fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

latar-belakang-ahed-tamimi


Konflik Palestina-Israel yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun sudah melahirkan banyak sekali tokoh yang menginspirasi bukan hanya di kedua negara tersebut, tapi bahkan dunia. Tokoh-tokoh tersebut tidak semuanya orang dewasa, ada juga anak-anak dan remaja. Mereka lahir untuk memperjuangkan kebebasan.


Di antara mereka, ada Ahed Tamimi, seorang remaja berusia 17 tahun. Video tentangnya sempat viral dan mendapat berbagai pujian karena menunjukkan keberanian Ahed dalam menghadapi tentara Israel. Lalu, siapa sebenarnya Ahed Tamimi ini?


Ahed Tamimi lahir pada tanggal 31 Januari 2001 dari pasangan Baseem (ayah) dan Nariman (ibu) Tamimi di Nabi , Pesisir Barat Palestina. Nabi Salih yang letaknya dua puluh kilometer di utara Yerusalem adalah salah satu wilayah Palestina yang diduduki oleh militer Israel. Para penduduknya sulit mencapai mata air dan rumah sakit meskipun jaraknya dekat. Aktivitas mereka setiap saat diawasi. Di sini, siapa pun, termasuk anak-anak, bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa alasan jelas.



Sang ayah, Bassem Tamimi, merupakan seorang aktivis dan sempat dipenjara pada tahun 2011 dan 2012 karena aksinya mengumpulkan massa untuk melempari pemukiman Israel dengan batu dan melakukan aksi tanpa izin. Menurutnya, aksi pelemparan batu ini merupakan sebuah simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel. Penangkapan Bassem pada 2011 mendapat perhatian dari dunia internasional dan mendapatkan amnesti internasional, membuat Bassem menjadi Prisoner of Conscience.

 

Di umurnya yang masih terbilang belia, Ahed harus merasakan dinginnya jeruji besi. Keluarga Ahed sendiri banyak terlibat dalam banyak protes, demonstrasi, dan aksi-aksi politik. Ahed sendiri dijebloskan ke dalam penjara karena aksinya menampar seorang tentara Israel Untuk itu dia dipenjara selama 8 bulan.

 

Aksi Ahed menampar prajurit Israel itu dilakukan karena prajurit tersebut menerobos ke pekarang rumah Ahed, dan juga sebagai pelampiasan emosi karena salah satu sepupu Ahed yang berumur 15 tahun terkena tembakan di kepala dalam jarak dekat menyusul demonstrasi yang dilakukan di Nabi Salih dalam menentang perluasan pemukiman Israel. Di video yang sempat viral di internet ini, Ahed beserta ibu dan sepupunya yang lain mendekati dua prajurit di luar rumah keluarga Tamimi untuk mengusir mereka. Karena para prajurit tersebut berkeras tidak mau pergi, Ahed pun menampar, menendang, serta mendorong salah satu prajurit.

 

Meskipun kehidupan di penjara bukan pengalaman yang menyenangkan baginya, Ahed bersama dengan perempuan-perempuan lain yang sebaya dengannya mencoba untuk membuat kelompok belajar di dalam penjara. Namun sayangnya pihak penjara tidak mengizinkan itu dan akhirnya mereka terpaksa bubar. Meskipun begitu, Ahed dan teman-temannya tetap membaca buku. Bahkan Ahed menjalani ujian akhir sekolahnya di dalam penjara dan berhasil lulus.

 

Ahed bisa kembali menghirup udara segar di luar penjara setelah dia dibebaskan bersyarat pada 29 Juli 2018. Setelah pembebasannya, Ahed langsung bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas. Beliau menyebutnya sebagai model dari perjuangan kebebasan Palestina.

 

Selain video penamparan prajurit Israel, keberanian Ahed sudah lebih dulu dikenal oleh dunia. Pada tahun 2012, dia mencoba untuk melindungi ibunya saat hendak ditangkap. Saat itu Ahed baru berusia 11 tahun. Lalu dia mulai dikenal oleh khalayak dunia pada tahun yang sama ketika dia memprotes penangkapan kakak lelakinya oleh prajurit Israel dan aksi itu direkam dalam sebuah video yang disebarkan di Internet. Dalam video tersebut, terlihat Ahed yang masih kecil protes kepada seorang prajurit Israel dan mengacungkan kepalan tangannya pada prajurit tersebut. Keberaniannya tersebut membuatnya mendapatkan pujian dari President Mahmoud Abbas.

 

Layaknya remaja-remaja lainnya, Ahed juga tertarik dengan hal-hal normal yang disukai oleh para perempuan pada umurnya. Dia suka dengan pakaian, make up, dan dia juga mengecek akun Instagramnya setiap pagi. Namun dia bukan remaja yang normal. Orangtuanya keluar masuk penjara, dia dan kakaknya juga sudah pernah masuk penjara. Jika saja Ahed lahir di negara lain, dia pasti akan bermain bola. Namun sayangnya dia tidak bisa bermain bola di tempatnya sekarang.

 

Selain cita-citanya untuk negaranya, Palestina, Ahed memiliki cita-cita untuk dirinya sendiri. Dia ingin belajar hukum, lalu bekerja melakukan advokasi untuk Palestina dan berbicara di Persidangan Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda.

 

Kisah seorang Ahed Tamimi sangat mengesankan dan penuh dengan inspirasi. Semenjak pembebasannya, dia kini menjadi seorang juru bicara untuk Palestina yang dia bilang merupakan tugas yang tidak akan mudah dilakukan. Kisahnya ini ditulis dan dipublikasikan di majalah Vogue Arabia edisi bulan Oktober 2018.

 

Ahed telah melakukan kunjungan ke beberapa negara. Saat dia berkunjung ke Spanyol, Ahed Tamimi menjadi tamu kehormatan klub sepak bola raksasa Real Madrid dan mendapatkan hadiah sebuah jersey. Selain itu, saat dia berada di Tunisia, dia dapat bertemu langsung dengan Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi.

 

Atas keberanian yang ditunjukkannya sejak belia, Ahed Tamimi kini menjadi simbol perlawanan baru di Palestina. Jika ditanya berasal dari mana kekuatan seorang Ahed Tamimi, dia akan menjawab, orangtuanya selalu menjadi inspirasi baginya.



[Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Persamaan Ahed Tamimi dengan Para Pejuang Wanita



Baca juga: Respon Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi


Baca juga: Ahed Tamimi: Remaja Pemberani Asal Palestina yang dikenal Dunia


0

Artikel

Salah satu konflik panjang dan sepertinya tidak akan pernah berakhir di dunia adalah Palestina-Israel. Sebuah konflik antar bangsa yang berlangsung selama bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di wilayah tersebut, namun sudah menjadi perhatian seluruh dunia dan sepertinya mustahil mendapat titik terang untuk perdamaiannya. Namun bagaimana bisa hal ini bisa terjadi? Bagaimana sejarahnya?


Konflik dimulai ketika kongres Zionis sedunia diselenggarakan oleh Theodore Herlz di Basel, Swis. Resolusi dari kongres tersebut menyatakan bahwa Yahudi itu bukan hanya sebatas agama, namun merupakan bangsa yang mempunyai tekad untuk hidup berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi tersebut juga, bangsa Yahudi menuntut sebuah tanah air, yang secara implisit mengacu pada tanah yang bersejarah bagi mereka. Dalam kongres tersebut juga, Herlz mengatakan bahwa zionisme adalah jawaban bagi penindasan dan diskriminasi yang dialami oleh orang Yahudi. Di situ juga dia mengatakan bahw adalam 50 tahun akan ada negara Yahudi.


Lalu pada tahun 1917, menteri luar negeri Inggris, James Balfour, mengeluarkan sebuah deklarasi yang cukup kontroversial. Deklarasi itu memberitahu seorang tokoh Yahudi kenamaan di Inggris, Rothschild, bahwa Inggris akan mendirikan pemukiman untuk orang Yahudi di daerah Palestina.

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Sebelumnya, pada tahun 1916, Inggris dan Perancis membuat sebuah perjanjian rahasia yang disetujui oleh kerajaan Rusia yang disebut Perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian ini namanya diambil dari dua diplomat yang menandatanganinya, Sir Mark Sykes dan François Georges-Picot. Perjanjian itu berisi pembagian daerah Asia Barat Daya setelah jatuhnya Kerajaan Ustmaniah pada Perang Dunia I. Perjanjian ini membagi daerah-daerah di luar Jazirah Arab untuk menentukan daerah mana yang akan berada di bawah kendali Inggris dan Perancis. Rusia tidak melanjutkan isi perjanjian karena pecahnya Revolusi Bolshevik. Namun pada bulan Oktober 1916, para pejuang Bolshevik mempublikasikan isi perjanjian ini yang tentunya membuat pihak Arab marah. Dari perjanjian ini, Inggris mendapat kendali atas Palestina.

Tahun 1947, PBB merekomendasikan pembagian wilayah menjadi dua negara, Arab dan Israel. Ide tersebut tentu saja ditolak oleh bangsa Arab. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel mengumumkan dirinya sebagai negara Yahudi. Hal tersebut tentu saja menyulut Liga Arab.

Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Perang Arab-Israel terjadi sehari setelah proklamasi negara Yahudi. Perang ini merupakan konflik bersenjata yang pertama.  Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Israel dan mereka berhasil merebut lebih banyak daerah dari yang PBB rekomendasikan sebelumnya.

Setahun setelahnya, Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah melakukan gencatan senjata dengan Israel, menandai berakhirnya perang Arab-Israel 1948. Selain itu juga, gencatan senjata ini dilakukan dengan menentukan batas wilayah sementara yang disebut garis hijau yang berlaku sampai meletusnya perang enam hari tahun 1967. Hal ini membuat banyak orang Palestina terpaksa mengungsi keluar dari tanah airnya.

Tahun 1956, Israel dibantu oleh Inggris dan Perancis menyerang Sinai dengan tujuan menguasai Terusan Suez. Bagi Inggris, terusan ini adalah terusan yang penting karena menghubungkan dengan koloninya di luar seperti India, Australia, dan Selandia Baru.


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

Tahun 1967, perang kembali meletus antara Israel dan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dibantu oleh Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, dan Aljazair. Perang itu disebut Perang Enam Hari atau Six Days War. Perang ini terjadi karena Mesir mengusir United Nation Emergency Force (UNEF) dari Sinai setelah invasi dari Israel. Israel dapat memukul mundur kekuatan militer tersebut dan menang. Lalu gencatan senjata dilakukan dan Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Sampai sekarang hasil dari perang ini masih berpengaruh.


Tahun 1993, dilakukan perjanjian Oslo antara Palestina, yang diwakili oleh Yasser Arafat, dan Israel, yang diwakil ioleh Yitzhak Rabin. Dalam perjanjian itu, masing-masing pihak bersepakat untuk mengakui kedaulatan masing-masing. Pasukan Israel akan ditarik dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberikan kesempatan untuk Palestina menjalankan sebuah lembaga semiotonom di wilayah tersebut.


Tahun 2000, dilakukan pertemuan antara pihak Palestina dan Israel yang ditengahi oleh Amerika Serikat yang disebut KTT Camp David 2000 atau Camp David Summit 2000. Namun sayangnya, negosiasinya tidak berhasil, dan akhirnya KTT ini tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sejarah singkat konflik antara Palestina dan Israel. Meskipun banyak pelanggaran HAM dan korban melayang di sana, jalan damai masih tetap diupayakan bukan hanya oleh kedua belah pihak, namun seluruh dunia juga mengupayakan hal tersebut.





[Oleh: Logika Anbiya]


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

0

X