Artikel, baru

Memoar Small Fry: “Dia Bukan Anakku”

Nukilan memoar Small Fry karya Lisa Brennan-Jobs ini diterjemahkan dari vanityfair.com.



Pada musim semi 1978, ketika orangtuaku berusia 24 tahun, ibuku melahirkanku di peternakan teman mereka, Robert, di Oregon, dengan bantuan dua bidan. Proses persalinannya memakan waktu tiga jam, dari awal sampai akhir. Ayahku tiba beberapa hari kemudian. “Itu bukan anakku,” dia terus memberi tahu semua orang di peternakan, tapi tetap saja dia terbang ke sana untuk menemuiku. Rambutku hitam dan hidungku besar, dan Robert berkata, “Dia jelas mirip denganmu.”


Orangtuaku membawaku ke ladang, membaringkanku di selimut, dan mencermati halaman-halaman buku nama bayi. Ayah ingin menamaiku Claire. Mereka mempertimbangkan beberapa nama, tetapi tidak juga sepakat. Mereka tidak ingin sesuatu yang derivatif, versi pendek dari nama yang lebih panjang.


“Bagaimana kalau Lisa?” ibuku akhirnya berkata.


“Ya. Itu dia,” sahut ayahku girang.


Dia pergi keesokan harinya.


“Bukankah Lisa kependekan dari Elizabeth?” aku bertanya pada ibuku. “Bukan. Kami sudah periksa. Itu nama yang berbeda.” “Dan mengapa kau membiarkannya membantu menamaiku padahal dia berpura-pura dia bukan ayahku?” “Karena dia ayahmu,” jawab ibuku.



Saat ibuku tengah hamil, ayahku mulai mengerjakan sebuah komputer yang belakangan akan dinamai Lisa. Lisa merupakan pelopor Macintosh, komputer dengan tetikus eksternal pertama yang dipasarkan secara mas­sal—tetikusnya sebesar bongkahan keju. Namun Lisa terlalu mahal untuk pasar, sebuah kegagalan komersial; ayahku mengawali sebagai tim yang mengerjakannya, tapi kemudian mulai bekerja menentangnya, berkompetisi melawannya, dalam tim Mac. Proyek komputer Lisa dihentikan, tiga ribu kom­puter yang tak terjual belakangan dikubur dalam lahan uruk di Logan, Utah.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
Hubungan Rumit Lisa Brennan Jobs dengan Steve Jobs


Sampai usiaku dua tahun, ibuku menambah pemasukan dari tunjangan sosial dengan membersikan rumah orang dan menjadi pramusaji. Ayahku tidak membantu. Dia menemukan tempat penitipan anak yang bisa menjagaku di dalam sebuah gereja, yang dikelola istri sang pendeta. Selama beberapa bulan, kami menempati kamar dalam sebuah rumah yang ditemukan ibuku di papan pengumuman. Kamar itu sebenarnya ditujukan bagi para perempuan yang mempertimbangkan menyerahkan anak mereka untuk diadopsi.


Tahun 1980, jaksa wilayah San Mateo County, California, menuntut ayahku untuk membayar tunjangan anak. Ayahku merespons dengan menyangkal paternity, bersumpah dalam deposisi bahwa dia steril dan menyebut nama lelaki lain yang menurutnya adalah ayahku.


Aku diminta melakukan tes DNA. Tes-tes ini masih baru, dan hasilnya keluar: kemungkinan bahwa kami berkerabat mencapai nilai tertinggi yang dapat diukur instrumen tersebut pada saat itu, 94,4 persen. Pengadilan mengharus­kan ayahku mengganti uang tunjangan sosial sebesar kurang lebih $6.000, membayar tunjangan anak sebesar $385 per bulan, yang dia naikkan menjadi $500, dan asuransi kesehatan sampai aku berumur delapan belas tahun.


Namun sebelum itu, tak lama sesudah kasus pengadilan ditutup, ayahku mengunjungiku satu kali di rumah kami di Oak Grove Avenue di Menlo Park, tempat kami menyewa ruangan studio yang tersambung dengan rumah utama. Aku tidak ingat kunjungan tersebut, tapi itu kali pertama aku bertemu dengannya sejak aku baru lahir di Oregon.


Baca juga:
Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Aku Punya Rahasia, Ayahku Steve Jobs”
Dia Memanggilku “Small Fry”


“Kau tahu siapa aku?” tanyanya. Dia menyibakkan rambut dari matanya.


Umurku tiga tahun; aku tidak tahu siapa dia.


“Aku ayahmu.” “Seakan-akan dia Darth Vader,” ibuku belakangan berkata, ketika dia menceritakan kisah itu.


“Aku salah satu orang paling penting yang akan pernah kau kenal,” ujar ayahku.[]