Artikel

Mengenang Kisah Alan Kurdi, Bocah Suriah yang Tewas Tenggelam



Foto-Alan-Kurdi

September 2015 lalu, masyarakat dunia dihebohkan dengan foto jenazah anak kecil di pinggir pantai Turki. Anak kecil itu bernama Alan Kurdi, bocah 3 tahun asal Suriah yang tewas tenggelam di Laut Tengah. Impian Alan dan keluarganya untuk hidup aman dan nyaman lenyap setelah ombak membalikan perahu yang ditumpanginya menyebrang ke Pulau Kos di Yunani. Foto mengenaskan itu diabadikan oleh Nilufer Demir dan menjadi viral.


Bukan Akhir Bahagia


Penemuah-Jenazah-Alan-Kurdi


Alan Kurdi berserta keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan kakaknya berencana untuk menyusul sanak keluarga, Teema Kurdi ke Kanada karena kondisi kampung halamannya, Kobani, sudah tidak aman akibat perang. Sang ayah, Abdullah Kurdi, pernah mengajukan visa untuk pergi ke Kanada, namun otoritas Turki tidak memberikan izin visa sehingga Abdullah mencoba jalan lain untuk mewujudkan kehidupan keluarganya yang aman dan nyaman di Kanada.

Abdullah memutuskan untuk melakukan penyebrangan ilegal menuju pulau Kos di Yunani seperti yang dilakukan pengungsi lainnya. Dengan membayar sebesar £2900, Abdullah dan keluarganya berangkat dini hari menuju pulau Kos pada 2 September 2015.



Selang beberapa menit setelah keberangkatan, perahu yang ditumpangi Alan dan keluarganya mengalami masalah. Pengemudi perahu tidak bisa mengendalikan perahu itu melompat ke laut dan meninggalkan perahu. Para pengungsi di perahu tidak dilengkapi dengan pelampung. Perahu pun terombang ambing dan akhirnya terbalik setelah dihadang ombak besar.



Seluruh penumpang jatuh ke laut. Abdullah, ayah Alan, satu-satunya yang bisa berenang berusaha memegang erat keluarganya. Namun ombak besar memisahkan Abdullah dengan kedua anak dan istrinya. Abdullah mencoba menggapai dan memegang kembali keluarganya, akan tetapi kedua anak dan istirnya tak terselamatkan. Impian untuk memulai hidup di Kanada pupus sudah.



Reaksi Dunia terhadap Kejadian Alan


Reaksi-Dunia-Terhadap-Kejadian-Alan-Kurdi

Foto tragis Alan menghiasi muka-muka media di Turki pada tengah hari di hari yang sama. Foto ini lantas menjadi suatu kecaman terhadap anggota Uni Eropa untuk menerima pengungsi sehingga tidak terjadi lagi kejadian mengenaskan seperti Alan. Nasib Alan beserta kakak dan ibunya menambah daftar kelam kematian pengungsi tahun 2015 di Laut Tengah sebanyak 3.600 orang.



Media sosial diramaikan dengan tanda pagar (tagar) #KiyiyaVuranInsalik yang berarti kemanusiaan telah terdampar.  Tagar tersebut menjadi pembahasan netizen dan menjadi trending topic pada saat itu. Netizen mengungkapkan kesedihan atas kejadian yang menimpa Alan dan pengungsi lainnya, dan ada pula yang mengkritik sikap dunia internasional terhadap nasib pengungsi.



Selain tagar #KiyiyaVuranInsalik , kejadian Alan Kurdin melahirkan sindiran halus kepada para penguasa melalui media gambar kartun. Muatan kartun-kartun tersebut beragam. Ada yang menggambarkan Alan dan anak-anak pengungsi lainnya yang turut menjadi korban sedang tidur dengan ombak laut yang menjadi selimut mereka. Ada pula yang mengandung kritis sosial terhadap sikap dunia internasional terhadap para pengungsi.



Harapan Abdullah


Harapan-Abdullah


Abdullah, ayah Alan merupakan orang satu-satunya yang berhasil selamat diantara keluarganya. Terdapat kisah pahit dibalik perjuangan Abdullah menyelamatkan keluarganya saat perahu terbalik. Dirinya berusaha berenang dari satu anaknya ke anaknya yang lain dan mencoba memegang erat keluarganya. Namun ombak memisahkan pegangan erat antara Abdullah dan keluarganya, sehingga sisa keluarganya yang tidak bisa berenang terbawa ombak dan tenggelam.


Sirna sudah harapan dan impian Abdullah. Keinginannya untuk hidup bersama-sama keluarganya hilang ditelan Laut Tengah. Abdullah mempunyai harapan untuk masyarakat dunia. Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, Abdullah berpesan kepada masyarakat dunia untuk terbuka dan menerima kedatangan pengungsi sehingga tidak ada lagi kejadian lain atau korban-korban lain seperti anak dan istrinya.

 

[Oleh: Fifi Feby Yanti]

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

Baca Juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi

Author


Avatar