fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

Siapa sih yang tak kenal Dan Brown? Meskipun belum pernah baca bukunya, setidaknya orang pasti pernah mendengar atau membaca namanya. Ya, buku-buku Dan Brown memang selalu masuk dalam jajaran bestseller di seluruh penjuru dunia selama 15 tahun terakhir.


Tema-tema kontroversial yang diangkat Dan Brown dalam buku-bukunya selalu berhasil menarik minat para pembaca. Setelah menggebrak dengan tema pencarian Holy Grail dalam The Da Vinci Code pada 2003, dalam novel terbarunya yang berjudul Origin, Dan Brown mengangkat tema agama versus sains.

Tak diragukan lagi, Dan Brown sukses menyajikan kisah-kisah yang membuat para pembaca ketagihan.


Baru-baru ini, Dan Brown menjadi salah satu mentor Masterclass, sebuah kursus online, dan berbagi ilmu tentang kepenulisan. Penasaran apa saja yang dia ajarkan? Mari kita intip sedikit bocorannya di artikel ini.



1. Buat janji kepada pembaca

Dan tepati janji tersebut. “Dalam menulis novel, genre apa pun, penulis seolah-olah membuat janji kepada pembaca, dan itu tidak boleh dilanggar,” ujar Dan Brown. Memperkenalkan tokoh-tokoh misterius, teori-teori konspirasi, dan teka-teki di awal cerita akan menjerat para pembaca, dan mengarahkan mereka pada pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab. Tidak perlu dijawab semua sekaligus, yang pasti di akhir cerita, semua pertanyaan itu harus terjawab. “Kalau kau menulis ada sebuah senapan tergantung di dinding pada bab satu, maka pada akhir cerita harus ada seseorang yang menggunakan senapan tersebut.”




2. Waktu yang terbatas


 Beri batasan waktu, di mana sesuatu harus terjadi. Ini akan membuat alur cerita terus maju. Contohnya, keseluruhan kisah Angels and Demons terjadi dalam waktu 24 jam, di mana dalam batas waktu itu Profesor Robert Langdon harus menyelamatkan dunia dari senjata nuklir. Batas waktu meningkatkan urgensi suatu thriller dan membantu mempertahankan laju cerita.


3. Konflik itu penting

Bagi Dan Brown, konflik mengacu pada konsep membuat suatu tokoh menjalani ujian yang sulit. Harus hanya ada satu cara untuk mencapai resolusi, dan itu tidak boleh dibuat mudah. “Memberi keterbatasan pada tokoh itu penting,” ujarnya. “Dan ini adalah salah satu hal yang tidak semata-mata berdasarkan intuisi.”


4. Bereksperimen dengan cliffhanger

Dalam buku-buku Dan Brown, banyak bab diakhiri dengan cliffhanger yang membuat pembaca gemas. Menurut Dan Brown, cliffhanger itu tentang penundaan memberi informasi dan pengaturan waktu. “Kita tidak memberitahu sesuatu… dan menciptakan jeda sebelum resolusi,” ujarnya. Brown menyarankan untuk mengutak-atik struktur narasinya, dengan mengakhiri suatu bab lebih cepat atau menyimpan pancingan (misalnya petunjuk bahwa di bab berikutnya, sang protagonis akan berada di benua lain) agar tetap menarik minat pembaca.


5.Gunakan alur-alur cerita yang berkelindan

Satu alur cerita yang menarik itu bagus. Tapi beberapa alur cerita yang menarik adalah cara yang bagus untuk memikat pembaca. (Terutama jika kau memegang janji, memberi batasan waktu, dan tidak memberi jalan mudah bagi resolusi cerita.) Brown menyampaikan bahwa dia menulis alur-alur cerita secara terpisah terlebih dulu, baru kemudian menjalinnya. “Alur-alur cerita ini harus berkelindan. Kalau tidak, alur-alur itu tidak akan relevan satu sama lain,” kata Dan Brown.


6. Lakukan banyak riset, karena mungkin kau akan menemukan hal-hal tak terduga

Dan Brown membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menulis buku, salah satunya karena dia selalu melakukan banyak riset. Dia merekomendasikan untuk sebanyak mungkin membaca tentang topik yang sedang kau tulis, entah itu sejarah, filosofi, sains, perjalanan, atau teori konspirasi. Namun di antara banyaknya informasi yang tersedia, bagaimana caranya menemukan bahan-bahan yang tepat untuk sebuah cerita thriller?

 



“Caranya adalah dengan terus menerus menyaring informasi,” ujar Brown. Simpan informasi-informasi yang menarik bagimu, meskipun mungkin pada saat itu terkesan tidak cocok dengan alur cerita yang sedang kau tulis. “Simpan informasi-informasi itu di kepalamu selama tahun-tahun kau menulis buku,” katanya. Suatu hari mungkin kau menulis suatu kalimat dan teringat akan fakta atau latar belakang yang berguna. Dan Brown menyimpan semua hasil risetnya dalam bentuk daftar elektronik, meskipun hal-hal yang terpenting dia tulis tangan.


7. Jaga prosesnya


Penulis thriller yang sukses perlu memahami berapa lama waktu yang diperlukan untuk menulis sebuah buku, dan kebiasaan yang kuat menjadi faktor penting. Seperti penulis-penulis lainnya, Dan Brown memiliki rutinitas (dia bangun jam empat pagi untuk menulis di sebuah ruangan yang sama sekali tidak punya jaringan internet) dan menekankan pentingnya berpegang pada kebiasaan itu dan menyadari bahwa itu akan dilakukan untuk jangka waktu lama. “Jaga prosesnya,” dia bilang. “Hasilnya akan mengikuti.”


8. Tulis yang salah dulu


Ini adalah cara Dan Brown untuk keluar dari kebuntuan dalam menulis, sekaligus saran terbaik yang pernah dia terima. “Tulis yang salah dulu, dan biarkan itu jadi proses untuk menulis yang benar.” Alih-alih menulis satu paragraf kemudian menghapusnya karena tidak sesuai keinginan, menulis saja terus. Revisi-revisi bisa dilakukan belakangan.



9. Mulai dengan dunia yang spesifik


Seringkali, memulai menulis adalah langkah yang paling sulit, dan Dan Brown menyarankan untuk memulai dengan memilih dunia yang menarik bagimu. Bisa jadi dunia jurnalisme, atau dunia kuliner. Setidaknya ini akan memberikan batasan tempat dari cerita yang kau tulis. Brown memberi contoh sebagai berikut: “Kalau kau memiliki restoran, tokoh antagonisnya bisa saja seorang mafia. Kau meminjam uang dari orang salah untuk membuka restoran, dan jadilah sebuah cerita thriller—atau setidaknya fondasi dari cerita thriller.”



10. Ingatlah untuk berambisi


Tidak, ini bukan berarti memutuskan untuk mulai menulis cerita thriller (yang merupakan suatu keputusan besar). Meskipun memiliki teknik menulis yang luar biasa, kau butuh kreatifitas untuk menaikkan kualitas tulisanmu ke tingkat selanjutnya. Semua buku Dan Brown mengandung isu-isu penting yang sudah terkenal luas—seperti isu agama atau kelebihan populasi. Dan Brown memilih isu-isu ini karena menurutnya isu-isu ini berguna. Intinya, tema-tema ambisius membuat taruhannya lebih tinggi.

 

“Jika kau membuat cliffhanger tentang akhir dunia, isunya akan menjangkau lebih banyak orang, dibandingkan jika kau membuat cliffhanger tentang mengantarkan anak ke sekolah tepat waktu. Keduanya efektif dalam genrenya masing-masing, tapi aku memilih tema-tema besar karena lebih menarik bagi banyak orang.”

 

Jadi, mulailah berambisi, belajar dan mulai menulis. Siapa tahu, mungkin kau akan menjadi Dan Brown berikutnya.


[Diterjemahkan dan disadur oleh Dy dari artikel Quartzy karya Aisha Hassan] 
https://qz.com/quartzy/1449852/dan-browns-top-10-tips-on-how-to-write-a-bestselling-thriller/



Baca juga: Ingin Jadi Penulis? Simak Pesan Penting dari Dan Brown Yuk!


Baca juga: 10 Fakta Menarik Dibalik Sosok Dan Brown

0

Artikel

dan-brown-inferno


Pada artikel wawancara sebelumnya, Dan Brown mengaku bahwa tempat paling favorit dari semua tempat yang pernah dia kunjungi di seluruh dunia adalah Istanbul. Dan Brown menganggap Istanbul sebagai kota tempat “timur” dan “barat” bertemu secara geografis. Kota yang semula bernama Konstantinopel tersebut, merupakan ibu kota dari empat kekaisaran, yaitu Romawi, Byzantium, Latin dan Ottoman. Setiap kekaisaran memiliki ciri khas dan peninggalan yang berbeda satu sama lain. Sehingga membuat Istanbul menjadi kota yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.


Dalam artikel tourturki.co.id,  dikatakan bahwa meskipun Istanbul bukan ibu kota Negara Turki, tetapi Istanbul merupakan kota terluas dengan 13 juta penduduk. Istanbul juga merupakan kota lintas benua, Asia dan Eropa, yang dipisahkan oleh suatu selat bernama Selat Bosporus. Kedua benua tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan yang juga diberi nama Jembatan Bosporus. Di sisi lain Jembatan Bosporus (atau dikenal dengan nama Jembatan Fatih Sultan Mehmed), terdapat sebuah tanda selamat datang ke dua benua tersebut, Benua Asia atau Benua Eropa.


Istanbul merupakan salah satu tempat yang menjadi latar belakang novel best-seller karya Dan Brown, Inferno. Karakter utama dalam novel, Robert Langdon, mengakhiri petualangan untuk memecahkan teka-teki puisi Dante di kota terbesar di Turki tersebut. Langdon sempat mengunjungi beberapa lokasi di Istanbul sampai akhirnya dia mampu menemukan jawaban dari teka-teki puisi Dante.



Kalau sudah membaca Inferno, Anda pasti familiar dengan tempat-tempat di bawah ini. Apa saja keunikan dari tempat-tempat tersebut?



Hagia Sophia, Museum Kebijakan Suci Bersepuh Emas



hagia-sophia


Bangunan yang dibangun pada tahun 360 M ini awalnya menjadi katedral Ortodoks Timur sampai tahun 1204. Setelah terjadinya Perang Salib Keempat, Enrico Dandolo mengubah Hagia Sophia menjadi gereja Katolik. Pada abad kelima belas, menyusul penaklukan Konstantinopel oleh Fatih Sultan Mehmed, bangunan itu diubah menjadi masjid. Selanjutnya pada tahun 1935, Hagia Sophia akhirnya difungsikan sebagai sebuah museum.


Dan Brown dalam novel Inferno menyebut bangunan bersejarah ini sebagai museum kebijakan suci bersepuh emas. Semua dinding Hagia Sophia, kecuali yang dilapisi marmer, dihiasi mosaik sangat indah yang terbuat dari emas, perak, kaca, terakota, dan batu berwarna-warni. Beberapa mosaik di Hagia Sophia merupakan seni Byzantium dan dianggap sebagai mahakarya. Motif yang digunakan untuk menciptakan mosaik sebagian besar adalah potret kekaisaran dan gambar religius dari ajaran Kristen.

 


Kubah Hagia Sophia merupakan elemen yang paling mencolok dalam bangunan tersebut. Seperti dilansir pada florenceinferno.com, perbedaan paling penting dalam desain arsitektur Hagia Sophia adalah ukuran yang jauh lebih besar dan kubah yang lebih tinggi daripada bangunan gereja pada umumnya. Kubah yang berada di atas ruang tengah memiliki tinggi 55,60 meter dari permukaan tanah, 31,87 meter dari bagian utara ke selatan dan 30,87 meter dari bagian timur ke barat.



Fakta menarik tentang Hagia Sophia: Sophia dalam bahasa Yunani berarti kebijaksanaan. Nama lengkap Hagia Sophia dalam bahasa Yunani berarti ‘Shrine of the Holy Wisdom of God’, Tempat Kebijaksanaan Suci dari Tuhan.




Istana Topkapi, Kota di dalam Kota Istanbul



istana-topkapi

Seperti yang digambarkan Dan Brown dalam novelnya, Istana Topkapi menjadi favorit di kalangan turis karena memiliki pemandangan strategis ke jalur air Bosporus. Turis kebanyakan datang mengunjungi istana tersebut untuk mengagumi keindahan pemandangan dan koleksi menawan harta karun Ottoman. Mencakup jubah dan pedang yang konon pernah digunakan oleh Nabi Muhammad.

 

Istana Topkapi merupakan pusat kekuasaan Ottoman dan menjadi pusat administrasi, pendidikan, serta artistik kekaisaran Ottoman selama hampir empat ratus tahun. Istana ini sering dianggap sebagai kota di dalam kota karena begitu luas. Istana Topkapi terdiri dari 4 bagian utama yang berisi taman-taman yang indah, dapur yang sangat besar, masjid, rumah sakit, paviliun-paviliun serta Harem. Harem merupakan tempat tinggal sultan Ottoman bersama keluarga, selir-selir, dan para pelayan serta para penjaga Harem. Seperti yang dilansir pada worldwanderista.com, bangunan kamar-kamar yang ada di Harem dipenuhi dengan mosaik mewah dan ubin yang berwarna cerah. Begitu juga dengan detail-detail emas yang ada di jendela Harem, semuanya cantik dan indah!

 

Setelah berdirinya Republik Turki, Istana Topkapi dialihfungsikan menjadi museum pada tanggal 3 April tahun 1924. Museum ini berisi koleksi porselen, jubah, senjata, perisai, baju besi, miniatur kekaisaran Ottoman, kaligrafi Islam, serta perhiasan-perhiasan khas Ottoman.

 

Fakta menarik tentang Istana Topkapi: Dalam bahasa Turki, ”Topkapi” berarti ”Gerbang Meriam”. Nama tersebut berasal dari meriam besar yang berdiri kokoh di luar gerbangnya.



Basilica Cistern, Waduk Bawah Tanah Istanbul



Basilica-cistern


Hanya beberapa menit dari Hagia Sophia, Robert Langdon keliru menganggap bahwa pintu masuk sederhana yang dia lihat mengarah ke klub dansa bawah tanah, namun kenyataannya pintu tersebut menuju ke sebuah konser di dalam waduk. Bertrand Zobrist, ilmuwan yang telah membuat teka-teki puisi Dante dalam novel Inferno, telah meninggalkan virus berbahaya di waduk yang kini dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

 

Waduk tersebut bernama Basilica Cistern, dibangun pada abad ke-6 di bawah kekaisaran Byzantium. Bangunan bawah tanah ini memiliki tinggi 70 meter dengan lebar 140 meter. Ruangan ini memiliki gaya khas romawi dengan tiang beton sebanyak 336 buah. Menurut informasi dari cheria-travel.com, Basilica Cistern mampu menyimpan air sampai 80.000 meter kubik. Sejak era kekaisaran Byzantium, Basilica Cistern berfungsi menyuplai air untuk kota Istanbul -bahkan hingga masa kekaisaran Ottoman memasuki era modern. Air dari tempat ini juga merupakan suplai utama ke Istana Topkapi.

 

Salah satu keunikan yang dimiliki Basilica Cistern adalah terdapat pahatan patung Medusa yang berbentuk persis sama dengan letak menghadap yang berbeda. Menurut mitologi Yunani, Medusa merupakan salah satu mahkluk Gorgon, tokoh perempuan yang hanya dengan pandangannya saja dapat mengubah makhluk hidup menjadi batu. Belum ada teori pasti yang menjelaskan mengapa kedua pahatan Medusa di Basilica Cistern tersebut menghadap ke arah yang berbeda.

 

Basilica Cistern memiliki 336 kolom, terbuat dari marmer dan granit yang sebagian besar bergaya Corinthian. Salah satu keunikan lain yang ada di Basilica Cistern adalah kolom ‘Hen’s Eye’ yang memiliki motif setetes air mata di bagian atasnya. Bentuk air mata tersebut dikaitkan dengan 7.000 budak yang dipekerjakan untuk membangun Basilica Cistern dan ratusan dari mereka tewas selama pembangunan berlangsung.

 

Fakta menarik tentang Basilica Cistern: Tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi film James Bond, From Russia with Love pada tahun 1963.



[Oleh: Fauziah Hafidha]



Baca juga: Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia? Ini Kata Dan Brown


Baca juga: Ingin jadi Penulis? Simak Pesan Penting dari Dan Brown Yuk!

0

Artikel

Buku Origin merupakan karya kedelapan dari penulis asal Amerika, Dan Brown. Penulis berusia 53 tahun ini membutuhkan waktu empat tahun untuk proses penelitian serta penulisan buku tersebut. Seperti yang dilansir pada artikel nytimes.com, Dan Brown merupakan penulis yang sangat disiplin. Dan bangun pada pukul 4 setiap pagi, menyiapkan minuman sehat dan kemudian menulis novel.

 

Pada artikel sebelumnya, Dan Brown sudah menceritakan bagaimana serunya proses menulis Origin yang melibatkan kisah tentang artificial intelligence. Pada artikel kali ini kita akan mengetahui buku mana yang paling sulit ditulis menurut Dan Brown dan alasan kenapa Dan Brown tidak lelah ketika menghadapi antrian panjang di acara booksigning.

 

Temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seru lainnya pada artikel ini.


Q: Origin memiliki plot cerita yang berbeda dengan novel-novel Dan Brown sebelumnya. Origin terasa sangat modern dan mungkin terjadi pada masa sekarang. Apakah Dan Brown mengalami kesulitan memindahkan hasil riset untuk mengakomodasi aspek teknologi dari karakter Winston?

A: Oh, pertanyaan tersebut sangat bagus. Jawabannya adalah, ya. Sangat sulit. Saya lebih banyak tau tentang seni daripada tentang artificial intelligence. Saya melakukan banyak sekali penelitian, berdiskusi dengan orang-orang sangat pintar yang harus menjelaskan pada saya dalam bahasa yang sederhana sampai saya benar-benar mengerti.

Saya menyukai teknologi, menurut saya teknologi sangat menarik. Saya rasa teknologi akan memengaruhi budaya manusia pada tingkat yang jauh lebih besar daripada katalis lain, termasuk agama, filosofi atau perang. Saya rasa semakin lama manusia semakin bergantung kepada teknologi. Perkembangan teknologi sangat menakjubkan.

 

Saya ceritakan sesuatu, ambil contoh pada masa Yunani Kuno. Mereka harus melihat jauh sekali melewati beberapa generasi untuk melihat kehidupan manusia yang berbeda dengan mereka. Manusia dulu membutuhkan waktu yang sangat panjang dari mengetahui cara menggunakan api ke menemukan cara membuat roda, lalu menemukan teleskop; kemudian menemukan mesin uap, lalu komputer, semakin kesini jangka waktunya semakin pendek. Sehingga, pada masa kini, kita hanya cukup melihat satu generasi sebelum kita untuk melihat bagaimana kehidupan manusia yang tidak memakai teknologi seperti yang hari ini kita pakai. Mungkin di kemudian hari, anak-anak kita akan menertawakan kita karena tidak memiliki teknologi yang mereka pakai.


Q:
Jika Dan Brown membandingkan dirinya dengan Robert Langdon, apa saja persamaan dan perbedaan yang mereka miliki? Apabila diberi pilihan, siapakah yang akan Dan Brown pilih, dirinya atau Robert Langdon?

A: Wow, pertanyaan yang sulit. Saya memilih jadi diri saya sendiri karena Langdon jauh lebih pintar, lebih pemberani dan bertalenta –dan dia juga adalah hasil imajinasi, gabungan dari beberapa karakter orang. Saya memiilih jadi diri saya sendiri karena saya lebih suka tinggal di rumah, menulis tentang Langdon, daripada harus jatuh dari helikopter dan berlari-lari menghindari orang-orang yang mencoba menembak saya. Langdon bisa pergi ke berbagai tempat karena saya yang pergi ke tempat-tempat tersebut. Saya bisa melakukan yang Langdon lakukan tanpa mengalami hal yang berbahaya 🙂


Q: Dalam menulis novel, apakah Dan Brown sudah merencanakan “ending”-nya sebelum mulai?

A: Saya merencanakan setiap novel dengan sangat hati-hati. Novel yang saya tulis adalah thriller, sehingga saya harus tahu bagaimana alur ceritanya akan berakhir. Kalau tidak begitu, akhirnya akan saling tumpang tindih dan tidak relevan. Outline yang saya buat untuk novel The Da Vinci Code saja lebih dari 400 halaman.

Kadang-kadang saya menulis plot akhir sebelum menulis plot awal. Kadang juga saya menulis prolog dan epilog-nya terlebih dulu, kemudian tugas saya sebagai seorang novelis adalah membawa pembaca dari titik A (prolog) ke titik B (epilog). Banyak orang berpikir bahwa mereka harus memiliki ide yang sangat brilian untuk dapat menulis novel. Novel bukan tentang “What” tapi tentang “How”.

Saya ambil contohnya Ian Fleming, penulis James Bond. Setiap tema dari buku-buku James Bond memiliki “What” yang pada dasarnya sama, yaitu “Apakah James Bond akan berhasil menyelamatkan dunia dan mendapatkan gadis yang dia inginkan?”, atau “Apakah James Bond akan berhasil menjinakkan bom?” Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan “What” tersebut, kita tidak membaca buku James Bond atau menonton filmnya dan bertanya-tanya “Oh, apakah James akan berhasil menjinakkan bom?” Tentu saja dia akan berhasil. Alasan kita membaca buku dan menonton film James Bond adalah untuk melihat “bagaimana” hal itu terjadi.

Jadi, begitulah tugas saya sebagai seorang penulis. Saya harus mampu menentukan bagaimana jalan yang dilalui si tokoh, Langdon misalnya, sehingga membuat pembaca saya tertarik, terkejut dan juga membawa mereka ke tempat yang ingin mereka lihat. Alur tersebut bisa memungkinkan untuk membagi ide, fakta, informasi tentang teknologi atau seni yang belum pernah mereka pikirkan. Itulah yang menyebabkan pekerjaan saya ini begitu menyenangkan.


Q: Buku apa yang menurut Dan Brown paling sulit untuk ditulis sejauh ini?

 

A: Jawabannya adalah The Lost Symbol. Saya membutuhkan waktu 6 tahun untuk menulis buku tersebut. Salah satu alasannya karena buku tersebut dibuat setelah The Da Vinci Code dan hidup saya berubah sangat drastis. Alasan lainnya adalah karena buku tersebut membahas tentang misteri kuno dan persaudaraan freemason sehingga membutuhkan banyak sekali penelitian. Saya membutuhkan banyak waktu untuk menyusun buku tersebut. Omong-omong, judul awal untuk novel The Last Symbol adalah The Secret of Secret.

 


Q: Apa yang membuat Dan Brown tidak berhenti menulis setelah buku pertamanya tidak begitu mendapat banyak perhatian?

 

A: Saya tidak tahu. Keras kepala, atau mungkin juga karena kebodohan. Saya hanya ingin menulis dan merasa bahwa saya memiliki kisah yang ingin diceritakan. Saya harap para penulis muda atau siapa pun yang ingin jadi penulis memiliki perasaan yang sama. Anda menulis demi menceritakan suatu kisah. Jika Anda mengejar kesuksesan finansial, mungkin Anda akan merasa kecewa. Tapi jika Anda menulis karena ingin menceritakan suatu kisah, dengan sungguh-sungguh, dan berusaha memberikan tulisan terbaik Anda, sukses akan menemukan Anda.

 

There are a lot of luck to success, but there is also a lot of persistents –Dan Brown

 

Saat menyelesaikan novel The Da Vinci Code, yaitu novel keempat saya (setelah novel-novel sebelumnya tidak begitu laku), saya duduk dan membaca manuskrip sembari berpikir “Jika buku ini kembali tidak sukses dan orang-orang tidak menyukai ceritanya, saya akan berhenti menulis. Saya merasa orang-orang tidak memiliki selera yang sama dengan saya. Kenapa? karena ketika membaca The Da Vinci Code, saya sangat menyukai ceritanya”.

 

Jadi jika Anda adalah orang yang kreatif, entah itu seorang novelis, koki, atau musisi, Anda harus menciptakan karya yang Anda suka. Selera Anda harus menjadi panduan. Anda menciptakan karya yang Anda suka, kemudian Anda membagikannya kepada orang lain –dengan harapan mereka juga akan menyukainya. Beberapa orang akan menyukainya –mereka adalah penggemar Anda. Beberapa orang tidak menyukainya –mereka adalah kritikus Anda. Tapi jika Anda beruntung dan memiliki cukup banyak penggemar, mungkin Anda bisa menjadikan hal tersebut sebagai mata pencaharian. Saya memang menjadi penulis sudah cukup lama, tetapi menulis bukan selalu mata pencaharian utama saya. Dulu saya tidak menghasilkan uang sama sekali sebagai penulis.

 

Bagi para penulis pemula atau para penulis yang sudah menerbitkan buku tapi belum begitu laku, saya ada satu cerita. Pada acara penandatanganan buku Digital Fortress, kalau tidak salah di depan sebuah toko buku di dalam mall di New Hampshire, para panitia dengan baiknya menyediakan sebuah meja dan menaruh beberapa eksemplar buku Digital Fortress. Saat itu saya berpakaian sangat rapi –memakai jas dan dasi. Saya terlihat konyol, tetapi saya sangat bersemangat karena akan menandatangani buku-buku saya. Saya bahkan menyediakan tiga pulpen untuk berjaga-jaga kalau tintanya habis. Saya duduk di sana selama tiga jam. Orang-orang berlalu lalang di depan saya, tapi tidak ada yang mau melakukan kontak mata dengan saya atau berbicara dengan saya.

 

Pada akhirnya ada seseorang yang berjalan ke arah saya sambil melakukan kontak mata sehingga saya bersiap-siap mengambil pulpen. Saya terkejut karena ternyata dia menanyakan di mana letak kamar mandi! Saya tidak menandatangani satupun buku hari itu. Saya tidak pernah lupa hari itu. Sekarang, ketika saya menghadiri acara penandantanganan buku dengan antrian yang sangat panjang, orang akan berkata “Oh, Anda pasti sangat lelah”. Saya akan menjawab “Tidak, saya tidak lelah. Saya akan tetap berada di sini sampai selesai.

Saya sangat bersyukur ada orang yang mau membaca buku saya –karena saya ingat hari-hari ketika tidak ada yang membaca buku saya”.





[Oleh: Fauziah Hafidha]




Baca juga: Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia? Ini Kata Dan Brown

Baca juga: 7 Blog Penulis Keren yang Bisa Dikunjungi Saat Butuh Inspirasi

0

Artikel

Apakah Artificial Intelligence bisa gantikan manusia?


Dan Brown merupakan penulis best-seller novel-novel thriller dengan karya terbarunya Origin. Seperti dirilis nytimes.com, novel tersebut membahas beberapa topik menarik seperti kekhasan serta keunikan gereja Sagrada Familia dan juga perkembangan pesat dari artificial intelligence (AI) yang diwakili oleh komputer bernama Winston.

Pada bulan Agustus 2018, Dan Brown melakukan live di Facebook-nya dan menjawab berbagai pertanyaan seru dari para pembaca di seluruh dunia. Penulis merangkum sebagian pertanyaan dan jawaban tersebut dalam artikel ini. Salah satu topik yang dibahas pada artikel ini adalah apakah Winston akan benar-benar hadir di tengah-tengah kehidupan manusia?

(Artikel ini disadur oleh Fauziah Hafidha dari video live Facebook Dan Brown.)  

Q: Apa saran Dan Brown untuk penulis-penulis baru?

 

A: Salah satu hal terpenting yang bisa dilakukan sebagai penulis baru adalah Anda harus sangat serius tentang proses yang sedang dijalani. Hal tersebut berarti Anda harus menyediakan waktu tersendiri, setiap hari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari setahun; untuk menulis. Saya tahu bahwa kita semua sibuk, namun bahkan jika waktu luang yang Anda miliki hanya 30 menit, luangkanlah.

Waktu menulis Digital Fortress, saya memiliki dua pekerjaan sekaligus. Saya bangun jam 4 pagi, menulis sampai jam 7, kemudian berangkat ke tempat kerja saya yang pertama. Sore hari saya pergi bekerja ke tempat pekerjaan saya yang lain. Keesokan harinya saya bangun pagi dan melakukan hal yang sama lagi.

Anda juga harus bisa menemukan tempat privasi khusus, di rumah atau apartemen Anda misalnya, atau bahkan jika Anda harus duduk di dalam mobil sendirian untuk menulis; lakukanlah. Saya menyarankan agar Anda menulis di pagi hari, tapi beberapa orang lebih suka menulis di malam hari; itu juga tidak apa-apa. Pastikan saja bahwa Anda menulis di waktu yang sama setiap harinya. Anda juga harus melindungi proses penulisan tersebut. Saya bahkan punya stiker yang saya tempelkan di komputer bertuliskan “protect the process and the result will take care of themselves”. Saya sangat percaya hal itu. Menulislah dan disiplin terhadap proses penulisan tersebut.

 

Meskipun disiplin, Anda tetap tidak perlu memaksakan hasilnya. Yang artinya, katakanlah pada diri Anda sendiri: meskipun saya hanya memiliki sedikit waktu untuk menulis –tidak apa-apa, yang penting sudah meluangkan waktu.

Writing is like hitting your head against the brick wall until the wall is weakened off and it breaks

Satu saran lagi tentang tempat khusus untuk menulis. Sebetulnya Anda tidak membutuhkan tempat menulis yang “sempurna”. Satu hal yang saya sarankan untuk tempat menulis adalah pastikan tempat tersebut tidak memiliki akses internet. Matikan internet dan fokuslah menulis 🙂


Q: Saya butuh Winston, apakah Dan Brown bisa memberikannya?

A: Saya harap saya memiliki kemampuan untuk membuat Winston, tapi saya tidak bisa. Winston akan datang sebentar lagi. Ketika melakukan riset untuk buku Origin, saya banyak meluangkan waktu dengan para ahli komputer di Barcelona Supercomputing Center –dan saya tahu bahwa artificial intelligence akan segera datang. Entah ini hal yang baik atau buruk, tapi kita akan segera memiliki Winston.

 

Let’s just hope that our morality keeps pace with our technology, and that we can figure out how to use this big technology

Q: Apa arti dari struktur lingkaran yang ada di cover buku Origin?



A: Saya terinspirasi setelah melihat sebuah tangga spiral di Sagrada Familia yang ketika dilihat dari atas terlihat mirip sekali dengan cangkang Nautilus. Bentuk tangga tersebut juga mengingatkan kepada bentuk helix DNA. Karena saya menulis tentang Barcelona, Sagrada Familia, dan DNA… saya merasa tangga spiral itu sesuai dengan bentuk yang saya dan tim ingin gunakan. Jadi Anda bisa melihat struktur lingkaran itu sebagai tangga spiral, melihatnya mirip seperti struktur DNA, atau Anda juga bisa melihatnya seperti cangkang Nautilus. Intinya, Anda bisa melihat struktur tersebut dan menginterpretasikannya sebagai bermacam-macam hal.

Q: Tempat paling menarik yang pernah dikunjungi Dan Brown? Mengapa?

A: Saya sangat beruntung karena bisa berkeliling dunia ketika proses penulisan buku. Saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang menarik, sejarawan, kurator, serta para sarjana. Saya rasa, dari semua perjalanan yang pernah saya lakukan, Istanbul adalah tempat yang paling berkesan karena keeksotisannya. Istanbul adalah tempat “timur” dan “barat” bertemu secara geografis. Istanbul juga satu-satunya tempat di bumi yang menjadi ibukota tiga kekaisaran.. hmm saya lupa apa nama ketiga kekaisaran tersebut. Roman, Byzantine, dan Ottoman..kalau tidak salah.

Q: Menurut Dan Brown, bagaimana proses pembuatan film yang diadaptasi dari novel-novelnya? Apakah Dan Brown menyukai prosesnya atau lebih memilih untuk menghindar?

A: Saya merupakan fans berat Tom Hanks dan Ron Howard. Saya mencintai film layar lebar. Saya pikir, novel-novel saya sulit untuk diadaptasi menjadi sebuah film karena terlalu banyak konten di dalamnya. Saya merasa berterima kasih kepada Ron Howard dan timnya, karena meskipun sulit sekali memasukkan semua konten yang ada di dalam buku ke dalam film, namun mereka berhasil mempertahankan pertanyaan mendasar dari novel-novel tersebut.

 

Ketika saya melihat script adegan pembuka untuk film Inferno, bunyinya seperti ini: “Akankah Anda membunuh setengah populasi manusia di bumi untuk menyelamatkan ras manusia?”. Saya tahu mereka tidak akan menutupi pertanyaan besar dari novel tersebut, meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut cenderung kontroversial. Harapan saya adalah pertanyaan tersebut membuka dialog, tapi kenyataannya terkadang malah menimbulkan kontroversial.

 

Begitu juga dengan film The Da Vinci Code. Novel tersebut mempertanyakan pertanyaan yang sangat sederhana: “Apa artinya bagi para pengikut agama Kristen, jika Jesus sebetulnya bukanlah anak Tuhan?” Saya besar di lingkungan keluarga yang memperbolehkan saya menanyakan ha-hal seperti itu. Orang tua saya selalu mendorong agar saya aktif bertanya mengenai agama. Setelah novel The Da Vinci Code dirilis, banyak orang yang tidak suka dengan pertanyaan yang saya lontarkan tersebut. Tapi harapan saya hanyalah agar pertanyaan tersebut membuka sebuah dialog.

 

Q: Apakah Robert Langdon akan menikah?

A: Ya, mungkin saja. Never say never. Salah satu elemen yang membuat novel saya ber-genre thriller adalah ceritanya bisa membuat Anda bertanya-tanya akankah Robert Langdon menikah dengan Victoria atau menikah dengan Ambra? Hal tersebut menciptakan keromantisan –berbeda jika Robert Langdon menikah, tidak akan ada keromantisan seperti itu. Mungkin saja di buku selanjutnya dia akan bertemu dan menjalin hubungan dengan salah satu wanita yang pernah dia temui, saya tidak yakin… tapi pertanyaan Anda membuat saya memikirkan tentang hal tersebut dan mungkin saja bisa menjadi perubahan yang baik bagi Langdon 🙂 Kita lihat nanti, ya.





[Oleh : Fauziah Hadifha]



Baca juga: Memahami Artificial Intelligence Lebih Dalam

Baca juga: Penasaran dengan Novel Origin? Ini Dia Sinopsisnya

 

 

 

 

0

Artikel

Apa kau tahu karakter Winston dalam novel Origin karya Dan Brown? Winston adalah robot pemandu yang merupakan hasil kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Artificial Intelligence (AI) yaitu kecerdasan yang dibuat dan dimasukkan ke dalam suatu mesin atau komputer agar menyerupai kemampuan manusia.

AI biasanya identik dengan kemampuan robot yang berperilaku seperti manusia. Banyak definisi dari berbagai ahli terkait kecerdasaan buatan. Menurut H. A. Simon (1987), Kecerdasan buatan merupakan lingkup penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan suatu hal yang dalam pandangan manusia dianggap cerdas.

Sedangkan menurut Encyclopedia Britannica, Kecerdasan buatan adalah cabang dari ilmu komputer yang merepresentasikan pengetahuan lebih banyak menggunakan simbol daripada bilangan, dan memproses informasi berdasarkan metode heuristic atau dengan sejumlah aturan.

Buku Origin Dan BrownSumber : becominghuman.ai
 

Karakteristik Artificial Intelligence

Secara garis besar karakteristik Artificial Intelligence yang digambarkan dalam novel Origin dan dunia nyata adalah:

  1. Mempermudah pekerjaan manusia.
  2. Kecerdasan buatan dapat menyerupai manusia, contohnya Winston yang dapat berkomunikasi layaknya manusia biasa.
  3. Bersifat konsisten dan teliti, karena kecerdasan buatan tidak akan pernah menurun kecerdasannya.
  4. Dapat diperbaiki dan dibuat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.
  5. Kecerdasan terbatas pada program yang diberikan, tidak dapat mengolah informasi yang tidak ada dalam program.
  6. Kecerdasan buatan mengikuti program yang dibuat, contohnya Winston yang menghapus programnya setelah misi dilakukan.
Buku Origin Dan BrownSumber : forbesmidleeast.com
 

Jenis-Jenis Artificial Intelligence

Artificial Intelligence banyak pengelompokkannya. Pengelompokkan AI adalah sebagai berikut:

  1. Expert System, yaitu komputer sebagai sarana untuk menyimpan pengetahuan para pakar sehingga komputer meniru kemampuan pakar untuk menyelesaikan masalah.
  2. Natural Language Processing, yaitu komputer di program agar manusia dapat berkomunikasi dengan komputer menggunakan bahasa sehari-hari seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan lainnya.
  3. Speech Recognition, yaitu manusia dapat berkomunikasi dengan komputer melalui suara.
  4. Robotic and Sensor System, yaitu diaplikasikan dalam bentuk robot dengan adanya sensor-sensor tertentu yang dipasangkan.
  5. Computer Vision, yaitu komputer dapat menginterpretasikan gambar atau objek-objek tertentu.
  6. Intelligent Computer-Aided Instruction, yaitu komputer dapat digunakan sebagai tutor yang dapat melatih dan mengajar.
  7. Game Playing, yaitu kecerdasan buatan dapat dimasukkan ke dalam sebuah permainan.
  8. Soft Computing, yaitu inovasi dalam membangun sistem cerdas yang mampu beradaptasi jika terjadi perubahan lingkungan dan mampu melakukan toleransi terhadap ketidaktepatan, kepastian dan kebenaran agar dapat diselesaikan dan dikendalikan dengan mudah sesuai dengan realita.
Buku Origin Dan Brown
Sumber : chatsworthcommunication.com
 

Contoh Penerapan Artificial Intelligence

Penerapan dari Artificial Intelligence sangat banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, berikut beberapa contoh penerapannya:

  1. Penerapan Natural Language Processing pada sistem Google Translate dan Aplikasi Systran yang digunakan untuk menerjemahkan Bahasa.
  2. Penerapan Computer Vision untuk melakukan proses identifikasi dan analisa sehingga dapat mengidentifikasi wajah seperti face detection yang dilakukan oleh Facebook.
  3. Banyak robot yang menyerupai manusia. Contohnya robot tersebut dapat bergerak, dan melakukan beberapa perkerjaan manusia. Seperti Delco Electronics, mobil yang dapat mengemudikan sendiri yang menggunakan sensor agar dapat bertahan di jalan.
  4. Pada Game Playing biasanya diterapkan untuk merancang lawan kita (komputer) sehingga game menjadi lebih menarik karena membuat non-player (komputer) memiliki strategi yang cerdas untuk mengalahkan player.
  5. Program Deep Blue yang mengalahkan Garry Kasparov, pemain catur dunia.



Itulah pembahasan terkait karakteristik dan contoh Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi buatan memang dapat melebihi kecerdasan manusia pada umumnya, tetapi di balik teknologi yang cerdas tentu manusia juga yang menciptakannya.

Artificial Intelligence memang dibuat untuk mempermudah kita, tetapi jangan sampai membuat kita terlena sehingga menjadi pemalas dan kalah pintar dengan teknologi saat ini.



[Oleh : Widia]
0

Artikel

Profesor Robert Langdon adalah karakter fiksi dari seri buku yang ditulis oleh Dan Brown. Buku-buku populernya adalah Angels and Demons (2000), The Da Vinci Code (2003), The Lost Symbol (2009), Inferno (2013) and yang terbaru, Origin (2017). Angels and Demons, The Da Vinci Code, dan Inferno telah diadaptasi menjadi film, dengan Tom Hanks memerankan sosok Robert Langdon.


Robert Langdong - Penerbit Buku Dan Brown


1. Menyukai Kopi Indonesia


Rasa cinta sosok tokoh Robert Langdon untuk menikmati kopi yang berasal dari Indonesia tidak begitu diperlihatkan di dalam Film. Sehingga, bagi orang-orang yang hanya menonton film dari petualangan Robert Langdon ini, tidak begitu mengetahui bahwa sebenarnya sosok profesor dari Universitas Harvard ini sangat menyukai kopi Sumatra.

Hal ini dapat terlihat dari beberapa kali Robert Langdon menikmati kopinya di pagi hari. Salah satunya pada bagian awal buku The Lost Symbol dijelaskan bahwa Robert Langdon sedang menggiling biji kopi Sumatra. Menurutnya, aroma kopi Sumatra amat eksotis.


2. Robert Langdon di Film Lebih Tua dari pada di buku


Robert Langdon di dalam buku jauh lebih muda dibandingkan sosok Tom Hanks yang memerankan Robert Langdon di film. Robert Langdon lahir pada 22 Juni 1964, sehingga pada tahun 2018 ini Robert Langdon berusia 54 tahun.

Sedangkan Tom Hanks pemeran Robert Langdon di film, berusia 61 pada tahun ini. Hal ini membuat jarak antara umur Robert Langdon di buku dengan umur Tom Hanks cukup jauh.


3. Kisah Cinta Robert Langdon


Jika kita menonton film-film adaptasi dari novel Dan Brown, sama sekali tidak dibahas kisah cinta sang profesor Harvard. Sosok Robert Langdon di film hanya diceritakan berpetualang dengan wanita-wanita cantik.

Namundi novelnya, Robert Langdon juga beberapa kali terlibat hubungan asmara dengan wanita-wanita tersebut. Salah satu di antaranya adalah Dokter Vittoria Vetra di buku Angels and Demons.


4. Kisah Robert Langdon Sebelum Menjadi Profesor


Film jarang sekali membahas tentang masa muda Robert Langdon. Dalam film, tidak lebih dari satu kali saja diceritakan bahwa Robert Langdon di masa kecil pernah terjatuh dan terjebak di sumur seharian, membuatnya takut pada tempat-tempat tertutup dan sempit.

Di sisi lain, Langdon sangat menyukai museum, , kemudian dia mengembangkan passion tersebut untuk mempelajari seni-seni lukisan termasuk sejarah dan simbologi. Selain itu, Robert Langdon ketika remaja juga aktif sebagai atlet polo air.


5. Robert Langdon Bukan Seorang Ateis


Banyak sekali dari kita yang berpikir bahwa Robert Langdon merupakan seorang ateis. Nyatanya, beberapa kali di buku dijelaskan dan digambarkan bahwa Robert Langdon masih mempercayai suatu zat yang lebih tinggi daripada manusia, yang mengatur alam semesta.

Pada film Angels and Demons, saat Robert Langdon diberi pertanyaan tentang kepercayaannya terhadap Tuhan, dia menjawab bahwa sebagai seorang akademisi hatinya menerima bahwa Tuhan itu ada namun akal pikirannya tidak dapat mengerti Tuhan. Di buku Thee Da Vinci Code sendiri juga pernah digambarkan bahwa Robert Langdon berdoa untuk diberikan keselamatan terhadapnya.



Itulah fakta-fakta tentang Robert Langdon yang tidak ditampilkan dalam versi film. Kamu tahu hal lain yang belum terkuak tentang Robert Langdon? Tulis di kolom komentar ya!  



[Oleh : Bilqis]
0

Artikel
Dan Brown terkenal dengan novel-novel larisnya yang mengangkat teori konspirasi pencetus banyak kontroversi, salah satunya The Da Vinci Code. Buku ini membawa kita pada petualangan seorang Profesor bernama Robert Langdon, untuk memecahkan misteri yang melibatkan kelompok-kelompok persaudaraan rahasia di dunia.

Baru-baru ini, Dan Brown menulis kisah petualangan Robert Langdon lainnya di novel terbarunya yang berjudul Origin.


1.Teori-teori yang Diangkat dalam Novel OriginPenerbit Buku Origin
Sebelum membaca buku Origin, alangkah baiknya kita memahami betul teori-teori penciptaan yang ada pada Ilmu Pengetahuan yang dulu diajarkan di sekolah.

Membaca teori-teori penciptaan dalam sains. Sebelum membaca novel Dan Brown terbaru ini, akan membantu kita untuk menangkap dan memahami makna dan sudut pandang yang digunakan untuk membangun cerita dalam novel ini.

Beberapa teori yang dijelaskan dalam buku Origin antara lain teori Special Creation (Teori Penciptaan), teori Evolusi dari Darwin, Teori Evolusi Biokimia, teori Abiogenesis dan teori Biogenesis.


2.Tempat-tempat dalam Novel Origin yang Dapat DikunjungiPenerbit Buku Origin
Negara yang dikunjungi oleh Robert Langdon kali ini untuk berpetualangan menyelesaikan kasusnya adalah Spanyol. Beberapa tempat yang diceritakan dalam Origin merupakan tempat lokasi nyata yang dapat kita kunjungi ketika kita berpergian ke Spanyol.

Salah satunya adalah Museum yang menjadi setting tempat Robert Langdon diawal cerita, yakni museum itu adalah museum Guggenheim di Bilbao yang memang berkesan futuristic seperti dijelaskan dalam buku.

Lokasi-lokasi lainnya yang dapat dikunjungi yaitu Komunitas Biara Montserrat yang memang terbuka untuk pariwisata kekudusan di Catalonia Spanyol, dan bangunan megah gereja Sagrada Família di Barcelona.


3.Atheist Aliance International


Pada novel Origin ini kita akan dikenalkan kepada kelompok Aliansi Atheis Internasional. Kelompok ini benar-benar nyata dan bukan fiksi karangan Dan Brown. Sama seperti yang dijelaskan dalam buku, Aliansi Atheis Internasional memiliki simbol seperti A.

Aliansi Atheisme ini ada di beberapa negara di dunia seperti Afganistan, Jerman, Australia, Yunani, Kanada dan di beberapa negara lainnya, bahkan negara yang memiliki mayoritas agama samawi seperti Malaysia dan Indonesia.


4.Parliament of The World’s Religions


Parlemen Agama Dunia juga merupakan salah satu institusi nyata yang diangkat dalam novel Origin. Kelompok parlemen ini berdiri pertama kali di Chicago, Amerika Serikat pada tahun 1893.

Parlemen ini terdiri dari perwakilan-perwakilan agama-agama di dunia seperti Yahudi, Islam, Kristen, serta Katolik. Parlemen Agama Dunia mempunyai misi menciptakan perdamaian antar agama di dunia dan beberapa isu-isu lainnya seperti ekonomi, hak-hak perempuan dan lain-lain.

Salah satu kasus yang mereka soroti adalah kasus yang terjadi pada bangsa Rohingya di Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Perwakilan Parlemen Agama Dunia,  Imam Abdul Maliq Mujahid, datang ke Indonesia untuk meminta dukungan sebagai salah satu negara pemeluk Islam terbesar di dunia. Untuk mendukung upaya perdamaian yang diajukan oleh Parlemen Agama Dunia untuk Rohingya.


5.Mengangkat Tema Agama vs Ilmu Pengetahuan


Tidak asing lagi bahwa novel yang ditulis Dan Brown sering menjadi kontroversi. Salah satu alasannya adalah ceritanya yang sedikit banyak menyinggung tentang agama. Hal tersebut juga terdapat pada novel baru Dan Brown, Origin.

Kali ini Dan Brown lewat karakter fiksinya Robert Langdon. Banyak menyampaikan bagaimana Agama dan Ilmu Pengetahuan dalam sejarah saling berlomba untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam yang terjadi.

Dan Brown juga menyelipkan bagaimana Agama dalam sejarahnya  digunakan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa fenomena alam sebagai jawaban dari peristiwa yang dianggap tidak masuk akal oleh manusia.

Contohnya, pada awal peradaban Yunani, pasang surutnya air laut dijelaskan sebagai pergantian mood dari Poseidon yang kemudian dapat terjawab oleh Newton dalam Teori Kesetimbangan (1642-1727) dan Teori Pasut Dinamik yang ditemukan oleh Pond & Pickard (1978).



Apakah kalian tertantang untuk membaca novel Origin karya Dan Brown setelah membaca ulasan fakta-fakta menarik dari novel ini?



[Oleh : Bilqis]
 
Sumber Gambar : 

www.webdo.tn
www.guggenheim.org
0

Artikel

Dan Brown Origin Of Species

Apa yang terlintas pertama kali ketika mendengar kata evolusi? Selain Pokemon mungkin yang terlintas adalah Charles Darwin. Karena selain Pokemon, Charles Darwin adalah ilmuwan yang mempopulerkan kata evolusi lewat bukunya yang berjudul Origin of Species yang diterbitkan pada tahun 1859. Lalu, buku Origin of Species itu tentang apa? Buku Origin of Species membahas tentang teori seleksi alami dari Charles Darwin.

Dalam buku ini Darwin mengungkapkan bahwa di setiap generasi, populasi terus berevolusi melalui proses seleksi alami. Bukti-bukti keberagaman dalam kehidupan muncul dari keturunan melalui pola percabangan evolusi. Teori Darwin di buku ini berdasarkan pada fakta dan kesimpulan yang dia temukan.

Beberapa fakta dan kesimpulan itu seperti, individu yang dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan dapat bertahan hidup dan meninggalkan sifat untuk generasi masa depan. Secara perlahan hal tersebut mengubah populasi untuk terus beradaptasi dengan lingkungan dan akhirnya menciptakan species baru. Walaupun pada awal perilisannya, teori Darwin menjadi salah satu teori yang kontroversial, namun pada tahun 1870, komunitas ilmu pengetahuan akhirnya menerika evolusi sebagai sebuah kenyataan.

Selain itu, sebelum merilis buku Origin of Species, teori Darwin sebelumnya yang dia bukukan dengan judul Transmutation of Species. Meskipun sudah lebih dari 100 tahun sejak Origin of Species diterbitkan, buku karya Charles Darwin ini menjadi sebuah karya terpenting dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Hari diterbitkannya buku ini menjadi sebuah penanda tentang penemuan terpenting dalam sejarah. Teori ini membuat kita berpikir kembali tentang dari mana asalnya manusia seperti apa yang dipertanyakan dalam Origin karya Dan Brown.



Oleh : Logika

Sumber:
https://www.nytimes.com/1994/05/16/opinion/l-darwin-saw-the-whale-in-the-black-bear-097454.html https://en.wikipedia.org/wiki/On_the_Origin_of_Species https://www.goodreads.com/book/show/22463.The_Origin_of_Species https://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Darwin

Sumber gambar
https://circulatingnow.nlm.nih.gov/2014/11/24/first-editions-of-darwins-origin-of-species/
0

Artikel, Info, Kumpulan Artikel

Seperti dilansir oleh Trip Advisor, Sagrada Familia di Barcelona, Spanyol, merupakan gereja yang paling banyak dikunjungi turis tahun lalu. Sagrada Familia dikunjungi lebih dari 3 juta orang setiap tahunnya dan mendapat 109.000 ulasan dengan penilaian rata-rata 4.8 dari para pengunjung.  

Untuk mengunjungi bangunan bersejarah yang terletak di Barcelona ini tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun, ada cara-cara mudah yang dapat Anda lakukan untuk melihat keindahan Sagrada Familia tanpa harus merogoh kocek dalam. Cara-cara ini bisa juga Anda gunakan untuk mengisi waktu ngabuburit agar jauh lebih seru. Hmm.. apakah mungkin?

Langsung saja cek 3 cara murah mengunjungi Sagrada Familia, Barcelona.  


1. Menonton Vlog tentang Sagrada Familia

Sagrada Familia Barcelona

Vlogger Maria Storgaard mengajak kita berkeliling ke dalam Sagrada Familia sambil menceritakan fakta-fakta menarik tentang gereja ini. Maria memperlihatkan interior gereja yang sangat kompleks dan dipenuhi dengan warna-warna indah.

Keindahan ini berasal dari lampu gereja dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Warna cahaya yang indah itu terlihat seperti menari di pilar-pilar bangunan. Ketika cahaya matahari bergerak pindah ke sisi lain gereja, maka semua warna itu juga akan berpindah dengan cantiknya.  


2. Tur Visual a la Sagrada Familia

Sagrada Familia Barcelona

Hanya dengan bermodalkan smartphone dan koneksi internet saja, Anda tetap bisa merasakan sensasi tur visual a la Sagrada Familia. Terdapat 9 bagian gereja yang bisa Anda lihat secara jelas, dan salah satunya merupakan Gaudi’s tomb atau makam Antonio Gaudi sang arsitek.

Selama 43 tahun Gaudi mendedikasikan hidupnya untuk merancang Sagrada Familia. Hingga saat ini Sagrada Familia masih dalam tahap pembangunan dan diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2026, bertepatan dengan peringatan seratus tahun kematian Antoni Gaudi.  


3. Membaca Novel Origin karya Dan Brown

Sagrada Familia Barcelona

Sagrada Familia juga merupakan salah satu tempat yang menjadi latar belakang dalam novel best seller, Origin. Robert Langdon menggambarkan Sagrada Familia sebagai gereja raksasa yang seakan-akan melayang nyaris tak berbobot di atas tanah. Menara-menaranya rumit dan memiliki ketinggian bervariasi sehingga memberi kesan seperti kastel pasir yang ganjil.

Setelah pembangunannya selesai, puncak tertinggi dari kedelapan belas puncak menaranya akan menjulang secara memusingkan. Namun, kejutan Sagrada Familia sesungguhnya hanya bisa dilihat setelah melangkah masuk melintasi ambang-ambang pintunya. Hmm… seperti apa ya?  


***  


Nah cara mana yang paling membuat Anda merasa benar-benar sedang berada di dalam Sagrada Familia? Belajar dari vlog, ikut tur visual atau membaca buku Origin? Pastinya ketiga cara tersebut akan membuat waktu ngabuburit Anda jadi semakin seru!  



[Oleh: Fauziah Hafidha]
0

Artikel

Review Film Inferno Mizan Publishing
Masih menunggu kehadiran Origin? banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk menyambut karya fenomenal terbaru Dan Brown. Salah satunya adalah menonton ulang film Inferno, seperti yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Terakhir kali saya mengikuti petualangan berbalut konspirasi karya Dan Brown yaitu pada tahun 2009 silam di film  Angels and Demons

Iterasi terbarunya ini masih digawangi sutradara kawakan Ron Howard. Ayah dari aktris Bryce Dallas Howard ini, 2013 lalu juga sempat membuat saya kagum dengan filmnya Rush, yang terinspirasi kisah nyata tentang persaingan legenda Formula 1, Niki Lauda dan James Hunt.

Adegan pertama Inferno dibuka dengan scene yang memperlihatkan aksi pengejaran suatu unit polisi, kepada seseorang yang terindikasi menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga. Hingga akhirnya orang tersebut bunuh diri dan meninggalkan teka-teki penuh misteri di benak penonton.

Jauh berbeda dari film pendahulunya, dalam petualangan Robert Langdon kali ini, kita langsung disajikan adegan penuh tanya. Langdon terbangun di sebuah kamar rumah sakit di Florence, Italia.

Baca Juga, Sinopsis Origin yang bisa kamu simak via tautan ini


Langdon tidak mengingat satu pun kejadian selama 48 jam terakhir. Dengan bantuan seorang dokter cantik bernama Sienna Brooks, yang diperankan Felicity Jones (Star Wars: Rogue One). Langdon berusaha merangkai kembali memorinya. Hingga beberapa saat kemudian ia sudah berada dalam kondisi genting serta menjadi buruan seorang polisi wanita misterius, yang berusaha membunuhnya.

Sienna yang terjebak dalam situasi tersebut, secara reflek menyelamatkan Langdon yang lemah. Dimulailah petualangan keduanya dalam mengungkap segala kejadian yang menempatkan mereka berdua dalam kondisi bahaya tersebut. Premis yang ditawarkan dalam film ini masih sama dengan film sebelumnya yaitu adalah teori konspirasi global. Malapetaka dalam Inferno dibawa oleh karakter bernama Zobrist, seorang pengusaha serta miliuner muda eksentrik ala startup enthusiast, yang diperankan oleh Ben Foster.

Inti cerita dari fim ini adalah bahwa dunia digambarkan sedang berada di ambang kehancuran. Populasi penduduk dunia yang tidak terkendali menjadikan bumi semakin rapuh dan mengancam kelangsungan hidup manusia.

Kehancuran dan segala kerapuhan bumi tersebut pada dasarnya merupakan pemikiran paranoid Zobrist belaka.  Zobrist berpikir solusi terbaik untuk mencegah hancurnya bumi adalah dengan memusnahkan semua manusia melalui sebuah virus yang ia beri nama Inferno.


Review Film Inferno Mizan Publishing
Di sepanjang film kita akan diberi berbagai macam pertanyaan serta twist yang dirancang dengan apik oleh Dan Brown dan screenwriter David Koepp (Mission: Impossible, Jurassic ParkSpider-Man). Suguhan aksi, intrik, serta alur cerita dalam Inferno lebih fast pace dan intens daripada film-film sebelumnya.

Penonton tidak diberikan banyak jeda untuk menghela nafas, adrenalin kita akan dipacu dari awal sampai akhir film. Beberapa adegan menarik yang ada di Inferno adalah scene halusinasi neraka yang dialami Langdon. Visualisasi Dante’s (Alighieri) Inferno diwujudkan dengan sangat apik, sehingga memunculkan nuansa mistik dalam film ini.

Adegan di beberapa landmark kota dunia pun disajikan secara apik. Seperti Palazzo Vecchio di Florence, St. Mark Square di Venice, juga di masjid Hagia Sophia di Turki. Dijamin suguhan berbagai lanskap cantik tersebut, akan memanjakan mata kamu. Keseluruhan elemen baik itu karakter maupun alur cerita yang straight to the point menjadikan Inferno lebih mudah dicerna dibandingkan dengan film pendahulunya.

Baca Juga, 10 Fakta Dan Brown yang wajib kamu ketahui


Satu hal yang saya sukai dari film ini tentu saja Tom Hanks. Di usianya yang lebih dari setengah abad yakni 59 tahun (saat syuting film ini berlangsung), dia masih terlihat sangat luwes dalam membawakan karakter Langdon yang 8 tahun lebih muda dibandingkan dengan usia Hanks yang sebenarnya00. Felicity Jones juga membawakan karakter Sienna Brooks dengan sangat baik, dia berhasil meyakinkan kita bahwa Sienna adalah dokter mulia yang siap membantu pasiennya dalam keadaan apapun.

Diantara semua aktor yang terlibat, honourable mention patut diberikan pada aktor Irrfan Khan (Life of Pi, Jurassic World). Khan berhasil membawakan karakter bernama Harry “The Provost” Sims, sebagai karakter yang misterius, serius, likeable, dan menonjol di setiap adegan yang ia jalani.



Kesimpulannya film ini menyuguhkan sajian yang kita harapkan dari adaptasi novel populer Dan Brown. Teka-teki, misteri, aksi, serta bumbu konspirasi akan kita temukan di dalamnya. Dalam beberapa adegan, twist yang disuguhkan dapat dengan mudah kita prediksi, namun itu semua tidak akan mengurangi keseruan menikmati cerita yang tersaji di Inferno.

Bagi sebagian orang yang sudah membaca novelnya, pasti akan sedikit kecewa karena ada adegan penting yang tidak sesuai dengan cerita di versi bukunya. Itu sebuah kewajaran karena tentunya film dan novel adalah medium yang jauh berbeda. Adaptasi dari medium cetak ke audio visual tentunya memerlukan penyesuaian di sana-sini.

Saran saya sebelum menonton film ini, adalah membaca versi novelnya terlebih dahulu. Dijamin pengalaman kamu mengikuti petualangan Langdon terasa lebih komplit.


https://youtu.be/RH2BD49sEZI
 
Nostalgia Review Film Inferno
0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS
X