Artikel

Di Balik Kisah Wonder Woman dan Batman Muda

Wawancara penulis Leigh Bardugo dan Marie Lu

Dalam rangka memperluas audiens, karakter para superhero, dan kisah mereka, DC Comics berinisiatif untuk merambah dunia Young Adult (YA) dengan merilis serial novel DC Icons. Mereka menggandeng beberapa penulis YA papan atas untuk menciptakan kisah-kisah baru tentang masa muda para superhero DC.

Novel pertama dalam serial DC Icons adalah tentang Diana sang Wonder Woman. Bertajuk Wonder Woman: Warbringer, novel garapan Leigh Bardugo ini mengisahkan Diana muda yang tinggal di Pulau Themyscira bersama Kaum Amazon. Kemampuan Diana belum teruji dalam perang, sehingga dia sering dipandang sebelah mata oleh beberapa Amazon.

Untuk membuktikan diri, Diana pergi ke dunia manusia untuk menghentikan kebangkitan seorang warbringer atau pencetus perang yang diramalkan akan memporakporandakan dunia. Diana yang sebelumnya tak pernah meninggalkan Pulau Themyscira, terbengong-bengong di tengah hiruk pikuk Kota New York. Rasanya lucu jika dibayangkan.


Leigh Bardugo
Tentu saja, Wonder Woman: Warbringer juga sarat aksi menegangkan. Diana dan Alia sang warbringer harus berhadapan dengan para pembunuh bayaran, tentara militer, hingga Dewa Dewi keji yang ingin menyaksikan pertumpahan darah di kalangan umat manusia.

Leigh dengan lihai menjalin kisah Diana, dan juga memasukkan unsur-unsur mitologi Yunani ke dalamnya. Bagaimana cara Leigh menyajikan pesona seorang Wonder Woman ke dalam bentuk novel? Mari simak wawancara berikut ini.


Apa yang membuatmu tertarik terhadap gagasan menulis Wonder Woman dalam format novel, bukannya komik?

Bukan masalah menarik atau tidak. Random House menghubungiku dan mengajukan proposal serial novel YA tentang tokoh-tokoh superhero ini, dan peluang untuk menulis kisah Diana yang berusia 17 tahun sangat sayang untuk dilepaskan.

Aku terbiasa membangun dunia dan karakter dalam bentuk prosa, tapi aku banyak membaca komik, dan aku senang jika Warbringer diadaptasi ke dalam format komik.

Wonder Woman: Warbringer mengangkat mitologi Yunani, dengan tokoh Alia yang disebutkan sebagai keturunan Helen of Troy. Dari mana inspirasinya datang?

Kisah tentang Helen sesungguhnya jauh lebih luas daripada yang selama ini kita tahu. Dia punya kehidupan sebelum dan sesudah menjadi Helen of Troy. Aku menemukan informasi tentang sekte yang dibentuk untuk memuja dia di Sparta Kuno, dan salah satu versi kisah kelahirannya menyebutkan bahwa ibu Helen bukanlah Leda, melainkan Nemesis, Dewi Pembalasan.

Jadi bagaimana jika kekuatan Helen tidak ada hubungannya dengan kecantikan, melainkan kemampuan untuk memancing konflik—suatu kekuatan yang tidak dapat dia kendalikan, kekuatan yang dia wariskan kepada para keturunannya? Aku melakukan riset lebih dalam dan mulai menulis.


Leigh Bardugo

Novel ini juga mengangkat tema pencarian jati diri; Diana berusaha membuktikan dirinya sebagai salah satu Kaum Amazon, dan Alia melarikan diri dari identitasnya sebagai warbringer. Bagaimana menurutmu tentang ini?

Diana dibesarkan dengan nilai-nilai spesifik mengenai heroisme dan kekuatan. Nilai-nilai ini dikonfrontasi oleh persahabatannya dengan Alia, yang menunjukkan kekuatan dan keberanian dalam cara berbeda. Alia dibesarkan untuk selalu waspada terhadap dunia, namun dalam diri Diana dia menemukan cara hidup yang tak kenal takut.

Keduanya harus menentukan ingin jadi seperti apa mereka—terlepas dari nilai-nilai yang selama ini mereka anut. Aku ingin kisahnya fokus pada persahabatan mereka.

Tema keluarga juga menjadi tema penting dalam kisah ini; hubungan Diana dengan ibunya dan Kaum Amazon, serta hubungan Alia dengan kakak lelakinya. Mengapa tema keluarga menjadi sangat penting, terutama bagi tokoh Wonder Woman?

Kisah Diana selalu mengedepankan kekuatan dan nilai-nilai Kaum Amazon, juga keinginan Diana untuk meninggalkan mereka dan pergi ke dunia manusia. Kita semua mengalami ini ketika beranjak dewasa; terkadang kita harus menolak asal muasal kita, terkadang kita harus merengkuhnya.

Namun kita belum benar-benar memahami jati diri kita dan makna keluarga bagi kita, sebelum kita menjauhkan diri dari mereka.

Wonder Woman: Warbringer adalah novel DC Icons yang pertama dirilis. Apa tujuannya, dan bagaimana rasanya menjadi yang pertama?

Kurasa tujuannya adalah untuk menarik minat para fans superhero ini untuk membaca novel, juga untuk mengenalkan para pembaca muda pada tokoh-tokoh yang mungkin selama ini hanya mereka kenal sedikit dari film layar lebar dan film kartun.

Aku tidak keberatan jadi objek percobaan DC Icons. Aku suka tokoh-tokoh superhero ini dan rasanya menyenangkan melihat mereka memasuki ranah YA.

Terkadang kita lupa bahwa eksistensi Wonder Woman tak kalah panjangnya dengan eksistensi Batman atau Superman. Menurutmu, apa daya tarik Wonder Woman hingga bisa bertahan selama puluhan tahun?

Lucunya, seseorang bertanya padaku apakah Wonder Woman ada komiknya! Ternyata orang-orang yang belum pernah membaca komiknya atau menonton filmnya, kenal siapa dia dan nilai-nilai yang dia cerminkan: kekuatan dan welas asih.

Kombinasi ini sangat luar biasa, dan kupikir kebaikan hatinyalah yang membuat kita selalu menyukai tokoh Wonder Woman.


Wonder Woman

Apa kau sudah menonton film Wonder Woman? Bagian mana yang menjadi favoritmu?

Favoritku mungkin di bagian No Man’s Land. Bagian itu terlihat hebat, dan rasanya mendebarkan melihat sosok seorang wanita di tengah-tengah adegan slow motion yang heroik. Kuharap di film berikutnya kita dapat kembali mengunjungi Pulau Themyscira.

Aku ingin melihat lebih banyak adegan yang melibatkan Phillipus dan kaum Amazon lainnya, dan kudengar kabarnya, entah bagaimana Antiope juga akan muncul lagi.


Marie Lu


Novel kedua dalam serial DC Icons berjudul Batman: Nightwalker, mengisahkan tentang Bruce Wayne sebelum dia menjadi Batman. Marie Lu menuliskan kisah yang menarik mengenai sepak terjang Bruce muda yang baru saja mewarisi kekayaan keluarga Wayne, sekaligus menjadi pimpinan Wayne Enterprises.

Tak lama setelah perayaan ulang tahunnya, Bruce Wayne dihukum melakukan pelayanan masyarakat di Arkham Asylum gara-gara dia melanggar perintah polisi dan ikut campur dalam pengejaran kelompok kriminalis bernama Nightwalker yang meneror Kota Gotham.

Para fans Batman pasti sudah tidak asing dengan nama Arkham Asylum, yang merupakan penjara bagi para penjahat paling sinting dan berbahaya Kota Gotham. Di tempat inilah, Bruce bertemu dengan Madeleine Wallace, salah satu tahanan, yang diduga sebagai anggota penting dalam gerombolan Nightwalker.

Para Nightwalker merampok dan membunuh satu per satu kalangan elite Kota Gotham. Dan Madeleine bilang, target mereka berikutnya adalah Bruce.


Alfred dan Lucius Fox dalam film Batman Begins
Di dalam Batman: Nightwalker, para fans Batman juga akan dihibur dengan kehadiran tokoh-tokoh yang sudah familier, seperti Alfred (pengurus rumah tangga Keluarga Wayne, sekaligus wali Bruce), Lucius Fox (pakar teknologi di Wayne Enterprises), dan Harvey Dent (sahabat Bruce yang nantinya akan menjadi salah satu musuh Batman).

Dalam wawancara berikut ini, Marie Lu menjelaskan apa yang mengilhami dia menciptakan tokoh Madeleine, serta bagaimana perasaannya saat menulis kisah Bruce Wayne muda.

Hai, Marie! Sebagai penulis, aspek apa yang bagimu menarik dari kisah Bruce Wayne muda? Apa yang ingin kau eksplorasi dari karakter Bruce Wayne sendiri?

Batman adalah tokoh yang telah banyak dieksplorasi, sedangkan Bruce Wayne belum. Selain dalam serial televisi Gotham, masa muda Batman belum banyak dibahas. Bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu kaya raya dalam menghadapi berbagai tantangan untuk menjadi dewasa?

Aku ingin memahami hal-hal apa yang dianggap penting oleh Bruce Wayne muda, dan bagaimana dia menemukan landasan untuk kemudian menjadi seorang pahlawan pembela keadilan.


Salah satu sifat Bruce yang menarik adalah caranya mengelompokkan orang-orang ke dalam kategori-kategori spesifik berdasarkan kepribadian dan keunikan mereka. Menurutmu, bagaimana peran sifat ini dalam diri Bruce sebagai seorang detektif pemula?

Menurutku, bagian dari proses memecahkan suatu teka-teki adalah berusaha menemukan pola-pola, kemudian menemukan satu bagian yang menonjol. Jadi, aku membayangkan seorang detektif pemula sebagai seseorang yang selalu mengelompokkan berbagai hal: orang, tempat, skenario, dan lain-lain.

Bagiku, ini juga sesuatu yang secara logika akan dilakukan oleh seorang remaja untuk menemukan jati dirinya dan menentukan siapa saja yang bisa dia percayai. Aku juga melakukannya!

 

Madeleine adalah tokoh yang sangat unik; dia dapat memahami Bruce, tapi juga merasa Bruce itu menarik dan membingungkan. Madeleine sepertinya memiliki aura seperti Hannibal Lecter. Bagaimana caramu menciptakan tokoh ini?

Ya, Hannibal. Tepat sekali! Aku memang menginginkan dia memiliki aura seperti Hannibal Lecter (tapi tanpa kanibalismenya). Di novel ini, Bruce sedang berada dalam usia yang amat mudah dipengaruhi, jadi aku ingin agar cara pandang dan moralnya yang masih berubah-ubah ditantang oleh seseorang yang sanggup dengan mudah berhadapan dengannya.

Bisa dibilang, Madeleine memberikan pelatihan detektif pertama bagi Bruce, dan aku ingin Madeleine memberikan pengaruh kuat terhadap Bruce. Aku suka pada tokoh-tokoh perempuan yang karakternya berada di area abu-abu.

 

Ini novel kedua dalam serial DC Icons, setelah Wonder Woman: Warbringer. Bagaimana perasaanmu sebagai penulis kisah Bruce Wayne muda?

Aku merasa terintimidasi… dan merasa terhormat! Leigh Bardugo adalah salah satu penulis favoritku, dan dia menuliskan kisah Diana dengan sangat baik dalam Wonder Woman: Warbringer.

Aku tidak yakin telah mencapai standar kualitas yang dia buat dengan debut DC Icons-nya, tapi berada dalam serial yang sama dengannya saja sudah merupakan suatu kehormatan buatku.



Setelah membaca kedua wawancara di atas, apakah kamu menjadi semakin penasaran dengan kisah Wonder Woman dan Batman muda? Jika kamu sudah membaca komik-komiknya, dan sudah menonton film-filmnya, rasanya kurang lengkap sebelum membaca juga novel-novelnya.

Sebagai catatan tambahan, setelah Wonder Woman: Warbringer dan Batman: Nightwalker, ada dua novel lagi yang akan menyusul terbit dalam serial DC Icons. Kedua novel itu adalah Catwoman: Soulstealer yang ditulis oleh Sarah J. Maas dan Superman: Dawnbreaker yang ditulis oleh Matt de la Pena.





Diterjemahkan dan disadur oleh: Dy

Dari artikel:

Exclusive Interview with Wonder Woman: Warbringer author Leigh Bardugo

Exclusive Interview with Batman: Nightwalker author Marie Lu


Baca juga: DC Icons: Masa Muda Tokoh Ikonik DC

Baca juga: 7 Fakta Marie Lu, Rising Star di Genre Fantasi 

 

Author


Avatar