The Message of The Quran

[Lanjutan] Profil Muhammad Asad


Muhammad Asad | Image 6



Pameran mengenang Muhammad Asad di Malaysia, tahun 2009, sekaligus peluncuran The Message of the Quran karya Muhammad Asad, dihadiri mantan PM Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad, Prof. Tariq Ramadan, dan Prof. Dr. M. Kamal Hassan (Rektor Universitas Islam Internasional Malaysia).



Sebagai cucu seorang rabi Yahudi ortodoks, sejak berumur 13 tahun dia tidak hanya mahir membaca bahasa Ibrani dengan lancar, tetapi bahkan dapat berbicara dalam bahasa itu dengan fasih, dan sebagai tambahan, memiliki pengetahuan yang lumayan tentang bahasa Aram (yang memudahkannya belajar bahasa Arab di kemudian hari).

Sedari kecil, Weiss mempelajari Bibel Perjanjian Lama dalam bahasa aslinya. Kitab Mishnah dan Gemara, yakni teks dan tafsir Talmud, diakrabinya sedemikian rupa sehingga dia dapat membahas perbedaan-perbedaan antara Talmud Babilonia dan Talmud Yerusalem dengan meyakinkan. Dia juga menyelami kerumitan tafsir Bibel, yakni Targum, seolah-olah dia sedang dipersiapkan untuk menjalani karier sebagai rabi, tradisi leluhurnya dari generasi ke generasi.

Namun, terlepas dari segala pendidikan agama ini, atau mungkin justru karenanya, Weiss muda akhirnya bersikap kritis terhadap banyak dasar agama Yahudi yang dianut keluarga dan leluhurnya.

Sejak masih remaja, Weiss sudah tidak puas dengan Tuhan dalam agama Yahudi yang terlalu menyibukkan diri dengan perincian ritual, dan sebagaimana tampak dalam Kitab Perjanjian Lama yang dikuasainya, Tuhan ini hanya memperhatikan bangsa Yahudi, sehingga lebih merupakan Tuhan suatu suku bangsa tertentu, bukan Tuhan bagi seluruh umat manusia. Maka, seperti kebanyakan anak muda pada masanya, dia menjadi agnostik dan menolak semua agama terlembaga.


Pada 1914, keluarganya hijrah ke Wina, Austria. Weiss pun bersekolah di kota ini, sehingga menguasai bahasa Jerman dengan baik. Selama dua tahun dia belajar filsafat dan sejarah seni di Universitas Wina, sambil mengunjungi kafe-kafe tempat banyak tokoh cendekiawan dan pelopor psikoanalisis bertemu dan berdiskusi. Namun, karena filsafat, sejarah seni, psikoanalisis, dan kehidupan universitas tidak dapat memuaskan dahaga jiwanya, dia pun memutuskan hijrah ke Berlin, Jerman, untuk menjadi wartawan.

Tahun 1922, Weiss diundang pamannya—seorang direktur rumah sakit jiwa di Yerusalem, seorang murid awal Sigmund Freud—untuk berlibur di Yerusalem. Inilah kali pertama Weiss bertemu dengan orang-orang Arab dan Muslim, yang membuatnya amat terkesan.

Pada tahun yang sama, Weiss menjadi koresponden Frankfurter Zeitung, sebuah surat kabar Eropa terkemuka, untuk wilayah Timur Dekat. Karier jurnalistik ini mengantarkannya ke Palestina, Mesir, Suriah, Irak, Persia, Yordania, Jazirah Arab, dan Afghanistan, sehingga dia memiliki perspektif yang unik mengenai isu-isu dunia saat itu, terutama yang berkaitan dengan masalah antara orang-orang Yahudi dan Arab.

Walaupun dia sendiri seorang Yahudi, cucu seorang rabi Yahudi ortodoks, dia sudah menentang zionisme dan bersimpati pada orang-orang Arab bahkan sebelum masuk Islam. Tahun-tahun 1920-an itu adalah masa-masa penuh kekacauan di Eropa pasca-Perang Dunia I: manusia Eropa dari berbagai bangsa saling bunuh dalam perang yang mengerikan.

Pemimpin-diktator dan fasis lahir. Bangsa Eropa juga menyerbu dan menjajah bangsa-bangsa lain untuk memperluas kekuasaan dan kekayaannya. Eropa dilanda kehampaan jiwa, relativisme, dan ketiadaan harapan akan masa depan manusia. Benar-salah diukur hanya dari segi pragmatisme dan sukses materiel.

Sebagaimana ditulis Asad: “Saya melihat sendiri betapa hidup kami di Eropa menjadi kacau balau, membingungkan, dan tidak bahagia; alangkah renggang pergaulan antara sesama manusia dan tiada jalinan hubungan yang sejati antarinsan, terlepas dari segala gagasan mengenai ‘masyarakat’ dan ‘bangsa’ yang disuarakan dengan amat lantang dan nyaris histeris; alangkah jauhnya kita telah tersesat, menyimpang dari naluri bawaan kita; dan betapa sempit, picik, dan berkaratnya jiwa kita …. Saya merasakan dunia yang tak serasi, pahit, dan serakah ….

Sementara itu, dalam kunjungan pertama kalinya ke negeri Arab, dalam sebuah kereta api, wartawan berdarah Yahudi-Eropa ini langsung terkesan dengan kehangatan hati seorang Arab Badui yang duduk persis di depannya, yang memegang sekeping roti Arab lalu memecahnya jadi dua bagian dan menawarkannya kepadanya. “Kita sama-sama menumpang kereta ini, tujuan kita sama,” kata si Arab Badui ini kepadanya. Selanjutnya, wartawan Eropa ini semakin tertarik dengan cara hidup orang-orang Arab.

Ketika bangsa-bangsa Eropa saling berperang dan membunuh atas nama nasionalisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme, dan berbagai isme dan ideologi lainnya—saling-bunuh dengan senjata-senjata canggih hasil perkembangan sains, teknologi, dan industri modern; memperebutkan batas-batas wilayah di negerinya sendiri dan di negeri-negeri jajahan mereka demi menumpuk sukses materiel—, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para pengelana Badui Arab hidup bebas merdeka dan saling berbagi di hamparan padang pasir yang terbentang luas tanpa batas di kolong langit, dengan kemantapan hati, persaudaraan, kehangatan jiwa, dan pandangan hidup yang membuatnya iri.

Di kali lain, dari depan teras rumah pamannya di Yerusalem, dia melihat orang-orang Arab melakukan shalat berjamaah di lapangan terbuka. Karena heran melihat pemandangan ini, dia pun bertanya kepada sang imam shalat itu, haruskah Tuhan disembah dengan begitu rupa? Penjelasan sang imam membuatnya terkesan, dan itulah pintu-pintu awal baginya yang membuatnya tertarik memahami dunia Islam lebih jauh.

Maka, lewat pemandangan sehari-hari yang dia saksikan di Arabia pada waktu itu, wartawan Yahudi-Eropa ini pun tertarik mempelajari Islam, pandangan hidup bangsa Arab. Leopold Weiss memperdalam bahasa Arabnya secara akademis di Kairo, lalu menjalin persahabatan dengan Syaikh Mushthafa Al-Marâghi, seorang murid Syaikh Muhammad ‘Abduh, sang tokoh pembaru terkemuka asal Mesir.

Al-Marâghi ini—sang mufasir Al-Quran, pembaru dan pemikir Islam terkemuka—kemudian menjadi Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir. Weiss menggambarkan Al-Marâghi sebagai “sarjana Islam terkemuka pada masa itu, yang paling cemerlang di antara kaum ulama Universitas Al-Azhar … seorang pemikir yang kritis dan tajam”. Dari Al-Marâghi inilah Weiss belajar banyak mengenai Islam.

Al-Marâghi pulalah yang menyadarkan kepada Weiss bahwa keindahan Islam ditutupi oleh umat Muslim sendiri, yang keadaan dan perilakunya saat itu sudah jauh merosot dari cita-cita Islam. Weiss bepergian ke Amman, Damaskus, Tripoli, Aleppo, hingga ke Bagdad, ke Pegunungan Kurdi dan Iran, dan melintasi pegunungan dan stepa Afghanistan.

Berkat perjalanannya yang malang-melintang di berbagai negeri Muslim ini, dia semakin tertarik mempelajari Islam dari sumber-sumber aslinya. Dia pelajari Al-Quran, hadis, dan sejarah Islam dengan amat mendalam, sehingga dia pun menyadari betapa jauh kesenjangan antara cita Islam dan fakta umat Muslim.

Maka, sama seperti ‘Abduh dan Al-Marâghi—ulama yang banyak menginspirasinya—, Leopold Weiss pun bersikap kritis terhadap kemerosotan dan stagnasi yang dialami umat Islam, dan mencurahkan segala perhatiannya untuk membantu umat Muslim bangkit dari tidurnya yang lama.

Setelah masuk Islam di Berlin pada 1926, dia berganti nama menjadi Muhammad Asad, dan memutuskan untuk hijrah ke negeri Muslim dan menenggelamkan diri untuk mengkaji dan memahami sumber Islam, Al-Quran. Sambil memulai kajian intensif atas bahasa Arab klasik, pada saat yang sama dia mulai tinggal bersama orang-orang Arab Badui di Arabia Tengah dan Timur, yang bahasa lisan dan asosiasi linguistiknya pada dasarnya tidak berubah sejak zaman Nabi Muhammad Saw. ketika Al-Quran pertama kalinya diwahyukan.

Ini memungkinkannya sekaligus menghayati “rasa” naluriah dan ruh-bahasa Arab, kemampuan yang mustahil diperoleh jika seseorang hanya mempelajari bahasa Arab secara akademis atau dari buku-buku saja. Asad juga tinggal selama lima tahun di Madinah, tenggelam dalam perpustakaan dan mempelajari ilmu hadis dan sejarah Islam di Masjid Nabawi.

Dari hasil studi-hadisnya itu, lahirlah terjemahan dan komentar yang memukau atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris pada 1938: Shahîh Al-Bukhârî: The Early Years of Islam. Kitab terjemahan hadisnya ini, yang terbit ketika dia berumur 35 tahun, dilengkapi dengan catatan-catatan kaki berisi penjelasan yang amat kaya tentang hadis itu, konteks sejarahnya, kaitannya dengan hadis lain dan Al-Quran, serta deskripsi mengenai tokoh-tokoh yang dibicarakan dalam hadis tersebut.

Sedianya terjemahan dan penjelasan Asad atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris ini akan diterbitkan secara lengkap, namun rencana ini terhalang oleh meletusnya Perang Dunia II. Lalu, ketika Pakistan berpisah dari India pada 1947, sebagian besar manuskrip yang sudah ditulisnya hilang dalam huru-hara, sehingga hanya satu jilid yang terbit, yakni hadis-hadis tentang masa-masa awal Islam (bab awal Nabi menerima wahyu, bab para sahabat, dan bab peperangan Nabi).

Bekal kajian dan pengalaman-pengalamannya yang kaya inilah yang membantu Asad menghasilkan The Message of the Quran, sebuah terjemahan dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris, yang dikerjakannya dengan sepenuh cinta selama puluhan tahun.

Dalam karya ini jelas terlihat bagaimana Asad amat terpengaruh oleh tafsir Muhammad ‘Abduh yang modern, juga tafsir Al-Zamakhsyarî dan Al-Râzî yang klasik, di samping tafsir Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Baidhâwî, Al-Baghawî, dan lain-lain. Asad bukan hanya manusia pemikir yang tenggelam dalam perpustakaan, melainkan pertama-tama adalah manusia pengelana yang penuh tindakan dan bergaul aktif dengan berbagai kalangan.

Tugas jurnalistiknya membawa dia bertemu dan bersahabat dengan para raja, pemimpin, dan ulama terkemuka dunia Islam pada masanya, di antaranya: Raja Ibn Sa‘ud, Pangeran Faisal, Amir Abdullah dari Transjordan, Syaikh Mushthafa Al-Marâghi, Syaikh Abdullah ibn Bulaihid, Muhammad Iqbal, dan Agus Salim dari Indonesia.

Agus Salim-lah, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, yang memperkenalkan Asad dengan Syaikh Ahmad Sanusi, pemimpin Tarekat Sanusiyyah yang aktif berjuang melawan penjajahan Italia di Libia. Berkat pergaulannya dengan Syaikh Ahmad, Asad pun terlibat membantu perjuangan pahlawan bangsa Libia, Umar Mukhtar, seorang murid setia Syaikh Ahmad.


Muhammad Asad | Image 1



Foto

kiri:
Umar Mukhtar, pejuang kemerdekaan Aljazair, yang ditemui Asad di akhir-akhir perjuangannya.

Kanan: Asad berfoto bersama Syaikh Ahmad Sanusi, pemimpin Tarekat Sanusiyyah, orang yang paling Asad cintai di seluruh Arabia.


Muhammad Asad | Image 2


Syaikh Abu Samh, imam Masjid Madinah atau Masjidil Haram Makkah pada tahun 20-an. Foto oleh Muhammad Asad.


Muhammad Asad | Image 3


Foto-foto karya Asad.

Kiri:
Sayyid Ahmad Sanusi Al-Syarif bersama pengikutnya. Beliau adalah pemimpin Tarekat Sanusiyyah yang sekaligus pemimpin perlawanan terhadap kolonialis Italia, Prancis, dan Inggris. Asad diperkenalkan kepadanya oleh sahabatnya, H. Agus Salim, dari Indonesia.

Kanan: Emir Abdullah dan Dr. Risa Taufik Bey di Transjordan.


Image 5


Tak ketinggalan, Asad pun berkawan dengan Haji Agus Salim ketika tokoh Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia ini masih bertugas di Kedutaan Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Bahkan, Agus Salim-lah yang memperkenalkan Asad dengan Syaikh Ahmad Sanusi.

Walaupun awalnya bersahabat dekat dengan Raja Ibn Sa‘ud, Asad akhirnya kecewa karena ternyata Ibn Sa‘ud bukanlah seorang pemimpin yang sesuai dengan harapannya. Ibn Sa‘ud ternyata hanyalah seorang raja, seperti raja-raja lain.

Saat itu, kedalaman ilmu Asad sudah sedemikian mengesankan sehingga Muhammad Iqbal, filosof-penyair Islam masyhur yang sekaligus bapak spiritual Pakistan, mengajak anak-manusia Eropa itu tinggal di India yang kala itu masih dijajah Inggris, untuk membantunya mempersiapkan kemerdekaan dan lahirnya negara baru: Pakistan.

Iqbal sendiri adalah di antara orang Muslim-India pertama yang belajar filsafat di universitas Eropa, di Jerman. Iqbal dan Asad pun menjalin persahabatan yang akrab. Maka, Asad pun mengurungkan niatnya terus berkelana ke Turkmenistan, Cina, dan Indonesia, dan alih-alih mencurahkan hidup serta pikirannya di Pakistan.

Pada 1947, Asad diminta pemerintah Pakistan untuk mengorganisasikan dan mengepalai Departemen Rekonstruksi Islam, yang bertugas meneliti konsep-konsep ideologis Islam dalam bidang kenegaraan dan kemasyarakatan, sebagai dasar untuk membangun negara yang baru lahir itu.

Selanjutnya, pada 1949 dia menjadi Kepala Divisi Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Pakistan. Dan pada 1952, cucu rabi Yahudi ortodoks ini akhirnya ditunjuk mewakili Republik Islam Pakistan di Markas Besar PBB di New York sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh.

Pemikirannya dalam bidang ketatanegaraan dan politik dia tuangkan dalam buku yang penting: The Principles of State and Government in Islam. Asad juga terlibat aktif menyusun konstitusi Pakistan, namun gagasan-gagasan modern dan reformisnya—di antaranya kebolehan perempuan menjadi perdana menteri—banyak ditentang kalangan ulama konservatif.



Akhirnya, Asad memutuskan undur diri dari dunia politik dan meninggalkan Pakistan, lalu tinggal di berbagai belahan dunia: Amerika Serikat, Badenwieler di Black Forest, Swiss, Beirut, Syarjah, Lebanon, Maroko, Portugal, dan Spanyol. Setelah mengundurkan diri dari dunia politik inilah dia menerbitkan autobiografi spiritualnya yang menjadi bestseller internasional, The Road to Mecca.

Lalu, dia mencurahkan puluhan tahun hidupnya untuk menyusun terjemahan dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris, The Message of the Qur’ân, yang akhirnya terbit utuh pada 1980, yakni ketika dia sudah berusia 80 tahun.

“Asad meninggal di Mijas, domisili terakhirnya, di Provinsi Malaga, Spanyol, pada 20 Februari 1992. Pemakaman Muslim di Granada—kota yang hingga abad ke-15 merupakan pusat kebudayaan Islam yang penting, dan yang di dalamnya baru-baru ini dibangun permukiman masyarakat Muslim—menjadi tempat dia dimakamkan. Adakah gerangan tempat lain yang lebih simbolik ketimbang lokasi itu, baginya?”


Untuk mengenang jasa-jasanya membangun jembatan pengertian yang lebih baik antara dunia Barat dan Islam, pada 2008, sebuah lapangan di muka gerbang pintu masuk markas PBB di Wina dinamai Muhammad Asad Platz (Lapangan Muhammad Asad). Inilah lapangan pertama di Austria yang memakai nama seorang Muslim.


⇐ Kembali ke halaman utama

Author


Avatar