fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel


Klub Sepak Bola terkenal asal Spanyol, Real Madrid, memberikan penghargaan kepada Ahed Tamimi. Ahed Tamimi merupakan remaja tujuh belas tahun dan seorang aktivis Palestina. Dia baru saja bebas dari penjara setelah sebelumnya ditahan di penjara Israel selama beberapa bulan karena telah menampar dan mendorong

Real Madrid sebagai tuan rumah mengundang Ahed Tamimi untuk datang ke markasnya di Santiago Bernabeu pada Sabtu, 29 September 2018 waktu setempat. Ahed Tamimi yang ditemani oleh ayahnya Bassem Tamimi datang sebagai tamu kehormatan Real Madrid.

Pada pertemuan tersebut, Ahed Tamimi bertemu dengan Emilio Butragueño, mantan pemain depan dan manajer senior klub saat ini. Tamimi juga diberi jersey berangka sembilan sepak bola Real Madrid dengan namanya di atasnya. Acara ini berlangsung sebelum Real Madrid melakukan pertandingan melawan klub rival sekotanya Atletico Madrid.

Pemberian penghargaan kepada Ahed Tamimi dari Real Madrid ini kemudian mendapatkan respon dari kubu Israel. Salah satunya adalah duta besar Israel untuk Spanyol, Daniel Kutner. Dilansir dari Republika, Daniel Kutner menganggap penghargaan Real Madrid tersebut merupakan bentuk persetujuan bagi warga Palestina untuk melakukan tindakan kekerasan di perbatasan. Dia juga mengatakan bahwa Ahed Tamimi bukanlah ikon perdamaian, melainkan adalah ikon kekerasan dan terorisme yang melawan negara Israel.

Penahanan Ahed Tamimi telah mendapatkan perhatian dunia, menyoroti gambar remaja tersebut sebagai ikon Palestina. Sejak kecil, dia memang sering terlihat di beberapa video yang sempat viral di internet karena aksinya yang melawan para tentara Israel. Beberapa unjuk rasa diadakan untuk mendukung dan menyerukan pembebasan setelah penangkapan Ahed di bulan Desember 2017. Bahkan aksi demonstrasi tersebut dilakukan oleh orang-orang Israel dan Yahudi sendiri yang menyerukan pembebasan para tahanan politik, termasuk Ahed Tamimi.

Tindakan Ahed Tamimi yang membuatnya ditahan oleh tentara Israel tentu memiliki alasan. Dalam insiden versi Ahed, yang dibagikan di pengadilan dalam sidang pada bulan Desember, Ahed Tamimi mengatakan para tentara yang ditampilkan dalam video itu menembak sepupunya di kepala dengan peluru karet satu jam sebelum aksi tersebut difilmkan.

Ahed Tamimi ditahan karena tindakannya yang terbukti telah menganggu tugas tentara Israel (Israel Defense Forces). Banyak warga Palestina melihatnya sebagai sosok yang dengan tegar berdiri di bawah kendali militer atas West Bank, sementara warga Israel menuduh keluarga Tamimi menggunakan dia sebagai pion.


[Oleh: Bilqis Anggun]


Baca juga: Latar Belakang Ahed Tamimi


Baca juga: Persamaan Ahed Tamimi dengan Para Pejuang Wanita


Baca juga: Respon Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

0

Artikel

latar-belakang-ahed-tamimi


Konflik Palestina-Israel yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun sudah melahirkan banyak sekali tokoh yang menginspirasi bukan hanya di kedua negara tersebut, tapi bahkan dunia. Tokoh-tokoh tersebut tidak semuanya orang dewasa, ada juga anak-anak dan remaja. Mereka lahir untuk memperjuangkan kebebasan.


Di antara mereka, ada Ahed Tamimi, seorang remaja berusia 17 tahun. Video tentangnya sempat viral dan mendapat berbagai pujian karena menunjukkan keberanian Ahed dalam menghadapi tentara Israel. Lalu, siapa sebenarnya Ahed Tamimi ini?


Ahed Tamimi lahir pada tanggal 31 Januari 2001 dari pasangan Baseem (ayah) dan Nariman (ibu) Tamimi di Nabi , Pesisir Barat Palestina. Nabi Salih yang letaknya dua puluh kilometer di utara Yerusalem adalah salah satu wilayah Palestina yang diduduki oleh militer Israel. Para penduduknya sulit mencapai mata air dan rumah sakit meskipun jaraknya dekat. Aktivitas mereka setiap saat diawasi. Di sini, siapa pun, termasuk anak-anak, bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa alasan jelas.



Sang ayah, Bassem Tamimi, merupakan seorang aktivis dan sempat dipenjara pada tahun 2011 dan 2012 karena aksinya mengumpulkan massa untuk melempari pemukiman Israel dengan batu dan melakukan aksi tanpa izin. Menurutnya, aksi pelemparan batu ini merupakan sebuah simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel. Penangkapan Bassem pada 2011 mendapat perhatian dari dunia internasional dan mendapatkan amnesti internasional, membuat Bassem menjadi Prisoner of Conscience.

 

Di umurnya yang masih terbilang belia, Ahed harus merasakan dinginnya jeruji besi. Keluarga Ahed sendiri banyak terlibat dalam banyak protes, demonstrasi, dan aksi-aksi politik. Ahed sendiri dijebloskan ke dalam penjara karena aksinya menampar seorang tentara Israel Untuk itu dia dipenjara selama 8 bulan.

 

Aksi Ahed menampar prajurit Israel itu dilakukan karena prajurit tersebut menerobos ke pekarang rumah Ahed, dan juga sebagai pelampiasan emosi karena salah satu sepupu Ahed yang berumur 15 tahun terkena tembakan di kepala dalam jarak dekat menyusul demonstrasi yang dilakukan di Nabi Salih dalam menentang perluasan pemukiman Israel. Di video yang sempat viral di internet ini, Ahed beserta ibu dan sepupunya yang lain mendekati dua prajurit di luar rumah keluarga Tamimi untuk mengusir mereka. Karena para prajurit tersebut berkeras tidak mau pergi, Ahed pun menampar, menendang, serta mendorong salah satu prajurit.

 

Meskipun kehidupan di penjara bukan pengalaman yang menyenangkan baginya, Ahed bersama dengan perempuan-perempuan lain yang sebaya dengannya mencoba untuk membuat kelompok belajar di dalam penjara. Namun sayangnya pihak penjara tidak mengizinkan itu dan akhirnya mereka terpaksa bubar. Meskipun begitu, Ahed dan teman-temannya tetap membaca buku. Bahkan Ahed menjalani ujian akhir sekolahnya di dalam penjara dan berhasil lulus.

 

Ahed bisa kembali menghirup udara segar di luar penjara setelah dia dibebaskan bersyarat pada 29 Juli 2018. Setelah pembebasannya, Ahed langsung bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas. Beliau menyebutnya sebagai model dari perjuangan kebebasan Palestina.

 

Selain video penamparan prajurit Israel, keberanian Ahed sudah lebih dulu dikenal oleh dunia. Pada tahun 2012, dia mencoba untuk melindungi ibunya saat hendak ditangkap. Saat itu Ahed baru berusia 11 tahun. Lalu dia mulai dikenal oleh khalayak dunia pada tahun yang sama ketika dia memprotes penangkapan kakak lelakinya oleh prajurit Israel dan aksi itu direkam dalam sebuah video yang disebarkan di Internet. Dalam video tersebut, terlihat Ahed yang masih kecil protes kepada seorang prajurit Israel dan mengacungkan kepalan tangannya pada prajurit tersebut. Keberaniannya tersebut membuatnya mendapatkan pujian dari President Mahmoud Abbas.

 

Layaknya remaja-remaja lainnya, Ahed juga tertarik dengan hal-hal normal yang disukai oleh para perempuan pada umurnya. Dia suka dengan pakaian, make up, dan dia juga mengecek akun Instagramnya setiap pagi. Namun dia bukan remaja yang normal. Orangtuanya keluar masuk penjara, dia dan kakaknya juga sudah pernah masuk penjara. Jika saja Ahed lahir di negara lain, dia pasti akan bermain bola. Namun sayangnya dia tidak bisa bermain bola di tempatnya sekarang.

 

Selain cita-citanya untuk negaranya, Palestina, Ahed memiliki cita-cita untuk dirinya sendiri. Dia ingin belajar hukum, lalu bekerja melakukan advokasi untuk Palestina dan berbicara di Persidangan Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda.

 

Kisah seorang Ahed Tamimi sangat mengesankan dan penuh dengan inspirasi. Semenjak pembebasannya, dia kini menjadi seorang juru bicara untuk Palestina yang dia bilang merupakan tugas yang tidak akan mudah dilakukan. Kisahnya ini ditulis dan dipublikasikan di majalah Vogue Arabia edisi bulan Oktober 2018.

 

Ahed telah melakukan kunjungan ke beberapa negara. Saat dia berkunjung ke Spanyol, Ahed Tamimi menjadi tamu kehormatan klub sepak bola raksasa Real Madrid dan mendapatkan hadiah sebuah jersey. Selain itu, saat dia berada di Tunisia, dia dapat bertemu langsung dengan Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi.

 

Atas keberanian yang ditunjukkannya sejak belia, Ahed Tamimi kini menjadi simbol perlawanan baru di Palestina. Jika ditanya berasal dari mana kekuatan seorang Ahed Tamimi, dia akan menjawab, orangtuanya selalu menjadi inspirasi baginya.



[Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Persamaan Ahed Tamimi dengan Para Pejuang Wanita



Baca juga: Respon Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi


Baca juga: Ahed Tamimi: Remaja Pemberani Asal Palestina yang dikenal Dunia


0

Artikel


Ahed-Tamimi

Ahed Tamimi adalah seorang gadis remaja yang namanya menjadi perbincangan orang-orang di seluruh penjuru dunia karena keberaniannya melawan Israel demi kebebasan Palestina. Berasal dari Nabi Salih, Tepi Barat, Palestina, dia menjadi sebuah ikon dan simbol baru untuk perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel. Keberanian Ahed tidak kalah dengan para pejuang wanita lainnya. Ahed mendapatkan banyak pujian atas aksinya, termasuk dari Presiden Mahmoud Abbas. Meskipun masih belia, dia tidak berbeda dengan pejuang wanita lainnya yang lebih senior.


Video yang viral pada tahun 2012 dan 2017 membuat nama Ahed melejit. Di video tahun 2012, Ahed yang baru berusia 11 tahun menunjukkan keberaniannya dengan mengacungkan kepalan tangannya sambil berteriak pada salah satu anggota militer Israel. Diketahui dia melakukan hal tersebut karena saudaranya ditangkap oleh tentara Israel. Lalu di videonya yang terbaru, Ahed yang sudah berumur 16 tahun menampar, memukul dan mendorong salah satu tentara yang menembakkan senapan berisi peluru karet berlapis baja pada sepupunya yang berusia 15 tahun. Insiden penamparan itu terjadi di halaman depan rumah Ahed. Akibatnya, Ahed harus mendekam di balik jeruji besi selama 8 bulan.



Meskipun berada dalam penjara, Ahed berhasil menyelesaikan sekolahnya dan dia membuat sebuah kelompok belajar yang akhirnya dibubarkan oleh otoritas penjara.

Amal Tamimi, aktivis dan juga bibi Ahed, mengatakan bahwa Ahed hanya sedang membela apa yang menjadi haknya, karena insiden tersebut terjadi di depan rumahnya. Amal menambahkan bahwa setiap ibu di Palestina mengajarkan anak-anaknya untuk bisa mempertahankan hak-hak mereka.


Laila-khaled

Ahed Tamimi juga tidak jauh berbeda dengan Leila Khaled, seorang anggota Popular Front for the Liberation of Pilistine atau PFLP. Meskipun aksinya bisa dibilang berbeda tema, namun keberanian mereka berdua bukan main-main. Leila menjadi perempuan pertama yang melakukan pembajakan pesawat dari Roma ke Tel Aviv. Dia menodongkan senapan, yang entah bagaimana caranya berhasil dia selundupkan di Bandara, kepada pilot, dan memintanya untuk memutar pesawat melewati Haifa, tempat lahirnya. Lalu pembajakan keduanya menyebabkan dia harus ditahan di Ealing, London, Inggris. Namun selama ditahan, Leila menjadi tahanan yang baik dan bahkan berteman dengan beberapa anggota polwan di sana.



Ahed dan Leila juga sama-sama menjadi sebuah ikon perlawanan Palestina terhadap Israel. Leila menjadi ikon setelah pembajakannya yang pertama. Karena hal tersebut juga dia harus menjalani enam kali operasi plastik untuk menyembunyikan identitasnya agar dapat menjalankan misinya yang lain. Sedangkan Ahed Tamimi yang beberapa aksinya banyak dipuji orang, membuat presiden Mahmoud Abbas menyatakan kalau Ahed adalah sebuah ikon baru perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel.


Kholoud-Faqih

Karena sekolahnya telah selesai, Ahed bercita-cita agar bisa melanjutkan ke sekolah hukum agar bisa bekerja mengadvokasi Palestina untuk dunia Internasional. Dia juga ingin bekerja di Den Haag menyelesaikan kasus-kasus kriminal perang. Cita-cita Ahed itu mengingatkan kita pada Khouloud yang bisa menjadi hakim pertama wanita di Palestina. Berkat kehebatannya dan pengalaman bertahun-tahun di sebuah agensi yang melindungi perempuan, dia berhasil mengalahkan para kandidat laki-laki. Banyak sekali tokoh Palestina yang sama seperti Ahed Tamimi, mereka memperjuangkan kebebasan dan hak mereka dari penjajahan Israel. Namun, Ahed Tamimi lebih dikenal secara internasional.



Sekarang Ahed menjadi seorang juru bicara untuk Palestina dan diundang ke berbagai negara di dunia. Jika ditanya dari mana Ahed Tamimi mendapatkan kekuatan untuk melakukan semua yang telah dia lewati, dia akan menjawab orang tuanya selalu menjadi inspirasi untuknya.



[ Oleh: Azalea Inestiady ]


Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Baca juga: Meski Dijajah Israel, 3 Wanita Palestina Ini Tak Takut Melawan


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

0

Artikel

Perjuangan rakyat Palestina untuk melawan penjajah Israel tidak pernah berhenti. Setiap orang di sana mau tidak mau harus ikut berjuang melawan penjajahan untuk kebebasan mereka. Tidak heran jika di sana hadir pejuang-pejuang yang tidak kenal lelah untuk memperjuangkan cita-cita mereka menjadi masayarakat yang bebas. Maka dari itu pejuang-pejuang tersebut tidak terbatas pada satu kalangan saja, namun mereka bisa siapa pun.


Dari mulai orang dewasa hingga anak kecil, beragam profesi, mau tidak mau mereka harus ikut melawan untuk merebut kembali.

 

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Tidak hanya laki-laki yang berjuang di sana, wanita yang lahir dan terusir dari tanah airnya pun tidak kalah pemberani. Diantara wanita yang tidak takut untuk melawan tersebut, muncul nama-nama yang menjadi sorotan dunia. Inilah tiga diantaranya.

  1. Leila Khaled

    Nama Leila Khaled sudah tidak asing lagi di dunia internasional. Lahir di Haifa, daerah yang dulunya dikuasai Palestina, dan terusir dari kampung halamannya sendiri karena ini daerah tersebut telah dikuasai oleh Israel. Karena hal tersebut, keluarga Leila pindah ke daerah Lebanon. Saat berumur 15 tahun, Leila bergabung dengan Arab Nationalist Movement yang dibentuk oleh George Habash.


    Di Palestina, cabang pergerakan tersebut menjadi Popular Front for the Liberation of Palestine atau Barisan Rakyat untuk Pembebasan Palestina atau sering disingkat PFLP setelah Perang Enam Hari tahun 1967. Selain itu Leila juga sempat menjadi mahasiswa kedokteran di American University of Beirut.

    Leila menjadi terkenal setelah menjadi perempuan Palestina pertama yang membajak sebuah pesawat. Pembajakannya yang pertama terjadi pada tanggal 29 Agustus 1969. TWA Flight 840 yang harusnya terbang dari Roma menuju Tel Aviv diputarkan menuju Damaskus. Dia memerintahkan pilot pesawat tersebut untuk terbang melewati Haifa, agar dia bisa melihat tempat kelahirannya. Tidak ada yang terluka di pembajakan tersebut, namun setelah penumpang turun, para pembajak meledakan moncong pesawatnya. Setelah pembajakan itu, Leila menjalani enam kali operasi plastic agar dia tidak dikenali dan bisa melanjutkan misi-misinya yang lain dan juga dia tidak ingin menjadi wajah sebuah icon.

    Pembajakan berikutnya dia lakukan di pesawat EI AI Flight 219 tahun 1970. Pesawat yang bertolak dari Amsterdam menuju New York. Pesawat tersebut gagal dia bajak dan Leila berhasil ditangkap. Meskipun Leila mempunyai 2 granat, namun dia tidak ingin menggunakannya karena dia mendapatkan perintah yang sangat ketat agar tidak melukai penumpang di penerbangan.

    Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan, Keren Banget!

    Leila ditahan di Kantor Polisi Ealing di Inggris. Dia kemudian dibebaskan sebagai pertukaran dengan sandera pembajakan lainnya.

    Kabarnya, karakter Warrior Leela di seris Doctor Who terinspirasi dari Leila Khaled.


  2. Ahed Tamimi

    Nama Ahed Tamimi mulai menjadi perhatian publik internasional setelah videonya tahun 2012 mengacungkan kepalan tangan ke aparat Istrael viral. Di video tersebut Ahed dengan berani melawan aparat yang waktu itu menahan saudaranya. Sebelumnya juga di tahun yang sama, Ahed dipuji langsung oleh presiden Mahmoud Abbas karena keberaniannya menghadang aparat yang hendak menangkap ibunya, Nariman Tamimi.

    Namun pada saat berumur 16 tahun, Ahed dijebloskan ke penjara atas tuduhan peneyerangan kepada aparat Israel pada bulan Desember 2017. Video saat dia menampar aparat tersebut juga viral. Ahed melakukah hal tersebut karena kesal sepupunya yang berumur 15 tahun terkena peluru yang ditembakan oleh aparat dalam jarak yang dekat di halaman rumahnya. Ahed dibebaskan bersyarat pada Juli 2018 setelah sebelumnya mendekam di dalam penjara selama 8 bulan. Setelah bebas, Ahed langsung bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas.

    Meskipun begitu, Ahed mengatakan kalau dia sama seperti remaja normal lain yang seumuran dengannya. Dia mengatakan masih suka dengan pakaian dan make up, atau membuka akun Instagram miliknya setiap pagi dan berjalan-jalan di bukit sekitar rumahnya. Namun karena dia merasa harus melawan karena dia ingin membela tanah airnya.

    Baca juga: Respons Warga Dunia terhadap Kasus Ahed Tamimi

     

    Kini Ahed Tamimi menjadi sebuah icon perlawanan terhadap pendudukan Israel atas Palestina.  Dia juga menjadi juru bicara untuk Palestina. Selain Palestina yang bebas, dia juga mempunyai sebuah cita-cita, yaitu sekolah hukum dan melakukan advokasi tingkat tinggi untuk Palestina.

    Kisah Ahed juga dimuat di majalah Vogue Arabia edisi Oktober.


  3. Manal Tamimi

    Manal Tamimi adalah seorang pembela HAM dan merupakan bibi dari Ahed Tamimi. Dia pernah mengatakan bahwa setiap ibu di Palestina adalah seorang aktivis. Dalam wawancaranya bersama Dimitri Lascaris untuk therealnews.com, Manal mengungkapkan bahwa setiap ibu di desanya, Nabi Salih, mengajarkan anaknya untuk berpegang pada setiap haknya.


    Manal dan suaminya, Bilal Tamimi, aktif di sebuah media local di sana. Manal biasanya mengunggah video atau foto yang diambil oleh suaminya dalam setiap aksi. Dia melakukan itu dengan tujuan agar dunia bisa melihat apa yang dilakukan oleh aparat Israel setiap harinya. Semua yang dilakukan olehnya ini adalah untuk generasi muda Palestina agar terus mempertahankan hak-hak mereka.


    Sekarang Manal menyambut setiap aktivis dan Jurnalis yang datang ke Nabi Salih. Dia akan menjadi tuan rumah untuk setiap orang yang datang.




    [Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Baca juga: Israel dan Palestina, Konflik Panas yang Belum Mereda
0

Artikel

Salah satu konflik panjang dan sepertinya tidak akan pernah berakhir di dunia adalah Palestina-Israel. Sebuah konflik antar bangsa yang berlangsung selama bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di wilayah tersebut, namun sudah menjadi perhatian seluruh dunia dan sepertinya mustahil mendapat titik terang untuk perdamaiannya. Namun bagaimana bisa hal ini bisa terjadi? Bagaimana sejarahnya?


Konflik dimulai ketika kongres Zionis sedunia diselenggarakan oleh Theodore Herlz di Basel, Swis. Resolusi dari kongres tersebut menyatakan bahwa Yahudi itu bukan hanya sebatas agama, namun merupakan bangsa yang mempunyai tekad untuk hidup berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi tersebut juga, bangsa Yahudi menuntut sebuah tanah air, yang secara implisit mengacu pada tanah yang bersejarah bagi mereka. Dalam kongres tersebut juga, Herlz mengatakan bahwa zionisme adalah jawaban bagi penindasan dan diskriminasi yang dialami oleh orang Yahudi. Di situ juga dia mengatakan bahw adalam 50 tahun akan ada negara Yahudi.


Lalu pada tahun 1917, menteri luar negeri Inggris, James Balfour, mengeluarkan sebuah deklarasi yang cukup kontroversial. Deklarasi itu memberitahu seorang tokoh Yahudi kenamaan di Inggris, Rothschild, bahwa Inggris akan mendirikan pemukiman untuk orang Yahudi di daerah Palestina.

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Sebelumnya, pada tahun 1916, Inggris dan Perancis membuat sebuah perjanjian rahasia yang disetujui oleh kerajaan Rusia yang disebut Perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian ini namanya diambil dari dua diplomat yang menandatanganinya, Sir Mark Sykes dan François Georges-Picot. Perjanjian itu berisi pembagian daerah Asia Barat Daya setelah jatuhnya Kerajaan Ustmaniah pada Perang Dunia I. Perjanjian ini membagi daerah-daerah di luar Jazirah Arab untuk menentukan daerah mana yang akan berada di bawah kendali Inggris dan Perancis. Rusia tidak melanjutkan isi perjanjian karena pecahnya Revolusi Bolshevik. Namun pada bulan Oktober 1916, para pejuang Bolshevik mempublikasikan isi perjanjian ini yang tentunya membuat pihak Arab marah. Dari perjanjian ini, Inggris mendapat kendali atas Palestina.

Tahun 1947, PBB merekomendasikan pembagian wilayah menjadi dua negara, Arab dan Israel. Ide tersebut tentu saja ditolak oleh bangsa Arab. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel mengumumkan dirinya sebagai negara Yahudi. Hal tersebut tentu saja menyulut Liga Arab.

Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Perang Arab-Israel terjadi sehari setelah proklamasi negara Yahudi. Perang ini merupakan konflik bersenjata yang pertama.  Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Israel dan mereka berhasil merebut lebih banyak daerah dari yang PBB rekomendasikan sebelumnya.

Setahun setelahnya, Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah melakukan gencatan senjata dengan Israel, menandai berakhirnya perang Arab-Israel 1948. Selain itu juga, gencatan senjata ini dilakukan dengan menentukan batas wilayah sementara yang disebut garis hijau yang berlaku sampai meletusnya perang enam hari tahun 1967. Hal ini membuat banyak orang Palestina terpaksa mengungsi keluar dari tanah airnya.

Tahun 1956, Israel dibantu oleh Inggris dan Perancis menyerang Sinai dengan tujuan menguasai Terusan Suez. Bagi Inggris, terusan ini adalah terusan yang penting karena menghubungkan dengan koloninya di luar seperti India, Australia, dan Selandia Baru.


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

Tahun 1967, perang kembali meletus antara Israel dan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dibantu oleh Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, dan Aljazair. Perang itu disebut Perang Enam Hari atau Six Days War. Perang ini terjadi karena Mesir mengusir United Nation Emergency Force (UNEF) dari Sinai setelah invasi dari Israel. Israel dapat memukul mundur kekuatan militer tersebut dan menang. Lalu gencatan senjata dilakukan dan Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Sampai sekarang hasil dari perang ini masih berpengaruh.


Tahun 1993, dilakukan perjanjian Oslo antara Palestina, yang diwakili oleh Yasser Arafat, dan Israel, yang diwakil ioleh Yitzhak Rabin. Dalam perjanjian itu, masing-masing pihak bersepakat untuk mengakui kedaulatan masing-masing. Pasukan Israel akan ditarik dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberikan kesempatan untuk Palestina menjalankan sebuah lembaga semiotonom di wilayah tersebut.


Tahun 2000, dilakukan pertemuan antara pihak Palestina dan Israel yang ditengahi oleh Amerika Serikat yang disebut KTT Camp David 2000 atau Camp David Summit 2000. Namun sayangnya, negosiasinya tidak berhasil, dan akhirnya KTT ini tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sejarah singkat konflik antara Palestina dan Israel. Meskipun banyak pelanggaran HAM dan korban melayang di sana, jalan damai masih tetap diupayakan bukan hanya oleh kedua belah pihak, namun seluruh dunia juga mengupayakan hal tersebut.





[Oleh: Logika Anbiya]


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

0

Artikel

Konflik panjang antara Palestina dan Israel mempengaruhi kehidupan setiap orang yang tinggal di wilayah tersebut. Tidak heran jika banyak sekali orang-orang hebat yang lahir di Palestina. Mereka tidak hanya berpengaruh di wilayahnya, namun seisi dunia juga merasakannya. Berikut adalah 5 orang Palestina yang terkenal.

  1. Amin al-Husseini

    tokoh-Palestina-Amin-al-Husseini

    Dia merupakan seorang mufti atau pemimpin muslim di Mandat Inggris Atas Palestina tahun 1921– 1974. Dia merupakan keturunan tokoh penting di Yerusalem, yang mempunyai hubungan dengan cucu Nabi Muhammad SAW.


    Di masa Perang Dunia 1, Amin al-Husseini mengabdi di militer Otoman. Di akhir peperangan, dia ditempatkan di Damascus untuk mendukung Kerajaan Arab Suriah. Kepindahannya ke Yerusalem mengubah ideologinya dari pan-Arabisme menjadi nasionalisme untuk Palestina.


    Amin al-Husseini sempat dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun karena terlibat dalam Kerusuhan Nebi Musa di Yerusalem pada tahun 1920 sebagai pemimpin aksi tersebut. Namun dia dibebaskan oleh pihak Inggris.


    Setahun setelahnya, tahun 1921, Komisaris Tinggi Inggris, Sir Herbert Louis Samuel, menunjuknya sebagai Grand Mufti of Jerusalem. Posisi tersebut dia gunakan sebagai cara untuk mempromosikan islam.


    Pihak Inggris menganggap Amin al-Husseini sebagai seorang sekutu penting. Namun, hubungan tersebut meruncing ketika Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939. Dia meninggalkan Palestina dan mengungsi ke Lebanon dan Kerajaan Iraq pada tahun 1937 sampai akhirnya membangun hubungan dengan Fasist Italia dan Nazi Jerman. Selama bekerja sama dengan Itali dan Jerman, Amin al-Husseini membuat sebuah broadcast radio propaganda anti Inggris dan anti zionisme.

    Dia meninggal di Beirut, Lebanon pada Bulan Juli tahun 1974.


  2. Sheikh Ahmed Yassin


    tokoh-palestina-Sheikh-Ahmed-Yassin

    Dia adalah seorang imam di Palestina dan pendiri Hamas. Lahir di al-Jura pada tanggal 1 Januari 1937, Ahmed Yassin ketika masih kecil terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan mengungsi ke Gaza setelah tempat tinggalnya dikuasai oleh tentara Israel. Ketika mengungsi, dia mengalami cedera setelah bergulat dengan temannya, membuat dia menderita quadriplegia dan harus memakai kursi roda sepanjang hidupnya.

    Meskipun tidak dapat melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir, Ahmed Yassin belajar melalui membaca buku. Buku-buku yang dibacanya antara lain filosofi, agama, politik, ekonomi, dan sosiologi. Semua pengetahuan tersebut membuatnya menjadi salah satu pembicara terbaik di Gaza. Selain itu dia juga mendapatkan pekerjaan sebagai guru Bahasa Arab di sebuah sekolah. Karena mempunyai pekerjaan tetap dan stabil secara ekonomi, Ahmed Yassin akhirnya menikah dengan Halima Yassin dan mempunyai 11 anak.


    Tahun 1979 saat Intifada Pertama, Ahmed Yassin bersama dengan Abdel Aziz al-Rantissi mendirikan Hamas yang pada awalnya mereka sebut sayap paramiliter dari Brotherhood Muslim Palestina dan menjadi pemimpin spiritualnya.


    Syeikh Ahmed Yassin meninggal pada 22 Maret 2004 akibat serang rudal dari helikopter tentara Israel saat dirinya sedang diantar menuju masjid untuk shalat subuh.


  3. Edward Said



    Dia adalah seorang warga Amerika keturunan Palestina dan merupakan professor sastra di Universitas Columbia. Edward Said lahir di Yerusalem tanggal 1 November 1935 dan mendapatkan kewarganegaraan Amerika dari ayahnya yang merupakan seorang veteran. Ayahnya, Wadie Said, adalah seorang pengusaha di Yerusalem dan sempat menjadi tentara Amerika dibawah komando Jendral John. J Pershing. Lalu ibunya, Hilda Said, adalah seorang Arab Kristen yang lahir dan dibesarkan di Nazareth, Kekaisaran Otoman.


    Edward Said adalah penemu bidang akademik post kolonialisme. Dia mulai terkenal lewat bukunya Orientalism. Sebuah kritik terhadap representasi budaya berdasarkan orientalisme, bagaimana dunia barat melihat dunia timur.

  4. George Habash

    tokoh-palestina-George-habash

    George Habash adalah orang yang membentuk kelompok nasionalis sekuler sayap kiri Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina atau Popular Front for The Liberation of Palestine (PFLP). PFLP merupakan organisasi yang cukup aktif dan memiliki banyak anggota yang terkenal, salah satunya yaitu Leila Khaled. George Habash sendiri menjabat sampai sebagai Sekretaris Jendral sampai tahun 2000 dia dipaksa turun karena kesehatannya memburuk.


    George Habash lahir di Lydda (sekarang Lod) di Keluarga ortodok timur Palestina. Saat berkuliah di Universitas Amerika Beirut, George kembali ke Lydda untuk mengunjungi keluarganya di tengah-tengah peperangan. Lydda akhirnya diambil alih oleh tentara Israel dan semua orang Arab dipaksa untuk keluar dari daerah tersebut. Saudari perempuan George meninggal saat itu terjadi.


    Setelah lulus kuliah kedokteran, George dan Wadie Hadad bekerja di kamp pengungsi. Mereka membangun sebuah klinik di Amman. Saat itu dia percaya  bahwa negara Israel harus segera dihentikan. Karena itu dia membentuk Gerakan Nasionalis Arab atau Arab Nasionalist Movement (ANM) tahun 1951 dan bersekutu dengan Gamal Abdul Nasser. Gerakan inilah yang nantinya akan menjadi PFLP.


  5. Yasser Arafat

    tokoh-palestina-yasser-arafat

    Yasser Arafat lahir di Kairo, Mesir, dari orang tua Palestina pada 24 Agustus 1929. Ketika kecil, dia harus tinggal bersama pamannya di Yerusalem karena ibunya meninggal saat dia berumur 5 tahun. Saat berkuliah di Universitas King Fuad di Kairo, dia mendalami ilmu Judaisme dan Zionisme. Hal tersebut malah membuatnya menjadi seorang nasionalis Arab. Hal tersebut dia tunjukkan ketika dia sementara waktu berhenti kuliah dan ikut bertempur di Palestina. Sekembalinya ke kampus, dia membentuk organisasi mahasiswa Union of Palestinian Student.


    Gerakan People Liberation Organization (PLO) milik Arafat juga mendapat banyak dukungan. Bersama rekannya dari Kuwait, dia membentuk Al-Fatah yang memiliki kekuatan militer. Namun sayang PLO harus hijrah ke Tunisia karena gempuran dari Israel yang terus menerus.


    Tahun 1994 Arafar mendapatkan hadiah Nobel untuk negosiasi di Oslo. Selama masa itu, Arafat lebih memilih untuk berjuang di jalan perdamaian. Pada tahun itu juga dia kembali ke Palestina dan dua tahun selanjutnya menjabat sebagai Presiden.

Palestina, dengan segala pergolakan yang ada di sana masih bisa menghasilkan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang berpengaruh di dunia, begitu pula dengan Indonesia. Kondisi Indonesia yang bebas merdeka pasti bisa melahirkan tokoh-tokoh tak kalah luar biasa dengan semangat juang yang harus dijaga. 




[Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Asal Palestina yang Dikenal Dunia


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

0

X