan dan kehendak Allah. Rasa “butuh” kepada Allah menjadi nilai dasar dan utama dalam menopang Iman setiap manusia.

Iman dan akidah yang kuat akan memberi dampak pada kebenaran sejati dalam beribadah, yaitu ibadah yang benar secara ritual maupun spiritual. Pada gilirannya, nilai-nilai ibadah (sebagai media mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kebaikan bagi diri dan orang lain) bisa tercapai secara sempurna. Nilai filosofis dan rangkaian hikmah ibadah dinarasikan secara cermat dalam buku karya Syafaat Selamet ini.

Dengan bahasa lugas dan sederhana, Syafaat mengajak pembaca untuk menyelami makna mendasar dari ibadah, sehingga tidak hanya terjebak pada ranah konsep tual teoritis dan praktis. Buku ini diawali dengan pembahasan bersuci (berwudhu, tayamum, mandi wajib, beristinjak). Bersuci pada bagian tertentu menjadi rangkain dari ibadah, bahkan menjadi salah satu syarat sah rukun ibadah.

Diluar ranah praktis, bersuci memiliki banyak hikmah, seperti berwudhu, bermanfaat agar setiap muslim bersih. Membasuh bagian tubuh yang bersentuhan dengan udara bebas dimaksutkan agar permukaan kulit terpelihara dari debu, sehingga terhindar dari penyakit kulit dan peradangan (hal 13).

Secara psikologis, berwudhu bertujuan untuk membersihkan jiwa, karena berwudhu tidak hanya membersihkan lahir, tapi juga batin dan perilaku manusia. Seperti membersihkan kedua telapak tangan, berarti kita tidak boleh mengotori tangan dengan mengambil barang yang bukan hak kita. Begitu juga dengan membersihkan mulut melalui kumur-kumur, bermakna harus menjaga mulut agar bersih dari makanan yang haram, sekaligus tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan dusta (hal 15).

Bagian selanjutnya, buku ini menyinggung nilai-nilai ibadah, khususnya ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji. Jamak dipahami bahwa gerakan shalat mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Gerakan-gerakan dalam shalat bermanfaat untuk menjaga kesehatan syaraf pada setiap organ atau sel tubuh, misalnya gerakan duduk tasyahud awal dan duduk diantara dua sujud, mengaktifkan kelenjar keringat, menyeimbangkan sistem listrik (saraf) tubuh dan memperbaiki kelenturan saraf keperkasaan yang berada di paha, cekungan lutut, betis, sampai jempol kaki.

Selain manfaat medis, melaksanakan shalat juga mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana yang Allah sampaikan dalam firman-Nya (QS Al-Ankabut [29]: 45). Manfaat ini bisa didalami dari khasiat gerakan sekaligus fungsinya dalam konteks ruang dan waktu secara tepat, ada keterkaitan antara gerakan shalat dengan perilaku yang baik (takwa), sehingga shalat benar-benar berpengaruh pada perilaku sehari-hari.

Jika sudah melaksanakan shalat tapi akhlaknya masih rusak, berarti shalatnya belum benar dan ikhlas. Bahkan bisa jadi termasuk orang yang lalai dalam shalat (hal 37). Begitu juga manfaat dari menunaikan zakat, zakat bertujuan membersihkan harta benda seseorang yang bukan haknya, karena harta benda milik kita sesungguhnya terkandung bagian atau hak orang lain. Maka tidak berlebihan jika orang yang tidak menunaikan zakat secara tidak langsung sama dengan mencuri harta orang lain.

Hikmah dan mafaat ibadah lain (selain shalat dan zakat) juga di narasikan dalam buku setebal 292 ini, ibadah dimaknai tidak hanya terbatas pada ritual wajib-sunnah, namun meliputi seluruh aspek gerak hidup manusia sejak sebelum tidur hinggu tidur kembali dalam putaran waktu 24 jam demi meraih ridha Allah.

Selain meraih ridha-Nya, ibadah juga tidak lepas dari asas manfaat bagi sesama, shalat baru dimaknai sebagai shalat yang benar jika berbekas pada perilaku dan amal sosial serta memberikan perubahan akhlak menjadi lebih baik, ini merupakan rangkain sikap hidup manusia yang menyadari kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Allah (hal 238).



Buku ini menjadi upaya sadar Syafaat mengingatkan pembaca dalam meraih kebenaran sejati beribadah, ibadah tidak hanya dimaknai ranah ritual, namun juga spiritual dan sosial.

Dengan bahasa sederhana dan terkesan tidak menggurui, syafaat mampu menyelaraskan teks dan konteks. Maka sebuah kewajaran, jika buku ini menyimpan etos literasi yang mencerahkan.




Judul Buku: Sudah Benarkan Ibadahmu?

Penulis: Syafaat Selamet

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 292 halaman

ISBN: 978-602-1337-78-3

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.
0

Artikel, Resensi


Food Combining | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Salah satu jalan meraih hidup sehat adalah dengan menerapkan Food Combining (FC), merupakan pola makan yang memperhatikan asupan makanan tidak hanya dari nilai gizi, tapi pada hal yang lebih substansial, yaitu bagaimana tubuh menyikapi dan mengabsorpsi dengan baik kandungan gizi yang ada dalam satu unsur makanan. Tujuan FC sangat sederhana, yaitu membuat tubuh menjadi sehat dengan menjalani hidup yang juga sehat (hal 8).

Pelaku FC tidak melakukan diet kalori karena tubuh sehat tidak mengacu pada timbangan tepat di angka ideal atau kecilnya lingkar pinggang, juga otot perut bertonjolan. Juga tidak mendekte tubuh mengonsumsi sesuatu berlebihan kerena dianggap baik, misal minum susu karena tinggi kalsium, padahal yang didekte belum tentu diterima tubuh dengan baik karena tidak sesuai kebutuhan.

Melakukan FC secara konsisten menjadikan tubuh mendapatkan kesehatan maksimal. Bentuk tubuh ideal sesuai kebutuhan tubuh, dan melambatkan penuaan (hal 12). FC membagi makanan berdasarkan protein, pati, dan sayuran. FC mengenal padu padan cocok atau tidak untuk setiap unsur makanan tersebut.

Seperti pada protein (hewani) dengan sayur, merupakan paduan serasi. Kombinasi antara protein-sayuran dalam jumlah tepat membuat pH netral jaringan tubuh tercapai. Beragam enzim yang hidup dalam sayur segar akan masuk dan segera dimanfaatkan oleh tubuh, menetralisir beratnya protein hewani (hal 15).

Namun, keidealan ini sulit tercapai apabila konsumsi protein 2-3 kali lipat lebih besar daripada konsumsi sayuran segar. Sementara itu, protein (hewani) dengan pati, padu padan yang tidak ideal, bila dikonsumsi dalam jumlah dominan, sistem cerna akan dibuat kerepotan. Enzim cerna yang terpakai akan kesulitan memilah antara protein dan pati yang harus diproses karena sifat enzimnya.

Pati memerlukan enzim amilase sebagai pemecah agar bisa dicerna dan diserap oleh tubuh, sementara protein memerlukan enzim pepsin sebagai pemecah unsur-unsurnya agar mudah tercerna oleh tubuh. Sayangnya, kerja amilase akan berhenti begitu tubuh mengaktifkan enzim pepsin. Itu sebabnya, konsumsi pati-protein merupakan hal yang keliru.

Konsumsi pati dengan sayuran, merupakan paduan serasi, kerena keduanya berbasis karbohidrat, lebih mudah dicerna dan diterima oleh tubuh. Namun, saat pati dikonsumsi jauh lebih banyak daripada sayuran, bisa tercipta lonjakan gula yang berefek tidak baik bagi tubuh. Atau, bila sayuran dikonsumsi dalam keadaan telah diproses panjang, masak suhu tinggi hingga enzimnya mati, akan tidak serasi (hal 17).

Saat padu padan telah terjadi, tubuh akan menerima dan mencerna semua dengan baik dan juga memprosesnya secara maksimal. Itu sebabnya, FC tidak mempermasalahkan berapa jumlah kalori, kandungan gizi, ataun indeks glikemik, dan sebagainya secara detail, karena fokus utamanya adalah fungsi tubuh dan harmonisasinya dengan unsur makanan yang masuk bisa maksimal bekerja sama.

Penerapan FC juga dibarengi dengan pemahaman seni makan sehat, kesegaran makanan terkait nutrisi penting. Hindari makanan yang dipanaskan atas nama higienitas, diberi rasa atas nama selera, diberi warna atas nama tampilan, dikemas atas nama kebutuhan.

Suka tak suka akan kehilangan beragam unsur vital yang dibutuhkan sistem cerna manusia, terutama kebutuhan asupan tepat dan  segar.




Judul Buku: Food Combining Itu Gampang 2

Penulis: Erikar Lebang

Penerbit: Qanita

Tahun Terbit: Cetakan 1, Januari 2017

Jumlah Halaman: 136 halaman

ISBN: 978-602-402-010-1

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.
0

Artikel, Resensi

Ya Allah Dia Bukan Jodohku | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Setiap manusia pasti pernah merasakan susah, senang, duka, lara dan bahagia karena cinta. Dari semua kisah, kisah pilu berpisah dengan orang yang dicintai adalah kisah yang tidak terlupakan. Ada banyak penyebab perpisahan terjadi, karena terhalang restu orangtua, karena orang yang dicintai berpaling dan memilih orang lain, karena ajal menjemput, maupun alasan lain.

Tentu, kita harus menyadari bahwa perpisahan atau kehilangan adalah sebuah keniscayaan, kita pernah merasakan nikmatnya pemberian, maka suatu waktu kita akan mengalami sedihnya perpisahan, bukankah sering kita saksikan begitu banyak orang yang usianya sudah dewasa, puluhan tahun hidup bersama, namun masih berpisah juga. Yang perlu kita persiapkan adalah bagaimana jiwa kita memaknai perpisahan (hal 33).

Agar cinta tidak menjadi luka, kita harus pandai menyerap hikmah dari setiap perpisahan dan cinta. Apakah cinta kita kepada sesama dilandasi cinta kepada Allah? Atau malah sebaliknya?.


Ketika kita sudah menjadikan Allah sebagai Zat yang paling kita cintai, kita agungkan, kita patuhi dibandingkan dengan siapapun, saat itulah kita akan mengarah pada kedamaian dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kerap diantara kita terjerembab pada makna cinta yang salah, hingga melakukan hal diluar nalar yang mengarah pada hal negatif.

Sering digambarkan, melakukan apa pun demi bisa hidup bersama orang yang dicintai adalah suatu keharusan dan dianggap sebagai pembuktian cinta, hingga pada akhirnya banyak orang yang mengambil sikap tak terhormat untuk dapat memiliki orang yang dicintainya. Padahal, kita tau bahwa menikah adalah ibadah yang mulia.

Bagaiman bisa menggapai rumah tangga yang berkah jika jalan menujunya sudah tak baik (hal 28). Bersedih atas kepergian orang yang dicintai adalah hal yang wajar. Bahkan orang sehebat dan semulia Rasulullah merasa sedih ketika orang-orang yang disayanginya diambil Allah (hal 35). Tentu, kesedihan yang tidak berlarut-larut, apalagi sampai mengakibatkan kita berpaling dari Allah.

Menangis menjadi obat penyembuh sedih yang sangat mudah dan ampuh. Menangis mungkin tidak akan menyelesaikan masalah, namun tangisan akan membuat jiwa lebih ringan sehingga otak bisa bekerja mencari pemecahan atas masalah yang kita hadapi. Agar tangisan bernilai mulia, maka menangislah di hadapan Allah.

Tangisan yang bernilai mulia adalah tangisan yang hadir karena takut kepada Allah, bukan karena sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai (hal 84). Cara lain, yang bisa kita lakukan mengusir rasa sedih adalah menuliskan kesedihan dalam catatan harian atau diary, bukan di media sosial.


Ada banyak penyair hebat yang menghasilkan karya luar biasa ketika mereka patah hati. Insa Allah, suatu saat nanti, ketika kita membuka tulisan kita tersebut, kita akan bersyukur dan tersenyum menertawakan perasaan sedih kita saat itu. Karena kita menyadari bahwa skenario Allah telah membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya.

Yakini bahwa perpisahan dengan orang yang kita cintai adalah ujian dari-Nya untuk menguji kadar iman kita, bisa jadi Allah ingin menguji apakah kita lebih cinta pada Allah atau orang yang kita cintai. Allah menguji setiap makhluk untuk meningkatkan kualitas diri kita, semakin tinggi kualitas hamba, semakin berat ujian yang akan diterimanya. Percayalah, bahwa kesulitan selalu diapit dua kemudahan (hal 75).

Berhentilah memaksakan kehendak kita, ketika kita berhenti memaksakan diri untuk memiliki apa yang seharusnya bukan milik kita, Allah akan mempertemukan kita dengan apa yang terbaik untuk kita. Selama kita bersedia dengan ikhlas, membersihkan hati dan pikiran dari prasangka buruk kepada Allah dan mau bersabar menerima keputusan Allah, seluruh perkara yang hadir di depan kita akan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik daripada yang kita perkirakan.

Kita dipisahkan dengan seseorang karena kita dinilai belum pantas dengan orang tersebut, ada kualitas diri kita yang masih jauh dengannya. Maka, teruslah memperbaiki diri dan niatkan itu untuk menggapai ridah-Nya. Insa Allah setelah dinilai pantas, kita akan dipertemukan dengan orang yang memilik kualitas sama dengan kita (hal 76). Atau, bisa jadi Allah sedang meningkatkan kualitas calon pasangan kita, karena dirasa dia masih belum layak bagi kita. Allah masih menunggu kesungguhannya memperbaiki diri.

Kemungkinan lain, ini teguran dari-Nya untuk membuat kita kembali pada jalan yang lurus karena sebelumnya kita termasuk hamba yang lalai karena sibuk dengan banyak hal yang menyita perhatian kita dari ibadah kepada-Nya (63).



Buku karya Ahmad Rifa’i Rif’an ini menjadi pelipur lara bagi setiap orang yang berduka karena tidak bisa bersama orang yang sangat dicintainya, setiap lembar dari buku ini akan mengikis kesedihan dan menumbuhkan rasa bijak dalam memaknai cinta dan mencintai.



Judul Buku: Ya Allah, Dia Bukan Jodohku

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 144 halaman

ISBN: 978-602-418-045-4

Peresensi : Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang
0

Sehat Holistik cover1
Kesehatan adalah impian dan dambaan semua orang. Tidak tanggung-tanggung mereka rela mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk satu hal yaitu kesehatan. Ditambah lagi, dengan semakin memanasnya alam bumi atau disebut dengan global warming. Menyebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga penyakit mudah muncul dan berevolusi.

Pada 2008, berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO), sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1976-2008. Itu adalah akibat dari perubahan iklim dan pemanasan global. Artinya hampir ada satu penyakit baru yang muncul setiap tahun (Hal. 3).

Kondisi lingkungan juga sangat mendukung tumbuhnya berbagai macam penyakit. Seperti halnya Indonesia yang terletak di daerah tropis, beriklim lembab, dan menjadi tempat subur bagi pertumbuhan jamur, bakteri, juga virus penyebab penyakit (Hal 3).

Bisa dibayangkan bagaimana situasi kita sebagai orang Indonesia yang dikepung oleh berbagai macam penyakit. Apalagi kondisinya begitu mendukung ?

Namun, Tuhan Sang Pencipta Alam ini, menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Ada penyakit ada juga penyembuh atau penawarnya. Maka Indonesia adalah negara yang diberikan penyembuh dari alam dengan persentase terbesar kedua di dunia.

Negara dengan kekayaan hayati nomor 2 tertinggi di dunia setelah Brasil. Menurut Departemen Kesehatan RI, ada 30.000 spesies tanaman yang tumbuh di negara kita: 7.000 spesies diantaranya adalah tanaman obat dan 1.000 spesies telah digunakan untuk pengobatan dan mengatasi masalah kesehatan (Hal 4). Namun sayang, masih sedikit tanaman obat yang berhasil dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.

Terus dengan realita seperti itu, kenapa kesehatan di Indonesia begitu mahal. Padahal negeri kita, kaya akan sumber obat-obatannya ? Apa masalahnya ?

Pertama ternyata lebih dari 90% bahan kimiawi untuk membuat obat konvensional diimpor dari luar negeri. Padahal Indonesia kaya akan bahan alami untuk obat-obatan. Kedua kurangnya kesadaran, pemahaman dan ilmu pengetahuan masyarakat Indonesia tentang cara memanfaatkan bahan alami untuk mengatasi penyakit belum maksimal.

Buku ini hadir untuk menjawab bagaimana mengatasi penyakit-penyakit penting, ringan ataupun berat yang biasa dialami sehari-hari, dengan cara dan bahan alami.

Sehingga nantinya, setiap orang yang di Indonesia akan mengetahui dan memahami bagaimana memanfaatkan serta melestarikan potensi alam negeri ini. Selanjutnya mereka akan mengetahui bagaimana cara menyembuhkan diri dari penyakit hanya dengan bahan-bahan alami.

Di dalam buku ini terdapat 3 bab, pertama bab Sehat Holistik, kedua Homeopati, dan ketiga Sehat Alami. Penulis memberikan pemahaman kepada kita. Bahwa penciptaan manusia dengan tumbuhan, hewan dan alam ini tanpa maksud.

Manusia tidak akan bisa berdiri sendiri dengan hanya mengeksplorasi, tanpa melakukan pelestrian alam sekitar. Karena kesehatan yang sesungguhnya itu adalah ketika, kondisi saat seluruh tubuh, pikiran, jiwa dan lingkungan sekitar berfungsi harmonis, kreatif dan damai (Hal 15).

Artinya manusia harus bersinergi simbiosis mutualisme terhadap lingkungan sekitar. Yaitu berupa menjaga, merawat dan melestarikan alam, karena Sang Pencipta menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan.

Di bab selanjutnya penulis membuat pembaca terperangah. Bahwa ternyata menjadikan diri dan keluarga sehat sempurna itu murah dan mudah. Tidak mahal seperti persepsi masyarakat pada umumnya. Tidak membutuhkan rahasia untuk hidup sehat, latihan sempurna ataupun diet ajaib yang nantinya mengantarkan seseorang mencapai kesehatan yang sempurna.

Kunci untuk mencapai kesehatan sempurna ada 6 poin saja. Dijelaskan oleh penulis secara gamblang tanpa ditutup-tutupi. Pertama menghormati, mencintai, melestarikan alam dalam semua kegiatan. Keduakesehatan spiritual, mental dan emosional. Ketiga pola makan yang sehat. Keempat olah fisik atau olahraga secara rutin.Kelima obat alami sebagai tindakan pertama mengobati penyakit. Keenam menanam dan memelihara tanaman obat di halaman rumah dan di lingkungan sekitar (Hal 17-32).

Bab ketiga Khasiat Alami Tjok Gede memberikan dan memaparkan sejumlah khasiat tanaman dari tiap-tiap bagian-bagiannya. Mulai dari buah, bunga, akar atau rimpang, rumput, semak sampai dengan perdunya (Hal 88-105).

Bagian yang selama ini tidak pernah kita pikirkan, ternyata bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan itu ada di sekeliling kita. Tertarik ingin tahu serta ingin memanfaatkannya ?

Kemudian Tjok Gede dalam bukunya memberi muatan yang aplikatif dan edukasi. Bukan hanya teori namun langsung ke praktik. Yaitu memberikan tips kepada pembaca bagaimana memanfaatkan tumbuhan sekitar untuk menyembuhkan sejumlah macam penyakit.

Di akhir bukunya penulis memberikan beberapa ramuan alami yang bisa digunakan dan dipraktikkan oleh pembaca untuk menyembuhkan sejumlah penyakit.

Seperti penyembuhan penyakit ambeien (wasir) dengan ramuan daun ungu dan akar jeruk wangi (Hal 107). Anemia (Kurang darah) baik karena kekurangan zat besi maupun karena perdarahan berlebihan bisa dengan ramuan tradisional Cina dan ramuan bayam (Hal 109).

Selanjutnya ada juga untuk penyakit asam urat, asma, batu empedu, batu ginjal diabetes mellitus tipe-2, disentri, hepatitis, infeksi saluran kencing, insomnia, infeksi jamur kulit, difteri / ISPA, jantung, jerawat, sakit kepala, keputihan, keracunan, kolesterol, kegemukan, amandel, rhinitis, radang merah, rematik, stroke, TBC, tekanan darah tinggi dan rendah sampai dengan usus buntu.

Penjelasannya cukup lengkap, mulai dari penjelasan singkat penyakitnya sampai dengan ramuan, bahan-bahan sampai ke bagaimana cara pembuatannya.

Secara garis besar buku ini sangat bagus, praktis dan aplikatif. Membuka pengetahuan baru bahwa ternyata tumbuhan disekitar kita, yang biasanya dianggap tidak bermanfaat oleh orang. Ternyata memiliki khasiat yang luar biasa. Minimal setiap keluarga Indonesia memiliki buku ini sebagai pegangan hidup.

Bukan hanya untuk menjadikan diri sehat, namun juga untuk orang sekitar beserta lingkungan. Apalagi dengan metodenya bahwa untuk mencapai kesehatan yang sempurna, hanya bisa ditempuh dengan sinergi dengan alam yang saling menguntungkan.

Sehingga nantinya, masing-masing individu akan berbondong-bondong untuk saling melestarikan serta memanfaatkan secara bijak alam Indonesia ini. Siap untuk menjadikan keluarga anda sehat sempurna ?




Judul : Sehat Holistik Secara Alami : Gaya Hidup Selaras Dengan Alam

Penulis : Tjok Gede Kerthyasa

Penerbit : Penerbit Qonita Mizan Pustaka

Cetakan/Tahun Terbit : 1, September 2013

Jumlah Halaman : 210 halaman

ISBN : 978-602-9225-64-8

Peresensi : Sandi Iswahyudi, Penggiat Klub Pecinta Buku Booklicious Malang dan Pengurus UKM FDI. Mahasiswa Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang.

0

index
Diakui atau tidak, banyak orang yang mengaku sebagai umatnya Nabi Muhammad Saw., akan tetapi mereka kerap dengan sengaja meninggalkan ajaran-ajarannya. Begitu pula, banyak orang yang mengaku mencintai Nabi Muhammad Saw., namun mereka masih sering melakukan hal-hal yang tak dicintainya.

Sejarah telah mencatat, bahwa kecintaan Nabi Muhammad kepada seluruh umatnya begitu besar. Bahkan ketika sedang dalam kondisi sakaratul maut, beliau masih ingat kepada umatnya dan memohon kepada Allah agar sakitnya sakaratul maut umatnya ditimpakan saja kepada beliau.

Selain itu, beliau juga memohon agar umatnya senantiasa mendapat perlindungan Allah Swt. Betapa cinta yang dirasakan beliau kepada para umatnya begitu besar, hingga menimbulkan sebuah pertanyaan; sanggupkah kita mencintai Rasulullah seperti beliau mencintai kita? (hal 17-19).

Rasulullah adalah sosok yang sangat lembut, bahkan terhadap non-muslim sekali pun. Tetapi kita justru sering kali bersikap keras, bahkan terhadap sesama kita, orang muslim. Beliau adalah orang yang senantiasa memudahkan sesuatu hingga tercatat ucapan dari bibir beliau, “agama itu mudah”.

Tetapi kita, bahkan terhadap diri sendiri, sering kali mempersulit diri untuk beragama. Kita kerap membuat sesuatu yang sulit menjadi terasa sulit dan membuat yang mudah jadi terasa begitu sulit.

Rasulullah adalah sosok yang gemar berbagi dengan orang lain, bahkan dengan umat lain sekali pun. Akan tetapi, coba lihat diri kita, bahkan kepada tetangga terdekat sekalipun kita kerap acuh tak acuh, enggan untuk berbagi kebahagiaan, merasa iri saat melihat orang lain mendapat nikmat-Nya, bahkan tak jarang bermusuhan dengan mereka hanya gara-gara masalah yang sangat sepele.

Islam menempatkan akhlak sebagai ukuran kesempurnaan beragama. Seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, harus berusaha menunjukkan kemuliaan akhlak. Di mana pun tempatnya; di rumah, di jalan, kantor, kampus, saat tengah berkendara, kemuliaan akhlak seyogianya menjadi hal prioritas.

Akhlak mulia, kedermawanan, dan senang berbagi merupakan perbuatan yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah Saw. Hal ini sontak menimbulkan sebuah pertanyaan; lantas, jika kita mengaku sebagai umat yang mencintai Rasulullah, sudahkah kita mengerjakan segala apa yang ia cintai dalam kehidupan sehari-hari?

Seandainya akhlak kita jauh dari kemuliaan, selalu merasa iri, dengki, dan cemburu saat melihat tetangga mendapat nikmat-Nya, apakah pantas kita menginginkan syafaat Rasulullah kelak? (hal 37-38).

Rumus cinta kepada sesama manusia dan cinta kepada Allah tentu sangat jauh berbeda. Dalam percintaan sesama manusia, sering kali kita mengatakan bahwa kita tak perlu berharap dicintai, tapi setialah untuk mencintai.

Kata kuncinya adalah setia. Maka tak heran bila banyak orang mengatakan cinta kepada seseorang tidak harus memiliki. Ungkapan ini bisa benar bisa juga sangat keliru.

Sementara, rumus cinta seorang hamba kepada Allah, justru harus memprioritaskan bagaimana agar kita selalu dicintai-Nya, bukan mencinta-Nya. Pepatah Arab mengatakan; mencintai itu bukanlah hal yang penting, sebab yang lebih penting adalah bagaimana agar engkau selalu dicintai.

Maka dari itulah, kita harus senantiasa belajar agar dicintai oleh Allah, sebab mencintai-Nya adalah merupakan keharusan. Belajarlah agar dicintai oleh Rasulullah, sebab mencintainya merupakan keniscayaan (hal 41-43).

Rasulullah Saw. adalah kekasih kita semua. Oleh karena itulah, kita harus berusaha mencintainya dengan sepenuh jiwa, sepenuh hati dan sepenuh kehidupan. Mencintai di sini bukan hanya sebatas terucap melalui lisan saja, akan tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Misalnya berusaha memiliki akhlak mulia sebagaimana yang pernah beliau teladankan kepada kita semua.

Untuk mencintai Rasulullah, kita tidak perlu membeli mesin waktu agar kita bisa kembali ke masa lalu dan berjumpa dengannya. Ada kitab suci al-Quran yang akan mengilustrasikan dengan sangat indah tentang sosok Muhammad yang penuh dengan keteladanan dan kemuliaan.



Judul Buku: Merindukanmu, Duhai Muhammad!

Penulis: Yadi Saeful Hidayat

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, Agustus 2014

Tebal: 245 halaman

ISBN: 978-602-1337-20-2

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS
X