Artikel

Desperate Journeys – Kisah Inspiratif Para Pengungsi


desperates-journeys


Khaled Hosseini, penulis novel best-seller The Kite Runner sekaligus duta UNHCR, beberapa waktu lalu mengunjungi Lebanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Seperti dilansir oleh republika.co.id, sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah saat ini masih berada di wilayah Lebanon. Khaled juga menyempatkan diri untuk mengunjungi kota Sisilia dan berbincang dengan beberapa pengungsi yang telah berhasil melewati perjalanan laut menuju kota tersebut.



Artikel ini merupakan rangkuman beberapa penggalan kisah para pengungsi dari video Khaled Hosseini, Desperate Journeys. Kisah-kisah menyentuh sekaligus inspiratif –kisah tentang harapan akan hari esok yang lebih baik.


Seandainya Aku Tahu, Aku Tak Akan Membiarkanmu Pergi…



khaled-hosseini

Bissan sedang mengandung putranya, Nouradin, yang sekarang telah berusia dua setengah tahun, ketika suami dan anak laki-lakinya pergi ke Turki dengan cara menyebrangi laut. Dua tahun setelah suami dan anak sulungnya pergi terasa seperti mimpi buruk. Bissan sangat merindukan mereka berdua. Saat ini Bissan hanya bisa pasrah menunggu kepastian akankah dirinya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.

Bissan menceritakan bahwa suami dan anak sulungnya harus menaiki perahu karet untuk menyebrangi lautan. Bissan merinding setiap kali membayangkan kembali kejadian tersebut. Perjalanan yang harus ditempuh suami dan anak sulungnya tidak sebentar, sekitar 4 jam di tengah laut.


“People take these journeys across the sea because of fear of violence, fear of persecution, and because they have no future.” –Khaled Hosseini, author of Sea Prayer.


Apabila diberi kesempatan lagi, akankah Bissan mengambil keputusan yang sama dan menyetujui kepergian suaminya? Bissan dengan tegas menjawab tidak. Seandainya Bissan tahu bagaimana keadaan yang dia hadapi saat ini, dia akan melarang suami dan anak sulungnya pergi. Bissan akan memeluk kedua orang terkasih tersebut dan tidak akan melepaskan mereka sedetik pun.


“If I knew then what I know now, I would refuse to let them go. I would put my arms around them and I would make them prisoners of my embrace and I would not let them go even for a minute.” –Bissan, a refugee.


Apakah Aku Masih Hidup?



khaled-hosseini-penulis-buku-sea-prayer

Seorang pengungsi Eritrea, Abdelfetah, menceritakan bahwa para penyelundup menawari para pengungsi untuk menggunakan perahu karet dan pergi menuju Eropa melewati lautan. Tetapi para penyelundup itu tidak pernah memberitahu tentang perahu karet pertama yang berangkat –perahu yang tenggelam dengan sekitar 400 penumpang. Dua orang teman Abdelfetah ada dalam perahu yang tenggelam tersebut.


Perjalanan menggunakan perahu dari Libya ke Italia itu diabadaikan dalam sebuah buku bertajuk Le Cicogne Nere. Abdelfatah naik bersama 200 orang lainnya dan mereka bekerjasama agar perahu tidak sampai terbalik. Dia mengenang bahwa perjalanan yang dilakukan di malam hari tersebut berlangsung dalam keadaan begitu gelap, sampai-sampai jika dia menutup mata dan membukanya kembali-tidak ada perbedaan. Abdelfetah sempat berpikir dalam hatinya ‘Apakah aku masih hidup?’. Para penumpang perahu saat itu berusaha untuk saling berbicara dan berdoa sehingga suasana tidak begitu hening -hanya untuk menunjukkan bahwa mereka masih ‘ada di dunia’.


Kesempatan Kedua



gambar-desperates-jpurneys

Ibrahim, 18 tahun, merupakan pengungsi asal Liberia yang ditembak ketika berusaha melarikan diri dari pasukan militan Libya namun memaksakan diri untuk naik perahu dan pergi menuju Eropa. Keadaan Ibrahim saat itu sangat lemah sehingga dia tertidur di atas perahu. Ketika Ibrahim terbangun, perahu sudah mencapai Laut Tunisia. Mendengar kabar tersebut Ibrahim merasakan adanya harapan karena meskipun tentara Tunisia menangkapnya, hidupnya tetap akan terselamatkan.


Begitu sampai di Italia, selain lemah secara fisik, Ibrahim juga mengalami kebingungan serta depresi. Namun, dia langsung memikirkan masa depan, pelajaran apa yang akan dia dapat, dan bagaimana cara agar dia bisa hidup normal dan bahagia seperti orang lain.


Ibrahim bertekad bahwa satu-satunya jalan agar dia mendapatkan kehidupan normalnya kembali adalah dengan menjadi orang yang berpendidikan. Ibrahim yakin dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya asal mau belajar dengan tekun. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan dalam 6 bulan sudah mampu menguasai bahasa Italia. Khaled takjub dengan banyaknya pengalaman yang telah dilalui Ibrahim di usia belia. Ibrahim merupakan contoh luar biasa, seorang pengungsi dengan ketahanan, kecerdasan intelegensi dan emosi serta tekad kuat untuk menata kehidupannya kembali.


Monumen di Catania



cuplikan-video-desperate-journeys

…many of these people that tried these journeys and did not make it, what happens to them, what happens to their memory, who thinks of them? –Khaled Hosseini, author of Sea Prayer.


Sebuah monumen di Catania, Sisilia, didirikan untuk mengenang para pengungsi yang kehilangan nyawa ketika mencoba menyebrangi lautan menuju Eropa. Terdapat 17 makam para pengungsi yang tidak diketahui identitasnya -yang tewas karena tenggelam dan dimakamkan pada bulan April 2015. Pada setiap plakat terdapat puisi karya Wole Soyinka, seorang penyair dan novelis berkulit hitam pertama yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1986. Monumen ini, menurut Khaled, merupakan pengingat agar umat manusia tidak melupakan perjalanan penuh keputusasaan yang diambil ribuan orang demi menghindari kekerasan, perang dan kemiskinan.


Siamo approdati alla baia dei sogni… We have arrived at the bay of dreams. –Poem by Wole Soyinka

 

Kunjungan yang dilakukan Khaled untuk menemui para pengungsi mengingatkannya pada proses penulisan buku Sea Prayer. Bayangan-bayangan yang muncul di kepala Khaled ketika menulis, terlihat ketika dia mengunjungi tempat tinggal para pengungsi. Khaled juga mengatakan bahwa kata-kata yang terngiang di telinganya ketika menulis Sea Prayer,  dia dengar keluar dari cerita-cerita para pengungsi. Kisah Sea Prayer terasa hidup di antara para pengungsi yang dia temui di Lebanon dan Sisilia.


“I have heard it said we are the uninvited. We are the unwelcome. We should take our misfortune elsewhere. But I hear your mother’s voice, over the tide. and she whispers in my ear, “Oh, but if they saw, my darling. Even half of what you have. If only they saw. They would say kinder things, surely.” –Sea Prayer by Khaled Hosseini.


Sea Prayer merupakan karya persembahan Khaled Hosseini sebagai penghormatan untuk para pengungsi–terutama mereka yang mempertaruhkan hidup dan menyebrangi lautan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kisah dibalik Sea Prayer juga terinspirasi oleh salah seorang anak bernama Alan Kurdi, pengungsi yang tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa.



[Oleh: Fauziah Hafidha]


Baca juga: 7 Negara yang Menerima Arus Pengungsi

Baca juga: Mengenang Kisah Alan Kurdi, Bocah Suriah yang Tewas Tenggelam

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

 








 

 

 

 

Author


Avatar