fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Ruang Redaksi

Sebuah ruangan tanpa buku bagaikan sebuah raga tanpa jiwa.”

—Marcus Tullius Cicero


Pojok baca, atau reading nook, adalah sebuah tempat khusus yang digunakan untuk kegiatan membaca. Biasanya di pojok ini ada rak-rak berisi buku, kursi atau bantal, lampu baca, dan benda-benda lainnya yang membuat seseorang merasa nyaman dan betah berlama-lama membaca.

 

Baru-baru ini, dalam Instagram stories-nya, Marie Lu sang penulis buku Warcross dan Batman: Nightwalker berbagi foto pojok baca di rumahnya.


Pojok Baca Marie Lu

Di pojok baca Marie Lu, terlihat dua rak buku mengapit sebuah bangku panjang yang dihiasi berbagai bantal duduk dan plushies (boneka empuk). Bangku tersebut sepertinya multifungsi sebagai tempat penyimpanan juga. Kalau boleh menebak, mungkin di dalamnya berisi timbunan buku yang tidak muat ditaruh di rak.


Di dinding terpampang gambar sebuah kota entah apa, yang sepertinya cocok menjadi latar tempat The Young Elites, salah satu buku karya Marie Lu. Nuansa kelam dari gambar tersebut diimbangi dengan bantal yang berwarna-warni. Secara keseluruhan, pojok baca ini membuat orang kagum dan ingin merasakan sendiri nyamannya duduk dan membaca di sana.


Kalau kamu ingin membuat pojok baca sendiri di rumah, beberapa pojok baca berikut ini mungkin dapat memberimu inspirasi untuk berkreasi.


  1. Pojok Baca di Bawah Tangga


    Inspirasi Pojok Baca - Buku Marie Lu


    Jika rumahmu bertingkat dan ruangan di bawah tangga masih kosong, bisa diberdayakan sebagai pojok baca. Jangan lupa tambahkan lampu atau lilin-lilin dalam wadah kaca untuk membantu penerangan, terutama jika ruangan di bawah tangga tersebut tidak berada dekat dengan jendela yang menghadap ke luar.

    Penggunaan warna putih pada cat tembok dan rak buku, serta pada kursi dan bantal, akan membuat pojok baca di bawah tangga ini terkesan bersih dan modern, tidak terkesan suram dan menakutkan. Atau kalau kamu suka dengan nuansa yang lebih hangat, kamu bisa memilih perpaduan warna coklat, krem, atau merah.


  2. Pojok Baca di Samping Jendela


    Inspirasi Pojok Baca Samping Jendela - Buku Marie Lu


    Kalau di rumahmu ada jendela besar, apalagi yang di luarnya ada halaman atau pemandangan indah, kamu cukup menaruh kursi atau sofa favoritmu di sampingnya untuk membuat pojok baca. Untuk membuatmu lebih nyaman, tambahkan kursi kecil berbantal untuk menopang kaki.

    Tambahkan lampu jika dianggap perlu saja, karena pada siang hari, kamu akan mendapat penerangan alami dari sinar matahari sebagai teman membaca.

    Pojok Baca Samping Jendela

    Jika kamu suka membaca sambil minum teh, kopi, atau coklat panas, jangan lupa sediakan meja kecil di samping kursi membacamu. Tapi hati-hati, jangan menumpuk buku di atas meja dan menjadikannya sebagai alas cangkirmu… kalau tak sengaja tersenggol, bisa basah dan rusak bukunya.

    Sebagai pengganti meja kecil, kamu bisa juga menyediakan kabinet atau laci kecil. Cangkir minuman disimpan di bagian atas kabinet, sementara buku-buku bisa dimasukkan ke dalam laci di bagian bawah.


  3. Pojok Baca di Luar Ruangan


    Inspirasi Pojok Baca di Rumah - Buku Marie Lu

    Apa kamu pencinta alam yang suka membaca di bawah sejuknya pohon rindang atau dikelilingi tanaman? Kamu bisa membuat pojok baca di kebun atau halaman rumah. Tidak perlu menyediakan rak buku, untuk mencegah buku-buku cepat rusak akibat terpapar sinar matahari dan udara luar.


    Inspirasi-Pojok-Baca-Buku-Marie-Lu

    Khawatir digigit nyamuk atau serangga? Kamu bisa menyelubungkan kelambu ke pojok bacamu. Jangan lupa pula mengenakan losion anti-nyamuk, atau kamu bisa menyimpan kulit jeruk atau sereh yang sudah terbukti aromanya dapat mengusir nyamuk.


    Inspirasi-pojok-baca

    Jika kamu tidak memiliki kebun atau halaman, pojok baca bisa dibuat di balkon. Tambahkan banyak tanaman hijau, sehingga ketika matamu lelah melihat tulisan di buku yang kamu baca, kamu bisa memandang tanaman-tanaman hijau itu agar kembali merasa segar.


  4. Pojok Baca Sang Penulis

    Pojok-Baca-Marie-Lu

    Penulis yang baik adalah pembaca yang baik, jadi tidak heran jika rumah seorang penulis memiliki pojok baca dan perpustakaan sarat buku. Idealnya, pojok baca seorang penulis punya area terpisah untuk membaca dan menulis. Ini untuk memisahkan antara kegiatan bekerja dan kegiatan santai.

     

    Rak buku seorang penulis tidak hanya berisi buku-buku yang dibaca untuk hiburan, melainkan juga buku-buku referensi, seperti kamus atau ensiklopedia.


  5. Pojok Baca Anak-Anak

    Inspirasi Pojok Buku Baca Anak

    Kebiasaan membaca memiliki banyak sekali manfaat. Beberapa di antaranya, seperti dilansir dari kompas.com, adalah untuk menstimulasi mental, mengurangi stres, memperbanyak kosakata, memperbaiki memori, melatih kemampuan berpikir, meningkatkan konsentrasi, dan melatih keterampilan menulis. Oleh karena itu, amat penting untuk menanamkan kecintaan akan baca buku sejak dini.

     

    Kamu punya anak, adik, atau adik sepupu yang masih kecil? Ajaklah dia untuk membuat pojok baca. Pojok baca untuk anak-anak harus dibuat semenarik mungkin, dengan pilihan warna kursi dan bantal yang cerah ceria.

     

    Rak bukunya tidak perlu terlalu banyak dan padat isi. Karena buku-buku anak biasanya tipis dan sarat ilustrasi berwarna, kamu bisa susun buku-bukunya menghadap ke depan agar desain sampulnya terlihat dan menarik minat anak untuk membacanya. Perlu diingat juga untuk tidak terlalu tinggi memasang raknya, agar buku-bukunya mudah dijangkau anak-anak.

     

    Sebagai pemanis pojok baca anak, kamu bisa menghias dindingnya dengan stiker atau gambar hasil karya sang anak, dan menyelipkan beberapa mainan di antara buku-buku di rak.

    Pojok Baca

    Untuk alternatif, kursi atau sofa bisa diganti dengan karpet tebal dan tenda. Ini pilihan yang bagus jika pojok baca anak berada di luar kamarnya, karena anak-anak pun butuh ruang privasi sendiri, yang bisa mereka dapatkan dari ruang tertutup di dalam tenda.

     

    Ketika membaca di dalam tenda pada malam hari, anak-anak bisa menggunakan senter, sehingga memberi kesan berkemping yang mengasyikkan. Atau, gantungkan fairy lights di bagian dalam tenda, sehingga memberi kesan magis.


    Inspirasi Pojok Baca

    Untuk anak-anak yang aktif, penggunaan kursi atau sofa di pojok baca dapat diganti dengan kursi gantung atau hammock. Kursi gantung ini dapat berfungsi juga sebagai ayunan, sehingga anak-anak tidak bosan duduk diam dalam waktu lama.

     

    Bagaimana, apakah kamu jadi tergugah untuk membuat pojok baca di kamar atau di rumahmu? Seperti apa pun gaya pojok baca yang kamu pilih, pastikan kamu melengkapinya dengan perabot dan buku-buku yang kamu suka, sehingga pojok tersebut bisa menjadi suaka yang menyenangkan untuk didatangi setelah kamu lelah beraktifitas seharian.





[Oleh: Dyah Agustine]



Baca juga: 7 Blog Penulis Keren yang Bisa Dikunjungi Saat Butuh Inspirasi

 

Baca juga: 7 Fakta Marie Lu, Rising Star di Genre Fantasi

0

Artikel, Ruang Redaksi

Peserta Workshop Content Writing The Jakarta Post Writing Center bersama writing instructor, Jet Damazo. Foto: Dokumentasi The Jakarta Post Writing Center.


Memangnya bisa serangkaian tulisan memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri? Jawabannya ada di dalam the art of content writing.   Tulisan kini menjadi komoditas utama dalam dunia digital. Konten tulisan dituntut untuk bisa mencakup semua informasi yang dibutuhkan secara singkat, jelas, dan padat, apalagi jika dipublikasikan secara daring.  

Pada 16 April 2018, The Jakarta Post Writing Center mengadakan One-Day Workshop: Content Writing. Kegiatan yang telah diselenggarakan secara rutin oleh Jakarta Post ini berlangsung dari pukul 9 pagi sampai 5 sore dan meliputi 3 agenda: presentasi singkat dan mendalam tentang content writing oleh instruktur asal Filipina, Jet Damazo, diskusi grup, dan tugas individu yang semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris.  

Dibuka bagi umum, peserta yang hadir kebanyakan berasal dari berbagai latar belakang profesi yang tentunya mengharuskan mereka berkutat dengan dunia penulisan dan konten digital. Seperti staf media sosial dari agensi periklanan, web content developer dari perusahaan IT, staf public relation dari firma konsultan, redaksi penerbitan buku, hingga blogger, yang ingin mengembangkan kemampuan dan kepekaan dalam menulis.

Kirim Naskah Ruang Redaksi

twitter.com/jetdsantos

  Dalam materi yang disampaikan Jet Damazo, menulis adalah kegiatan mudah tapi kompleks. Mudah karena yang kita perlukan hanyalah menuliskan apa yang kita pikirkan atau rasakan.  

Kompleks karena dalam menulis banyak hal yang ternyata harus diperhatikan, terutama untuk konten digital, seperti jumlah kata, keywords untuk kebutuhan Search Engine Optimization (SEO), headline yang menarik, tone dan voice yang ditampilkan sesuai dengan audience dan klien yang diwakili, perlunya riset data, pemilihan style dan struktur tulisan yang akan dipakai, sampai keterampilan dalam berbahasa dan persuasi

Lewat content writing, kita dapat menunjukkan identitas diri atau kelompok yang kita wakili dalam tulisan, meningkatkan traffic kunjungan situs. Mendorong pendapatan bagi yang menggunakan Internet sebagai alat usaha, dan tentunya untuk menjaga agar situs selalu up-to-date dan muncul dalam peringkat teratas SEO Google.  

Adapun setiap peserta diminta membuat sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang, dan diberi contoh kasus yang berbeda. Seperti menjadi blogger yang pro Facebook, blogger yang kontra Facebook, agensi yang mendapatkan Facebook sebagai kliennya, dan agensi yang disewa oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memberikan pandangannya terhadap Facebook.

Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya untuk selanjutnya dituangkan dalam tulisan artikel. Sepanjang tiga ratus kata dengan headline yang menarik yang dibuat individu dan langsung diberikan feedback oleh instruktur.

  Dengan segala kebutuhan dan aktivitas yang semakin ingin cepat dan praktis. Menjadi tantangan tersendiri bagi penulis konten untuk mempertahankan engagement pembaca. Sehingga tulisannya bisa dikatakan berkualitas dan dapat memberikan kesan serta pesannya pun tersampaikan.  

Practice makes perfect, bukan sekadar jargon yang ditemui pada setiap bagian bawah buku tulis kosong saat sekolah dulu. Melainkan harus diaplikasikan dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika ingin menjadi penulis konten yang kompeten dan bernilai jual tinggi.  



[Oleh: Aninda Pradita]
0

Artikel, Kolom Editor, Ruang Redaksi

Ruang Redaksi Big Mac

[Oleh: Iwan Yuswandi]


Dimanapun saya terperangkap atau menyeburkan diri dalam sebuah lingkungan, saya tetaplah seorang seniman yang tidak menyukai alat ukur. Mengapa tiba-tiba saya menyebut “alat ukur”, ya memang minggu-minggu ini kami di Pelangi Mizan sebagai proyek percontohan, sedang sosialisasi sistem QPI (Quality and Productivity Improvement).

Kelanjutan dari program besar perusahaan Mizan untuk membuat sebuah sistem kinerja karyawan yang terukur dan akurat. Sistem ini nantinya akan menjadi panduan penilaian setiap karyawan dari level bawah sampai atas. Saat ini pula posisi pekerjaan saya ada dalam ranah yang sulit diukur karena pekerjaan kreatif sangat bersifat kualitatif.

Sementara industri mau tidak mau menuntut kuantitatif. Tapi hari kemarin saya beruntung menemukan buku luar biasa, tergeletak di meja kerja teman saya yang baik hati, Pak Barhen. Kalimat pertama buku itu membuat saya tersengat dan mohon ijin untuk meminjam buku itu ke rumah.

Ini buku yang membuat saya terhipnotis, tak sempat ganti baju dulu, hanya diselingi makan. Pertandingan timnas U-18 dibiarkan begitu saja walaupun sesekali saya melirik skor, dan sampai menit akhir indonesia menang telak 9-0 atas Filipina. Buku yang berjudul Big Magic ditulis oleh Elizabeth Gilbert, terbitan Kaifa.

Buku ini berkisah tentang bagaimana masa lalu Gilbert yang dipenuhi rasa takut sepanjang hidupnya. Rasa takut untuk melakukan sesuatu. Masa lalunya menjadi sangat membosankan menjadi anak yang serba takut. Namun dia beruntung karena orangtuanya bersifat terbalik dari anaknya.

Kedua orangtuanya terutama ibunya selalu meyakinkan Gilbert adalah anak yang berani. Sampai pada satu titik menjelang remaja, ia bisa menaklukan rasa takutnya menjadi sosok penting dalam perburuan kehidupan kreatifnya hingga menjadi seorang penulis terkenal.




Gilbert sangat piawai mengemas pengalaman kreatifnya, baik pengalaman sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang inspiratif. Saya bisa mengecap tiga rasa dalam penyajian buku ini, imajinatif, kreatif, dan spiritual. Misalnya saat ia tidak mempercayai para ahli bahwa kreativitas hanyalah proses berpikir semata. Ia mempercayai bahwa gagasan itu ada diluar diri kita dan memenuhi alam semesta. Ada tapi tidak berwujud. Ini sangat spiritual.

Gagasan akan mendekat pada seseorang yang mau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan juga bisa meninggalkan kita ketika kita mengabaikannya. Ini menurut saya perumpamaan yang imajinatif dan kreatif. Gilbert menguatkan konsep itu dengan menceritakan kisah penulisan novelnya yang terinspirasi dari proyek ambisius pembangunan jalan yang melintasi hutan amazon di Brazil. Tapi proyek novel itu tidak tuntas, segala usaha risetnya tentang Brazil tertunda begitu saja karena masalah pribadinya hingga dua tahun.

Pada episode berikutnya Gilbert kemudian bertemu dengan seseorang, sama-sama sebagai penulis dan kemudian saling mengagumi. Mereka lantas menjadi teman akrab dan sering saling berkirim surat. Di salah satu obrolannya Gilbert bertanya, proyek apa yang sedang dibuat temannya itu. Temannya bilang bahwa dia sedang menulis novel yang berlatar belakang Brazil.

Gilbert penasaran karena dia juga punya proyek novel berlatar belakang sama. Ternyata ceritanya persis sama, tokoh utamanya sama, konflik ceritanya sama dan latar belakangnya sudah pasti sama. Inilah yang disebut BIG MAGIC, keajaiban besar. Gilbert makin percaya bahwa gagasan itu harus dipelihara. Gilbert menceritakan betapa sulitnya dia bangkit untuk meneruskan proyek yang sudah tertunda dua tahun lamanya.

Gagasan itu pergi meninggalkannya, mencari manusia lain yang mau merealisasikannya dengan sungguh-sungguh. Dan gagasan itu lebih mempercayai temannya yang baru ia kenal. Padahal Gilbert tidak pernah menceritakan proyek novel itu. Pesan Gilbert adalah kesungguhan memegang perjanjian kontrak dengan gagasan.

Itulah kehidupan kreatif, tidak ada alat ukur, sebab kreativitas tidak perlu izin apapun kecuali komitmen kita terhadap gagasan itu. Ini bukan mengenai gagasan berkarya seni, tapi sikap mental kita dalam mewujudkan gagasan baru yang menjadi kodrat manusia, yang menjadikan kita pemenang dari seleksi teori evolusi. Tapi menemukan kehidupan kreatif selalu dihantui rasa takut untuk mewujudkannya.

Bagi seniman, salah satu rasa takut itu adalah alat ukur, sebab seniman selalu merencanakan hidupnya seperti perjudian. Gilbert mengingatkan, jadikan rasa takut itu sebagai teman agar kita hati-hati. Biarkan dia mengikuti kemanapun kita pergi untuk mewujudkan gagasan, tapi jangan suruh dia membuat keputusan. Wallahua’lam



Iwan Yuswandi

(Desainer / Konseptor Produk Direct Selling Pelangi Mizan)
0

X