fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel
Khaled Hosseini baru-baru ini merilis karya terbarunya, Sea Prayer, yang berhasil masuk deretan New York Times best seller. Khaled merupakan duta UNHCR (UN Refugee Agency) dan juga pendiri The Khaled Hosseini Foundation, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kemanusiaan. Novelis terkenal yang karya-karyanya selalu dinanti para pembaca ini, ternyata pernah berkarir sebagai dokter. Apa saja fakta-fakta menarik lain tentang Khaled Hosseini?


  1. Pengungsi dari Afghanistan

    Invasi Uni Soviet ke Afghanistan memaksa keluarga Khaled Hosseini mencari suaka ke Amerika pada tahun 1980. Khaled baru berusia 15 tahun saat invasi tersebut berlangsung. Keluarga Khaled berharap bisa kembali lagi ke rumah sehingga meninggalkan hampir semua barang-barang yang mereka miliki di Kabul.

     

    Ayah Khaled mulai bekerja sebagai instruktur mengemudi dan ibunya bekerja sebagai pelayan yang kemudian berganti menjadi penata rambut. Kedua orang tua Khaled mengalami masa yang sulit di Amerika. Mereka harus bergantung pada bantuan pemerintah, padahal sebelumnya mereka adalah keluarga kelas atas di Kabul. Namun, Khaled mengatakan bahwa tantangan tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi oleh para pengungsi yang sekarang dia bantu dalam kapasitasnya sebagai duta UNHCR.


  2. Bukan Siswa yang Populer di Sekolah

    Buku-Sea-Prayer-Khaled-Hosseini


    Novel-novel best-seller karya Khaled, The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns dan And The Mountains Echoed, sudah dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Namun ternyata dulu Khaled Hosseini bukan siswa yang populer di sekolah. Khaled yang saat itu belum bisa berbahasa Inggris disekolahkan di sekolah lokal California oleh orangtuanya. Khaled merasa seperti karakter anonim –tidak terlihat oleh murid-murid lain. Tetapi dia cukup dekat dengan beberapa murid yang juga merupakan pengungsi Kamboja. Khaled merasa, meskipun dia tidak begitu mengerti bahasa Kamboja, ada semacam ikatan kekeluargaan di antara mereka.

     

    Pernah suatu ketika, Khaled datang ke sekolah dan melihat orang-orang mengenakan pakaian yang aneh –ada yang mengenakan jubah vampir serta ada juga yang mengenakan kostum tikus. Khaled merasa bingung. Ternyata, saat itu orang-orang sedang merayakan Haloween –dan Khaled belum pernah mendengar tentang perayaan tersebut!



  3. Sea Prayer Ditulis Saat Petang Hari


    Buku Sea Prayer karya Khaled Hosseini


    Sea Prayer
    merupakan karya Khaled yang ditunggu-tunggu setelah beberapa karya sebelumnya begitu laris diminati oleh para pembaca di seluruh dunia. Khaled menjadi khawatir para pembaca mengharapkan karya tersebut merupakan novel penuh –seperti novel-novel sebelumnya. Khaled mengingatkan pada para pembaca bahwa Sea Prayer merupakan novel ilustrasi dengan teks yang sedikit. Pada wawancara yang dirilis oleh thetimes.co.uk Khaled juga mengaku bahwa dia hanya membutuhkan satu petang saja untuk menulis Sea Prayer.

     

    Sea Prayer memang singkat, tapi indah dan puitis –ciri khas Khaled. Karya ini menggambarkan beberapa kepribadiannya, sebagai novelis, seorang ayah dan bahkan sebagai seorang dokter. Hal ini tecermin dari kalimat yang digunakannya dalam salah satu bait Sea Prayer: “You have learned dark blood is better news than bright.”



  4. Khaled Meninggalkan Karir Sebagai Dokter untuk Menjadi Penulis


    Quotes Khaled Hosseini Sea Prayer


    Sebelum menjadi novelis, Khaled merupakan seorang dokter. Dia lulus dari Independence High School dan kemudian mempelajari Biologi di Santa Clara University. Dia lulus dengan gelar Sarjana Biologi pada 1988 dan kemudian masukUniversity of California-San Diego’s School of Medicine sampai menyelesaikan gelar M.D. pada tahun 1993. Khaled mengaku alasan utamanya menjadi dokter adalah karena pekerjaan tersebut stabil dan memberikan harapan masa depan yang lebih baik.

     

    Ketika masih menjadi seorang dokter, Khaled harus bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk menulis novel The Kite Runner sebelum berangkat ke tempat praktik. Tragedi 9/11 yang menimpa World Trade Centre sempat membuat Khaled berpikir untuk berhenti menulis novel yang berlatar belakang di negara Afghanistan tersebut. Namun berkat dukungan dari orang-orang terdekat, terutama istrinya, membuat Khaled berhasil menyelesaikan The Kite Runner.

     

    Khaled ingin novel tersebut membantu para pembaca mengenal dan melihat Afghanistan sebagai tempat yang lebih dari hanya sekedar berisi perang, kemiskinan, narkoba, dan Taliban. Khaled ingin agar orang-orang dapat melihat Afghanistan sebagai negara indah dengan budaya yang kaya.



  5. Karyanya Best Seller, Hidup Khaled Tidak Glamor

    Meskipun menjadi salah satu penulis best-seller, Khaled mengaku bahwa hidupnya jauh dari kata glamor. Kegiatan sehari-hari Khaled biasanya diisi dengan olahraga di pagi hari. Khaled juga hobi bermain tenis –meskipun dia tidak begitu mahir. Dia juga menyebutkan bahwa kantor yang digunakannya untuk bekerja merupakan kantor yang sederhana –hanya dinding dan atap dengan sebuah meja dan kursi. Khaled biasanya menutup tirai sehingga dia bebas dari gangguan. Khaled Hosseini berada di kantor pada jam 9 pagi sampai 3 sore, dan setelah itu berkumpul bersama keluarganya.


    ***

    Karya apalagi yang kira-kira akan dimunculkan oleh Khaled Hosseini setelah Sea Prayer? Kabarnya Khaled sedang menggarap novel yang sampai saat ini belum mau dia bocorkan isinya. Kita tunggu saja ya!



    [Oleh: Fauziah Hafidha]


    Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan untuk Para Pengungsi 

     

0

Artikel

Khaled Hosseini, penulis novel best seller The Kite Runner dan juga duta UNHCR (UN Refugee Agency), baru-baru ini mengunjungi Libanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Dalam wawancaranya dengan NPR, Khaled mengatakan bahwa para pengungsi Suriah menghadapi kehidupan yang berat di Libanon. Sebagian besar hidup dengan penghasilan sangat minim dan tinggal dalam garasi serta gudang yang sudah tidak terpakai, bahkan pada sebuah pusat perbelanjaan yang belum selesai serta berbau seperti saluran pembuangan.

 

Lebih lanjut Hosseini juga mengatakan bahwa sebagai seorang ayah, ia dapat membayangkan perasaan para pengungsi yang tidak mampu menafkahi anak-anak mereka, atau akhirnya memilih membayar penyelundup dan mencoba salah satu penyeberangan berbahaya melintasi Laut Mediterania karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

 

Sea Prayer terinspirasi secara khusus oleh kisah salah seorang pengungsi. Pada tahun 2015, bocah Suriah bernama Alan Kurdi, tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa. Jenazah bocah yang terdampar di pantai Turki tersebut diabadikan dalam sebuah foto dan menyedot perhatian banyak orang.

Hosseini mengatakan bahwa ia sangat terpukul ketika melihat foto tersebut.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini 1


Sebagai seorang ayah, saya berusaha membayangkan bagaimana pedihnya perasaan yang harus ditanggung oleh ayahnya setiap kali ia melihat foto-foto putranya, dan juga melihat foto orang asing yang mengangkat tubuh anaknya -orang asing yang tidak tahu suara atau tawa Alan, ataupun mainan favorit anaknya tersebut,” kata Hosseini.

“..you have to understand,

that no one puts their children in a boat

unless the water is safer than the land.” –Home, Warsan Shire


Saya berharap bahwa buku Sea Prayer ini menjadi bentuk penghormatan kecil tidak hanya bagi keluarga Alan Kurdi, tetapi juga, pada tingkat yang lebih luas, dapat menyoroti keputusasaan yang dihadapi ribuan orang ketika harus meninggalkan rumah mereka untuk melakukan perjalanan melintasi laut yang brutal dan terkadang mematikan.”

Saya membayangkan diri saya sebagai salah satu dari banyak kepala keluarga yang terpaksa meninggalkan tempat asal mereka, berjalan bermil-mil jauhnya selama berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, bersama anak-anak mereka, dengan risiko bahwa sepanjang jalan ia mungkin saja ditahan, atau dipukuli, atau bahkan anak-anak mereka mungkin dijual untuk kerja paksa.

Mereka mencapai laut dan mempertaruhkan hidup di tangan penyelundup, berangkat ke laut lepas, meskipun telah mengetahui bahwa ribuan orang meninggal dalam perjalanan yang sama, dan tidak ada apa pun di sana untuk melindungi mereka.

Hidup mereka berada di tangan penyelundup yang tidak menghargai kehidupan manusia, dan sebetulnya seluruh bisnis yang para penyelundup itu lakukan berporos pada penderitaan yang mereka alami
, “kata Hosseini.

“Siapa yang akan memilih hal berbahaya seperti ini untuk keluarga mereka? Jika saya adalah seorang ayah dalam posisi tersebut, berdiri di pantai yang diterangi cahaya bulan -bersiap untuk perjalanan berbahaya, mungkin saya juga akan… mengatakan salah satu dari doa-doa ini.”

All I can do is pray.

 

Pray God steers the vessel true,

when the shores slip out of eyeshot

and we are a flyspeck

in the heaving waters, pitching and tilting,

easily swallowed. –Sea Prayer, Khaled Hosseini



Khaled Hosseini dikenal atas karya-karyanya yang mengangkat tema Afghanistan: The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan And The Mountains Echoed. Nantikan karya Khaled selanjutnya, Sea Prayer,
rilis di Indonesia.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini

Artikel ini disadur dari artikel NPR berjudul: Khaled Hosseini Says A Succinct ‘Sea Prayer’ For A Refugee’s Journey.

 

[Oleh: Fauziah Hafidha]

 

0

X