Artikel, Resensi

[Resensi Mizania] Kebenaran Ritual-Spiritual Dalam Ibadah


Sudah Benarkah Ibadahmu | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Ibadah bagi setiap manusia sejatinya merupakan sebuah kebutuhan, bukan hanya sekedar melaksanakan ritual untuk menggugurkan kewajiban. Frasa “butuh” mengacu pada semua nikmat yang telah manusia peroleh dari-Nya.

Manusia tidak akan pernah lepas dari peran Allah. Untuk hidup—bernafas, minum, dan makan—manusia membutuhkan Allah. Tidak ada satu perbuatanpun di dunia ini diluar kekuasaan dan kehendak Allah. Rasa “butuh” kepada Allah menjadi nilai dasar dan utama dalam menopang Iman setiap manusia.

Iman dan akidah yang kuat akan memberi dampak pada kebenaran sejati dalam beribadah, yaitu ibadah yang benar secara ritual maupun spiritual. Pada gilirannya, nilai-nilai ibadah (sebagai media mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kebaikan bagi diri dan orang lain) bisa tercapai secara sempurna. Nilai filosofis dan rangkaian hikmah ibadah dinarasikan secara cermat dalam buku karya Syafaat Selamet ini.

Dengan bahasa lugas dan sederhana, Syafaat mengajak pembaca untuk menyelami makna mendasar dari ibadah, sehingga tidak hanya terjebak pada ranah konsep tual teoritis dan praktis. Buku ini diawali dengan pembahasan bersuci (berwudhu, tayamum, mandi wajib, beristinjak). Bersuci pada bagian tertentu menjadi rangkain dari ibadah, bahkan menjadi salah satu syarat sah rukun ibadah.

Diluar ranah praktis, bersuci memiliki banyak hikmah, seperti berwudhu, bermanfaat agar setiap muslim bersih. Membasuh bagian tubuh yang bersentuhan dengan udara bebas dimaksutkan agar permukaan kulit terpelihara dari debu, sehingga terhindar dari penyakit kulit dan peradangan (hal 13).

Secara psikologis, berwudhu bertujuan untuk membersihkan jiwa, karena berwudhu tidak hanya membersihkan lahir, tapi juga batin dan perilaku manusia. Seperti membersihkan kedua telapak tangan, berarti kita tidak boleh mengotori tangan dengan mengambil barang yang bukan hak kita. Begitu juga dengan membersihkan mulut melalui kumur-kumur, bermakna harus menjaga mulut agar bersih dari makanan yang haram, sekaligus tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan dusta (hal 15).

Bagian selanjutnya, buku ini menyinggung nilai-nilai ibadah, khususnya ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji. Jamak dipahami bahwa gerakan shalat mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Gerakan-gerakan dalam shalat bermanfaat untuk menjaga kesehatan syaraf pada setiap organ atau sel tubuh, misalnya gerakan duduk tasyahud awal dan duduk diantara dua sujud, mengaktifkan kelenjar keringat, menyeimbangkan sistem listrik (saraf) tubuh dan memperbaiki kelenturan saraf keperkasaan yang berada di paha, cekungan lutut, betis, sampai jempol kaki.

Selain manfaat medis, melaksanakan shalat juga mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana yang Allah sampaikan dalam firman-Nya (QS Al-Ankabut [29]: 45). Manfaat ini bisa didalami dari khasiat gerakan sekaligus fungsinya dalam konteks ruang dan waktu secara tepat, ada keterkaitan antara gerakan shalat dengan perilaku yang baik (takwa), sehingga shalat benar-benar berpengaruh pada perilaku sehari-hari.

Jika sudah melaksanakan shalat tapi akhlaknya masih rusak, berarti shalatnya belum benar dan ikhlas. Bahkan bisa jadi termasuk orang yang lalai dalam shalat (hal 37). Begitu juga manfaat dari menunaikan zakat, zakat bertujuan membersihkan harta benda seseorang yang bukan haknya, karena harta benda milik kita sesungguhnya terkandung bagian atau hak orang lain. Maka tidak berlebihan jika orang yang tidak menunaikan zakat secara tidak langsung sama dengan mencuri harta orang lain.

Hikmah dan mafaat ibadah lain (selain shalat dan zakat) juga di narasikan dalam buku setebal 292 ini, ibadah dimaknai tidak hanya terbatas pada ritual wajib-sunnah, namun meliputi seluruh aspek gerak hidup manusia sejak sebelum tidur hinggu tidur kembali dalam putaran waktu 24 jam demi meraih ridha Allah.

Selain meraih ridha-Nya, ibadah juga tidak lepas dari asas manfaat bagi sesama, shalat baru dimaknai sebagai shalat yang benar jika berbekas pada perilaku dan amal sosial serta memberikan perubahan akhlak menjadi lebih baik, ini merupakan rangkain sikap hidup manusia yang menyadari kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Allah (hal 238).



Buku ini menjadi upaya sadar Syafaat mengingatkan pembaca dalam meraih kebenaran sejati beribadah, ibadah tidak hanya dimaknai ranah ritual, namun juga spiritual dan sosial.

Dengan bahasa sederhana dan terkesan tidak menggurui, syafaat mampu menyelaraskan teks dan konteks. Maka sebuah kewajaran, jika buku ini menyimpan etos literasi yang mencerahkan.




Judul Buku: Sudah Benarkan Ibadahmu?

Penulis: Syafaat Selamet

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 292 halaman

ISBN: 978-602-1337-78-3

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.

Author


Avatar