fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Anak, Artikel

 


Bulan Februari memang merupakan bulan yang paling mencolok. Pasalnya, bulan Februari ini memiliki hari lebih sedikit dibandingkan bulan lain yang rata-rata memiliki jumlah 30 hari. Belum lagi, ada istilah tahun kabisat pada bulan Februari memiliki bonus tambahan menjadi 29 hari.

Apa, ya, yang menyebabkan bulan Februari ini berbeda dengan bulan lainnya? Bagaimana ceritanya bisa sampai begitu? Di sini ada penjelasannya!


Dianggap Tidak Penting               

Kalender masehi yang umum kita pakai sekarang adalah kalender yang diciptakan oleh orang Romawi sejak ratusan tahun sebelum masehi. Dahulu, penentuan bulan dan tanggal diciptakan untuk menentukan waktu melakukan kegiatan keagamaan dan mengatur musim tanam serta panen.

Saat itu, kalender dibuat bukan berdasarkan peredaran Matahari seperti sekarang, tapi berdasarkan peredaran Bulan seperti kalender Hijriyah. Uniknya, awal tahun ditentukan pada bulan Maret dan akhir tahun ditentukan pada bulan Desember. Hhmm, bulan Januari dan Februari ke mana, ya?

Karena pada bulan Januari dan Februari biasanya merupakan musim dingin, dan musim dingin tidak terlalu penting dalam dunia pertanian, sehingga kedua bulan tersebut pun dianggap tidak penting.


Tidak Disukai

Meskipun telah ditentukan, sistem penanggalan tetap mengalami penyempurnaan oleh Raja-Raja Romawi selanjutnya. Seorang Raja Romawi yang bernama Numa Pompilius akhirnya menyempurnakan sistem penanggalan ini dan memasukan bulan Januari dan Februari ke dalam kalender, sehingga dalam satu tahun memiliki jumlah 12 bulan. Jumlah ini sesuai dengan perputaran Bulan.



Nama Februari diambil dari bahasa Latin februum yang artinya ‘penyucian’, hal ini berkaitan dengan upacara penyucian yang dilakukan orang Romawi pada tanggal 15 Februari. Jumlah hari dalam satu tahun pada kalender Romawi ini adalah 355 hari, mendekati lamanya perputaran bulan dalam setahun, yaitu 354,5 hari.

Awalnya, bulan Januari dan Februari memiliki 28 hari, namun bangsa romawi pada saat itu menganggap angka 28 sebagai angka sial. Oleh karena itu, Raja Numa memberikan satu hari untuk bulan januari dan membiarkan bulan januari tetap memiliki 28 hari.

Lalu, bagaimana dengan sial di bulan Februari? Mereka berpikir, tidak masalah bila membiarkan bulan Februari berjumlah angka sial. Toh, akan diadakan upacara penyucian terhadap kesialan itu. Banyak yang beranggapan Raja Numa membiarkan bulan Februari berjumlah 28 hari karena bulan itu merupakan musim dingin. Siapa tahu, dengan jumlah hari yang sedikit musim dingin akan cepat selesai dan mereka bisa mulai bercocok tanam kembali.


Begitulah sejarah bulan Februari yang memiliki 28 hari. Tapi, terkadang bulan Februari berjumlah 29 hari. Mengapa jumlah harinya tidak tetap begitu, ya? Jadi begini, karena lamanya perputaran bulan yang tidak tidak genap, musim yang terjadi pun tidak tepat pada tanggalan yang di buat.

Jadi, setidaknya setiap 3 tahun sekali, jumlah hari di bulan ini disesuaikan untuk mencocokkan penanggaln dengan musim yang sesungguhnya terjadi.


Hari Kabisat | Image
Kemudian pada 46 tahun sebelum masehi Julius Caesar membuat kalender yang mengacu pada peredaran Matahari. Pada masa inilah mulai muncul tahun kabisat, yaitu setiap 4 tahun sekali. Terjadi ketika Februari memiliki jumlah 29 hari. Karena setelah di utak-atik, dalam setahun ternyata memiliki waktu 365,25 hari. Sehingga jumlahnya digenapkan menjadi 356 saja.

Nah, kelebihan 0,25 hari itu dikemanakan, ya? Kelebihan itu kemudian digabungkan menjadi 1 hari dan ditambahkan pada bulan Februari yang memiliki hari paling sedikit. Mengapa setiap 4 tahun sekali? Karena 0,25 akan genap menjadi 1 bila dikalikan dengan 4. Hehehe …, bisa begitu, ya?


Nah, begitu cerita bulan Februari yang unik ini. Di antara Sahabat KKPK, ada yang lahirnya pada tanggal 29 Februari? Berarti, merayakan ulang tahunnya setiap 4 tahun sekali, dong? Hihihi. Meski begitu, umur tetap bertambah, lho ….


Sahabat KKPK, ceritakan, yuk, pengalaman berulang tahun di bulan Februari yang unik ini! Tulis di rumahkkpk.com, ya!



(Penyunting: Kak Dini)
0

X