fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Jostein Gaarder lahir pada 8 Agustus 1952 di Oslo, Norwegia. Jostein Gaarder dikenal oleh dunia lewat novelnya Dunia Sophie. Selain menulis, dia giat mengampanyekan pelestarian lingkungan melalui Sofie Foundation yang dia dirikan bersama istrinya, Siri pada 1997. Saat ini, dia tinggal di Oslo, Norwegia. Sejak tahun 1996, Penerbit Mizan telah menerjemahkan dan menerbitkan berbagai novel Jostein Gaarder.

Fauziah Hafidha menuliskan biografi singkat serta bagaimana dan mengapa Jostein Gaarder menjadi pengarang dalam artikel berikut ini.

 

Jostein Gaarder, Pengarang Novel Best-Seller Dunia Sophie

 

Jostein Gaarder merupakan penulis best-seller dunia yang berfokus pada sejarah filsafat dan agama khususnya untuk pembaca muda. Seperti yang ditulis di wikipedia.org, karya-karya Jostein Gaarder mencakup novel, cerita pendek dan buku anak.

 

Gaya Tulisan Jostein Gaarder

 

Gaarder sering menulis dari sudut pandang anak-anak dan mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka tentang dunia. Menurut Gaarder, dikutip dari artikel kumparan.com, anak-anak dan filsuf memiliki persamaan yang mendasar yaitu kepekaan dan rasa penasaran terhadap hal-hal baru yang jarang dimiliki oleh orang dewasa pada umumnya. Bagi Jostein Gaarder, filsafat merupakan pertanyaan manusia yang berasal dari rasa terpukau akan dunia dan kehidupan–dan pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu berkembang.

 

Jostein memiliki ciri khas dalam menuturkan ceritanya, yaitu tokoh dalam buku yang menulis surat. Seperti yang ditulis dalam kumparan.com, Gaarder mengakui bahwa dirinya memang banyak menulis cerita berbingkai yaitu adanya cerita di dalam cerita. Hal tersebut itu akan lebih mudah dituturkan melalui metode surat. Gaarder beranggapan bahwa saat seseorang menulis surat, orang tersebut akan mampu mengungkapkan diri serta berbagai imajinasinya ke dalam bentuk tulisan.

Jostein berasal dari keluarga akademisi sehingga memiliki minat yang besar pada kegiatan membaca, menulis, dan mengajar. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah, sementara ibunya seorang guru dan penulis buku anak-anak. Gaarder bersekolah di Oslo Katerdralskole dan juga belajar linguistik serta teologi Skandinavia di Universitas Oslo.

 

Memutuskan untuk Menjadi Penulis

 

Seperti yang ditulis pada laman ft.com, penulis asal Norwegia ini memutuskan untuk menjadi penulis pada usia 19 tahun setelah bertemu dengan istrinya. Jostein  mengaku sudah memikirkan hal ini sebelumnya tetapi dia kemudian membuat keputusan untuk melakukannya ketika merasakan jatuh cinta. Lebih lanjut dalam laman ft.com Jostein Gaarder menyebutkan beberapa tokoh sastra yang menjadi inspirasinya sebagai penulis yaitu Jorge Luis Borges, Dostoevsky, Herman Hesse dan penulis asal Norwegia, Knut Hamsun. Jostein juga mengaku terinspirasi dari buku-buku yang ditulis oleh AA Milne, Antoine de Saint-Exupéry, Dickens, dan cerita-cerita rakyat Norwegia abad ke-19.

 

Dua Buku yang Mengubah Hidup Jostein Gaarder

 

Lebih lanjut dalam ft.com, Jostein mengatakan bahwa ada dua buku yang mampu mengubah hidupnya, yaitu Lillelord (1955) oleh seorang penulis Norwegia bernama Johan Borgen dan Crime and Punishment oleh Dostoevsky. Jostein membaca kedua buku tersebut saat dirinya berusia 18 tahun. Menurut Jostein, buku-buku tersebut dapat ‘mengubah’ seorang anak laki-laki menjadi seorang pria.





Bagaimana Jostein Gaarder Menulis

 

Jostein Gaarder mulai bekerja setelah jam 11 pagi. “Saya tahu bahwa banyak penulis sibuk menulis di meja mereka dari jam sembilan hingga jam lima, dan saya mengagumi disiplin diri yang mereka miliki,” kata Gaarder, tetapi menambahkan bahwa hal tersebut bukan untuk dirinya. Dalam wawancara yang dirilis oleh norway29.com, Jostein menceritakan bahwa di pagi hari dirinya sering meluangkan waktu untuk minum secangkir kopi sambil mendengarkan acara budaya di NRK, stasiun radio publik Norwegia. Meskipun begitu, dalam laman ft.com, Jostein Gaarder mengaku tidak ada hari yang benar-benar sama karena dirinya melakukan banyak hal lain dan sangat aktif dalam kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan.

Ketika menulis novel Sophie’s World, Jostein Gaarder membutuhkan waktu tiga bulan yang hanya diisi dengan mayoritas kegiatan untuk menulis dan tidur. Dia juga mengatakan dapat bekerja selama 14 jam sehari ketika sedang mengerjakan sebuah buku. Dalam artikel norway2019.com, Jostein menceritakan bahwa terkadang dia bekerja sambil ditemani video konser di YouTube milik musisi Grieg, Rachmaninoff atau Tschaikovsky.




Penghargaan yang Diterima Jostein Gaarder

 

Gaarder telah menerima beberapa pengakuan dan penghargaan atas kontribusinya di bidang sastra. Beberapa penghargaan tersebut, dikutip dari famousauthor.org, adalah Norwegian Critics Prize for Literature (1990), Norwegian Booksellers’ Prize (1993), Deutscher Jugendliteraturpreis (1994), Premio Bancarella (1995), Buxtehude Bull (1997), Willy-Brandt Award (2004), Commander, The Royal Norwegian Order of St. Olav (2005) serta gelar kehormatan dari Trinity College, Dublin.

Karya Jostein Gaarder yang paling terkenal adalah novel Sophie World: A Novel About the History of Philosophy (1991). Novel tersebut telah diterjemahkan ke dalam 60 bahasa, salah satunya dalam Bahasa Indonesia dengan judul Dunia Sophie. Novel ini juga disebut-sebut telah terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia.

 

Karya-karya Jostein Gaarder (sumber: wikipedia.org):

 

  1. Diagnosen og andre noveller (The Diagnosis and Other Stories) (1986)
  2. Froskeslottet (The Frog Castle) (1988)
  3. Kabalmysteriet (The Solitaire Mystery) (1990)
  4. Sofies verden (Sophie’s World) (1991)
  5. Julemysteriet (The Christmas Mystery) (1992) (1995 edition illustrated by Stella East)
  6. Bibbi Bokkens magiske bibliotek (Bibbi Bokken’s magic library) (together with Klaus Hagerup (1993)
  7. I et speil, i en gåte (Through a Glass, Darkly) (1993)
  8. Hallo? Er det noen her? (Hello? Is Anybody There?) (1996)
  9. Vita Brevis: A Letter to St Augustine (Also published in English as That Same Flower) (1998)
  10. Maya (1999)
  11. Sirkusdirektørens datter (The Ringmaster’s Daughter) (2001)
  12. Appelsinpiken (The Orange Girl) (2004)
  13. Sjakk Matt (Checkmate) (2006)
  14. De gule dvergene (The Yellow Dwarves) (2006)
  15. Slottet i Pyreneene (The Castle in the Pyrenees) (2008)
  16. Det spørs (2012)
  17. En fabel om klodens klima og miljø (Anna. A fable about the earth’s climate and environment) (2013)
  18. Anton og Jonatan (Anton and Jonatan) (2014)
  19. Dukkeføreren (2016)
  20. Akkurat Passe (Just Right) (2018)

 

Karya terbaru dari Jostein Gaarder berjudul Akkurat Passe: En liten fortelling om nesten alt atau dalam Bahasa Inggris disebut Just Right: A Brief Story of Almost Everything. Novel terbaru ini juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indoensia dengan judul The House of Tales.

0

Artikel, baru

Membaca novel, atau kisah fiksi, bukanlah guilty pleasure; para pembaca tidak selayaknya merasa bersalah karena menikmati kisah fiksi. Dilansir dari Psychology Today, membaca fiksi dapat meningkatkan kesadaran sosial seseorang dan meningkatkan kemampuan untuk berempati. Kedua hal ini sudah semakin langka ditemukan dalam zaman yang semakin dikuasai egosentrisme, padahal keduanya sangat penting dimiliki oleh setiap orang.

Di tahun baru ini, Mizan Publishing telah mempersiapkan beberapa naskah fiksi terjemahan yang dijamin akan memuaskan hasrat membacamu. Jangan lupa untuk menambahkan novel-novel berikut ini ke dalam daftar bacaanmu, ya.

 

Ghost Fleet karya P.W. Cole dan August Singer

Perang Dunia Ketiga? Mungkin datangnya akan lebih cepat daripada dugaan kita.

 

Dalam novel Ghost Fleet, dua pakar militer Amerika, yakni P.W. Cole dan August Singer, menjabarkan akan seperti apa Perang Dunia Ketiga. Penggunaan teknologi tinggi dan berbagai gawai canggih yang telah merasuk dalam kehidupan sehari-hari semua orang membuat sebuah negara menjadi lebih rentan terhadap serangan musuh.

 

Bukan sekadar imajinasi, kisah yang dituangkan dalam buku ini merupakan hasil riset berdasarkan tren dan teknologi terkini. Hasilnya? Sebuah narasi yang realistis dan sarat aksi serta ketegangan. Novel ini banyak diapresiasi oleh para pakar militer, hingga disebut-sebut sebagai bacaan wajib para tentara, namun masyarakat awam pun dijamin bisa menikmatinya.


Ghost Fleet menjadi perbincangan hangat orang-orang Indonesia karena dalam buku yang mengambil setting waktu di masa depan ini, Republik Indonesia dinyatakan sudah tidak ada lagi. Pulau-pulau Indonesia menjadi wilayah tak bertuan yang dihuni para pemberontak dan perompak. Sungguh prediksi yang membuat merinding.


Akkurat Passe karya Jostein Gaarder

Akkurat Passe, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Just Right, adalah novel terbaru dari Jostein Gaarder, penulis Dunia Sophie (Sophie’s World) yang fenomenal. Saking fenomenalnya, Dunia Sophie menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa filsafat. Memang, novel-novel Jostein selalu bermuatan filsafat, tapi dengan cara penyampaian yang enak diikuti dan tidak membuat pusing para pembaca, yang awam akan ilmu filsafat sekalipun.



Akkurat Passe
mengisahkan seorang pria bernama Albert yang divonis menderita suatu penyakit mematikan. Sembari menenangkan diri di Rumah Dongeng, Albert mengenang masa-masa awal berpacaran dengan istrinya dan merenungkan makna kehidupan. Dia belum siap untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak bisa menerima ketidakmampuannya mengatur arah hidupnya sendiri. Pada akhirnya Albert harus mengambil keputusan yang tidak hanya akan mempengaruhi dirinya, namun juga istri dan anak-anaknya.


Sing,
Unburied, Sing karya Jesmyn Ward

Sing, Unburied, Sing adalah kisah drama keluarga yang telah membuat Jesmyn Ward mendapatkan National Book Award tahun 2017, serta sejumlah nominasi untuk penghargaan-penghargaan sastra lainnya, seperti Women’s Prize for Fiction, Andrew Carnegie Medal, dan Kirkus Prize.



Dalam Sing, Unburied, Sing, seorang bocah remaja bernama Jojo berjuang untuk tumbuh menjadi lelaki sejati, terlepas dari fakta bahwa kedua orangtuanya tidak bisa diandalkan. Ayahnya, Mike, mendekam di penjara, sedangkan ibunya, Leonie, seorang pecandu obat-obatan terlarang. Ditambah lagi, Jojo harus mengurus adik perempuannya yang masih balita.

Selain isu kemiskinan dan kekerasan, novel ini juga mengangkat isu rasisme, karena ayah Jojo berkulit putih, sedangkan ibunya berkulit hitam. Kakek Jojo dari pihak ayah terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka pada Jojo dan ibunya. Di zaman modern ini, rasisme dan intoleransi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan, karena tidak semua orang mampu menyikapi perbedaan dengan bijak.  


Dear Martin karya Nic Stone

Novel-novel young adult dengan tokoh utama diverse atau bukan kulit putih semakin digandrungi pembaca. Salah satunya adalah Dear Martin, karya debut Nic Stone yang langsung bertengger di jajaran buku-buku fiksi laris versi The New York Times. Novel ini juga mendapat nominasi William C. Morris YA Debut Award dan Elizabeth Walden Award.

 

Seperti Sing, Unburied, Sing, novel Dear Martin mengangkat isu rasisme. Tokoh utamanya adalah seorang remaja kulit hitam bernama Justyce. Dia siswa berprestasi di sekolahnya dan berkelakuan baik, tapi tetap saja dia harus menerima perlakuan intoleran, hanya karena warna kulitnya.

 

Demi menahan emosi dan berusaha menyikapi dengan bijak ketidakadilan yang dia terima, Justyce mempelajari Martin Luther King, tokoh yang amat terkenal sebagai pembela kesetaraan hak dan penentang rasisme. Justyce menulis surat-surat untuk Martin, dan merenungkan sikap seperti apa yang akan diambil oleh Martin seandainya beliau menerima perlakuan seperti yang Justyce alami.

 

To Kill A Kingdom karya Alexandra Christo

Bagi para penggemar fiksi fantasi, ada satu karya debut fenomenal yang tak boleh dilewatkan, yakni To Kill A Kingdom. Di antara banyak seri fantasi yang terdiri lebih dari dua atau tiga buku (bahkan tidak sedikit yang terdiri lebih dari lima buku), To Kill A Kingdom yang kisahnya tuntas dalam satu buku saja menjadi angin segar bagi para pembaca.

 


To Kill A Kingdom
adalah kisah cinta antara seorang putri dan seorang pangeran, tapi dengan elemen-elemen yang tidak biasa. Pertama, Lira, sang putri adalah sesosok siren yang gemar mengoleksi jantung pangeran. Kedua, Elian, sang pangeran adalah kapten kapal yang pekerjaannya memburu dan menghabisi para siren. Tentu saja interaksi antara keduanya sarat kebohongan dan tipu daya, dan menarik sekali untuk diikuti.

Meskipun ada yang bilang To Kill A Kingdom terinspirasi dari dongeng The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen, tokoh utama novel ini bukanlah sesosok mermaid, melainkan siren. Kaum siren terkenal dengan musik dan lagu mereka yang dapat menghipnosis para pelaut. Setelahnya, para pelaut itu akan terjun ke laut dan tewas, sementara kapal mereka karam.




Dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang seorang pahlawan terkenal, Odysseus, yang ingin mendengar nyanyian para siren. Dia meminta para awak kapal untuk menyumbat telinga mereka, lalu mengikatnya di tiang kapal. Ketika mereka berlayar melewati para siren, hanya Odysseus yang dapat mendengar nyanyian mematikan itu. Odysseus memohon untuk dilepaskan agar dia bisa melompat ke laut, tapi para awak kapal malah mengikatnya semakin kuat, dan baru melepaskannya setelah mereka berada jauh dari para siren.

 

Itulah kelima novel yang layak ditunggu kehadiran terjemahan Bahasa Indonesianya pada tahun 2019 ini. Kalau kamu tidak mau ketinggalan informasi buku-buku terbaru Mizan Publishing, jangan lupa ikuti akun-akun media sosialnya, ya.



Baca juga: 4 Buku Paling Banyak Dibaca Orang Tahun 2018
Baca juga: 5 Buku Terpopuler Tentang Perang 

0

X