fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Ruang Redaksi

Peserta Workshop Content Writing The Jakarta Post Writing Center bersama writing instructor, Jet Damazo. Foto: Dokumentasi The Jakarta Post Writing Center.


Memangnya bisa serangkaian tulisan memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri? Jawabannya ada di dalam the art of content writing.   Tulisan kini menjadi komoditas utama dalam dunia digital. Konten tulisan dituntut untuk bisa mencakup semua informasi yang dibutuhkan secara singkat, jelas, dan padat, apalagi jika dipublikasikan secara daring.  

Pada 16 April 2018, The Jakarta Post Writing Center mengadakan One-Day Workshop: Content Writing. Kegiatan yang telah diselenggarakan secara rutin oleh Jakarta Post ini berlangsung dari pukul 9 pagi sampai 5 sore dan meliputi 3 agenda: presentasi singkat dan mendalam tentang content writing oleh instruktur asal Filipina, Jet Damazo, diskusi grup, dan tugas individu yang semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris.  

Dibuka bagi umum, peserta yang hadir kebanyakan berasal dari berbagai latar belakang profesi yang tentunya mengharuskan mereka berkutat dengan dunia penulisan dan konten digital. Seperti staf media sosial dari agensi periklanan, web content developer dari perusahaan IT, staf public relation dari firma konsultan, redaksi penerbitan buku, hingga blogger, yang ingin mengembangkan kemampuan dan kepekaan dalam menulis.

Kirim Naskah Ruang Redaksi

twitter.com/jetdsantos

  Dalam materi yang disampaikan Jet Damazo, menulis adalah kegiatan mudah tapi kompleks. Mudah karena yang kita perlukan hanyalah menuliskan apa yang kita pikirkan atau rasakan.  

Kompleks karena dalam menulis banyak hal yang ternyata harus diperhatikan, terutama untuk konten digital, seperti jumlah kata, keywords untuk kebutuhan Search Engine Optimization (SEO), headline yang menarik, tone dan voice yang ditampilkan sesuai dengan audience dan klien yang diwakili, perlunya riset data, pemilihan style dan struktur tulisan yang akan dipakai, sampai keterampilan dalam berbahasa dan persuasi

Lewat content writing, kita dapat menunjukkan identitas diri atau kelompok yang kita wakili dalam tulisan, meningkatkan traffic kunjungan situs. Mendorong pendapatan bagi yang menggunakan Internet sebagai alat usaha, dan tentunya untuk menjaga agar situs selalu up-to-date dan muncul dalam peringkat teratas SEO Google.  

Adapun setiap peserta diminta membuat sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang, dan diberi contoh kasus yang berbeda. Seperti menjadi blogger yang pro Facebook, blogger yang kontra Facebook, agensi yang mendapatkan Facebook sebagai kliennya, dan agensi yang disewa oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memberikan pandangannya terhadap Facebook.

Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya untuk selanjutnya dituangkan dalam tulisan artikel. Sepanjang tiga ratus kata dengan headline yang menarik yang dibuat individu dan langsung diberikan feedback oleh instruktur.

  Dengan segala kebutuhan dan aktivitas yang semakin ingin cepat dan praktis. Menjadi tantangan tersendiri bagi penulis konten untuk mempertahankan engagement pembaca. Sehingga tulisannya bisa dikatakan berkualitas dan dapat memberikan kesan serta pesannya pun tersampaikan.  

Practice makes perfect, bukan sekadar jargon yang ditemui pada setiap bagian bawah buku tulis kosong saat sekolah dulu. Melainkan harus diaplikasikan dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika ingin menjadi penulis konten yang kompeten dan bernilai jual tinggi.  



[Oleh: Aninda Pradita]
0

Artikel, Kolom Editor, Ruang Redaksi

Ruang Redaksi Big Mac

[Oleh: Iwan Yuswandi]


Dimanapun saya terperangkap atau menyeburkan diri dalam sebuah lingkungan, saya tetaplah seorang seniman yang tidak menyukai alat ukur. Mengapa tiba-tiba saya menyebut “alat ukur”, ya memang minggu-minggu ini kami di Pelangi Mizan sebagai proyek percontohan, sedang sosialisasi sistem QPI (Quality and Productivity Improvement).

Kelanjutan dari program besar perusahaan Mizan untuk membuat sebuah sistem kinerja karyawan yang terukur dan akurat. Sistem ini nantinya akan menjadi panduan penilaian setiap karyawan dari level bawah sampai atas. Saat ini pula posisi pekerjaan saya ada dalam ranah yang sulit diukur karena pekerjaan kreatif sangat bersifat kualitatif.

Sementara industri mau tidak mau menuntut kuantitatif. Tapi hari kemarin saya beruntung menemukan buku luar biasa, tergeletak di meja kerja teman saya yang baik hati, Pak Barhen. Kalimat pertama buku itu membuat saya tersengat dan mohon ijin untuk meminjam buku itu ke rumah.

Ini buku yang membuat saya terhipnotis, tak sempat ganti baju dulu, hanya diselingi makan. Pertandingan timnas U-18 dibiarkan begitu saja walaupun sesekali saya melirik skor, dan sampai menit akhir indonesia menang telak 9-0 atas Filipina. Buku yang berjudul Big Magic ditulis oleh Elizabeth Gilbert, terbitan Kaifa.

Buku ini berkisah tentang bagaimana masa lalu Gilbert yang dipenuhi rasa takut sepanjang hidupnya. Rasa takut untuk melakukan sesuatu. Masa lalunya menjadi sangat membosankan menjadi anak yang serba takut. Namun dia beruntung karena orangtuanya bersifat terbalik dari anaknya.

Kedua orangtuanya terutama ibunya selalu meyakinkan Gilbert adalah anak yang berani. Sampai pada satu titik menjelang remaja, ia bisa menaklukan rasa takutnya menjadi sosok penting dalam perburuan kehidupan kreatifnya hingga menjadi seorang penulis terkenal.



Gilbert sangat piawai mengemas pengalaman kreatifnya, baik pengalaman sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang inspiratif. Saya bisa mengecap tiga rasa dalam penyajian buku ini, imajinatif, kreatif, dan spiritual. Misalnya saat ia tidak mempercayai para ahli bahwa kreativitas hanyalah proses berpikir semata. Ia mempercayai bahwa gagasan itu ada diluar diri kita dan memenuhi alam semesta. Ada tapi tidak berwujud. Ini sangat spiritual.

Gagasan akan mendekat pada seseorang yang mau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan juga bisa meninggalkan kita ketika kita mengabaikannya. Ini menurut saya perumpamaan yang imajinatif dan kreatif. Gilbert menguatkan konsep itu dengan menceritakan kisah penulisan novelnya yang terinspirasi dari proyek ambisius pembangunan jalan yang melintasi hutan amazon di Brazil. Tapi proyek novel itu tidak tuntas, segala usaha risetnya tentang Brazil tertunda begitu saja karena masalah pribadinya hingga dua tahun.

Pada episode berikutnya Gilbert kemudian bertemu dengan seseorang, sama-sama sebagai penulis dan kemudian saling mengagumi. Mereka lantas menjadi teman akrab dan sering saling berkirim surat. Di salah satu obrolannya Gilbert bertanya, proyek apa yang sedang dibuat temannya itu. Temannya bilang bahwa dia sedang menulis novel yang berlatar belakang Brazil.

Gilbert penasaran karena dia juga punya proyek novel berlatar belakang sama. Ternyata ceritanya persis sama, tokoh utamanya sama, konflik ceritanya sama dan latar belakangnya sudah pasti sama. Inilah yang disebut BIG MAGIC, keajaiban besar. Gilbert makin percaya bahwa gagasan itu harus dipelihara. Gilbert menceritakan betapa sulitnya dia bangkit untuk meneruskan proyek yang sudah tertunda dua tahun lamanya.

Gagasan itu pergi meninggalkannya, mencari manusia lain yang mau merealisasikannya dengan sungguh-sungguh. Dan gagasan itu lebih mempercayai temannya yang baru ia kenal. Padahal Gilbert tidak pernah menceritakan proyek novel itu. Pesan Gilbert adalah kesungguhan memegang perjanjian kontrak dengan gagasan.

Itulah kehidupan kreatif, tidak ada alat ukur, sebab kreativitas tidak perlu izin apapun kecuali komitmen kita terhadap gagasan itu. Ini bukan mengenai gagasan berkarya seni, tapi sikap mental kita dalam mewujudkan gagasan baru yang menjadi kodrat manusia, yang menjadikan kita pemenang dari seleksi teori evolusi. Tapi menemukan kehidupan kreatif selalu dihantui rasa takut untuk mewujudkannya.

Bagi seniman, salah satu rasa takut itu adalah alat ukur, sebab seniman selalu merencanakan hidupnya seperti perjudian. Gilbert mengingatkan, jadikan rasa takut itu sebagai teman agar kita hati-hati. Biarkan dia mengikuti kemanapun kita pergi untuk mewujudkan gagasan, tapi jangan suruh dia membuat keputusan. Wallahua’lam



Iwan Yuswandi

(Desainer / Konseptor Produk Direct Selling Pelangi Mizan)
0

X