fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Info, Resensi

Menjadi dokter mungkin pernah terlintas di benak kamu ketika kecil ketika ditanya soal cita-cita. Dokter adalah profesi yang mulia dan cukup terpandang. Mengenyam pendidikan yang tidak sebentar, ditambah biaya sekolah kedokteran yang tidak murah kelak terbayar dengan berbagai tugas mulia dan bisa menyelamatkan banyak jiwa yang membutuhkan pertolongan.

Namun, Pernahkah terbayang jika kamu menjadi seorang dokter, hari-hari seperti apakah yang akan kamu lalui? Rutinitas seperti pergi ke rumah sakit sesuai jadwal shift, menunggu pasien datang, melakukan tindakan seperlunya, bercengkerama dengan kolega, dan begitu seterusnya setiap hari. Biasa saja, bahkan kedengarannya membosankan seperti pekerja kantoran. Atau, ada stigma malah menjadi dokter itu enak dan santai. Pasien yang datang keluhannya mungkin tidak berat, cukup diresepi obat, selesai, lalu mendapatkan gaji yang besar setiap bulannya.

Semua pandangan itu sepertinya terbantahkan dengan kisah-kisah viral yang dibagikan oleh dokter muda, dr. Gia Pratama pada akun Twitternya sejak beberapa waktu lalu. Kisah-kisah suka dukanya saat menjadi koas di salah satu rumah sakit daerah dan menjadi dokter UGD banyak menarik perhatian netizen dan melahirkan sebuah pandangan baru terhadap profesi dokter. Gia banyak bercerita tentang sebagian pengalamannya selama menjadi dokter, mulai dari kisah yang lucu, sedih, haru, seram, tragis, aneh, sampai yang penuh keajaiban.

Tulisannya mengundang banyak komentar dari para followers-nya. Tidak sedikit pula yang ikut terbawa suasana dan bahkan menaruh simpati kepada sang dokter dan pasien-pasien yang dia temui. Di tengah kesibukannya, Gia rajin membagikan kisahnya setiap hari dengan harapan bisa menyebarkan hikmah positif. Melalui kacamatanya, kita bisa melihat dan merasakan bagaimana serunya menjadi dokter yang harus menghadapi berbagai pasien yang memiliki situasi dan latar belakang yang berbeda setiap harinya.

Tidak semua kisah dia bagikan di Twitter. Ada beberapa ‘The Untold Stories” yang kemudian Gia putuskan untuk menceritakannya ke dalam sebuah novel berjudul #BerhentiDiKamu, yang akan rilis secara resmi pada 8 Desember dan sudah mulai membuka pre-order di beberapa toko buku online. Semua kisah di dalam bukunya disajikan lebih detail, lengkap dengan berbagai ilustrasi yang membangun suasana cerita menjadi lebih hidup. Penasaran bagaimana kisah sang dokter melewati hari-harinya yang tidak biasa dan lain daripada kisah yang lain? 

0

baru, Resensi, Review

 

Berawal dari patah lahirlah sejarah. Barangkali kalimat itu adalah slogan yang tepat untuk kisah dr. Gia Pratama. Seorang dokter muda yang kini tengah menerbitkan sebuah novel yang ditunggu-tunggu para pembaca, #BerhentiDiKamu. Kabarnya, novel ini akan rilis pada 8 Desember mendatang. (ayobandung.com)

novel-berhentidikamu

Novel ini berisi kisah seputar perjalanan asmara yang dilalui dr. Gia. Mulai dari cerita patah hatinya oleh seorang wanita yang menawan dan sempurna, sampai akhirnya bertemu dengan jodoh lewat bisul yang tak terduga. Kisah yang amat unik dan menarik untuk dibaca.

Dokter lulusan Universitas Yarsi ini pernah mengalami patah hati yang teramat dalam. Ia diputuskan oleh sang kekasih ketika tengah berlibur bersama di Eropa. Tidak hanya mereka berdua,  namun masing-masing keluarga pun turut serta.

Perjalanan dua keluarga ini menjadi momen yang sangat dr. Gia nantikan sejak dulu sampai ia begitu mempersiapkan hal-hal terkecil sekalipun. Sesuai dengan apa yang ia tulis di akun twitter pribadi miliknya. (@GiaPratamaMD)

London dan Paris sebagai kota yang romantis di Eropa, menjadi saksi bisu perjalanan cinta dr. Gia. Setiap perjalanan yang dilalui terasa indah meski cuaca saat itu tak mendukung sekalipun. Ia benar-benar tak mau melewatkan saat-saat berharganya.

Dalam novel tersebut diceritakan bahwa sang kekasih tiba-tiba meminta dokter Gia untuk hanya menjadi temannya. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan dalam hidupnya, tanpa sebab yang jelas memilih untuk pergi. Hubungan yang telah dibina selama setahun lamanya, harus kandas begitu saja.

Suasana liburan yang harusnya menyenangkan, justru menjadi duka dan nestapa bagi dokter Gia. Bangunan harapan yang sekian lama dibangun pun runtuh seketika. Dokter Gia berada di jurang kesedihan dan kegalauan yang amat dalam.

 

novel-berhentidikamu-2

Namun di tengah kisah patah hati itu takdir langsung bekerja. Dokter Gia tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang tak lagi muda di sebuah lobi hotel tempat ia menginap bersama keluarga ketika berllibur di Eropa.

 Pria itu tengah duduk dan ada yang tidak beres dengan posisi duduknya, seperti sedang menahan sakit dan akan bertambah sakit ketika duduknya di posisi sempurna. Ternyata pria tersebut memiliki bisul di pantatnya.

Meski  saat itu dokter Gia sedang berada dalam suasana hati yang pilu, ia tak melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Gia pun mengobati pria yang ia sebut sebagai pasien dadakan. Hingga akhirnya pria itu berhasil sembuh dari sakit bisulnya.

Setelah tragedi bisul di lobi hotel, pria yang ditolong dr. Gia pun mengenalkannya dengan seorang gadis yang tak lain adalah keponakannya, Syafira Imaniar. Ia pun memberikan nomor ponsel Syafira pada dokter Gia. Hingga berlangsunglah sebuah pertemuan.

 

novel-berhentidikamu-
Dalam pertemuan pertamanya, dokter Gia langsung merasa ada kecocokan dengan Syafira. Begitupun sebaliknya. Hingga mereka pun dipertemukan kembali di pelaminan dan menjadi pasangan suami-istri yang bahagia.

Siapa sangka bisul bisa membawanya pada cinta sejati? Cinta yang bahkan tak pernah ia duga akan datang dengan cara demikian. Seperti apa yang ia tulis di akun twitternya yang sampai sekarang menjadi viral:

How I found my wife… Jodoh itu benar Allah yang menentukan, bukan murni hasil keegoisan keinginan kita. You can do anything as hard as you can do tapi pada akhirnya Allah tahu yang terbaik untuk kita.

Karena momen patah hati adalah ajang untuk semakin menguatkan diri. Jadikan ia sebagai bahan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesama. Seperti apa yang dilakukan dokter Gia.

Kisah dokter berkaca mata ini terbilang romantis dan inspiratif. Kisah ini selalu bisa menginspirasi 2,6 juta netizen Indonesia setiap minggunya. Bahkan sebagaimana dilansir dalam hot.detik.com novel #BerhentiDiKamu akan difilmkan.

0

Artikel, Resensi
  Turtles All The Way Down, buku terbaru dari John, penulis mega bestseller The Fault in Our Stars, mengisahkan tentang Aza Holmes, gadis remaja yang mengidap anxiety dan obsessive-compulsive disorder.  

Aza selalu dirongrong oleh pikiran-pikirannya sendiri yang tidak bisa dia kendalikan. Dia cemas bahwa entah bagaimana dia terkena bakteri pencernaan yang bisa berakibat maut. Dia cemas bahwa luka di jarinya entah bagaimana terinfeksi, sehingga dalam sehari dia bisa berkali-kali mengganti plester untuk memastikannya tetap steril.

  Penggambaran tokoh Aza terasa amat realistis dan membuat para pembaca bersimpati. Salah satu alasannya adalah karena John Green sendiri mengidap anxiety disorder. Usianya 6 tahun ketika dia menyadari ada yang aneh dengan pola pikirnya. Green seringkali khawatir makanannya terkontaminasi, dan dia hanya mau mengkonsumsi makanan-makanan tertentu pada jam-jam tertentu.

  Setelah dewasa, Green mengatasi kecemasannya dengan obat-obatan dan terapi perilaku kognitif. Namun tetap saja, terkadang pikiran-pikirannya yang tak terkendali membuatnya lumpuh. Pernah dia merasa begitu depresi hingga tak dapat makan, hanya meminum berbotol-botol soda.   Bagi Green, menulis novel adalah “cara untuk melepaskan diri, agar tidak terjebak dalam diri sendiri.”

Ketika The Fault in Our Stars meledak di pasaran, ketenaran yang begitu mendadak mengganggu ketenangan Green. Green yang cemas jika harus menyentuh orang lain, tiba-tiba harus menghadiri berbagai acara, menghadapi kerumunan fans yang ingin memeluknya dan berfoto bersama.   Kesuksesan The Fault in Our Stars begitu luar biasa, hingga rasanya tidak mungkin lagi menulis novel yang akan sesukses itu.

Green mulai menulis beberapa buku, namun mengabaikan semuanya. Dia cemas bahwa dia tidak akan pernah lagi menulis novel.   Kemudian dia berhenti mengkonsumsi obat, berharap dapat memicu kembali kreatifitasnya, dan dia pun terjun bebas. “Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiranku layaknya spiral yang berputar-putar dan tulisan corat-coret,” ujarnya. Begitu dia dapat mengendalikan diri, lahirlah draft novel Turtles All The Way Down.

Dalam buku terbarunya, John Green berterima kasih pada para dokternya, menuliskan betapa beruntungnya dia bisa mendapat akses terhadap layanan kesehatan jiwa, dan memiliki keluarga yang selalu mendukung. “Penyakit psikologis ini bukanlah gunung yang kau taklukkan atau rintangan yang kau lompati, melainkan sesuatu yang hidup bersamamu setiap hari,” ujar Green. [Dyah]  


Green berharap bahwa Turtles All The Way Down dapat membantu orang-orang yang menghadapi penyakit yang sama dengan Aza dan dirinya agar tidak merasa sendirian.   Disadur dari NYTimes; John Green Tells a Story of Emotional Pain and Crippling Anxiety. His Own (10/10/2017)


 
[Oleh: Dyah Agustine]
0

Artikel, Resensi

[Oleh: Yuliani]

Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Jerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa. Tetapi kesan ini sangat menyentakkan saya ketika pertama kali datang ke sana pada 1983. Aneh rasanya menemukan diri berada di tempat yang selalu muncul dalam khayalan kita sejak masih kecil.

Dulu saya sering diceritakan tentang kisah Nabi Daud dan Isa, dan, ketika menjadi seorang biarawati. Saya dilatih untuk memulai meditasi pagi hari dengan mengkhayalkan adegan biblikal yang akan saya renungkan. Maka saya pun mereka-reka sendiri pemandangan di Taman Getsemani, Bukit Moriah, atau Via Dolorosa. Kini, ketika saya harus menjalankan tugas di sana. Saya mendapati ternyata kota itu lebih merupakan sebuah tempat yang penuh gejolak dan membingungkan.

Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa Jerusalem jelas-jelas sangat penting baik bagi orang Yahudi maupun Muslim. Ketika melihat tentara Israel yang garang menangis saat mencium Tembok Barat atau keluarga Muslim berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat di Haram al-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar akan tantangan pluralisme agama. Betapa orang dapat melihat simbol yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.


  Jangan Lewatkan: Yerusalem, Satu kota Tiga Agama  


Pada pagi pertama saya di Jerusalem, teman Israel saya segera menunjukkan cara mengetahui mana batu-batu yang digunakan oleh Raja Herod untuk membangun tembok Kota Lama. Batu-batu itu seakan menjadi bukti komitmen bangsa Yahudi pada Jerusalem berabad-abad sebelum Islam hadir.

Pun ketika kami melewati bangunan-bangunan di Kota Lama, saya diceritakan betapa Jerusalem telah ditelantarkan oleh Utsmaniyyah ketika dinasti itu berkuasa di sana, dan kota itu baru kembali hidup berkat investasi Yahudi.  lihatlah kincir angin yang dibangun oleh Sir Moses Montefiore dan rumah sakit-rumah sakit yang dibiayai oleh keluarga Rothschild. Berkat Yahudilah Jerusalem menjadi maju seperti sekarang, katanya.


Teman Palestina saya menunjukkan wajah Jerusalem yang lain sama sekali. Mereka memperlihatkan keagungan Haram al-Syarif dan keindahan madrasah-madrasah yang dibangun di sekitar pinggirannya oleh dinasti Mamluk, sebagai bukti komitmen Muslim pada Jerusalem. Mereka membawa saya ke tempat suci Nabi dekat Jericho, yang dibangun untuk mempertahankan Jerusalem dari serangan Kristen, serta istana-istana Umayyah di dekat situ.

Ketika berjalan-jalan di Bethlehem suatu sore, dia menghentikan mobil di pemakaman Rachel untuk menunjukkan betapa orang Palestina telah memelihara tempat-tempat suci Yahudi selama berabad-abad — suatu kebaikan yang tak pernah dihargai secara layak oleh Yahudi. Namun bagi kedua pihak yang berseteru itu, ada satu kata yang sama bagi Jerusalem: “suci”. Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci.

Tapi, apakah arti kata “suci” di sini? Bagaimana mungkin sebuah kota, yang penuh dengan manusia yang tak sempurna dan sibuk dengan aktivitas yang jauh dari suci, bisa disebut suci? Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku ateis militan pun peduli pada sebuah kota suci dan merasa begitu posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa orang Arab yang mengaku tak beriman juga bisa meneteskan air mata ketika untuk pertama kali berdiri di dalam Masjid al-Aqsa? Saya bisa mengerti mengapa kota itu dianggap suci oleh orang Kristen.


Jerusalem adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Tetapi peristiwa-peristiwa formatif bagi Yahudi dan Islam terjadi di tempat-tempat yang jauh dari Jerusalem, di Tanjung Sinai dan Jazirah Arab. Mengapa, misalnya, Bukit Zion di Jerusalem yang menjadi suci bagi Yahudi. Bukannya Bukit Sinai, tempat Tuhan memberikan Sepuluh Perintah pada Musa?  


Terkait: Yerusalem karya Karen Armstrong  


Ternyata saya keliru telah mengasumsikan kesucian sebuah kota tergantung pada keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa penyelamatan sejarah. kisah mitos tentang campur tangan Tuhan dalam urusan manusia. Ternyata kata “suci” telah dilekatkan secara bebas dalam hubungannya dengan Jerusalem. seakan maknanya telah jelas dengan sendirinya — sementara nyatanya sangatlah kompleks.

Kota suci atau tempat suci merupakan fenomena yang nyaris universal. Untuk menemukan makna dalam beragama, manusia ternyata membutuhkan geografi sakral, yang tak ada hubungannya dengan peta dunia, tetapi untuk memetakan kehidupan batin mereka. Dan Jerusalem — untuk alasan-alasan yang berbeda — telah menjadi pusat geografi sakral bagi kaum Yahudi, Kristen dan Islam.

Inilah yang menyulitkan ketiga agama itu untuk melihat kota suci ini secara objektif. Dan inilah yang telah membuatnya bergolak, tak henti-hentinya sepanjang abad  



Bagian Pertama Nukilan Buku Jerusalem: Satu Kota Tiga Agama



Tersedia di:


0

Artikel, Resensi



[Oleh: Suhairi Rachmad]

Melakukan travelling ke lima benua memang tidak mudah. Kegiatan ini membutuhkan banyak biaya dan kondisi fisik yang ekstra sehat. Hal ini akan menentukan nikmat-tidaknya seorang traveller selama dalam perjalanan. Apalagi, ada sesuatu yang perlu direkam dalam kegiatan ini, semisal mengabadikan tempat-tempat bersejarah selama dalam perjalanan.

Umumnya, para traveller mengadakan perjalanan ke tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Tempat-tempat tersebut dijadikan objek untuk diabadikan sebagai kekayaan budaya. Tetapi, Taufik malah menjadikan masjid sebagai destinasi perjalanan di lima benua. Ia mengabadikan rekaman tersebut dalam  buku 1001 Masjid di 5 Benua.

Taufik ‘berani’ mengabadikan objek wisata yang tidak dilirik traveller lainnya. Mungkin, muncul sebuah pertanyaan: Seberapa besarkah daya tarik masjid jika dijadikan objek wisata? Ternyata, kisah-kisah masjid di lima Benua hasil rekaman Taufik ini sangat beragam; mulai dari masjid yang menjadi markas teroris hingga masjid paling romantis. Betulkah ada masjid markas teroris? Atau betulkah ada masjid paling romantis? Taufik memang tidak menceritakan secara detail masjid markas teroris tersebut.

Pada Mampir ke “Markas Teroris” di Amsterdam ia lebih menekankan pada proses pencarian masjid di kota itu. Ia mengelilingi Amsterdam, ibu kota Belanda, untuk mencari Masjid Stichting El Tawheed atau Yayasan El Tawheed. Ia kaget ketika mendengar kabar tentang deklarasi pemerintah Belanda bahwa masjid tersebut sebagai “sarang teroris”.

Deklarasi itu dilakukan sebab pada 2004 terjadi pembunuhan Theo van Gogh, sutradara pembuat film anti-Islam, oleh pemuda bernama Mohammed Bouyeri, yang konon adalah salah seorang jamaah masjid ini. Peristiwa yang menggemparkan negeri Belanda dan disebut sebagai “Dutch September 11” ini membuat gerakan dan kegiatan yang diadakan di El Tawheed selalu dimata-matai pemerintah (hal. 20-21).

Masjid sebagai sarang teroris memunculkan stigma negatif di mata masyarakat. Ini bukan sekedar berakibat buruk pada pelakunya, agama Islam pun akan terkena imbas yang notabene agama penebar rahmat bagi seluruh alam. Secara realitas, gerakan teroris selalu mengakibatkan korban materi dan nyawa.

Ketika terdapat masjid menjadi sarang teroris, gambaran yang muncul di benak pembaca mungkin sebuah deskripsi terbalik dengan nilai agama samawi yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Pada saat yang lain, Taufik juga mendatangi sebuah masjid yang terdapat di ibu kota Republik Tatarstan, yang merupakan salah satu republik anggota Federasi Rusia. Masjid ini bernama Kol Syerif Mechete atau Masjid Kul Syarif.

Masjid termegah se-dunia ini berwarna biru dengan empat menara yang menjulang tinggi menembus langit kota. Dalam salah satu ruangan masjid in terdapat pameran souvenir, buku-buku Islam, video, dan busana muslim. Pada lantai di bawahnya terdapat Muzei Islamkoii Kultur atau Museum Budaya Islam yang memamerkan benda dan artefak tentang Islam yang umumnya berupa kaligrafi (hal. 120-121).

Deskripsi masjid ini lebih detail daripada deskripsi masjid markas teroris. Pembaca diajak menikmati bentuk fisik bangunan masjid di ibu kota Republik Tatarstan tersebut. Masjid ini bukan sekedar tempat melaksanakan salat dan membaca Al-Quran. Simbol-simbol keislaman lainnya juga diabadikan dalam sebuah ruangan agar pengunjung mampu menangkap perkembangan peradaban dari masa-ke masa.

Nah, yang paling membuat penasaran dengan isi buku ini adalah adanya masjid yang paling romantis. Masjid ini bernama Xiao Tao Yuan atau kebun kecil buah persik. Ini berbeda dengan nama masjid di Indonesia yang identik dengan nama Arab. Jamaah masjid ini berasal dari etnik Hui, Uighur, etnik Cina Muslim, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Masjid ini dibangun pada 1917 (hal. 197-199).


Ternyata, melakukan travelling ke sejumlah masjid yang tercatat dalam buku ini juga menarik. Apalagi, gaya bertutur dalam buku ini tidak mengalahkan deskripsi buku travelling ke destinasi wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Caranya bertutur seakan membawa pembaca memasuki setiap sudut ruang masjid yang ada di lima benua.



Judul Buku: 1001 Masjid di 5 Benua

Penulis: Taufik Uieks

Penerbit: Mizan, Bandung

Cetakan: I, Oktober 2016

Tebal: 256 halaman

ISBN: 978-979-433-971-8

Peresensi: Suhairi Rachmad
0

Artikel, Resensi

Bad Romance | Cover

[Oleh: Untung Wahyudi]

Cinta selalu menjadi topik menarik untuk diangkat menjadi cerita roman. Hampir semua pengarang selalu menyelipkan kisah cinta dalam karya-karyanya, sehingga karya mereka dikenang karena kisahnya yang unik, menarik, dan tak mudah dilupakan.

Sebut saja roman Sitti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, atau yang mendunia seperti Romeo dan Juliet dan Layla Majnun. Setiap kisah memiliki keunikan tersendiri sehingga sangat membekas di hati pembaca. Di zaman yang serbacanggih ini, tema cinta pun masih menjadi topik menarik. Salah satunya adalah Bad Romance, novel yang sebelumnya pernah tayang di situs Wattpad dan dibaca hampir enam juta kali.

Novel karya Equita Millianda ini menarik perhatian pembaca karena kisahnya yang unik dan, sebagaimana novel Teenlit pada umumnya, renyah dan dekat dengan kehidupan remaja. Gaya tuturnya yang mengalir dan cenderung “ceplas-ceplos” membuat pembaca remaja merasa betah membacanya sampai selesai. Adalah Nathaniel Adriano Wirasetya, biasa disapa Nathan, cowok yang hobi membuat rusuh seantero sekolah.

Mulai dari hal sepele seperti telat, membuat gaduh sehingga kerap dikeluarkan dari kelas, hingga tawuran. Semua pernah dilakoni oleh Nathan. Tapi, statusnya sebagai cucu pemilik yayasan seolah membuat semua peraturan menguap begitu saja kalau sudah menyangkut nama Nathan. Hal itu membuat Katya merasa jengah sekaligus kesal dengan kelakuan Nathan yang sok jagoan, sok kuasa, dan juga sok ganteng.

Walaupun sebenarnya, sebagaimana pengakuan Katya dan Eriska, teman akrabnya, cowok itu memang ganteng. Tapi, sifat arogannya membuat Katya kesal dan sama sekali tidak menaruh simpati. Katya pernah melabraknya, saat cowok dan dua begundalnya mem-bully seorang anak SMP dekat sekolah.

Katya dengan berani mengatakan kalau Nathan itu laki-laki pengecut yang beraninya sama anak SMP. Tentu, Nathan berang dan nyaris memukul Katya kalau saja dua teman di sampingnya tidak menahannya (hlm. 10).

Sebenarnya, kekesalan Katya pada Nathan bermula waktu MOS. Keduanya dalam satu gugus yang sama. Seperti pada umumnya acara MOS, senior sering menjadikannya ajang balas dendam. Waktu itu, para junior diminta membawa kacang hijau sejumlah 2013 butir.

Bisa dibayangkan bagaimana capek dan ribetnya Katya menghitung kacang hijau sebanyak itu, tapi Nathan justru hanya duduk ongkang-ongkang kaki di warung sambil minum es teh. Sejak itu, entah kenapa, apa pun yang diperbuat Nathan jadi salah di mata Katya (hlm. 11).

Sementara itu, kekesalan Nathan pada Katya karena sering ikut campur masalahnya, ternyata belum selesai. Entah mimpi apa, tiba-tiba pikiran konyol melintas dalam benaknya. Ia bermaksud mengajak Katya taruhan dengan cara mengajaknya pacaran. Siapa yang minta putus terlebih dahulu, maka ia harus jadi babu dan siap disuruh apa saja.

Katya kesal bukan main, kenapa tiba-tiba Nathan mengajaknya taruhan aneh semacam itu. Dia menolak, tetapi Nathan tetap memaksa. Setelah dipikir matang, Katya mau menerima tantangan itu. Hanya sebatas taruhan, tidak lebih. Nathan tersenyum penuh kemenangan, dan sejak saat itulah Nathan mulai “bertingkah”.

Nathan mulai berani dekat-dekat Katya, dari mengajak pulang bersama, memesankan taksi online, hingga membawakannya makanan kesukaan Katya. Namun, Katya bukan cewek gampangan yang mudah dirayu dan disogok dengan apa pun, meskipun kadang cewek itu tak bisa menolak ketika kepepet.

Katya pernah pulang dan berangkat ke sekolah bersama Nathan, karena tiba-tiba cowok aneh itu pagi-pagi sudah muncul di rumahnya. Padahal, ia sudah siap-siap berangkat diantar Aga, kakak semata wayangnya.

Yang membuat Katya semakin kesal, sesampainya di sekolah, semua siswa memandang aneh pada Katya karena tiba-tiba boncengan sama Nathan yang di mata teman-temannya adalah musuh bebuyutan Katya. Katya hanya cuek setiap kali ditanya, apakah dia punya hubungan spesial dengan cucu pemilik yayasan itu (hlm. 30).

Sementara Nathan masih tidak mengerti, kenapa Katya belum juga luluh. Padahal, dia sudah berusaha mencuri hatinya. Hingga sebuah insiden membuat situasi berubah. Jiwa pahlawan Nathan muncul saat Katya dikejar segerombolan siswa yang hendak tawuran. Nathan berusaha melindungi Katya dari serangan beberapa siswa, tapi justru dirinya yang kena balok kayu, sehingga membuat punggungnya memar.

Katya tentu khawatir dengan keberadaan Nathan, karena jika terjadi apa-apa dengan Nathan, Katya akan merasa punya utang nyawa karena cowok itu sudah berusaha menyelamatkannya. Sebagai balas budi, Katya merawat luka dan memar Nathan di ruang UKS (hlm. 56).

Kedekatan Katya dengan Nathan membuat Katya secara perlahan mengetahui sifat-sifat Nathan. Bahkan, ia pun tahu kenapa selama ini Nathan selalu bersikap angkuh. Sebuah rahasia tentang keluarga Nathan yang akhirnya terkuak membuat Katya menaruh simpati terhadap teman dekatnya itu.

Nathan ternyata butuh orang yang mau diajak bicara, terbuka dengan masalah yang ada, dan mau melupakan masa lalu yang selama ini menghantui dan mengungkung hati dan pikirannya.


Bad Romance adalah satu dari sekian banyak novel Wattpad yang belakangan ini cukup digandrungi. Selain mendapat tempat di hati pembaca online, saat diterbitkan dalam bentuk buku pun banyak yang mengapresiasi, sehingga novel 376 halaman ini termasuk laris manis.



Judul: Bad Romance

Penulis: Equita Millianda

Penerbit: Pastel Books, Bandung

Cetakan: Kedua, Januari 2017

Tebal: 376 Halaman

ISBN: 9786020851662

Peresensi: Untung Wahyudi,  lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya
0

Artikel, Resensi

Arabian Nights Kisah 1001 Malam | Cover

[Oleh: Ratnani Latifah]

Membicarakan asal mula munculnya buku ini sejatinya, cukup membingungkan. Karena tercatat banyak versi hingga akhirnya cerita ini tersebar dan kemudian menjadi karya klasik yang banyak disukai. Buku ini unik dan sangat memikat.

Gaya bahasa dalam bercerita lues dan sangat lihai dalam mengajak pembaca ikut terjebak dengan rasa penasaran, hingga ingin melanjutkan setiap kisah lagi dan lagi. Bisa dibilang kisah-kisah dalam buku ini seolah mengalihkan, mengobati dan menyelamatkan jiwa. Karya ini terdiri dari empat kategori cerita—kisah binatang, dongeng, roman dan komik serta hikayat-hikayat sejarah (hal 11).

Kisah dimulai dengan kisah Raja Syahrayar dan Syahrazad—putri wazirnya. Di mana dipaparkan bahwa Raja Syahrayar yang memimpin kerajaan di India dan Indocina, memiliki adik yang juga memimpin kerajaan di tanah Samarkand, bernama Syahzaman.

Pada suatu waktu Syahzaman memergoki istrinya berselingkuh dengan sang  juru masak. Hal itu sungguh memukul Syahzaman hingga lebih suka murung. Dalam kemurungannya itu, Syahzaman memutuskan mengunjungi kakaknya. Tapi tetap saja pertemuannya dengan sang kakak, tidak bisa menyembuhkan kesedihan akibat sebuah penghianatan. Dia terus bertanya-tanya, “Kenapa kesialan ini menimpa orang seperti aku! Tak seorang pun pernah melihat apa yang telah kulihat.” (hal 51).

Sampai sebuah kejadian yang dilakukan istri kakaknya, Syahrayar yang kemudian membuat Syahzaman kembali ceria. Dia berkata, “ternyata yang terjadi padaku sungguh lebih kecil jika dibandingkan dengan itu. Aku selama ini mengira bahwa akulah satu-satunya orang yang menderita, tetapi dari apa yang aku lihat, ternyata semua orang menderita. Demi Tuhan kemalanganku lebih ringan dibandingkan kemalangan kakakku.” (hal 53).

Syahrayar pun penasaran ada gerangan apa yang membuat adiknya kembali semringah setelah sekian lama terjebak pada kesedihan. Syahzaman sebenarnya tidak ingin memberitahu, dia tidak tega melihat dampak apa yang akan terjadi pada kakaknya. Hanya saja kakaknya terus memaksa hingga akhirnya perbutan tercela istri dan selir-selirnya dilihat dengan kepalanya sendiri.

Syahrayar marah, lalu sejak itu dia membuat keputusan akan menikah hanya untuk satu malam dan membunuh wanita itu keesokan harinya, agar terhindar dari kelicikan dan kejahatan wanita. Kenyataan ini tentu saja membuat semua ibu-ibu khawatir. Banyak wanita muda di India yang meninggal.

Keadaan itulah yang kemudian membuat Syahrazad ingin menikah dengan raja, agar bisa mengentikan perbuatan keji itu. Dia memiliki strategi yang menarik. Hanya saja berhasil atau tidaknya itu masih menjadi misteri.

Setalah kisah itu, perlahan pembaca akan digiring dengan kisah-kisah lain di setiap malam yang sangat menarik dan selalu mengundang rasa penasaran untuk terus membaca lagi dan lagi.  Seperti kisah Pedagang dan Jin,  lalu kisah Nelayan dan Jin Nabi Sulaiman, Kisah Raja Yunan dan Orang Bijak, Kisah Suami dan Burung Beo, Kisah Raja yang Tersihir dan masih banyak lagi.

Penulis  sangat pandai membangun rasa penasaran pembaca agar tidak berhenti membaca. Kelebihan lainnya adalah terjemahan buku ini juga sangat lugas, enak dibaca. Hanya saja dalam buku ini masih ditemukan beberapa kesalahan tulis. Namun tentu saja itu tidak mengurangi keseruan cerita.

Buku ini sunggah sarat makna. Banyak hal yang bisa dimbil untuk renungan dan muhasabah. Seperti anjuran untuk ikhlas ketika menerima segala cobaan dari Allah.  Selalu berhati-hati dengan segala tindakan yang kita lakukan. Karena karma itu masih berlaku. Selalu ada balasan dari perbuatan kita.

Ada juga nasihat tersirat agar tidak suka menggunjing. “Barang siapa membicarakan apa yang tidak bersangkutan dengan dirinya, akan mendengar apa yang tidak menyenangkan darinya.” (hal 156). Serta larangan agar tidak suka berbohong “Meskipun suatu kebohongan mungkin dapat menyelamatkan nyawa seseorang, kebenaran itu lebih baik dan lebih aman.” (hal282).  Selalu berkata jujur, “Jujurlah, meskipun kejujuran itu akan menyiksamu dengan api neraka.” (hal 290).



Judul: Arabian Nights

Penulis: Husain Haddawy

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Qanita

Tebal: 700 hlm

Cetakan: Pertama, Oktober 2016

ISBN: 978-602-402-046-0

Peresensi: Ratnani Latifah. Alumni Unisnu Jepara.
0

Artikel, Resensi



[Oleh: Khairul Amin]

Ibadah bagi setiap manusia sejatinya merupakan sebuah kebutuhan, bukan hanya sekedar melaksanakan ritual untuk menggugurkan kewajiban. Frasa “butuh” mengacu pada semua nikmat yang telah manusia peroleh dari-Nya.

Manusia tidak akan pernah lepas dari peran Allah. Untuk hidup—bernafas, minum, dan makan—manusia membutuhkan Allah. Tidak ada satu perbuatanpun di dunia ini diluar kekuasaan dan kehendak Allah. Rasa “butuh” kepada Allah menjadi nilai dasar dan utama dalam menopang Iman setiap manusia.

Iman dan akidah yang kuat akan memberi dampak pada kebenaran sejati dalam beribadah, yaitu ibadah yang benar secara ritual maupun spiritual. Pada gilirannya, nilai-nilai ibadah (sebagai media mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kebaikan bagi diri dan orang lain) bisa tercapai secara sempurna. Nilai filosofis dan rangkaian hikmah ibadah dinarasikan secara cermat dalam buku karya Syafaat Selamet ini.

Dengan bahasa lugas dan sederhana, Syafaat mengajak pembaca untuk menyelami makna mendasar dari ibadah, sehingga tidak hanya terjebak pada ranah konsep tual teoritis dan praktis. Buku ini diawali dengan pembahasan bersuci (berwudhu, tayamum, mandi wajib, beristinjak). Bersuci pada bagian tertentu menjadi rangkain dari ibadah, bahkan menjadi salah satu syarat sah rukun ibadah.

Diluar ranah praktis, bersuci memiliki banyak hikmah, seperti berwudhu, bermanfaat agar setiap muslim bersih. Membasuh bagian tubuh yang bersentuhan dengan udara bebas dimaksutkan agar permukaan kulit terpelihara dari debu, sehingga terhindar dari penyakit kulit dan peradangan (hal 13).

Secara psikologis, berwudhu bertujuan untuk membersihkan jiwa, karena berwudhu tidak hanya membersihkan lahir, tapi juga batin dan perilaku manusia. Seperti membersihkan kedua telapak tangan, berarti kita tidak boleh mengotori tangan dengan mengambil barang yang bukan hak kita. Begitu juga dengan membersihkan mulut melalui kumur-kumur, bermakna harus menjaga mulut agar bersih dari makanan yang haram, sekaligus tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan dusta (hal 15).

Bagian selanjutnya, buku ini menyinggung nilai-nilai ibadah, khususnya ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji. Jamak dipahami bahwa gerakan shalat mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Gerakan-gerakan dalam shalat bermanfaat untuk menjaga kesehatan syaraf pada setiap organ atau sel tubuh, misalnya gerakan duduk tasyahud awal dan duduk diantara dua sujud, mengaktifkan kelenjar keringat, menyeimbangkan sistem listrik (saraf) tubuh dan memperbaiki kelenturan saraf keperkasaan yang berada di paha, cekungan lutut, betis, sampai jempol kaki.

Selain manfaat medis, melaksanakan shalat juga mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana yang Allah sampaikan dalam firman-Nya (QS Al-Ankabut [29]: 45). Manfaat ini bisa didalami dari khasiat gerakan sekaligus fungsinya dalam konteks ruang dan waktu secara tepat, ada keterkaitan antara gerakan shalat dengan perilaku yang baik (takwa), sehingga shalat benar-benar berpengaruh pada perilaku sehari-hari.

Jika sudah melaksanakan shalat tapi akhlaknya masih rusak, berarti shalatnya belum benar dan ikhlas. Bahkan bisa jadi termasuk orang yang lalai dalam shalat (hal 37). Begitu juga manfaat dari menunaikan zakat, zakat bertujuan membersihkan harta benda seseorang yang bukan haknya, karena harta benda milik kita sesungguhnya terkandung bagian atau hak orang lain. Maka tidak berlebihan jika orang yang tidak menunaikan zakat secara tidak langsung sama dengan mencuri harta orang lain.

Hikmah dan mafaat ibadah lain (selain shalat dan zakat) juga di narasikan dalam buku setebal 292 ini, ibadah dimaknai tidak hanya terbatas pada ritual wajib-sunnah, namun meliputi seluruh aspek gerak hidup manusia sejak sebelum tidur hinggu tidur kembali dalam putaran waktu 24 jam demi meraih ridha Allah.

Selain meraih ridha-Nya, ibadah juga tidak lepas dari asas manfaat bagi sesama, shalat baru dimaknai sebagai shalat yang benar jika berbekas pada perilaku dan amal sosial serta memberikan perubahan akhlak menjadi lebih baik, ini merupakan rangkain sikap hidup manusia yang menyadari kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Allah (hal 238).



Buku ini menjadi upaya sadar Syafaat mengingatkan pembaca dalam meraih kebenaran sejati beribadah, ibadah tidak hanya dimaknai ranah ritual, namun juga spiritual dan sosial.

Dengan bahasa sederhana dan terkesan tidak menggurui, syafaat mampu menyelaraskan teks dan konteks. Maka sebuah kewajaran, jika buku ini menyimpan etos literasi yang mencerahkan.




Judul Buku: Sudah Benarkan Ibadahmu?

Penulis: Syafaat Selamet

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 292 halaman

ISBN: 978-602-1337-78-3

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.
0

Artikel, Resensi


Food Combining | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Salah satu jalan meraih hidup sehat adalah dengan menerapkan Food Combining (FC), merupakan pola makan yang memperhatikan asupan makanan tidak hanya dari nilai gizi, tapi pada hal yang lebih substansial, yaitu bagaimana tubuh menyikapi dan mengabsorpsi dengan baik kandungan gizi yang ada dalam satu unsur makanan. Tujuan FC sangat sederhana, yaitu membuat tubuh menjadi sehat dengan menjalani hidup yang juga sehat (hal 8).

Pelaku FC tidak melakukan diet kalori karena tubuh sehat tidak mengacu pada timbangan tepat di angka ideal atau kecilnya lingkar pinggang, juga otot perut bertonjolan. Juga tidak mendekte tubuh mengonsumsi sesuatu berlebihan kerena dianggap baik, misal minum susu karena tinggi kalsium, padahal yang didekte belum tentu diterima tubuh dengan baik karena tidak sesuai kebutuhan.

Melakukan FC secara konsisten menjadikan tubuh mendapatkan kesehatan maksimal. Bentuk tubuh ideal sesuai kebutuhan tubuh, dan melambatkan penuaan (hal 12). FC membagi makanan berdasarkan protein, pati, dan sayuran. FC mengenal padu padan cocok atau tidak untuk setiap unsur makanan tersebut.

Seperti pada protein (hewani) dengan sayur, merupakan paduan serasi. Kombinasi antara protein-sayuran dalam jumlah tepat membuat pH netral jaringan tubuh tercapai. Beragam enzim yang hidup dalam sayur segar akan masuk dan segera dimanfaatkan oleh tubuh, menetralisir beratnya protein hewani (hal 15).

Namun, keidealan ini sulit tercapai apabila konsumsi protein 2-3 kali lipat lebih besar daripada konsumsi sayuran segar. Sementara itu, protein (hewani) dengan pati, padu padan yang tidak ideal, bila dikonsumsi dalam jumlah dominan, sistem cerna akan dibuat kerepotan. Enzim cerna yang terpakai akan kesulitan memilah antara protein dan pati yang harus diproses karena sifat enzimnya.

Pati memerlukan enzim amilase sebagai pemecah agar bisa dicerna dan diserap oleh tubuh, sementara protein memerlukan enzim pepsin sebagai pemecah unsur-unsurnya agar mudah tercerna oleh tubuh. Sayangnya, kerja amilase akan berhenti begitu tubuh mengaktifkan enzim pepsin. Itu sebabnya, konsumsi pati-protein merupakan hal yang keliru.

Konsumsi pati dengan sayuran, merupakan paduan serasi, kerena keduanya berbasis karbohidrat, lebih mudah dicerna dan diterima oleh tubuh. Namun, saat pati dikonsumsi jauh lebih banyak daripada sayuran, bisa tercipta lonjakan gula yang berefek tidak baik bagi tubuh. Atau, bila sayuran dikonsumsi dalam keadaan telah diproses panjang, masak suhu tinggi hingga enzimnya mati, akan tidak serasi (hal 17).

Saat padu padan telah terjadi, tubuh akan menerima dan mencerna semua dengan baik dan juga memprosesnya secara maksimal. Itu sebabnya, FC tidak mempermasalahkan berapa jumlah kalori, kandungan gizi, ataun indeks glikemik, dan sebagainya secara detail, karena fokus utamanya adalah fungsi tubuh dan harmonisasinya dengan unsur makanan yang masuk bisa maksimal bekerja sama.

Penerapan FC juga dibarengi dengan pemahaman seni makan sehat, kesegaran makanan terkait nutrisi penting. Hindari makanan yang dipanaskan atas nama higienitas, diberi rasa atas nama selera, diberi warna atas nama tampilan, dikemas atas nama kebutuhan.

Suka tak suka akan kehilangan beragam unsur vital yang dibutuhkan sistem cerna manusia, terutama kebutuhan asupan tepat dan  segar.




Judul Buku: Food Combining Itu Gampang 2

Penulis: Erikar Lebang

Penerbit: Qanita

Tahun Terbit: Cetakan 1, Januari 2017

Jumlah Halaman: 136 halaman

ISBN: 978-602-402-010-1

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.
0

Artikel, Resensi

Ya Allah Dia Bukan Jodohku | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Setiap manusia pasti pernah merasakan susah, senang, duka, lara dan bahagia karena cinta. Dari semua kisah, kisah pilu berpisah dengan orang yang dicintai adalah kisah yang tidak terlupakan. Ada banyak penyebab perpisahan terjadi, karena terhalang restu orangtua, karena orang yang dicintai berpaling dan memilih orang lain, karena ajal menjemput, maupun alasan lain.

Tentu, kita harus menyadari bahwa perpisahan atau kehilangan adalah sebuah keniscayaan, kita pernah merasakan nikmatnya pemberian, maka suatu waktu kita akan mengalami sedihnya perpisahan, bukankah sering kita saksikan begitu banyak orang yang usianya sudah dewasa, puluhan tahun hidup bersama, namun masih berpisah juga. Yang perlu kita persiapkan adalah bagaimana jiwa kita memaknai perpisahan (hal 33).

Agar cinta tidak menjadi luka, kita harus pandai menyerap hikmah dari setiap perpisahan dan cinta. Apakah cinta kita kepada sesama dilandasi cinta kepada Allah? Atau malah sebaliknya?.


Ketika kita sudah menjadikan Allah sebagai Zat yang paling kita cintai, kita agungkan, kita patuhi dibandingkan dengan siapapun, saat itulah kita akan mengarah pada kedamaian dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kerap diantara kita terjerembab pada makna cinta yang salah, hingga melakukan hal diluar nalar yang mengarah pada hal negatif.

Sering digambarkan, melakukan apa pun demi bisa hidup bersama orang yang dicintai adalah suatu keharusan dan dianggap sebagai pembuktian cinta, hingga pada akhirnya banyak orang yang mengambil sikap tak terhormat untuk dapat memiliki orang yang dicintainya. Padahal, kita tau bahwa menikah adalah ibadah yang mulia.

Bagaiman bisa menggapai rumah tangga yang berkah jika jalan menujunya sudah tak baik (hal 28). Bersedih atas kepergian orang yang dicintai adalah hal yang wajar. Bahkan orang sehebat dan semulia Rasulullah merasa sedih ketika orang-orang yang disayanginya diambil Allah (hal 35). Tentu, kesedihan yang tidak berlarut-larut, apalagi sampai mengakibatkan kita berpaling dari Allah.

Menangis menjadi obat penyembuh sedih yang sangat mudah dan ampuh. Menangis mungkin tidak akan menyelesaikan masalah, namun tangisan akan membuat jiwa lebih ringan sehingga otak bisa bekerja mencari pemecahan atas masalah yang kita hadapi. Agar tangisan bernilai mulia, maka menangislah di hadapan Allah.

Tangisan yang bernilai mulia adalah tangisan yang hadir karena takut kepada Allah, bukan karena sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai (hal 84). Cara lain, yang bisa kita lakukan mengusir rasa sedih adalah menuliskan kesedihan dalam catatan harian atau diary, bukan di media sosial.


Ada banyak penyair hebat yang menghasilkan karya luar biasa ketika mereka patah hati. Insa Allah, suatu saat nanti, ketika kita membuka tulisan kita tersebut, kita akan bersyukur dan tersenyum menertawakan perasaan sedih kita saat itu. Karena kita menyadari bahwa skenario Allah telah membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya.

Yakini bahwa perpisahan dengan orang yang kita cintai adalah ujian dari-Nya untuk menguji kadar iman kita, bisa jadi Allah ingin menguji apakah kita lebih cinta pada Allah atau orang yang kita cintai. Allah menguji setiap makhluk untuk meningkatkan kualitas diri kita, semakin tinggi kualitas hamba, semakin berat ujian yang akan diterimanya. Percayalah, bahwa kesulitan selalu diapit dua kemudahan (hal 75).

Berhentilah memaksakan kehendak kita, ketika kita berhenti memaksakan diri untuk memiliki apa yang seharusnya bukan milik kita, Allah akan mempertemukan kita dengan apa yang terbaik untuk kita. Selama kita bersedia dengan ikhlas, membersihkan hati dan pikiran dari prasangka buruk kepada Allah dan mau bersabar menerima keputusan Allah, seluruh perkara yang hadir di depan kita akan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik daripada yang kita perkirakan.

Kita dipisahkan dengan seseorang karena kita dinilai belum pantas dengan orang tersebut, ada kualitas diri kita yang masih jauh dengannya. Maka, teruslah memperbaiki diri dan niatkan itu untuk menggapai ridah-Nya. Insa Allah setelah dinilai pantas, kita akan dipertemukan dengan orang yang memilik kualitas sama dengan kita (hal 76). Atau, bisa jadi Allah sedang meningkatkan kualitas calon pasangan kita, karena dirasa dia masih belum layak bagi kita. Allah masih menunggu kesungguhannya memperbaiki diri.

Kemungkinan lain, ini teguran dari-Nya untuk membuat kita kembali pada jalan yang lurus karena sebelumnya kita termasuk hamba yang lalai karena sibuk dengan banyak hal yang menyita perhatian kita dari ibadah kepada-Nya (63).



Buku karya Ahmad Rifa’i Rif’an ini menjadi pelipur lara bagi setiap orang yang berduka karena tidak bisa bersama orang yang sangat dicintainya, setiap lembar dari buku ini akan mengikis kesedihan dan menumbuhkan rasa bijak dalam memaknai cinta dan mencintai.



Judul Buku: Ya Allah, Dia Bukan Jodohku

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 144 halaman

ISBN: 978-602-418-045-4

Peresensi : Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang
0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS
X