fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Kolom Editor

[Oleh: Zahra Haifa]

Pada kesempatan kali ini saya akan sharing mengenai hal-hal yang saya pelajari dalam konferensi Digital Bussiness di Menkominfo, pada 23 Mei 2017 kemarin. Acara ini diselenggarakan Asosiasi Pebisnis Online Indonesia yang di-support oleh Menkominfo, menghadirkan beberapa speaker handal di bidangnya, dan diikuti oleh banyak pengusaha online, pegiat UMKM, para digital marketer, dan umum).

E-commerce di Indonesia tumbuh begitu pesat seiring lumrahnya penggunaan gadget di setiap generasi [Electronic commerce atau e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya.] Berdasarkan data Perbankan, total transaksi online di Indonesia ditaksir sudah mencapai Rp. 359 triliun di tahun 2016.

Satu-satunya cara agar bisnis kita dapat bertahan di era digital adalah dengan masuk ke bisnis online., dan bagaimana dunia penerbitan memainkan peran dalam pasar e-commerce ini? Menurut situs Perpustakaan Nasional Indonesia, dunia penerbitan merupakan industri informasi paling tua di dunia, bahkan seumur dengan peradaban manusia.

Perubahan zaman membuat industri penerbitan semakin variatif dalam menerbitkan terbitan dalam berbagai macam bentuk, seperti pada saat ini perkembangan teknologi informasi melahirkan varian baru dalam dunia terbitan yaitu digital publishing atau elektronik publishing. Mungkin, banyak orang bertanya-tanya apakah pasar buku fisik akan redup dan menghilang seiring peningkatan tren apps dan transformasi digital, dimana semua kebutuhan kita bisa diakses melalui ujung jari saja? Jawabannya tidak.

Faktanya, dunia penerbitan justru meraih tempat nomor lima terbesar peraih pendapatan omset tertinggi dari seluruh sektor e-commerce (dari total 16 sub-sektor). Bahkan mengalahkan sektor industri iklan dan perfilman. Pasar tidak menghilang, pasar tetap ada hanya sudah bertransformasi dari cara offline ke online. Dunia penerbitan dituntut untuk terus memproduksi dan menawarkan produk intelektualnya secara kreatif.

Dalam dunia penerbitan, dengan memanfaatkan layanan digital (terutama dalam inovasi produk dan strategi digital marketing), kita dapat berinteraksi langsung dengan para pembaca, kita bisa mendapat masukan dan mengerti apa yang target market atau pasar inginkan. Beberapa benefit jika kita berhasil mengefektifkan penggunaan tools digital ini, yakni marketing menjadi efektif dan efisien, sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan (dan juga meningkatkan omset kita tentunya.)

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa proses menuju transformasi digital di Indonesia masih cenderung lambat. Lima hambatan transformasi digital terbesar menurut para pelaku bisnis adalah: (berurutan dari hambatan terbesar hingga terkecil)

  1. Masalah keamanan dan serangan siber
  2. Kurangnya tenaga kerja yang memiliki keahlian digital yang mumpuni
  3. Tidak adanya mitra teknologi yang tepat
  4. Tidak pastinya lingkungan ekonomi, selera pasar yang dinamis
  5. Kurangnya kebijakan pemerintah dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang mendukung

Pasar digital sangat menuntut adanya proses kreatif dalam perumusan produk. Hal ini berlaku bagi semua sektor bisnis. Dalam halaman berita di liputan6.com yang saya baca, Hermawan Kertajaya (Founder MarkPlus, Inc) mengatakan bahwa kunci memenangkan persaingan adalah dengan terus-menerus memunculkan atau menciptakan perbedaan (diferensiasi).

Menurut beliau, kejenuhan akan produk tertentu menggambarkan terjadinya kelebihan pasokan (over supply). Perbedaan inilah yang dinilai menjadi kunci persaingan di era digital.

Berdasarkan demografi, Indonesia memiliki kelas menengah yang cukup besar, artinya masyarakat jenis tersebut memiliki kekuatan daya beli. Tapi, itu saja tak cukup. Menurut pak Hermawan, para pebisnis pun perlu memperhatikan psikografi atau kepribadian konsumen.

Kesimpulannya yang saya dapat adalah adalah, bagaimana strategi para pebisnis untuk masuk dan memanfaatkan tools digital secara optimal sangat memengaruhi kesuksesan dan keberlangsungan bisnisnya di masa mendatang. Jadi, apakah kita sudah siap untuk Go Digital?




Zahra Haifa
Editor

Redaksi Dewasa
[Qanita | Kaifa | Pastel Books]

Facebook: fb.com/zahrabiogen

Twitter : @zahrabiogen
0

Anak, Artikel

 



Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan Hari Buku Internasional pada tanggal 23 April. Bertepatan dengan peringatan Hari Buku Internasional, di Bandung digelar Festival Hari Buku Anak (FHBA). Hhmm … sepertinya seru, ya?

Pada hari minggu tanggal 23 April 2017 di Bandung diadakan acara seru dan keren yaitu Festival Buku Anak. Acara ini dibuat oleh komunitas Pustakalana, yaitu komunitas yang fokus terhadap dunia literatur anak dan keluarga. Acara ini digelar di Taman Cinta Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kaegiatan ini terlaksana sebagai bentuk dukungan terhadap visi Kota Bandung yang ingin menjadi World Book Capital (Ibu kota buku dunia) pada tahun 2017. Selain sebagai dukungan untuk visi Kota Bandung, kegiatan ini juga dilaksanakan untuk meningkatkan minat membaca sejak dini.

Karena menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Connecticut, Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Sedih banget, kan? Maka dari itu acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan minat membaca masyarakat Indonesia.



Komunitas Pustakalana membuat acara ini fokus pada buku anak-anak. Kak Yasmin Kartikasari sebagai Koordinator Acara Utama menyampaikan “Kenapa kami memfokuskan pada buku anak, karena kami ingin mengenalkan buku ke anak, mendekatkan buku ke anak, karena membaca buku itu membuka dunia. Dan kenapa targetnya anak-anak? Karena merekalah generasi penerus di masa yang akan datang”.

Kegiatan yang dilaksanakan di sana juga beragam, lho! Selain pameran buku anak-anak, ada juga kegiatan permainan yang dilakukan berdasarkan pada buku seperti bercerita (story telling), membuat kerajinan tangan, mewarnai boneka kayu, dan banyak lagi.

Sahabat tahu tidak, kalau buku tidak hanya bisa dibaca saja tetapi bisa juga sebagai media untuk berinteraksi dengan orang tua atau teman-teman. Misalnya dengan membaca buku dengan suara keras (read aloud) dengan teman-teman atau melakukan aktivitas berdasarkan cerita di buku. Seru, kan?



Ada yang spesial juga lho di sana, yaitu workshop KKPK! Nah, di acara workshop tersebut Sahabat bisa dapat tips menulis yang baik dari Kak Rama sebagai editor buku-buku KKPK. Selain itu, ada talkshow dari salah satu penulis buku KKPK yang berbagi pengalaman menulisnya. Kak Admin yakin kalian yang kemarin datang ke workshop ini akan langsung bisa menulis buku!



Selain workshop dan talkshow untuk anak-anak, ada juga talkshow untuk orang tua kalian. Talkshow yang bertema “Peran Perpustakaan Dalam Meningkatkan Minat Baca” dan diskusi publik “Melatih kecakapan Literasi Visual Pada Anak Melalui Buku Bacaan.”

ini akan sangat berguna untuk para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Supaya orang tua semakin mengerti bagaimana memberi dukungan pada anak-anaknya yang tertarik dalam dunia literasi atau membaca dan menulis.



Hal menarik lain dari festival yang baru pertama kali diselenggarakan di Bandung ini adalah, bahwa festival ini bertema “Good Festival” yang berarti festival ini ramah untuk anak-anak. Di area festival ada larangan untuk merokok dan para pengunjung juga diminta untuk membawa kantung belanjaan sendiri berikut dengan botol minum dan tempat makanan sendiri. Jadi, di festival ini tidak akan banyak sampah plastik seperti di festival lainnya.

Mungkin hal ini dilakukan untuk memperingati Hari Bumi yang jatuh bertepatan sehari sebelum acara ini dilaksanakan yaitu pada tanggal 22 April. Selain itu, acara yang diselenggarakan di taman itu juga memungkinkan anak-anak untuk bermain dan berlarian di tempat terbuka, yang pastinya aman. Dengan bermain di tempat terbuka juga kalian berkesempatan untuk bersosialisasi dan mendapatkan teman baru!


FHBA4 | Image
Tidak lengkap rasanya jika acara festival tidak dilengkapi dengan bazar dan pertunjukan seni. Di sini juga ada tenda-tenda yang menjual jajanan sehat dan makanan berbahan dasar organik. Tidak ketinggalan sayuran-sayuran organik yang bisa dibawa pulang untuk dimasak di rumah.

Untuk menghibur para pengunjung, disajikan juga pertunjukan seni tari dan musik serta komunitas-komunitas yang aktif menyuarakan gerakan gemar membaca.



Oh iya, KKPK juga punya tenda khusus yang menjual novel dan buku KKPK, lho! Siapa yang kemarin memborong buku KKPK di sana? Ayo foto dan tag kita di instagram KKPK ya! Bagaimana acaranya, Seru banget kan? Sahabat yang tidak sempat datang pasti ingin supaya acara seperti ini segera digelar kembali …

Dan untuk Sahabat yang kemarin datang ke acara keren ini, ceritakan pengalaman kalian selama menghadiri festival itu di rumahkkpk yuk! Kakak admin tunggu lho ceritanya!
0

X