fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel


desperates-journeys


Khaled Hosseini, penulis novel best-seller The Kite Runner sekaligus duta UNHCR, beberapa waktu lalu mengunjungi Lebanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Seperti dilansir oleh republika.co.id, sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah saat ini masih berada di wilayah Lebanon. Khaled juga menyempatkan diri untuk mengunjungi kota Sisilia dan berbincang dengan beberapa pengungsi yang telah berhasil melewati perjalanan laut menuju kota tersebut.



Artikel ini merupakan rangkuman beberapa penggalan kisah para pengungsi dari video Khaled Hosseini, Desperate Journeys. Kisah-kisah menyentuh sekaligus inspiratif –kisah tentang harapan akan hari esok yang lebih baik.


Seandainya Aku Tahu, Aku Tak Akan Membiarkanmu Pergi…



khaled-hosseini

Bissan sedang mengandung putranya, Nouradin, yang sekarang telah berusia dua setengah tahun, ketika suami dan anak laki-lakinya pergi ke Turki dengan cara menyebrangi laut. Dua tahun setelah suami dan anak sulungnya pergi terasa seperti mimpi buruk. Bissan sangat merindukan mereka berdua. Saat ini Bissan hanya bisa pasrah menunggu kepastian akankah dirinya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.

Bissan menceritakan bahwa suami dan anak sulungnya harus menaiki perahu karet untuk menyebrangi lautan. Bissan merinding setiap kali membayangkan kembali kejadian tersebut. Perjalanan yang harus ditempuh suami dan anak sulungnya tidak sebentar, sekitar 4 jam di tengah laut.


“People take these journeys across the sea because of fear of violence, fear of persecution, and because they have no future.” –Khaled Hosseini, author of Sea Prayer.


Apabila diberi kesempatan lagi, akankah Bissan mengambil keputusan yang sama dan menyetujui kepergian suaminya? Bissan dengan tegas menjawab tidak. Seandainya Bissan tahu bagaimana keadaan yang dia hadapi saat ini, dia akan melarang suami dan anak sulungnya pergi. Bissan akan memeluk kedua orang terkasih tersebut dan tidak akan melepaskan mereka sedetik pun.


“If I knew then what I know now, I would refuse to let them go. I would put my arms around them and I would make them prisoners of my embrace and I would not let them go even for a minute.” –Bissan, a refugee.


Apakah Aku Masih Hidup?



khaled-hosseini-penulis-buku-sea-prayer

Seorang pengungsi Eritrea, Abdelfetah, menceritakan bahwa para penyelundup menawari para pengungsi untuk menggunakan perahu karet dan pergi menuju Eropa melewati lautan. Tetapi para penyelundup itu tidak pernah memberitahu tentang perahu karet pertama yang berangkat –perahu yang tenggelam dengan sekitar 400 penumpang. Dua orang teman Abdelfetah ada dalam perahu yang tenggelam tersebut.


Perjalanan menggunakan perahu dari Libya ke Italia itu diabadaikan dalam sebuah buku bertajuk Le Cicogne Nere. Abdelfatah naik bersama 200 orang lainnya dan mereka bekerjasama agar perahu tidak sampai terbalik. Dia mengenang bahwa perjalanan yang dilakukan di malam hari tersebut berlangsung dalam keadaan begitu gelap, sampai-sampai jika dia menutup mata dan membukanya kembali-tidak ada perbedaan. Abdelfetah sempat berpikir dalam hatinya ‘Apakah aku masih hidup?’. Para penumpang perahu saat itu berusaha untuk saling berbicara dan berdoa sehingga suasana tidak begitu hening -hanya untuk menunjukkan bahwa mereka masih ‘ada di dunia’.


Kesempatan Kedua



gambar-desperates-jpurneys

Ibrahim, 18 tahun, merupakan pengungsi asal Liberia yang ditembak ketika berusaha melarikan diri dari pasukan militan Libya namun memaksakan diri untuk naik perahu dan pergi menuju Eropa. Keadaan Ibrahim saat itu sangat lemah sehingga dia tertidur di atas perahu. Ketika Ibrahim terbangun, perahu sudah mencapai Laut Tunisia. Mendengar kabar tersebut Ibrahim merasakan adanya harapan karena meskipun tentara Tunisia menangkapnya, hidupnya tetap akan terselamatkan.


Begitu sampai di Italia, selain lemah secara fisik, Ibrahim juga mengalami kebingungan serta depresi. Namun, dia langsung memikirkan masa depan, pelajaran apa yang akan dia dapat, dan bagaimana cara agar dia bisa hidup normal dan bahagia seperti orang lain.


Ibrahim bertekad bahwa satu-satunya jalan agar dia mendapatkan kehidupan normalnya kembali adalah dengan menjadi orang yang berpendidikan. Ibrahim yakin dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya asal mau belajar dengan tekun. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan dalam 6 bulan sudah mampu menguasai bahasa Italia. Khaled takjub dengan banyaknya pengalaman yang telah dilalui Ibrahim di usia belia. Ibrahim merupakan contoh luar biasa, seorang pengungsi dengan ketahanan, kecerdasan intelegensi dan emosi serta tekad kuat untuk menata kehidupannya kembali.


Monumen di Catania



cuplikan-video-desperate-journeys

…many of these people that tried these journeys and did not make it, what happens to them, what happens to their memory, who thinks of them? –Khaled Hosseini, author of Sea Prayer.


Sebuah monumen di Catania, Sisilia, didirikan untuk mengenang para pengungsi yang kehilangan nyawa ketika mencoba menyebrangi lautan menuju Eropa. Terdapat 17 makam para pengungsi yang tidak diketahui identitasnya -yang tewas karena tenggelam dan dimakamkan pada bulan April 2015. Pada setiap plakat terdapat puisi karya Wole Soyinka, seorang penyair dan novelis berkulit hitam pertama yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1986. Monumen ini, menurut Khaled, merupakan pengingat agar umat manusia tidak melupakan perjalanan penuh keputusasaan yang diambil ribuan orang demi menghindari kekerasan, perang dan kemiskinan.


Siamo approdati alla baia dei sogni… We have arrived at the bay of dreams. –Poem by Wole Soyinka

 

Kunjungan yang dilakukan Khaled untuk menemui para pengungsi mengingatkannya pada proses penulisan buku Sea Prayer. Bayangan-bayangan yang muncul di kepala Khaled ketika menulis, terlihat ketika dia mengunjungi tempat tinggal para pengungsi. Khaled juga mengatakan bahwa kata-kata yang terngiang di telinganya ketika menulis Sea Prayer,  dia dengar keluar dari cerita-cerita para pengungsi. Kisah Sea Prayer terasa hidup di antara para pengungsi yang dia temui di Lebanon dan Sisilia.


“I have heard it said we are the uninvited. We are the unwelcome. We should take our misfortune elsewhere. But I hear your mother’s voice, over the tide. and she whispers in my ear, “Oh, but if they saw, my darling. Even half of what you have. If only they saw. They would say kinder things, surely.” –Sea Prayer by Khaled Hosseini.


Sea Prayer merupakan karya persembahan Khaled Hosseini sebagai penghormatan untuk para pengungsi–terutama mereka yang mempertaruhkan hidup dan menyebrangi lautan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kisah dibalik Sea Prayer juga terinspirasi oleh salah seorang anak bernama Alan Kurdi, pengungsi yang tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa.



[Oleh: Fauziah Hafidha]


Baca juga: 7 Negara yang Menerima Arus Pengungsi

Baca juga: Mengenang Kisah Alan Kurdi, Bocah Suriah yang Tewas Tenggelam

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

 








 

 

 

 

0

Artikel

7-negara-yang-menerima-arus-pengungsi


Peperangan mengatasnamakan hal apapun, pasti menimbulkan berbagai kerugian. Salah satu contohnya adalah hilangnya tempat yang nyaman untuk tinggal. Arus pengungsi tak mungkin dihindari. Demi mendapatkan hidup yang aman, pengungsi mencari tempat baru yang lebih baik untuk ditinggali. Berikut ini adalah negara-negara yang menerima arus pengungsi.


Cina



negara-cina

Negara tirai bambu dikenal sebagai negara yang ramah dan menerima pengungsi berdasarkan hasil survei Amnesty International. Survei membuktikan bahwa satu dari sepuluh responden mengatakan mereka akan membiarkan pengungsi tinggal di rumah mereka, dengan hampir setengah dari semua orang Cina yang disurvei menawarkan keramahtamahan di rumah mereka untuk para pengungsi.


Jerman


negara-jerman

Sebagai salah satu dari negara besar yang terdapat di Uni Eropa, Jerman menerima permintaan suaka dari 98.700 jiwa. Hal ini merupakan permintaan paling banyak untuk Jerman. Kanselir Jerman, Angela Merkel menyerukan negara-negara Uni Eropa lainnya untuk membantu menampung pengungsi. Jerman menempati posisi kedua sebagai negara yang ramah dan menerima pengungsi berdasar survei Amnesty International.

 

 

Inggris

negara-inggris

Inggris menempati posisi ketiga sebagai negara yang ramah dan menerima pengungsi berdasarkan survei Amnesty International. Inggris mendapatkan sekitar 7.000 permintaan suaka, namun David Cameron mengatakan akan menerima 20.000 pengungsi Suriah selama lima tahun ke depan.



Turki


negara-turki

Lokasi negara yang bersebelahan langsung dengan Suriah, menjadikan Turki sebagai negara yang menerima pengungsi paling banyak. Turki menerima sekitar 1,9 juta pengungsi. Turki juga menjadi destinasi nomor satu bagi para pengungsi khususnya dari Suriah untuk dijadikan tempat bernaung.



Lebanon


negara-turki

Sama halnya dengan Turki, karena lokasi geografis yang bersebelah dengan Suriah, Lebanon menerima 1,1 juta pengungsi Suriah. Terjadi peningkatan 25% terhadap 4,4 juta penduduk negara Lebanon. Dengan ini Lebanon menjadi negara dengan konsentrasi tertinggi pengungsi per kapita.



Yordania


negara-yordania

Yordania menjadi salah satu negara tujuan pengungsi yang notabene berasal dari Palestina. Negara yang bersebelahan dengan Palestina dan Israel itu menyediakan tempat tinggal untuk 629.000 pengungsi. Hampir setengah dari tujuh juta populasi Yordania berasal dari Palestina.


Mesir


negara-mesir

Mesir menjadi negara yang ramah dan menerima pengungsi dengan menampung 132.000 pengungsi yang berasal dari Suriah. Berbeda dengan kondisi pengungsi pada umumnya yang tinggal di kamp, pengungsi di Mesir ditawarkan sebuah pulau khusus untuk pengungsi tinggal. Tindakan itu dilakukan oleh miliarder Mesir, Naguib Sariwis.

 

[Oleh: Fifi Feby Yanti ]


Baca juga: Selebriti Dunia yang Membantu Kampanye Kemanusiaan

Baca juga: Mengenang Kisah Alan Kurdi, Bocah Suriah yang Tewas Tenggelam

Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan untuk Para Pengungsi

 

 

 

 

 

0

Artikel


daftar-selebriti-yang-ikut-kampanye-kemanusiaan


Tak hanya aksi di layar kaca dan tampang yang rupawan, selebriti-selebriti dunia ini turut aktif dalam membantu kampanye kemanusiaan di berbagai bidang seperti lingkungan, kesehatan, kesetaraan gender, dan yang lainnya. Berikut adalah deretan selebriti dunia yang turut aktif dalam kampanye kemanusiaan.



Leonardo DiCaprio


leonardo-dicaprio

Pemenang Oscar yang satu ini aktif sekali menyuarakan tentang isu perubahan lingkungan. Saat berusia 24 tahun, Leonardo mendirikan Leonardo DiCaprio Foundation (LDF) yang bertujuan untuk melindungi alam dan satwa liar di seluruh dunia. LDF juga menggalang dana untuk konservasi laut, hutan, serta perubahan iklim. LDF selalu mengkampanyekan kelestarian lingkungan dan turut serta mencari solusi untuk membantu pengembalian ekosistem yang terancam, dan memastikan kesejahteraan penduduk bumi untuk jangka panjang.

 

Leonardo juga turut aktif dan terjun langsung saat terjadi bencana alam, seperti gempa di Haiti dan telah memproduksi berbagai film dengan tema lingkungan seperti The 11th Hour.  Leonardo pernah mengunjungi Taman Nasional Gunung Leuseur, Aceh pada Maret 2016 silam dalam rangka kampanye peduli lingkungan. Atas peran aktifnya, Leonardo diberikan gelar Messenger of Peace oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan fokus pada perubahan iklim.



Angelina Jolie


angelina-jolie

Selain dikenal sebagai seorang selebriti, Angelina Jolie juga dikenal sebagai aktivis kemanusiaan. Bersama mantan suaminya, Angelina mendirikan Jolie-Pitt Foundation yang membantu anak-anak yang terkena HIV/AIDS dan TBC. Angelina juga tergabung sebagai Komisioner Tinggi PBB untuk pengungsi yang tergabung dalam UNHCR.

 

Tahun 2016 lalu, Angelina turun tangan langsung untuk mengunjungi dan membantu korban perang Suriah yang mengungsi di Yordan. Angelina menggunakan pengaruhnya sebagai selebriti dunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang krisis yang berlangsung di Suriah. Komitmen Angelina dalam isu kemanusiaan diwujudkan dalam bentuk sumbangan kepada UNHCR yang bernilai lebih dari USD 5 juta sejak tahun 2000 dan juga dedikasi dirinya untuk terjun langsung dalam setiap kegiatan kemanusiaan.

 

 

Keanu Reeves


keanu-reeves

Bintang film The Matrix dikenal sering melakukan kegiatan amal, namun Keanu tidak ingin membesarkan aksinya ini. Dalam sebuah wawancara, Keanu mengatakan bahwa dirinya memiliki organisasi amal yang bersifat privat. Keanu dikenal sebagai donatur yang dermawan.

 

Keanu mendukung dan membiayai sebuah organisasi yang bergerak dalam pengobatan kanker dan leukemia. Tahun 2006 dalam sebuah acara MTV Movie Awards, Keanu mendonasikan foto beserta tanda tanganya untuk sebuah organisasi HIV/AIDS. Keanu juga pernah mendonasikan hartanya ke sebuah yayasan kanker Stand up to Cancer, SickKids Foundation, dan PETA.

 

Emma Watson


emma-watson


Emma Watson merupakan selebriti yang dengan aktif menyuarakan kesetaraan gender. Pemain film Harry Potter ini juga ditunjuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Duta Perempuan dan terlibat aktif dalam kampanye  “HeForShe” yang bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan pendidikan untuk perempuan.

 

Perhatian yang besar pada isu anak-anak dan sosial membuat Emma berpergian ke beberapa tempat di seluruh dunia untuk menyebarkan pesan penting mengenai penghentian pernikahan anak. Emma pergi ke Uruguay, Bangladesh, Zambia, dan negara lain untuk mengkampanyekan dan mempromosikan pentingnya anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak hanya itu, Emma juga menjadi duta untuk Camfed International, sebuah gerakan untuk mengedukasi anak-anak, khususnya wanita di pinggiran Afrika.



Matt Damon


matt-damon


Aktor laga yang satu ini juga tidak asing dengan dunia aktivis. Matt bersama dengan rekanan aktornya yaitu George Clooney, Brad Pitt, Don Cheadle, David Pressman, dan Jerry Weintraub mendirikan sebuah organisasi yang bernama “Not on Our Watch” yang berfokus pada penghapusan kekejaman terhadap manusia di seluruh dunia. Matt juga duta dari ONEXONE, sebuah organisasi non profit yang bertujuan mengentaskan kemiskinan dan AIDS di negara dunia ketiga.

 

Matt mendirikan yayasan H2O Africa Foundation, sebuah lembaga untuk meningkatkan kesadaran tentang inisiatif air bersih di Afrika. Matt juga menjadi juru bicara Feeding America, sebuah organisasi bantuan kelaparan.



Shakira


shakira-terjun-menjadi-aktivis-kemanusiaan

Penyanyi asal Kolombia ini sudah lama terjun sebagai aktivis kemanusiaan. Pada tahun 1997, Shakira mendirikan Pies Descalzos Foundation untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak miskin di negaranya untuk dapat melanjutkan sekolah. Saat ini sekolah tersebut telah memiliki 6000 murid.

 

Shakira juga aktif terjun langsung ke lapangan seperti Bangladesh, Azerbaijan, dan India untuk kampanye penggalangan dana global kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kunjungan aktifnya bertujuan untuk melihat langsung bagaimana penderitaan anak-anak yang tumbuh dalam kondisi memprihatinkan dan memacunya untuk membuat program perkembangan anak di negara-negara tertinggal.

 

 

Oprah Winfrey


oprah-winfrey

Oprah Winfrey merupakan salah satu selebriti yang terkenal dengan aksi dermawannya. Mendirikan sebuah yayasan bernama Oprah Winfrey Foundation yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan orang banyak, terutama wanita dan anak-anak di seluruh dunia. Oprah telah menyumbangkan sebanyak 40 juta USD pada yayasannya.

 

Sebagai seorang filantropi, Oprah juga rutin melakukan berbagai kegiatan amal dan rajin mengunjungi berbagai yayasan seperti rumah sakit, sekolah, dan pusat rehabilitasi. Oprah juga memiliki badan amal yang bernama Oprah‘s Angel Network untuk membantu membiayai sekolah di negara miskin di Afrika hingga memberikan bantuan kepada korban bencana alam.


[Oleh: Fifi Feby Yanti]

Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

Baca juga: Mengenang Kisah Alan Kurdi, Bocah Suriah yang Tewas Tenggelam

 

 

 

 

0

Artikel



Foto-Alan-Kurdi

September 2015 lalu, masyarakat dunia dihebohkan dengan foto jenazah anak kecil di pinggir pantai Turki. Anak kecil itu bernama Alan Kurdi, bocah 3 tahun asal Suriah yang tewas tenggelam di Laut Tengah. Impian Alan dan keluarganya untuk hidup aman dan nyaman lenyap setelah ombak membalikan perahu yang ditumpanginya menyebrang ke Pulau Kos di Yunani. Foto mengenaskan itu diabadikan oleh Nilufer Demir dan menjadi viral.


Bukan Akhir Bahagia


Penemuah-Jenazah-Alan-Kurdi


Alan Kurdi berserta keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan kakaknya berencana untuk menyusul sanak keluarga, Teema Kurdi ke Kanada karena kondisi kampung halamannya, Kobani, sudah tidak aman akibat perang. Sang ayah, Abdullah Kurdi, pernah mengajukan visa untuk pergi ke Kanada, namun otoritas Turki tidak memberikan izin visa sehingga Abdullah mencoba jalan lain untuk mewujudkan kehidupan keluarganya yang aman dan nyaman di Kanada.

Abdullah memutuskan untuk melakukan penyebrangan ilegal menuju pulau Kos di Yunani seperti yang dilakukan pengungsi lainnya. Dengan membayar sebesar £2900, Abdullah dan keluarganya berangkat dini hari menuju pulau Kos pada 2 September 2015.



Selang beberapa menit setelah keberangkatan, perahu yang ditumpangi Alan dan keluarganya mengalami masalah. Pengemudi perahu tidak bisa mengendalikan perahu itu melompat ke laut dan meninggalkan perahu. Para pengungsi di perahu tidak dilengkapi dengan pelampung. Perahu pun terombang ambing dan akhirnya terbalik setelah dihadang ombak besar.



Seluruh penumpang jatuh ke laut. Abdullah, ayah Alan, satu-satunya yang bisa berenang berusaha memegang erat keluarganya. Namun ombak besar memisahkan Abdullah dengan kedua anak dan istrinya. Abdullah mencoba menggapai dan memegang kembali keluarganya, akan tetapi kedua anak dan istirnya tak terselamatkan. Impian untuk memulai hidup di Kanada pupus sudah.



Reaksi Dunia terhadap Kejadian Alan


Reaksi-Dunia-Terhadap-Kejadian-Alan-Kurdi

Foto tragis Alan menghiasi muka-muka media di Turki pada tengah hari di hari yang sama. Foto ini lantas menjadi suatu kecaman terhadap anggota Uni Eropa untuk menerima pengungsi sehingga tidak terjadi lagi kejadian mengenaskan seperti Alan. Nasib Alan beserta kakak dan ibunya menambah daftar kelam kematian pengungsi tahun 2015 di Laut Tengah sebanyak 3.600 orang.



Media sosial diramaikan dengan tanda pagar (tagar) #KiyiyaVuranInsalik yang berarti kemanusiaan telah terdampar.  Tagar tersebut menjadi pembahasan netizen dan menjadi trending topic pada saat itu. Netizen mengungkapkan kesedihan atas kejadian yang menimpa Alan dan pengungsi lainnya, dan ada pula yang mengkritik sikap dunia internasional terhadap nasib pengungsi.



Selain tagar #KiyiyaVuranInsalik , kejadian Alan Kurdin melahirkan sindiran halus kepada para penguasa melalui media gambar kartun. Muatan kartun-kartun tersebut beragam. Ada yang menggambarkan Alan dan anak-anak pengungsi lainnya yang turut menjadi korban sedang tidur dengan ombak laut yang menjadi selimut mereka. Ada pula yang mengandung kritis sosial terhadap sikap dunia internasional terhadap para pengungsi.



Harapan Abdullah


Harapan-Abdullah


Abdullah, ayah Alan merupakan orang satu-satunya yang berhasil selamat diantara keluarganya. Terdapat kisah pahit dibalik perjuangan Abdullah menyelamatkan keluarganya saat perahu terbalik. Dirinya berusaha berenang dari satu anaknya ke anaknya yang lain dan mencoba memegang erat keluarganya. Namun ombak memisahkan pegangan erat antara Abdullah dan keluarganya, sehingga sisa keluarganya yang tidak bisa berenang terbawa ombak dan tenggelam.


Sirna sudah harapan dan impian Abdullah. Keinginannya untuk hidup bersama-sama keluarganya hilang ditelan Laut Tengah. Abdullah mempunyai harapan untuk masyarakat dunia. Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, Abdullah berpesan kepada masyarakat dunia untuk terbuka dan menerima kedatangan pengungsi sehingga tidak ada lagi kejadian lain atau korban-korban lain seperti anak dan istrinya.

 

[Oleh: Fifi Feby Yanti]

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

Baca Juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi

0

Artikel
Khaled Hosseini baru-baru ini merilis karya terbarunya, Sea Prayer, yang berhasil masuk deretan New York Times best seller. Khaled merupakan duta UNHCR (UN Refugee Agency) dan juga pendiri The Khaled Hosseini Foundation, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kemanusiaan. Novelis terkenal yang karya-karyanya selalu dinanti para pembaca ini, ternyata pernah berkarir sebagai dokter. Apa saja fakta-fakta menarik lain tentang Khaled Hosseini?


  1. Pengungsi dari Afghanistan

    Invasi Uni Soviet ke Afghanistan memaksa keluarga Khaled Hosseini mencari suaka ke Amerika pada tahun 1980. Khaled baru berusia 15 tahun saat invasi tersebut berlangsung. Keluarga Khaled berharap bisa kembali lagi ke rumah sehingga meninggalkan hampir semua barang-barang yang mereka miliki di Kabul.

     

    Ayah Khaled mulai bekerja sebagai instruktur mengemudi dan ibunya bekerja sebagai pelayan yang kemudian berganti menjadi penata rambut. Kedua orang tua Khaled mengalami masa yang sulit di Amerika. Mereka harus bergantung pada bantuan pemerintah, padahal sebelumnya mereka adalah keluarga kelas atas di Kabul. Namun, Khaled mengatakan bahwa tantangan tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi oleh para pengungsi yang sekarang dia bantu dalam kapasitasnya sebagai duta UNHCR.


  2. Bukan Siswa yang Populer di Sekolah

    Buku-Sea-Prayer-Khaled-Hosseini


    Novel-novel best-seller karya Khaled, The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns dan And The Mountains Echoed, sudah dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Namun ternyata dulu Khaled Hosseini bukan siswa yang populer di sekolah. Khaled yang saat itu belum bisa berbahasa Inggris disekolahkan di sekolah lokal California oleh orangtuanya. Khaled merasa seperti karakter anonim –tidak terlihat oleh murid-murid lain. Tetapi dia cukup dekat dengan beberapa murid yang juga merupakan pengungsi Kamboja. Khaled merasa, meskipun dia tidak begitu mengerti bahasa Kamboja, ada semacam ikatan kekeluargaan di antara mereka.

     

    Pernah suatu ketika, Khaled datang ke sekolah dan melihat orang-orang mengenakan pakaian yang aneh –ada yang mengenakan jubah vampir serta ada juga yang mengenakan kostum tikus. Khaled merasa bingung. Ternyata, saat itu orang-orang sedang merayakan Haloween –dan Khaled belum pernah mendengar tentang perayaan tersebut!



  3. Sea Prayer Ditulis Saat Petang Hari


    Buku Sea Prayer karya Khaled Hosseini


    Sea Prayer
    merupakan karya Khaled yang ditunggu-tunggu setelah beberapa karya sebelumnya begitu laris diminati oleh para pembaca di seluruh dunia. Khaled menjadi khawatir para pembaca mengharapkan karya tersebut merupakan novel penuh –seperti novel-novel sebelumnya. Khaled mengingatkan pada para pembaca bahwa Sea Prayer merupakan novel ilustrasi dengan teks yang sedikit. Pada wawancara yang dirilis oleh thetimes.co.uk Khaled juga mengaku bahwa dia hanya membutuhkan satu petang saja untuk menulis Sea Prayer.

     

    Sea Prayer memang singkat, tapi indah dan puitis –ciri khas Khaled. Karya ini menggambarkan beberapa kepribadiannya, sebagai novelis, seorang ayah dan bahkan sebagai seorang dokter. Hal ini tecermin dari kalimat yang digunakannya dalam salah satu bait Sea Prayer: “You have learned dark blood is better news than bright.”



  4. Khaled Meninggalkan Karir Sebagai Dokter untuk Menjadi Penulis


    Quotes Khaled Hosseini Sea Prayer


    Sebelum menjadi novelis, Khaled merupakan seorang dokter. Dia lulus dari Independence High School dan kemudian mempelajari Biologi di Santa Clara University. Dia lulus dengan gelar Sarjana Biologi pada 1988 dan kemudian masukUniversity of California-San Diego’s School of Medicine sampai menyelesaikan gelar M.D. pada tahun 1993. Khaled mengaku alasan utamanya menjadi dokter adalah karena pekerjaan tersebut stabil dan memberikan harapan masa depan yang lebih baik.

     

    Ketika masih menjadi seorang dokter, Khaled harus bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk menulis novel The Kite Runner sebelum berangkat ke tempat praktik. Tragedi 9/11 yang menimpa World Trade Centre sempat membuat Khaled berpikir untuk berhenti menulis novel yang berlatar belakang di negara Afghanistan tersebut. Namun berkat dukungan dari orang-orang terdekat, terutama istrinya, membuat Khaled berhasil menyelesaikan The Kite Runner.

     

    Khaled ingin novel tersebut membantu para pembaca mengenal dan melihat Afghanistan sebagai tempat yang lebih dari hanya sekedar berisi perang, kemiskinan, narkoba, dan Taliban. Khaled ingin agar orang-orang dapat melihat Afghanistan sebagai negara indah dengan budaya yang kaya.



  5. Karyanya Best Seller, Hidup Khaled Tidak Glamor

    Meskipun menjadi salah satu penulis best-seller, Khaled mengaku bahwa hidupnya jauh dari kata glamor. Kegiatan sehari-hari Khaled biasanya diisi dengan olahraga di pagi hari. Khaled juga hobi bermain tenis –meskipun dia tidak begitu mahir. Dia juga menyebutkan bahwa kantor yang digunakannya untuk bekerja merupakan kantor yang sederhana –hanya dinding dan atap dengan sebuah meja dan kursi. Khaled biasanya menutup tirai sehingga dia bebas dari gangguan. Khaled Hosseini berada di kantor pada jam 9 pagi sampai 3 sore, dan setelah itu berkumpul bersama keluarganya.


    ***

    Karya apalagi yang kira-kira akan dimunculkan oleh Khaled Hosseini setelah Sea Prayer? Kabarnya Khaled sedang menggarap novel yang sampai saat ini belum mau dia bocorkan isinya. Kita tunggu saja ya!



    [Oleh: Fauziah Hafidha]


    Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan untuk Para Pengungsi 

     

0

Artikel

Khaled Hosseini, penulis novel best seller The Kite Runner dan juga duta UNHCR (UN Refugee Agency), baru-baru ini mengunjungi Libanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Dalam wawancaranya dengan NPR, Khaled mengatakan bahwa para pengungsi Suriah menghadapi kehidupan yang berat di Libanon. Sebagian besar hidup dengan penghasilan sangat minim dan tinggal dalam garasi serta gudang yang sudah tidak terpakai, bahkan pada sebuah pusat perbelanjaan yang belum selesai serta berbau seperti saluran pembuangan.

 

Lebih lanjut Hosseini juga mengatakan bahwa sebagai seorang ayah, ia dapat membayangkan perasaan para pengungsi yang tidak mampu menafkahi anak-anak mereka, atau akhirnya memilih membayar penyelundup dan mencoba salah satu penyeberangan berbahaya melintasi Laut Mediterania karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

 

Sea Prayer terinspirasi secara khusus oleh kisah salah seorang pengungsi. Pada tahun 2015, bocah Suriah bernama Alan Kurdi, tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa. Jenazah bocah yang terdampar di pantai Turki tersebut diabadikan dalam sebuah foto dan menyedot perhatian banyak orang.

Hosseini mengatakan bahwa ia sangat terpukul ketika melihat foto tersebut.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini 1


Sebagai seorang ayah, saya berusaha membayangkan bagaimana pedihnya perasaan yang harus ditanggung oleh ayahnya setiap kali ia melihat foto-foto putranya, dan juga melihat foto orang asing yang mengangkat tubuh anaknya -orang asing yang tidak tahu suara atau tawa Alan, ataupun mainan favorit anaknya tersebut,” kata Hosseini.

“..you have to understand,

that no one puts their children in a boat

unless the water is safer than the land.” –Home, Warsan Shire


Saya berharap bahwa buku Sea Prayer ini menjadi bentuk penghormatan kecil tidak hanya bagi keluarga Alan Kurdi, tetapi juga, pada tingkat yang lebih luas, dapat menyoroti keputusasaan yang dihadapi ribuan orang ketika harus meninggalkan rumah mereka untuk melakukan perjalanan melintasi laut yang brutal dan terkadang mematikan.”

Saya membayangkan diri saya sebagai salah satu dari banyak kepala keluarga yang terpaksa meninggalkan tempat asal mereka, berjalan bermil-mil jauhnya selama berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, bersama anak-anak mereka, dengan risiko bahwa sepanjang jalan ia mungkin saja ditahan, atau dipukuli, atau bahkan anak-anak mereka mungkin dijual untuk kerja paksa.

Mereka mencapai laut dan mempertaruhkan hidup di tangan penyelundup, berangkat ke laut lepas, meskipun telah mengetahui bahwa ribuan orang meninggal dalam perjalanan yang sama, dan tidak ada apa pun di sana untuk melindungi mereka.

Hidup mereka berada di tangan penyelundup yang tidak menghargai kehidupan manusia, dan sebetulnya seluruh bisnis yang para penyelundup itu lakukan berporos pada penderitaan yang mereka alami
, “kata Hosseini.

“Siapa yang akan memilih hal berbahaya seperti ini untuk keluarga mereka? Jika saya adalah seorang ayah dalam posisi tersebut, berdiri di pantai yang diterangi cahaya bulan -bersiap untuk perjalanan berbahaya, mungkin saya juga akan… mengatakan salah satu dari doa-doa ini.”

All I can do is pray.

 

Pray God steers the vessel true,

when the shores slip out of eyeshot

and we are a flyspeck

in the heaving waters, pitching and tilting,

easily swallowed. –Sea Prayer, Khaled Hosseini



Khaled Hosseini dikenal atas karya-karyanya yang mengangkat tema Afghanistan: The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan And The Mountains Echoed. Nantikan karya Khaled selanjutnya, Sea Prayer,
rilis di Indonesia.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini

Artikel ini disadur dari artikel NPR berjudul: Khaled Hosseini Says A Succinct ‘Sea Prayer’ For A Refugee’s Journey.

 

[Oleh: Fauziah Hafidha]

 

0

X