Artikel, baru, Kolom Editor, Tak Berkategori

Ruang Redaksi – Digital Nation Are We?

Istilah Industri 4.0 pertama kali dikenalkan Pemerintah Jerman dalam event Hannover Fair pada 4-8 April 2011. Istilah tersebut digunakan untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi. Sekarang orang saling terkoneksi, menjadi hal yang biasa ketika internet menjadi suatu kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jual beli, mengoprasikan mesin, belajar, memesan makanan, menonton, bermain, rapat, bahkan memberi makan binatang peliharaan pun hanya dengan device dan jaringan internet. Proses otomatisasi, AI (Artificial Intelligence), dan Internet of Things!

Berpijak pada perkembangan teknologi dan pemerataan internet yang sudah menjangkau sebagian besar penduduk dunia, serta Revolusi Industri 4.0 yang sudah mulai terjadi, maka dari kelompok terkecil sampai korporasi bersama-sama menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengaruh ini. Secara tidak langsung kita dituntut untuk bertransformasi dan ikut dalam proses digitalisasi. Jika tidak berinovasi, mencari peluang, dan memecahkan masalah, maka kita akan mati pelan-pelan.

Sebelum semua sektor terpapar industri 4.0, hal yang mungkin harus dilakukan sekarang adalah memulai proses digitalisasi di semua sektor. Perusahaan (dari UMKM sampai Korporasi besar) sebagai entitas bisnis harus dituntut untuk selalu tumbuh, berkembang serta bersaing dalam industri yang sudah menjadi digital, maka diperlukan problem solved dan ide kreatif, untuk menjaring publik yang sudah terkoneksi. Idealnya setiap perusahaan ke depan memiliki visi dan misi tentang digitalisasi. Untuk mewujudkan itu diperlukan strategi digital yang memang menjadi tanggung jawab bersama dalam satu perusahaan.

Dalam menyusun strategi digital, ada dua hal penting yang harus dilakukan. Pertama, dengan melakukan transformasi digitalisasi internal perusahaan, seperti memulai budaya digital, mengerti perkembangan teknologi, berpikir out of the box, dinamis dan mempunyai sense of future (visioner). Kedua, membangun peluang bisnis dalam dunia digital melalui peningkatkan nilai tambah bisnis inti dengan mengeluarkan produk (digital dan non digital) yang menarik bagi masyarakat serta memasarkan produk dengan strategi marketing pada digital marketing, lalu melakukan kerja sama dan investasi dalam ekosistem bisnis digital.

Perusahaan melakukan strategi digital sebagai bagian dalam setiap kebijakan yang ditetapkan dari level korporat, bisnis dan fungsional. Pada level atas, strategi digitalisasi menjadi salah satu bagian dari strategi korporat yang tercantum dalam visi dan misi, perusahaan menjabarkan secara detail strategi digital, target pencapaian dan unit pelaksananya.

Kemudian di level bisnis, kebijakan tersebut dijabarkan dalam bentuk master plan unit yang menjabarkan program digitalisasi yang akan dijalankan pada periode waktu tertentu. Kemudian di level pelaksana termasuk SDM dan keuangan, dijabarkan kebijakan pendukung untuk mewujudkan target tersebut. Dengan cara ini maka strategi digitalisasi menjadi acuan di semua lini perusahaan baik di level korporasi, unit bisnis, unit fungsional maupun di bagian terkecil. Ada 7 aspek yang bisa menjadi acuan dalam membangun budaya digital:

People, mentransformasi SDM dan membangun pemimpin dan karyawan yang memiliki kompetensi digital.

Bisnis, melalui peningkatan porsi kontribusi revenue dari bisnis yang didigitalisasi terhadap bisnis secara keseluruhan dan memulai pola bisnis baru.

Budaya, melakukan aktivasi budaya digital untuk mencapai peningkatan kebiasaan dan ekosistem digital dalam perusahaan.

Struktur/Organisasi, melakukan transformasi organisasi melalui strukturisasi unit khusus digital dan mendigitalisasi unit lain. Kebijakan yang bisa mendukung proses digitalisasi.

Sistem/Proses Bisnis, melalui digitalisasi, termasuk bagian finansial menjadi problem solved untuk membuat model finansial baru dalam dunia digital.

Market, menganalisis target pasar yang sudah terkoneksi dengan mengeluarkan produk yang sesuai dengan sasaran pasar (problem solved).

Infrastruktur, internet of things menjadi sebuah kunci bagi proses digital, kecepatan data menjadi hal yang sangat penting.

Namun, tidak menutup kemungkinan untuk memperluas cakupan bukan hanya sebatas bisnis yang berhubungan dengan bisnis inti. Maka, model strategi digital menitikberatkan pada strategi digital yang dapat menjadi model bisnis baru dan memperkuat bisnis inti. Misalnya pemakaian teknologi digital untuk engagement dengan users, otomatisasi proses bisnis, dan inovatif dalam produk terbaru. Khusus dalam proses digitalisasi, harus dipahami bahwa dalam membangun proses digitalisasi harus ada komplemen digital strategis yang terdiri atas engineer (programmer), designer, dan business man. Komplemen ini menjadi think tank bagi setiap unit dalam perusahaan untuk menuju digitalisasi.

Seluruh masyarakat yang terkoneksi maupun belum terkoneksi adalah target market dari perusahaan dengan membangun budaya digital dan ekosistem digital. Sehingga bisa tercapai engagement, trust, brand awareness dan like dengan tujuan revenue baru bagi perusahaan.

Kendala yang muncul:

• Tantangannya dalam hal transformasi SDM: Kapasitas dan kapabilitas karyawan yang perlu memiliki daya saing global dan karyawan yang memiliki kemampuan di bidang digital.

• Tantangan dalam transformasi kultur: Mindset dan isu kultural karyawan terhadap perubahan paradigma yang biasanya masih terbawa pada masa transisi yang membutuhkan waktu penyesuaian dalam mengadaptasi perubahan.

• Tantangan dalam transformasi organisasi: Resistensi karena kekurangpahaman karyawan terhadap perubahan transformasi organisasi, budaya dan kesisteman SDM. Ketidaktahuan karyawan tentang pencapaian strategi bisnis perusahaan.

• Tantangan dalam transformasi bisnis: Belum adanya regulasi yang menjadi standar dalam mengatur produk digital, payment gateway yang masih rumit, divisi dalam perusahaan yang sulit diajak berpikir digital untuk bisnis, serta penggiringan paradigma users (konsumen).

• Tantangan dalam transformasi infrastruktur: Kecepatan dalam membangun infrastruktur, device pendukung, software pendukung dan jaringan internet untuk mendukung program utama digitalisasi.

• Tantangan dalam transformasi pasar: Mengubah paradigma masyarakat untuk ikut proses industri digitalisasi baik mengenai produk maupun ekosistem bisnis digital.

• Tantangan dalam kompetitor: Pergerakan bisnis dalam dunia digital tidak hanya persaingan antara perusahaan dalam bidang yang sama, tetapi dengan para pelaku bidang teknologi.

Melihat perkembangan saat ini, budaya digital mulai mengubah ekosistem manusia dan prilaku users sangat bisa dikondisikan sesuai kebutuhan industri. Berdasarkan laporan digital tahunan yang dikeluarkan oleh We Are Social dan Hootsuite untuk Indonesia hingga Januari 2019, jumlah orang terkoneksi dengan internet di Indonesia mencapai 150 juta pengguna, serta 150 juta akun sosial media. Dari yang tekoneksi internet itu ada 65% pengguna smartphone, 25% pengguna desktop (PC, laptop), 10% lain-lain (Smart TV, Tablet, iPad dan Smart Watch). Melihat data tersebut, ada peluang besar dalam bisnis perusahaan dalam dunia digital di Indonesia.

Media pendukung menjadi hal yang wajib untuk masuk ke dunia digital (desktop dengan web-nya, mobile dengan apps-nya). Perusahaan menyelaraskan sesuai dengan kebutuhan proses digitalisasi dalam industrinya. Ketika bisnis dalam dunia digital ini semakin maju, maka persaingan semakin terasa. Oleh karena itu, selain bertranformasi ke arah digitalisasi, perusahaan harus bisa menjadi problem solved bagi orang-orang yang sudah terkoneksi di dunia digital.

Semua itu tentunya tidak akan berjalan jika 7 aspek di atas tidak kita lakukan dari sekarang. Go! Digital Nation are we? 4.0 are you kidding me? Meh!

Tabik!

industi 4.0 digital nation

Ditulis oleh: Fuzie Septika

Author


Avatar