Artikel

Israel dan Palestina, Konflik Panas yang Belum Mereda

Salah satu konflik panjang dan sepertinya tidak akan pernah berakhir di dunia adalah Palestina-Israel. Sebuah konflik antar bangsa yang berlangsung selama bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di wilayah tersebut, namun sudah menjadi perhatian seluruh dunia dan sepertinya mustahil mendapat titik terang untuk perdamaiannya. Namun bagaimana bisa hal ini bisa terjadi? Bagaimana sejarahnya?


Konflik dimulai ketika kongres Zionis sedunia diselenggarakan oleh Theodore Herlz di Basel, Swis. Resolusi dari kongres tersebut menyatakan bahwa Yahudi itu bukan hanya sebatas agama, namun merupakan bangsa yang mempunyai tekad untuk hidup berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi tersebut juga, bangsa Yahudi menuntut sebuah tanah air, yang secara implisit mengacu pada tanah yang bersejarah bagi mereka. Dalam kongres tersebut juga, Herlz mengatakan bahwa zionisme adalah jawaban bagi penindasan dan diskriminasi yang dialami oleh orang Yahudi. Di situ juga dia mengatakan bahw adalam 50 tahun akan ada negara Yahudi.


Lalu pada tahun 1917, menteri luar negeri Inggris, James Balfour, mengeluarkan sebuah deklarasi yang cukup kontroversial. Deklarasi itu memberitahu seorang tokoh Yahudi kenamaan di Inggris, Rothschild, bahwa Inggris akan mendirikan pemukiman untuk orang Yahudi di daerah Palestina.

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Sebelumnya, pada tahun 1916, Inggris dan Perancis membuat sebuah perjanjian rahasia yang disetujui oleh kerajaan Rusia yang disebut Perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian ini namanya diambil dari dua diplomat yang menandatanganinya, Sir Mark Sykes dan François Georges-Picot. Perjanjian itu berisi pembagian daerah Asia Barat Daya setelah jatuhnya Kerajaan Ustmaniah pada Perang Dunia I. Perjanjian ini membagi daerah-daerah di luar Jazirah Arab untuk menentukan daerah mana yang akan berada di bawah kendali Inggris dan Perancis. Rusia tidak melanjutkan isi perjanjian karena pecahnya Revolusi Bolshevik. Namun pada bulan Oktober 1916, para pejuang Bolshevik mempublikasikan isi perjanjian ini yang tentunya membuat pihak Arab marah. Dari perjanjian ini, Inggris mendapat kendali atas Palestina.

Tahun 1947, PBB merekomendasikan pembagian wilayah menjadi dua negara, Arab dan Israel. Ide tersebut tentu saja ditolak oleh bangsa Arab. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel mengumumkan dirinya sebagai negara Yahudi. Hal tersebut tentu saja menyulut Liga Arab.

Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Perang Arab-Israel terjadi sehari setelah proklamasi negara Yahudi. Perang ini merupakan konflik bersenjata yang pertama.  Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Israel dan mereka berhasil merebut lebih banyak daerah dari yang PBB rekomendasikan sebelumnya.

Setahun setelahnya, Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah melakukan gencatan senjata dengan Israel, menandai berakhirnya perang Arab-Israel 1948. Selain itu juga, gencatan senjata ini dilakukan dengan menentukan batas wilayah sementara yang disebut garis hijau yang berlaku sampai meletusnya perang enam hari tahun 1967. Hal ini membuat banyak orang Palestina terpaksa mengungsi keluar dari tanah airnya.

Tahun 1956, Israel dibantu oleh Inggris dan Perancis menyerang Sinai dengan tujuan menguasai Terusan Suez. Bagi Inggris, terusan ini adalah terusan yang penting karena menghubungkan dengan koloninya di luar seperti India, Australia, dan Selandia Baru.


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

Tahun 1967, perang kembali meletus antara Israel dan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dibantu oleh Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, dan Aljazair. Perang itu disebut Perang Enam Hari atau Six Days War. Perang ini terjadi karena Mesir mengusir United Nation Emergency Force (UNEF) dari Sinai setelah invasi dari Israel. Israel dapat memukul mundur kekuatan militer tersebut dan menang. Lalu gencatan senjata dilakukan dan Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Sampai sekarang hasil dari perang ini masih berpengaruh.


Tahun 1993, dilakukan perjanjian Oslo antara Palestina, yang diwakili oleh Yasser Arafat, dan Israel, yang diwakil ioleh Yitzhak Rabin. Dalam perjanjian itu, masing-masing pihak bersepakat untuk mengakui kedaulatan masing-masing. Pasukan Israel akan ditarik dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberikan kesempatan untuk Palestina menjalankan sebuah lembaga semiotonom di wilayah tersebut.


Tahun 2000, dilakukan pertemuan antara pihak Palestina dan Israel yang ditengahi oleh Amerika Serikat yang disebut KTT Camp David 2000 atau Camp David Summit 2000. Namun sayangnya, negosiasinya tidak berhasil, dan akhirnya KTT ini tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sejarah singkat konflik antara Palestina dan Israel. Meskipun banyak pelanggaran HAM dan korban melayang di sana, jalan damai masih tetap diupayakan bukan hanya oleh kedua belah pihak, namun seluruh dunia juga mengupayakan hal tersebut.





[Oleh: Logika Anbiya]


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

Author


Avatar