fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel


desperates-journeys


Khaled Hosseini, penulis novel best-seller The Kite Runner sekaligus duta UNHCR, beberapa waktu lalu mengunjungi Lebanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Seperti dilansir oleh republika.co.id, sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah saat ini masih berada di wilayah Lebanon. Khaled juga menyempatkan diri untuk mengunjungi kota Sisilia dan berbincang dengan beberapa pengungsi yang telah berhasil melewati perjalanan laut menuju kota tersebut.



Artikel ini merupakan rangkuman beberapa penggalan kisah para pengungsi dari video Khaled Hosseini, Desperate Journeys. Kisah-kisah menyentuh sekaligus inspiratif –kisah tentang harapan akan hari esok yang lebih baik.


Seandainya Aku Tahu, Aku Tak Akan Membiarkanmu Pergi…



khaled-hosseini

Bissan sedang mengandung putranya, Nouradin, yang sekarang telah berusia dua setengah tahun, ketika suami dan anak laki-lakinya pergi ke Turki dengan cara menyebrangi laut. Dua tahun setelah suami dan anak sulungnya pergi terasa seperti mimpi buruk. Bissan sangat merindukan mereka berdua. Saat ini Bissan hanya bisa pasrah menunggu kepastian akankah dirinya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.

Bissan menceritakan bahwa suami dan anak sulungnya harus menaiki perahu karet untuk menyebrangi lautan. Bissan merinding setiap kali membayangkan kembali kejadian tersebut. Perjalanan yang harus ditempuh suami dan anak sulungnya tidak sebentar, sekitar 4 jam di tengah laut.


“People take these journeys across the sea because of fear of violence, fear of persecution, and because they have no future.” –Khaled Hosseini, author of Sea Prayer.


Apabila diberi kesempatan lagi, akankah Bissan mengambil keputusan yang sama dan menyetujui kepergian suaminya? Bissan dengan tegas menjawab tidak. Seandainya Bissan tahu bagaimana keadaan yang dia hadapi saat ini, dia akan melarang suami dan anak sulungnya pergi. Bissan akan memeluk kedua orang terkasih tersebut dan tidak akan melepaskan mereka sedetik pun.


“If I knew then what I know now, I would refuse to let them go. I would put my arms around them and I would make them prisoners of my embrace and I would not let them go even for a minute.” –Bissan, a refugee.


Apakah Aku Masih Hidup?



khaled-hosseini-penulis-buku-sea-prayer

Seorang pengungsi Eritrea, Abdelfetah, menceritakan bahwa para penyelundup menawari para pengungsi untuk menggunakan perahu karet dan pergi menuju Eropa melewati lautan. Tetapi para penyelundup itu tidak pernah memberitahu tentang perahu karet pertama yang berangkat –perahu yang tenggelam dengan sekitar 400 penumpang. Dua orang teman Abdelfetah ada dalam perahu yang tenggelam tersebut.


Perjalanan menggunakan perahu dari Libya ke Italia itu diabadaikan dalam sebuah buku bertajuk Le Cicogne Nere. Abdelfatah naik bersama 200 orang lainnya dan mereka bekerjasama agar perahu tidak sampai terbalik. Dia mengenang bahwa perjalanan yang dilakukan di malam hari tersebut berlangsung dalam keadaan begitu gelap, sampai-sampai jika dia menutup mata dan membukanya kembali-tidak ada perbedaan. Abdelfetah sempat berpikir dalam hatinya ‘Apakah aku masih hidup?’. Para penumpang perahu saat itu berusaha untuk saling berbicara dan berdoa sehingga suasana tidak begitu hening -hanya untuk menunjukkan bahwa mereka masih ‘ada di dunia’.


Kesempatan Kedua



gambar-desperates-jpurneys

Ibrahim, 18 tahun, merupakan pengungsi asal Liberia yang ditembak ketika berusaha melarikan diri dari pasukan militan Libya namun memaksakan diri untuk naik perahu dan pergi menuju Eropa. Keadaan Ibrahim saat itu sangat lemah sehingga dia tertidur di atas perahu. Ketika Ibrahim terbangun, perahu sudah mencapai Laut Tunisia. Mendengar kabar tersebut Ibrahim merasakan adanya harapan karena meskipun tentara Tunisia menangkapnya, hidupnya tetap akan terselamatkan.


Begitu sampai di Italia, selain lemah secara fisik, Ibrahim juga mengalami kebingungan serta depresi. Namun, dia langsung memikirkan masa depan, pelajaran apa yang akan dia dapat, dan bagaimana cara agar dia bisa hidup normal dan bahagia seperti orang lain.


Ibrahim bertekad bahwa satu-satunya jalan agar dia mendapatkan kehidupan normalnya kembali adalah dengan menjadi orang yang berpendidikan. Ibrahim yakin dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya asal mau belajar dengan tekun. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan dalam 6 bulan sudah mampu menguasai bahasa Italia. Khaled takjub dengan banyaknya pengalaman yang telah dilalui Ibrahim di usia belia. Ibrahim merupakan contoh luar biasa, seorang pengungsi dengan ketahanan, kecerdasan intelegensi dan emosi serta tekad kuat untuk menata kehidupannya kembali.


Monumen di Catania



cuplikan-video-desperate-journeys

…many of these people that tried these journeys and did not make it, what happens to them, what happens to their memory, who thinks of them? –Khaled Hosseini, author of Sea Prayer.


Sebuah monumen di Catania, Sisilia, didirikan untuk mengenang para pengungsi yang kehilangan nyawa ketika mencoba menyebrangi lautan menuju Eropa. Terdapat 17 makam para pengungsi yang tidak diketahui identitasnya -yang tewas karena tenggelam dan dimakamkan pada bulan April 2015. Pada setiap plakat terdapat puisi karya Wole Soyinka, seorang penyair dan novelis berkulit hitam pertama yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1986. Monumen ini, menurut Khaled, merupakan pengingat agar umat manusia tidak melupakan perjalanan penuh keputusasaan yang diambil ribuan orang demi menghindari kekerasan, perang dan kemiskinan.


Siamo approdati alla baia dei sogni… We have arrived at the bay of dreams. –Poem by Wole Soyinka

 

Kunjungan yang dilakukan Khaled untuk menemui para pengungsi mengingatkannya pada proses penulisan buku Sea Prayer. Bayangan-bayangan yang muncul di kepala Khaled ketika menulis, terlihat ketika dia mengunjungi tempat tinggal para pengungsi. Khaled juga mengatakan bahwa kata-kata yang terngiang di telinganya ketika menulis Sea Prayer,  dia dengar keluar dari cerita-cerita para pengungsi. Kisah Sea Prayer terasa hidup di antara para pengungsi yang dia temui di Lebanon dan Sisilia.


“I have heard it said we are the uninvited. We are the unwelcome. We should take our misfortune elsewhere. But I hear your mother’s voice, over the tide. and she whispers in my ear, “Oh, but if they saw, my darling. Even half of what you have. If only they saw. They would say kinder things, surely.” –Sea Prayer by Khaled Hosseini.


Sea Prayer merupakan karya persembahan Khaled Hosseini sebagai penghormatan untuk para pengungsi–terutama mereka yang mempertaruhkan hidup dan menyebrangi lautan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kisah dibalik Sea Prayer juga terinspirasi oleh salah seorang anak bernama Alan Kurdi, pengungsi yang tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa.



[Oleh: Fauziah Hafidha]


Baca juga: 7 Negara yang Menerima Arus Pengungsi

Baca juga: Mengenang Kisah Alan Kurdi, Bocah Suriah yang Tewas Tenggelam

Baca juga: Khaled Hosseini, Dari Seorang Pengungsi Menjadi Novelis Best Seller

 








 

 

 

 

0

Artikel
Khaled Hosseini baru-baru ini merilis karya terbarunya, Sea Prayer, yang berhasil masuk deretan New York Times best seller. Khaled merupakan duta UNHCR (UN Refugee Agency) dan juga pendiri The Khaled Hosseini Foundation, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kemanusiaan. Novelis terkenal yang karya-karyanya selalu dinanti para pembaca ini, ternyata pernah berkarir sebagai dokter. Apa saja fakta-fakta menarik lain tentang Khaled Hosseini?


  1. Pengungsi dari Afghanistan

    Invasi Uni Soviet ke Afghanistan memaksa keluarga Khaled Hosseini mencari suaka ke Amerika pada tahun 1980. Khaled baru berusia 15 tahun saat invasi tersebut berlangsung. Keluarga Khaled berharap bisa kembali lagi ke rumah sehingga meninggalkan hampir semua barang-barang yang mereka miliki di Kabul.

     

    Ayah Khaled mulai bekerja sebagai instruktur mengemudi dan ibunya bekerja sebagai pelayan yang kemudian berganti menjadi penata rambut. Kedua orang tua Khaled mengalami masa yang sulit di Amerika. Mereka harus bergantung pada bantuan pemerintah, padahal sebelumnya mereka adalah keluarga kelas atas di Kabul. Namun, Khaled mengatakan bahwa tantangan tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi oleh para pengungsi yang sekarang dia bantu dalam kapasitasnya sebagai duta UNHCR.


  2. Bukan Siswa yang Populer di Sekolah

    Buku-Sea-Prayer-Khaled-Hosseini


    Novel-novel best-seller karya Khaled, The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns dan And The Mountains Echoed, sudah dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Namun ternyata dulu Khaled Hosseini bukan siswa yang populer di sekolah. Khaled yang saat itu belum bisa berbahasa Inggris disekolahkan di sekolah lokal California oleh orangtuanya. Khaled merasa seperti karakter anonim –tidak terlihat oleh murid-murid lain. Tetapi dia cukup dekat dengan beberapa murid yang juga merupakan pengungsi Kamboja. Khaled merasa, meskipun dia tidak begitu mengerti bahasa Kamboja, ada semacam ikatan kekeluargaan di antara mereka.

     

    Pernah suatu ketika, Khaled datang ke sekolah dan melihat orang-orang mengenakan pakaian yang aneh –ada yang mengenakan jubah vampir serta ada juga yang mengenakan kostum tikus. Khaled merasa bingung. Ternyata, saat itu orang-orang sedang merayakan Haloween –dan Khaled belum pernah mendengar tentang perayaan tersebut!



  3. Sea Prayer Ditulis Saat Petang Hari


    Buku Sea Prayer karya Khaled Hosseini


    Sea Prayer
    merupakan karya Khaled yang ditunggu-tunggu setelah beberapa karya sebelumnya begitu laris diminati oleh para pembaca di seluruh dunia. Khaled menjadi khawatir para pembaca mengharapkan karya tersebut merupakan novel penuh –seperti novel-novel sebelumnya. Khaled mengingatkan pada para pembaca bahwa Sea Prayer merupakan novel ilustrasi dengan teks yang sedikit. Pada wawancara yang dirilis oleh thetimes.co.uk Khaled juga mengaku bahwa dia hanya membutuhkan satu petang saja untuk menulis Sea Prayer.

     

    Sea Prayer memang singkat, tapi indah dan puitis –ciri khas Khaled. Karya ini menggambarkan beberapa kepribadiannya, sebagai novelis, seorang ayah dan bahkan sebagai seorang dokter. Hal ini tecermin dari kalimat yang digunakannya dalam salah satu bait Sea Prayer: “You have learned dark blood is better news than bright.”



  4. Khaled Meninggalkan Karir Sebagai Dokter untuk Menjadi Penulis


    Quotes Khaled Hosseini Sea Prayer


    Sebelum menjadi novelis, Khaled merupakan seorang dokter. Dia lulus dari Independence High School dan kemudian mempelajari Biologi di Santa Clara University. Dia lulus dengan gelar Sarjana Biologi pada 1988 dan kemudian masukUniversity of California-San Diego’s School of Medicine sampai menyelesaikan gelar M.D. pada tahun 1993. Khaled mengaku alasan utamanya menjadi dokter adalah karena pekerjaan tersebut stabil dan memberikan harapan masa depan yang lebih baik.

     

    Ketika masih menjadi seorang dokter, Khaled harus bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk menulis novel The Kite Runner sebelum berangkat ke tempat praktik. Tragedi 9/11 yang menimpa World Trade Centre sempat membuat Khaled berpikir untuk berhenti menulis novel yang berlatar belakang di negara Afghanistan tersebut. Namun berkat dukungan dari orang-orang terdekat, terutama istrinya, membuat Khaled berhasil menyelesaikan The Kite Runner.

     

    Khaled ingin novel tersebut membantu para pembaca mengenal dan melihat Afghanistan sebagai tempat yang lebih dari hanya sekedar berisi perang, kemiskinan, narkoba, dan Taliban. Khaled ingin agar orang-orang dapat melihat Afghanistan sebagai negara indah dengan budaya yang kaya.



  5. Karyanya Best Seller, Hidup Khaled Tidak Glamor

    Meskipun menjadi salah satu penulis best-seller, Khaled mengaku bahwa hidupnya jauh dari kata glamor. Kegiatan sehari-hari Khaled biasanya diisi dengan olahraga di pagi hari. Khaled juga hobi bermain tenis –meskipun dia tidak begitu mahir. Dia juga menyebutkan bahwa kantor yang digunakannya untuk bekerja merupakan kantor yang sederhana –hanya dinding dan atap dengan sebuah meja dan kursi. Khaled biasanya menutup tirai sehingga dia bebas dari gangguan. Khaled Hosseini berada di kantor pada jam 9 pagi sampai 3 sore, dan setelah itu berkumpul bersama keluarganya.


    ***

    Karya apalagi yang kira-kira akan dimunculkan oleh Khaled Hosseini setelah Sea Prayer? Kabarnya Khaled sedang menggarap novel yang sampai saat ini belum mau dia bocorkan isinya. Kita tunggu saja ya!



    [Oleh: Fauziah Hafidha]


    Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan untuk Para Pengungsi 

     

0

Artikel

Khaled Hosseini, penulis novel best seller The Kite Runner dan juga duta UNHCR (UN Refugee Agency), baru-baru ini mengunjungi Libanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Dalam wawancaranya dengan NPR, Khaled mengatakan bahwa para pengungsi Suriah menghadapi kehidupan yang berat di Libanon. Sebagian besar hidup dengan penghasilan sangat minim dan tinggal dalam garasi serta gudang yang sudah tidak terpakai, bahkan pada sebuah pusat perbelanjaan yang belum selesai serta berbau seperti saluran pembuangan.

 

Lebih lanjut Hosseini juga mengatakan bahwa sebagai seorang ayah, ia dapat membayangkan perasaan para pengungsi yang tidak mampu menafkahi anak-anak mereka, atau akhirnya memilih membayar penyelundup dan mencoba salah satu penyeberangan berbahaya melintasi Laut Mediterania karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

 

Sea Prayer terinspirasi secara khusus oleh kisah salah seorang pengungsi. Pada tahun 2015, bocah Suriah bernama Alan Kurdi, tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa. Jenazah bocah yang terdampar di pantai Turki tersebut diabadikan dalam sebuah foto dan menyedot perhatian banyak orang.

Hosseini mengatakan bahwa ia sangat terpukul ketika melihat foto tersebut.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini 1


Sebagai seorang ayah, saya berusaha membayangkan bagaimana pedihnya perasaan yang harus ditanggung oleh ayahnya setiap kali ia melihat foto-foto putranya, dan juga melihat foto orang asing yang mengangkat tubuh anaknya -orang asing yang tidak tahu suara atau tawa Alan, ataupun mainan favorit anaknya tersebut,” kata Hosseini.

“..you have to understand,

that no one puts their children in a boat

unless the water is safer than the land.” –Home, Warsan Shire


Saya berharap bahwa buku Sea Prayer ini menjadi bentuk penghormatan kecil tidak hanya bagi keluarga Alan Kurdi, tetapi juga, pada tingkat yang lebih luas, dapat menyoroti keputusasaan yang dihadapi ribuan orang ketika harus meninggalkan rumah mereka untuk melakukan perjalanan melintasi laut yang brutal dan terkadang mematikan.”

Saya membayangkan diri saya sebagai salah satu dari banyak kepala keluarga yang terpaksa meninggalkan tempat asal mereka, berjalan bermil-mil jauhnya selama berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, bersama anak-anak mereka, dengan risiko bahwa sepanjang jalan ia mungkin saja ditahan, atau dipukuli, atau bahkan anak-anak mereka mungkin dijual untuk kerja paksa.

Mereka mencapai laut dan mempertaruhkan hidup di tangan penyelundup, berangkat ke laut lepas, meskipun telah mengetahui bahwa ribuan orang meninggal dalam perjalanan yang sama, dan tidak ada apa pun di sana untuk melindungi mereka.

Hidup mereka berada di tangan penyelundup yang tidak menghargai kehidupan manusia, dan sebetulnya seluruh bisnis yang para penyelundup itu lakukan berporos pada penderitaan yang mereka alami
, “kata Hosseini.

“Siapa yang akan memilih hal berbahaya seperti ini untuk keluarga mereka? Jika saya adalah seorang ayah dalam posisi tersebut, berdiri di pantai yang diterangi cahaya bulan -bersiap untuk perjalanan berbahaya, mungkin saya juga akan… mengatakan salah satu dari doa-doa ini.”

All I can do is pray.

 

Pray God steers the vessel true,

when the shores slip out of eyeshot

and we are a flyspeck

in the heaving waters, pitching and tilting,

easily swallowed. –Sea Prayer, Khaled Hosseini



Khaled Hosseini dikenal atas karya-karyanya yang mengangkat tema Afghanistan: The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan And The Mountains Echoed. Nantikan karya Khaled selanjutnya, Sea Prayer,
rilis di Indonesia.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini

Artikel ini disadur dari artikel NPR berjudul: Khaled Hosseini Says A Succinct ‘Sea Prayer’ For A Refugee’s Journey.

 

[Oleh: Fauziah Hafidha]

 

0

X