fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

Perjuangan rakyat Palestina untuk melawan penjajah Israel tidak pernah berhenti. Setiap orang di sana mau tidak mau harus ikut berjuang melawan penjajahan untuk kebebasan mereka. Tidak heran jika di sana hadir pejuang-pejuang yang tidak kenal lelah untuk memperjuangkan cita-cita mereka menjadi masayarakat yang bebas. Maka dari itu pejuang-pejuang tersebut tidak terbatas pada satu kalangan saja, namun mereka bisa siapa pun.


Dari mulai orang dewasa hingga anak kecil, beragam profesi, mau tidak mau mereka harus ikut melawan untuk merebut kembali.

 

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Tidak hanya laki-laki yang berjuang di sana, wanita yang lahir dan terusir dari tanah airnya pun tidak kalah pemberani. Diantara wanita yang tidak takut untuk melawan tersebut, muncul nama-nama yang menjadi sorotan dunia. Inilah tiga diantaranya.

  1. Leila Khaled

    Nama Leila Khaled sudah tidak asing lagi di dunia internasional. Lahir di Haifa, daerah yang dulunya dikuasai Palestina, dan terusir dari kampung halamannya sendiri karena ini daerah tersebut telah dikuasai oleh Israel. Karena hal tersebut, keluarga Leila pindah ke daerah Lebanon. Saat berumur 15 tahun, Leila bergabung dengan Arab Nationalist Movement yang dibentuk oleh George Habash.


    Di Palestina, cabang pergerakan tersebut menjadi Popular Front for the Liberation of Palestine atau Barisan Rakyat untuk Pembebasan Palestina atau sering disingkat PFLP setelah Perang Enam Hari tahun 1967. Selain itu Leila juga sempat menjadi mahasiswa kedokteran di American University of Beirut.

    Leila menjadi terkenal setelah menjadi perempuan Palestina pertama yang membajak sebuah pesawat. Pembajakannya yang pertama terjadi pada tanggal 29 Agustus 1969. TWA Flight 840 yang harusnya terbang dari Roma menuju Tel Aviv diputarkan menuju Damaskus. Dia memerintahkan pilot pesawat tersebut untuk terbang melewati Haifa, agar dia bisa melihat tempat kelahirannya. Tidak ada yang terluka di pembajakan tersebut, namun setelah penumpang turun, para pembajak meledakan moncong pesawatnya. Setelah pembajakan itu, Leila menjalani enam kali operasi plastic agar dia tidak dikenali dan bisa melanjutkan misi-misinya yang lain dan juga dia tidak ingin menjadi wajah sebuah icon.

    Pembajakan berikutnya dia lakukan di pesawat EI AI Flight 219 tahun 1970. Pesawat yang bertolak dari Amsterdam menuju New York. Pesawat tersebut gagal dia bajak dan Leila berhasil ditangkap. Meskipun Leila mempunyai 2 granat, namun dia tidak ingin menggunakannya karena dia mendapatkan perintah yang sangat ketat agar tidak melukai penumpang di penerbangan.

    Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan, Keren Banget!

    Leila ditahan di Kantor Polisi Ealing di Inggris. Dia kemudian dibebaskan sebagai pertukaran dengan sandera pembajakan lainnya.

    Kabarnya, karakter Warrior Leela di seris Doctor Who terinspirasi dari Leila Khaled.


  2. Ahed Tamimi

    Nama Ahed Tamimi mulai menjadi perhatian publik internasional setelah videonya tahun 2012 mengacungkan kepalan tangan ke aparat Istrael viral. Di video tersebut Ahed dengan berani melawan aparat yang waktu itu menahan saudaranya. Sebelumnya juga di tahun yang sama, Ahed dipuji langsung oleh presiden Mahmoud Abbas karena keberaniannya menghadang aparat yang hendak menangkap ibunya, Nariman Tamimi.

    Namun pada saat berumur 16 tahun, Ahed dijebloskan ke penjara atas tuduhan peneyerangan kepada aparat Israel pada bulan Desember 2017. Video saat dia menampar aparat tersebut juga viral. Ahed melakukah hal tersebut karena kesal sepupunya yang berumur 15 tahun terkena peluru yang ditembakan oleh aparat dalam jarak yang dekat di halaman rumahnya. Ahed dibebaskan bersyarat pada Juli 2018 setelah sebelumnya mendekam di dalam penjara selama 8 bulan. Setelah bebas, Ahed langsung bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas.

    Meskipun begitu, Ahed mengatakan kalau dia sama seperti remaja normal lain yang seumuran dengannya. Dia mengatakan masih suka dengan pakaian dan make up, atau membuka akun Instagram miliknya setiap pagi dan berjalan-jalan di bukit sekitar rumahnya. Namun karena dia merasa harus melawan karena dia ingin membela tanah airnya.

    Baca juga: Respons Warga Dunia terhadap Kasus Ahed Tamimi

     

    Kini Ahed Tamimi menjadi sebuah icon perlawanan terhadap pendudukan Israel atas Palestina.  Dia juga menjadi juru bicara untuk Palestina. Selain Palestina yang bebas, dia juga mempunyai sebuah cita-cita, yaitu sekolah hukum dan melakukan advokasi tingkat tinggi untuk Palestina.

    Kisah Ahed juga dimuat di majalah Vogue Arabia edisi Oktober.


  3. Manal Tamimi

    Manal Tamimi adalah seorang pembela HAM dan merupakan bibi dari Ahed Tamimi. Dia pernah mengatakan bahwa setiap ibu di Palestina adalah seorang aktivis. Dalam wawancaranya bersama Dimitri Lascaris untuk therealnews.com, Manal mengungkapkan bahwa setiap ibu di desanya, Nabi Salih, mengajarkan anaknya untuk berpegang pada setiap haknya.


    Manal dan suaminya, Bilal Tamimi, aktif di sebuah media local di sana. Manal biasanya mengunggah video atau foto yang diambil oleh suaminya dalam setiap aksi. Dia melakukan itu dengan tujuan agar dunia bisa melihat apa yang dilakukan oleh aparat Israel setiap harinya. Semua yang dilakukan olehnya ini adalah untuk generasi muda Palestina agar terus mempertahankan hak-hak mereka.


    Sekarang Manal menyambut setiap aktivis dan Jurnalis yang datang ke Nabi Salih. Dia akan menjadi tuan rumah untuk setiap orang yang datang.




    [Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Baca juga: Israel dan Palestina, Konflik Panas yang Belum Mereda
0

Artikel

Salah satu konflik panjang dan sepertinya tidak akan pernah berakhir di dunia adalah Palestina-Israel. Sebuah konflik antar bangsa yang berlangsung selama bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di wilayah tersebut, namun sudah menjadi perhatian seluruh dunia dan sepertinya mustahil mendapat titik terang untuk perdamaiannya. Namun bagaimana bisa hal ini bisa terjadi? Bagaimana sejarahnya?


Konflik dimulai ketika kongres Zionis sedunia diselenggarakan oleh Theodore Herlz di Basel, Swis. Resolusi dari kongres tersebut menyatakan bahwa Yahudi itu bukan hanya sebatas agama, namun merupakan bangsa yang mempunyai tekad untuk hidup berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi tersebut juga, bangsa Yahudi menuntut sebuah tanah air, yang secara implisit mengacu pada tanah yang bersejarah bagi mereka. Dalam kongres tersebut juga, Herlz mengatakan bahwa zionisme adalah jawaban bagi penindasan dan diskriminasi yang dialami oleh orang Yahudi. Di situ juga dia mengatakan bahw adalam 50 tahun akan ada negara Yahudi.


Lalu pada tahun 1917, menteri luar negeri Inggris, James Balfour, mengeluarkan sebuah deklarasi yang cukup kontroversial. Deklarasi itu memberitahu seorang tokoh Yahudi kenamaan di Inggris, Rothschild, bahwa Inggris akan mendirikan pemukiman untuk orang Yahudi di daerah Palestina.

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Sebelumnya, pada tahun 1916, Inggris dan Perancis membuat sebuah perjanjian rahasia yang disetujui oleh kerajaan Rusia yang disebut Perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian ini namanya diambil dari dua diplomat yang menandatanganinya, Sir Mark Sykes dan François Georges-Picot. Perjanjian itu berisi pembagian daerah Asia Barat Daya setelah jatuhnya Kerajaan Ustmaniah pada Perang Dunia I. Perjanjian ini membagi daerah-daerah di luar Jazirah Arab untuk menentukan daerah mana yang akan berada di bawah kendali Inggris dan Perancis. Rusia tidak melanjutkan isi perjanjian karena pecahnya Revolusi Bolshevik. Namun pada bulan Oktober 1916, para pejuang Bolshevik mempublikasikan isi perjanjian ini yang tentunya membuat pihak Arab marah. Dari perjanjian ini, Inggris mendapat kendali atas Palestina.

Tahun 1947, PBB merekomendasikan pembagian wilayah menjadi dua negara, Arab dan Israel. Ide tersebut tentu saja ditolak oleh bangsa Arab. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel mengumumkan dirinya sebagai negara Yahudi. Hal tersebut tentu saja menyulut Liga Arab.

Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Perang Arab-Israel terjadi sehari setelah proklamasi negara Yahudi. Perang ini merupakan konflik bersenjata yang pertama.  Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Israel dan mereka berhasil merebut lebih banyak daerah dari yang PBB rekomendasikan sebelumnya.

Setahun setelahnya, Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah melakukan gencatan senjata dengan Israel, menandai berakhirnya perang Arab-Israel 1948. Selain itu juga, gencatan senjata ini dilakukan dengan menentukan batas wilayah sementara yang disebut garis hijau yang berlaku sampai meletusnya perang enam hari tahun 1967. Hal ini membuat banyak orang Palestina terpaksa mengungsi keluar dari tanah airnya.

Tahun 1956, Israel dibantu oleh Inggris dan Perancis menyerang Sinai dengan tujuan menguasai Terusan Suez. Bagi Inggris, terusan ini adalah terusan yang penting karena menghubungkan dengan koloninya di luar seperti India, Australia, dan Selandia Baru.


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

Tahun 1967, perang kembali meletus antara Israel dan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dibantu oleh Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, dan Aljazair. Perang itu disebut Perang Enam Hari atau Six Days War. Perang ini terjadi karena Mesir mengusir United Nation Emergency Force (UNEF) dari Sinai setelah invasi dari Israel. Israel dapat memukul mundur kekuatan militer tersebut dan menang. Lalu gencatan senjata dilakukan dan Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Sampai sekarang hasil dari perang ini masih berpengaruh.


Tahun 1993, dilakukan perjanjian Oslo antara Palestina, yang diwakili oleh Yasser Arafat, dan Israel, yang diwakil ioleh Yitzhak Rabin. Dalam perjanjian itu, masing-masing pihak bersepakat untuk mengakui kedaulatan masing-masing. Pasukan Israel akan ditarik dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberikan kesempatan untuk Palestina menjalankan sebuah lembaga semiotonom di wilayah tersebut.


Tahun 2000, dilakukan pertemuan antara pihak Palestina dan Israel yang ditengahi oleh Amerika Serikat yang disebut KTT Camp David 2000 atau Camp David Summit 2000. Namun sayangnya, negosiasinya tidak berhasil, dan akhirnya KTT ini tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sejarah singkat konflik antara Palestina dan Israel. Meskipun banyak pelanggaran HAM dan korban melayang di sana, jalan damai masih tetap diupayakan bukan hanya oleh kedua belah pihak, namun seluruh dunia juga mengupayakan hal tersebut.





[Oleh: Logika Anbiya]


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

0

Artikel

Konflik panjang antara Palestina dan Israel mempengaruhi kehidupan setiap orang yang tinggal di wilayah tersebut. Tidak heran jika banyak sekali orang-orang hebat yang lahir di Palestina. Mereka tidak hanya berpengaruh di wilayahnya, namun seisi dunia juga merasakannya. Berikut adalah 5 orang Palestina yang terkenal.

  1. Amin al-Husseini

    tokoh-Palestina-Amin-al-Husseini

    Dia merupakan seorang mufti atau pemimpin muslim di Mandat Inggris Atas Palestina tahun 1921– 1974. Dia merupakan keturunan tokoh penting di Yerusalem, yang mempunyai hubungan dengan cucu Nabi Muhammad SAW.


    Di masa Perang Dunia 1, Amin al-Husseini mengabdi di militer Otoman. Di akhir peperangan, dia ditempatkan di Damascus untuk mendukung Kerajaan Arab Suriah. Kepindahannya ke Yerusalem mengubah ideologinya dari pan-Arabisme menjadi nasionalisme untuk Palestina.


    Amin al-Husseini sempat dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun karena terlibat dalam Kerusuhan Nebi Musa di Yerusalem pada tahun 1920 sebagai pemimpin aksi tersebut. Namun dia dibebaskan oleh pihak Inggris.


    Setahun setelahnya, tahun 1921, Komisaris Tinggi Inggris, Sir Herbert Louis Samuel, menunjuknya sebagai Grand Mufti of Jerusalem. Posisi tersebut dia gunakan sebagai cara untuk mempromosikan islam.


    Pihak Inggris menganggap Amin al-Husseini sebagai seorang sekutu penting. Namun, hubungan tersebut meruncing ketika Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939. Dia meninggalkan Palestina dan mengungsi ke Lebanon dan Kerajaan Iraq pada tahun 1937 sampai akhirnya membangun hubungan dengan Fasist Italia dan Nazi Jerman. Selama bekerja sama dengan Itali dan Jerman, Amin al-Husseini membuat sebuah broadcast radio propaganda anti Inggris dan anti zionisme.

    Dia meninggal di Beirut, Lebanon pada Bulan Juli tahun 1974.


  2. Sheikh Ahmed Yassin


    tokoh-palestina-Sheikh-Ahmed-Yassin

    Dia adalah seorang imam di Palestina dan pendiri Hamas. Lahir di al-Jura pada tanggal 1 Januari 1937, Ahmed Yassin ketika masih kecil terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan mengungsi ke Gaza setelah tempat tinggalnya dikuasai oleh tentara Israel. Ketika mengungsi, dia mengalami cedera setelah bergulat dengan temannya, membuat dia menderita quadriplegia dan harus memakai kursi roda sepanjang hidupnya.

    Meskipun tidak dapat melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir, Ahmed Yassin belajar melalui membaca buku. Buku-buku yang dibacanya antara lain filosofi, agama, politik, ekonomi, dan sosiologi. Semua pengetahuan tersebut membuatnya menjadi salah satu pembicara terbaik di Gaza. Selain itu dia juga mendapatkan pekerjaan sebagai guru Bahasa Arab di sebuah sekolah. Karena mempunyai pekerjaan tetap dan stabil secara ekonomi, Ahmed Yassin akhirnya menikah dengan Halima Yassin dan mempunyai 11 anak.


    Tahun 1979 saat Intifada Pertama, Ahmed Yassin bersama dengan Abdel Aziz al-Rantissi mendirikan Hamas yang pada awalnya mereka sebut sayap paramiliter dari Brotherhood Muslim Palestina dan menjadi pemimpin spiritualnya.


    Syeikh Ahmed Yassin meninggal pada 22 Maret 2004 akibat serang rudal dari helikopter tentara Israel saat dirinya sedang diantar menuju masjid untuk shalat subuh.


  3. Edward Said



    Dia adalah seorang warga Amerika keturunan Palestina dan merupakan professor sastra di Universitas Columbia. Edward Said lahir di Yerusalem tanggal 1 November 1935 dan mendapatkan kewarganegaraan Amerika dari ayahnya yang merupakan seorang veteran. Ayahnya, Wadie Said, adalah seorang pengusaha di Yerusalem dan sempat menjadi tentara Amerika dibawah komando Jendral John. J Pershing. Lalu ibunya, Hilda Said, adalah seorang Arab Kristen yang lahir dan dibesarkan di Nazareth, Kekaisaran Otoman.


    Edward Said adalah penemu bidang akademik post kolonialisme. Dia mulai terkenal lewat bukunya Orientalism. Sebuah kritik terhadap representasi budaya berdasarkan orientalisme, bagaimana dunia barat melihat dunia timur.

  4. George Habash

    tokoh-palestina-George-habash

    George Habash adalah orang yang membentuk kelompok nasionalis sekuler sayap kiri Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina atau Popular Front for The Liberation of Palestine (PFLP). PFLP merupakan organisasi yang cukup aktif dan memiliki banyak anggota yang terkenal, salah satunya yaitu Leila Khaled. George Habash sendiri menjabat sampai sebagai Sekretaris Jendral sampai tahun 2000 dia dipaksa turun karena kesehatannya memburuk.


    George Habash lahir di Lydda (sekarang Lod) di Keluarga ortodok timur Palestina. Saat berkuliah di Universitas Amerika Beirut, George kembali ke Lydda untuk mengunjungi keluarganya di tengah-tengah peperangan. Lydda akhirnya diambil alih oleh tentara Israel dan semua orang Arab dipaksa untuk keluar dari daerah tersebut. Saudari perempuan George meninggal saat itu terjadi.


    Setelah lulus kuliah kedokteran, George dan Wadie Hadad bekerja di kamp pengungsi. Mereka membangun sebuah klinik di Amman. Saat itu dia percaya  bahwa negara Israel harus segera dihentikan. Karena itu dia membentuk Gerakan Nasionalis Arab atau Arab Nasionalist Movement (ANM) tahun 1951 dan bersekutu dengan Gamal Abdul Nasser. Gerakan inilah yang nantinya akan menjadi PFLP.


  5. Yasser Arafat

    tokoh-palestina-yasser-arafat

    Yasser Arafat lahir di Kairo, Mesir, dari orang tua Palestina pada 24 Agustus 1929. Ketika kecil, dia harus tinggal bersama pamannya di Yerusalem karena ibunya meninggal saat dia berumur 5 tahun. Saat berkuliah di Universitas King Fuad di Kairo, dia mendalami ilmu Judaisme dan Zionisme. Hal tersebut malah membuatnya menjadi seorang nasionalis Arab. Hal tersebut dia tunjukkan ketika dia sementara waktu berhenti kuliah dan ikut bertempur di Palestina. Sekembalinya ke kampus, dia membentuk organisasi mahasiswa Union of Palestinian Student.


    Gerakan People Liberation Organization (PLO) milik Arafat juga mendapat banyak dukungan. Bersama rekannya dari Kuwait, dia membentuk Al-Fatah yang memiliki kekuatan militer. Namun sayang PLO harus hijrah ke Tunisia karena gempuran dari Israel yang terus menerus.


    Tahun 1994 Arafar mendapatkan hadiah Nobel untuk negosiasi di Oslo. Selama masa itu, Arafat lebih memilih untuk berjuang di jalan perdamaian. Pada tahun itu juga dia kembali ke Palestina dan dua tahun selanjutnya menjabat sebagai Presiden.

Palestina, dengan segala pergolakan yang ada di sana masih bisa menghasilkan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang berpengaruh di dunia, begitu pula dengan Indonesia. Kondisi Indonesia yang bebas merdeka pasti bisa melahirkan tokoh-tokoh tak kalah luar biasa dengan semangat juang yang harus dijaga. 




[Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Asal Palestina yang Dikenal Dunia


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

0

X