Review

[Review Buku] Seribu Masjid Satu Jumlahnya

Apa makna Islam menurut Cak Nun?

Emha Ainun Nadjib, atau yang biasa disapa Cak Nun menyampaikan makna Islam dalam sebuah buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Buku ini bukanlah buku Cak Nun yang baru, melainkan sudah pernah diterbitkan pada 1990. Edisi ke-1 ini mencapai cetakan ke-9 pada 1997 sebelum akhirnya diterbitkan kembali edisi kedua pada Mei 2016.

Kembali pada pertanyaan di atas. Apa makna Islam menurut Cak Nun? Sebetulnya, jawaban yang lengkap hanya bisa didapatkan dengan membaca buku ini. Tetapi secara singkat, makna Islam menurut cendekiawan Muslim tersebut dapat kita intisarikan lewat kutipan berikut:

“Pak Kiai menuding santri ketujuh, “Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?”

“Benar, Kiai,” jawabnya, “Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah.”

“Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?”

“Dengan memedomani ayat-ayat-Nya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu, Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya.”

“Kenapa sangat banyak orang salah mengartikan makna pasrah?”

“Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Bahkan, manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah.

Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi Alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya.”


Kutipan di atas, yang diambil dari salah satu kisah yang ada dalam buku ini kurang lebih merangkum makna Islam menurut Cak Nun. Pun menceritakan mengenai perbincangan seorang Kiai dengan santri-santrinya dalam kisah berjudul Di Zawiyyah Sebuah Masjid.

Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa sebelum melepas santri-santrinya pulang kembali ke masyarakat, santri-santri tersebut diuji kedalaman pengetahuannya oleh sang Kiai. Tanya jawab yang terjadi antara sang Kiai dengan santri-santrinya sangatlah menarik untuk disimak dan diresapi dalam rangka memaknai apa itu Islam beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?” Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.”

“Membebaskan,” jawab santri itu.

“Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!”

“Menyelamatkan, Kiai.”

“Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?”

“Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas bimbingan para awliya’ dan anbiya’. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam–sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu–dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah.”

“Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?”

“Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah.”


Sebagaimana kutipan tersebut, Cak Nun kemudian mengeksplorasi kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam Islam untuk kemudian diangkat dan disampaikan dengan cara-cara yang puitis dan sastrawi. Kisah-kisah serupa dapat kita temukan dalam buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya ini.

Kisah-kisah yang dapat kita interpretasikan sebagai upaya seorang Cak Nun untuk mencari dan menggali nilai-nilai keselamatan yang terkandung di dalam Islam.

Pertanyaan lain kemudian muncul. Kenapa Cak Nun memilih kata-kata “Seribu Masjid Satu Jumlahnya” sebagai judul yang dipilihnya untuk buku ini?



Sebelum itu, mari kita simak dulu kutipan yang penulis ambil dari kisah lainnya di buku ini, Negeri Kaum Beribadah. Kisah ini memberikan pandangan mengenai masjid yang sangat menarik untuk diketahui.

“… Masjid ialah tempat bersujud. Dan yang namanya tempat itu tidak harus ruang, bangunan, bentuk, dinding, tiang, atau hiasan-hiasan. Ia bisa saja sebuah perbuatan, sekecil apa pun. Setiap perbuatan untuk Allah adalah masjid bagi nilai hidupmu ….”

Kita selama ini mengenal masjid sebagai suatu tempat. Hanya itu. Kita mungkin tidak tahu atau lupa bahwa sejatinya, arti masjid adalah tempat untuk bersujud. Dan sejatinya sifat dasar sujud yang bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun, ia meluas melewati batasan ruang dan bentuk itu sendiri.

Makna itulah yang kerap kali kita sadari, dan makna itu pulalah yang Cak Nun angkat dalam buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya ini.


Pamungkasnya, Cak Nun tuangkan dalam puisi berjudul sama. Berikut penulis kutip bagian kecil dari keseluruhan puisinya:

Masjid itu dua macamnya

Satu ruh, lainnya badan

Satu di atas tanah berdiri

lainnya bersemayam di hati


Tak boleh hilang salah satunya

Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu

Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu

Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu


Dari penggalan kutipan puisi tersebut, kita dapat melihat apa yang dimaksud oleh Cak Nun tentang Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Pun tentang mengapa Cak Nun memilih Seribu Masjid Satu Jumlahnya sebagai judul yang dipilih untuk bukunya.

Kita menganggap bahwa Cak Nun memilih Seribu Masjid Satu Jumlahnya sebagai judul bukunya sebagai bentuk renungan Cak Nun yang hendak dibagikan kepada para pembaca. Renungan tentang makna masjid, makna Islam, dan bagaimana kita seharusnya bertindak dan berperilaku. Masjid batu didirikan, jangan pula melupakan masjid badan. Itulah kiranya renungan Cak Nun, dan juga renungan tentang apa makna Islam bagi kita semua.



Reiza Harits

Publisis Penerbit Mizan

(Penyunting: Cecep Hasannudin)

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

MIZAN Kronik Zaman Baru

Kode Buku: UA-214

ISBN: 9789794339237

Tahun Terbit: Mei 2016

Halaman: 196 Halaman

Berat: 0,18 Kg

Format: Soft Cover

 

Author


Avatar