Artikel

Latar Belakang Ahed Tamimi

latar-belakang-ahed-tamimi


Konflik Palestina-Israel yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun sudah melahirkan banyak sekali tokoh yang menginspirasi bukan hanya di kedua negara tersebut, tapi bahkan dunia. Tokoh-tokoh tersebut tidak semuanya orang dewasa, ada juga anak-anak dan remaja. Mereka lahir untuk memperjuangkan kebebasan.


Di antara mereka, ada Ahed Tamimi, seorang remaja berusia 17 tahun. Video tentangnya sempat viral dan mendapat berbagai pujian karena menunjukkan keberanian Ahed dalam menghadapi tentara Israel. Lalu, siapa sebenarnya Ahed Tamimi ini?


Ahed Tamimi lahir pada tanggal 31 Januari 2001 dari pasangan Baseem (ayah) dan Nariman (ibu) Tamimi di Nabi , Pesisir Barat Palestina. Nabi Salih yang letaknya dua puluh kilometer di utara Yerusalem adalah salah satu wilayah Palestina yang diduduki oleh militer Israel. Para penduduknya sulit mencapai mata air dan rumah sakit meskipun jaraknya dekat. Aktivitas mereka setiap saat diawasi. Di sini, siapa pun, termasuk anak-anak, bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa alasan jelas.



Sang ayah, Bassem Tamimi, merupakan seorang aktivis dan sempat dipenjara pada tahun 2011 dan 2012 karena aksinya mengumpulkan massa untuk melempari pemukiman Israel dengan batu dan melakukan aksi tanpa izin. Menurutnya, aksi pelemparan batu ini merupakan sebuah simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel. Penangkapan Bassem pada 2011 mendapat perhatian dari dunia internasional dan mendapatkan amnesti internasional, membuat Bassem menjadi Prisoner of Conscience.

 

Di umurnya yang masih terbilang belia, Ahed harus merasakan dinginnya jeruji besi. Keluarga Ahed sendiri banyak terlibat dalam banyak protes, demonstrasi, dan aksi-aksi politik. Ahed sendiri dijebloskan ke dalam penjara karena aksinya menampar seorang tentara Israel Untuk itu dia dipenjara selama 8 bulan.

 

Aksi Ahed menampar prajurit Israel itu dilakukan karena prajurit tersebut menerobos ke pekarang rumah Ahed, dan juga sebagai pelampiasan emosi karena salah satu sepupu Ahed yang berumur 15 tahun terkena tembakan di kepala dalam jarak dekat menyusul demonstrasi yang dilakukan di Nabi Salih dalam menentang perluasan pemukiman Israel. Di video yang sempat viral di internet ini, Ahed beserta ibu dan sepupunya yang lain mendekati dua prajurit di luar rumah keluarga Tamimi untuk mengusir mereka. Karena para prajurit tersebut berkeras tidak mau pergi, Ahed pun menampar, menendang, serta mendorong salah satu prajurit.

 

Meskipun kehidupan di penjara bukan pengalaman yang menyenangkan baginya, Ahed bersama dengan perempuan-perempuan lain yang sebaya dengannya mencoba untuk membuat kelompok belajar di dalam penjara. Namun sayangnya pihak penjara tidak mengizinkan itu dan akhirnya mereka terpaksa bubar. Meskipun begitu, Ahed dan teman-temannya tetap membaca buku. Bahkan Ahed menjalani ujian akhir sekolahnya di dalam penjara dan berhasil lulus.

 

Ahed bisa kembali menghirup udara segar di luar penjara setelah dia dibebaskan bersyarat pada 29 Juli 2018. Setelah pembebasannya, Ahed langsung bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas. Beliau menyebutnya sebagai model dari perjuangan kebebasan Palestina.

 

Selain video penamparan prajurit Israel, keberanian Ahed sudah lebih dulu dikenal oleh dunia. Pada tahun 2012, dia mencoba untuk melindungi ibunya saat hendak ditangkap. Saat itu Ahed baru berusia 11 tahun. Lalu dia mulai dikenal oleh khalayak dunia pada tahun yang sama ketika dia memprotes penangkapan kakak lelakinya oleh prajurit Israel dan aksi itu direkam dalam sebuah video yang disebarkan di Internet. Dalam video tersebut, terlihat Ahed yang masih kecil protes kepada seorang prajurit Israel dan mengacungkan kepalan tangannya pada prajurit tersebut. Keberaniannya tersebut membuatnya mendapatkan pujian dari President Mahmoud Abbas.

 

Layaknya remaja-remaja lainnya, Ahed juga tertarik dengan hal-hal normal yang disukai oleh para perempuan pada umurnya. Dia suka dengan pakaian, make up, dan dia juga mengecek akun Instagramnya setiap pagi. Namun dia bukan remaja yang normal. Orangtuanya keluar masuk penjara, dia dan kakaknya juga sudah pernah masuk penjara. Jika saja Ahed lahir di negara lain, dia pasti akan bermain bola. Namun sayangnya dia tidak bisa bermain bola di tempatnya sekarang.

 

Selain cita-citanya untuk negaranya, Palestina, Ahed memiliki cita-cita untuk dirinya sendiri. Dia ingin belajar hukum, lalu bekerja melakukan advokasi untuk Palestina dan berbicara di Persidangan Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda.

 

Kisah seorang Ahed Tamimi sangat mengesankan dan penuh dengan inspirasi. Semenjak pembebasannya, dia kini menjadi seorang juru bicara untuk Palestina yang dia bilang merupakan tugas yang tidak akan mudah dilakukan. Kisahnya ini ditulis dan dipublikasikan di majalah Vogue Arabia edisi bulan Oktober 2018.

 

Ahed telah melakukan kunjungan ke beberapa negara. Saat dia berkunjung ke Spanyol, Ahed Tamimi menjadi tamu kehormatan klub sepak bola raksasa Real Madrid dan mendapatkan hadiah sebuah jersey. Selain itu, saat dia berada di Tunisia, dia dapat bertemu langsung dengan Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi.

 

Atas keberanian yang ditunjukkannya sejak belia, Ahed Tamimi kini menjadi simbol perlawanan baru di Palestina. Jika ditanya berasal dari mana kekuatan seorang Ahed Tamimi, dia akan menjawab, orangtuanya selalu menjadi inspirasi baginya.



[Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Persamaan Ahed Tamimi dengan Para Pejuang Wanita



Baca juga: Respon Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi


Baca juga: Ahed Tamimi: Remaja Pemberani Asal Palestina yang dikenal Dunia


Author


Avatar