Artikel, baru, Resensi, Review

Dunia Anna: Ketika Perubahan Iklim Bertemu dengan Filsafat

Apa yang paling mendasar dipikirkan oleh kita- manusia? Agaknya, kita tidak benar-benar memikirkan sesuatu di luar ke-diri-an kita.


Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah buku yang tidak terlalu tebal saat berkunjung ke toko buku. Lagi-lagi, karena bertaruh atas nama penulisnya, saya memutuskan untuk membeli buku tersebut, meski sedang tidak punya budget untuk membeli buku.

Tahu Jostein Gaarder, kan? Atau setidaknya pernah mendengar nama itu? Sekitar dua puluh tahunan yang lalu, beliau pernah menulis buku yang fenomenal dan menjadi rujukan dalam kelas-kelas filsafat, setidaknya di kelas filsafat yang saya ikuti saat semester pertama kuliah. Beliaulah yang menuliskan filsafat (lebih tepatnya mungkin sejarah filsafat) dalam bentuk novel melalui novel Dunia Sophie yang cukup laris di pasaran. Dan, di penghujung tahun 2014, novel terbaru beliau terbit di Indonesia, Dunia Anna.

Baca juga:
– Ini Bukan Dongeng
– Jostein Gaarder, Pengarang Novel Best-Seller Dunia Sophie

Berkisah tentang Anna, gadis remaja yang sebentar lagi berusia enam belas tahun dan dirundung banyak sekali pikiran tentang keberlangsungan alam semesta hingga ia sempat bertemu psikiater karena dianggap memiliki kelainan oleh orangtuanya. Menjelang ulang tahunnya yang ke 16 pada 12 Desember 2012, Anna dihadiahi cincin batu rubi merah yang secara turun-temurun diwariskan. Konon merupakan cincin bertuah.

Di sisi lain, ada juga cerita tentang Nova, seorang gadis remaja yang suatu hari dikejutkan dengan kiriman surat dari nenek buyutnya dalam terminal online yang dimiliki Nova.


“Nova sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…”


Begitu bunyi awal surat yang diterima Nova pada tahun 2028. Surat itu sendiri ternyata dikirimkan pada tahun 2012 oleh nenek buyutnya yang tidak lain adalah Anna. Bagaimana Anna bisa tahu kalau kelak, cicitnya akan bernama Nova dan kebetulan menemukan surat yang dikirimkannya?

Baik Anna maupun Nova adalah dua orang yang memiliki ketertarikan tentang upaya penyelamatan Bumi. Anna memiliki ketakutan yang besar kalau-kalau suatu hari nanti tidak akan ada lagi flora dan fauna seperti yang bisa ia nikmati saat itu. Sementara Nova memiliki perasaan sedih yang dalam juga rasa kecewa karena di Bumi yang ia diami, tidak ada lagi aneka kupu-kupu atau lebah dan segala jenis flora dan fauna seperti yang biasa ia lihat dari internet. Hingga suatu hari, mereka bertemu dalam mimpi Anna. Nova menuntut Anna untuk bertanggung jawab atas segala kerusakan yang telah diwariskan oleh generasi Anna dan Anna merasa mimpinya betul-betul seperti kenyataan.

Lalu, Anna bersama Jonas, pacarnya, berupaya melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan Bumi seperti yang telah ia janjikan pada Nova di dalam mimpinya. Upaya Anna tampaknya tidak sia-sia, karena pada akhirnya, ia dan Jonas menemukan ide untuk mewujudkannya.


“Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku. Tahu, kan kenapa? Karena itu utang kalian pada generasi kami!” 
(hal. 50).


Seperti dalam bukunya terdahulu, Dunia Sophie, Jostein Gaarder kembali menyajikan filsafat dalam karyanya ini. Pertanyaan mendasar seperti ‘siapa aku’, ‘apa itu waktu’, dan ‘apa itu kesadaran’ menghiasi buku setebal 244 halaman ini.

Pada awalnya, kita mungkin tidak menyadari betul munculnya pertanyaan-pertanyaan filosofis macam itu dalam buku ini. Apalagi pada halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada beragam isu lingkungan, istilah-istilah ilmiah untuk berbagai nama spesies, aneka istilah biologis atau barangkali sains yang muncul secara bertubi-tubi. Dan, memang agak menyentak kesadaran saat tiba-tiba kita, pembaca, dikejutkan bahwa novel Dunia Anna adalah benar-benar novel filsafat seperti halnya Dunia Sophie.

Filsafat memang selalu dikaitkan dengan segala hal yang sulit dicerna. Ditambah dengan bumbu ancaman pemanasan global dengan serentetan daftar istilah agaknya menjadikan Dunia Anna tampak berat dan membosankan untuk dibaca. Juga, sedikit kemiripan cerita dengan Sophie yang memperoleh surat saat usianya beranjak remaja, juga menjadi tantangan awal untuk membaca hingga tuntas novel ini. Saya merasakan hal yang sama; bagaimana pada awalnya saya terjebak kemiripan situasi tokoh Anna-Nova dengan Sophie dalam lembar-lembar awal novel ini. Juga daftar istilah dan konsep-konsep filsafat yang sulit dipahami dengan sekali saya duduk membaca.

Namun, Jostein Gaarder tampaknya pandai untuk mengajak kesadaran kita bertualang bersama Anna dan Nova dengan isu lingkungan (dalam hal ini pemanasan global) yang begitu dekat dengan diri kita beberapa waktu ini.


“Kita punya alasan untuk merasa nyaman tinggal di jagat raya ini!” (
hal. 103).


Novel ini memandu kita untuk tidak berpikir horizontal dan terbentur pada batas-batas pikiran tentang diri kita sendiri. Lebih dari itu, Jostein Gaarder berhasil menghadirkan tokoh Nova sebagai representasi cucu kita di masa depan, yang secara tidak langsung membuat kita tidak hanya berpikir tentang mereka, namun berpikir seandainya kita adalah cucu kita di masa depan, yang diwarisi bumi ini.

Apa jadinya jika kita hidup tanpa pernah mendengar suara burung? Atau, jika kita harus membantu penyerbukan tanaman secara manual karena kupu-kupu dan lebah sudah tidak ada? Atau bagaimana rasanya memakan sesuatu yang tidak alami? Air yang sangat terbatas, musim dingin atau bahkan kekeringan berkepanjangan? Apa jadinya kalau tidak ada lagi bensin? Bagaimana kita memasak kalau tidak ada gas? Bayangan-bayangan itu muncul saat membaca buku ini. Kesadaran kita diaduk rata; muncul rasa ngeri, putus asa, sedih, tapi juga terselip secercah optimisme.

Secara garis besar, meski buku ini mungkin tidak dinikmati sebagian orang, buku ini bagus. Buku bagus bagi saya adalah buku yang bisa menggerakan kita untuk melakukan suatu kebaikan, dan buku ini menghadirkannya pada kita.

Baca juga:
– Daniel Keyes, Penulis yang Mengeksplor Pikiran Manusia
– 5 Novel Terjemahan yang Akan Mengguncang 2019

Dikemas dengan bahasa yang ringan dalam percakapan antar tokoh dan agak berat dalam beberapa bagiannya, buku ini menyajikan realitas yang sering kita lupa serta menghadirkan banyak informasi yang menunjukkan bahwa Jostein Gaarder betul-betul mencintai dua hal ini: filsafat dan lingkungan.

Meski begitu, saya agak terganggu dengan terjemahannya yang membuat saya agak kurang bisa menikmati dengan lancar jaya. Namun pada akhirnya, pembaca diajak sepakat untuk mendeklarasi diri: kita masih bisa melakukan sesuatu, kan?

Selamat melakukan sesuatu![]

Judul buku      : Dunia Anna
Penulis             : Jostein Gaarder
Penerbit           : Mizan Pustaka
Tahun terbit    : Oktober 2014
Tebal                 : 244 halaman
ISBN                  : 978-979-433-842-1
Harga                : Rp 45.000,-


Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Intan di blog Halaman Depan.


Novel Dunia Annakini dapat dibaca dalam format ebook!

Author


Kuswointan

Kuswo intan

Pedagang buku, volunteer BBC, moody writer.