Anak, Artikel

[DAR Anak] Menengok Suriah, Kota Indah Yang Terkikis Peperangan

 

Pasar Terbesar di Damaskus, Al-hamidiyah Souq | Foto James L. Stanfield, Staf Kreatif National Geography

Pasar Terbesar di Damaskus, Al-Hamidiyah Souq | Foto: James L. Stanfield, Staf Kreatif National Geographic



Suriah atau Republik Arab Suriah adalah sebuah negara di Timur Tengah yang berada tepat di tengah-tengah Turki, Irak, Yordania, dan Lebanon. Negara dengan kota Damaskus sebagai ibukota ini memiliki banyak warisan sejarah yang indah.

Negara ini memiliki ribuan situs bersejarah yang terdaftar dan dilindungi UNESCO. Namun, keindahan Suriah kuno ini perlahan hancur dan nyaris hilang. Ada apa ya?



Akibat Perang


Sudah 6 tahun penduduk Suriah harus menyaksikan banyak situs bersejarah di negaranya mengalami kerusakan dan hancur akibat bom dan perampokan selama peperangan.

Kekacauan ini telah merusak peninggalan kuno dari bangsa Roma yaitu Palmyra, sebuah perkampungan orang-orang Yunani dimana terdapat gereja tertua dan kerajaan Mari yang telah berdiri sejak zaman perunggu. Tercatat sebanyak 6 situs di Palmyra mengalami kerusakan akibat perang.

Kondisi Suriah semasa perang terjadi | Foto via sf.co.ua

Kondisi Suriah semasa perang terjadi | Foto via sf.co.ua



Kota Damaskus sebagai ibukota lebih beruntung karena dilindungi dan dikendalikan langsung oleh pihak pemerintah. Kota yang dianggap sebagai kota tertua yang dihuni oleh manusia ini memiliki kehidupan yang normal dimana kebanyakan penduduknya memiliki usaha tekstil. Sayangnya, Aleppo tidak seberuntung Damaskus.

Pada tahun 2014, UNESCO mengadakan pertemuan di Paris untuk membicarakan nasib kota Aleppo yang mengalami rusak parah. Dimana kota ini merupakan “jalan sutra” atau jalur utama perdagangan yang menopang ekonomi negara. Alkisah, Nabi Ibrahim juga pernah melintasi kota ini ketika menuju Yerusalem.

Mengutip persetujuan yang dibuat di Hague pada tahun 1950, pemimpin UNESCO mengatakan bahwa telah ditetapkan aturan untuk melindungi situs peninggalan sejarah meskipun dalam keadaan peperangan.

Direktur UNESCO juga meminta kepada kedua belah pihak yang berkonflik untuk tidak menggunakan situs sejarah sebagai alat perang seperti benteng Aleppo yang telah ada sejak abad ketiga. Selama 6 tahun ini, perang sipil telah merusak sebanyak 4 situs bersejarah yang dilindungi UNESCO.

Sampai saat pemerintah melakukan serangan di akhir tahun 2016 lalu, Aleppo merupakan medan perang dimana pihak pemberontak maupun pihak pemerintah meluncurkan serangan-serangan yang pada akhirnya merusak sebagian besar kota Aleppo. Termasuk benteng Aleppo yang ikonik tersebut. Menyisakan hanya 10 persen bagian kota Aleppo yang masih berfungsi.



Upaya pemulihan

Keadaan Suriah sebelum perang | Foto: Annie Griffits, Staf kreatif National Geographic

Keadaan Suriah sebelum perang | Foto: Annie Griffits, Staf kreatif National Geographic



Banyak konservasionis yang mengupayakan pemulihan situs peninggalan sejarah ini. Diantaranya adalah sebuah perusahaan dari Perancis di bidang survei digital yang bekerja sama dengan arkeolog Suriah untuk membuat sebuah peta 3 dimensi.

Peta ini akan meminta para turis atau pengunjung yang pernah mengunjungi situs sejarah ini dan memiliki foto untuk memberikan data yang bisa digunakan untuk membantu pemulihan cagar tersebut. Sebuah lembaga akademik di Inggris juga membantu melihat pantauan dari satelit tentang kondisi kerusakan yang terjadi di sana.

Menurut UNESCO dan Bank Dunia, akan dibutuhkan waktu selama 15 sampai 20 tahun untuk membenahi Suriah seperti semula. Terlepas dari kehancuran ini, kita lihat beberapa foto yang menggambarkan keindahan Suriah dan penduduknya sebelum terjadi kekacauan ini.


Foto benteng Aleppo pada tahun 1990-an | Foto: Annie Griffits, Staf kreatif National Geographic

Foto benteng Aleppo pada tahun 1990-an | Foto: Annie Griffits, Staf kreatif National Geographic

 

Rumah yang dibangun dengan batu bata dan lumpur di Tell Mardikh. Telah ada sejak 5000 tahun yang lalu. Sekarang mengalami kerusakan akibat perang.

Rumah yang dibangun dengan batu bata dan lumpur di Tell Mardikh. Telah ada sejak 5000 tahun yang lalu. Sekarang mengalami kerusakan akibat perang.

 

Jamaah sedang sholat di masjid Umayyad, Damaskus. | Foto: Frank dan Helen Shreider, Staf kreatif National Geographic

Jamaah sedang sholat di masjid Umayyad, Damaskus. | Foto: Frank dan Helen Shreider, Staf kreatif National Geographic

 

Para penari melakukan pertunjukan di Damaskus pada tahun 1960. | Foto: Frank dan Helen Shreider, Staf kreatif National Geographic

Para penari melakukan pertunjukan di Damaskus pada tahun 1960. | Foto: Frank dan Helen Shreider, Staf kreatif National Geographic

 

masjid Umayyad di Damaskus, salah satu situs bersejarah favorit di Suriah. | Foto: Jules G. Courtellemont, Staf Kreatif National Geographic

Masjid Umayyad di Damaskus, salah satu situs bersejarah favorit di Suriah. | Foto: Jules G. Courtellemont, Staf Kreatif National Geographic



Kekejaman perang di Suriah bukan saja menghancurkan tempat-tempat bersejarah dan segala keindahannya. Bahkan ada hal yang lebih penting dari itu: Masa depan para penerus. Sekolah rusak, banyak anak-anak menjadi yatim piatu, rumah-rumah mereka pun rusak akibat perang.


Akankah ada masa depan yang cerah untuk disambut di tengah-tengah konflik tak berujung ini? Kira-kira, apa yang Sahabat bisa lakukan untuk menolong sahabat kita di Suriah? Beritahu Kak Admin, yuk!

Sumber dan foto diambil dari: National Geographic

Author


Avatar