Artikel, baru

Perempuan-Perempuan Pejuang

Perempuan-Perempuan Pejuang

Foto oleh M.T ElGassier di Unsplash


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Facebook Jayaning Hartami.

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,


Pada mereka yang rela bangun dini hari, memompa ASI sekaligus siapkan sarapan pagi. Lalu saat matahari sedikit meninggi, mereka melangkahkan kaki untuk pergi. Berkontribusi lewat kerja-kerja yang menggerakkan perekonomian negeri ini.


Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,


Pada mereka yang memutuskan tidak bekerja, lalu menghabiskan hari-harinya bersama anak dan pekerjaan rumah tangga. Dengan sederet potensi dan prestasinya di masa lalu, cukup baginya ditukar dengan tawa dan pelukan dari para makhluk kecil di tengah tumpukan baju, kompor menyala, serta sudut sudut rumah yang belum tersapu.

Foto oleh Rustic Vegan di Unsplash


Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang tidak putus mengejar ilmu. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi agar kelak anak paham bahwa tak ada yang lebih menundukkan hati dibandingkan mengetahui betapa kerdilnya ilmu yang kita miliki.

 

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang bersetia melayani suami dengan sebaik-baiknya. Bukan tentang rendahnya peran, tetapi bagi mereka menjaga pandangan suami adalah hal yang sungguh menyenangkan. Perempuan semacam ini sungguh mengajarkan keikhlasan. Menjadikan rumah sebagai surga sebelum surga sebenarnya yang dicita-citakan.


Baca juga:
7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!
Meski Dijajah Israel, 3 Wanita Palestina Ini Tak Takut Melawan

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang berani bangkit melawan, ketika suami tak henti main tangan. Meski dipenuhi ketakutan, ia paham betul ada ketenteraman jiwa anak yang mesti diselamatkan. Malam-malamnya mungkin dipenuhi pikiran, bagaimana hidup ke depan. Tapi ia tahu. Ia yakin. Pada Allah-lah sebaik baik penjagaan.

 

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang berusaha bergerak maju, setelah pernikahannya dihancurkan oleh pengkhianatan. Tak perlu baginya sibuk berkutat dengan aib mantan, atau sampai sibuk menyindir bersahutan. Karena apapun itu, tak akan mengubah keadaan. Karena di antara dirinya dan sang mantan, ada anak kecil yang berhak atas kebahagiaan.

 

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang dulu tersakiti masa kecilnya. Mungkin omelan, sering juga sabetan. Atau perkataan buruk dari Ayah Ibu yang hingga kini di kepalanya tak henti bersahutan. Tapi baginya, cukup semua sakit itu berhenti padanya. Ia punya sejuta alasan untuk marah, tapi memilih memaafkan. Karena anak-anaknya, berhak mendapatkan sosok ibu dengan versi terbaik dari dirinya.

Perempuan-Perempuan Pejuang

Foto oleh Victoria Kubiaki di Unsplash


Sungguh, Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang bersungguh sungguh pada apa yang dikerjakan. Ia sibuk memperbaiki diri, juga kualitas dengan keluarga dan lingkungannya sendiri.

 

Tak ada waktu baginya untuk mencemooh apalagi nyinyir pada pilihan hidup orang lain. Karena ia tahu, setiap orang punya perjuangannya sendiri, yang mungkin tidak ia pahami.

 

Aku sungguh melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang menyibukkan diri pada kebaikan. Pada mereka yang terus menata ikhlas pada peran yang saat ini dimainkan.

 

Ia bahagia dengan apa yang dipilihnya, sehingga tak pernah butuh merendahkan peran orang lain, hanya untuk membuat dirinya terlihat berharga.

 

Perempuan-perempuan semacam ini yang akhirnya membuat saya paham, mengapa pada mereka surga itu diletakkan.[]


Segera terbit buku Katanya, Jadi Ibu Itu…!

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Katanya, jadi Ibu itu… *kasih kepsyen dari wejangan orang tua dan mertua* – – Katanya, jadi Ibu itu.. *masukin pendapat dari para pakar parenting* – – Katanya, jadi Ibu itu.. *tambahin komentar dari netijen* – – Banyak versi sosok Ibu ideal dari bisa kita temukan di zaman sekarang ini – – Ada yang memang urusan prinsipil, tapi lebih banyak lagi yang sebetulnya bisa diluweskan, variatif tergantung value keluarga masing masing. – – Mencoba memenuhi semuanya cuma akan bikin capek, terus terusan ngritik diri sendiri, dan pusingnya cyiiin~ bisa ngalah ngalahin sistem zonasi 😆 – – “Katanya, Jadi Ibu Itu..” – – Adalah judul buku pertamanya Tami, insyaallah.. 😄 – – #KatanyaJadiIbuItu #Horeeeee #AkhirnyaBikinBukuJuga 🤣 – – Minta doanya yaa 🙏😁 @penerbitqanita

A post shared by jayaninghartami (@jayaninghartami) on

Author


Jayaning Hartami

Jayaning Hartami

Penulis buku "Katanya, Jadi Ibu Itu..." yang akan segera terbit.