Artikel, Liputan

Seminar “50 Tahun Kegagalan Gestapu”

50TahunGestapu
Bung Salim, menuliskan kesaksiannya tentang peristiwa sejarah yang super-misterius ini. Dengan gaya amat menarik dan memukau tentang 3 tokoh sentral di sekitar Peristiwa G-30-S. Kesan saya dari membaca buku ini: Lebih baik menyalahkan seorang Aidit daripada PKI sebagai keseluruhan Partai.

Asahan Alham Aidit (seorang eksil Indonesia yang menetap di Amsterdam) Komentar tersebut berhasil mengundang rasa penasaran dari mereka yang melihat buku karya Salim Said yang berjudul Gestapu 65 PKI. Aidit, Sukarno dan Soeharto.

Dalam kegiatan seminar sekaligus pembukaan resmi bukunya yang diadakan di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina pada Rabu (21/10) lalu dengan tema 50 Tahun Kegagalan Gestapu, peserta memperlihatkan ketertarikannya melalui bentuk diskusi yang hangat.

Menghadirkan pembicara sejarawan TNI Kolonel (Purn.) Saleh Asad Djamhari, mantan komandan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim Dr. Fahmi Idris, dan narasumber dari berbagai golongan dan latar belakang.

Acara ini berhasil membawa antusiasme peserta melalui banyaknya pertanyaan dan pernyataan. Dalam kata sambutannya, Salim Said mengatakan bahwa sulit untuk bersepakat mengenai siapa sebenarnya pelaku Peristiwa Gestapu karena keterbatasan data yang ada.

Dan bahwa peristiwa Gestapu merupakan suatu luka bagi bangsa Indonesia, bagi kita semua sebagai korban. Dari sisi narasumber yang dihadirkan. Beberapa narasumber senior seperti Taufik Ismail dan Harry Tjan Silalahi menyatakan keinginannya untuk berdamai dan menghilangkan rasa dendam.

Seorang narasumber lainnya menyatakan getirnya diskriminasi yang harus dihadapi oleh seorang yang dituduh komunis dan narasumber lain menyatakan untuk mewaspadai gerakan komunis.


Acara ini didukung oleh Institut Peradaban, Yayasan Wakaf Paramadina, Jamu Jago, dan Pusat Studi Kelirumologi.

Author


Avatar