Artikel, baru, Ruang Redaksi

Stephen Hawking, Menembus Berbagai Batasan dalam Segala Keterbatasan

Hanya sesaat setelah memulai penerjemahan buku Stephen Hawking: A Mind Without Limits, saya sudah menyesal. Ini adalah salah satu buku tersulit yang pernah saya kerjakan, bukan karena pengalihbahasaan yang rumit, melainkan otak saya yang cukup ngos-ngosan mencernanya. Mohon dimaklumi, saya lulusan Sastra Inggris, dan terakhir kali mendapatkan pelajaran Fisika adalah saat SMA, puluhan tahun silam. Ketika itu, meskipun saya mengambil jurusan IPA, nilai Fisika saya pas-pasan saja. Maka, bekal saya dalam menerjemahkan buku ini bisa dibilang hanyalah bertahun-tahun mengikuti serial komedi The Big Bang Theory.

 

The Big Bang Theory dan Stephen Hawking

Stephen Hawking tampil sebanyak 5 episode di serial tv “The Big Bang Theory”



Baca juga:
– Apa Itu Lubang Hitam?
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta

Reputasi taruhannya. Proyek yang sudah dimulai, mau tidak mau harus dituntaskan. Hanya riset pilihannya. Saya pun mulai membaca beragam jurnal tentang teori segalanya, teori kuantum, teori dawai, singularitas, supersimetri, dan sebagainya. Iya, saya belajar seakan-akan hendak menempuh Ujian Nasional.

 

Lantas, kenapa saya tidak menyerah saja? Karena menyerah adalah ironi, terlebih ketika buku yang saya terjemahkan ini membahas tentang Stephen Hawking. Selain menguraikan kiprah Hawking di dunia Fisika (bagian yang membuat saya kelimpungan), buku ini juga mengulas tentang kehidupannya.

 

Stephen Hawking (1942-2018)

Stephen Hawking

 

Vonis penyakit ALS diterima Hawking pada usia sangat muda, 21 tahun. Di titik itu, dia bisa saja langsung pasrah, apalagi dokter telah memperkirakan bahwa sisa umurnya hanya dua tahun lagi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Vonis mati malah menjadi cambuk bagi Hawking (yang semula mengaku pemalas) untuk memusatkan pikiran dan menyelesaikan penelitiannya. Ajaibnya, seiring kariernya yang semakin moncer, laju penyakitnya pun melambat. Dua tahun terlewati, dan Hawking terus berkarya dan menjalani kehidupan penuh warna hingga puluhan tahun kemudian.

 

Buku ini membuat saya mengerti mengapa Hawking begitu dikagumi. Sebagai ilmuwan, dia bersinar. Tidak hanya di dunia sains yang digelutinya, tetapi juga di ranah sosial, kemanusiaan, dan hiburan. Dengan segala keterbatasannya, Hawking mendobrak berbagai batasan. Meskipun tubuhnya terkekang di kursi roda, pikirannya bebas berkelana menjelajahi alam semesta.


Baca juga:
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia

Pada akhirnya, saya menyelesaikan penerjemahan buku ini dengan penuh kepuasan. Tidak hanya karena pencerahan tentang berbagai teori fisika yang sebelumnya tidak pernah saya pahami maksudnya, tetapi juga inspirasi akan kehidupan yang begitu mengena. Hawking adalah ilmuwan terbesar di dunia, dan membaca buku ini adalah salah satu cara untuk turut merayakan kiprahnya.[]

Author


Antie Nugrahani

Antie Nugrahani

Penerjemah dan editor freelance buku-buku Mizan.