fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

Kemerdekaan berarti keadaan berdiri sendiri, bebas, lepas, dan tidak terjajah. Kemerdekaan bukan hanya berarti kebebasan suatu Negara terhadap Negara lain yang menjajahnya. Melainkan juga kemerdekaan mengenai kebebasan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan hal lainnya. Tugas memperjuangkan kemerdekaan tidak pandang bulu, baik laki-laki atau perempuan, muda atau pun tua, berkewajiban melakukannya.

Selain Ahed Tamimi, gadis berani yang menjadi ikon perlawanan Palestina terhadap Israel, terdapat juga wanita-wanita pejuang kemerdekaan di berbagai dunia. Ada wanita yang ikut bertempur langsung di medan perang, ada pula yang menjadi penasehat dan melakukan diplomasi politik dalam mewujudkan kemerdekaan.

Berikut ini 7 wanita pejuang kemerdekaan dari berbagai Negara di dunia.

  1. Joan of Arc

    Joan of Arc - Buku Ahed Tamimi

    Jeanne d’Arc atau yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Joan of Arc, merupakan pahlawan Negara Perancis. Dalam agama Katolik, dirinya dianggap sebagai seorang yang suci dan dijuluki La Pucelle yang berarti sang dara atau sang perawan. Joan of Arc mengaku mendapat pencerahan yang dipercayainya berasal dari Tuhan.

    Hal itu digunakan untuk membangkitkan semangat pasukan Charles VII dalam upaya merebut kembali bekas wilayah kekuasaan Perancis yang dikuasai Inggris dan Burgundi pada masa Perang Seratus Tahun.

    Joan of Arc menjadi terkenal karena perjuangannya yang berhasil membebaskan kota Orleans dalam waktu hanya sembilan hari. Strategi peperangan yang dianut Joan of Arc berbeda dengan pasukan lainnya yaitu penyerangan frontal terhadap benteng pertahanan musuh.

  2. Loretta Perfectus Walsh

    Loretta Perfectus Walsh-Buku Ahed Tamimi

    Loretta Perfectus Walsh merupakan wanita pertama yang terdaftar sebagai seorang tentara Angkatan Laut Amerika Serikat. Loretta menjadi salah satu ahli strategi pertempuran laut yang ikut andil dalam pertempuran melawan Jerman di front Pasifik. Loretta berhasil menumbangkan  lima kapal tempur pada perang laut dengan Jerman.

    Di saat wanita lainnya terjun sebagai perawat, Loretta mengambil pilihan yang berbeda. Pada awal tahun 1917, Loretta mendaftarkan dirinya di Angkatan Laut menjadi seorang Yeomanettes  yang bertugas dalam posisi administratif. Loretta merupakan wanita pertama penerima hak dalam Dunia Perang Pertama dengan manfaat dan tanggung jawab yang sama dengan pria, termasuk bayaran yang sama.

  3. Djamila Bouhired


    Djamila Bouhired - Buku Ahed Tamimi

    Wanita asal Aljazair ini melakukan perlawanan terhadap pendudukan Prancis di Aljazair. Bersama para mahasiswa Aljazair lainnya, Djamila tergabung dalam front pembebasan Aljazair. Tak hanya melalui jalur diplomasi, Djamila kerap aktif dalam jalur baku tembak dengan  pasukanPrancis.

    Djamila yang lahir dari keluarga menengah, mendapatkan hak pendidikannya di sekolah Prancis. Kala itu, ketika semua murid Aljazair harus mengulang sebuah kalimat “France is our mother“, Djamila menolak dan meneriakkan “Algeria is our mother” yang membuat dirinya dihukum. Sifat nasionalisme Djamila berkembang dari keluarganya.

    Kakaknya sendiri sudah tergabung dalam gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan Aljazair.

  4. Kasturba Gandhi

    Kasturba Gandhi - Buku Ahed Tamimi

    Istri dari pemimpin gerakan kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, ini juga mempunyai peran dalam pergerakan kemerdekaan India. Kasturba melakukan kampanye untuk memperjuangkan hak masyarakat sipil dan kemerdekaan India dari Inggris.

    Menikah di usia yang muda tidak menghalangi Kasturba untuk menjadi seorang pejuang kemerdekaan  melalui kampanye dan diplomasi politik.  Dia  bersama suaminya mengunjungi Afrika untuk menjadi aktivis di Phoenix Settlement, organisasi yang mengurus persamaan hak dan kewajiban kerja bagi masyarakat India di Afrika Selatan.

    Bekerja bersama suaminya membuat sosok Kasturba dikagumi dan memberikan inspirasi untuk wanita-wanita India lainnya dalam gerakan kemerdekaan.

  5. Dolores Huerta


    Dolores Huerta - Buku Ahed Tamimi

    Bernama lengkap Dolores Clara Fernandez Huerta, wanita kelahiran New Mexico ini merupakan pemimpin serikat buruh Amerika dan aktivis pejuang hak asasi. Bersama Cesar Chavez, dia mendirikan United Farm Workers.

    Dolores membantu mengorganisir pemogokan pekerja kebun anggur di Delano tahun 1965 di California dan menjadi pemimpin negosiator dalam kontrak  pekerja yang diciptakan setelah aksi pemogokan.

    Sepak terjang Dolores dimulai saat dirinya masih duduk di bangku sekolah Stockton High School. Aktif mengikuti berbagai klub di sekolah dan mempunyai pengalaman dibedakan karena rasnya, membuat Dolores percaya bahwa lingkungan sosial harus diubah. Dirinya terjun dalam kegiatan aktivis membela hak buruh dan telah menerima banyak penghargaan atas jasa dan usahanya.

     

  6. Laksamana Malahayati

    Laksamana Malahayati - Buku Ahed Tamimi

    Nama aslinya adalah Keumalahayati. Pejuang perempuan yang berasal dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1585 – 1604, Malahayati memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Sitana Pangila Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alaudiin Riayat Syah IV.

    Malahayati  mendapatkan gelar Laksamana setelah dirinya melakukan pertempuran satu lawan satu dengan Cornelis de Houtman di geladak kapal Belanda. Pertempuran yang pecah pada 11 September 1599, Malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid)berperang melawan kapal dan benteng Belanda.


  7. Raden Ajeng Kartini

    Raden Ajeng Kartini - Buku Ahed Tamimi

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau yang dikenal sebagai R.A. Kartini merupakan tokoh pejuang emansipasi wanita Indonesia semasa hidupnya. Kartini terlahir di keluarga bangsawan dengan ayahnya bernama R.M. Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya M.A. Ngasirah.

    Sebagai seorang bangsawan, Kartini berhak untuk mendapatkan pendidikan. Saat mendapatkan pendidikan ini, Kartini belajar bahasa Belanda dan bersekolah hingga usia 12 tahun. Dari sinilah Kartini memulai sepak terjangnya menyuarakan pandangannya mengenai emansipasi wanita di tanah Jawa yang terkungkung oleh adat dan budaya.



    [Oleh: Fifi Feby Yanti]



    Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Asal Palestina yang Dikenal Dunia 

    Baca juga: 5 Wanita Terkuat dan Berpengaruh di Dunia

0

Artikel

Ahed Tamimi, seorang aktivis perempuan asal Palestina menjadi sorotan masyarakat dunia karena aksi beraninya. Perempuan 17 tahun ini menampar tentara Israel yang mendatangi rumah keluarganya di desa Nabi Saleh. Aksi yang terjadi pada 17 Desember 2017 ini direkam oleh sepupunya, Nur Tamimi dan menjadi viral setelah tersebar di dunia maya.

 

Ahed dan keluarganya tinggal di Desa Nabi Saleh, Palestina. Desa ini telah bertahun-tahun mengalami pendudukan oleh militer Israel, yang membuat para penduduknya kesulitan mendapat akses ke sumber mata air, rumah sakit, dan pantai karena terhambat oleh pos-pos pemeriksaan. Bertahun-tahun pula para penduduk Nabi Saleh berjuang melawan pendudukan dengan berbagai aksi damai, salah satunya demonstrasi.

  1. Aksi penamparan

    Buku Ahed Tamimi

    Kronologis aksi penamparan Ahed Tamimi kepada tentara Israel bermula dari demonstrasi yang dilakukan di desa Nabi Saleh mengenai perebutan wilayah di daerah tersebut. Aksi protes berlangsung ricuh setelah kurang lebih 200 demonstran melempar batu ke arah tentara Israel. Tentara Israel berusaha untuk meredakan demonstrasi yang ricuh dan masuk ke rumah keluarga Tamimi untuk menenangkan demonstran.

     

    Terdapat dua informasi yang berbeda, berdasarkan tentara Israel, demonstran tetap melempar batu dari dalam rumah. Sedangkan menurut pihak keluarga Tamimi, ketika demonstrasi berlangsung, sepupu Ahed, Mohammed Tamimi ditembak kepalanya dari jarak dekat dengan senjata berpeluru karet.

     

    Ketika tentara Israel memasuki rumahnya, Ahed, dengan ibu dan sepupunya, Nur, menghampiri kedua tentara Israel untuk mengusir mereka. Ketika mereka berkeras tidak mau pergi, Ahed menampar salah satu tentara. Menyadari bahwa seluruh peristiwa ini direkam, tentara Israel tersebut tidak membalas sedikit pun.

     

    Video tindakan berani Ahed tersebar luas di dunia maya setelah ibunya mengunggah video tersebut ke halaman Facebook-nya. Lantas video itu pun menjadi viral. Pada 19 Desember, Ahed ditangkap oleh pihak militer Israel saat tengah malam. Ibunya juga ditahan ketika menjenguk Ahed sehari setelah penangkapan.

     

    Pada 1 Januari 2018, Ahed dijatuhi dakwaan atas tindakannya. Penyerangan terhadap tentara Israel, ikut campur dalam tugas tentara, mengancam tentara, berpartisipasi dalam kerusuhan, menghasut orang lain untuk mengikuti kerusuhan, dan pelemparan baru kepada tentara.

     

    Tak hanya itu, berdasarkan info dari Al-jazeera, ibu Ahed mendapatkan tuduhan penghasutan atas tindakan mengunggah video Ahed di media sosial dan tuduhan penyerangan.  Dan sepupunya, dituduh dengan penyerangan terhadap tentara dan juga ikut campur dalam tugas tentara.

  2. Ikon perlawanan Internasional


    Buku-Ahed-Tamimi-Palestina


    Sosok Ahed Tamimi menjadi sorotan masyarakat dunia.  Ahed dikenal sebagai ikon perlawanan oleh warga Palestina. Ahed juga disandingkan dengan tokoh perlawanan lainnya seperti Malala Yousafzai, Che Guevara, dan Joan of Arc. Keberanian aksinya itu membuat dirinya harus mendekam di penjara selama 8 bulan.

     

    Ternyata aksi Ahed pada tahun 2017 bukanlah yang pertama kali. Tahun 2012, gadis ini sempat mencuri perhatian masyarakat dunia dengan foto dirinya mengancam dan mengepalkan tinju ke arah tentara Israel yang berusaha menahan adiknya pada aksi protes. Saat itu dirinya masih berusia 12 tahun. Tindakan beraninya itu membuat Ahed mendapatkan penghargaan dari Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan.

     

    Pada tahun 2015, video kontroversial Ahed tersebar luas. Video tersebut menunjukkan dirinya yang menggigit tangan tentara Israel yang sedang berusaha menangkap adiknya, Mohammed yang berusia 12 tahun atas tuduhan pelemparan batu. Di video itu juga terlihat beberapa wanita Palestina yang diantaranya adalah Nariman, ibu dari Ahed dan Mohammed, mengelilingi, menampar, dan menarik baju sang tentara.

  3. Incaran Israel


    Fakta Ahed Tamimi

    Aksi perlawanan yang dilakukan Ahed tentunya berdampak besar untuk dirinya dan keluarganya. Sejak videonya tahun 2015, Ahed diincar Israel. Dalam sebuah wawancara Al-Jazeera, Ahed merasa bahwa tentara Israel akan mendatanginya untuk menembak dan membunuhnya. Saat bermain, Ahed dan teman-temannya merasa tidak nyaman ketika ada tentara Israel yang datang. Akibat video yang jadi pemberitaan di seluruh dunia, Ahed sangat dikenali oleh para tentara Israel.

     

    Pada suatu hari, Ahed dan ibunya hendak mengunjungi kakak Ahed, Waed, yang ditahan di penjara Israel. Ketika mereka berdua masuk pos pemeriksaan, tentara Israel langsung mengenali Ahed dan memintanya untuk keluar. Ahed tidak mendapatkan izin untuk melintas dan masuk ke Israel. Ahed juga kerap diteriaki oleh para tentara Israel yang melihatnya.

     

    Demi alasan keamanan, ayah Ahed mengirim Ahed ke rumah sepupunya di Ramallah untuk sekolah. Hal ini dilakukan untuk menghindari incaran tentara Israel setiap kali Ahed melintasi pos pemeriksaan.

     

    Keluarga Ahed bukanlah keluarga sembarangan. Ayah Ahed, Bassem, beberapa kali keluar-masuk penjara Israel hingga 2012. Amnesty International melabelinya sebagai tahanan politik. Sedangkan ibunya, Nariman, sudah lima kali di penjara. Dan kakaknya, Waed, sudah dua kali masuk penjara. Sedangkan Ahed baru pertama kali ini dijebloskan ke penjara. Pasalnya, keluarga Ahed selalu berada di garda terdepan ketika ada aksi protes mengenai pendudukan wilayah yang dilakukan Israel.

  4. Ingin menjadi pengacara


    Buku-Ahed-Tamimi

    Setelah 8 bulan menjalani masa hukumannya, Ahed tak lantas putus asa. Dirinya bercita-cita untuk menjadi pengacara sehingga bisa membela orang-orang Palestina yang dihukum secara tidak adil.

     

    Ahed bercerita bahwa dia menjalani kehidupan yang sulit selama di penjara. Ahed menggunakan waktunya di penjara untuk mempelajari tentang hak asasi manusia, mengedukasi dirinya, dan melatih kesabarannya.


    Penangkapan Ahed menjadi sebuah isu sorotan tentang anak-anak yang dipenjara oleh Israel. Berdasarkan B’Tselem, organisasi hak asasi manusia Israel, dari 6000 orang Palestina yang dipenjara oleh Israel, 300 diantaranya adalah anak-anak.

     

    Ahed sangat senang bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Namun Ahed berharap bahwa semua saudaranya yang dipenjara juga dapat bebas seperti dirinya. Ahed menyebut dirinya seorang pejuang kebebasan, bukan seorang korban.  Ahed memperjuangkan apa yang benar. Dibalik reputasinya sebagai aktivis pejuang kemerdekaan Palestina, Ahed juga seorang anak remaja biasa. Hal pertama yang Ahed inginkan setelah keluar dari penjara adalah makan eskrim.

     

     


                          [Oleh: Fifi Feby Yanti]

                         
                          Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi



0

X