fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel
Petualangan Cinta Wonder Woman

Steve Trevor dan Wonder Woman di film Wonder Woman (2017)


Wonder Woman adalah salah satu superhero wanita terkuat. Dalam komik, Wonder Woman bisa saja mengalahkan semua anggota Justice League sendirian kalau dia mau. Tapi di balik kekuatannya yang luar biasa itu, Wonder Woman mempunyai hati yang lembut. Di akhir film Wonder Woman yang dibintangi oleh Gal Gadot, dia mengatakan cinta adalah kekuatan untuk mengalahkan segalanya.

Tapi bagaimana dengan kisah cinta Wonder Woman sendiri? Wonder Woman memang beberapa kali terlibat percintaan dengan beberapa lelaki. Yang paling terkenal adalah Steve Trevor yang memang sejak awal dipasangkan dengannya. Di flm Wonder Woman kita tahu kalau Steve Trevor adalah seorang mata-mata dari pasukan sekutu pada masa perang dunia pertama.


Awal pertemuan mereka adalah ketika Steve terdampar di Themyscira dan diselamatkan oleh Diana. Lalu ketika Steve menceritakan tentang keadaan di dunia luar Themyscira, dimana perang besar berkecamuk. Diana yakin itu adalah ulah dari Ares, Dewa Perang. Dari situ Diana bersikeras dia harus menghentikan Ares. Ditemani Steve Trevor sepanjang perjalanan, cinta mereka mulai tumbuh.


Di komik, kisah cinta Steve Trevor dan Wonder Woman tidak jauh berbeda dengan film. Steve terdampar di Themyscira dan dia yang mengenalkan Diana pada dunia lelaki. Berbeda hanya waktu mereka pertama kali bertemu. Jika di film Steve dan Diana bertemu pada masa perang dunia pertama, di komik mereka bertemu pada masa perang dunia kedua.


Steve Trevor sendiri pertama kali muncul di komik All Star issue #8. Selain Steve Trevor, Superman dan Batman pernah juga terlibat percintaan dengan Wonder Woman. Di reboot DC Universe New 52, Superman dan Wonder Woman menjadi pasangan superhero terkuat. Percintaan mereka secara harfiah mengguncang dunia. Sedangkan Batman dan Wonder Woman tidak pernah menjadi pasangan. Di Justice League animated series (2001-2006) Batman secara langsung menolak Wonder Woman.



Itulah petualangan kisah cinta Wonder Woman. Mungkin di masa yang akan datang Wonder Woman akan terlibat kisah cinta dengan orang lain. Selain itu meskipun Steve Trevor meninggal di film Wonder Woman pertama, menurut rumor yang beredar, Chris Pine akan kembali memerankan Steve Trevor modern di film terbaru Wonder Woman. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya.



[Oleh : Logika]
0

Artikel, Info

[Oleh: Redaksi]  

Yerusalem, adalah salah satu kota yang paling terkenal dan paling menggugah emosi di dunia. Kota yang memunculkan begitu banyak rasa; kerinduan, kesedihan juga harapan. Keindahan kota ini tak hanya karena lokasinya namun juga karena sejarahnya yang nyaris setua usia manusia.

Yerusalem adalah jantung kota Tanah Suci tiga agama samawi. Di kota ini, kaum yahudi pertama kali mendirikan Kuil mereka, di sini pula Yesus disalibkan dan dibangkitkan, dan di Yerusalem-lah Rasulullah mengalami mi’raj, naik ke langit ketujuh dari masjid Al Aqsa. Tak heran, Yerusalem menjadi tujuan ziarah dan wisata bagi jutaan orang di dunia.

Nah, tempat mana saja yang wajib sobat kunjungi di Yerusalem. Baca daftar berikut ya:  


1. Haram Al-Sharif atau Kubah Batu


Dome of the Rock atau Kubah Batu adalah landmark paling ikonik di Yerusalem. Di bawah kubah tersebut ada batu suci yang dipercaya oleh kaum Yahudi, dan Kristen sebagai tempat Nabi Ibrahim mempersembahkan putranya, tempat Nabi Sulaiman pertama kali membangun Kuil Suci, dan tempat Rasulullah SAW diangkat ke langit ke tujuh.

Pembangunan kubah emas Dome of the Rock dilakukan oleh Al Walid bin Abdul Malik, khalifah dari dinasti Umayyah. Pembangunan itu berlangsung selama 4 tahun dan selesai pada tahun 72 Hijriah.    


2. Masjid Al Aqsa


Masjid Al Aqsa adalah salah satu tempat suci umat muslim. Masjid ini dulu menjadi kiblat umat muslim sebelum akhirnya Allah memerintahkan agar kiblat diubah ke Kabah. Di masjid ini pula Rasulullah melakukan shalat dan memulai perjalanan ke ke Sidratul Muntaha. Letak masjid Al Aqsa ada di kawasan Kota Lama Yerusalem.  


3. Tembok Ratapan


Tembok Ratapan atau juga dikenal sebagai tembok Barat adalah sisa reruntuhan Bait Suci kaum Yahudi. Tembok Ratapan ini merupakan salah satu situs tersuci bagi umat Yahudi di Yerusalem dan menjadi tujuan ziarah kaum Yahudi sejak era kekhalifahan Ottoman.

Di tembok ini setiap hari, para penganut Yahudi berdoa, dan di sela-sela tembok banyak terselip kertas-kertas berisi doa.

 

Baca Juga: Yerusalem Kota Suci

 

4. Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre)


Gereja Makam Kudus adalah situs suci bagi penganut Kristiani dan konon dibangun di tempat Kristus disalib. Tempat itu dipilih oleh Empress Helena, ibu dari Konstantin Agung. Gereja asli yang dibangun di  tahun 335 M sempat dihancurkan pada tahun 1009, dan gereja yang berdiri sekarang adalah gereja yang dibangun di akhir abad 11.

Gereja ini ada di ujung ziarah Via Dolorosa, atau jalan penderitaan. Via Dolorosa adalah jalan yang dilalui Yesus saat menjalani hukuman salib dari Pontius Pilatus.  


5. Menara Daud atau Citadel


Menara Daud  juga dikenal sebagai Jerusalem Citadel atau Benteng Yerusalem. Sebuah benteng kuno yang terletak di tepi barat kota lama Yerusalem. Benteng ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan Nabi Daud, tetapi didirikan oleh Raja Herodes pada sekitar 24 SM untuk melindungi istana yang dibangunnya.

Setelah sempat dihancurkan beberapa kali akibat Perang Salib, benteng ini dibangun kembali oleh penguasa Ayyubiyah dan Mamluk. Di dalam benteng ini ada museum Menara Daud yang menjabarkan sejarah Yerusalem.

 

6. Pemukiman Kristen


di Kota Lama Yerusalem membentang ke utara dari gerbang Jaffa dan melingkari Gereja Makam Kudus. Pemukiman ini terdapat di Kota Lama Yerusalem membentang ke utara dari gerbang Jaffa dan melingkari Gereja Makam Kudus.

Di jalan-jalan kecil pemukiman ini terdapat toko-toko suvenir, kapel dan gereja, seperti Christ Church (di alun-alun Umar bin Khattab), biara Ethiopia yang menempel di pojok Gereja Makam Kudus, dan Church of St. John the Baptist yang merupakan gereja tertua di Yerusalem.  

Terkait: Yerusalem Kota Suci


7. Muslim Quarter


Pemukiman Muslim adalah tempat yang paling sibuk di daerah Kota Lama Yerusalem. Pemukiman ini terbentang dari Gerbang Damaskus ke arah timur laut kota lama. Di wilayah ini terdapat sisa-sisa arsitektur kekhalifahan Mamluk, termasuk Khan al-Sultan yang dibangun di abad 14.    


8. Bukit Zaitun


Bukit Zaitun adalah daerah perbukitan yang dihiasi gereja-gereja dan merupakan tempat bagi pemakaman tertua di dunia. Bagi umat Kristiani tempat ini dipercaya menjadi tempat ketika Yesus dibangkitkan dan diangkat ke Surga.

Di puncak Bukit Zaitun terdapat Gereja Ascension yang berdiri sejak tahun 1910, juga ada Gereja Pater Noster yang dibangun di dekat situs di mana Yesus mengajar murid-muridnya. Setelah itu adalah gereja Gereja Dominus Flevit, Gereja Maria Magdalena, Taman Getsemani dan Gereja All Nations. Di ujung semua peziarahan di bukit ini adalah Makam Perawan Maria



Sumber Terkait:

 


Tersedia di:

0

Artikel, Resensi

[Oleh: Yuliani]

Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Jerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa. Tetapi kesan ini sangat menyentakkan saya ketika pertama kali datang ke sana pada 1983. Aneh rasanya menemukan diri berada di tempat yang selalu muncul dalam khayalan kita sejak masih kecil.

Dulu saya sering diceritakan tentang kisah Nabi Daud dan Isa, dan, ketika menjadi seorang biarawati. Saya dilatih untuk memulai meditasi pagi hari dengan mengkhayalkan adegan biblikal yang akan saya renungkan. Maka saya pun mereka-reka sendiri pemandangan di Taman Getsemani, Bukit Moriah, atau Via Dolorosa. Kini, ketika saya harus menjalankan tugas di sana. Saya mendapati ternyata kota itu lebih merupakan sebuah tempat yang penuh gejolak dan membingungkan.

Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa Jerusalem jelas-jelas sangat penting baik bagi orang Yahudi maupun Muslim. Ketika melihat tentara Israel yang garang menangis saat mencium Tembok Barat atau keluarga Muslim berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat di Haram al-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar akan tantangan pluralisme agama. Betapa orang dapat melihat simbol yang sama dengan cara yang sama sekali berbeda.


  Jangan Lewatkan: Yerusalem, Satu kota Tiga Agama  


Pada pagi pertama saya di Jerusalem, teman Israel saya segera menunjukkan cara mengetahui mana batu-batu yang digunakan oleh Raja Herod untuk membangun tembok Kota Lama. Batu-batu itu seakan menjadi bukti komitmen bangsa Yahudi pada Jerusalem berabad-abad sebelum Islam hadir.

Pun ketika kami melewati bangunan-bangunan di Kota Lama, saya diceritakan betapa Jerusalem telah ditelantarkan oleh Utsmaniyyah ketika dinasti itu berkuasa di sana, dan kota itu baru kembali hidup berkat investasi Yahudi.  lihatlah kincir angin yang dibangun oleh Sir Moses Montefiore dan rumah sakit-rumah sakit yang dibiayai oleh keluarga Rothschild. Berkat Yahudilah Jerusalem menjadi maju seperti sekarang, katanya.


Teman Palestina saya menunjukkan wajah Jerusalem yang lain sama sekali. Mereka memperlihatkan keagungan Haram al-Syarif dan keindahan madrasah-madrasah yang dibangun di sekitar pinggirannya oleh dinasti Mamluk, sebagai bukti komitmen Muslim pada Jerusalem. Mereka membawa saya ke tempat suci Nabi dekat Jericho, yang dibangun untuk mempertahankan Jerusalem dari serangan Kristen, serta istana-istana Umayyah di dekat situ.

Ketika berjalan-jalan di Bethlehem suatu sore, dia menghentikan mobil di pemakaman Rachel untuk menunjukkan betapa orang Palestina telah memelihara tempat-tempat suci Yahudi selama berabad-abad — suatu kebaikan yang tak pernah dihargai secara layak oleh Yahudi. Namun bagi kedua pihak yang berseteru itu, ada satu kata yang sama bagi Jerusalem: “suci”. Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci.

Tapi, apakah arti kata “suci” di sini? Bagaimana mungkin sebuah kota, yang penuh dengan manusia yang tak sempurna dan sibuk dengan aktivitas yang jauh dari suci, bisa disebut suci? Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku ateis militan pun peduli pada sebuah kota suci dan merasa begitu posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa orang Arab yang mengaku tak beriman juga bisa meneteskan air mata ketika untuk pertama kali berdiri di dalam Masjid al-Aqsa? Saya bisa mengerti mengapa kota itu dianggap suci oleh orang Kristen.


Jerusalem adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Tetapi peristiwa-peristiwa formatif bagi Yahudi dan Islam terjadi di tempat-tempat yang jauh dari Jerusalem, di Tanjung Sinai dan Jazirah Arab. Mengapa, misalnya, Bukit Zion di Jerusalem yang menjadi suci bagi Yahudi. Bukannya Bukit Sinai, tempat Tuhan memberikan Sepuluh Perintah pada Musa?  


Terkait: Yerusalem karya Karen Armstrong  


Ternyata saya keliru telah mengasumsikan kesucian sebuah kota tergantung pada keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa penyelamatan sejarah. kisah mitos tentang campur tangan Tuhan dalam urusan manusia. Ternyata kata “suci” telah dilekatkan secara bebas dalam hubungannya dengan Jerusalem. seakan maknanya telah jelas dengan sendirinya — sementara nyatanya sangatlah kompleks.

Kota suci atau tempat suci merupakan fenomena yang nyaris universal. Untuk menemukan makna dalam beragama, manusia ternyata membutuhkan geografi sakral, yang tak ada hubungannya dengan peta dunia, tetapi untuk memetakan kehidupan batin mereka. Dan Jerusalem — untuk alasan-alasan yang berbeda — telah menjadi pusat geografi sakral bagi kaum Yahudi, Kristen dan Islam.

Inilah yang menyulitkan ketiga agama itu untuk melihat kota suci ini secara objektif. Dan inilah yang telah membuatnya bergolak, tak henti-hentinya sepanjang abad  



Bagian Pertama Nukilan Buku Jerusalem: Satu Kota Tiga Agama



Tersedia di:


0

Artikel

Review Film Inferno Mizan Publishing
Masih menunggu kehadiran Origin? banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk menyambut karya fenomenal terbaru Dan Brown. Salah satunya adalah menonton ulang film Inferno, seperti yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Terakhir kali saya mengikuti petualangan berbalut konspirasi karya Dan Brown yaitu pada tahun 2009 silam di film  Angels and Demons

Iterasi terbarunya ini masih digawangi sutradara kawakan Ron Howard. Ayah dari aktris Bryce Dallas Howard ini, 2013 lalu juga sempat membuat saya kagum dengan filmnya Rush, yang terinspirasi kisah nyata tentang persaingan legenda Formula 1, Niki Lauda dan James Hunt.

Adegan pertama Inferno dibuka dengan scene yang memperlihatkan aksi pengejaran suatu unit polisi, kepada seseorang yang terindikasi menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga. Hingga akhirnya orang tersebut bunuh diri dan meninggalkan teka-teki penuh misteri di benak penonton.

Jauh berbeda dari film pendahulunya, dalam petualangan Robert Langdon kali ini, kita langsung disajikan adegan penuh tanya. Langdon terbangun di sebuah kamar rumah sakit di Florence, Italia.

Baca Juga, Sinopsis Origin yang bisa kamu simak via tautan ini


Langdon tidak mengingat satu pun kejadian selama 48 jam terakhir. Dengan bantuan seorang dokter cantik bernama Sienna Brooks, yang diperankan Felicity Jones (Star Wars: Rogue One). Langdon berusaha merangkai kembali memorinya. Hingga beberapa saat kemudian ia sudah berada dalam kondisi genting serta menjadi buruan seorang polisi wanita misterius, yang berusaha membunuhnya.

Sienna yang terjebak dalam situasi tersebut, secara reflek menyelamatkan Langdon yang lemah. Dimulailah petualangan keduanya dalam mengungkap segala kejadian yang menempatkan mereka berdua dalam kondisi bahaya tersebut. Premis yang ditawarkan dalam film ini masih sama dengan film sebelumnya yaitu adalah teori konspirasi global. Malapetaka dalam Inferno dibawa oleh karakter bernama Zobrist, seorang pengusaha serta miliuner muda eksentrik ala startup enthusiast, yang diperankan oleh Ben Foster.

Inti cerita dari fim ini adalah bahwa dunia digambarkan sedang berada di ambang kehancuran. Populasi penduduk dunia yang tidak terkendali menjadikan bumi semakin rapuh dan mengancam kelangsungan hidup manusia.

Kehancuran dan segala kerapuhan bumi tersebut pada dasarnya merupakan pemikiran paranoid Zobrist belaka.  Zobrist berpikir solusi terbaik untuk mencegah hancurnya bumi adalah dengan memusnahkan semua manusia melalui sebuah virus yang ia beri nama Inferno.


Review Film Inferno Mizan Publishing
Di sepanjang film kita akan diberi berbagai macam pertanyaan serta twist yang dirancang dengan apik oleh Dan Brown dan screenwriter David Koepp (Mission: Impossible, Jurassic ParkSpider-Man). Suguhan aksi, intrik, serta alur cerita dalam Inferno lebih fast pace dan intens daripada film-film sebelumnya.

Penonton tidak diberikan banyak jeda untuk menghela nafas, adrenalin kita akan dipacu dari awal sampai akhir film. Beberapa adegan menarik yang ada di Inferno adalah scene halusinasi neraka yang dialami Langdon. Visualisasi Dante’s (Alighieri) Inferno diwujudkan dengan sangat apik, sehingga memunculkan nuansa mistik dalam film ini.

Adegan di beberapa landmark kota dunia pun disajikan secara apik. Seperti Palazzo Vecchio di Florence, St. Mark Square di Venice, juga di masjid Hagia Sophia di Turki. Dijamin suguhan berbagai lanskap cantik tersebut, akan memanjakan mata kamu. Keseluruhan elemen baik itu karakter maupun alur cerita yang straight to the point menjadikan Inferno lebih mudah dicerna dibandingkan dengan film pendahulunya.

Baca Juga, 10 Fakta Dan Brown yang wajib kamu ketahui


Satu hal yang saya sukai dari film ini tentu saja Tom Hanks. Di usianya yang lebih dari setengah abad yakni 59 tahun (saat syuting film ini berlangsung), dia masih terlihat sangat luwes dalam membawakan karakter Langdon yang 8 tahun lebih muda dibandingkan dengan usia Hanks yang sebenarnya00. Felicity Jones juga membawakan karakter Sienna Brooks dengan sangat baik, dia berhasil meyakinkan kita bahwa Sienna adalah dokter mulia yang siap membantu pasiennya dalam keadaan apapun.

Diantara semua aktor yang terlibat, honourable mention patut diberikan pada aktor Irrfan Khan (Life of Pi, Jurassic World). Khan berhasil membawakan karakter bernama Harry “The Provost” Sims, sebagai karakter yang misterius, serius, likeable, dan menonjol di setiap adegan yang ia jalani.



Kesimpulannya film ini menyuguhkan sajian yang kita harapkan dari adaptasi novel populer Dan Brown. Teka-teki, misteri, aksi, serta bumbu konspirasi akan kita temukan di dalamnya. Dalam beberapa adegan, twist yang disuguhkan dapat dengan mudah kita prediksi, namun itu semua tidak akan mengurangi keseruan menikmati cerita yang tersaji di Inferno.

Bagi sebagian orang yang sudah membaca novelnya, pasti akan sedikit kecewa karena ada adegan penting yang tidak sesuai dengan cerita di versi bukunya. Itu sebuah kewajaran karena tentunya film dan novel adalah medium yang jauh berbeda. Adaptasi dari medium cetak ke audio visual tentunya memerlukan penyesuaian di sana-sini.

Saran saya sebelum menonton film ini, adalah membaca versi novelnya terlebih dahulu. Dijamin pengalaman kamu mengikuti petualangan Langdon terasa lebih komplit.


https://youtu.be/RH2BD49sEZI
 
Nostalgia Review Film Inferno
0

X