Artikel

Suka Duka Menikah dengan Dokter


Bagi sebagian orang, menikah dengan seorang dokter adalah anugerah.  Bagaimana tidak, dokter menjadi salah satu profesi yang menjanjikan dan digandrungi saat ini. Terbukti dari semakin banyaknya fakultas-fakultas kedokteran yang dibangun di berbagai penjuru. Mulai dari dokter umum sampai dokter spesialis yang kini semakin beragam.

Selain dari penghasilannya yang cukup besar, strata sosial seorang dokter juga cukup dipandang oleh masyarakat. Tak heran biaya untuk mengambil kuliah kedokteran pun terbilang fantastis dan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan bidang keilmuan lainnya.

Sehingga hal ini berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan pasien ketika berobat. Tak tanggung-tanggung seorang dokter bisa berpenghasilan puluhan juta setiap bulannya (idntimes.com). Hal ini bergantung pada dokter apa yang ia lakoni.

Tetapi dalam kehidupan nyata, pernahkah ada yang menanyakan bagaimana sebenarnya hidup dengan seorang dokter? Apakah benar seperti yang dibayangkan oleh orang-orang? Bagi kamu yang kini tengah hidup bersama seorang dokter, suka-duka dibawah ini sepertinya hanya kamu yang mengalami. Yuk simak!

  1. Berpengetahuan luas

Dokter dipandang sebagai sosok intelektual yang serba tahu. Ia tahu penyebab ilmiah dari PMS, baby blues, sampai waktu yang tepat untuk mendapatkan momongan. Ia tahu stimulasi yang tepat demi perkembangan si buah hati dan tentu saja hal ini memudahkan para ibu karena sang suami ibarat ensiklopedia berjalan. Demikian dilansir dari Boldsky, Rabu (5/8/2015).

Kamu bisa banyak belajar darinya sedikit demi sedikit di sela-sela kesibukannya. Terlebih bila ia seorang dokter umum yang mempelajari berbagai penyakit dan cara mengatasinya. Beruntungnya, kamu.

 

  1. Kamu tak terlalu panik ketika ditimpa sakit

Memiliki pasangan seorang dokter menjadikanmu tidak terlalu panik dan khawatir ketika ditimpa sakit. Ini keuntungan paling besar yang didapatkan jika menikah dengan dokter.


Kamu akan merasa bahwa ada pasangan sendiri yang akan melakukan pertolongan pertama dengan tepat jika kamu dan keluarga sakit, termasuk obat apa yang sebaiknya dikonsumsi. (hipwee.com)

Paling tidak, hal ini akan meminimalisir anggaran kesehatan dalam keluarga karena tak perlu repot untuk periksa ke dokter atau rumah sakit. Kamu tentu sudah merasakannya, bukan?


  1. Sering kekurangan waktu

Berprofesi sebagai seorang dokter tentu akan sangat menyibukkan. Pasanganmu akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Rumah akan menjadi tempat yang sangat ia rindukan ketika seharian penuh bekerja diluar yang menguras waktu dan pikiran.

Jam kerja seorang dokter pun tak menentu. Bergantung pada jadwal shift yang ia dapatkan. Begitupun dengan waktu liburannya yang notabene akan berbeda dengan waktu liburan pekerja pada umumnya. Mungkin kamu akan banyak mengeluh mengenai hal ini. Terkesan kurang perhatian, kamu pun merasa terabaikan.

Tapi di balik itu semua, ingatlah bahwa dokter adalah profesi mulia, yang lewat perantara tangan dan pikirannya banyak orang yang akhirnya sembuh dari sakitnya. Inilah yang jadi pelipur saat harus ada banyak momen yang tak bisa dihadapi bersama karena tuntutan pekerjaan. (hipwee.com)

 

  1. Jarang menceritakan pekerjaan

Banyaknya istilah khusus dalam dunia kedokteran menjadikan pasanganmu tak mampu menceritakan seputar pekerjaannya. Terlebih bila kamu bukan seorang dokter. Sering kali kamu ingin tahu apa saja yang telah ia lakukan. Penyakit apa saja yang berhasil ia sembuhkan. Siapa saja pasiennya, dan sebagainya.


Tapi kamu pun berpikir kembali, bahwa tak mudah untuk ia menceritakan hal-hal yang telah ia alami. Terlebih bila hal itu berkaitan dengan privasi pasiennya. Kamu hanya perlu memahami posisinya dan cukup tanyakan hal-hal yang sekiranya bisa ia ceritakan padamu.

Jadilah pasangan yang pengertian, bukan yang selalu menuntut agar dimengerti. Terlebih bila ia teramat lelah dengan berbagai rutinitasnya. Jangan langsung mencecarnya dengan setumpuk pertanyaan yang justru membuat ia semakin pusing seketika. Tunjukkan padanya bahwa betapa beruntungnya kamu bisa hidup dengannya.

 

  1. Pasanganmu menjadi milik para pasiennya

Ketika memutuskan untuk menikah dengan seorang dokter, kamu harus menyadari bahwa pasanganmu bukan hanya milikmu seorang. Ia menjadi orang yang dibutuhkan juga oleh para pasiennya yang setia menanti dan segera ingin disembuhkan dari penyakitnya.

Dengan berbagai tugas yang menumpuk dan rutinitas yang super sibuk, jelas ia tidak bisa selalu berada disampingmu. Kamu harus mengikis egomu perlahan. Pekerjaan yang ia lakukan teramat mulia sehingga menjadikannya lebih banyak menghabiskan waktu diluar bersama mereka yang membutuhkan.

Meski waktu liburan tiba pun, ia belum tentu bisa berlibur denganmu dan keluarga. Ketika panggilan dari rumah sakit datang, ia tak bisa menolak panggilan mulia tersebut. Karena seseorang tak bisa diprediksi kapan ia diserang penyakit dan membutuhkan pertolongan segera. Kamu hanya perlu memahaminya.

 

Itulah beberapa suka duka bila kamu menikah dengan seorang dokter. Siapapun pasanganmu atau dengan siapapun kamu menikah, tentu suka duka itu pasti ada. Kamu dan pasangan hanya perlu banyak belajar untuk saling memahami satu sama lain.

Meski begitu, jangan kemudian menjadi takut saat akan benar-benar menikah dengan seorang dokter. Kamu tentu ingat dengan pepatah berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian, bukan?

Dukungan yang besar dari pasangan benar-benar diperlukan. Siapa lagi yang akan menjadi stimulus pemberi semangat untuk mencari nafkah bila bukan pasangannya sendiri yang melakukan? Perjuangan untuk melanjutkan kehidupan pun tak lagi terasa berat ketika ada yang selalu mendukung dan mendoakan.

            Semoga kehidupanmu bersama pasangan selalu diliputi kebahagiaan, ya.


Baca Juga: Mengikuti kisah dr. Gia? penasaran dengan elsa?

Baca Juga: Kisah haru seru dokter Gia

[Ana Dwi Itsna Pebriani]

 

Author


Avatar